Mati Lampu di MBK

Walaupun dua hari yang lalu gue udah mengunjungi MBK, kali ini gue kembali lagi ke tempat ini. Alasan pertama, MBK langsung terhubung dengan stasiun skytrain (jadi ga perlu ujan-ujanan). Alasan kedua, katanya di tempat ini ada foodcourt yang enak dan lengkap.

Begitu menginjakan kaki di MBK gue sempet bingung, kok…gelap banget ya. Oalah, ternyata mati lampu, bo. Gue ga sangka, mal segede itu bisa mati lampu juga. Padahal di Jakarta (yang terkenal banget sering mati lampu), gue nggak pernah ngalamin mati lampu di mal.

Tapi kita tetep nekat masuk ke dalam mal(disamping karena dah laper dan males bergerak sih). Untung mati lampunya nggak lama, jadi kita bisa meneruskan rencana awal untuk santap siang di MBK.

Nasi Biryani ala Thai (MBK Foodcourt)

Menurut buku lonely planet yang jadi pegangan gue, MBK foodcourt tuh: “it’s lot like having all your favorite street vendors in one place”. Kesannya kan, ni tempat gedeee banget. Tapi ternyata, ga lebih gede dari foodcourtnya Plangi or Sensi ;D.

Di sini ada beberapa makanan berlabel “halal”. Ada makanan melayu, ada makanan Mesir. Gue milih makanan India: nasi biryani. Gue emang jatuh cinta ama nasi ini sejak pertama kali makan di Food Republic, Singapura, beberapa tahun lalu. Jadi, dengan semangat ‘45 gue datengin mbak-mbak bertampang India penjual nasi biryani, yang sama sekali nggak ngerti bahasa Inggris. Gue dah nyebayangin rasa nasi yang pedes dan berbumbu banget, tapi begitu suapan pertama masuk ke mulut, gue kecewa berat: nasi biryani ala Thai ini bener-bener nggak enak. Rasanya tawar banget, ga seperti nasi biryani di Sing yang kaya banget ama rempah-rempah.

Butik-Butik Lucu di Siam Square

Karena waktu sangat terbatas, gue nggak bisa melawat ke mal-mal lain selain MBK. Tapi di perjalanan menuju stasiun skytrain Siam, gue dkk menyempatkan diri mampir di Siam Square.

Siam Square ini terdiri atas butik-butik kecil yang menawarkan baju yang lucu-lucu banget dan nggak terlalu mahal . Sayangnya, bajunya rata-rata berukuran super “S” alias kecil banget dan pastinya nggak muat di gue. Kayaknya, ini tempat para mahasiswa nongkrong, karena di sini deket banget ama Chulalongkorn University, yang menurut ceritanya Phi, adalah universitas tertua di Bangkok.

Bukti lain kalo Siam Square ini adalah pusat nongkrong anak-anak muda Bangkok adalah didirikannya Hard Rock Café di tempat ini. Dari segi bangunan, Hard Rock Café di sini jauuuh kalah ama Hard Rock Café di Jakarta, apalagi ama Hard Rock Café Bali. Gue nggak akan nyangka itu sebuah café kalo nggak ada tulisan gede-gede di atasnya. Soalnya, bangunannya biasaaaa banget. Tapi entah kenapa, Nat dan Phi bangga banget ama Hard Rock Café. Waktu lewat tempat ini tempo hari, mereka dengan semangatnya (dan kompak pula) meneriakkan nama tempat ini .

Lihat Bangkok dari Atas

Untuk menuju ke Golden Mountain alias Wat Saket, gue menggunakan taksi. Susah banget ngejelasin apa maunya gue dkk ke supir taksi, karena dia ngga mengerti bahasa Inggris sedikit pun. Kc akhirnya punya trik jitu. Dia kasih liat gambar Golden Mountain ke supir taksi. Baru deh, si supir ngangguk-ngangguk tanda mengerti.

Golden Mountain berada di kawasan Wat Saket, yang kayaknya adalah tempat pendidikan para biksu. Walaupun namanya “mountain”, tempat ini bukanlah sebuah gunung atau bukit. Golden Mountain adalah sebuah bangunan yang sengaja dibuat amat tinggi. Bukit buatan yang pada masanya adalah bangunan tertinggi di Bangkok ini dulu sering digunakan keluarga kerjaan untuk bermeditasi.

Untuk mencapai puncak bangunan, kita harus melewati puluhan anak tangga yang melingkari bangunan. Begitu dekat dengan puncak, terlihat deretan bel-bel besar yang harus dibunyikan umat Budha ketika melewatinya. Konon, bel-bel ini akan mengirimkan pesan-pesan dari manusia di bumi ke roh-roh yang ada di surga.

Di bagian paling atas Golden Mountain, terdapat stupa berwarna emas. Dari sini, kita bisa memandang kota Bangkok dari atas. Mirip-mirip kalo naik ke atas monas: berangin dan panass..

Tuk..Tuk…Kebuuut

Kurang afdol rasanya kalo ke Thailand nggak mencoba naik Tuk-Tuk, kendaraan khas Thai yang udah jadi ikon pariwisata mereka. Kalo menurut gue, tuk-tuk sebenernya persilangan antara bemo ama bajaj. Bentuk luarnya kayak bemo, tapi duduknya ngadep ke sopir, jadi kayak bajaj.

Ada kejadian lucu ketika gue dkk naik tuk-tuk ini. Sang sopir (bapak-bapak tua peranakan China), minta harga 80 bath. Kc nawar 60 bath, yang akhirnya disetujuin si sopir (ditandai dengan anggukan). Tapi…udah lama kita duduk di dalem tuk-tuk, kendaraan ini nggak jalan-jalan juga. Pas gue liat ke dapan, si sopir ternyata lagi sibuk nulis-nulis sesuatu. Nggak lama kemudian, si bapak tua itu berbalik menghadap kita dan menunjukkan telapak tangannya. Dan ternyata… di telapak tangannya itu ada tulisan “60”, dan beberapa tulisan lain yang dicoret-coret. Oalah…ternyata dari tadi si bapak sibuk menuliskan harga toh.

Setelah gue dkk mengangguk tanda setuju dengan tulisan si bapak, langsung dia tancap gas. Bener-bener tancap gas alis ngebut. Gila bener… tadinya gue berniat moto sambil naik tuk-tuk, tapi berhubung gue mesti pegangan kenceng-kenceng biar nggak mental ke luar, niat moto-moto terpaksa harus gue lupakan.

Skytrain dan Subway

Bangkok identik dengan polusi dan kemacetan. Karena itulah, pemerintah langsung membangun infrastruktur di bidang angkutan. Tahun 1998, dibangun skytrain (BTS) dan subway (MRT)di tengah kota. Walaupun belum menjangkau seluruh tempat, skytrain dan subway ini bisa mengantar turis-turis macam gue, ke tempat-tempat di Bangkok, tanpa harus menghabiskan waktu lama.

MRT-nya mirip banget ama MRT di Singapura. Cepat, bersih dan canggih. Walaupun katanya orang-orang Thai mirip ama orang Indonesia yang super jorok, nggak ada tuh yang namanya sampah ataupun coretan-coretan di dinding MRT.

Sebelum masuk ke stasiun MRT, ada petugas yang memeriksa tas. Kalau hujan turun, disediakan plastik untuk payung (dan wajib dipake) supaya lantai stasiun nggak becek. Di sini juga dilarang makan dan minum, duduk-duduk di lantai, dan motret (yang terakhir ini nggak gue pahami tujuannya).

MRT ini akan terhubung dengan BTS di beberapa titik. Jadi, tempat-tempat yang nggak mungkin dibuat MRT, diganti dengan BTS. Untuk menuju stasiun BTS dari MRT, nggak perlu becek-becek apalagi naik ojek, karena selalu tersedia jalur khusus yang adem.

Sayangnya, Khoasan Road dan kota lamanya nggak terhubung dengan BTS ataupun MRT. Jadi kalau gue mau naik MRT, gue mesti naik taksi ke Hualampong atau naik perahu ke Saphan Taksin.

Masjid Agung Cirebon. Penuh Cerita, Penuh Makna

Alkisah, saat masjid Cirebon hampir selesai didirikan, datanglah utusan dari Mataram Kuno bernama Menjangan Wulung. Lantaran tidak menyukai agama Islam, ia ingin menggagalkan pembuatan masjid itu. Ia lalu naik ke kubah masjid dan menyebarkan mantera yang menyebabkan kematian 3 muazin (tukang azan).

Ratu Mas Kadilangu, raja yang berkuasa saat itu, meminta para wali songo untuk menghentikan mantera itu. Sesudah bertarekat dan meminta pentujuk dari Allah, Sunan Kalijaga lantas menitahkan tujuh muazin untuk melantunkan azan secara bersamaan. Menurut cerita, pada waktu azan subuh dikumandangkan, dari kubah masjid terdengar ledakan; kubah hancur dan mantera Menjangan pun bisa dilumpuhkan. Ada juga yang mengatakan kubahnya terpental ke Masjid Agung Banten, yang menyebabkan Masjid Agung Banten memiliki dua kubah kembar. Karena itu, sampai sekarang, kumandang azan selalu dilakukan oleh tujuh orang muazin (azin pitu).

Versi yang lain mengatakan, dulu ada wabah penyakit ganas yang melanda kota Cirebon. Untuk membasminya, Panembahan Ratu -raja yang memerintah saat itu- melepaskan tongkat saktinya. Secara tak sengaja, tongkat itu mengenai kubah masjid hingga kubahnya pun runtuh. Sejak saat itulah, masjid Cirebon tidak memiliki kubah lagi.

Dua kisah itu, yang menceritakan kenapa masjid Cirebon tak berkubah, hanya sebagian dari cerita dan mitos yang menggambarkan “keunikan” Masjid Cirebon, salah satu masjid tertua di Jawa. Masih banyak mitos dan cerita lain yang mengiringi masjid yang dikenal juga sebagai Masjid Sang Cipta Rasa.

Dibuat dalam Semalam
Masjid Sang Cipta Rasa, Masjid Agung Kasepuhan, atau Masjid Agung Cirebon terletak 100 meter barat laut Keraton Kasepuhan. Masjid ini dibangun setelah masjid Demak, yakni sekitar tahun 1489 Masehi atau ketika Sunan Gunung Jati berusia sekitar 41 tahun. Konon, menurut cerita rakyat setempat, pembangunan mesjid ini hanya memakan waktu satu malam; pada waktu subuh keesokan harinya telah dipergunakan untuk shalat Subuh.

Sunan Kalijaga yang bertindak sebagai penanggungjawab meminta Raden Sepat, arsitek dari Majapahit, membuat gambar dan ruang-ruang masjid. Raden Sepat merancang ruang utama masjid berbentuk bujur sangkar dengan luas 400 meter persegi dengan kemiringan 30 derajat arah barat laut.

Tak seperti masjid Demak dan Kudus, masjid ini tak memiliki menara. Ada alasan kuat kenapa menara tak dibuat. Pada saat itu, ketika muazin mengumandangkan azan, mau tak mau ia harus naik ke atas menara. Hal tersebut dianggap tabu dan bertentangan dengan adat Jawa yang melarang orang biasa duduk atau berdiri lebih tinggi dari raja.

Perpaduan Islam dan Jawa

Masjid ini terdiri dari lima ruang: 1 ruang utama, 3 serambi, dan 1 ruang belakang. Ruang utama Masjid Agung Cirebon dikelilingi oleh dinding bata setebal ½ meter dan memiliki sembilan pintu. Sembilan pintu itu melambangkan Wali Songo, 9 wali yang menyebarkan Islam di tanah Jawa. Pintu utama berukuran normal, terletak di timur. Delapan lainnya di samping kiri dan kanan, dengan tinggi sekira 1 meter. Pintu setinggi 1 meter ini akan “memaksa” orang membungkuk ketika melewatinya. Hal ini disengaja, sebagai simbol dari sifat rendah hati, sopan santun, dan hormat-menghormati.

Selain banyak menggunakan filsafat dari ajaran Islam, masjid ini juga mengadaptasi budaya Jawa dan Hindu. Hal itu tercermin dari atapnya yang berbentuk limas bersusun tiga. Terlepas dari mitos dan cerita yang ada, atap limas merupakan adaptasi dari atap Joglo yang banyak digunakan di rumah-rumah tradisional Jawa. Selain itu, pintu gerbang utama berbentuk seperti paduraksa (gapura beratap), yang banyak terdapat pada pintu masuk candi di Jawa, antara lain Candi Bantar.

Sayangnya, kini keadaan masjid yang pernah menjadi pusat penyebaran agama Islam di Jawa Barat ini kurang terawat. Padahal dulu, ketika akan meninggal, Sunan Gunung Jati berpesan pada rakyat Cirebon, “Ingsun titip tajug lan fakir miskin (Saya titip surau ini dan fakir miskin).”