6 Perbedaan Travelling Zaman Dulu vs Zaman Sekarang

Saya mulai travelling secara mandiri sejak 15 tahun lalu. Dari pengalaman saya, ada beberapa perbedaan travelling zaman dulu  dan sekarang.

Begini perbedaannya.

“Better to see something once than hear about it a thousand times”

~Anyonymous

Saya mulai travelling ke luar negeri secara mandiri sejak 15 tahun lalu, sejak saya bisa membiayai sendiri perjalanan saya tanpa campur tangan orang tua. Saat itu, Airasia baru melebarkan sayapnya ke Indonesia, sehingga harga tiket pesawat yang tadinya selangit dan cuma bisa dibeli segelintir orang, jadi terjangkau untuk semua orang. Mengutip kata Tony Fernandes, CEO Airasia, “Now everyone can fly.”

Selama 15 tahun itu, teknologi makin berkembang. Kecepatan informasi pun makin bertambah. Dalam waktu singkat, berbagai informasi soal travelling bisa dicari dari berbagai belahan dunia. Dulu, untuk mencari informasi tentang suatu destinasi, saya mesti bertanya langsung ke orang-orang atau membeli buku panduan semacam Lonely Planet yang harganya minta ampun mahalnya. Kini, semuanya tinggal klik, tinggal cari di google.

Selain soal informasi, banyak hal jadi berbeda di dunia travelling. Nah, ini dia beberapa perbedaan travelling zaman dulu  dan sekarang, versi saya tentunya.

1. Tak Ada Internet, Janjian Ketemu Pakai SMS

Zaman awal saya travelling dulu, tak ada provider internet atau Mifi seperti Java Mifi, dan lain sebagainya. Paling banter ada internet roaming dari provider lokal yang tarifnya mencekik. Penjual SIM card lokal di bandara pun tak sebanyak sekarang, dan kalaupun ada, syarat pembeliannya luar biasa susah. Misalnya saja dulu di China, untuk mendapatkan harus fotokopi paspor, dan hanya bisa dibeli di gerai resminya di tengah kota.

Karena mahal, biasanya saya cuma mengandalkan wifi gratisan di penginapan atau restoran, yang seringkali nyala-hidup semaunya. Atau paling sering, wifi-nya hanya ada di public room atau di ruang komunal dekat resepsionis. Jadi kalau mau cari info, ya mesti nongkrong di sana, sambil memandangi mas resepsionis.

Nah, karena tak bisa dibantu internet sepanjang perjalanan, mau tak mau persiapan saya harus matang sebelum berangkat. Itenerary harus dibuat selengkap mungkin, disertai dengan cara menuju ke sana dari titik ke titik.

Yang repot, kalau pergi beramai-ramai dan terpisah. Janjiannya susah, paling murah pakai SMS yang tarifnya sekali SMS sekitar 10 ribu rupiah. Kalau sekarang mah gampang, kepisah pun tinggal telp via WA, kan?

Anehnya, walau tanpa internet, saya dan kawan-kawan sukses-sukses saja travelling ke negara-negara yang waktu itu masih “mentah” dan minim informasi seperti Myanmar, Kamboja, dan Vietnam.  Sukses janjian di satu titik kalau terpaksa berpisah, tanpa harus nyasar dan cari-mencari. Pernah, saya dan kawan-kawan terpisah di Angkor Wat dan tanpa internet, kami berhasil bertemu di tengah

Kalau sekarang, tanpa internet, pusingnya luar biasa.

2. Peta Cetak Vs Digital

map
Map seperti ini yang saya dulu saya bawa ke mana-mana. Sumber: GISResource.com

Zaman awal saya travelling dulu, belum ada yang namanya google map apalagi movit dan segala macam aplikasi untuk membantu mencari jalan. Kalau cari alamat, ya mesti liat peta cetak. Peta segede gaban itu mesti dibawa-bawa ke mana-mana.

Peta itu biasanya saya dapatkan dari teman yang sudah ke sana atau dari Tourist Information Center di bandara. Atau biasanya, di dekat pintu keluar akan ada rak besar tempat segala flyer dan peta ada di sana. Tinggal ambil.

Sebagai cadangan, biasanya saya mengunduh lebih dahulu peta di internet lalu mengeprintnya. Nanti di penginapan, barulah saya minta atau pinjam peta dari hotel. Kalau nggak ada juga, ya nasib. Cuma bisa mengandalkan GPS alias Gunakan Penduduk Setempat.

Tak enaknya, tas jadi lebih berat dengan peta-peta itu. Enaknya, saya lebih paham soal arah dan letak suatu destinasi ketimbang sekarang yang cuma mengandalkan suara dari mbak di Google Map: “two hundred meter, turn left“.

Baca Juga: Restoran dan Makanan Halal di Bukit Bintang

3. Google Translate Manual

google_translate
Sumber: ayosemarang.com

Karena internet tak ada, segala aplikasi penunjang pun juga ga ada, termasuk google translate. Nah, kalau ke negara-negara yang masyarakatnya tak bisa bahasa Inggris seperti China, mau tak mau di itenerary saya ada dua bahasa.

Seperti yang saya buat waktu ke China. Itenerarynya saya buat dalam bahasa Indonesia, dan di sebelahnya ada aksara Cina. Biasanya kan kalau googling destinasi, akan muncul nama dengan aksara China.  Nah itulah yang saya copy dan paste di itenerary saya.

Akibatnya, itenerary saya jadi panjang. Bahkan waktu ke China, itenerary saya sudah seperti buku. Ada 30 halaman!

4. Airasia Mirip Angkot

airasia
sumber: thejakartapost.com

Di awal kemunculannya, Airasia itu tidak menerapkan nomer seat. Jadi penumpang bebas memilih seat sesuai kemauannya. Siapa cepat, dia dapat kursi yang enak.

Jadi, begitu pintu gate dibuka, kita harus lari sekencang-kencangnya agar bisa naik ke pesawat lebih dulu dan dapat kursi oke. Apalagi kalau pergi bareng teman, biasanya saya yang kebagian lari duluan ke pesawat sementara kawan saya membawakan tas saya agar saya bisa lari lebih cepat.

Mirip naik kereta Commuter Line atau Transjakarta di jam sibuk., deh. Rusuh!

Baca Juga: 6 Hal yang Harus Dilakukan di Luang Prabang

5. KLIA 2 Dulu Mirip Gudang

lcct-inside
Sumber: backpackingmalaysia.com
P1290916
Tempat “melantai favorit di LCCT, üntuk ngecharge hp. Di sebelah kiri itu Marrybrown.  (Foto tahun 2011)

KLIA 2, tempat mendarat pesawat Airasia, dulu tak sebagus sekarang. KLIA 2 ini baru dibuka tahun 2014 silam. Dulu namanya masih LCCT (Low Cost Carier Terminal) dan bentuknya masih mirip gudang.

Ya, benar-benar seperti gudang besar. Atapnya dari lembaran baja yang langit-langitnya terekspos. Jalur pipa AC terlihat jelas di sana. Dindingnya dari gipsum yang di beberapa bagian sudah agak kotor. WC-nya pun jorok, dan tak banyak bangku untuk duduk sehingga saya lebih sering “melantai” alias duduk di lantai saat sedang menunggu penerbangan.

Tempat makannya hanya ada beberapa, salah satunya adalah Marry Brown, fast food asli Malaysia. Restoran ini kecil dan banyak lalatnya!

6. Fiskal yang Bikin Harga Tiket Selangit

Tahu fiskal luar negeri? Fiskal luar negeri ini adalah pajak yang harus dibayarkan oleh orang yang mau melakukan perjalanan ke luar negeri, baik melalui udara, laut, maupun darat. Tarif fiskal ini sebesar Rp1.000.000 untuk perjalanan udara, dan Rp500.000 untuk perjalanan darat dan laut. Lumayan mahal kan?

Nah, waktu pertama kali ke Singapura tahun 2004 , saya nggak sanggup membayar fiskal satu juta itu. Akhirnya, demi mengirit bujet 500ribu, saya terbang dulu ke Batam dan kemudian naik ferry ke Singapura. Niat banget kan?

Untungnya, di tahun 2009, fiskal perlahan-lahan mulai dihapuskan. Mayan, irit sejuta!

Baca Juga: 4 Tempat Wisata Gratis di Singapura yang Jarang dikunjungi Turis Indonesia

 

 

 

 

12 Rekomendasi Restoran Halal di Rusia

Tidak sulit menemukan restoran restoran halal di Rusia.

Apa saja itu? Berikut daftar restoran halal di Moscow, Saint Petersburg, dan Kazan.

Ketika akan berangkat ke Rusia, saya sempat khawatir soal makanan halal. Saya pikir, akan sulit menemukan restoran halal di Rusia sehingga saya membekali diri dengan banyak mie instan.

Ternyata tidak. Jumlah umat muslim di Rusia cukup banyak, sekitar 15-20 persen dari total penduduk Rusia. Hal ini menyebabkan di tiap kota di Rusia, terutama kota besar, mudah ditemukan restoran halal.

Apa saja itu? Berikut daftar 12 restoran halal di tiga kota yang saya kunjungi di Rusia: Moscow, Saint Petersburg, dan Kazan.


Restoran Halal di Moscow

Di antara semua kota di Rusia, Moscow ini punya restoran halal paling banyak. Mungkin karena jumlah imigran muslim dari Uzbekistan dan negara stan lainnya di Moscow lebih banyak dibandingkan dengan kota lainnya.

1. Kantin di Moscow Cathedral Mosque

Restoran Halal di Rusia
Kantin di Moscow Cathedral Mosque

Ini restoran halal di Moscow yang menjadi favorit saya karena murah meriah enak. Rata-rata yang datang ke sini adalah warga lokal, sementara turis biasanya makan di  kafe yang ada di pojokan masjid.

Anehnya, harga makanan di kafe dua kali lipat daripada di kantin bawah. Padahal menurut info dari Mbak Susan, guide dan kawan saya di Moscow, kedua tempat ini punya dapur yang sama lho…

Semua makannya diletakkan di dalam etelase kaca sehingga saya bisa memilih langsung makanan yang saya suka. Tinggal tunjuk.

Ada untungnya sih makanannya disajikan di etalase begini, karena semua pelayannya tak bisa berbahasa Inggris. Dan menu yang ditulis besar-besar di dinding juga dalam bahasa Rusia. Yang hurufnya keriting ga jelas gitu.

Makanan yang tersedia di sini adalah makanan dari negara Stan. Ada plov, pasta, kentang dan lain-lain. Harganya mulai dari 150 rubel atau sekitar 30 ribu rupiah. Saya membeli kentang, pasta, dan daging sementara kawan saya membeli semacam sup plus pasta. Total pengeluaran kami berdua ditambah chai (teh) panas jadi 550 rubel atau sekitar 115 ribu rupiah.

Selain makanan utama, tersedia juga roti dan kue-kue manis untuk dessert. Saya tak mencoba ini, karena saya sudah terlalu kenyang makan pasta dan daging, plus kentang pula.

Alamat:  Pereulok Vypolzov, 7, Moscow, Russia, 129090 (jangan masuk ke dalam masjid, namun dari pintu gerbang lurus hingga menemukan tangga turun ke bawah).

2.  Toko Swalayan di Samping Moscow Cathedral Mosque

Restoran Halal di Moscow Rusia
Supermarket di sebelah Moscow Cathedral Mosque

Lokasinya persis di sebelah kantin. Di sini sebenarnya tempat penjual bahan makanan halal,  seperti daging, sosis, dan sebagainya. Namun mereka menyediakan juga roti dan martabak ala Uzbek, yang selalu jadi favorit saya saat menunggu kereta di Uzbek setahun silam.

Harga rotinya mulai dari 50 rubel atau sekitar 10 ribu rupiah. Lumayan buat bekal di jalan karena dijamin halal. Oya, di sini tak ada bangku atau kursi di sini, jadi roti dan kuenya hanya bisa dibawa alias di-take away.

Alamat:  Pereulok Vypolzov, 7, Moscow, Russia, 129090 (jangan masuk ke dalam masjid, namun dari pintu gerbang lurus hingga ke ujung).

3. Chaykhana Restaurant

Chaykhana, Restoran halal di Rusia
Chaykhana, Restoran halal di Rusia

Chaykhana Restaurant adalah restoran Uzbekistan yang ada di seberang Moscow Cathedral Mosque, di dekat lampu merah. Berbeda dengan masakan kantin di samping masjid, masakan di sini harganya lebih mahal. Jelas saja, ini restoran dengan interior yang cantik.

Menu andalannya adalah Plov dan Kebab. Beda dengan nasi plov yang biasa saya makan di Uzbekistan, nasi plov di sini berwarna kuning, dengan topping daging yang diletakkan di tengah, tidak dicampur dengan si nasi. Jangan tanya rasanya, karena bagi saya, semua nasi plov Uzbek enak rasanya.

Menu Chaykhana Restaurant
Menu yang saya pesan di Chaykhana Restaurant. Bawah: nasi plov, atas kiri lagma.

Chai (hot tea) mereka juga sangat enak, karena diberi palm sugar. Modifikasi sepertinya karena sewaktu di Uzbek, saya tak menemukan gula semacam ini. Saran saya sih, ga usah beli hot tea-nya. Mahal.

Btw, menunya ditulis dalam bahasa Rusia. Untungnya, saya agak familiar dengan makanan Uzbek, jadi bisa mengira-ngira apa makanan yang dimaksud di menu. Tapi kalau nggak paham, bisa lah minta bantuan dari mas Google Translate. 

Alamat: Ulitsa Shchepkina, 27, Moscow

Baca Juga: Solo Travelling ke Uzbekistan: Cinta dalam Sepotong Roti dan Segelas Ceri

4. Livan House

Ini adalah restoran asal Lebanon yang berada di area Red Square, Moscow. Lokasinya di dalam Mall Okhtony Ryad, mal di depan Hotel Four Season Okhtony Ryad.

Saya nggak mencoba makan di  sini, karena ketika saya akan ke sana, restoran ditutup karena covid-19. Namun restoran ini direkomendasikan oleh beberapa orang karena dekat dengan area Red Square.

Alamat: Mall Okhtony Ryad, di lantai -3 atau di lantai paling bawah, di area foodcourt.

5.  Sate di Izmailovo Market

restoran halal di Rusia
Sate halal di Izmailovo Rusia

Izmailovo Market adalah tempat untuk membeli oleh-oleh khas Rusia. Tapi ternyata di dalam pasar ini ada makanan halal juga, lho.

Makanannya berupa sate khas Kazakhtan, seperti sate ayam, salmon, jamur, kentang, domba, dll. Harganya sekitar 10-20 rubel per tusuk dan sudah termasuk roti dan minuman.

Alamat: Izmailovo Market, di sisi sebelah kanan.

Baca Juga: Ke Rusia Saat Corona: Sepinya Red Square

6. Cheburechnaya Khalyal / Чебуречная Халяль

Restoran ini lokasinya masih di area Izmailovo, namun bukan di dalam pasarnya. Ia berada di dekat stasiun Metro Partizanskaya.

Makanannya lagi-lagi adalah makanan Uzbek. Ya, rata-rata makanan halal di Moscow adalah makanan Uzbekistan. Bikin saya serasa kembali ke sana.

Saya juga tidak mencoba ini, namun tempat ini juga direkomendasikan banyak orang karena dekat dengan Hotel Alfa, Gamma, dan Beta yang jadi andalan turis Indonesia ketika berkunjung ke Moscow.

7. Kebab House

Terletak di dalam Mall Evropeyskiy, mall di area Kievskaya. Lokasi persisnya ada di lantai 4, area foodcourt. Selain di Mall Evropeyskiy, Kebab House ini juga ada di Arbat Street.


Restoran Halal di St Petersburg

Restoran  halal di St Petersburg tidak sebanyak restoran halal di Moscow. Dan karena Pandemi Covid-19 yang menyebabkan saya hampir tak bisa pulang, saya cuma mengunjungi dua restoran di sana.

8. Al Halal

Restoran Halal di St Petersburg Rusia
Tampak depan Al Halal St Petersburg

Restoran Al Halal ini berada di sebelah Saint Petersburg Mosque, kurang lebih sekitar 100m dari pintu keluarnya.  Makanan yang dijual di sini adalah makanan timur tengah seperti kebab/shawarma, namun mereka juga menjual daging halal dan berbagai barang dari Timur Tengah.

Pemilikrestoran Al Halal sangat ramah, saya sempat mengobrol dengannya. Ia  berasal dari Tangier, Maroko dan sudah belasan tahun menetap di Rusia. Saya juga  sempat menumpang solat di sana, karena masjid di sebelahya ditutup selama pandemi covid.

Restoran Halal St Petersburg Rusia
Bagian dalam Al Halal

Alamat: Kronverkskiy Prospekt, 9. Sekitar 100m ke sebelah kanan dari pintu masuk masjid.

9. Halal Cafe Brother

Saya tak datang ke sini, tapi sempat googling soal tempat ini. Halal Cafe Brat atau Halal Cafe Brother ini letaknya agak jauh dari destinasi wisata namun searah dengan stasiun kereta St Petersburg.

Halal Café Brat ini buka dari jam 11 pagi hingga 11 malam. Jenis makanan yang ditawarkan di kafe ini adalah menu tradisional ala Chechnya. Saya belum pernah coba sih makanan Chenchnya seperti apa, makanya kemarin sempat penasaran banget mau ke sini, tapi ya mesti digagalkan karena harus mengantar kawan saya ke bandara. 

Alamat: Mytninskaya Street No 31. Kalau dari Hermitage, sekitar 30 menit naik metro line 11.

10. Khalol Cafe

Khalol Cafe ini selalu muncul kalau saya gugling soal makanan halal di St Petersburg.  Saya juga tidak ke sini, namun ini direkomendasikan oleh beberapa situs.

Makananannya lagi-lagi makanan khas Uzbekistan. Memang, populasi masyarakat Uzbek di sini cukup banyak, yang membuat saya selalu diledek kawan-kawan saya: “ga move-on banget lo ama Uzbek”. Ya gimana yaa….

Tampatnya cukup besar dan terdapat musala di dalam restoran. Restoran ini sering jadi favorit banyak wisatawan muslim yang berkunjung karena selain menyajikan menu tradisional, harganya pun terjangkau.

Alamat: di Jalan Apraksin nomor 7, sekitar 1 km dari Kazan Kathedral.

Baca Juga: Restoran dan Makanan Halal di Bukit Bintang


Restoran Halal di Kazan

Kazan adalah wilayah khusus di Rusia yang didominasi muslim. Jumlah masjid di sini cukup banyak, sehingga tak sulit menemukan makanan halal di sini.

Saya membatalkan perjalanan saya ke Kazan karena harus balik secepatnya ke Indonesia, namun saya sempat mencari rekomendasi makanan halal di Kazan.

Jumlah yang saya tulis di sini memang hanya dua, karena itu yang banyak beredar di internet. Namun menurut kawan saya, banyak restoran kecil di dekat penginapan dan masjid  di Kazan yang menjual makanan halal.

Ini dia hasil rangkuman saya.

11. Chak Chak / Чак-чак

Chak-Chak adalah snack madu khas Tatarstan. Namun di kafe ini tidak hanya menjual snack tersebut namun juga terdapat makanan berat dan berbagai macam cake. Salah  satu cabangnya terletak di Bauman Street. Tokonya cukup enak untuk ngobrol karena tempatnya luas.

Alamat: Bauman St, 7/10

12. Tubatay / Тюбетей

Tubatay adalah resto makanan lokal dengan branch yang tersebar cukup banyak di Republik Tatarstan termasuk di Kazan. Modelnya semacam fast food chain yang terang, ramai, dan nyaman. Enaknya, semua menunya tersedia dalam bahasa Inggris sehingga mudah memilihnya.

Alamat: Kremlyovskaya St, 21, sekitar 600 meter dari Kazan Kremlin (Blue Mosque).


TIP

Makan Murah Meriah di Stolovaya

Stolovaya adalah kantin dalam versi Rusia. Berbeda dengan restoran yang makanan sesuai menu dan baru dimasak saat kita pesan, di Stolovaya makanan sudah tersaji.

Kita tinggal memilih mana yang cocok untuk kita. Mirip warteg atau warung padang lah kalau di Indonesia.

Tidak semua makanan di Stolovaya halal. Tapi mereka biasanya menjual salad, buah-buahan potong. Bisa pilih itu untuk amannya. 

Aurora Village Murmansk: Memandang Aurora dari Balik Jendela

Saya amat bersyukur karena bisa menginap di penginapan terbaik di Rusia ini. Aurira Village Murmanks, sebuah penginapan eksklusif yang berbentuk igloo.

Bles.

Tiba-tiba ban mobil yang kami tumpangi tak bisa bergerak. Saya penasaran dan melongok ke luar jendela, rupanya ban masuk ke dalam tumpukan salju yang cukup tebal.

Pak supir berusaha mengeluarkan ban dari salju. Mobil digas bolak balik, maju mundur. Tapi tak berhasil. Kami terjebak di tengah padang salju. 

Untung saja, ada dua mobil van yang lewat. Salah seorang supir van mengambil alih kemudi dari supir kami dan berusaha mengeluarkannya dari jeratan salju yang menumpuk.

Sambil menunggu, saya mengarahkan pandangan ke lapangan salju di kejauhan. Di sana, di pinggir danau, sudah terlihat dek kayu yang sebagian tertutup salju. Di atasnya ada enam buah bangunan berbentuk setengah lingkaran berwarna putih dengan jendela kaca yang besar, persis seperti yang saya lihat di foto-foto.

Itulah tempat saya dan kawan saya akan menginap malam ini: Aurora Village Murmansk.


Penginapan Impian

Aurora Village yang jadi tujuan kami ini adalah penginapan yang berlokasi sekitar 50km dari kota Murmansk. Jika naik mobil dari kota, kira-kira butuh waktu 40-50 menit, tergantung kondisi jalan saat itu.

Kalau pakai mobil van dari Aurora Village rasanya akan lebih cepat karena mobilnya besar, sementara kami kemarin nekat naik taksi yang bentuknya sedan karena ada keperluan dulu di tengah kota Murmansk.

Baca Juga: Berburu Lady Aurora di Rusia

Letak Aurora Village ini di tepi danau dan jauh dari permukiman. Karena letaknya yang terpencil ini, yang menginap di Aurora Village dapat melihat aurora tanpa harus hunting ke tempat lain. Yap, kalau kita beruntung, bisa melihat aurora sambil minum teh hangat plus cokelat dari dalam kamar. Asyik, kan?

FYI, Aurora memang hanya bisa dilihat di tempat yang minim polusi cahaya dan yang jauh dari permukiman. Seperti di Aurora Village ini.

DSCF7964-01
Penampakan luar aurora village

Ada 10 buah kamar berbentuk Igloo di sini. Meniru bangunan suku eskimo yang hidup di kutub utara.

Empat buah menghadap danau, enam yang lainnya menghadap lapangan salju, seperti yang kami tempati. Di area depan terdapat sebuah bangunan besar, yang nantinya akan digunakan sebagai cafe.

Sayangnya, ketika saya datang, cafe belum selesai dibangun. Namun kabarnya saat ini cafe sudah selesai dibangun dan bisa dipakai untuk acara wedding, party, dan sebagainya.

DSCF7930-01
Kamar di seberang itu adalah kamar yang menghadap danau
DSCF7948
Kalau malam, domenya memang terlihat dari luar, tapi jangan khawatir, ada gordennya kok.

Oya, di depan igloo-igloo ini ada bangku-bangku kayu. Kalau summer, tempat ini sering dijadikan tempat pesta barbekyu. Sementara kalau winter, jadi tempat foto ala-ala aja kali ya. Dingiiin….

DSCF7933-02
Banyak meja dan bangku di sini yang bisa dijadikan tempat nongkrong, kalau ga kedinginan…:D

Interior yang Instagramable

Oleg, pemilik tempat ini, dan staffnya membantu kami membawa koper ke dalam salah satu dome. Kami mendapat kamar nomer satu, yang letaknya paling depan.

Begitu pintu dibuka, tampak dua buah tempat tidur di sana. Tempat tidur yang terlihat sangat hangat karena dilapisi dengan selimut bulu yang tebal.  Sangat cocok di cuaca yang sangat dingin. Saat kami datang, suhu di luar sekitar minus 3 derajat yang membuat kami hanya sanggup berdiri beberapa menit di luar sana.

Selain dua tempat tidur tadi, ada dua tempat tidur lagi di lantai mezanin. Tempat ini memang bisa memuat hingga 4 orang, dengan catatan, yang  tidur di atas adalah anak-anak atau cewe-cewe imut macam saya ini.

Kalau buat laki-laki, apalagi yang terlalu tinggi, bisa mentok di kepala. Oya, menurut si penjaga, bisa minta extrabed satu lagi dengan biaya 2.000 rubel atau sekitar 400 ribu rupiah.

Nah, untuk naik ke atas mezanin ini, ada tangga lipat yang tersembunyi, yang baru akan muncul kalau kita membuka tingkapnya. Persis seperti tangga-tangga tersembunyi menuju loteng di film-film barat yang saya tonton selama ini.

DSCF7852-01-02
Bagian dalam Aurora Village yang instagramable banget

Igloo ini juga dilengkapi dengan kamar mandi dengan air panas, juga perapian. Kami tak menyalakan perapian ini karena selain tak terbiasa, di dalam igloo sudah ada pemanas ruangan yang cukup hangat.

DSCF8048-01-01
Saya dan Ruru, travelmate saya ke Rusia.

Tak lama, salah satu staff Murmanks Igloo mengetuk lagi kamar kami. Ternyata, ia membawakan seteko air panas, sepaket teh Rusia favorit saya, dan setoples cokelat. Ya ampun, cokelatnya enak banget. Kalau tak ingat gigi saya yang baru kelar perawatan saluran akar, bisa habis semua cokelat itu.

Baca Juga: Persiapan Winter di Rusia


Sayangnya, Gagal Dapat Aurora

Menurut perkiraan di website Aurora Village, malam ini perkiraan KP Index untuk Murmansk ada di angka 3, sangat cukup untuk melihat Aurora di langit.

FYI, KP Index adalah tingkat kekuatan pancaran gelombang elektromagnetik yang dipancarkan si aurora. Semakin tinggi KP Indexnya, semakin jelas aurora akan terlihat. Semakin tinggi KP Indexnya, semakin bisa ditangkap kamera.

Kami sudah bersiap bergadang malam ini dengan kamera standby di atas tripod. Dari dalam kamar tentunya, tanpa perlu keluar lagi. Berkat jendela besar di dome ini, aurora dan segala yang ada di langit akan terlihat dengan jelas, bahkan sambil rebahan saya bisa melihat bintang di luar sana.

Tapi sayang, walaupun KP Index berada di angka 3, langit tertutup awan sehingga aurora tak keliatan sama sekali.

Kami mencoba keluar, siapa tahu dia ada di arah yang berlawanan dengan arah jendela kami. Tapi ternyata, setelah sepuluh menit berdiri di luar, hujan salju turun. Sudah pasti tak akan ada aurora di malam ini.

Sedih.

178289016
Begini pemandangan yang akan kami temui kalau aurora muncul di sini. Foto: auroravillage.info
82056665_1034545170233721_4690909920017514496_o
Foto: auroravillage.info

Esoknya paginya, kami berjalan mengelilingi tempat ini. Rencananya, kami mau mengintip dari jauh danau yang membeku di dekat penginapan.

Tapi ternyata, jalan menuju ke sana tertutup salju yang cukup tebal sehingga kami harus urungkan niat, karena takut terperosok ke dalam. Cukup lihat dari jauh saja. Hujan salju malam tadi ternyata cukup lebat dibanding hari-hari sebelumnya.

Ya sudahlah, balik lagi ke dalam Igloo dan foto-foto di dalamnya.

DSCF0020-01


Naik Husky Hingga Memancing di Danau Beku

Selain bisa menginap di sini sambil berburu si northern light,  Aurora Village juga menyediakan paket lain seperti Husky Farm Tour, memancing ikan di danau, tur ke Teriberca, atau ke kunjungan ke Sami Village.

Kami mengambil paket husky farm tour, dengan harga 2.000 rubel per orang. Saya sempat cek harga ke semua operator, tur dari Aurora Village ini harganya termasuk murah, tak beda jauh dengan yang lain.

Jam 12 siang, tim dari Aurora Village menjemput kami dengan mobil van yang bagus, bersih, dan harum. Hanya kami berdua yang ada di dalam van ini ternyata. Menurut Oleg, memang kali ini mereka mengkhususkan diri untuk mengantar kami.

Yippi..


Aurora Village bisa dipesan melalui situs resmi mereka di https://auroravillage.info/ atau bisa lewat OTA seperti booking.com, traveloka, dan sebagainya.

 

 

 

 

 

Panduan Membuat Visa Azerbaijan

Untuk masuk ke Azerbaijan, penduduk Indonesia hanya diwajibkan membuat E Visa.

Dalam waktu kurang dari sehari, Visa Azerbaijan saya sudah siap saya gunakan.

Untuk masuk ke Azerbaijan, penduduk Indonesia hanya diwajibkan membuat E-Visa. Caranya gampang dan ga makan waktu lama, tinggal ikuti panduan yang ada di website resmi Azerbaijan.

Begini cara membuat E Visa Azerbaijan:

1. Masuk ke situs resmi

Situs resmi untuk membuat E Visa Azerbaijan adalah https://evisa.gov.az/en/. Begini penampakan halaman awalnya. Pilih tombol application yang ada di kiri.

Cara Membuat Visa Azerbaijan

2. Isi data awal

Isi nationality dengan Indonesia, passport dengan ordinary passport, dan number of entries dengan single entry kecuali kalian mau balik lagi ke sini.

Cara Membuat Visa Azerbaijan

3. Isi data lainnya

  • Purpose of visit: isi dengan tourism.
  • Consideration periode: kalau nggak terburu-buru, isi 3 hari aja. Kenyataannya, dalam waktu cuma sehari, e-visa ini udah saya dapatkan. Harga visa yang jadi dalam watu 3 hari sebesar 23 dolar, sementara kalau 3 jam harganya 50 dolar.
  • Starting date of e-visa validity: saya biasa mengisinya dengan tanggal sehari atau dua hari sebelum tanggal kedatangan yang betulan. Tujuannya agar kalau terjadi sesuatu, misalnya penerbangan saya dimajukan, saya masih tetap bisa masuk. Jangan khawatir, visanya berlaku lama kok, 9 bulan dari tanggal awal.
Cara Membuat Visa Azerbaijan

4. Isi data personal

Di sini banyak data yang diminta.

Ada surname (nama belakang/nama keluarga), given name (nama depan). Tanggal lahir, pekerjaan, email, alamat, nomer telepon, dan lain sebagainya.

Yang penting adalah, mereka minta bukti foto atau scan paspor. Foto atau scan paspor ini mesti jelas, ga boleh burem atau kena cahaya. Contohnya bisa diliat di bawah, itu saya ambil contohnya dari situs resmi e-visa Azerbaijan ya, bukan foto saya, apalagi foto si Babang.

Oiya, di bagian bawah ada pertanyaan penting lainnya: Have you ever visited the Nagorno-Karabakh and other regions of the Republic of Azerbaijan occupied by the Republic of Armenia since 1991 without an official permission of the Republic of Azerbaijan?

Ini tentu aja mesti dijawab dengan “no”, kalau mau visa Azerbaijan diapprove. Azerbaijan dan Armenia dari tahun 1991 memperebutkan wilayah ini. Jadi kalau pernah ke situ, dijamin akan ditolak mentah-mentah di Azerbaijan.

visa azer-4a
passport_valid_hint

5.  Email Verification

Kalau sudah submit, selanjutnya akan ada verifikasi yang dikirim ke email yang kalian cantumin tadi di form. Klik link yang ada di email, dan akan muncul halaman pembayaran.

Kalian bisa membayarnya dengan kartu kredit atau paypal. Saya memilih bayar dengan kartu kredit, walaupun saya punya paypal. Soalnya, rate paypal suka nggak masuk akal.

6. Terima Visa

Setelah bayar, akan ada email lagi yang berisi pemberitahuan kalau pembayaran sukses dan tinggal tunggu dikirim visa.

Walaupun saya membayar untuk visa yang jadi dalam waktu 3 hari, nyatanya, esok harinya saya sudah dikirimi email yang berisi pemberitahuan kalau e-visa Azerbaijan saya sudah jadi dan saya bisa mengunduhnya lewat link yang ada di email.

Mudah dan cepat, kan?

Baca Juga: Tempat Wisata di Baku Azerbaijan yang Cocok Bagi Muslim Traveller

3 Lokasi untuk Menikmati Sunset di Pulau Moyo

Keindahan Pulau Moyo bukan hanya Air Terjun Mata Jitu. Sunset di Pulau Moyo juga amat indah dan sayang untuk dilewatkan. Ada beberapa tempat untuk menikmati sunset di pulau Moyo, tiga di antaranya adalah Takat Sagale, Dermaga Labuhan Aji, dan Batu Kapal.

Sunset selalu menjadi momen yang dinantikan. Warna oranye dan jingga yang timbul ketika matahari tenggelam membuatnya tampak dramatis dan menenangkan. Apalagi jika ditemani suara ombak Pulau Moyo.

Pulau Moyo yang terletak di Kabupaten Sumbawa Besar mulai terkenal di dunia sejak mendiang Putri Diana mengunjunginya. Para pesohor dunia pun berbondong-bondong menghabiskan liburan di sana. Sebut saja Mick Jagger, David Bechkam, Edwin Van Der Saar dan yang teranyar adalah bintang korea Rain dan Kim Tae Hee.

Pulau eksotis di utara Sumbawa ini terkenal dengan keindahan alam yang masih alami. Salah satu objek wisata di Pulau Moyo adalah Air Terjun Mata Jitu. Air yang dikenal juga sebagai Queen Waterfall karena pernah didatangi Putri Diana ini memiliki pesona tersendiri. Air yang mengalir melalui tujuh undakan dan berujung di kolam jernih akan menarik minat siapa saja yang memandangnya.

Namun keindahan Pulau Moyo bukan hanya Air Terjun Mata Jitu. Sunset di Pulau Moyo juga amat indah dan sayang untuk dilewatkan. Ada beberapa tempat untuk menikmati sunset di pulau Moyo, tiga di antaranya adalah Takat Sagale, Dermaga Labuhan Aji, dan Batu Kapal.

Takat Segale

DSCF5949
Takat Sagale Pulau Moyo

Takat Segele adalah pulau kecil yang terbentuk dari karang (atol) mati, koral, dan pasir. Jika air laut tak pasang, pulau ini akan terlihat dengan jelas dari dermaga Labuhan Aji Moyo. Pulaunya berbentuk memanjang, berwarna cokelat, dan terdapat sedikit gundukan seteinggi 2m.

Di pulau kecil ini, wisatawan dapat langsung menyelam dan menikmati keindahan bawah lautnya. Atau duduk-duduk di pulau karang sembari memandang ke ufuk barat menyaksikan matahari tenggelam. Sangat tenang, apalagi  jika langit sangat cerah, siluet Gunung Rinjani bisa terlihat dari sini.

Untuk sampai ke sini, wisatawan harus menyewa perahu boat dengan harga sekitar 300-500 ribu rupiah per perahu. Perjalanan menuju ke sana sekitar 10-20 menit dari Dermaga Labuhan Aji, Moyo.

Dermaga Labuhan Aji

DSCF5970

Jika tak ingin mengeluarkan dana untuk menuju Takat Segele, menikmati sunset di pantai dekat Labuhan Aji sudah sangat cukup. Homestay-homestay yang berada di pinggir pantai umumnya menyediakan tempat duduk yang menghadap pantai. Jika tidak tinggal di sana, Anda bisa membeli makanan atau kopi di restoran milik mereka.

Alternatif lainnya adalah duduk di hamparan pasir di sebelah dermaga. Sambil duduk, Anda bisa menikmati matahari turun dari peraduannya, melihat perahu nelayan kembali ke tempatnya dan warna langit berubah menjadi jingga.

Pantai Batu Kapal

DSCF6238
Pantai Batu Kapal Pulau Moyo

Pantai Batu Kapal ini terletak cukup jauh dari perkampungan Desa Labuhan Aji, sehingga Anda harus menggunakan kendaraan bermotor ke sana dengan harga sewa sekitar 100-150 ribu rupiah.

Butuh waktu sekitar 1 jam untuk bisa sampai di sana, melewati jalan setapak yang dikepung hutan di kanan kirinya.  Menurut keterangan warga, jalan setapak ini adalah jalan yang dilalui para pegawai Arwana Resort untuk pulang dan pergi sehingga agak jarang orang yang melaluinya.

Sesuai namanya, di  pantai Batu Kapal ini terdapat batu besar yang berbentuk mirip dengan kapal yang bersandar. Dari atas batu besar ini, Anda bisa melihat keindahan matahari yang tenggelam di laut Sumbawa sambil mendengar deru ombak yang membentur batu karang.

Artikel ini telah diterbitkan di https://pesona.travel/keajaiban/2211/indahnya-sunset-di-pulau-moyo

Transportasi dari Bandara Baru Istanbul

Bandara Ataturk di Istanbul sudah tidak dipakai lagi, diganti dengan bandara baru Istanbul International Airport (Istanbul Havalimani) yang jaraknya dua kali dari bandara Ataturk. Tapi jangan khawatir, walaupun jauh, transportasi dari Bandara Istanbul ini ke tengah kota, misalnya ke Sultanahmet tak susah.

Ada beberapa transportasi umum yang bisa digunakan dari Istanbul International Airport ke kota, antara lain metro dan bus airport  Havaist. Saya belum pernah mencoba naik Metro; malas harus berganti kereta. Saya lebih suka naik bus Havaist karena tinggal duduk tenang sampai tujuan. 

Bandara Ataturk di Istanbul sudah tidak dipakai lagi, diganti dengan bandara baru Istanbul International Airport (Istanbul Havalimani) yang jaraknya dua kali dari bandara Ataturk. Tapi jangan khawatir, walaupun jauh, transportasi dari Bandara Istanbul ini ke tengah kota, misalnya ke Sultanahmet tak susah.

Ada beberapa transportasi umum yang bisa digunakan dari Istanbul International Airport ke kota, antara lain metro dan bus airport  Havaist. Saya belum pernah mencoba naik Metro; malas harus berganti kereta. Saya lebih suka naik bus Havaist karena tinggal duduk tenang sampai tujuan. 

Bus Havaist ini ada di pintu keluar bandara. Tapi sebelum ke naik ke bus, ada baiknya beli sim card dan ambil uang dulu di ATM bandara. Saya lupa nama bank yang biasa saya ambil, tapi ada beberapa bank yang men-charge komisi 10 persen, ada pula yang free. 

Kenapa mesti ambil ATM, ga bawa uang dari sini? Karena Lira, mata uang Turki, agak susah ditemukan di Indonesia. Karena jarang itulah, kurs lira jadi mahal. Lumayan beda 500-1000 rupiah kalau dibandingkan dengan kurs ambil di ATM sana. Lumayan banget kan. Tapi sih, buat jaga-jaga, saya selalu bawa USD sekitar 100-200 dolar. Jadi kalau ATM tiba-tiba bermasalah, masih ada cadangan.

Baca Juga: Begini Cara Membuat E-Visa Turki

Lokasi Havaist Bus di Bandara 

Havaist bus ini berlokasi di pintu keluar New Istanbul Airport. Tinggal cari tanda public bus, atau tanya aja ke petugas yang pakai rompi Havaist yang berseliweran di sana-sini. Walau banyak yang ga bisa bahasa Inggris, mereka baik kok, bahkan ada seorang petugas yang membantu saya mendorong dua koper saya hingga ke tempat Havaist Bus berada. Ya,saya waktu itu bawa dua koper, karena satu koper isinya titipan sepupu yang tinggal di sana.

Harga tiket Havaist Bus ini sekitar 26 TL atau sekitar 100 ribu rupiah. Bisa dibeli di loket atau mesin karcis di dekat bus, dengan uang cash. Ingat, cuma bisa dengan uang cash. Atau saran saya, agar lebih mudah, belilah kartu Istanbul Card (IstanbulKart). Istanbul Card ini semacam kartu Jak Linko, yang bisa dipakai untuk naik semua transportasi umum di Istanbul.

istambulkart
Sumber: istanbulkart.istanbul

Di Mana Beli IstanbulKart?

IstanbulKart bisa dibeli di mesin tiket yang ada di lantai -2nd Arrival Hall. Di situ berderet banyak mesin berwarna kuning bertuliskan Biletmatik, tempat membeli IstanbulKart. Istanbulkart juga bisa dibeli di loket dekat Havaist Bus berada. Tapi ingat, dua-duanya cuma bisa pakai uang cash.

Oiya, Istanbulkart ini katanya berlaku selama lima tahun. Tapi punya saya udah lebih dari 10 tahun dan masih bisa kepakai. Saldonya terakhirnya pun masih aman.

Nah, di kunjungan terakhir saya ke Turki, pesawat Oman Air saya delay 5 jam. Dan itu artinya, saya sampai di New Istanbul Airport hampir tengah malam. Alhasil, saya mesti lari-lari mengejar bus terakhir dan tak sempat mengambil uang di atm. Kartu kredit ternyata tidak bisa digunakan untuk membeli tiket bus di mesin dan Istanbul Card saya isinya cuma tinggal 6 lira. Untunglah bisa menggunakan kartu kredit berlogo Mastercard di dalam bus (hanya yang logonya mastercard ya, bukan visa)

Lokasi beli Istanbulkart di Bandara Istanbul
Lokasi beli Istanbulkart di Bandara Istanbul

Rute dan Jadwal Havaist Bus

Bus Havaist ini ada setiap 15 menit sekali, dan benar-benar tepat waktu. Kalau lewat, ya mesti tunggu bus selanjutnya. Bus ada paling pagi jam 05.00 dan paling malam jam 11.00 (tergantung rute).

Bus ini punya beberapa rute. Rute paling popular buat turis adalah tujuan Sultanahmet dan Taksim. Di Sultanahmet, bus akan berenti di Sultanahmet Square, dekat dengan Hagia Sofia. Sementara di Taksim, akan berhenti di Taksim Square, dekat KFC.

Ini rutenya yang saya ambil dari situs resminya Havaist Bus. Untuk tujuan Sultanahmet bisa naik Bus Havaist nomer 1S, sementara tujuan Taksim bisa naik nomer 19.

İST6 ALİBEYKÖY OTOGARI (Coach Station)-ISTANBUL AIRPORT: 31 km., 45 min, 22 TL
İST17 AVCILAR-HALKALI-AIRPORT: 40 km., 100 min, 21 TL.
İST15 BAHÇEŞEHİR-AIRPORT: 42 km., 100 min, 21 TL
İST4 BAKIRKÖY İDO-AIRPORT: 44 km., 80 min, 24 TL
İST14 BAŞAKŞEHİR-AIRPORT: 27 km., 40 min, 21 TL.
İST5 BEŞİKTAŞ-AIRPORT: 43 km., 90 min, 23 TL.
İST3 ESENLER OTOGAR-AIRPORT: 39 km., 75 min, 22 TL.
İST7 KADIKÖY-AIRPORT: 64 km., 110 min, 32 TL.
İST8 PENDİK-AIRPORT: 97 km., 100 dakika, 37 TL
İST1S SULTANAHMET-EMİNÖNÜ-AIRPORT: 52 km., 100 min, 26 TL
İST19 TAKSİM- AIRPORT: 40 km., 80 min, 25 TL
İST2 TÜYAP EXHIBITION CENTER-AIRPORT: 58 km., 100 min, 26 TL
İST1Y YENİKAPI-AIRPORT: 48 km., 110 min, 25 TL

Jangan khawatir kelewatan, di dalam bus ada TV LED yang memberitahukan perhentian selanjutnya. Tapi kalau ke Sultanahmet sih, itu perhentian terakhir jadi ga akan kelewatan deh. Kalau saya, ga pernah sampai ke tujuan akhir, karena rumah sepupu saya ada di daerah lain. Jadi mesti melek terus liat layar LED, jangan sampai saya nyasar.

Bagian dalam bus Havaist
Begini bagian dalam bus Havaist

Rute Bus Havaist
Rute Bus Havaist. Sumber: Turkish Airline

Buat lebih lengkap soal jadwal Havaist Bus, cek aja di website mereka ya https://hava.ist/en/new-timetables

Backpacking ke Taiwan: Berburu Makanan Halal di Taipei

Taipei memang terkenal dengan street food dan night marketnya. Namun, bagimana dengan kehalalannya? Untunglah sewaktu ke sana, saya ditemani oleh Sarah, adik ipar teman saya, yang sedang mengambil kuliah S2 di sana. Dialah yang menunjukkan di mana saya bisa membeli makanan halal di Taipei dan sekitarnya.

Ketika mencoba gugling soal makanan halal di Taipei, Taiwan, saya cukup suprise. Ternyata tak terlalu susah menemukan makanan halal di Taipei.

Siapa yang tak kenal dengan Shinlin, stall makanan ringan yang hampir ada di setiap mal. Stall ini menjual ayam yang dipotong kecil-kecil lalu diberi bubuk bumbu dan dimakan dengan menggunakan tusuk sate. Atau bubble tea, minuman teh dicampur susu yang diberi topping buble jelly di dalamnya. Nah, kedua makanan tersebut adalah street food khas Taiwan, yang katanya wajib dicari saat berkunjung ke Taiwan.

Bagimana dengan kehalalannya? Untunglah sewaktu ke sana, saya ditemani oleh Sarah, adik ipar teman saya, yang sedang mengambil kuliah S2 di sana. Dialah yang menunjukkan di mana saya bisa membeli makanan halal di Taipei dan sekitarnya.

Baca juga: Lost in Translation in Taichung

Berikut beberapa restoran dan makanan halal di Taipei yang sempat saya cicipi.

1. Chang Beef Noodle Shop

Salah satu makanan yang wajib dicoba di Taipei adalah Beef Noodle, sejenis mie dengan kuah kaldu bening dan irisan daging. Di mana-mana bertebaran tempat makan beef noodle ini, tapi kebanyakan tak halal. Nah, Chang Beef Noodle Shop ini menghadirkan mi halal dengan kuah kaldu sapi. Rasanya lezat dan potongan daging sapinya empuk banget. Selain mie, mereka juga menyajikan pangsit isi daging rebus dan pangsit isi daging goreng.

Restoran ini terletak di No. 21, Yanping South Road, Zhongzheng District, Taipei City. Tak jauh dari Ximending area, pusat perbelanjaan anak muda Taipei. Di dinding restoran penuh dengan kaligrafi bertuliskan ayat AlQuran. Ada logo halalnya juga di depan pintu restorannya.

Beef Noodle Halal Taiwan

Makanan halal Taiwan
Di depannya dijual banyak camilan, tapi saya ga coba sih..

 

2. Fried Chicken Master Gongguan Night Market

Sarah mengajak saya ke salah satu night market kecil dekat kampusnya. Gongguan Night Market namanya. Di sini ada beberapa stall makanan, salah satunya Fried Chicken Master. Restoran fast food ala Taiwan ini memiliki sertifikat halal dari komunitas muslim Tiongkok. Di sana ada taiwanese street food yang tersohor, seperti chicken fillet, chicken pop corn, kentang goreng, dan sebagainya.

Image result for fried chicken master gongguan
Makanan-makanan di Friend Chicken Master. Foto ambil dari DanielFoodDiary.com. Lupa foto-foto saking lapernya

Fried Chicken Master ini beralamat di No. 158, Sec. 3,Tingzhou Road, Zhongzheng District, Taipei. Letaknya satu blok di seberang Gongguan Station. Restoran ini ada di beberapa cabang, tapi yang saya coba adalah di sini. Dan restoran ini ga punya tempat duduk, jadi cuma bisa takeaway ya..

3. At Taqwa Musolla and Restaurant di Ruifang

Ini sebenarnya bukan berada di wilayah Taipei, tapi sudah di wilayah Ruifang. Saya mampir ke sini sebelum menuju Juifen. Restoran ini letaknya sekitar 500m dari Stasiun Kereta Ruifang. Mesti berjalan kaki memang, namun sepanjang jalan menuju restoran ini akan ada deretan toko yang menarik buat dilihat. Dari luar tampilan restoran ini memang tidak terlalu mengesankan, sangat sederhana. Makanan yang tersedia juga sangat sederhana, yakni baso, indomi, telur dadar, ikan goreng, dan beberapa makanan Indonesia lain. Tapi lumayan lah buat mengisi perut sebelum datang ke Jiufen Old Street.

Di sini juga tersedia musala, jadi bisa numpang selonjoran kalau capek. Dan ada juga barang-barang merek dari indonesia. Kalau akan menuju Jiufen Old Street menggunakan bus, setelah makan tinggal menyebrang ke perempatan di dekatnya. Di depan warung kecil ada tempat perhentian bus menuju Jiufen.

Lokasi restoran halal di Ruifang
Lokasi restoran halal di Ruifang

Baca juga: Jajanan Halal di Night Market Taipei