Timmyness, 10 Prinsip Kerja IDN Media yang Bisa Ditiru para Blogger

Beberapa tahun lalu saya pernah diajak berkunjung ke IDN Media yang waktu itu masih berlokasi di Palmerah, Jakarta Barat. Gedungnya amat cozy, dengan ruang-ruang bekerja yang nyaman dan terasa santai.

Yang menarik perhatian saya adalah banyaknya qoute yang terpampang di dinding. Mulai dari ruang parkir hingga ruang santai karyawan tak luput dari qoute-qoute yang penuh makna dan membangkitkan semangat.

Salah satunya adalah soal Timmyness, 10 nilai yang harus dimiliki Timmy. (FYI, Timmy ini adalah sebutan untuk pekerja IDN Media).

Timmyness ini dibuat oleh CEO IDN Media, Winston Utomo, sejak IDN Media pertama kali berdiri dan menjadi pijakan para Timmy saat bekerja.

Sumber; IDN Media

Walaupun dibuat untuk karyawan IDN Media, kesepuluh nilai Timmyness ini cocok juga diikuti oleh semua orang, lho. Termasuk kita, para blogger.

Apa aja itu?

1. Bringing creativity, sincerity, and passion to the work

Bekerja di bidang apapun, apalagi di bidang tulis menulis dan media, kreativitas dan ide segar mutlak dibutuhkan. Kreativitas ini bukan bawaan lahir atau anugerah dari Allah begitu saja.

Kreativitas dan ide bisa muncul jika ditingkatkan terus menerus. Caranya? dengan memperluas pengetahuan, melakukan training untuk meng-upgrade diri, dan sebagainya.

Namun, kerja dengan penuh kreativitas saja tak cukup, karena ketulusan pun diperlukan sehingga pekerjaan yang dilakukan memberi hasil positif.

“Mereka yang bekerja dengan ketulusan adalah penggerak untuk kehidupan yang lebih baik. Timmy pun diharapkan dapat membaktikan ketulusan kerjanya bagi masyarakat Indonesia dengan mendemokrasikan informasi.”

~Winston utomo

2. Communicating properly and acting ethically.

Dalam segala hal, komunikasi itu penting. Apalagi saat bekerja di dalam sebuah tim yang terdiri dari banyak orang.

Komunikasi yang baik dan benar menjadi krusial untuk menghindari kesalapahaman yang seringkali berujung pada konflik internal.

3. Thriving in ambiguity and fast-paced environment with constant changes.

Untuk bertemu masa depan, harus siap menghadapi perubahan. Begitu kata para filsuf.

Memang, perubahan adalah suatu hal tak terhindarkan. Nah untuk dapat bertahan, kita harus terus beradaptasi, mengikuti tiap perubahan yang ada sesuai dengan perkembangan zaman.

Hal ini juga berlaku untuk para blogger. Selalu terjadi perkembangan platform blog, dan para blogger pun mesti mengiktui perkembangan zaman supaya nggak ketinggalan, kan.

4. Being active and collaborative rather than competitive.

Persaingan yang tidak sehat dalam sebuah tim bisa menyebabkan konflik dan perpecahan. Sikut-sikutan, istilahnya.

Daripada bersaing, kenapa tidak berkolaborasi untuk mencapai sesuatu yang lebih baik, seperti halnya yang banyak dilakukan para artis youtuber sekarang ini?

5. Embracing diversity.

Indonesia ini negeri yang bhinneka, yang terdiri dari suku, agama, umur, dan latar belakang yang berbeda. Perbedaan ini harus dihargai, termasuk di dalam sebuah perusahaan seperti IDN Media ataupun di kehidupan kita sebagai blogger sehari-hari.

Timmyness juga hadir di beberapa ruangan. Sumber; IDN Media

6. Maintaining a positive attitude even when things do not go one’s way.

Life is never flat. Tidak ada hidup yang selalu berjalan mulus, akan ada hal-hal yang terjadi di luar rencana kita. Namun usahakanlah untuk tetap berpikiran positif dalam menyikapi hal-hal yang tidak sesuai ekspektasi itu.

Kalau kita bersikap negatif dan selalau menyalahkan keadaan, produktivitas kinerja kita bisa menurun. Dengan bersikap positif, seseorang juga akan memberikan pengaruh positif ke orang-orang yang ia jumpai.

Dan sebaliknya, kalau orang tersebut terlalu banyak mengeluh, ia juga akan memberi dampak kurang baik bagi orang-orang di sekitarnya.

Bayangkan, kalau teman kita selalu mengeluh bahkan di status FB-nya, malas bukan berteman dengannya?

7. Assisting others in the group with their work for the benefit of the group.

Kerjasama tim yang baik amat dibutuhkan untuk mencapai keberhasilan. Itulah yang selalu harus dilakukan, tidak perlu menjadi egois dan mau menang sendiri.

8. Praising coworkers when they are successful and helping them when they need it.

Banyak orang lupa untuk membiasakan diri mengapresiasi keberhasilan teman atau rekan kerja. Bahkan adakalanya malah iri dengan keberhasilan orang lain.

Dengan memberikan apresiasi kita pada orang lain, berarti kita juga telah menyampaikan dukungan kita kepada mereka.

~ WINSTON utomo
Timmyness di kantor IDN Media Surabaya. Sumber; IDN Media

9. Doing the right thing even when no one is watching.

Kejujuran dan integritas adalah kunci utama untuk meraih kepercayaan orang lain. Kejujuran bisa mempengaruhi kredebilitas dan reputasi kita di mata klien, atasan, dan rekan kerja.

10. Seeing the company’s success as one’s own success.

Karyawan juga harus bangga jika perusahaan sukses. Dan sebaliknya, perusahaan tidak akan berkembang tanpa kerja keras dan kerja cerdas para karyawannya.

Seperti yang dikatakan Winston kepada Timmy, “IDN Media ingin setiap Timmy merasa dilibatkan dalam keberhasilan perusahaan一bahwa tanpa mereka, IDN Media tak akan berhasil mencapai mimpi tersebut. Hal ini tentu akan meningkatkan sense of belonging, rasa bangga mereka terhadap perusahaan juga.”


Kalau kesepuluh Timmyness ini kita praktikan dengan baik, pasti kita akan jadi blogger yang kompeten di mata semua orang, dan kalau menjadi karyawan, adalah karyawan yang berdedikasi tinggi.

.

 

Jalan-Jalan di Penang Sambil Cek Kesehatan, Kenapa Nggak?

Wisata medis alias jalan-jalan sambil berobat ke Malaysia memang sedang digemari warga Indonesia.

Balek kampung alias pulang kampung.

Begitu istilah yang disematkan kawan-kawan kalau saya datang ke Malaysia. Istilah ini muncul karena saking seringnya saya bertandang ke Malaysia, lebih sering daripada orang lain balik ke kampung halaman mereka.

Kenapa saya doyan bolak-balik ke Malaysia? Hmmm… Malaysia punya daya tarik tersendiri yang tak ada di tempat lain. Atmosfernya beda. Di sana saya bisa merasakan perpaduan budaya Melayu, Cina, India, dan bahkan Inggris. Dalam satu kota, saya bisa lihat pernikahan ala India di kuil, upacara di klenteng China, dan keramahan khas Melayu.

Hampir semua kota di Malaysia menawarkan perpaduan tiga budaya ini. Salah satunya di Georgetown, Penang. Area yang dinobatkan sebagai Unesco World Heritage ini punya banyak hal yang membuat saya betah berlama-lama di sana.

Dari Tempat Syuting Hingga Surga Kuliner

Georgetown memang bikin kangen untuk dijelajahi. Apalagi buat saya, yang amat suka dengan bangunan-bangunan berarsitektur tinggi dan bersejarah. Di sini, saya merasa ada di “dunia” saya. Di sana-sini ada bangunan tua yang masih terawat dengan baik, cafe-cafe lucu yang enak dipandang mata, dan street art yang luar biasa.

Ada Masjid Kapiten Keling, masjid yang dibangun oleh para pedagang India. Karena kota pelabuhan, Penang memang banyak disinggahi pedagang dari berbagai bangsa, salah satunya India.

Ada pula Gereja St. Goerge yang merupakan peninggalan Inggris. Dan yang tak boleh dilewatkan adalah Chong Fat Tze Mansion, rumah taipan alias orang terkaya di Penang yang pernah jadi lokasi Crazy Rich Asia.

Wisata medis di Penang
Chong Fat Zhe Mansion yang jadi tempat syuting film Crazy Rich Asia.

Selain bangunan-bangunan yang masih terawat, yang juga bisa dikunjungi adalah street art Penang, yang kerap dijadikan gambar-gambar di brosur dan kartu pos Penang. Street art yang dibuat seniman asal Lithuania ini jadi trademark kota Penang dan akhirnya jadi buruan para wisatawan. Termasuk saya.

Ga sah rasanya kalau belum foto di street art ini.

Salah satu Street Art di Penang
Street art yang paling terkenal. Wajib foto di sini.

Baca Juga: Backpacker ke Penang (part 5): Berburu Street Art di George Town

Penang juga surganya pencinta kuliner. Sama seperti bangunannya yang merupakan paduan berbagai budaya, kuliner di Penang ini juga terdiri dari campuran budaya India, Melayu, dan China Peranakan.

Ada nasi Kandar Line Clear yang antriannya lumayan panjang saking terkenalnya. Ada pula warung laksa halal di Bee Hwa Cafe yang selalu penuh dengan pengunjung. Dan masih banyak kuliner enak lainnya yang bikin saya selalu kangen kembali ke sini.

Jalan-Jalan Sambil Berobat

Nah, saat ke Penang itu, di pesawat saya bertemu dengan kawan saya. Dia mau mengantar orang tua dan mertuanya melakukan medical check up di salah satu rumah sakit Penang. Adventist Penang Hospital namanya. Salah satu rumah sakit yang populer di kalangan warga Indonesia.

Menurut penuturannya, ia memilih untuk melakukannya di sana karena biaya yang harus ia keluarkan lebih terjangkau ketimbang melakukan hal yang sama di Indonesia. Penasaran, saya cek beberapa biaya rumah sakit di sana. Untuk medical check up menyeluruh mulai dua juta rupiah. Itu sudah termasuk konsultasi dengan dokter spesialis. Sementara harga paket yang serupa di sini, berkisar 4 jutaan.

Selain itu, menurut kawan saya itu, hasilnya lebih cepat ia dapatkan. Dalam waktu beberapa jam saja, ia sudah bisa mengetahui hasil pemeriksaaan dan melakukan konsultasi, sehingga ia tak perlu bolak-balik ke rumah sakit.

“Jadi gue biasanya tiga hari di sana. Sehari buat persiapan, sehari buat pemeriksaan, dan sehari buat jalan-jalan plus kulineran di sana,” begitu katanya.

Sekalian jalan-jalan, sekalian berobat.

Hmmm, benar juga. Kenapa tak penah terpikirkan oleh saya untuk sekalian melakukan check up ketika jalan-jalan ke Malaysia ya?

Malaysia Healthcare Travel Council

Ketika memutuskan untuk melakukan medical check up di Penang, kawan saya ini mendatangi Malaysia Healthcare Travel Council (MHTC) di Gedung WTC 3 Sudirman, di sebelah Bank Permata.  

SUmber; MHTC

MHTC ini adalah sebuah organisasi yang didirikan  oleh Kementerian Kesehatan Malaysia yang bertugas  sebagai perwakilan dari 69 rumah sakit swasta di Malaysia.

Rumah sakit yang difasilitasi oleh MHTC ini antara lain Penang Adventist, Gleneagles Penang, Loh Guan Lye Specialist Centre, Mahkota Medical Centre, Sunway Medical Centre, Alpha Fertility Centre, Institut Jantung Negara, Pantai Hospital Group, dan Prince Court Medical Centre.

MHTC ini juga berfungsi sebagai pusat informasi. Jadi tinggal datang ke kantornya atau telepon ke call center, kita bisa bertanya soal rumah sakit yang sesuai dengan kebutuhan. Bisa juga nanya soal tempat wisata, hotel, dan segala hal yang berkaitan dengan kunjungan wisata medis di Malaysia.

MHTC ini bisa juga menjadi fasilitator untuk yang ingin berobat ke Malaysia. Misalnya kawan saya, dia difasilitasi oleh MHTC. Jadi begitu keluar dari bandara, ada petugas dari MHTC yang menjemput sehingga ia tak perlu lama mengantri di imigrasi.

Setelah itu, kawan saya diajak ke MHCT Concierge and Lounge, sebelum dijemput oleh mobil jemputan menuju rumah sakit atau menuju hotel yang sudah dipesan sebelumnya.

Oya, pemesanan hotel ini bisa dibantu juga oleh pihak MHCT, karena sudah bekerja sama dengan beberapa hotel di Malaysia.

Video soal fasilitas MHTC

MHTC ini kantor pusatnya di Kuala  Lumpur, tapi punya kantor perwakilan di Jakarta, Surabaya, dan Medan. Kalau mau tanya-tanya, tinggal datang ke kantornya. Ga dikenakan biaya kok.

Malaysia Healthcare Video Competition

Sumber: MHTC

Nah, buat yang mau jalan-jalan gratis sambil check up di Malaysia (yang juga gratis), ikutan aja Malaysia Healthcare Video Competition. Kompetisi ini diadakan oleh Malaysia Healthcare, bekerja sama dengan Tourism  Malaysia dan juga komunitas Indonesia di Malaysia.

Hadiahnya oke banget. Ada Go Pro Hero 7, Dji Osmo Mobile 2, Brica Steady 8 Pro, dan Miband. Dan 5 pemenang ini semuanya akan mendapatkan paket medical check up dari rumah sakit pilihan di Malaysia, tiket pesawat pp, dan hotel bintang 5 untuk 3 hari 2 malam. Lumayan banget kan?

Gimana Cara Ikutannya?

Ga susah kok. Tinggal buat vlog/video 2-3 menit yang menceritakan soal pariwisata Malaysia dan wisata medis di Malaysia. Dua-duanya mesti ada dalam video ya, nggak boleh hanya salah satunya.

Ini syarat lengkapnya:

  1. Peserta adalah Warga Negara Indonesia dan berdomisili di Indonesia ataupun Malaysia
  2. Konten tidak boleh mengandung unsur SARA (Suku, Agama, Ras, Antar Golongan) kampanye politik, serta pesan negatif dan menyerang kelompok tertentu
  3. Konten boleh berbentuk VIDEO ataupun VLOGGING (video harus disertai dengan penjelasan)
  4. Konten wajib berbahasa Indonesia
  5. Durasi video 2-3 menit
  6. Konten harus menggabungkan 2 tema (PARIWISATA MALAYSIA & WISATA MEDIS)

Cara ikutannya begini.

  1. Peserta pastinya harus mem-follow akun Instagram @medtourismmy.id. Jangan di-private juga ya akunnya.
  2. Videonya juga harus di-upload di akun YouTube peserta, kemudian share video itu di akun Instagram (feed/IG TV) masing-masing dan tag serta mention @medtourismmy.id
  3. Tulis Judul video di akun YouTube & Instagram peserta dan tambahkan hashtag #Liburansehat #RinduMalaysia. Contohnya : 5 Fakta Malaysia dan Medical Checkup di Penang #Liburansehat #RinduMalaysia
  4. Agar kesempatan menang lebih besar, jangan lupa ajak teman/followers kamu untuk like video yang kamu unggah di Youtube & Instagram yaa.

Oiya, batas pengumpulan videonya sampai 10 Desember 2020 ya. Masih ada waktu kurang lebih tiga minggu nih buat bikin video dan menangin hadiah-hadiah kerennya.

Lebih lengkapnya bisa cek di https://medicaltourismmalaysia.id/ atau klik IG @medtourismmy.id.

“Obat” Ampuh Covid: Patuh Protokol Kesehatan

Jumat, 18 September 2020. Dini hari.

Adik saya yang bertugas di sebuah RS khusus covid menelpon. Ia mengabarkan kalau Om saya yang baru berusia 49 tahun tak kuat lagi menahan gempuran virus Covid-19 di tubuhnya. Ia meninggal dunia setelah dua minggu berjuang di ICU.

Saya dan keluarga hanya sempat melihat fotonya sekali. Saat itu di seluruh tubuhnya dipenuhi alat-alat medis, di mulutnya ada selang ventilator untuk mempompa oksigen ke paru-paru, di tangannya ada beberapa tusukan infus.

Sedihnya, tak ada satu pun dari kami yang bisa menemani termasuk anak-anaknya, karena memang begitulah protokol yang berlaku untuk pasien covid. Hanya adik saya, yang kebetulan kebagian bertugas jaga malam itu, yang bisa menemani Om saya hingga Allah memanggilnya.

Kejadian itu membuat saya sadar bahwa bahaya covid masih mengintai, bahkan mulai dekat dengan circle saya. Apalagi kemarin ini, saya sempat mendengar kabar kalau beberapa kawan sebaya saya juga mesti isolasi mandiri karena mengalami gejala-gejala khas Covid.

Baca Juga: Pengalaman Tes PCR Swab Mandiri di RS Tria Dipa

Uang Ternyata Bisa Menularkan Virus

Mengapa Covid berbahaya?

Menurut dr. Riskiyana S. Putra, M.Kes. Direktur Promosi Kesehatan & Pemberdayaan Masyarakat Kementrian Kesehatan RI, di acara ” Seminar Online Bareng Blogger” Rabu kemaren, covid ini sebenarnya virus yang gampang mati.

Ia bisa dimatikan hanya dengan suhu panas tertentu ataupun dengan sabun biasa. Namun masalahnya, virus ini sangat cepat berkembang dan jika sudah menempel di tubuh inangnya, ia dengan cepat merusak tubuh inangnya bahkan hanya dalam waktu hitungan hari saja.

Virus ini juga jadi berbahaya karena ia gampang sekali menular. Tidak seperti penyakit lain, seperti jantung atau kanker. Virus ini bisa menyebar lewat droplet, lalu berdiam diri di benda-benda yang terkena droplet itu.

Bisa lewat sentuhan tangan, misalnya salaman, atau bisa juga lewat benda yang tadi terkena droplet itu, termasuk uang kertas yang sering banget kita pegang. Apalagi uang kan sering berpindah dari tangan satu ke tangan lain. Makanya, dr Riski menyarankan untuk mencuci tangan setelah memegang uang atau benda-benda lainnya yang berpotensi menulari virus.

Sumber: materi dr. Riskiyana S. Putra, M.Kes

Wanita Ternyata Lebih Bisa Jaga Jarak

Kalau lihat dan baca berita-berita, saat ini angka yang positif terinfeksi covid memang meningkat tajam. Per harinya bisa mencapai 4.000 kasus positif. Serem.

Apa yang menyebabkannya? Selain memang makin banyaknya orang yang dites, ternyata menurut dr.Riski, survei kepatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan masih rendah. Coba lihat hasil survei di bawah ini, hanya 30 % yang menaati imbauan untuk menjaga jarak.

Dan uniknya, dari hasil survei, wanita ternyata lebih patuh buat jaga jarak dibandingkan laki-laki. Udah biasa jaga jarak dari para fans kali ya…

Sumber: materi dr. Riskiyana S. Putra, M.Kes
Sumber: materi dr. Riskiyana S. Putra, M.Kes

Jangan Jadi Agen Virus

Kenapa awareness masyarakat agak kurang?

Menurut dr Rose Mini AP, M.Psi, yang biasa dipanggil Bunda Romi, masyarakat sebenarnya sudah tahu soal bahaya Covid dan protokol kesehatan. Namun banyak hal yang menyebabkan masyarakat akhirnya tidak patuh atau abai.

Salah satunya adalah karena ketiadaan contoh, baik itu contoh dari orang tua ataupun contoh dari pemimpin masyarakat. Memang, benar. Misalnya nih, kalau pak Lurahnya ga pakai masker kalau di luar rumah, ya masyarakatnya pasti males juga pakai masker kan.

Hal lainnya adalah karena masyarakat belum terbiasa dengan protokol kesehatan ini. Apa-apa memang harus dibiasakan, kalau perlu ada sanksi tegas. Saya ingat dulu waktu penerapan aturan wajib pemakaian seat belt. Awalnya ga enak banget, tapi lama-lama kalau tak memakai seat belt rasanya ada yang kurang.

Benar kata peribahasa “ala bisa karena biasa”.

Sumber: presentasi dr Rose Mini AP, M.Psi,

Yang paling saya garis bawahi adalah karena kurangnya empati terhadap orang lain. Merasa diri sehat, padahal bisa jadi ia memang tidak terpengaruh covid karena imunnya baik. Namun ia bisa menjadi agen yang menyebarkan virus ke orang lain.

Contohnya banyak, salah satunya terjadi pada kawan saya. Kawan saya ini sangat abai terhadap protokol kesehatan. Ia masih sering berkumpul dengan temannya tanpa memakai masker.

Ia akhirnya terkena covid dan ia menularkan ke orangtuanya yang lebih rentan. Ia sehat walafiat tanpa gejala, namun ayahnya tak bisa diselamatkan lagi. Menyesallah ia seumur hidupnya.

Obat Manjur Covid: Patuh pada Protokol Kesehatan

Selama vaksin belum ditemukan, satu-satunya cara untuk mencegah penyebaran covid adalah dengan mengadaptasi kebiasaan baru.

Cuci tangan sesering mungkin, terutama sehabis memegang sesuatu, sebelum makan, habis keluar rumah cara yang paling ampuh. Virus ini terdiri dari lemak yang akan hancur jika terkena sabun.

Cara lainnya bisa dilihat di gambar di bawah ya…

Sumber: materi dr. Riskiyana S. Putra, M.Kes
Sumber: materi dr. Riskiyana S. Putra, M.Kes

Usut punya usut, Om saya yang meninggal ini pernah lalai, beberapa kali tidak memakai masker saat bertemu kliennya. Mungkin dari sanalah virus Covid masuk ke tubuh Om saya dan akhirnya menggerogoti tubuhnya .

Yuk yang belum menerapkan protokol kesehatan dan masih aba, mulailah menerapkan aturan ini agar covid segera enyah dari dunia. Dan yang sudah menerapkannya, jangan bosan. Terus terapkan aturan kesehatan ini.

Baca Juga: Harga dan Tempat Tes Swab di Jakarta

Harga dan Tempat Tes Swab di Jakarta

Beberapa hari lalu saya harus melakukan tes swab. Sebelum tes, saya mengumpulkan dulu info soal harga dan tempat tes swab di Jakarta.

Tempat Swab di Jakarta

Beberapa hari lalu saya harus melakukan tes swab. Sebelum akhirnya memutuskan untuk melakukan tes swab di RS Tria Dipa, saya mengumpulkan dulu info soal harga dan tempat tes swab di Jakarta.

1. RS Tria Dipa.

Biaya: 1.950.000 (tanpa rontgen) dan 2.150.000 dengan rontgen thorax. Hasil: 2-3 hari (bisa melalui WA atau telepon). Ada 2 waktu pengambilan sampel yakni pukul 10.00 dan pukul 17.00.

Lokasi: Jl. Raya Pasar Minggu No.3A, RT.4/RW.1, Pancoran, Kec. Pancoran, Kota Jakarta Selatan. Telp: 021-7993058 (pendaftaran melalui telepon ini)

2. RSPAD Gatot Subroto.

Biaya: 1,5 juta. Hasil: 1 hari.

Alamat: Jl. Abdul Rahman Saleh Raya No.24, RT.10/RW.5, Senen, Kec. Senen, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Telp: (021) 3840702

3. Farmalab Uhamka Klender.

Biaya: 1.250.000. Hasil: H+1

Alamat: Untuk pendaftaran pemeriksaan rapid test atau swab test, silakan mengisi formulir melalui link berikut ini https://s.id/nNOfE.
Ada dua sesi pengambilan sampel yakni pagi: 08.00 – 11.00 WIB dan siang : 13.00 – 15.00 WIB

4. Hermina Kemayoran (Drive Thru dan di Dalam RS)

Biaya: 999 ribu (H+5), 1.500.000 (H+2) ,1.900.000 (H+1)

Alamat: Jl. HBR Motik No.4, RW.10, Gn. Sahari Sel., Kec. Kemayoran, Jakarta Pusat. Tel: (021) 88226445. Pendaftaran bisa dilakukan melalui nomer telepon di atas, bisa juga melalui website atau apilikasi halodoc.

Note: menurut pengalaman beberapa orang, tempat ini lumayan penuh hingga antriannya bisa mencapai 2-4 jam.

5. Hermina Jatinegara

Biaya: 999 ribu (H+5), 1.500.000 (H+2) ,1.900.000 (H+1)

Pendaftaran: bisa dilakukan melalui aplikasi website atau apilikasi halodoc atau bisa langsung ke nomer telepon (021) 8191223.

Note: menurut pengalaman beberapa orang, tempat ini lumayan penuh hingga antriannya bisa mencapai 2-4 jam. Dan karena murah, slot antriannya selalu habis.

6. Rumah Sakit FKUI Depok (Drive Thru)

Biaya: 1,675 juta (H+2-3 hari kerja)

Alamat: Kampus UI Depok. Pendaftaran: Melalui WA di 081291139113. Tes Swab dilakukan Senin hingga Sabtu, pukul 08.00-12.00 (dengan perjanjian).

7. Cibis Park Drive Thru

Biaya: 2,2 juta (hasil hari itu juga); 1,4 juta (H+1) 1,3juta (H+2).

Pendaftaran: Melalui aplikasi halodoc, hasil akan dikirim melalui aplikasi. Menurut pengalaman kawan, di sore hari biasanya antrian lebih panjang ketimbang pagi hari.

Baca Juga: Pengalaman Tes Swab di RS Tria Dipa

8. West One City (Drive Thru)

Biaya: 1,4 juta (H+1). 1,3 juta (H+2)

Alamat: Jl. Raya Duri Kosambi, RT.8/RW.6, Duri Kosambi, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat. Pendaftaran: melalui aplikasi halodoc.

9. RS Al Fauzan Kramat Jati

Biaya: 1,5 juta (H+3)

Alamat: Jl. Pedati No.3, RT.5/RW.7, Kp. Tengah, Kec. Kramat jati, Kota Jakarta Timur. Telp: (021) 8402821.

10. RS Bunda

Biaya: 2.5 juta (H+2)

Alamat: Jl. Teuku Cik Ditiro No.28 Menteng Jakarta Pusat 10350. Telp:1-500-799 (call center).

11. Medika Plaza, Cilandak Barat (Drive Thru)

Harga: 1.285.000 (H+1) . 1.298.000 (via Grab Health)

Alamat: Jl. TB. Simatupang Kav. 41, BELTWAY OFFICE PARK, ANNEX BUILDING, Ground Floor, Jakarta Selatan, RT.7/RW.2, Ragunan, Kec. Ps. Minggu, Jakarta Selatan.

Pendaftaran: Melalui telepon ke (021) 80866099 atau melalui aplikasi Grab (klik Grab Health).

12. Brawijaya Kemang (Drive Thru)

Harga: 1.899.000

Alamat: Jl. Taman Brawijaya, No.1 Cipete Utara. Pendaftaran: Melalui telepon ke (021)-22717656 atau WA ke  085778052341. Bisa juga melalui aplikasi Grab (klik Grab Health).

13. Swab di Rumah

Saya dapat brosur ini dari adik saya. Silakan hubungi sendiri ya..

Swab di rumah
brosur home care

15. Primaya Evasari Hospital (Drive Thru)

Harga: Rp 1,7 juta (H+2)
Alamat: Jl. Rawamangun no 47, Pramuka Jakarta Pusat, RT 7/RW 3, Rawasari, Kec Cempaka Putih, Central Jakarta, Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Telp: (021) 4201515

16. RS Pelni (Drive Thru)

Harga: Rp 1,25 juta (2-3 hari kerja), Rp 1,53 juta (termasuk konsultasi dokter dan surat keterangan), Rp1,6 juta (1 hari kerja).
Alamat: Jl. Ks Tubun No.92 – 94, RT 13/RW 1, Slipi, Kec Palmerah, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta.
Telp: 087722379190

Pengalaman Tes PCR Swab Mandiri di RS Tria Dipa

Dua hari lalu, saya memutuskan untuk melakukan tes Swab / PCR secara mandiri di RS Tria Dipa Pancoran, Jaksel.

Dua hari lalu, saya memutuskan untuk melakukan tes Swab / PCR secara mandiri di RS Tria Dipa Pancoran, Jaksel.

Nggak. Saya nggak menunjukkan gejala sakit sama sekali. Saya juga tak habis berpergian ke luar kota, bahkan saya juga nggak keluar rumah kecuali ke minimarket dekat rumah. Saya tak berkumpul dengan teman-teman, menghindari ke mal dan cafe, bahkan saya menolak datang ke event berbayar.

Semuanya work from home.

Adik Saya Dokter yang Positif Covid

Saya memutuskan melakukan PCR Swab Test karena adik ipar saya, yang bertugas sebagai dokter di salah satu rumah sakit pemerintah, positif terkena covid tiga hari lalu.

Ia juga tak menunjukkan gejala apa-apa, ia dalam kondisi prima. Namun karena ia seorang dokter yang menangani pasien covid, ia mesti rutin melakukan tes swab. Hasil tes sebelumnya negatif, namun hasil tes terakhirnya yang baru keluar tiga hari lalu itu, menyatakan ia positif covid.

Adik ipar saya ini tidak tinggal bersama saya dan ibu saya, ia tinggal di tempat lain yang jauh dari rumah saya. Tapi empat hari lalu, sebelum hasil swabnya keluar, ia main ke rumah.

Ia sebenarnya sudah menjalankan protokol ketat ketika di rumah saya. Ia menggunakan masker medis, ditambah lagi dengan face shield. Setiap beberapa saat sekali ia mengusapkan antiseptik di tangannya.

Ia juga duduk cukup jauh dan berusaha tidak menyentuh apapun di rumah. Namun begitu ia dinyatakan positif, ia meminta saya untuk melakukan tes swab untuk memastikan saya tak membawa virus ini di tubuh saya.

Tes Swab di RS Tria Dipa

Dari hasil gugling, saya mendapatkan banyak tempat untuk tes swab. Bisa dilihat di sini untuk lokasi tes swab.

Baca Juga: Tempat Swab di Jakarta

Dari semua pilihan itu akhirnya saya memutuskan untuk melakukannya di RS Tria Dipa, dengan pertimbangan lokasi yang dekat rumah dan tak banyak pasien seperti di rumah sakit lain. Saya memang masih parno kalau banyak pasien suspect di RS.

Biayanya memang cukup mahal, 1,95 juta rupiah untuk tes dengan hasil yang baru bisa diambil dua hari setelahnya. Tapi demi kesehatan, ya mau ga mau dilakukan.

Nah, sebelum tes swab, saya harus membuat janji dengan dokter THT lewat telepon. Ada dua slot tes, yakni di pukul 10 pagi dan pukul 5 sore. Saya kebagian slot pukul 5 sore.

Sampai Keluar Air Mata

Tepat pukul 5 kurang 5, saya sampai di sana. Setelah mengisi data-data yang di formulir yang isinya apakah saya memiliki gejala dan riwayat kontak dengan pasien covid, saya diminta menunggu.

Ternyata saya mesti menunggu 45 menit. Baru di pukul 05.45 dokter datang, setelah saya protes beberapa kali. Pastinya saya protes karena saya sengaja datang tepat waktu agar tak menunggu lama di RS.

Si dokter berganti dengan setelan APD lengkap, kemudian ia mengajak saya ke ruangan khusus untuk tes swab.

Di ruangan itu ada sebuah dua buah meja. Satu meja biasa, dan satu lagi meja berbentuk U yang bagian atasnya diberi kaca. Mirip meja kasir. Di kaca itu ada dua lubang, yang ternyata berguna untuk memasukkan tangan si dokter ketika mengambil sampel.

Proses pengambilan sampel cepat, tapi lumayan sakit buat saya. Kedua lubang hidung saya dimasukkan alat mirip cotton bud panjang, teruus dimasukkan hingga ke bagian dalam. Lumayan sakit, sakitnya mirip dengan kalau kita tersedak air di hidung dan masuk ke pangkal dekat mata.

Hal yang sama dilakukan juga di tenggorokan, lewat mulut. Saya sampai keluar air mata saat di swab.

Oya, hasilnya baru akan saya ketahui sore ini atau besok pagi. Semoga negatif!!

Update: Alhamdulillah hasilnya negatif. Bahkan adik ipar dan adik saya pun hasilnya negatif. Katanya sih, kemungkinan virus di tubuh mereka sudah inaktif.

8 Aplikasi yang Penting Saat Wisata ke Turki

Saat wisata ke Turki, saya dibantu oleh beberapa aplikasi di handphone. Aplikasi-aplikasi ini saya unduh saat masih di Indonesia, dan terbukti sangat berguna selama di sana. Apa saja itu?

aplikasi saat wisata ke Turki

Turki adalah negara indah yang jadi favorit banyak orang, termasuk saya. Sudah tiga kali saya berwisata ke sana. Rasanya ingin kembali lagi, lagi, dan lagi.

Nah, saat wisata ke Turki itulah, saya dibantu oleh beberapa aplikasi di handphone. Aplikasi-aplikasi ini saya unduh saat masih di Indonesia, dan terbukti sangat berguna selama di sana.

Apa saja aplikasi yang penting saat wisata ke Turki?

1. Moovit

Moovit ini adalah aplikasi andalan saya ketika berwisata, termasuk ketika wisata ke Turki.

Moovit ini sangat berguna untuk mengetahui angkutan umum apa yang mesti kita ambil dari satu destinasi ke destinasi, lokasi tempat angkutan umum berada, dan berapa lama waktu tempuh ke destinasi.

Enaknya, aplikasi ini adalah aplikasi real time. Artinya, kalau kita bergerak, dia akan bergerak seiring pergerakan kita. Dan akan memberi tahu kalau kita sudah sampai di tujuan.

Buat saya, aplikasi ini lebih akurat dibanding google map, lebih detail dan user friendly juga.

2. Trafi

Aplikasi yang sejenis dengan Moovit adalah Trafi. Namun saya belum pernah menggunakannya, jadi tak bisa memberikan review soal aplikasi ini.

Namun menurut kawan saya, aplikasi ini berguna banget saat di sana terutama saat akan naik kereta antarkota di Turki.

3. Bi Taksi

Bi Taksi ini adalah aplikasi untuk memanggil taksi di kota-kota besar di Turki. Saya baru mencobanya di Istanbul dan lumayan berguna.

Nantinya akan ada pilihan taksi jenis apa yang bisa digunakan; ada pilihan taksi standar dan taksi premium, juga dilengkapi dengan harganya.

Berbeda dengan grab atau gocar, taksi yang ada di Bi Taksi ini adalah taksi resmi dan harganya juga tak lebih murah daripada kita menyetopnya di pinggir jalan. Namun lebih terjamin dan lebih mudah.

Saya dua kali memakainya, salah satunya saat saya turun di terminal di pagi buta dan mesti membawa koper ke perhentian bus bandara. Daripada susah, akhirnya saya naik taksi dan memanggilnya dengan aplikasi ini.

Baca Juga: Transportasi dari Bandara Baru Istanbul

4. Google Translate

Di daerah yang banyak turis seperti Istanbul dan Kapadokya rata-rata orang Turki bisa berbahasa Inggris dasar. Namun di daerah seperti Izmir, atau daerah Turki Timur, masih banyak yang tak bisa berbahasa Inggris. Nah, aplikasi google translate ini bisa sangat membantu menterjemahkan apa yang kita maksud.

Google translate yang berupa aplikasi juga bisa membaca huruf Turki melalui kamera dan kemudian menterjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia atau bahasa lain yang diinginkan.

Satu lagi fitur andalan google translate yang amat berguna bagi saya adalah translate ucapan. Walau kadang meleset kalau pengucapan kita tak jelas, namun lumayan lah…

5. Sesli Sözlük

Ini aplikasi yang disarankan sepupu saya yang tinggal di Turki, untuk menggantikan google translate yang sering kacau penerjemahannya.

Mirip sebenarnya dengan google translate, namun ia hanya bisa menterjemahkan dari bahasa Turki ke bahasa Inggris, jerman, spanyol, dan beberapa bahasa lain. Belum ada pilihan bahasa Indonesia.

Saya pakai yang mana? Google translate aja karena memori handphone saya tak cukup untuk mengunduh aplikasi lagi.

6. Airbnb dan Booking.com

Dua platform untuk booking penginapan di Turki ini adalah andalan saya. Saya biasanya membandingkan mana yang lebih murah di antara keduanya, dan membandingkannya lagi dengan tempat booking hotel lain seperti Agoda, Traveloka, Tiket.com, dan sebagainya.

Oiya, untuk kamu yang pertama kali pakai airbnb, bisa klik referral saya ini. Akan dapat potongan harga hingga 15 dolar lho…

7. Culinary Backstreets

Ini adalah aplikasi untuk mengetahui lokasi-lokasi tempat makanan favorit di beberapa negara di dunia, termasuk di Turki.

Selain nama restoran, ada juga review dari beberapa travel blogger dan reviewer di sana. Saya jarang pakai ini karena buat saya, semua makanan di Turki termasuk makanan di pinggir jalannya rasanya enak dan enak banget.

8. EX Currency

Ini aplikasi yang perlu ga perlu sih. Aplikasi ini berguna menghitung kurs dari lira turki ke mata uang lain, termasuk rupiah. Kursnya lumayan akurat, jadi berguna banget kalau akan belanja supaya nggak salah hitung.

Kisah Erwin: Berhenti Merokok Karena Harganya Mahal

roko 3
Sumber: 123rf.com

“Orang Indonesia mesti dipaksa buat berenti merokok. Dipaksanya mesti pake hitung-hitungan duit.

Begitu kata Erwin, kawan saya yang kini hidup dan bekerja di Sydney, Australia, saat saya melakukan video call dengannya kemarin sore. Kami berbicara soal kebiasaannya merokok yang berubah sejak ia memutuskan pindah ke Australia dan bekerja di sana.

Ya, sejak pindah ke Sydney tiga tahun silam, Erwin mengurangi belanja rokoknya cukup drastis. Perubahan tampak jelas terasa, wajahnya yang dulu kuyu dengan bibir menghitam sekarang terlihat segar.

Ia “dipaksa” mengurangi konsumsi rokok karena harga rokok di Australia amat mahal. Sebungkus rokok isi 20 batang dibanderol dengan harga sekitar 30 – 48 AUD atau sekitar 300.000- 500.000 rupiah. 

“Waktu di Jakarta, gue bisa ngerokok setengah bungkus sehari. Kadang sebungkus kalau lagi stres ama kerjaan atau lagi nongkrong ama temen. Paling banyak abis 25 ribu (rupiah) lah. Nah kalau di sini gue kayak gitu, bisa tekor gue.”

Ia memberikan hitungan begini: kalau ia masih tetap dengan kebiasaan merokoknya, dalam sebulan ia akan menghabiskan uang minimal 1.000 AUD atau setara  10 juta rupiah lebih.

“Gaji gue sebagai professional di sini cukup lumayan, jauh di atas gaji kelas menengah di Indonesia. Tapi mending duit segitu gue pake buat makan dan sewa rumah daripada beli rokok, kan,” tambahnya.

Mengapa Mereka Merokok?

Ada beberapa alasan kenapa Erwin, dan banyak orang Indonesia merokok dan sulit menghentikannya. Alasannya antara lain adalah karena adiksi nikotin dan harga rokok yang murah. 

Adiksi alias kecanduan zat nikotin yang ada di dalam rokok menjadi penyebab utama. Jadi, ketika nikotin yang diisap terserap ke dalam darah dan diteruskan ke otak, akan terjadi pelepasan dopamin yang memberikan rasa bahagia dan nyaman.

Ketika dopamin berkurang, rasa nyaman bisa hilang dan ujung-ujungnya timbul keinginan untuk kembali merokok.

Ditambah lagi, ketika perokok berhenti merokok, akan muncul gejala putus nikotin yang menyebabkan tubuh merasa tak nyaman. Hal itu dikarenakan neuro transmitter yang selama ini membawa efek nyaman pada perokok jadi berdampak sebaliknya.

Begitu nikotin tidak lagi masuk ke dalam tubuh, perokok akan batuk-batuk, tak enak badan, sakit kepala, sulit tidur, dan lain-lain. Dan akhirnya, balik lagi ke rokok.

Murahnya Harga Rokok di Indonesia

Alasan lainnya adalah karena murahnya harga rokok di Indonesia. Saat ini, sebungkus rokok di Indonesia hanya dibanderol dengan harga 19.000-30.000 rupiah. Para pekerja yang gajinya di bawah UMR masih sanggup membeli ini. Anak-anak sekolah pun, kalau mereka patungan, bisa membeli ini dengan uang jajan mereka.

Apalagi di warung-warung kecil seperti di warung dekat rumah saya, rokok bisa dibeli secara eceran dengan harga hanya Rp2.000-2.500 per batang. Dengan harga tersebut, remaja dan anak sekolah masih mampu membeli rokok dengan uang jajan mereka. 

Saya ingat, Erwin juga menceritakan kalau ia memulai merokok sejak berada di bangku sekolah menengah. Mereka patungan membeli sebungkus rokok bersama teman-temannya dan kemudian mengisapnya sepulang sekolah. 

Coba kita bandingkan dengan harga rokok di beberapa negara ini.

Dari infografis di atas, terlihat kan kalau sebungkus rokok merek Marlboro isi 20 di Australia dihargai USD 20,38 atau kira-kira Rp300.000. Sementara saat ini rata-rata harga 1 bungkus rokok Marlboro di Indonesia adalah sekitar Rp30.000.

Masih terbilang murah.

Harga rokok yang murah ini menyebabkan jumlah perokok di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Data yang saya kutip dari TCSC (Tobacco Control Support Center) Indonesia menyatakan saat ini di Indonesia ada 89 juta jiwa perokok aktif, dan merupakan jumlah terbesar ketiga di dunia dan pertama di ASEAN.

Pantas aja, kawan saya di Singapura pernah bilang, “Akhirnya Indonesia menang juga dari Singapura, di bidang rokok!”

Perokok Remaja Makin Meningkat

Sedihnya ya, jumlah ini termasuk perokok dari usia remaja. Saya mencoba mencari tahu soal ini dan menemukan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 yang dilakukan Kementerian Kesehatan.

Di situ tertulis kalau makin tahun makin banyak saja perokok remaja di Indonesia. Di tahun 2018 aja, ada 9,1% perokok remaja. Kalau populasi pada kelompok usia itu sekitar 40,6 juta jiwa,  berarti sudah ada sekitar 3,9 juta anak yang merokok. 

diolah dari artikel di: infodatin-hari-tanpa-tembakau-sedunia terbitan kemkes.go.id dan TCSC

Para perokok muda ini karena sudah kecanduan nikotin, umumnya akan terus memertahankan kebiasaan mereka merokok hingga dewasa dan akan sulit untuk berhenti. Erwin contohnya.

Sementara di Australia, di mana harga rokok sangat mahal, jumlah perokok turun setiap tahunnya. Mengutip Laporan Australian Institute of Health and Welfare (AIHW), di tahun 2016 12,8% orang dewasa merokok setiap hari. Sementara di tahun 2019 angkanya menjadi  11,6%.

Artinya, ada penurunan sebesar 1,2 %, dalam kurun waktu 3 tahun. Banyak lho ini untuk ukuran Australia yang jumlah penduduknya hanya 25 juta jiwa.

Pandemi, Saat Tepat Naikkan Cukai Rokok  

Karena itulah, sebagai upaya untuk mengurangi jumlah perokok, banyak pihak yang meminta pemerintah Indonesia mengatur lagi regulasi soal rokok ini. Salah satunya  dengan menaikkan harga cukai tembakau supaya harga rokok menjadi lebih mahal.

Hal ini terungkap dalam siaran Ruang Publik Berita KBR dengan tema “Mengapa Cukai Rokok Harus Naik Saat Pandemi” pada tanggal 29 Juli 2020 lalu. Siaran ini menghadirkan dua pembicara yakni Prof. Hasbullah Thabrany, Ketua Umum Komnas Pengendalian Tembakau,  dan  R. Renny Nurhasana, Dosen dan Peneliti Sekolah Kajian Strategic dan Global Universitas Indonesia. 

Screenshot_20200729-090133

Screenshot_20200729-090226
Para pembicara di Ruang Publik Berita KBR. Atas kanan:  Prof. Hasbullah Thabrany, bawah kanan: R. Renny Nurhasana

Kenaikan harga cukai sebenarnya sudah dilakukan pemerintah Indonesia beberapa kali. Terakhir, pada 1 Januari 2020 lalu, pemerintah sudah menaikkan cukai rokok sebesar 23% sehingga harga eceran rokok pun rata-rata jadi naik 35%.  Harga rokok Marlboro misalnya, yang tadinya sebesar Rp27.000/bungkus kini jadi sekitar Rp 30.000/bungkus.

Namun menurut Prof. Hasbullah, kenaikan cukai sebesar ini belum cukup untuk menurunkan jumlah perokok di Indonesia. Ia menyarankan, “Kalau  kajian kami, harga rokok di Indonesia saat ini harusnya Rp70.000/bungkus lah, supaya yang lama saja, yang baru-baru tidak memulai merokok.”

Jadi, Kenapa Cukai Harus Naik Saat Pandemi?

Ada beberapa alasan mengapa pandemi ini adalah saat yang tepat untuk menaikkan cukai rokok.

1. Rokok Mempermudah Masuknya Virus Covid-19.

Covid-19 adalah virus yang  berdiam di paru-paru, menyumbat saluran pernapasan dan menyebabkan sesak napas. Nah, rokok dan zat yang terkandung di dalamnya, memudahkan virus masuk ke dalam tubuh dan mempermudah kerusakan paru-paru. Ditambah lagi, perokok lebih sering memegang mulutnya ketika merokok tanpa mencuci tangan dan ini berisiko memicu infeksi Covid-19 masuk ke dalam tubuh.

Mirisnya, meski banyak yang telah mengetahui risiko ini dan harga cukai pun telah dinaikkan di awal tahun, permintaan rokok selama pandemi ini justru meningkat.

Saya tak menemukan data resmi yang mencatat jumlah kenaikan permintaan rokok total, namun mengutip artikel dari situs tempo.co, menurut Ketua Persatuan Perusahaan Rokok Kudus, Agus Sarjono, beberapa pabrik rokok di Kudus menaikkan jumlah produksi rokoknya selama pandemi ini.

rokok 12
Sumber: malangkota.go.id

2.  Perokok Pasif Bisa Bertambah

Senada dengan Prof. Hasbullah, Renny juga menekankan pentingnya menaikkan lagi cukai rokok saat pandemi ini.

“Mengapa? karena saat pandemi begini, para perokok rata-rata work from home. Di gedung (kantor) mereka kan nggak bisa sembarangan merokok. Sementara di rumah bisa semaunya, sehingga ada kemungkinan anak-anaknya terkena paparan asap rokok,” tukasnya.  

Ditambah lagi, saat pandemi ini banyak orang yang terkena masalah ekonomi dan segala macam beban pekerjaan, yang membuat mereka pusing dan stress sehingga rokok pun jadi bahan pelarian.

Seperti yang kita ketahui, paparan asap rokok yang diisap oleh keluarga dan anak-anak perokok bisa menimbulkan banyak masalah. Perokok pasif, begitu sebutannya, bisa mendapatkan penyakit sama dengan yang didapatkan oleh perokok aktif.

3. Mengembalikan Kesejahteraan Keluarga dan Mencegah Stunting

Dari hasil penelitiannya, Renny menemukan fakta bahwa selama ini dana bantuan tunai  (BLT) yang diterima masyarakat malah digunakan untuk membeli hal-hal lain yang tidak relevan, termasuk membeli rokok.

Hasil penelitian yang ia lakukan juga memperlihatkan bahwa penerima bantuan langsung tunai membeli rokok lebih banyak dari yang tidak menerima bantuan.

Hasil riset yang dilakukan Reny dan Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI) juga menemukan bahwa pada tahun 2014 terjadi peningkatan konsumsi rokok  sebanyak 2%, dan ini menyebabkan penurunan pengeluaran beras, protein, sumber lemak, serta pendidikan.

PKJS-UI juga melakukan studi kasus terhadap keluarga yang punya balita stunting (balita yang mengalami pertumbuhan lebih lambat akibat kekurangan gizi) di Kabupaten Demak, dan terbukti kalau jika di keluarga tersebut, gizi untuk anak tidak terpenuhi akibat orang tuanya mengkonsumsi rokok.

Nah, jika cukai dinaikkan dan rokok menjadi mahal, harapannya para kepala keluarga mengurangi belanja rokok bahkan kalau memungkinkan menghilangkan rokok dari daftar belanja keluarga. Ujung-ujungnya, uang yang tadinya dikeluarkan untuk rokok bisa dialihkan untuk belanja makanan bergizi dan stunting pada anak pun bisa dihindari.

Seperti pernyataan Prof. Hasbullah, “Duit 20.000 daripada mereka belikan rokok, mending dibelikan telur. Biar terpenuhi proteinnya.”


Memang sudah saatnya cukai rokok dinaikkan lagi agar harga rokok semakin mahal, dan jumlah perokok menurun.

Saya jadi ingat teori ekonomi terkenal yang saya pelajari di bangku kuliah: “Semakin mahal harga barang, konsumen akan mengurangi konsumsi barang tersebut atau beralih ke barang lain. Sebaliknya, semakin murah suatu harga, konsumen akan loyal terhadap barang tersebut”.

Jadi, semakin mahal harga rokok, konsumen akan mengurangi konsumsi rokok. Terbukti pada  kawan saya,  Erwin.


Saya sudah berbagi pengalaman pribadi untuk #putusinaja hubungan dengan rokok atau dorongan kepada pemerintah untuk #putusinaja kebijakan pengendalian tembakau yang ketat. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog serial #putusinaja yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Indonesian Social Blogpreneur ISB. Syaratnya, bisa Anda lihat di sini.

***
Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog KBR.

Referensi artikel:

6 Perbedaan Travelling Zaman Dulu vs Zaman Sekarang

Saya mulai travelling secara mandiri sejak 15 tahun lalu. Dari pengalaman saya, ada beberapa perbedaan travelling zaman dulu  dan sekarang.

Begini perbedaannya.

“Better to see something once than hear about it a thousand times”

~Anyonymous

Saya mulai travelling ke luar negeri secara mandiri sejak 15 tahun lalu, sejak saya bisa membiayai sendiri perjalanan saya tanpa campur tangan orang tua. Saat itu, Airasia baru melebarkan sayapnya ke Indonesia, sehingga harga tiket pesawat yang tadinya selangit dan cuma bisa dibeli segelintir orang, jadi terjangkau untuk semua orang. Mengutip kata Tony Fernandes, CEO Airasia, “Now everyone can fly.”

Selama 15 tahun itu, teknologi makin berkembang. Kecepatan informasi pun makin bertambah. Dalam waktu singkat, berbagai informasi soal travelling bisa dicari dari berbagai belahan dunia. Dulu, untuk mencari informasi tentang suatu destinasi, saya mesti bertanya langsung ke orang-orang atau membeli buku panduan semacam Lonely Planet yang harganya minta ampun mahalnya. Kini, semuanya tinggal klik, tinggal cari di google.

Selain soal informasi, banyak hal jadi berbeda di dunia travelling. Nah, ini dia beberapa perbedaan travelling zaman dulu  dan sekarang, versi saya tentunya.

1. Tak Ada Internet, Janjian Ketemu Pakai SMS

Zaman awal saya travelling dulu, tak ada provider internet atau Mifi seperti Java Mifi, dan lain sebagainya. Paling banter ada internet roaming dari provider lokal yang tarifnya mencekik. Penjual SIM card lokal di bandara pun tak sebanyak sekarang, dan kalaupun ada, syarat pembeliannya luar biasa susah. Misalnya saja dulu di China, untuk mendapatkan harus fotokopi paspor, dan hanya bisa dibeli di gerai resminya di tengah kota.

Karena mahal, biasanya saya cuma mengandalkan wifi gratisan di penginapan atau restoran, yang seringkali nyala-hidup semaunya. Atau paling sering, wifi-nya hanya ada di public room atau di ruang komunal dekat resepsionis. Jadi kalau mau cari info, ya mesti nongkrong di sana, sambil memandangi mas resepsionis.

Nah, karena tak bisa dibantu internet sepanjang perjalanan, mau tak mau persiapan saya harus matang sebelum berangkat. Itenerary harus dibuat selengkap mungkin, disertai dengan cara menuju ke sana dari titik ke titik.

Yang repot, kalau pergi beramai-ramai dan terpisah. Janjiannya susah, paling murah pakai SMS yang tarifnya sekali SMS sekitar 10 ribu rupiah. Kalau sekarang mah gampang, kepisah pun tinggal telp via WA, kan?

Anehnya, walau tanpa internet, saya dan kawan-kawan sukses-sukses saja travelling ke negara-negara yang waktu itu masih “mentah” dan minim informasi seperti Myanmar, Kamboja, dan Vietnam.  Sukses janjian di satu titik kalau terpaksa berpisah, tanpa harus nyasar dan cari-mencari. Pernah, saya dan kawan-kawan terpisah di Angkor Wat dan tanpa internet, kami berhasil bertemu di tengah

Kalau sekarang, tanpa internet, pusingnya luar biasa.

2. Peta Cetak Vs Digital

map
Map seperti ini yang saya dulu saya bawa ke mana-mana. Sumber: GISResource.com

Zaman awal saya travelling dulu, belum ada yang namanya google map apalagi movit dan segala macam aplikasi untuk membantu mencari jalan. Kalau cari alamat, ya mesti liat peta cetak. Peta segede gaban itu mesti dibawa-bawa ke mana-mana.

Peta itu biasanya saya dapatkan dari teman yang sudah ke sana atau dari Tourist Information Center di bandara. Atau biasanya, di dekat pintu keluar akan ada rak besar tempat segala flyer dan peta ada di sana. Tinggal ambil.

Sebagai cadangan, biasanya saya mengunduh lebih dahulu peta di internet lalu mengeprintnya. Nanti di penginapan, barulah saya minta atau pinjam peta dari hotel. Kalau nggak ada juga, ya nasib. Cuma bisa mengandalkan GPS alias Gunakan Penduduk Setempat.

Tak enaknya, tas jadi lebih berat dengan peta-peta itu. Enaknya, saya lebih paham soal arah dan letak suatu destinasi ketimbang sekarang yang cuma mengandalkan suara dari mbak di Google Map: “two hundred meter, turn left“.

Baca Juga: Restoran dan Makanan Halal di Bukit Bintang

3. Google Translate Manual

google_translate
Sumber: ayosemarang.com

Karena internet tak ada, segala aplikasi penunjang pun juga ga ada, termasuk google translate. Nah, kalau ke negara-negara yang masyarakatnya tak bisa bahasa Inggris seperti China, mau tak mau di itenerary saya ada dua bahasa.

Seperti yang saya buat waktu ke China. Itenerarynya saya buat dalam bahasa Indonesia, dan di sebelahnya ada aksara Cina. Biasanya kan kalau googling destinasi, akan muncul nama dengan aksara China.  Nah itulah yang saya copy dan paste di itenerary saya.

Akibatnya, itenerary saya jadi panjang. Bahkan waktu ke China, itenerary saya sudah seperti buku. Ada 30 halaman!

4. Airasia Mirip Angkot

airasia
sumber: thejakartapost.com

Di awal kemunculannya, Airasia itu tidak menerapkan nomer seat. Jadi penumpang bebas memilih seat sesuai kemauannya. Siapa cepat, dia dapat kursi yang enak.

Jadi, begitu pintu gate dibuka, kita harus lari sekencang-kencangnya agar bisa naik ke pesawat lebih dulu dan dapat kursi oke. Apalagi kalau pergi bareng teman, biasanya saya yang kebagian lari duluan ke pesawat sementara kawan saya membawakan tas saya agar saya bisa lari lebih cepat.

Mirip naik kereta Commuter Line atau Transjakarta di jam sibuk., deh. Rusuh!

Baca Juga: 6 Hal yang Harus Dilakukan di Luang Prabang

5. KLIA 2 Dulu Mirip Gudang

lcct-inside
Sumber: backpackingmalaysia.com

P1290916
Tempat “melantai favorit di LCCT, üntuk ngecharge hp. Di sebelah kiri itu Marrybrown.  (Foto tahun 2011)

KLIA 2, tempat mendarat pesawat Airasia, dulu tak sebagus sekarang. KLIA 2 ini baru dibuka tahun 2014 silam. Dulu namanya masih LCCT (Low Cost Carier Terminal) dan bentuknya masih mirip gudang.

Ya, benar-benar seperti gudang besar. Atapnya dari lembaran baja yang langit-langitnya terekspos. Jalur pipa AC terlihat jelas di sana. Dindingnya dari gipsum yang di beberapa bagian sudah agak kotor. WC-nya pun jorok, dan tak banyak bangku untuk duduk sehingga saya lebih sering “melantai” alias duduk di lantai saat sedang menunggu penerbangan.

Tempat makannya hanya ada beberapa, salah satunya adalah Marry Brown, fast food asli Malaysia. Restoran ini kecil dan banyak lalatnya!

6. Fiskal yang Bikin Harga Tiket Selangit

Tahu fiskal luar negeri? Fiskal luar negeri ini adalah pajak yang harus dibayarkan oleh orang yang mau melakukan perjalanan ke luar negeri, baik melalui udara, laut, maupun darat. Tarif fiskal ini sebesar Rp1.000.000 untuk perjalanan udara, dan Rp500.000 untuk perjalanan darat dan laut. Lumayan mahal kan?

Nah, waktu pertama kali ke Singapura tahun 2004 , saya nggak sanggup membayar fiskal satu juta itu. Akhirnya, demi mengirit bujet 500ribu, saya terbang dulu ke Batam dan kemudian naik ferry ke Singapura. Niat banget kan?

Untungnya, di tahun 2009, fiskal perlahan-lahan mulai dihapuskan. Mayan, irit sejuta!

Baca Juga: 4 Tempat Wisata Gratis di Singapura yang Jarang dikunjungi Turis Indonesia

 

 

 

 

Pengalaman Memperpanjang SIM di Mal Pelayanan Publik

Saya datang lagi ke Mal Pelayanan Publik di Rasuna Said, Kuningan. Dulu untuk memperpanjang paspor, kini kembali untuk memperpanjang SIM. Nyaman ternyata memperpanjang SIM di Mal Pelayanan Publik.

Saya datang lagi ke Mal Pelayanan Publik di Rasuna Said, Kuningan. Dulu untuk memperpanjang paspor, kini kembali untuk memperpanjang SIM. Nyaman ternyata memperpanjang SIM di Mal Pelayanan Publik.

 

Kedua SIM saya habis masa berlakunya akhir Juli ini. Untung saya keburu sadar di awal bulan dan segera memperpanjangnya.

Setelah bertanya sana-sini, salah satu teman menyarankan untuk memperpanjang SIM secara online melalui SITUS RESMI INI. Katanya, jalurnya khusus, lebih cepat dibanding SIM manual, dan  tak ribet. Saya manut. Mendaftarlah saya lewat situs online itu.

Ternyata, situsnya bermasalah. Berkali-kali error saat akan membayar hingga akhirnya, setelah belasan kali mencoba, berhasil tembus juga. Untuk lokasi, saya pilih di Satpas Jaksel yang terdekat dengan rumah. FYI, untuk SIM Online ini hanya bisa dilakukan di Polres saja, tak bisa dilakukan di SIM Keliling atau Mal Pelayanan Publik.

Singkat cerita, saya berhasil mendapatkan antrian dan registrasi SIM. Tapiii…….setelah saya print, lokasinya berubah menjadi Satpas Polda Metro di Daan Mogot.

Yassalam, jauh aja.

Daripada saya mesti jauh-jauh ke sana, saya akhirnya membatalkan registrasi itu dan memutuskan untuk memperpanjang SIM secara manual di Mal Pelayanan Publik di Rasuna Said.

Alasan saya memilih tempat ini adalah lokasinya yang dekat dengan rumah. Lagipula tempatnya nyaman dan adem. Tak mesti panas-panasan seperti halnya di SIM Keliling atau di Satpas lainnya.

Baca Juga: Begini Caranya Membuat Paspor di Mal Pelayanan Publik, Hanya 30 Menit!


Ternyata Antriannya Panjang!

Saya datang pukul 07.30. Di pintu gerbang, satpam meminta KTP dan SIM yang akan diperpanjang, dan menukarnya dengan nomor antrian. Saya mendapat antrian nomor 39. Lumayan.

Menurut Pak Satpam, selama pandemi ini jumlah pengunjung dibatasi sehingga setiap harinya hanya ada jatah 50 nomer antrian. Saya termasuk datang tepat waktu; tidak terlalu pagi dan tidak terlalu siang. Sedikit saja saya datang terlambat, nomer antrian akan habis.

nomer antrian SIM di Mal Pelayanan Publik

Pak Satpam menyarankan agar saya ngaso dulu di Pasar Festival, lalu kembali jam sepuluh. “Daripada duduk kepanasan di luar pagar, Mbak,” katanya sambil menunjuk bangku panjang tempat menunggu. Memang panas dan jumlahnya sedikit. Di dalam pagar sebenarnya ada lagi deretan bangku, yang lebih adem karena terlindungi sinar matahari, namun saya belum boleh masuk karena nomer antrian saya masih jauh. 

Akhirnya, daripada bengong, saya menunggu di kantin di sebelah Gedung Nyi Ageng Serang, minum segelas jus mangga yang ternyata harganya lumayan mahal.

Pukul 10 teng, saya datang lagi sesuai pesan Pak Satpam. Ternyata, antrian masih ada di nomor 20-30, masih jauh. Saya diminta duduk menunggu di bangku antrian di dalam yang sudah diatur agar tak terlalu rapat. Oiya, sebelum masuk tadi, saya dicek suhu.

nomer antrian SIM di Mal Pelayanan Publik
bangku tunggu di Mal Pelayanan Publik

bangku tunggu di Mal Pelayanan Publik
Wastafel di Mal Pelayanan Publik

Pukul 10.30, nomer antrian saya dipanggil. Sebelum masuk, semua orang diwajibkan mencuci tangan di drum yang diubah menjadi wastafel. “Tak boleh masuk kalau belum cuci tangan,” begitu kata petugas di depan pintu.


Ini Syarat Perpanjangan SIM

Pusat pelayanan SIM dan STNK ada di lantai 3,  di sebelah loket pelayanan Samsat STNK. Begitu sampai di atas, petugas akan menyerahkan formulir, yang setelah selesai diisi, bisa langsung dikembalikan.

Pembayaran juga dilakukan di situ. Untuk SIM A harganya Rp80.000, SIM C Rp75.000, plus biaya pemeriksaan kesehatan sebesar Rp30.000 per SIM. Total yang harus saya bayarkan sebesar 215.000 rupiah.

Walaupun ada biaya pemeriksaan kesehatan, namun ternyata tidak ada pemeriksaan sama sekali.

Oiya, ini syarat perpanjangan SIM

  1. SIM asli dan fotokopi. Walau di sana ga diminta juga ternyata fotokopiannya.
  2. KTP Asli dan fotokopi

Setelah formulir diserahkan, tinggal menunggu giliran di foto. Nah, ini saat paling mendebarkan dalam pembuatan SIM. Foto SIM saya selalu gagal, tak pernah bagus. Ditambah lagi di sini tak ada kaca, jilbab berantakan setelah pakai masker, ditambah lagi saya kelamaan menunggu di luar.

Ya, sudah lah,  pasrah saja.

IMG_20200706_113539
Tempat duduk di Mal Pelayanan Publik. Empuk !!

Setelah foto, saya tinggal menunggu SIM selesai di sofa empuk yang banyak tersedia di sana. Sofanya sudah disesuaikan dengan perintah social distancing; di beberapa tempat diberi tanda silang untuk mencegah orang duduk di situ.

Setengah jam kemudian, SIM saya kelar. Dan benar saja, fotonya kacau balau! Untung nggak perlu diliat tiap hari, dikekep aja di dompet deh.

Empat Hal yang Bikin Saya Kangen Pekanbaru

Pekanbaru memang bukan tujuan wisata utama, karena orang yang datang ke sini kebanyakan ingin transit sebelum melanjutkan perjalanan menuju kota lain di Riau.

Namun banyak tempat yang dapat dikunjungi yang bikin saya kangen untuk datang lagi ke sini.

Pandemi virus Corona yang melanda dunia termasuk Indonesia membuat semua hal jadi tertunda. Termasuk rencana travelling saya ke salah satu kota di Sumatera, Pekanbaru, yang harus ditunda sampai situasi memungkinkan untuk ke sana.

Ini bukan kali pertama saya ke Pekanbaru. Saya pernah menginjakkan kaki saya di sana dua tahun lalu, dalam rangka tugas dari kantor untuk mewawancarai Bapak Walikota Pekanbaru, Bapak Firdaus, ST. Setelah tugas wawancara kelar, saya memperpanjang cuti saya di sana dan mengeksplor Pekanbaru seorang diri. Tawaran dari staf kantor Walikota untuk menemani saya berkeliling saya tolak, saya khawatir tak menikmati Pekanbaru seutuhnya jika ditemani resmi seperti itu.


Dari hasil obrolan saya dengan Walikota, saya diberitahu sedikit sejarah Pekanbaru. Awalnya, Pekanbaru ini bernama Senapelan yang dikepalai oleh seorang kepala dusun. Kepala dusun ini membuat sebuah pasar di akhir pekan, namun tidak berhasil karena jarang penduduk yang datang. Kemudian, sang anak yang meneruskan tahta, memindahkan lokasi pasar ke dekat pelabuhan. Pasar  yang baru itu dikenal dengan nama pasar Pekan Baharu. Nama inilah yang kemudian dikenal dan menjadi cikal bakal nama Pekanbaru.

Kota yang terletak di tepi Sungai Siak ini dulu menjadi tempat singgah kapal-kapal Belanda yang tak bisa merapat ke daerah Siak. Karena sering disinggahi kapal, Pekanbaru pun berkembang menjadi kota pelabuhan yang punya peranan penting di lintas perdagangan di Sumatera.

Menurut Pak Wali lagi, pada tahun 1958, Pemerintah Indonesia menetapkan Pekanbaru sebagai ibukota Provinsi Riau. Ini menyebabkan Pekanbaru jadi pusat perdagangan dan ekonomi yang penting di Provinsi Riau. Hingga sekarang ini.


Ketika saya akan mengeksplor Pekanbaru, banyak yang bilang kalau kota ini tak punya hal menarik untuk didatangi. Pekanbaru memang bukan tujuan wisata utama, karena seperti yang dijelaskan oleh Pak Wali ke saya, orang yang datang ke sini kebanyakan ingin transit sebelum melanjutkan perjalanan menuju kota lain di Riau.

Namun bukan berarti saya tak bisa bersenang-senang di sana. Ada beberapa tempat yang dapat dikunjungi dan ada beberapa hal mengasyikkan yang bikin saya kangen untuk datang lagi ke sini.

Sarapan di Warung Kopi Kim Teng

Warung kopi ini sangat terkenal sehingga semua orang, bahkan Pak Walikota pun, menyarankan saya untuk ke sini. Katanya, belum ke Pekanbaru kalau belum sarapan di Kimteng. Saya bukan pencinta kopi, tapi saya jadi penasaran, kenapa sih saya disarankan untuk ke sini. 

Alhasil, pagi-pagi sekali, dari hotel di Pekanbaru, saya sudah bergerak ke sana untuk sarapan. Warung kopi ini memang sudah buka sejak pukul 7 pagi. Saya kira, saya orang pertama yang datang ke sana. Tapi ternyata, ketika saya sampai sana, kedai sudah penuh. Benar-benar penuh. Hanya tersisa beberapa meja, itupun sudah direservasi orang.

Kedai ini memang bukan sekadar tempat nongkrong dan minum kopi, tapi juga sudah menjadi tempat transaksi bahkan tempat meeting. “Ngopinya secangkir, ngobrolnya di sana dua jam,” begitu ungkapan Pak Walikota.

Untungnya, ada meja kosong untuk saya. Di pojokan, di mana saya bisa mengamati keseluruhan kedai ini. Kedainya cukup besar, sepertinya baru dipugar. Di dindingnya banyak terdapat foto-foto para pesohor yang pernah datang ke sini. Di sebelah kanan terdapat foto perjalanan kedai Kimteng, yang ternyata sudah berdiri sejak lama.

Dari yang saya baca, nama “Kimteng” sendiri berasal dari nama Tang Kimteng. Ia seorang keturunan Tionghoa kelahiran Singapura yang sejak tahun 1940-an sudah menjadi tentara Indonesia di Sumatera. Setelah merdeka, Kimteng ikut berjualan di kedai kakaknya. Lalu pada tahun 1950-an, ia  membuka Kedai Kopi Segar di rumahnya, di dalam gang dekat pelabuhan Pelindo. Lama kelamaan, kedai ini berkembang dan kemudian diteruskan oleh sang cucu. Kedai kopi Segar ini pun lebih dikenal dengan nama Kim Teng dan nama ini bertahan hingga sekarang.

Menu andalan KimTeng ini adalah kopi hitam dan roti srikaya. Saya, yang tak biasa meminum kopi, sok-sokan mencoba kopi ini. Alhasil, sampai malam buta, saya masih merasakan efeknya. Jantung saya berdebar kencang, mata saya tak bisa terpejam. Memang, menurut teman-teman saya, kopinya cukup kuat bahkan untuk orang yang biasa meminum kopi sekalipun.

DSCF5682

DSCF5687
Kopi dan Roti Srikaya yang mankyuss. Selai srikaya-nya dan kopi bubuknya dijual juga seharga 35ribu/jar.

Kulineran Malam di Jalan Sudirman

Saat saya tanya apa yang saya bisa lakukan di malam hari di Pekanbaru, semua orang menjawab, “kulineran aja ke Jalan Sudirman.” Saya agak sangsi sebenarnya, mengingat di siang hari sebelumnya saya sudah datang ke sana dan cuma ada mal dan pertokoan saja.  Jalan Sudirman ini memang jalan utama di Pekanbaru. Selain mal, ruko-ruko, di sini banyak hotel, mulai dari hotel berbintang sampai hotel murah di Pekanbaru. 

Di mana kulinerannya? Malas ah kalau ke mal. 

Ternyata, di malam hari, Jalan Sudirman berubah menjadi sentra kuliner. Beragam kuliner khas Pekanbaru bisa saya temukan di sini. Ada yang menjual roti bakar hingga makanan Padang. Uniknya, jika di Jakarta ataupun di kota lain warung nasi padang biasanya berupa toko atau warung khusus, di sini warung padang berupa tenda tidak permanen. Masakannya dimasak dan diletakkan di gerobak, mirip tukang nasi goreng di dekat rumah saya.

Di jalan ini juga ada sate padang yang terkenal dan banyak direkomendasikan orang-orang, yakni Sate Padang Bundo Kanduang. Dengan harga Rp19.000 saja, saya bisa menyantap seporsi sate padang yang maknyus.

Ada pula Martabak Mesir Radar Siang Malam. Martabak ala India ini memiliki isian daging yang tebal, dengan kulit martabaknya yang lembut, dan kuahnya yang terasa segar manis. Martabak terenak yang pernah saya coba.  Saking sukanya bahkan saya pesan dua!

DSCF5666
Salah satu sudut kuliner di Jalan Sudirman

DSCF5844
Sate Bundo Kanduang

Jalan-jalan Sore di Masjid Agung An-Nur

Sebelum kulineran di Jalan Sudirman, saya mampir dulu ke Masjid Raya Annur. Masjid yang juga dikenal dengan Masjid Agung Pekanbaru ini adalah masjid terbesar di Pekanbaru yang didesain dengan gaya arsitektur yang merupakan paduan gaya arsitektur Timur Tengah, Melayu, dan India. Katanya, masjid ini didaulat sebagai Taj Mahal Pekanbaru.

Saya penasaran. Masjid ini memang indah. Tapi yang saya suka, masjid kebanggaan masyarakat Pekanbaru ini bukan hanya jadi tempat beribadah, namun juga tempat berolahraga dan berkumpul masyarakat Pekanbaru. Ya, kalau datang ke sini menjelang sore seperti yang saya lakukan, di lapangan depan masjid banyak orang yang berolahraga, jalan-jalan sore, atau hanya duduk-duduk mencicipi kuliner kaki lima di sana.

Salah satu kuliner yang saya coba di kompleks Masjid An Nur adalah kerupuk siram. Ini jajanan khas Riau dan beberapa daerah di sekitarnya seperti Sumatera Barat. Kerupuk siram adalah kerupuk gendar yang terbuat dari ketan, di atasnya diberi bihun, dan kemudian disiram dengan saus padang. Harganya hanya sekitar 4000-5000 rupiah saja per buah. Murah meriah enak kenyang.

DSCF5643
Masjid Annur yang ramai

AgDMpDYRINJJZByps4PtrBBqmOx7OM6hibnvdzM9F0Os
Masjid Agung An-Nur

Membaca Perpustakaan HS Soeman

Ketika saya tanya ke salah seorang kawan arsitek soal bangunan menarik di Pekanbaru selain masjid raya, ia menyarankan untuk mendatangi bangunan ini. “Bangunan yang eye catching”, katanya.

Saya mengikuti sarannya. Memang benar. Selain masjid Agung Annur, ini adalah bangunan lainnya yang mampu menarik mata saya. Bangunannya berbeda dari sekelilingnya sehingga langsung terlihat dari kejauhan. Konon, bentuk perpustakaan ini diambil dari bentuk buku yang terbuka, namun ada juga yang berpendapat kalau bentuk bangunan ini terinspirasi dari lekar, meja tempat meletakkan Al Quran saat belajar mengaji. Riau memang kental dengan nuansa Islam sehingga mungkin saja unsur Islami dimasukkan ke perpustakaan ini.

Saya masuk ke dalamnya, sengaja ingin membaca buku di sana. Bagian dalamnya ternyata lumayan menarik, buku-bukunya cukup banyak. Di lantai dasar terdapat café dan di lantai paling atas terdapat deck; di sini saya bisa melihat Kota Pekanbaru dari ketinggian.

Di sekitar perpustakaan H.S Soeman juga ada bangunan-bangunan modern lainnya yang cukup menarik, seperti kantor Gubernur Riau dan kantor perwakilan Bank Indonesia. Tapi cuma bisa diliat dari luar aja ya.

Soeman_HS_Library,_Pekanbaru,_Indonesia
Tampak luarnya.

DSCF5894
Section anak-anak. Masih sepi karena saat itu masih jam sekolah.

Aj4wqFBhOfN2yXFZywYV_SSjvOZ-GJ2VIbIuT6a1jGAM (1)
section bacaan umum

Penginapan di Pekanbaru

Pekanbaru ternyata menarik kan? Saya saja ingin kembali ke sana lagi. Apalagi, Pekanbaru ini termasuk mudah untuk dijelajahi dengan angkutan umum. Ada ojek online, ada bus trans metro. Rute trans metro ini sudah bisa menjangkau beberapa tempat wisata, bahkan bisa menuju bandara Sultan Syarif Kasim II. Untuk area yang tak ada trans metro seperti Kimteng, bisa menggunakan angkot. Masyarakat Pekanbaru juga cukup ramah, mereka akan senang hati menjelaskan apa yang harus saya naiki untuk menuju tempat-tempat itu. 

Untuk urusan menginap pun tak sulit. Banyak hotel murah di Pekanbaru, yang terjangkau bujet saya. Beberapa di antaranya adalah hotel di bawah bendera Reddoorz. Harganya mulai dari dua ratus ribuan per kamar. Walaupun harganya terjangkau, hotel-hotel ini tetap nyaman ditempati. 


Semoga saja pandemi ini segera berakhir dan saya bisa menikmati lagi kehangatan kopi Kimteng, menikmati makanan khas Melayu dan merasakan suasana di Pekanbaru lagi. Aamiin…