3 Barang Kecil Tapi Penting Saat Backpacking

Kamera, baterai cadangan, pencatu daya, alat mandi, alat make-up, adalah barang-barang keperluan travelling yang pastinya tak akan saya lupakan.

Namun, ada 3 barang lainnya yang kecil, terkadang terlupakan, namun sebenarnya sering dibutuhkan.

Kamera, baterai cadangan, pencatu daya, alat mandi, alat make-up, adalah barang-barang keperluan travelling yang pastinya tak akan saya lupakan.

Namun, ada 3 barang lainnya yang kecil, terkadang terlupakan, namun sebenarnya sering dibutuhkan.

1. Mangkuk Lipat

Terkadang, makanan halal menjadi kendala ketika berpergian di suatu tempat. Apalagi untuk muslimah seperti saya, yang tak bisa sembarangan makan. Alhasil, membawa bekal dari Indonesia (seperti mie yang dapat direbus dengan menggunakan gelas) kerap menjadi jawaban atas solusi ini.

Nah, tak semua penginapan menyediakan gelas, mangkuk, ataupun wadah yang dapat digunakan untuk menyajikan makanan. Makanya, saya selalu membawa ini ketika berpergian ke mana saja: mangkuk lipat.

Mangkuk ini terbuat dari bahan silicon, yang jika ditutup bentuknya sangat tipis sehingga dapat diselipkan di koper atau carrier bag saya. Jika dibuka, cukup untuk menampung mie gelas saya.

Mangkuk ini bukan cuma berguna saat memakan bekal. Terkadang, ada negara yang punya porsi makanan luar biasa banyaknya. Nah, daripada mubazir, saya suka membawa pulang sisa makanannya. Lumayan, bisa dimakan kalau lapar.

Tak sulit menemukan benda ini. Dua tahun lalu saya membelinya di Ace Hardware (saya lupa harganya) dan bertahan hingga kini.

Di toko outdoor seperti Consina, benda ini juga dijual. Ada 3 ukuran, yakni 250ml yang dibanderol dengan harga Rp40 ribu; 300ml yang harganya Rp70 ribu, dan 1000ml yang bisa dibeli dengan harga Rp105 ribu. Toko online seperti aliexpress pun menjualnya dengan harga bervariasi.

Mangkuk lipat
Mangkuk lipat Consina 300ml, harganya Rp70.000

Baca Juga: https://jilbabbackpacker.com/2020/05/30/rekomendasi-restoran-halal-di-rusia/

2.  Sendok Garpu 3in1

Ini juga benda yang selalu saya bawa: sendok, garpu, dan sumpit yang berada dalam satu tempat. Praktis karena bisa dibongkar pasang.

Saya membeli ini di situs tokopedia dengan harga Rp35.000/set. Namun jika ingin yang lebih murah, di toko seperti Tokyo 1 Store tersedia pula garpu, sendok, dan pisau 3 in1. Saya lupa harga persisnya, namun tak terlalu mahal, apalagi satu set terdiri dari 6 buah.

sendok travel
ini yang saya beli di tokopedia
6x-sendok-garpu-pisau-berkemah-mendaki-peralatan-Spork-Combo-Gadget-sendok-garpu-Travel
yang ini ada di Tokyo 1 Store

3.  Vacuum Bag 

Walaupun ala backpacker-an, banyak baju yang mau tak mau harus dibawa. Apalagi buat yang memakai hijab seperti saya; selain baju panjang dan celana, ada jilbab juga. Penuh. Agar lebih ringkas, saya menggunakan hand roll vacuum bag, yang saya beli di Ace Hardware seharga Rp70.000/set.

Cara memakainya juga gampang. Cukup masukkan baju, rapatkan seal-nya, lalu gulung hingga udara ke luar dari bag. Dengan vacuum bag ini, baju jadi lebih ringkas. Kalau membawa carrier bag saya yang ukurannya 35Lt, biasanya saya bawa satu vacuum bag saja. Sisanya baju saya masukkan ke kantong-kantong lain.

Kalau hasilnya mau lebih mantap, beli yang termasuk alat vacuum. Cuma jadi mesti bawa alat vacuum-nya.

hand vacuum roll

Kalau kalian, barang kecil multiguna apa yang wajib dibawa?

Pengalaman Klaim Bagasi Rusak di Asuransi Zurich

Roda koper saya patah di bagasi Uzbekistan Airways antara Tashkent-Istanbul. Menghubungi maskapai itu di Jakarta ga mungkin karena mereka tak punya perwakilan di sini. Untung saya punya asuransi tahunan Zurich, dan langsung saya klaim kerusakan itu ke mereka. Prosesnya ternyata cepet banget.


Awal tahun ini, saya beli asuransi perjalanan tahunan Zurich di Futuready. Zurich Worldwide Silver Passport namanya. Harganya sekitar 1.5 juta tapi karena diskon saya hanya bayar sekitar 1 juta aja.

Saya selalu beli asuransi perjalanan tahunan. Sebelumnya saya punya Axa Mandiri, tapi karena denger soal klaim yang susah dan ribet, saya ganti ke asuransi perjalanan Zurich aja. Dan karena dalam setahun saya beberapa kali pergi, jadi lebih murah beli yang tahunan ketimbang per pergi.


Jadi ceritanya roda koper saya patah di bagasi Uzbekistan Airways antara Tashkent-Istanbul. Karena ga ada perwakilan Uzbek Airways di Istanbul Airport, saya diminta ke otoritas bandara yang menangani bagasi (di kantor lost and found) dan akhirnya dapet surat keterangan.

Si petugas otoritas ini ga nanya macem-macem. Cuma nanya koper harga berapa, liat boarding pass dan tag bagasi, langsung ngasih surat. Plus air putih. Yang terakhir ini, dia kesian kali liat saya narik-narik koper tanpa roda.

Surat ini nantinya harus dibawa lagi ke kantor perwakilan Uzbekistan Airways di Istanbul atau Jakarta buat minta ganti rugi. Tapi karena saya ga sempet ke kantor di Istanbul dan di Jakarta mereka susah banget dihubungi, akhirnya saya klaim aja ini ke asuransi.

Yang saya sertakan di email:

1. Form klaim, dikirimin petugas ke email setelah saya telp zurich call center.
2. Foto surat keterangan yg saya dapet dari otoritas bandara. Saya jelasin kalau saya ga bisa ke Uzbek Air jadi saya cuma punya itu. Untung bisa dipakai.
3. Foto-foto roda koper saya yang rusak, dengan latar belakang conveyor belt dan tulisan Istanbul Airport. Saya sih ga tau ini diminta nggak, tapi pas di sana saya jaga-jaga aja, foto buat membuktikan kalau emang patah di bandara.
4. Foto boarding pass Tashkent-Istanbul dan juga foto semua tiket dari dan sampe Jakarta.

Sebenernya mereka minta lagi:
1. Bangkai koper yang rusak. Ini ga bisa saya kasih karena kopernya saya tinggal di Istanbul. Saya jelasin di email kalau saya pulang pakai koper sepupu yang tinggal di Istanbul, karena ga sempet beli koper baru.

2. Bukti pembelian koper yang patah, atau bukti pembelian koper baru. Saya ga ada dua2nya.

Saya kirim email sore, besok paginya udah ada email balasan yang isinya klaim yang bisa mereka bayarkan. Karena ga ada bangkai koper, klaim dipotong 10% dari harga koper, dan karena ga ada bukti pembelian, dipotong lagi 20%. Total saya dapet 70 persen dari harga klaim yang saya ajukan. Lumayan laah daripada ga dapet sama sekali.

Dua hari kemudian, duitnya udah masuk ke rekening saya dong. Cepet!

Berburu Mango Sticky Rice

Dari perut turun ke hati. Itu kata orang. Ya, gara-gara cocok di perut, saya jadi jatuh hati pada khao nieo mamuang, alias mango sticky rice.

Saya jatuh cinta pada makanan ini sejak pertama kali mencicipinya di Khaosan Road, sebuah kawasan backpacker di tengah Kota Bangkok, Thailand. Sejak saat itu, makanan inilah yang ketika ke Thailand, dan bahkan saya buru juga di Jakarta.

khaosan-bangkok-mango-sticky-rice-cart
sumber: http://www.buildmybento.wordpress.com

Mango Sticky Rice sendiri sebenarnya adalah street food alias jajanan jalanan di Thailand. Saya pun melihatnya dan mencicipinya pertama kali di gerobak kaki lima, di pinggir jalan di Khaosan Road. Karena disukai, makanan yang tergolong dessert ini pun diangkat derajatnya dan masuk ke restoran, mulai dari restoran murah hingga restoran berbintang.

Apa sebenarnya si makanan yang di Thailand dikenal dengan nama khao nieo mamuang ini? Ya, sesuai namanya, makanan ini terdiri dari mango alias mangga dan sticky rice alias ketan. Ya, ketan yang dipadukan dengan irisan mangga, lalu disiram dengan kuah santan kelapa yang kental.

Lalu di mana istimewanya? Bagi saya, rasa gurih dari ketan dan santan kelapa berpadu dengan rasa manis dari mangga itu unik. Kontras namun pas. Apalagi jika dimakan saat si ketan masih dalam keadaan panas. Dijamin bakal ketagihan!

Di Jakarta, hampir semua restoran menyediakan menu ini. Sebut saja Jitlada, Thai Alley, Thamnak Thai, atau Tom Tom, pasti punya menu ini. Saya pernah mencoba beberapa di antaranya.

Di Tom Tom, manggo sticky rice-nya porsinya nendang. Ketannya tak selembut di Jitlada atau Thai Alley, dan kuah santannya tak terlalu manis. Cocok buat yang sukanya sesuatu yang gurih.

Mango sticky rice di Tomtom. Harga Rp48.000

Sementara, mango sticky rice di Jitlada porsinya lebih kecil. Pas untuk saya. Ketannya tak terlalu banyak, begitupun dengan mangganya. Rasa pandan membuat sticky rice jadi lebih gurih, sementara santannya rasanya agak manis. Kekurangannya, harganya mahal untuk porsi segitu….buat saya ya..

Manggo sticky rice di Jitlada. Harganya Rp45.000.

Akhir-akhir ini, makanan ini booming di Jakarta. Para ibu membuatnya, agen-agen online penjual mango sticky rice pun bermunculan di instagram dan FB. Saya belum pernah coba sih, pasti akan saya coba setelah ini.

Tapi bagi saya, yang paling enak tetap yang di tempat aslinya alias di Bangkok. Mungkin karena mangganya berbeda ya? Di sini, mangga yang digunakan umumnya mangga harum manis yang benar-benar manis, matang, serta agak lembek, sementara yang saya cicipi di sana mangganya manis namun tidak lembek dan terlalu matang seperti di sini.

Jadi pengen ke Bangkok lagi…

4 Situs Penting untuk Travelling

Belasan tahun lalu, ketika saya memulai kegemaran saya travelling, teknologi dan informasi soal travelling belum sederas dan secanggih sekarang ini. Untuk mendapatkan informasi soal Bangkok saja misalnya, saya harus bertanya pada kawan-kawan saya yang sudah ke sana, kasak kusuk di mailist backpacker, dan meminjam peta dari sana sini. Yang paling canggih, membeli buku Lonely Planet yang minta ampun mahalnya.

Sekarang ini, blog-blog soal travelling bertebaran. Pun dengan situs-situs yang membuat travelling makin mudah. Berberapa situs ini bahkan menjadi andalan saya ketika berplesiran, baik ketika membooking pesawat dan penginapan ataupun mencari informasi lainnya. Apa saja itu?

Skyscanner

sky.jpg

Skysscanner.co.id ini adalah situs andalan saya untuk mencari harga pesawat. Situs ini menampilkan harga pesawat dari berbagai agen travel online, termasuk harga di situs resmi maskapainya, sehingga saya dapat memilih mana yang termurah. Sebenarnya, ada beberapa situs sejenis ini seperti ini, namun saya lebih suka menggunakan skyscanner.net untuk mencari tiket pesawat murah karena lebih mudah penggunaannya.

Ada pilihan multicity juga yang memungkinkan saya mencari penerbangan pergi dan pulang dari kota yang berbeda. Kalau belum tahu mau ke mana dan ingin cari penerbangan yang termurah, di kolom tujuan tinggal ketik “everywhere” dan situs ini akan menampilkan harga ke kota-kota di dunia. Tinggal pilih deh mau ke mana yang sesuai bujet. Misalnya ya, saya dari Jakarta niat banget mau jalan-jalan tapi nggak tau mau ke mana, tinggal masukin everywhere di destinasi, masukin tanggal, akan keluar deretan destinasi dengan harganya. Tinggal sesuaikan dengan bujet saya.

sky.jpg

Enaknya skyscanner ini, ada tampilan berupa map (asal bukanya di pc yaa). Saya suka liat yang bentuk map ini karena buat saya lebih gampang mencarinya.

sky.jpg

Rome 2 Rio

frontpage

Rome2 Rio (http://www.rome2rio.com/) adalah situs yang sering saya pakai untuk mencari dan membandingkan harga beberapa moda transportasi seperti pesawat, bus, dan kereta. Saya menggunakannya kemarin ketika bertandang ke Eropa. Begitu memasukkan titik awal dan titik destinasi, akan keluar beberapa pilihan moda transportasi yang bisa dipakai berserta harga. Enaknya, situs ini menampilkan peta yang juga disertai dengan jarak tempuh sehingga saya dapat membayangkan sejauh apa nanti perjalanan saya.

Saya sempat mencoba situs ini untuk mencari rute angkutan di Bali. Situs ini ternyata bisa juga digunakan, tetapi moda angkutan yang diberikan tak selengkap di Eropa.

Situs lain yang sejenis ini adalah GoEuro (www.goeuro.com).

Booking.com

boking copy

Situs booking.com (http://www.booking.com/) sekarang jadi andalan saya juga, terutama kalau butuh penginapan untuk mengajukan visa. Di situs ini, rata-rata penginapannya bisa di-cancel sampai batas waktu tertentu, tanpa terkena biaya pinalti. Nah, kalau sedang membuat visa, saya booking asal saja, lalu setelah visa di-approve, langsung saya cancel dan mencari penginapan yang benar-benar akan saya inapi. Harga yang tercantum di sini sudah termasuk harga pajak, jadi tak perlu pusing-pusing lagi menghitung harga totalnya.

Beberapa situs serupa adalah agoda.com, hostelworld.com, hostelbookers.com. Ada pula situs pembanding harga semacam trivago, namun beberapa kali saya gunakan selalu error.

Selain booking.com ini, saya kerap menggunakan situs Airbnb (https://www.airbnb.com/) untuk memesan hotel. Situs ini adalah situs yang berisi daftar rumah atau apartemen yang bisa disewa. Berbeda dengan situs penginapan lainnya, di sini kebanyakan yang disewakan adalah rumah atau apartemen milik pribadi sehingga harganya jauuh lebih murah ketimbang menginap di hotel. Ada pilihan untuk menyewa satu ruangan saja atau seluruh rumah. Jika Anda memilih menyewa satu ruangan itu artinya Anda harus berbagi dengan penginap lain atau malah si pemilik rumah/apartemen.

Saya menggunakan airbnb ketika berpergian ke Guangzhou dan beberapa negara Eropa kemarin. Dengan menyewa apartemen atau rumah, saya bisa memasak dan mencuci, yang seringkali tidak bisa dilakukan di penginapan biasa. Selain itu, saya bisa merasakan bagaimana tinggal di lingkungan perumahan sesungguhnya. Seru!

SEAT61.COM

seat61

Ini adalah situs favorit saya saat mencari informasi soal kereta di berbagai negara. Situs ini cukup lengkap dan detail memberikan informasi, mulai dari kondisi kereta, cara memesan, rute dan harga, dan sebagainya. Situs ini juga merekomendasikan beberapa agen pemesan resmi yang terpercaya.

Saya menggunakannya berkali-kali saat akan membooking kereta di berbagai negara, termasuk kereta di India yang sistem booking-nya cukup membingungkan (baca: Ribetnya Membeli Kereta India). Sangat membantu!

Kalau kalian, situs apa yang penting buat travelling?

Blue Mosque

P1090647

Masjid Biru atau juga dikenal dengan nama Masjid Sultan Ahmet terletak persis di depan Hagia Sofia. Nggak perlu naik bus, apalagi naek angkot. Cukup nyebrang jalan aja. Masjid ini dibangun oleh Sultan Ahmed 1, dan jadi masjid pertama yang bener-bener dibangun di dataran Istanbul. Hagia Sofia juga masjid sih, tapi aslinya kan gereja.

Saya pikir, karena namanya adalah Blue Bosque, saya akan menemukan masjid berwarna biru, seperti halnya blue mosque di Iran. Tapi, sejauh mata memandang, nggak ada warna birunya sama sekali.

Dari luar, bangunan ini mirip-mirip dengan Hagia Sofia dan masjid lainnya di Istanbul. Tapi yang ini, punya lebih banyak kubah dan minaret; ada 6 kalo ga salah itung. Dari luar, masjid ini nggak biru sama sekali. Warnanya malah abu-abu terang, dan dihiasi dengan sejumlah mozaik khas Turki.

Begitu masuk ke dalam, yang pertama akan ditemui adalah sebuah courtyard besar. Di kanan-kiri lapangan itu terdapat arcade (selasar) yang berfungsi sebagai tempat jalan. Kata Budi Sukada, dosen sejarah arsitektur saya dulu, courtyard ini adalah ciri khas masjid-masjid zaman kerjaaan Ottoman. Tujuannya, agar orang tidak langsung masuk ke pintu, melainkan melipir ke kanan kiri masjid.

Haha..masuk ke sini saya jadi serasa belajar sejarah arsitektur, mengingat kembali apa yang pernah diajarin bapak satu itu tentang kebudayaan Islam.

Masuk ke area dalam masjid, saya langsung terpesona. Baguus banget nih masjid. Bagian dalamnya luaas banget. Dindingnya seluruhnya terlapisi oleh ubin-ubin bermotif, yang konon dibikin dengan tangan alias handmade. Kabarnya lagi, karena ini bikinan tangan, warna ubin ini bisa berubah tergantung arah matahari yang menyinarinya. Saking terpesonanya saya ama masjid ini, saya malah lupa buat foto-foto di dalamnya.

Oya, buat non-Islam, jangan datang pas waktu sholat. Pasalnya, pada waktu-waktu itu masjid digunakan untuk sholat sehingga tertutup untuk kunjungan turis.