Pengalaman Tes PCR Swab Mandiri di RS Tria Dipa

Dua hari lalu, saya memutuskan untuk melakukan tes Swab / PCR secara mandiri di RS Tria Dipa Pancoran, Jaksel.

Dua hari lalu, saya memutuskan untuk melakukan tes Swab / PCR secara mandiri di RS Tria Dipa Pancoran, Jaksel.

Nggak. Saya nggak menunjukkan gejala sakit sama sekali. Saya juga tak habis berpergian ke luar kota, bahkan saya juga nggak keluar rumah kecuali ke minimarket dekat rumah. Saya tak berkumpul dengan teman-teman, menghindari ke mal dan cafe, bahkan saya menolak datang ke event berbayar.

Semuanya work from home.

Adik Saya Dokter yang Positif Covid

Saya memutuskan melakukan PCR Swab Test karena adik ipar saya, yang bertugas sebagai dokter di salah satu rumah sakit pemerintah, positif terkena covid tiga hari lalu.

Ia juga tak menunjukkan gejala apa-apa, ia dalam kondisi prima. Namun karena ia seorang dokter yang menangani pasien covid, ia mesti rutin melakukan tes swab. Hasil tes sebelumnya negatif, namun hasil tes terakhirnya yang baru keluar tiga hari lalu itu, menyatakan ia positif covid.

Adik ipar saya ini tidak tinggal bersama saya dan ibu saya, ia tinggal di tempat lain yang jauh dari rumah saya. Tapi empat hari lalu, sebelum hasil swabnya keluar, ia main ke rumah.

Ia sebenarnya sudah menjalankan protokol ketat ketika di rumah saya. Ia menggunakan masker medis, ditambah lagi dengan face shield. Setiap beberapa saat sekali ia mengusapkan antiseptik di tangannya.

Ia juga duduk cukup jauh dan berusaha tidak menyentuh apapun di rumah. Namun begitu ia dinyatakan positif, ia meminta saya untuk melakukan tes swab untuk memastikan saya tak membawa virus ini di tubuh saya.

Tes Swab di RS Tria Dipa

Dari hasil gugling, saya mendapatkan banyak tempat untuk tes swab. Bisa dilihat di sini untuk lokasi tes swab.

Baca Juga: Tempat Swab di Jakarta

Dari semua pilihan itu akhirnya saya memutuskan untuk melakukannya di RS Tria Dipa, dengan pertimbangan lokasi yang dekat rumah dan tak banyak pasien seperti di rumah sakit lain. Saya memang masih parno kalau banyak pasien suspect di RS.

Biayanya memang cukup mahal, 1,95 juta rupiah untuk tes dengan hasil yang baru bisa diambil dua hari setelahnya. Tapi demi kesehatan, ya mau ga mau dilakukan.

Nah, sebelum tes swab, saya harus membuat janji dengan dokter THT lewat telepon. Ada dua slot tes, yakni di pukul 10 pagi dan pukul 5 sore. Saya kebagian slot pukul 5 sore.

Sampai Keluar Air Mata

Tepat pukul 5 kurang 5, saya sampai di sana. Setelah mengisi data-data yang di formulir yang isinya apakah saya memiliki gejala dan riwayat kontak dengan pasien covid, saya diminta menunggu.

Ternyata saya mesti menunggu 45 menit. Baru di pukul 05.45 dokter datang, setelah saya protes beberapa kali. Pastinya saya protes karena saya sengaja datang tepat waktu agar tak menunggu lama di RS.

Si dokter berganti dengan setelan APD lengkap, kemudian ia mengajak saya ke ruangan khusus untuk tes swab.

Di ruangan itu ada sebuah dua buah meja. Satu meja biasa, dan satu lagi meja berbentuk U yang bagian atasnya diberi kaca. Mirip meja kasir. Di kaca itu ada dua lubang, yang ternyata berguna untuk memasukkan tangan si dokter ketika mengambil sampel.

Proses pengambilan sampel cepat, tapi lumayan sakit buat saya. Kedua lubang hidung saya dimasukkan alat mirip cotton bud panjang, teruus dimasukkan hingga ke bagian dalam. Lumayan sakit, sakitnya mirip dengan kalau kita tersedak air di hidung dan masuk ke pangkal dekat mata.

Hal yang sama dilakukan juga di tenggorokan, lewat mulut. Saya sampai keluar air mata saat di swab.

Oya, hasilnya baru akan saya ketahui sore ini atau besok pagi. Semoga negatif!!

Update: Alhamdulillah hasilnya negatif. Bahkan adik ipar dan adik saya pun hasilnya negatif. Katanya sih, kemungkinan virus di tubuh mereka sudah inaktif.