Situs Penting untuk Booking Hotel dan Pesawat

Sekarang ini, di zaman serba maju ini, dan pesawat tak perlu lagi menelpon, atau mencari tahu situs hotel atau airline yang bersangkutan.

Beberapa situs ini membantu saya membooking dan menemukan hotel, pesawat, dan transportasi lain saat saya travelling.

Situs Penting untuk Booking Hotel dan Pesawat
Sumber: canva

Dulu, kalau ingin naik pesawat, kita mesti datang ke agen, lalu diberi tiket yang terdiri dari dua lembar, warna putih dan warna merah.

Sekarang ini, di zaman serba maju ini, booking hotel dan pesawat tak perlu lagi menelpon, atau mencari tahu situs hotel atau airline yang bersangkutan.

Beberapa situs ini membantu saya membooking hotel, pesawat, kereta, dan transportasi lain saat saya travelling.

Baca Juga: Perbedaan Travelling Dulu dan Sekarang

Sykscanner.Net

Situs Penting untuk Booking Hotel dan Pesawat
Tampilan skysacnner

Skysscanner.net ini adalah situs andalan saya untuk mencari harga pesawat. Situs ini menampilkan harga pesawat dari berbagai agen travel online, termasuk harga di situs resmi maskapainya, sehingga saya dapat memilih mana yang termurah.

Sebenarnya, ada beberapa situs sejenis ini seperti ini, namun saya lebih suka menggunakan skyscanner.net untuk mencari pesawat karena lebih mudah penggunaannya.

Ada pilihan multicity juga yang memungkinkan saya mencari penerbangan pergi dan pulang dari kota yang berbeda. Kalau belum tahu mau ke mana dan ingin cari penerbangan yang termurah, di kolom tujuan tinggal ketik “everywhere” dan situs ini akan menampilkan harga ke kota-kota di dunia. Tinggal pilih deh mau ke mana yang sesuai bujet.

Misalnya ya, saya dari Jakarta niat banget mau jalan-jalan tapi nggak tau mau ke mana, tinggal masukin everywhere di destinasi, masukin tanggal, akan keluar deretan destinasi dengan harganya. Tinggal sesuaikan dengan bujet saya.

Situs Penting untuk Booking Hotel dan Pesawat
Fitur everywhere

Enaknya skyscanner ini, ada tampilan berupa map (asal bukanya di pc yaa). Saya suka liat yang bentuk map ini karena buat saya lebih gampang mencarinya.

Situs Penting untuk Booking Hotel dan Pesawat
Peta skyscanner

Rome to Rio

Situs Penting untuk Booking Hotel dan Pesawat
Tampilan di PC

Rome2Rio adalah situs favorit saya untuk mencari dan membandingkan harga beberapa moda transportasi seperti pesawat, bus, dan kereta.

Saya menggunakannya kemarin ketika bertandang ke Eropa. Begitu memasukkan titik awal dan titik destinasi, akan keluar beberapa pilihan moda transportasi yang bisa dipakai berserta harga. Enaknya, situs ini menampilkan peta yang juga disertai dengan jarak tempuh sehingga saya dapat membayangkan sejauh apa nanti perjalanan saya.

Saya sempat mencoba situs ini untuk mencari rute angkutan di Bali. Situs ini ternyata bisa juga digunakan, tetapi moda angkutan yang diberikan tak selengkap di Eropa. Situs lain yang sejenis ini adalah GoEuro (www.goeuro.com).

Baca Juga: Barang Multiguna Buat Travelling

Airbnb

Airbnb adalah situs yang berisi daftar rumah atau apartemen yang bisa disewa. Berbeda dengan situs penginapan lainnya, di sini kebanyakan yang disewakan adalah rumah atau apartemen milik pribadi sehingga harganya jauuh lebih murah ketimbang menginap di hotel.

Ada pilihan untuk menyewa satu ruangan saja atau seluruh rumah. Jika Anda memilih menyewa satu ruangan itu artinya Anda harus berbagi dengan penginap lain atau malah si pemilik rumah/apartemen.

Dengan menyewa apartemen atau rumah, saya bisa memasak dan mencuci, yang seringkali tidak bisa dilakukan di penginapan biasa. Selain itu, saya bisa merasakan bagaimana tinggal di lingkungan perumahan sesungguhnya. Seru!

Situs Penting untuk Booking Hotel dan Pesawat
apartemen sewaan saya di Paris

Mau pesan juga lewat airbnb? Klik www.airbnb.com/c/rahmayuliantia?s=8 . Kalau pakai link ini bisa dapat voucher $25, lho!

Booking.com

Situs Penting untuk Booking Hotel dan Pesawat
Tampilan booking.com di PC

Situs booking.com (http://www.booking.com/) sekarang jadi andalan saya juga, terutama kalau butuh penginapan untuk mengajukan visa.

Di situs ini, rata-rata penginapannya bisa di-cancel sampai batas waktu tertentu, tanpa terkena biaya pinalti. Nah, kalau sedang membuat visa, saya booking asal saja, lalu setelah visa di-approve, langsung saya cancel dan mencari penginapan yang benar-benar akan saya inapi.

Harga yang tercantum di sini sudah termasuk harga pajak, jadi tak perlu pusing-pusing lagi menghitung harga totalnya.

Beberapa situs serupa adalah agoda.com, hostelworld.com, hostelbookers.com. Atau situs lokal seperti tiket.com, traveloka.

SEAT61.COM

seat 61, Situs Penting untuk Booking Hotel dan Pesawat
Tampilan seta61 di PC

Ini adalah situs favorit saya saat mencari informasi soal kereta di berbagai negara. Situs ini cukup lengkap dan detail memberikan informasi, mulai dari kondisi kereta, cara memesan, rute dan harga, dan sebagainya. Situs ini juga merekomendasikan beberapa agen pemesan resmi yang terpercaya.

Saya menggunakannya berkali-kali saat akan membooking kereta di berbagai negara, termasuk kereta di India yang sistem booking-nya cukup membingungkan (baca: Ribetnya Membeli Kereta India). Sangat membantu!

Kalau kalian, situs apa yang penting buat travelling?

Tulisan ini telah ditayangkan di situs Infokomputer.grid.id

The Kayana Seminyak, Privasi ala Bali

Privat. Itu yang saya tangkap begitu kaki saya menginjak The Kayana Resort ini. Dimulai dari lobi hingga kamar, yang terlihat adalah ketenangan dan suasana khas Bali.

Dari bandara, saya langsung menuju daerah Petitenget, daerah yang sedang naik daun karena banyaknya hotel, cafe, dan restoran menarik yang ada di sini. Yang saya tuju adalah The Kayana, sebuah resor yang berada di bawah naungan hotel Santika Group.

Saya sampai di lobi. Aroma sandalwood langsung terasa di sana, membuat saya langsung rileks dan tenang. Tak sabar rasanya masuk ke dalamnya.

Tak perlu menunggu lama, saya dan kawan pun diantar menuju kamar dengan mobil golf. Mobil golf? Yup, karena areanya luas, ada mobil golf yang siap antarjemput ke kamar. Menuju kamar, yang saya lewati adalah jalan setapak dengan pohon-pohon kamboja di sekelilingnya. Tak ada bangunan-bangunan di kanan-kiri jalan, seperti halnya yang biasa ada di resor-resor yang saya tinggali. Ternyata, di balik pepohonan rindang itu ada dinding-dinding, dan di balik dinding itu ada villa-villa. Salah satunya Pool Villa, kamar yang akan saya tempati.

97609_14021813250018373596.jpg
Lobi hotel. Foto by The Kayana

20150102_125232
Jalan dari lobi menuju villa. Balinya berasa ya?

Saya penasaran seperti apa villa yang ada di balik dinding itu. Dan begitu pintu jineng kayu ala Bali dibuka, yang tampak adalah sebuah gazebo kayu di kanan, di sebelah kirinya ada kamar besar yang seluruh dindingnya dari kaca. Di antara kamar dan gazebo itu ada kolam renang kecil! Yes, ada kolam renangnya, walaupun ukurannnya mini dan hanya cukup untuk berendam saja.

Kata petugas yang mengantar saya, ada 3 macam unit villa di sini. Yang pertama adalah yang saya tempati, pool villa yang punya kolam renang di dalamnya. Lalu ada two bedroom villa dengan kolam renang juga tentunya (dan ukurannya lebih besar). Dan ada lagi deluxe villa yang tak punya kolam renang. Katanya lagi, konsep Kayana ini adalah private villa, makanya setiap villa dibuat “berlindung” di balik dinding. Betul kan yang saya pikirkan di awal?

one-bedroom-deluxe-villa-plunge-pool
Pengen langsung nyebur!

Bagaimana dengan kamarnya?

Villa saya terdiri atas satu kamar yang dindingnya dipenuhi jendela. Jadi dari kamar, saya bisa melihat ke luar dan begitu juga sebaliknya. Tenang, pemandangannya hanya sebatas di dalam villa karena seperti yang tadi saya ungkapkan, tiap villa dikelilingi tembok tinggi sehingga tak akan terlihat dari luar.

Di tengah kamar terdapat ranjang double yang cukup besar. Ukuran bule sepertinya. Yang menarik, ranjang ini dilengkapi kelambu yang membuat tempat ini jadi terlihat romantis. Emang bener kata Si Bli, sebenernya villa ini lebih cocok buat pasangan yang lagi honeymoon, bukan yang jomblo seperti saya. *eh, curcol. Memang sih, selama saya di sana, saya lebih sering bertemu dengan pasangan-pasangan muda yang sedang honeymoon.

97609_14030110520018515392
kamarnya saya

The-Kayana_1270657664.jpg
Sisi lain kamar saya

Malamnya, saya dan kawan saya bertemu sang manajer, yang mentraktir kami makan malam di restoran yang ada di dalam kawasan Kayana. Restoran ternyata juga sangat menarik, di depannya ada kolam renang besar yang bisa dipakai tamu jika tak puas berendam di kolam renang villa masing-masing.

pool
photo: the kayana.com

Buat yang pingin resor yang tenang, romantis, dan privat, The Kayana sangat cocok. Apalagi buat liburan bareng pasangan. Rasanya pas sekali. Bagi saya, kekurangannya cuma satu, resor ini tak punya akses langsung ke pantai.

Sayang, saya hanya satu malam di sini. Padahal ingin berlama-lama dan mencoba spa  yang tampaknya nikmat sekali. Nanti kapan-kapan saya balik deh, buat honeymoon karena tempat ini bener-bener tenang, private, dan Bali banget. Aaamiin…

The Kayana

Jalan Raya Petitenget, Kerobokan Kelod, 
Kuta Utara
Bali, Indonesia
Tel: +62 361 847 6628 ; Fax: +62 361 847 6633

Svarga Resor Lombok: Oase di Pantai Senggigi

Babilonia Garden. Itu yang terlintas di pikiran saya ketika melihat foto Svarga Resort Senggigi, sebuah resor di Lombok yang diarsiteki oleh Prof. Yandi Andri Yatmo, dosen saya di UI.

Tak seperti resor biasa yang pernah saya inapi sebelumnya yang permukaannya datar-datar saja, resor ini dibuat bertingkat dan berundak-undak. Split level, begitu bahasa kerennya dalam dunia arsitektur.

Setelah dua tahun hanya melihat foto tersebut, baru kemarin ada kesempatan mampir lagi ke Lombok. Ada penugasan. Tanpa pikir panjang, saya meminta tiket penugasan saya diperpanjang dan membulatkan tekad untuk bermalam di resor impian saya. Resor yang namanya diambil dari bahasa Sansekerta, yang artinya surga”.


“Assalamulaikum, mbak Rahma,” manager on duty yang bertugas hari itu menyapa saya dengan ramah. Seumur-umur, baru kali ini saya disapa dengan begitu di sebuah resor di Lombok. Nama saya disebut. Dan ini bukan hanya dilakukan oleh sang manager, namun semua staff di sini selalu mengucapkan salam sekaligus menyebut nama saya. Bahkan staff di kantin pun melakukan hal yang sama. Saya pikir, karena saya kenal pemilik dan arsiteknya lah saya jadi disapa dengan ramah. Namun setelah saya amati, sepertinya SOP di resor ini mengharuskan staff, terutama yang berkaitan langsung dengan pengunjung, menghapalkan nama mereka. Entah bagaimana caranya.

Setelah urusan check-in selesai, sang manager dan salah satu staff yang saat itu sedang bertugas mengantar saya ke kamar saya: Varda Deluxe Suite. Kamar ini katanya adalah salah satu kamar dengan view terbaik di sini. Tak sabar rasanya membuktikan janji si bapak, sambil berharap semoga bukan cuma promosi semata…

DSCF9650
Ini yang temui begitu keluar lobi dan bergerak menuju kamar saya di atas.

DSCF9633

Sambil berjalan di antara tangga-tangga yang instagramable (desainnya apik!), menuju ke kamar saya yang letaknya di atas, saya iseng bertanya kepada pak manager, “Kalau mau lihat sunset, tempat deket sini mana ya?”

Sambil tersenyum ramah, si manajer menjawab, “Dari kamar mbak juga bisa.

Saya penasaran. Begitu pintu kamar dibuka, saya langsung tahu kenapa si manager mengatakan hal itu. Tepat di belakang pintu itu ada sebuah ruang tamu dengan jendela besar di seluruh sisinya. Jendelanya frameless alias tanpa kusen, membuat yang duduk di sana bisa bebas melihat view di sekelilingnya. Jika melongok ke kanan, akan terlihat bukit hijau dengan hamparan pohon palem. Kalau melihat ke kiri, pemandangannya laut!

Bukan hanya di ruang tamu, kamar Varda Deluxe Suite yang saya inapi ini punya dek terbuka. Dari situ saya juga bisa melihat hal yang sama dengan di ruang tamu: bukit di sebelah kanan, dan laut di sebelah kiri. Asyiiik…

DSCF9368
Dek terbuka. Saya doyannya duduk di sini pas pagi atau sore hari. Biar ga item…:D

Bukannya berisitrahat, saya malah asyik memfoto setiap jengkal kamar saya. Mulai dari ruang tamu tadi, yang ada dapurnya. Lalu kolam pendek berbatu, tempat saya sering merendam kaki saya sambil minum teh (semoga beneran boleh ngerendam kaki di sini ya). Lalu kamar tidur yang punya privat, tapi tetap punya view ke arah kolam. Atau kamar mandi, yang punya pintu langsung ke luar.

Semuanya saya suka!

DSCF9322
Pemandangan dari arah dapur dan ruang tamu ke arah kolam, bathub dan kamar (di sebelah kiri).

DSCF9361
Foto ini saya ambil dari dek favorit saya.

DSCF9341
Kamarku…abaikan laptopnya (bukan iklan, apalagi endorse :D)


Tak sabar rasanya menunggu sunset tiba. Namun, ketika sang matahari benar-benar akan menghilang dari pandangan, saya malah bingung. Bingung menentukan di mana enaknya saya melihat sunset: dari sofa ruang tamukah, atau duduk santai di dek ujungkah, atau sambil menyesap teh dan duduk-duduk di kolam? Untungnya sunset di Lombok sana berlangsung cukup lama, sehingga saya ada waktu untuk pindah-pindah tempat (dan berfoto tentunya) semau saya. Semuanya tempat sama asyiknya ternyata.

DSCF9400

DSCF9412
Enaknya, jendela ruang tamu bisa dibuka-tutup.

DSCF9397

Bagaimana kalau kamarnya ada di bawah? Tenang. Di lantai paling atas ada dek yang dibuka untuk umum. Tetap bisa lihat view dan vista seperti yang saya lihat dari kamar saya ini.

View Terbuka, Privasi Tetap Terjaga

Yang juga patut saya acungi jempol atas desain dosen saya ini adalah terjaganya privasi tiap kamar, tanpa harus menghalangi pemandangan ke luar. Saya tak bisa melihat ke kamar di atas saya, pun sebaliknya.

Awalnya saya ragu, ketika ingin berendam gaya-gayaan di bak mandi terbuka di dekat dek. Kalau keintip, menang banyak dong mereka. Tapi nyatanya, di atas bathub ini ada atap, sehingga saya bisa berendam dengan bebasnya, merilekskan badan saya yang kaku, sambil memandang taburan bintang di atas langit Lombok yang indah.

DSCF9589

Breakfast yang Enak

Satu hal lagi yang saya sukai dari tempat ini adalah breakfast alias makan paginya yang enak. Makan paginya bukan berupa buffet yang bebas diambil semau dan semuanya, melainkan berdasarkan menu. Ada menu western, Indonesia, mediteran, dan beberapa menu lain yang saya lupa detailnya.

Karena saya dapat jatah dua orang, saya tak mau rugi. Saya pesan dua menu: lontong sayur dari menu indonesia, dan tortila dari menu mediteran. Saya skeptis dan tak berharap banyak pada awalnya, tapi ternyata penampilannya sangat menggoda. Diiringi tatapan dari meja sebelah yang menyiratkan “itu mbak-mbak makanannya dua porsi lho”, saya makan dengan lahapnya. Rasanya ternyata enak! Menyesal saya minta porsi saya dikurangi.

Restoran Salza Resto ini ada di pinggir infinity pool alias kolam renang yang terasa tanpa pinggir. View-nya ke arah laut. Jadi, untuk penghuni kamar-kamar yang tak punya kolam renang sendiri, masih tetap dapat menikmati asyiknya bermain air di kolam renang ini. Ataupun menikmati sunset dari kursi-kursi yang ada di sana.

DSCF9580.JPG
Infinity pool di depan restoran.


Malamnya, setelah balik dari Senggigi, saya iseng keluyuran dan memotret lagi resor ini. Tetap apik ternyata di malam hari, malah padaran lampu menambah indah tempat ini. Kalau dulu dosen lighting saya bilangnya sih, “Lighting makes architecture come alive in night”.

DSCF9484.JPG

Merilekskan Tubuh di Hagia Spa

Selain memanjakan mata dengan pemandangan, saya juga memanjakan badan dengan spa di sini. Di svarga ini ada spa yang namanya Hagia Spa, letaknya tak jauh dari kolam renang.

Sayangnya saya hanya punya 30 menit waktu, karena harus bergegas pulang ke Jakarta. Saya memilih jenis spa yang paling cepat, yakni wraping. Jadi, badan saya dibalur dengan cream rempah, lalu dibalut dengan plastik wrap. Kata mbaknya, tujuannya agar kandungan si cream cepat meresap dan juga agar badan saya (yang saat itu mulai terasa tak enak) jadi merasa hangat. Terus terang, saya tak terlalu merasakan hangat di tubuh, namun yang pasti saya merasa jauh lebih rileks setelahnya.


Dua hari di Svarga Resor rasanya kurang. Tak rela rasanya harus membawa keluar koper saya dari pintu kayu, menuruni tangga, menuju lift, dan berpamitan pada staff di sana. Ah, saya pasti akan balik ke sana.

PS: Harga kamar yang saya tempati sekitar 1,2 jutaan, di traveloka. Tak terlalu mahal saya rasa untuk kamar dengan view begini, di lokasi ini. Atau bisa dicoba di situs Svarga Resort karena sering ada promo. Lumayan kan?

Btw, buat yang bawa orang tua, sebaiknya jangan pesan kamar di paling atas. Akses lift hanya sampai lantai dua (atau tiga ya itu), selebihnya mesti pakai tangga. Walaupun tangganya dirancang landai dan pemandangannya menyenangkan, kalau buat orang tua, rasanya tetap tak cocok.

Svarga Resort Lombok

Jalan Raya Senggigi, Kerandangan, Desa Senggigi Kec. Batulayar
West Lombok – West Nusa Tenggara 83355 Indonesia
Phone (+62) 370 6195999 (Hunting) Fax +62 6195888

http://www.svargaresort.com/en/

 

Itenerary ke Eropa (Belanda, Belgia, Perancis, Swiss, Italia)

dscf5993

Sebenarnya, bagi saya, membuat itenerary adalah hal yang menyenangkan. Sambil membuat itenerary saya sudah bisa membayangkan seperti apa rasanya ada di sana. So much fun! Apalagi kali ini, saya berpergian ke Eropa bersama ibu saya yang usianya sudah di atas 60 tahun. Tak bisa seenak biasanya. Itenerary Eropa mesti saya buat dengan cermat.

Ternyata, membuat itenerary ke Eropa memang susah-susah gampang. Selain karena waktunya cukup lama, saya harus berpindah 5 negara dan beberapa kota. Tiap hal harus dipikirkan di dalam itenerary Eropa saya.

Nah, berikut ini itenerary yang saya buat ketika berkunjung ke Eropa Barat dua tahun silam. Ini itenerary awal banget, dan ternyata itenenerary Eropa ini berubah sesuai kondisi di lapangan, namun bisa dijadikan pegangan awal ketika berpergian ke Eropa.

Feel free to copy..

Day 1

Day 2

  • Menikmati kincir angin di Zaanse Schans . Dapat ditempuh dengan  menggunakan bus 391 dari Amsterdam Central. Baca Menikmati Kincir Angin di Zaanse Schans
  • Volendam + Marken. Naik Bus 110, 118, 112, 373 dari Amsterdam Central. Ke Marken: naik bus 610 dari Volendam.

Day 3

  • Madurodam. Naik kereta dari Amsterdam Central lalu naik bus .
  • Red district
  • Beli oleh-oleh di Bloemenmart dan chinatown.

Day 4

  • Ke Brussel dengan Flixbus.
  • Menginap di Meininger Brussel City Center.
  • Brussel sightseeing (manekin piss, atonium, grandpalace, dsb). Jalan kaki dari hotel.
  • Makan wafel dan cokelat. Its a must. Di sebelah manekin piss ada toko wafel 1 euro yang terkenal banget.

Day 5

  • Menuju Paris dengan Megabus. Saya awalnya akan menuju Paris di hari 4 tanpa menginap di Brussel (sampai Paris malam hari). Namun atas saran dari beberapa rekan tentang kondisi keamanan di Paris, saya menundanya hingga pagi hari.
  • Paris sightseeing part 1 (Louvre Museum). Masuk dari Carousel du Louvre aja, jangan dari Pyramid agar antrian tidak terlalu panjang. Sebaiknya datang pagi agar tidak penuh.
  • Menginap di apartemen Karim and Seloa airbnb.

Day 6

  • Paris sightseeing by tour bous. Saya menggunakan bus tur karena mempertimbangkan kondisi ibu saya. beli dua hari sekaligus agar lebih hemat. Ada dua perusahaan bus tur, yang lebih murah adalah “Paris Sightseeing“. Tiket tour bus bisa dibeli di dalam bus.
  • Bus tour part 1: Siene river cruise, eiffel, arch de triump, camp de ellyses, Notre Dame.

Day 7

  • Bus tour day 2:  Moulin Rouge, dan sisi lain yang belum saya liat.
  • Menuju Lucerne dengan TGV train.
  • Menginap di Wolhusen, pesan via airbnb.

Day 8

  • Menuju Mt Titlis. Train ke Engelberg. Duduklah di sebelah kanan karena pemandangan kanan lebih menarik.
  • Keliling Lucerne dan naik perahu. Gratis karena sudah termasuk ke dalam swiss pass. Swiss pass ini dapt dibeli di tourist pass di stasiun atau kalau masih lama perginya bisa beli online di https://www.swiss-pass.ch/swiss-pass/. Harganya lumayan mahal (tahun 2015 sekitar 200CHF).
  • Sebenarnya ada jenis travel pass yang lain, yakni Tageskarte, tapi ini hanya bisa dibeli oleh orang yang tinggal di Swiss dan jumlahnya terbatas banget. Jadi kalau punya temen di sana, bisa nitip beliin.
  • Update: sekarang ini sudah ada 1-day travelpass. Dulu belum ada sehingga saya mesti beli 3 day pass. 

Day 9

  • Menuju Zurich (ini tidak jadi dilakukan lalu diganti dengan keliling naik kereta Panorama keliling-keliling)
  • Menuju Milan dengan bus.
  • Menginap di Il Girimondo, letaknya persisdi depan Milan Station.

Day 10

  • Menuju Venice dengan bus. Koper dititip di loker di stasiun Milan.
  • Keliling Venice dengan taksi perahu
  • Menginap di Al Vivit. Saran saya, menginaplah di daerah Mastre yang dekat dengan stasiun.

Day 11

  • Kembali ke Milan dengan bus
  • Terbang ke Amsterdam dengan easyjet.
  • Kembali ke Jakarta via KL

Penjelasan tentang penginapan dan bus saya tulis di sini ya: https://jilbabbackpacker.com/2016/06/07/backpacker-murah-ke-eropa/

(Review) Grand Whiz Kelapa Gading, Serasa di Rumah Sendiri!

grand_whiz_hotel_kelapa_gading-134

Hotel-hotel berlomba-lomba membuat desain yang nyaman untuk keluarga. Ada yang membuat family room, ada yang membuat taman bermain untuk sang anak-anak. Hotel Whiz Kelapa Gading ini sedikit berbeda. Selain fasilitas untuk keluarga, ia juga punya ruangan yang punya dua kamar, plus ruang makan, dan ruang tamu. Serasa di rumah sendiri!

Sewaktu kawan saya dari luar kota bertanya hotel apa yang pas untuk keluarganya, saya sebenarnya bingung. Saya belum punya keluarga (baca: jomblo), jadi pasti memilih hotel yang nyaman buat diri saya sendiri saja. Pernah sih dua kali saya mengajak keponakan saya menginap di salah satu hotel di Jakarta karena ada tugas liputan di sana, namun buat ponakan saya satu itu, yang penting hotelnya punya kolam renang. Sesederhana itu. Bagi dia, nyaman itu sama dengan kolam renang.

Tapi bagi teman saya ini, yang punya 3 anak, hotel yang dia minta carikan adalah hotel yang bisa menampung semua keluarganya dalam satu kamar. Ya, satu kamar besar. Pasalnya, anak-anaknya masih kecil dan tak mau terpisah dari orang tuanya tapi kalau dalam satu kamar beramai-ramai dengan ekstra bed, rasanya tak akan muat. Tapi dia juga tak mau tinggal di hotel yang tak strategis lokasinya.

Alhasil, saya jadi ikutan search sana-sini, dan kemudian di Traveloka menemukan nama Hotel Grand Whiz Kelapa Gading. Hotel ini ada di belakang Mall of Indonesia (MOI). Cuma 5 menit berjalan kaki.

Buat teman saya, hotel ini pas karena selain kamar standar, hotel ini punya suite untuk keluarga. Ada kamar Junior Suite yang bisa diisi 4 orang. Bukan pakai ekstra bed, tapi memang ada 2 kamar di sini. Suite ini juga ini punya ruang makan, dapur, dan ruang tamu. Mirip rumah kecil atau apartemen, ya?

Lalu ada Executive Suite yang juga bisa diisi 4 orang. Bedanya dengan Junior Suite, Executive Suite ini ukurannnya lebih besar. Kamarnya total ukurannya 85m2. Lebih besar dari apartemen subsidi di Jakarta yang paling banter ukurannya cuma 30-35m2…hehehe..

grand_whiz_hotel_kelapa_gading-134
Ini penampakan Executive Suite. Sumber: www.traveloka.com

Tapi yang paling saya suka adalah Family Suite. Suite ini bisa memuat 6 orang. Jadi, di suite ini ada 3 kamar, plus kamar mandi tentunya, ruang makan, dapur dan ruang tamu. Pas buat keluarga besar.

Desain kamar-kamarnya juga bagus, walaupun tak terlalu outstanding. Hangat, nyaman, dan bikin rileks. Sang desainer menggunakan warna-warna kalem menenangkan seperti hijau dan cokelat kayu untuk mewarnai kamar dan suite di sana. Tak keliatan warna-warna mencolok mata. Aman dan nyaman.

153783_2
Kamar Deluxe-nya keliatan adem ya. Sumber: www.traveloka.com

—–

Fasilitas yang ada di hotel ini juga oke buat keluarga. Selain kolam renang yang cukup besar, ada children playground. Buat ibu-ibunya, ada spa dan sauna. Enak kali ya, anak-anaknya berenang, si ibu pijat di spa. Atau, si anak bisa dititipkan ke penitipan anak yang ada di sana (hihihi..)

Soal letak, menurut saya hotel ini cukup strategis. Apalagi untuk keluarga atau orang-orang yang doyan belanja. Di belakang hotel ini ada Mall of Indonesia alias MOI. Atau bisa juga ke Lotter Mart yang ada persis di sebelahnya.Kalau mau yang lebih besar, bisa mampir ke ITC Cempaka Mas yang kira-kira 30 menit bisa dicapai dari sini dengan menggunakan mobil (atau gojek).

Buat yang suka kulineran, di sekitar Sunter dan Kelapa Gading adalah gudangnya. Saya tak hapal persis tempat-tempat makan di sana, tapi jumlahnya memang banyak dan enak-enak. Coba cek di situs-situs makanan, pasti Anda akan bingung menentukan mana yang harus Anda sambangi saking banyaknya. Atau bisa juga ke La Piazza di dekat Mal Kelapa Gading. Kalau beruntung, di sana sering ada festival makanan yang oke punya.

Oiya, Grand Whiz Kelapa Gading ini juga tak jauh letaknya dari Taman Impian Jaya Ancol. Pas lah buat jalan-jalan keluarga…

Hotel ini bisa dipesan di beberapa situs booking hotel. Salah satunya di www.traveloka.com  Selamat berlibur bersama keluarga!

(Review) Berry Glee Hotel Kuta, Bagaikan Menginap di “Buku” Dongeng

jalan-jalan 2

Pernah membaca buku “100 Cerita Dongeng Disney Pengantar Tidur”? Di buku favorit keponakan saya itu ada bermacam-macam cerita dengan berbagai karakter. Di hotel ini, saya merasa seperti berada di buku dongeng itu.

Saat memilih penginapan di Bali setelah tugas liputan saya kelar, saya bingung. Penginapan baru bertebaran, harganya pun bermacam-macam. Akhirnya saya memilih Berry Glee Hotel. Alasannya sederhana banget, saya tertarik dengan iklan mereka di Facebook. Di iklan itu ada gambar kamar berwarna pink dengan tenda kecil di sana.

Begitu sampai, saya langsung jatuh cinta dengan hotel ini karena interiornya yang sangat playful. Dari luar saja, sudah terlihat percikan warna-warna di sana. Lobi yang terbuka langsung menyambut saya. Ada kursi-kursi berdesain modern , yang membuat saya bertekad harus duduk-duduk berlama-lama di sana.

Sambil menunggu proses check in, saya mengintip ke dalam. Wow, ada kolam renang besar di sana. Di kirinya ada restoran, dengan desain yang tak kalah playfull-nya. Sayangnya, sampai pulang, saya tak mencoba kolam renang ini. Terlalu terbuka bagi saya, karena kelihatan dari lobi dan ruang makan.

P_20160130_071142_LL
kolam renangnya yang cihuy.

2d3de02c84bc38f57cc550a40e2b4ae1
Lobinya……kece abiss

Saya menempati kamar standar. Woow..I like this room. Benar-benar suka. Kamarnya juga playful, dengan interior modern bernuansa sedikit outerspace.  Entah kenapa, saya kok merasa di dalam film star trek ketika ada di sini. Mungkin karena lengkung-lengkung yang mendominasi plafon dan furnitur di sini.

Begitu masuk, mata saya langsung tertambat pada wallpaper besar di belakang tempat tidur bergambar  orang yang sedang rafting. Lampu panjang menjuntai di sisi kiri tempat tidur, mengingatkan saya pada desain-desain kafe yang sedang in sekarang ini.

jalan-jalan 8
desain kamar yang saya inapi. Kece abis kan?


Penasaran dengan desainnya yang oke, saya minta bertemu dengan Mbak Alit, manajer hotel ini. Dia mengajak saya ngobrol, lalu saya diajak berkeliling hotel. Asiik…

Menurut Mbak Alit, semua kamar di sini memiliki desain berbeda sehingga konsumen tak akan mendapatkan kamar yang sama persis. Kamar standar saja, yang jumlahnya 99 buah, dibuat dengan tema yang berbeda-beda. Sang desainer menggunakan wallpaper besar dengan gambar, di belakang tempat tidur. Wallpaper inilah yang berperan menciptakan tema di setiap kamar. Untuk kamar bertema musik, wallpaper-nya bergambar alat musik lengkap dengan terompetnya, kamar tema rafting bergambar para rafter berarung jeram di sungai berarus deras.

Setelah berkeling kamar standar, saya diajak Mbak Alit mengintip kamar tematis. Yang pertama saya datangi adalah kamar bertema Wonderland. Ya, kamar inilah yang saya lihat di iklan mereka, kamar pink bertenda. Kamarnya Alice in Wonderland.

Saya berkeliling kamar ini. Furniturnya dibuat ala shabby chic yang manis, dengan dominasi warna putih. Ada tenda kecil dan karpet rumput sintetis di sini. Rasanya saya langsung pingin buka bekal dan piknik di sini. Sayangnya, saya tak bisa menginap di kamar ini, full book sampai bulan depan!

wonderland
ini dia kamar bertema Wonderland

jalan-jalan 5
ini yang temanya movie

Kamar lainnya yang cukup menarik buat saya adalah kamar bertema movie. Di sini, sang desainer meletakkan furnitur bergaya vintage dengan poster besar ala Marlyn Manroe. Yang menarik, langit-langit tak dibiarkan polos begitu saja. Lagi-lagi ada permainan bentuk dan warna di sana.

Sebenarnya, ada beberapa kamar lagi yang interiornya sangat menarik seperti kamar bertema basket ball. Sayangnya, kamar tersebut terisi dan saya tak bisa mengintip ke dalamnya.

Gara-gara keliling dan mendapatkan berbagai tema di hotel ini, saya merasa bagai di buku dongeng. Pindah dari satu kamar ke kamar lain, dari satu cerita ke cerita lain.

Berry Glee Hotel. Jl. Raya Kuta No.139, Kuta, Badung Regency, Bali

Backpacker ke Eropa: Penginapan dan Transportasi 

Banyaknya pilihan transportasi dan penginapan di Eropa memang terkadang membuat kita bingung. Saya pun begitu, apalagi kali ini saya pergi bersama Mama. Transportasi dan penginapan mesti saya pikirkan masak-masak agar murah tapi nyaman.

Sudah sejak dua tahun lalu, berkali-kali Mama saya mengajak saya jalan-jalan ke negara-negara di Eropa. Namun berkali-kali juga saya menolaknya. Jadwal cuti saya belum memungkinkan, pun dengan keuangan. Ditambah lagi, paspor saya baru saja hilang, dan saya masih belum PD untuk menginjakkan kaki ke Eropa.

Bak pucuk dicinta ulam pun tiba. Di akhir bulan Juli tahun 2015, saya mencari tiket ke Belanda. Iseng. Ternyata, tiket Etihad untuk bulan September tergolong murah. Hanya sekitar 7 jutaan PP tiket KL-Amsterdam. Alhamdulillah, masih masuk ke bujet saya.

Kenapa saya pake Etihad dari Kuala Lumpur? Karena itu yang paling murah saat itu. hehehe…alesannya simpel ya. Tiket dari KL biasanya lebih murah ketimbang tiket dari Jakarta langsung. Bisa beda 1-2 juta. Walaupun mesti repot ganti-ganti pesawat sih…

Dalam dua bulan, saya grasak grusuk membuat segala persiapan. Bukan hal yang mudah, karena saya akan berangkat bersama Mama. Secara fisik, mama kuat. Tapi tentu saja, tak sekuat saya. Saya harus membuat itenerary yang matang, mencari pilihan trasnportasi dan penginapan, sehingga mama tak kelelahan di jalan.

Setelah browsing sana-sini, dan atas permintaan mama, saya akhirnya membuat rute begini: Jkt-KL-Amsterdam dan sekitarnya-Brussel-Paris-Lucerne (Swiss)-Milan-Venice-Amsterdam-KL-Jakarta. (Untuk Itenerary lengkap bisa dilihat di Itenerary ke Eropa Barat)

Rute ini berubah di detik-detik terakhir. Awalnya saya membuat rute loop, dari Belanda, Brussel, lalu ke Paris dan menuju Jerman dan kemudian kembali ke Belanda. Italia saya skip meskipun saya ngebet ke sana, mama tak ingin ke sana. Namun tiba-tiba, si mama bersikeras ingin ke Swiss dan mau juga ke Italia, sehingga akhirnya rute berubah drastis. Bujet pun otomatis bertambah. Saya mesti membeli tiket pesawat dari Milan ke Amsterdam, yang untungnya tak terlalu mahal.

Naik Apa Kami di Eropa?

Transportasi antar negara Eropa cukup mudah dan banyak pilihan. Kalau mau nyaman dan cepat, kereta dapat jadi pilihan. Masing-masing negara punya perusahaan kereta yang berbeda, namun terkoneksi satu dengan lainnya.Misalnya saja, Italia punya Trenitalia, namun bisa juga menjangkau negara yang berbatasan dengannya. Nah, jika ingin keliling tanpa batas, bisa menggunakan Eurorail Global Pass.

Karena rute saya hanya mencakup Belanda, Belgia, Paris, Swiss dan Italia, saya mencari info di tiap situs soal tiket kereta ini.

  1. SNCF untuk kereta dari dan ke Perancis. Saya menggunakannya untuk membeli kereta dari Paris ke Swiss.
  2. Thalys untuk kereta tujuan Paris, Brussels, Cologne, Amsterdam. Saya cuma mengeceknya, tidak membeli apa-apa.
  3. Trenitalia, untuk kereta tujuan Italia.

Ada beberapa situs yang menjual tiket kereta Eropa, seperti RailEurope dan Eurail. namun saya lebih suka membelinya via situs resmi masing-masing kereta karena sering ada promo. Jika bingung dengan rute kereta di Eropa, saya suka membuka situs rome2rio, yang bisa memberi tahu soal rute terbaik di Eropa. (baca juga: Situs Penting untuk Hotel dan Pesawat)

Tiket kereta api di Eropa, berdasarkan fleksibilitasnya ada 3 macam. Tiket promo yang paling murah (no-flex) biasanya tidak bisa dikembalikan (non refundable) atau diubah jadwalnya. Tiket semi-flex bisa diubah jadwalnya atau dikembalikan dengan biaya tertentu. Tiket yang paling mahal sangat fleksibel, bisa diubah jadwalnya dan diuangkan kembali tanpa biaya apapun. Semua tiket yang saya beli termasuk yang harganya paling murah, non-flexible.

Bus di Eropa

Kalau mau harga murah, buslah yang harus dipilih. Namun karena mempertimbangkan mama yang susah tidur di bus dan tak tahan duduk lama-lama, saya tak ambil bus malam yang rutenya panjang. Saya ambil bus yang hanya butuh waktu 3-4 jam, dikombinasi dengan kereta cepat dan pesawat.

Rata-rata bus di Eropa bisa dibeli online lewat situs resmi mereka. Dari beberapa bus yang saya naiki di Eropa, Flixbus lah yang paling oke dan saya rekomendasikan. Kondisi bus nyaman, ada wifi (penting buat saya!), dan pemberitahuan via sms-nya cukup baik. Tiket pun tak perlu di-print, cukup tunjukkan barcode yang ada di hape. Praktis ketika traveling, yang kadang susah dapat tempat menge-print.

Jadi begini transportasi di Eropa sana.

  1. Amsterdam-Brussel: Flixbus, seharga 8 Euro/orang
  2. Brussel-Paris:  Megabus seharga 13 Euro
  3. Paris-Zurich-Lucerne: Kereta cepat beli di voyages sncf, harga 49 Euro/org
  4. Lucerne-Milan: Eurobus 30 Euro
  5. Milan-Venice pp: Flixbus 40 Euro
  6. Milan-Amsterdam: Easyjet

Tip: 

  • Transportasi di Eropa akan lebih murah ketika dibuking dari jauh-jauh hari. Biasanya, tiket kereta dan bus sudah bisa dipesan 3 bulan sebelum keberangkatan.

Tidur di Mana Kami?

Lagi-lagi, karena bareng Mama, saya mencari penginapan yang nyaman di Eropa. Tak asal seperti yang suka saya lakukan saat traveling sendiri atau bersama teman. Beberapa saya dapat dari rekomendasi orang, beberapa saya cari di airbnb.

Amsterdam

West Side Inn Amsterdam. Ini sebenarnya separuh kesalahan. Rencananya, saya buking ini di booking.com hanya untuk visa dan akan saya cancel kemudian. Tapi ternyata, karena terburu-buru, yang saya klik adalah harga yang tak bisa di-refund. Harganya memang murah untuk ukuran Amsterdam, namun letaknya agak jauh dari pusat kota walaupun dekat dengan stasiun trem dan dekat dengan supermarket muslim. (baca juga: Keliling Amsterdam Naik Tram)

DSCF5926
Bagian dalam West Side Inn, saya pilih 3 tempat tidur, tapi dapat 4 tempat tidur!

Brussel

Meininger Hotel City Center. Saya pilih ini karena desainnya yang bagus dan letaknya dekat dengan pusat kota. Hotel ini punya beberapa cabang di Eropa, termasuk di Amsterdam, Hamburg, Salzburg. Tadinya saya akan memesan ini di Amsterdam, namun harganya ternyata lebih mahal daripada hotel West Side Inn yang saya inapi.Hotel ini punya kamar dormitory, namun karena saya bertiga, saya memilih kamar family yang ternyata bisa diisi 4 orang.

Saya suka hotel ini, walau ternyata, jaraknya ke stasiun tak terlalu dekat juga, dan ke kota pun harus memutar karena ada sungai di depannya.

Saya pakai booking.com untuk pesan ini. Dapat cashback 10% karena saya punya kode referal sendiri. Kalau mau diskon 10% juga, bisa klik link ini  Booking.com cashback 10%

DSCF6501
kamar di Meininger Brussel. Desainnya ala industrial yang keren abis

DSCF6375
Bagian depan Meininger City Center.

Paris

Apartemen milik Seloa dan Karim. Saya pilih apartemen ini karena dekat area muslim, banyak toko makanan halal. Letaknya juga tak jauh dari stasiun kereta, walaupun jauh dari Eiffel. Apartemen kecil yang cantik, bersih, dan wangi. Ada 1 kamar, ruang tamu dengan sofabed, dapur lengkap dengan coffee maker, plus mesin cuci. Saya memesannya lewat airbnb dengan harga $168 untuk dua malam.  Karena menggunakan voucher, saya dapat potongan senilai $25, sehingga harganya jadi cuma $143. Dibagi 3 (apartemen ini muat 3 orang), semalamnya saya hanya mengeluarkan uang $24. Kalau dibandingkan dengan hostel jelas ini lebih murah. Saya mencari hostel di Paris, harga per malamnya sekitar $50 per orang. Hotel? Jangan tanya, harganya di atas $100 per malam!

Mau pesan juga lewat airbnb? Klik www.airbnb.com . Kalau pakai link ini bisa dapat voucher $25, lho!

DSCF6600
Dapur milik Seloa dan karim

Lucerne

Awalnya, saya akan menginap di rumah salah satu kawan saya di Zurich. Namun tiba-tiba mertua kawan saya ini datang menginap di sana dan akhirnya saya mencari penginapan di Lucerne, yang lebih murah dan indah ketimbang Zurich. Via airbnb, saya menyewa rumah di pedesaan Wolhusen milik Martin Lipp.Saya lupa harga pastinya, yang jelas jauuuh lebih murah ketimbang semua penginapan yang ada di dekat Lucerne.

Sebuah rumah villa indah, harganya sangat murah, letaknya di desa. Berada di sini, saya terbayang cerita pedesaan di buku Poirot. Saya suka sekali. Namun letaknya ternyata cukup jauh dari kota Lucerne. Saya butuh waktu 30 menit untuk ke sana naik kereta!

DSCF7119
Halaman villa kami. Keren ya?

Milan

Il Giramondo. Karena rute ini berubah di detik terakhir, saya baru membuking hotel ketika saya di Paris. Dan semua hotel dan hostel sudah penuh untuk tanggal kedatangan saya. Alhasil, saya membuking hotel yang tersedia, dengan harga yang tak murah, 130 Euro untuk 3 orang per malam. Kamarnya lumayan nyaman dan lega, namun kamar mandi harus share. Kelebihannya, letaknya persis di depan Centre Milano, stasiun kereta yang menjadi pusat semua transportasi di Milan. Dari balkon kamar, saya bisa melihat stasiun dan keramaian di sana. Di bawahnya juga ada restoran Turki, yang selalu memberi saya harga diskon. 😀

Venice

Kejadiannya mirip dengan penginapan di Milan. Awalnya saya tak mau menginap di sini, namun mempertimbangkan mama saya, akhirnya saya mencari penginapan. Saya baru membuking hotel ini di Paris, dan semua kamar penuh karena di Italia, saat itu adalah long weekend. Terpaksa, saya menginap di Hotel Al Vivit, sebuah hotel mahal yang katanya terletak di pusat kota. Ternyata, ia cukup jauh dari stasiun kereta walaupun dekat dengan halte bus menuju kota venesia. Saya lupa harganya, tapi saat itu saya dapat diskon 50 persen, walaupun tetap mahal bagi saya.

DSCF8026
kamar di Al Vivit. Berasa putri raja!

4 Situs Penting untuk Travelling

Belasan tahun lalu, ketika saya memulai kegemaran saya travelling, teknologi dan informasi soal travelling belum sederas dan secanggih sekarang ini. Untuk mendapatkan informasi soal Bangkok saja misalnya, saya harus bertanya pada kawan-kawan saya yang sudah ke sana, kasak kusuk di mailist backpacker, dan meminjam peta dari sana sini. Yang paling canggih, membeli buku Lonely Planet yang minta ampun mahalnya.

Sekarang ini, blog-blog soal travelling bertebaran. Pun dengan situs-situs yang membuat travelling makin mudah. Berberapa situs ini bahkan menjadi andalan saya ketika berplesiran, baik ketika membooking pesawat dan penginapan ataupun mencari informasi lainnya. Apa saja itu?

Skyscanner

sky.jpg

Skysscanner.co.id ini adalah situs andalan saya untuk mencari harga pesawat. Situs ini menampilkan harga pesawat dari berbagai agen travel online, termasuk harga di situs resmi maskapainya, sehingga saya dapat memilih mana yang termurah. Sebenarnya, ada beberapa situs sejenis ini seperti ini, namun saya lebih suka menggunakan skyscanner.net untuk mencari tiket pesawat murah karena lebih mudah penggunaannya.

Ada pilihan multicity juga yang memungkinkan saya mencari penerbangan pergi dan pulang dari kota yang berbeda. Kalau belum tahu mau ke mana dan ingin cari penerbangan yang termurah, di kolom tujuan tinggal ketik “everywhere” dan situs ini akan menampilkan harga ke kota-kota di dunia. Tinggal pilih deh mau ke mana yang sesuai bujet. Misalnya ya, saya dari Jakarta niat banget mau jalan-jalan tapi nggak tau mau ke mana, tinggal masukin everywhere di destinasi, masukin tanggal, akan keluar deretan destinasi dengan harganya. Tinggal sesuaikan dengan bujet saya.

sky.jpg

Enaknya skyscanner ini, ada tampilan berupa map (asal bukanya di pc yaa). Saya suka liat yang bentuk map ini karena buat saya lebih gampang mencarinya.

sky.jpg

Rome 2 Rio

frontpage

Rome2 Rio (http://www.rome2rio.com/) adalah situs yang sering saya pakai untuk mencari dan membandingkan harga beberapa moda transportasi seperti pesawat, bus, dan kereta. Saya menggunakannya kemarin ketika bertandang ke Eropa. Begitu memasukkan titik awal dan titik destinasi, akan keluar beberapa pilihan moda transportasi yang bisa dipakai berserta harga. Enaknya, situs ini menampilkan peta yang juga disertai dengan jarak tempuh sehingga saya dapat membayangkan sejauh apa nanti perjalanan saya.

Saya sempat mencoba situs ini untuk mencari rute angkutan di Bali. Situs ini ternyata bisa juga digunakan, tetapi moda angkutan yang diberikan tak selengkap di Eropa.

Situs lain yang sejenis ini adalah GoEuro (www.goeuro.com).

Booking.com

boking copy

Situs booking.com (http://www.booking.com/) sekarang jadi andalan saya juga, terutama kalau butuh penginapan untuk mengajukan visa. Di situs ini, rata-rata penginapannya bisa di-cancel sampai batas waktu tertentu, tanpa terkena biaya pinalti. Nah, kalau sedang membuat visa, saya booking asal saja, lalu setelah visa di-approve, langsung saya cancel dan mencari penginapan yang benar-benar akan saya inapi. Harga yang tercantum di sini sudah termasuk harga pajak, jadi tak perlu pusing-pusing lagi menghitung harga totalnya.

Beberapa situs serupa adalah agoda.com, hostelworld.com, hostelbookers.com. Ada pula situs pembanding harga semacam trivago, namun beberapa kali saya gunakan selalu error.

Selain booking.com ini, saya kerap menggunakan situs Airbnb (https://www.airbnb.com/) untuk memesan hotel. Situs ini adalah situs yang berisi daftar rumah atau apartemen yang bisa disewa. Berbeda dengan situs penginapan lainnya, di sini kebanyakan yang disewakan adalah rumah atau apartemen milik pribadi sehingga harganya jauuh lebih murah ketimbang menginap di hotel. Ada pilihan untuk menyewa satu ruangan saja atau seluruh rumah. Jika Anda memilih menyewa satu ruangan itu artinya Anda harus berbagi dengan penginap lain atau malah si pemilik rumah/apartemen.

Saya menggunakan airbnb ketika berpergian ke Guangzhou dan beberapa negara Eropa kemarin. Dengan menyewa apartemen atau rumah, saya bisa memasak dan mencuci, yang seringkali tidak bisa dilakukan di penginapan biasa. Selain itu, saya bisa merasakan bagaimana tinggal di lingkungan perumahan sesungguhnya. Seru!

SEAT61.COM

seat61

Ini adalah situs favorit saya saat mencari informasi soal kereta di berbagai negara. Situs ini cukup lengkap dan detail memberikan informasi, mulai dari kondisi kereta, cara memesan, rute dan harga, dan sebagainya. Situs ini juga merekomendasikan beberapa agen pemesan resmi yang terpercaya.

Saya menggunakannya berkali-kali saat akan membooking kereta di berbagai negara, termasuk kereta di India yang sistem booking-nya cukup membingungkan (baca: Ribetnya Membeli Kereta India). Sangat membantu!

Kalau kalian, situs apa yang penting buat travelling?

Red Planet Hotel Pekanbaru: Nyaman, Murah, dan Strategis

Saat memilih penginapan, buat saya ada 2 hal yang penting, murah dan ada di lokasi strategis. Murah, jelas saja itu karena bujet saya pas-pasan. Strategis, supaya bisa mengirit biaya transportasi dan supaya akses ke mana-mana mudah. Kalau murah, strategis dan nyaman, itu bonus yang luar biasa. 

Sewaktu berkunjung ke Pekanbaru minggu lalu, saya menginap di Red Planet Hotel Pekanbaru. Terus terang, saya baru tahu soal Red Planet Pekanbaru ini, bahkan baru mendengar namanya.

Dulu, salah seorang kawan saya pernah menginap di hotel Tune Pekanbaru. Ketika saya browsing sana-sini, saya tak menemukan lagi sudah nama Tune Hotel. Yang ada malah Red Planet Hotel,  di alamat yang sama dengan Tune Hotel.

Awalnya saya pikir, pihak Red Planet membeli hotel ini lalu mengubah namanya. Ternyata bukan begitu ceritanya. Tune hotel adalah jaringan hotel yang sifatnya franchise, jadi ada beberapa hotel yang dimiliki oleh Tune sendiri, dan ada pula yang dimiliki orang lain. Nah, Red Planet ini memiliki beberapa hotel Tune, antara lain di Pekanbaru ini. Lalu, mereka mengambil alih sepenuhnya hotel ini dan mengubah namanya menjadi Red Planet Hotel Pekanbaru.

DSCF5637
Tampak samping hotel. Ada parkiran luas di sini. Di sini juga ada taksi bluebird dan taksi mobil (rental) yang mangkal. Ke Bandara naik mobil rental, kira-kira harganya 50 ribu. Ke perpus HS Soeman naik taksi sekitar 20ribu.

Desain Minimalis

Saya sudah cukup sering menginap di Tune Hotel. Jadi, saya sudah cukup terbiasa dengan desain kamar dan hotelnya. Red Planet Hotel ini sama persis dengan yang saya bayangkan. Hotel minimalis yang cukup besar, dengan desain modern yang simpel dan fungsional.

Begitu masuk lobi, tak ada hiasan berlebihan. Hanya ada beberapa buah pouf (bangku tanpa senderan) berwarna merah, warna khas Red Planet Hotel. Di kanannya ada resepsionis yang stand-by 24 jam. Nah, yang asyik, di lobi ada semacam web-cam instan yang bisa memfoto kita, lalu mengirimkannya ke alamat email atau mempostingnya di FB. Lucu sih, tapi sayangnya background-nya kurang okeh dan banyak orang yang berlalu lalang di sana. Seandainya mereka meletakkannya di tempat lain, pasti lebih oke deh…

DSCF5640
Lobi Red Planet Hotel Pekanbaru. LCD di tengah itulah web-cam yang bisa memfoto kita dan mengirimkannya ke email. Di pojokan ada fasilitas internet yang bisa dipakai 24 jam.

Saya menempati kamar double di lantai 2. Kamar ini didesain sangat efisien dan fungsional, tapi memang ukurannya tak besar, hanya sekitar 3m x 3m. Kalau buat saya yang tak membawa tas besar, ukuran ini sangat pas. Saya masih punya space banyak untuk meletakkan tas, sepatu, dan perlengkapan saya lainnya. Tapi kalau barang bawaan sangat banyak, berkoper-koper, rasanya ukuran ini kurang besar.

DSCF5631
Kamar yang didesain simpel, tapi nyaman, Ketika saya datang, saya dapat 2 buah handuk, dan air minum.

Soal kenyamanan, rasanya tak kalah dengan kamar hotel berbintang.  Kasur dan bantalnya bersih, nyaman, dan empuk. Saya memang punya masalah dengan tulang punggung sehingga kalau bantalnya tak nyaman, tidur saya juga tak nyaman (kecuali kalau saya capek luar biasa yaa :D). Kadang saya lebih memilih tak menggunakan bantal kalau bantalnya tak enak dipakai. Karena bantal di sini empuk, saya penasaran. Saya intip bantalnya, yang walaupun sudah dilapisi dengan kain putih cukup rapat, masih bisa saya terawang. Ternyata, bantal di sini diisi campuran bulu angsa dan fiber dakron. Pantas enak dan empuuuk!!

DSCF5626
Ada safety deposit boks di tiap kamar. Saya menaruh laptop saya di sini. Iya, saya bawa laptop. Iya, saya mesti kerja sambil liburan :((

DSCF5861
Kamar mandinya juga enak digunakan. Pancurannya besar dan airnya deras. Ada air panas dan dinginnya. Tapi kalau di Pekanbaru sih, saya jarang pake air panas. Udaranya sudah panass..

DSCF5856
Kamarnya tak terlalu luas, tapi ada meja lipat. Kalau dipakai, mejanya tinggal dibuka. Kalau tak dipakai, tinggal lipat ke atas, dan ketutup deh. Meja ini bisa dipakai untuk meletakkan benda-benda kecil atau bekerja. Ya, kerja…(sambil liburan)

Akses Gampang

Red Planet hotel Pekanbaru ini  sangat strategis. Letaknya di Jalan Tengku Zainal Abidin, di belakang Mal Pekanbaru. Kalau jalan kaki ke Mal ini, cuma butuh waktu 5 menit.

Walaupun bukan mal nomer wahid di sana, Mal Pekanbaru ini cukup ramai. Buat para jilbabbers, seperti saya, mal ini tempat belanja yang oke punya. Semacam campuran ITC dan Tanah Abang, menurut saya. Ada satu lantai yang khusus menjual baju-baju muslimah yang keren-keren, beberapa malah tak pernah saya temukan di Jakarta. Bikin kalap…

Tepat di depan mal ini, ada jalan Jenderal Sudirman. Jalan ini boleh dibilang jalan utama di Pekanbaru. Coba searching tempat-tempat utama di Pekanbaru deh, pasti lokasinya ada di Jalan Sudirman. Jadi, dari Red Planet, cukup berjalan 5 menit, sudah sampai di pusat kota.

Di malam hari, dekat Mal Pekanbaru ini ada tenda-tenda penjual makanan di pinggir jalan. Makanan yang dijual kebanyakan nasi ampera alias makanan padang. Seru aja makan di sini. Kalau di Jakarta warung padang pasti berupa warung, malah ada yang ber-AC, di sini warung padang bisa berupa warung tenda di pinggir jalan!

Tepat di depan mal, ada metro, busway-nya Pekanbaru. Metro ini bisa dipakai untuk menjangkau beberapa spot wisata di Pekanbaru seperti Perpustakaan HS Soeman, Warung KimTeng (walaupun lebih dekat kalau naik angkot sih).

Kalau malas naik angkutan umum, naik taksi juga tak terlalu jauh. Saya mencoba dari sini naik taksi ke Perpus HS Soeman, cuma keluar ongkos 20.000 ribu aja. Atau jalan kaki. Ya, dari sini saya jalan kaki ke Masjid An-Nur, masjid agung Pekanbaru. Cuma butuh waktu 20 menit, irit sekaligus bakar kalori setelah makan nasi padang.

Murah dan Lengkap

Saya cukup senang saat melihat harganya. Dengan letaknya yang strategis dan bantal yang empuk, kamar saya ini dibanderol dengan harga 258 ribu rupiah saja. Kalau menurut sopir taksi Bluebird yang saya tumpangi ketika pulang dari toko oleh-oleh, di deerah Mal Pekanbaru dan sekitarnya memang cukup banyak hotel bujet sejenis ini yang bermunculan. Nah, si Red Planet Hotel ini salah satu yang cukup murah dan selalu penuh.

Dengan harga segitu, saya dapat fasilitas lengkap di kamar. Ada AC, TV kabel, hairdryer, WiFi yang lumayan kencang, dan toiletries. Ya, saya dapat semuanya. Awalnya saya kira, akan ada pilihan fasilitas kamar seperti di Tune Hotel dulu. Kalau mau pakai AC, bayar. Kalau tak mau bayar, harus puas dengan kipas angin saja. Kalau mau pakai hairdryer, juga bayar. Nah, kalau di Red Planet Hotel ini, harga tadi sudah semuanya. All in, termasuk sarapan di Kopitiam Oey yang ada di bawah hotel. Walaupun sarapannya standar, hanya berupa nasi goreng plus telor dan air teh, lumayan laah…

DSCF5882
Nasi goreng buat sarapan. Mayan kan?

Omong-omong soal Kopi Oey, ternyata yang ada di bawah hotel ini adalah Kopi Oey satu-satunya di Pekanbaru. Walau tak terlalu ramai, karena kalah pamor dengan Kedai Kopi KimTeng, lumayan lah untuk duduk-duduk sambil menikmati secangkir jahe merah favorit saya.

Oiya, harga tadi bisa lebih murah lagi kalau jadi REMEMBERED Red Planet alias anggotanya. Dapet diskon 10 persen, jadi kamar tadi harganya cuma 232 ribu saja. Paling murah di antara hotel bujet di lokasi yang sama.  Kata mbak-mbak resepsionis, mesti install aplikasi di hp. Tapi saya coba via daftar web, bisa juga ternyata. Jadi kalau pas pesen, jangan lupa daftar jadi member dulu. Lumayan kan 10 persen, bisa buat beli sate padang!

Oiya, di sini juga ada fasilitas spa. Saya pikir, ada tempat khusus spa di sini. Ternyata, si terapis lah yang akan datang ke hotel dan terapi spa dilakukan di kamar. Saya tak mencobanya karena tak sempat. Padahal, enak juga badan dipijat setelah seharian berpelesiran di Pekanbaru, ya?

Red Planet Hotel Pekanbaru

Jl. Tengku Zainal Abidin No. 23 https://www.redplanethotels.com/

Nyasar di Dubai Mall

Dengan langkah setengah berlari, saya menuju Mal Dubai. Selain karena mengejar waktu pertunjukan air mancur,  saya takut ketinggalan kereta balik. Ya, kereta di dubai hanya beroperasi hingga 12.00 malam.

Untuk menuju Mal of Dubai, saya harus turun di stasiun Dubai Mall. Dari situ, harus berjalan lagi selama kurang lebih 20 menit untuk mencapai pintu masuk Mal. Lagi-lagi, dengan membawa ransel, saya berlari. Di dekat pintu masuk mal, saya bertanya kepada petugas, di mana letak air mancur itu. Setelah menunjukkan arah dia melihat jam dan langsung berkata; “you must run faster than you did, hurry, hurry.” Gilaaa…

Alhasil, saya seperti orang yang sedang balap lari di dalam mal. Tapi, ketika saya sampai di danau buatan di depan Burj Khalifa, ternyata pertunjukannya belum dimulai. Kata petugas di sana, pertunjukannya mash setengah jam lagi. Oalaaah…#pengsan

Tepat pukul 10.30, pertunjukan dimulai. Karena di brosur tertulis “the biggest water fountain show in the world” saya sudah berekspektasi tinggi. Ditambah lagi, usaha berlari-lari saya tadi. Tapi teryata, air mancurnya tak seindah yang saya bayangkan. Bagus sih, tapi masih di bawah ekspektasi saya. Karena itu, setelah air mancur selesai, saya bergegas kembali.

Namun, kembali ke stasiun bukan perkara yang mudah. Karena berlari-lari, saya tidak terlalu mengamati jalan yang tadi saya tempuh. Ditambah lagi, ini mal yang sangat besar. Walaupun ada petunjuk di mana-mana, tapi tetap saja, saya nyasar. Ketika bertanya kepada petugas, lagi-lagi sambil melihat jam dia berkata “run, run, last train is about 15 minutes.”

Yak, mesti lari lagi….

Persoalan tidak berhenti sampai di situ. Kata orang yang saya tanyai di dalam kereta, kemungkinan kereta sambungan saya untuk menuju penginapan sudah tidak ada. Dari Mal Dubai, saya memang harus kembali ke arah bandara, turun di Union, lalu menaiki kereta jalur hijau.

Ya sudahlah, naek taksi saja pikir saya. Tapi untunglah, kereta jalur hijau masih ada walau (lagi-lagi) itu kereta terakhir. Ufff, thanks God.

Tapi ternyata, perjalanan saya belum berakhir. Saya lupa menanyakan ke UEA Youth hostel, di stasiun mana saya harus turun dan ke arah mana saya harus berjalan. Saya hanya ingat, hostel ini berada di antara stasiun Stadium dan Al Nahda. Akhirnya saya memutuskan untuk turun di Al Nahda. Saya akan tanya orang saja, pikir saya.

Begitu sampai, stasiun kosong melompong. Tak ada satu orang pun yang bisa ditanyai. Jangankan orang yang lewat, petugas karcis saja sudah tidak ada. Alhasil, saya bengong di bawah stasiun. Bingung mau berjalan ke mana. Untunglah tak lama, ada seorang pekerja asal Filifina, yang sedang menunggu pacarnya. Dia menelpon hostel, menanyakan di mana letak hostel sebenarnya. Pacarnya, yang kemudian datang dengan mobil mewah, berinisiatif mengantar saya. Awalnya saya menolak, takut sebenarnya. Tapi karena sudah larut malam, dan tak ada pilihan lain, saya menerima. Ternyata, letak hotel cukup jauh dari stasiun tempat saya turun. Lebih dekat ke stasiun Stadium, hanya berjarak kurang dari 100m. Untung diantar, untung enggak diculik 😀

Tapi, Dubai ini termasuk kota yang aman, bagi wanita sekalipun. Belum pernah ada cerita mengenai kekerasan atau kriminalitas terhadap turis wanita di sini.