Pengalaman Memperpanjang SIM di Mal Pelayanan Publik

Saya datang lagi ke Mal Pelayanan Publik di Rasuna Said, Kuningan. Dulu untuk memperpanjang paspor, kini kembali untuk memperpanjang SIM. Nyaman ternyata memperpanjang SIM di Mal Pelayanan Publik.

Saya datang lagi ke Mal Pelayanan Publik di Rasuna Said, Kuningan. Dulu untuk memperpanjang paspor, kini kembali untuk memperpanjang SIM. Nyaman ternyata memperpanjang SIM di Mal Pelayanan Publik.

 

Kedua SIM saya habis masa berlakunya akhir Juli ini. Untung saya keburu sadar di awal bulan dan segera memperpanjangnya.

Setelah bertanya sana-sini, salah satu teman menyarankan untuk memperpanjang SIM secara online melalui SITUS RESMI INI. Katanya, jalurnya khusus, lebih cepat dibanding SIM manual, dan  tak ribet. Saya manut. Mendaftarlah saya lewat situs online itu.

Ternyata, situsnya bermasalah. Berkali-kali error saat akan membayar hingga akhirnya, setelah belasan kali mencoba, berhasil tembus juga. Untuk lokasi, saya pilih di Satpas Jaksel yang terdekat dengan rumah. FYI, untuk SIM Online ini hanya bisa dilakukan di Polres saja, tak bisa dilakukan di SIM Keliling atau Mal Pelayanan Publik.

Singkat cerita, saya berhasil mendapatkan antrian dan registrasi SIM. Tapiii…….setelah saya print, lokasinya berubah menjadi Satpas Polda Metro di Daan Mogot.

Yassalam, jauh aja.

Daripada saya mesti jauh-jauh ke sana, saya akhirnya membatalkan registrasi itu dan memutuskan untuk memperpanjang SIM secara manual di Mal Pelayanan Publik di Rasuna Said.

Alasan saya memilih tempat ini adalah lokasinya yang dekat dengan rumah. Lagipula tempatnya nyaman dan adem. Tak mesti panas-panasan seperti halnya di SIM Keliling atau di Satpas lainnya.

Baca Juga: Begini Caranya Membuat Paspor di Mal Pelayanan Publik, Hanya 30 Menit!


Ternyata Antriannya Panjang!

Saya datang pukul 07.30. Di pintu gerbang, satpam meminta KTP dan SIM yang akan diperpanjang, dan menukarnya dengan nomor antrian. Saya mendapat antrian nomor 39. Lumayan.

Menurut Pak Satpam, selama pandemi ini jumlah pengunjung dibatasi sehingga setiap harinya hanya ada jatah 50 nomer antrian. Saya termasuk datang tepat waktu; tidak terlalu pagi dan tidak terlalu siang. Sedikit saja saya datang terlambat, nomer antrian akan habis.

nomer antrian SIM di Mal Pelayanan Publik

Pak Satpam menyarankan agar saya ngaso dulu di Pasar Festival, lalu kembali jam sepuluh. “Daripada duduk kepanasan di luar pagar, Mbak,” katanya sambil menunjuk bangku panjang tempat menunggu. Memang panas dan jumlahnya sedikit. Di dalam pagar sebenarnya ada lagi deretan bangku, yang lebih adem karena terlindungi sinar matahari, namun saya belum boleh masuk karena nomer antrian saya masih jauh. 

Akhirnya, daripada bengong, saya menunggu di kantin di sebelah Gedung Nyi Ageng Serang, minum segelas jus mangga yang ternyata harganya lumayan mahal.

Pukul 10 teng, saya datang lagi sesuai pesan Pak Satpam. Ternyata, antrian masih ada di nomor 20-30, masih jauh. Saya diminta duduk menunggu di bangku antrian di dalam yang sudah diatur agar tak terlalu rapat. Oiya, sebelum masuk tadi, saya dicek suhu.

nomer antrian SIM di Mal Pelayanan Publik
bangku tunggu di Mal Pelayanan Publik
bangku tunggu di Mal Pelayanan Publik
Wastafel di Mal Pelayanan Publik

Pukul 10.30, nomer antrian saya dipanggil. Sebelum masuk, semua orang diwajibkan mencuci tangan di drum yang diubah menjadi wastafel. “Tak boleh masuk kalau belum cuci tangan,” begitu kata petugas di depan pintu.


Ini Syarat Perpanjangan SIM

Pusat pelayanan SIM dan STNK ada di lantai 3,  di sebelah loket pelayanan Samsat STNK. Begitu sampai di atas, petugas akan menyerahkan formulir, yang setelah selesai diisi, bisa langsung dikembalikan.

Pembayaran juga dilakukan di situ. Untuk SIM A harganya Rp80.000, SIM C Rp75.000, plus biaya pemeriksaan kesehatan sebesar Rp30.000 per SIM. Total yang harus saya bayarkan sebesar 215.000 rupiah.

Walaupun ada biaya pemeriksaan kesehatan, namun ternyata tidak ada pemeriksaan sama sekali.

Oiya, ini syarat perpanjangan SIM

  1. SIM asli dan fotokopi. Walau di sana ga diminta juga ternyata fotokopiannya.
  2. KTP Asli dan fotokopi

Setelah formulir diserahkan, tinggal menunggu giliran di foto. Nah, ini saat paling mendebarkan dalam pembuatan SIM. Foto SIM saya selalu gagal, tak pernah bagus. Ditambah lagi di sini tak ada kaca, jilbab berantakan setelah pakai masker, ditambah lagi saya kelamaan menunggu di luar.

Ya, sudah lah,  pasrah saja.

IMG_20200706_113539
Tempat duduk di Mal Pelayanan Publik. Empuk !!

Setelah foto, saya tinggal menunggu SIM selesai di sofa empuk yang banyak tersedia di sana. Sofanya sudah disesuaikan dengan perintah social distancing; di beberapa tempat diberi tanda silang untuk mencegah orang duduk di situ.

Setengah jam kemudian, SIM saya kelar. Dan benar saja, fotonya kacau balau! Untung nggak perlu diliat tiap hari, dikekep aja di dompet deh.

Empat Hal yang Bikin Saya Kangen Pekanbaru

Pekanbaru memang bukan tujuan wisata utama, karena orang yang datang ke sini kebanyakan ingin transit sebelum melanjutkan perjalanan menuju kota lain di Riau.

Namun banyak tempat yang dapat dikunjungi yang bikin saya kangen untuk datang lagi ke sini.

Pandemi virus Corona yang melanda dunia termasuk Indonesia membuat semua hal jadi tertunda. Termasuk rencana travelling saya ke salah satu kota di Sumatera, Pekanbaru, yang harus ditunda sampai situasi memungkinkan untuk ke sana.

Ini bukan kali pertama saya ke Pekanbaru. Saya pernah menginjakkan kaki saya di sana dua tahun lalu, dalam rangka tugas dari kantor untuk mewawancarai Bapak Walikota Pekanbaru, Bapak Firdaus, ST. Setelah tugas wawancara kelar, saya memperpanjang cuti saya di sana dan mengeksplor Pekanbaru seorang diri. Tawaran dari staf kantor Walikota untuk menemani saya berkeliling saya tolak, saya khawatir tak menikmati Pekanbaru seutuhnya jika ditemani resmi seperti itu.


Dari hasil obrolan saya dengan Walikota, saya diberitahu sedikit sejarah Pekanbaru. Awalnya, Pekanbaru ini bernama Senapelan yang dikepalai oleh seorang kepala dusun. Kepala dusun ini membuat sebuah pasar di akhir pekan, namun tidak berhasil karena jarang penduduk yang datang. Kemudian, sang anak yang meneruskan tahta, memindahkan lokasi pasar ke dekat pelabuhan. Pasar  yang baru itu dikenal dengan nama pasar Pekan Baharu. Nama inilah yang kemudian dikenal dan menjadi cikal bakal nama Pekanbaru.

Kota yang terletak di tepi Sungai Siak ini dulu menjadi tempat singgah kapal-kapal Belanda yang tak bisa merapat ke daerah Siak. Karena sering disinggahi kapal, Pekanbaru pun berkembang menjadi kota pelabuhan yang punya peranan penting di lintas perdagangan di Sumatera.

Menurut Pak Wali lagi, pada tahun 1958, Pemerintah Indonesia menetapkan Pekanbaru sebagai ibukota Provinsi Riau. Ini menyebabkan Pekanbaru jadi pusat perdagangan dan ekonomi yang penting di Provinsi Riau. Hingga sekarang ini.


Ketika saya akan mengeksplor Pekanbaru, banyak yang bilang kalau kota ini tak punya hal menarik untuk didatangi. Pekanbaru memang bukan tujuan wisata utama, karena seperti yang dijelaskan oleh Pak Wali ke saya, orang yang datang ke sini kebanyakan ingin transit sebelum melanjutkan perjalanan menuju kota lain di Riau.

Namun bukan berarti saya tak bisa bersenang-senang di sana. Ada beberapa tempat yang dapat dikunjungi dan ada beberapa hal mengasyikkan yang bikin saya kangen untuk datang lagi ke sini.

Sarapan di Warung Kopi Kim Teng

Warung kopi ini sangat terkenal sehingga semua orang, bahkan Pak Walikota pun, menyarankan saya untuk ke sini. Katanya, belum ke Pekanbaru kalau belum sarapan di Kimteng. Saya bukan pencinta kopi, tapi saya jadi penasaran, kenapa sih saya disarankan untuk ke sini. 

Alhasil, pagi-pagi sekali, dari hotel di Pekanbaru, saya sudah bergerak ke sana untuk sarapan. Warung kopi ini memang sudah buka sejak pukul 7 pagi. Saya kira, saya orang pertama yang datang ke sana. Tapi ternyata, ketika saya sampai sana, kedai sudah penuh. Benar-benar penuh. Hanya tersisa beberapa meja, itupun sudah direservasi orang.

Kedai ini memang bukan sekadar tempat nongkrong dan minum kopi, tapi juga sudah menjadi tempat transaksi bahkan tempat meeting. “Ngopinya secangkir, ngobrolnya di sana dua jam,” begitu ungkapan Pak Walikota.

Untungnya, ada meja kosong untuk saya. Di pojokan, di mana saya bisa mengamati keseluruhan kedai ini. Kedainya cukup besar, sepertinya baru dipugar. Di dindingnya banyak terdapat foto-foto para pesohor yang pernah datang ke sini. Di sebelah kanan terdapat foto perjalanan kedai Kimteng, yang ternyata sudah berdiri sejak lama.

Dari yang saya baca, nama “Kimteng” sendiri berasal dari nama Tang Kimteng. Ia seorang keturunan Tionghoa kelahiran Singapura yang sejak tahun 1940-an sudah menjadi tentara Indonesia di Sumatera. Setelah merdeka, Kimteng ikut berjualan di kedai kakaknya. Lalu pada tahun 1950-an, ia  membuka Kedai Kopi Segar di rumahnya, di dalam gang dekat pelabuhan Pelindo. Lama kelamaan, kedai ini berkembang dan kemudian diteruskan oleh sang cucu. Kedai kopi Segar ini pun lebih dikenal dengan nama Kim Teng dan nama ini bertahan hingga sekarang.

Menu andalan KimTeng ini adalah kopi hitam dan roti srikaya. Saya, yang tak biasa meminum kopi, sok-sokan mencoba kopi ini. Alhasil, sampai malam buta, saya masih merasakan efeknya. Jantung saya berdebar kencang, mata saya tak bisa terpejam. Memang, menurut teman-teman saya, kopinya cukup kuat bahkan untuk orang yang biasa meminum kopi sekalipun.

DSCF5682

DSCF5687
Kopi dan Roti Srikaya yang mankyuss. Selai srikaya-nya dan kopi bubuknya dijual juga seharga 35ribu/jar.

Kulineran Malam di Jalan Sudirman

Saat saya tanya apa yang saya bisa lakukan di malam hari di Pekanbaru, semua orang menjawab, “kulineran aja ke Jalan Sudirman.” Saya agak sangsi sebenarnya, mengingat di siang hari sebelumnya saya sudah datang ke sana dan cuma ada mal dan pertokoan saja.  Jalan Sudirman ini memang jalan utama di Pekanbaru. Selain mal, ruko-ruko, di sini banyak hotel, mulai dari hotel berbintang sampai hotel murah di Pekanbaru. 

Di mana kulinerannya? Malas ah kalau ke mal. 

Ternyata, di malam hari, Jalan Sudirman berubah menjadi sentra kuliner. Beragam kuliner khas Pekanbaru bisa saya temukan di sini. Ada yang menjual roti bakar hingga makanan Padang. Uniknya, jika di Jakarta ataupun di kota lain warung nasi padang biasanya berupa toko atau warung khusus, di sini warung padang berupa tenda tidak permanen. Masakannya dimasak dan diletakkan di gerobak, mirip tukang nasi goreng di dekat rumah saya.

Di jalan ini juga ada sate padang yang terkenal dan banyak direkomendasikan orang-orang, yakni Sate Padang Bundo Kanduang. Dengan harga Rp19.000 saja, saya bisa menyantap seporsi sate padang yang maknyus.

Ada pula Martabak Mesir Radar Siang Malam. Martabak ala India ini memiliki isian daging yang tebal, dengan kulit martabaknya yang lembut, dan kuahnya yang terasa segar manis. Martabak terenak yang pernah saya coba.  Saking sukanya bahkan saya pesan dua!

DSCF5666
Salah satu sudut kuliner di Jalan Sudirman
DSCF5844
Sate Bundo Kanduang

Jalan-jalan Sore di Masjid Agung An-Nur

Sebelum kulineran di Jalan Sudirman, saya mampir dulu ke Masjid Raya Annur. Masjid yang juga dikenal dengan Masjid Agung Pekanbaru ini adalah masjid terbesar di Pekanbaru yang didesain dengan gaya arsitektur yang merupakan paduan gaya arsitektur Timur Tengah, Melayu, dan India. Katanya, masjid ini didaulat sebagai Taj Mahal Pekanbaru.

Saya penasaran. Masjid ini memang indah. Tapi yang saya suka, masjid kebanggaan masyarakat Pekanbaru ini bukan hanya jadi tempat beribadah, namun juga tempat berolahraga dan berkumpul masyarakat Pekanbaru. Ya, kalau datang ke sini menjelang sore seperti yang saya lakukan, di lapangan depan masjid banyak orang yang berolahraga, jalan-jalan sore, atau hanya duduk-duduk mencicipi kuliner kaki lima di sana.

Salah satu kuliner yang saya coba di kompleks Masjid An Nur adalah kerupuk siram. Ini jajanan khas Riau dan beberapa daerah di sekitarnya seperti Sumatera Barat. Kerupuk siram adalah kerupuk gendar yang terbuat dari ketan, di atasnya diberi bihun, dan kemudian disiram dengan saus padang. Harganya hanya sekitar 4000-5000 rupiah saja per buah. Murah meriah enak kenyang.

DSCF5643
Masjid Annur yang ramai
AgDMpDYRINJJZByps4PtrBBqmOx7OM6hibnvdzM9F0Os
Masjid Agung An-Nur

Membaca Perpustakaan HS Soeman

Ketika saya tanya ke salah seorang kawan arsitek soal bangunan menarik di Pekanbaru selain masjid raya, ia menyarankan untuk mendatangi bangunan ini. “Bangunan yang eye catching”, katanya.

Saya mengikuti sarannya. Memang benar. Selain masjid Agung Annur, ini adalah bangunan lainnya yang mampu menarik mata saya. Bangunannya berbeda dari sekelilingnya sehingga langsung terlihat dari kejauhan. Konon, bentuk perpustakaan ini diambil dari bentuk buku yang terbuka, namun ada juga yang berpendapat kalau bentuk bangunan ini terinspirasi dari lekar, meja tempat meletakkan Al Quran saat belajar mengaji. Riau memang kental dengan nuansa Islam sehingga mungkin saja unsur Islami dimasukkan ke perpustakaan ini.

Saya masuk ke dalamnya, sengaja ingin membaca buku di sana. Bagian dalamnya ternyata lumayan menarik, buku-bukunya cukup banyak. Di lantai dasar terdapat café dan di lantai paling atas terdapat deck; di sini saya bisa melihat Kota Pekanbaru dari ketinggian.

Di sekitar perpustakaan H.S Soeman juga ada bangunan-bangunan modern lainnya yang cukup menarik, seperti kantor Gubernur Riau dan kantor perwakilan Bank Indonesia. Tapi cuma bisa diliat dari luar aja ya.

Soeman_HS_Library,_Pekanbaru,_Indonesia
Tampak luarnya.
DSCF5894
Section anak-anak. Masih sepi karena saat itu masih jam sekolah.
Aj4wqFBhOfN2yXFZywYV_SSjvOZ-GJ2VIbIuT6a1jGAM (1)
section bacaan umum

Penginapan di Pekanbaru

Pekanbaru ternyata menarik kan? Saya saja ingin kembali ke sana lagi. Apalagi, Pekanbaru ini termasuk mudah untuk dijelajahi dengan angkutan umum. Ada ojek online, ada bus trans metro. Rute trans metro ini sudah bisa menjangkau beberapa tempat wisata, bahkan bisa menuju bandara Sultan Syarif Kasim II. Untuk area yang tak ada trans metro seperti Kimteng, bisa menggunakan angkot. Masyarakat Pekanbaru juga cukup ramah, mereka akan senang hati menjelaskan apa yang harus saya naiki untuk menuju tempat-tempat itu. 

Untuk urusan menginap pun tak sulit. Banyak hotel murah di Pekanbaru, yang terjangkau bujet saya. Beberapa di antaranya adalah hotel di bawah bendera Reddoorz. Harganya mulai dari dua ratus ribuan per kamar. Walaupun harganya terjangkau, hotel-hotel ini tetap nyaman ditempati. 


Semoga saja pandemi ini segera berakhir dan saya bisa menikmati lagi kehangatan kopi Kimteng, menikmati makanan khas Melayu dan merasakan suasana di Pekanbaru lagi. Aamiin…

12 Rekomendasi Restoran Halal di Rusia

Tidak sulit menemukan restoran restoran halal di Rusia.

Apa saja itu? Berikut daftar restoran halal di Moscow, Saint Petersburg, dan Kazan.

Ketika akan berangkat ke Rusia, saya sempat khawatir soal makanan halal. Saya pikir, akan sulit menemukan restoran halal di Rusia sehingga saya membekali diri dengan banyak mie instan.

Ternyata tidak. Jumlah umat muslim di Rusia cukup banyak, sekitar 15-20 persen dari total penduduk Rusia. Hal ini menyebabkan di tiap kota di Rusia, terutama kota besar, mudah ditemukan restoran halal.

Apa saja itu? Berikut daftar 12 restoran halal di tiga kota yang saya kunjungi di Rusia: Moscow, Saint Petersburg, dan Kazan.


Restoran Halal di Moscow

Di antara semua kota di Rusia, Moscow ini punya restoran halal paling banyak. Mungkin karena jumlah imigran muslim dari Uzbekistan dan negara stan lainnya di Moscow lebih banyak dibandingkan dengan kota lainnya.

1. Kantin di Moscow Cathedral Mosque

Restoran Halal di Rusia
Kantin di Moscow Cathedral Mosque

Ini restoran halal di Moscow yang menjadi favorit saya karena murah meriah enak. Rata-rata yang datang ke sini adalah warga lokal, sementara turis biasanya makan di  kafe yang ada di pojokan masjid.

Anehnya, harga makanan di kafe dua kali lipat daripada di kantin bawah. Padahal menurut info dari Mbak Susan, guide dan kawan saya di Moscow, kedua tempat ini punya dapur yang sama lho…

Semua makannya diletakkan di dalam etelase kaca sehingga saya bisa memilih langsung makanan yang saya suka. Tinggal tunjuk.

Ada untungnya sih makanannya disajikan di etalase begini, karena semua pelayannya tak bisa berbahasa Inggris. Dan menu yang ditulis besar-besar di dinding juga dalam bahasa Rusia. Yang hurufnya keriting ga jelas gitu.

Makanan yang tersedia di sini adalah makanan dari negara Stan. Ada plov, pasta, kentang dan lain-lain. Harganya mulai dari 150 rubel atau sekitar 30 ribu rupiah. Saya membeli kentang, pasta, dan daging sementara kawan saya membeli semacam sup plus pasta. Total pengeluaran kami berdua ditambah chai (teh) panas jadi 550 rubel atau sekitar 115 ribu rupiah.

Selain makanan utama, tersedia juga roti dan kue-kue manis untuk dessert. Saya tak mencoba ini, karena saya sudah terlalu kenyang makan pasta dan daging, plus kentang pula.

Alamat:  Pereulok Vypolzov, 7, Moscow, Russia, 129090 (jangan masuk ke dalam masjid, namun dari pintu gerbang lurus hingga menemukan tangga turun ke bawah).

2.  Toko Swalayan di Samping Moscow Cathedral Mosque

Restoran Halal di Moscow Rusia
Supermarket di sebelah Moscow Cathedral Mosque

Lokasinya persis di sebelah kantin. Di sini sebenarnya tempat penjual bahan makanan halal,  seperti daging, sosis, dan sebagainya. Namun mereka menyediakan juga roti dan martabak ala Uzbek, yang selalu jadi favorit saya saat menunggu kereta di Uzbek setahun silam.

Harga rotinya mulai dari 50 rubel atau sekitar 10 ribu rupiah. Lumayan buat bekal di jalan karena dijamin halal. Oya, di sini tak ada bangku atau kursi di sini, jadi roti dan kuenya hanya bisa dibawa alias di-take away.

Alamat:  Pereulok Vypolzov, 7, Moscow, Russia, 129090 (jangan masuk ke dalam masjid, namun dari pintu gerbang lurus hingga ke ujung).

3. Chaykhana Restaurant

Chaykhana, Restoran halal di Rusia
Chaykhana, Restoran halal di Rusia

Chaykhana Restaurant adalah restoran Uzbekistan yang ada di seberang Moscow Cathedral Mosque, di dekat lampu merah. Berbeda dengan masakan kantin di samping masjid, masakan di sini harganya lebih mahal. Jelas saja, ini restoran dengan interior yang cantik.

Menu andalannya adalah Plov dan Kebab. Beda dengan nasi plov yang biasa saya makan di Uzbekistan, nasi plov di sini berwarna kuning, dengan topping daging yang diletakkan di tengah, tidak dicampur dengan si nasi. Jangan tanya rasanya, karena bagi saya, semua nasi plov Uzbek enak rasanya.

Menu Chaykhana Restaurant
Menu yang saya pesan di Chaykhana Restaurant. Bawah: nasi plov, atas kiri lagma.

Chai (hot tea) mereka juga sangat enak, karena diberi palm sugar. Modifikasi sepertinya karena sewaktu di Uzbek, saya tak menemukan gula semacam ini. Saran saya sih, ga usah beli hot tea-nya. Mahal.

Btw, menunya ditulis dalam bahasa Rusia. Untungnya, saya agak familiar dengan makanan Uzbek, jadi bisa mengira-ngira apa makanan yang dimaksud di menu. Tapi kalau nggak paham, bisa lah minta bantuan dari mas Google Translate. 

Alamat: Ulitsa Shchepkina, 27, Moscow

Baca Juga: Solo Travelling ke Uzbekistan: Cinta dalam Sepotong Roti dan Segelas Ceri

4. Livan House

Ini adalah restoran asal Lebanon yang berada di area Red Square, Moscow. Lokasinya di dalam Mall Okhtony Ryad, mal di depan Hotel Four Season Okhtony Ryad.

Saya nggak mencoba makan di  sini, karena ketika saya akan ke sana, restoran ditutup karena covid-19. Namun restoran ini direkomendasikan oleh beberapa orang karena dekat dengan area Red Square.

Alamat: Mall Okhtony Ryad, di lantai -3 atau di lantai paling bawah, di area foodcourt.

5.  Sate di Izmailovo Market

restoran halal di Rusia
Sate halal di Izmailovo Rusia

Izmailovo Market adalah tempat untuk membeli oleh-oleh khas Rusia. Tapi ternyata di dalam pasar ini ada makanan halal juga, lho.

Makanannya berupa sate khas Kazakhtan, seperti sate ayam, salmon, jamur, kentang, domba, dll. Harganya sekitar 10-20 rubel per tusuk dan sudah termasuk roti dan minuman.

Alamat: Izmailovo Market, di sisi sebelah kanan.

Baca Juga: Ke Rusia Saat Corona: Sepinya Red Square

6. Cheburechnaya Khalyal / Чебуречная Халяль

Restoran ini lokasinya masih di area Izmailovo, namun bukan di dalam pasarnya. Ia berada di dekat stasiun Metro Partizanskaya.

Makanannya lagi-lagi adalah makanan Uzbek. Ya, rata-rata makanan halal di Moscow adalah makanan Uzbekistan. Bikin saya serasa kembali ke sana.

Saya juga tidak mencoba ini, namun tempat ini juga direkomendasikan banyak orang karena dekat dengan Hotel Alfa, Gamma, dan Beta yang jadi andalan turis Indonesia ketika berkunjung ke Moscow.

7. Kebab House

Terletak di dalam Mall Evropeyskiy, mall di area Kievskaya. Lokasi persisnya ada di lantai 4, area foodcourt. Selain di Mall Evropeyskiy, Kebab House ini juga ada di Arbat Street.


Restoran Halal di St Petersburg

Restoran  halal di St Petersburg tidak sebanyak restoran halal di Moscow. Dan karena Pandemi Covid-19 yang menyebabkan saya hampir tak bisa pulang, saya cuma mengunjungi dua restoran di sana.

8. Al Halal

Restoran Halal di St Petersburg Rusia
Tampak depan Al Halal St Petersburg

Restoran Al Halal ini berada di sebelah Saint Petersburg Mosque, kurang lebih sekitar 100m dari pintu keluarnya.  Makanan yang dijual di sini adalah makanan timur tengah seperti kebab/shawarma, namun mereka juga menjual daging halal dan berbagai barang dari Timur Tengah.

Pemilikrestoran Al Halal sangat ramah, saya sempat mengobrol dengannya. Ia  berasal dari Tangier, Maroko dan sudah belasan tahun menetap di Rusia. Saya juga  sempat menumpang solat di sana, karena masjid di sebelahya ditutup selama pandemi covid.

Restoran Halal St Petersburg Rusia
Bagian dalam Al Halal

Alamat: Kronverkskiy Prospekt, 9. Sekitar 100m ke sebelah kanan dari pintu masuk masjid.

9. Halal Cafe Brother

Saya tak datang ke sini, tapi sempat googling soal tempat ini. Halal Cafe Brat atau Halal Cafe Brother ini letaknya agak jauh dari destinasi wisata namun searah dengan stasiun kereta St Petersburg.

Halal Café Brat ini buka dari jam 11 pagi hingga 11 malam. Jenis makanan yang ditawarkan di kafe ini adalah menu tradisional ala Chechnya. Saya belum pernah coba sih makanan Chenchnya seperti apa, makanya kemarin sempat penasaran banget mau ke sini, tapi ya mesti digagalkan karena harus mengantar kawan saya ke bandara. 

Alamat: Mytninskaya Street No 31. Kalau dari Hermitage, sekitar 30 menit naik metro line 11.

10. Khalol Cafe

Khalol Cafe ini selalu muncul kalau saya gugling soal makanan halal di St Petersburg.  Saya juga tidak ke sini, namun ini direkomendasikan oleh beberapa situs.

Makananannya lagi-lagi makanan khas Uzbekistan. Memang, populasi masyarakat Uzbek di sini cukup banyak, yang membuat saya selalu diledek kawan-kawan saya: “ga move-on banget lo ama Uzbek”. Ya gimana yaa….

Tampatnya cukup besar dan terdapat musala di dalam restoran. Restoran ini sering jadi favorit banyak wisatawan muslim yang berkunjung karena selain menyajikan menu tradisional, harganya pun terjangkau.

Alamat: di Jalan Apraksin nomor 7, sekitar 1 km dari Kazan Kathedral.

Baca Juga: Restoran dan Makanan Halal di Bukit Bintang


Restoran Halal di Kazan

Kazan adalah wilayah khusus di Rusia yang didominasi muslim. Jumlah masjid di sini cukup banyak, sehingga tak sulit menemukan makanan halal di sini.

Saya membatalkan perjalanan saya ke Kazan karena harus balik secepatnya ke Indonesia, namun saya sempat mencari rekomendasi makanan halal di Kazan.

Jumlah yang saya tulis di sini memang hanya dua, karena itu yang banyak beredar di internet. Namun menurut kawan saya, banyak restoran kecil di dekat penginapan dan masjid  di Kazan yang menjual makanan halal.

Ini dia hasil rangkuman saya.

11. Chak Chak / Чак-чак

Chak-Chak adalah snack madu khas Tatarstan. Namun di kafe ini tidak hanya menjual snack tersebut namun juga terdapat makanan berat dan berbagai macam cake. Salah  satu cabangnya terletak di Bauman Street. Tokonya cukup enak untuk ngobrol karena tempatnya luas.

Alamat: Bauman St, 7/10

12. Tubatay / Тюбетей

Tubatay adalah resto makanan lokal dengan branch yang tersebar cukup banyak di Republik Tatarstan termasuk di Kazan. Modelnya semacam fast food chain yang terang, ramai, dan nyaman. Enaknya, semua menunya tersedia dalam bahasa Inggris sehingga mudah memilihnya.

Alamat: Kremlyovskaya St, 21, sekitar 600 meter dari Kazan Kremlin (Blue Mosque).


TIP

Makan Murah Meriah di Stolovaya

Stolovaya adalah kantin dalam versi Rusia. Berbeda dengan restoran yang makanan sesuai menu dan baru dimasak saat kita pesan, di Stolovaya makanan sudah tersaji.

Kita tinggal memilih mana yang cocok untuk kita. Mirip warteg atau warung padang lah kalau di Indonesia.

Tidak semua makanan di Stolovaya halal. Tapi mereka biasanya menjual salad, buah-buahan potong. Bisa pilih itu untuk amannya. 

17 Tip untuk Female Solo Traveler

Di tahun 2020 ini, Alhamdulillah saya telah menginjakkan kaki di 41 negara di dunia.

Hampir setengah negara itu saya kunjungi sendiri, alias solo travelling. Terakhir, setahun lalu, saya solo travelling selama sebulan ke Turki, Georgia, Azerbaijan, dan Uzbekistan. Simak tipnya di sini ya

0608-2019-073790341487907171925-01
Gur E Amir Moseloum, Samarkand

Di tahun 2020 ini, Alhamdulillah saya telah menginjakkan kaki di 41 negara di dunia. Suatu hal yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Hampir setengah negara itu saya kunjungi sendiri, alias solo travelling. Terakhir, setahun lalu, saya solo travelling selama sebulan ke Turki, Georgia, Azerbaijan, dan Uzbekistan.

Baca juga: Tip Backpacking ke Negara Kaukasus

Kok bisa? Gimana tip solo Travelling? Itu yang selalu ditanyakan ke saya.

Jujur, awalnya saya melakukan solo travelling itu karena terpaksa. Di tahun 2008, saya dapat undangan liputan dari salah satu hotel di Macau, dan karena saya kepingin banget ke Hongkong (yang cuma perlu naik ferry dari Macau), saya nekat sendirian ke Hongkong. Dari situ lah daya ketagihan buat solo travelling.

Enak ternyata.

Kenapa Doyan Solo Travelling?

Design by: canva

Saya bukan anti jalan rame-rame. Seringkali juga saya melakukannya. Tapi solo travelling ini semacam me time buat saya. Paling nggak, setahun sekali, saya mesti melakukannya sekali.

Menurut saya nih, banyak kelebihan solo travelling dibanding jalan sendirian.

1. Saya bebas banget nentuin jadwal perjalanan saya.

Ga mesti kompromi dengan teman perjalanan. Mau diam lama di satu tempat, bisa. Mau ganti destinasi di menit-menit terakhir, juga suka-suka saya.

Misalnya aja waktu saya solo travelling ke Eropa Timur tiga tahun lalu. Saya memutuskan ganti destinasi dari tadinya mau menjelajah Jerman dulu sebelum ke Eropa TImur, ganti menjadi menuju Barcelona demi melihat Sagrada Familia. Kalau ramean, mana mungkin keputusannya secepat itu.

2. Melatih saya untuk berkomunikasi dengan orang yang baru saya temui.

Dulu saya suka malas ngobrol sama orang lain apalagi yang baru kenal. Setelah solo travelling, saya lebih terbuka dan gampang ngobrol dengan orang baru.

3. Melatih mandiri pastinya dan ngelatih rasa percaya diri.

saat solo travelling, mau ga mau semua harus dikerjain sendiri. Jadi terbiasa ga bergantung pada orang lain.

4. Melatih buat mengambil keputusan dengan cepat.

Katanya, perusahaan di luar negeri ada yang minta riwayat solo travelling seseorang ketika melamar kerja lho, karena katanya yang bisa solo travelling adalah orang yang bisa jadi karakter kuat. Katanyaa…

5. Lebih fokus terhadap destinasi, dan kesempatan ketemu orang lokal lebih besar.

Kalau jalan rame-rame kan biasanya asik sendiri dengan grup, jadi ga berusaha interaksi dengan orang lokal. Kalau solo travelling, mau ga mau interaksi dengan orang lokal.

Ga Enaknya saat Solo Travelling

Ga enaknya saat solo travelling Juga ada pastinya.

1.  Ga ada yang motoin.

Walau pake tripod, susah juga kadang-kadang. Kalau ada teman bisa diminta tolong untuk foto berbagai angle, walaupun belum tentu hasilnya lebih bagus dari pake tripod sih…

2. Kekurangan lainnya adalah, ga bisa curhat kalau ada sesuatu hal yang bikin bete.

Dan kalau ada hal yang krusial, mesti dipecahin dan dipikirin sendiri. Seperti misalnya (amit-amit) ketinggalan pesawat. Kalau ada temen, kan bisa nangis bareng, kalau sendiri ya mesti nangis sendiri.

3. Yang paling sedih kalau ke tempat romantis.

Gimanaa gitu liat orang gandengan tangan, sementara saya cuma gandengan tas.

4. Kadang lebih mahal karena nggak bisa share cost.

Misalnya nih, saat saya ke Uzbekistan. Dari bandara ke tengah kota ga ada angkutan publik, mau ga mau naik taksi. Nah, karena sendirian, biaya taksi mesti saya tanggung sendiri. Beda kalau saya jalan berdua, ongkos taksi bisa dibagi dua.

Banyak pengalaman menyenangkan yang saya temui selama solo travelling, antara lain selalu dapat teman baru dari berbagai negara. Nah, agar gampang ketemu temen baru, saya senengnya nginep di dormitori yang satu kamar beramai-ramai, bukan kamar privat. Buat irit juga sih karena kamar privat harganya jauh lebih mahal.

Baca Juga: Solo Backpakcing ke Azerbaijan: Ditolak Cewek Ukraina di Penginapan

Saat solo travelling, alhamdulillah saya juga sering mendapat bantuan dari orang yang baru saya kenal. Di Hongkong misalnya, saya ditraktir makan oleh TKW dan di Macau saya diajak ke markas mereka yang rahasia (karena byk TKW ilegalnya). Deg-degan abis, takut saya ikutan ketangkep karena lagi banyak razia saat itu. Di Uzbekistan, sering dapat makanan gratis dari para pedagang di pasar. Banyak serunya.

Baca Juga: Wisata ke Macau: Masuk ke Markas TKW

Tip Solo Travelling

Tentu aja, saat solo Travelling, saya melakukan beberapa persiapan. Ini yang sebaiknya dilakukan:

1. Bikin itenerary sebaik mungkin.

Apalagi kalau baru awal-awal solo travelling. Bikin yang rinci, sampai ke biayanya. Ini yang ideal banget.

Sekarang ini, saya masih bikin itenerary walau ga detail banget. Itenerary saya sekarang ini biasanya  hanya berupa rincian kota mana yang saya tuju, naik apa ke sana, naik apa ke penginapan. Tujuan wisata di kota itu biasanya baru saya cari setibanya di penginapan, atau saat menunggu di airport.

2. Survey.

Cari tahu peraturan dasar di negara itu, terutama menyangkut traveler.

Misalnya, di Uzbekistan harus menginap di penginapan karena akan ditanyakan ketika keluar, atau misalnya di Jepang akan ada badai sehingga ada kemungkinan kereta dicancel, atau di Singapura nggak boleh lagi menginap di Airbnb karena dianggap ilegal dan bisa kena denda, dsb.

3. Install aplikasi yang membantu.

Biasanya saya pakai:
–  Google map dan movit buat nyari jalan
– Google translator buat nanya-nanya kalau datang ke negara yang bahasanya bukan Inggris
– Rome2rio untuk cari rute transportasi antarkota
– Beberapa aplikasi lokal di negara itu seperti naver map di korea, bus tracker di taiwan, dsb.
– Saya juga install aplikasi taksi online di negara itu, jaga-jaga kalau butuh taksi.

Baca juga: 8 Aplikasi yang Penting Saat Wisata ke Turki

4. Gugling kemungkinan scam/penipuan di destinasi tujuan.

Bisa liat di blog orang, atau di travelscam.org. Banyak scam di mana-mana.

Misalnya di Bangkok, seringnya ada supir tuk-tuk yang bilang Grand Palace tutup lalu diajak keliling naik tuk-tuk dan dipaksa beli barang di sebuah toko. Atau di Vietnam, penjual buah dengan ramahnya ngasih keranjangnya buat foto, dan kemudian si turis disuruh bayar mahal.

Atau di Paris ada scam pura-pura minta tandatangan dan akhirnya nyopet. Di Praha, ada penjual lukisan palsu yang pura-pura lukisannya terinjak turis dan minta ganti dengan harga mahal.

5. Install aplikasi safe travel dari kemenlu.

Di situ ada nomer telp penting yang bisa dihubungi. Oiya, catet juga nomer kbri/konsulat yang bisa dihubungi.

6. Beli SIM Card

Sekarang ini udah banyak banget sim card dan mifi yang bisa ngebantu biar ga nyasar dan gampang nyari informasi.

Bisa dibeli di indonesia (di tokopedia, klook.id, dsb) atau di negara tujuan. Harganya biasanya lebih murah beli di negara tujuan, tapi butuh waktu lagi untuk pasang-pasang di hape.

7. Tetap Waspada

Untuk keamanan, terutama cewe, jangan langsung mengiyakan ajakan jalan bareng dari orang yang baru dikenal di jalan. Apalagi di negara yang terkenal perayu maut kayak di Turki dan Kashmir, India.

Tapi jangan juga menutup kemungkinan untuk kenalan traveler baru. Pake feeling aja.

8. Sederhana

Jangan pake baju yang terlalu mencolok. Low profile aja. Kita kan mau jalan-jalan, bukan mau fashion show.

9. Jaga Uang

Simpen uang dan paspor di money belt (bisa gugling kayak apa bentuknya). Dan pisahin ke beberapa tempat.

10. Scan semua dokumen penting

Dokumen yang harus discan: paspor, akte, kartu keluarga, kartu nama, pas foto, dan taro di email. Ini buat antisipasi kalau (amit-amit) paspor hilang.

Baca Juga: Saat Kehilangan Paspor di Luar Negeri

11. Saya tergabung dalam couchsurfing. Dulunya sih suka nebeng nginep di rumah mereka, namun sekarang ini lebih milih buat ketemuan aja. Paling nggak, ada orang lokal yang saya kenal di sana.

12. Walaupun negaranya aman, saya menghindari pulang terlalu malam lewat jalan sepi. Kecuali ada teman yang terpercaya.

13. Cari temen di hostel. Jangan ragu buat nyapa, sok akrab aja. Tawarin cemilan dari Indonesia (saya seringnya nawarin Indomie) Kalau kayaknya cocok, ajak jalan bareng. Lumayan kaan ada yang motoin dan share ongkos.

14. Ngobrol ama orang lokal. Saya sering dapet insight lokasi oke dari orang lokal. Misalnya di Bukhara Uzbekistan, saya tau ada pasar lokal yang murah banget gara-gara dikasih tau orang lokal. Orang lokal biasanya juga lebih tau restoran murah tapi enak. Tapi tetep ya, waspada selalu.

15. Pernah berasa kesepian? Pernah banget, apalagi kalau perjalanannya panjang, lebih dari tiga minggu. Kalau begini biasanya saya ga keliling, saya diem aja di satu tempat sampe mood balik.

16. Ga bisa bahasa Inggris? Ga masalah. Saya pernah ketemu traveler cewek dari Jepang yang udah keliling 30 negara Asia. Dan dia sama sekali ga bisa bahasa Inggris! Dia cuma mengandalkan google translate.

17. Takut nyasar? Nyasar malah seru lho, malah kadang bisa ketemu hal baru yang ga terduga. Kayak waktu di Lisse, Belanda. Saya salah naik sepeda. Alhasil saya nyasar ke area perumahan dan malah nemu ladang tulip yang bagus. Lagipula sekarang udah ada mifi, jadi soal nyasar bisa diantisipasi.

Baca Juga: Solo Travelling ke Uzbekistan: Cinta dalam Sepotong Roti dan Segelas Ceri

Ke Rusia Saat Corona: Hampir Tak Bisa Pulang karena Lockdown

Perjalanan ke Rusia kemarin bisa dibilang perjalanan nyaris. Nyaris tak bisa masuk Oman karena lockdown dan nyaris tak bisa pulang ke Indonesia tak ada penerbangan. Untung saja saya membaca email, beberapa jam sebelum kepulangan saya sehingga saya bisa naik pesawat terakhir dari Rusia.

Perjalanan ke Rusia di awal Maret kemarin bisa dibilang perjalanan yang sangat beruntung dan selalu nyaris. Nyaris tak bisa masuk Oman karena lockdown dan juga nyaris tak bisa pulang ke Indonesia karena lockdown dan tak ada penerbangan.

14 Maret 2020, Muscat

Sebelum menuju Rusia, saya dan kawan saya harus transit 19 jam di Muscat, Oman. Kami gunakan kesempatan itu untuk keluar, bermalam sehari di Muscat dan berjalan-jalan di sana. Semuanya berjalan normal. Di bandara, kami hanya diminta mengisi lembar kesehatan yang tidak diperiksa sama sekali.

Setelah kami sampai di rumah host CS kami, kami mendapat berita bahwa mulai besok, pemerintah Oman tak lagi memperbolehkan wisatawan masuk ke negaranya. Fiuhh…..kalau aja pesawat kami mendarat besok, kami cuma bisa ngendon di bandara. Nyaris.

19 Maret 2020, Murmansk

20200319_142624-01

Saya memandang jatuhnya salju lebat  lewat kaca dapur penginapan saya di Murmansk,  melihat orang-orang tua berjaket tebal berlalu lalang di sana.

Sambil menyesap teh hangat, saya iseng mengecek tiket saya lewat aplikasi Oman Air. Ternyata, di sana tertulis kalau kepulangan saya ke Jakarta via Muscat diundur menjadi tanggal 29 Maret.

Padahal beberapa jam sebelumnya, saya sudah mengeceknya di aplikasi Traveloka tempat saya membeli tiket. “Masih on schedule”, begitu tulisannya. 

Saya langsung menengok ke arah kawan saya yang sedang sibuk menguyah biskuit keras khas Rusia, yang memang disediakan pemilik penginapan. Ternyata sama. Jadwalnya juga berubah.

Kami jelas tak mungkin pulang di tanggal 29 Maret, karena visa Rusia kami hanya berlaku hingga tanggal 28 Maret. Ya, Rusia memang pelit soal visa, tanggal habis visa sama persis dengan tanggal yang tertera pada tiket pulang. Nggak lebih sehari pun.

Mbak Susan, kawan baik kami di Moscow memberi kami nomer telepon salah satu staf KBRI Moscow.

Sambil mengontak KBRI di Moscow untuk  mencari kemungkinan cara memperpanjang visa, saya coba mencari info ke website Oman Air.

Ternyata ada pengurangan dan pembatasan jumlah penerbangan dari dan ke Oman.  Sehari setelah saya datang ke Muscat memang ada perintah untuk menutup kedatangan wisatawan asing ke Muscat. Imbasnya, tak ada penerbangan dari Oman ke manapun, termasuk ke Rusia dan ke Indonesia. Termasuk di tanggal 28 itu. 

Gawat.

Baca Juga: Berburu Lady Aurora di Rusia


Saya bukan orang yang gampang panik, tapi tetap aja khawatir dengan keadaan ini. Alhasil, segala cara saya coba untuk menghubungi Oman Air, mulai dari mengirim email, mencecar lewat twitter, Facebook, dan IG, hingga mengirim WA ke salah satu kontak Oman Air Jakarta yang diberikan salah satu teman saya yang punya usaha travel.

Hasilnya nihil, nggak ada yang menjawab satupun.

Saya segera gerilya mencari bantuan. Saya post di IG Story, meminta kontak Oman Air. Banyak ternyata yang menawarkan bantuan.

Salah satunya sepupu jauh, yang menawarkan diri untuk menelpon kantor Oman Air di Jakarta. Dialah yang kemudian meneror kantor Oman Air tiap hari, walaupun susah karena cukup banyak yang melakukan hal yang sama.

Bantuan lain datang dari Mas Erik, travel consultant dari HIS Travel. Dia, yang punya akses ke Oman Air Jakarta, mencoba melacak tiket saya dan meminta perubahan maskapai. Padahal, saya tak terlalu kenal dengannya. Saya bertemu dia di Bukhara sekali, saat dia membawa rombongan yang diguide oleh kawan  saya di Uzbekistan.

Baik banget….

20 Maret 2020, masih di Murmansk

Berkat bantuan sepupu saya dan Mas Erik, tiket berhasil diubah. Oman Air mengganti penerbangan saya dengan maskapai Qatar Air, untuk penerbangan tanggal 28 Maret.

Gratis, saya nggak kena biaya tambahan apapun. Alhamdullillah, saya akhirnya bisa pulang juga ke Indonesia yaaa…

Tapi entah kenapa, tiket travelmate saya masih bermasalah. Penerbangannya nggak bisa diganti tanggalnya.

21 Maret 2020, St Petersburg

Bandara St Petersburg
Bandara St Petersburg

Mas Erik terus mencoba menghubungi Oman Air, meminta tiket kawan saya diubah juga. Tapi sayangnya, hasilnya masih sama seperti kemaren. Tiket kawan saya belum bisa berubah.

Akhirnya, di sela-sela berkeliling objek wisata di St Petersburg, kami mampir ke bandara, mencari kantor perwakilan Oman Air di sana. Biasanya kan, di setiap bandara ada counter tiketnya, gitu pikir saya.

Tapi ternyata, di bandara sekelas St Petersburg, tak ada konter Oman Air. Hanya ada konter beberapa maskapai lokal, itupun hanya berupa stall kecil yang ditunggui ibu-ibu berambut pirang yang nggak ada senyumnya sama sekali. Rusia banget.

Oiya, di Russia ini emang punya moto: “tersenyum tanpa keperluan adalah orang idiot”. Gitu.

Akhirnya, kami memutuskan untuk membatalkan perjalanan ke Kazan dan memajukan jadwal perjalanan ke Moscow. Tiket Sapsan, kereta cepat yang menghubungkan St Peterseburg dan Moscow yang sudah kami beli  sebelumnya, terpaksa kami refund.

Kami menggantinya dengan jadwal yang lebih pagi supaya masih ada waktu untuk menuju kantor Oman Air di Moscow.

Padahal, Kazan jadi bucketlist saya karena di sanalah area di Rusia yang didominasi Muslim. Bahkan kami sudah berjanji bertemu dengan salah satu umat muslim di sana dan mengunjungi rumahnya. Dan perjalanan kami ke Kazan, rencananya akan menggunakan sleeper train khas Rusia, kereta yang merupakan bagian dari Siberian Train yang menjadi impian saya.

Sedih, tapi ya sudahlah.

Lagipula, pihak KBRI meminta saya tidak jauh-jauh dari Moscow karena ada isu Presiden Putin akan melockdown kota Moscow dan menutup akses keluar masuk Moscow.

KBRI juga mengabarkan kalau mulai hari itu Rusia sudah membatasi penerbangan ke beberapa negara.

23 Maret, Moscow

Ditemani Nadia, anaknya Mbak Susan, kami mendatangi kantor Oman Air di Moscow. Untung ada Nadia, karena kantor perwakilan Oman Air ini terletak di gedung yang cukup sulit dijangkau. Dia aja yang akamsi nyasar, apalagi saya.

Ditambah lagi, si resepsionis cantik yang menemui kami nggak bisa berbahasa Inggris. Ngomong apa ntar. 

Tapi ternyata, kami tak bisa berbicara langsung dengan pihak Oman Air, cuma bisa bicara lewat telepon yang ada di tempat resepsionis.

Hasil pembicaraan akhirnya berujung pada kesimpulan bahwa saya tetap harus mengemail kantor pusat Oman Air dengan men-cc-nya ke kantor Oman Air Rusia. Tak ada jalan lain.

Saya langsung menuju kursi tamu di gedung itu dan mengetik email permohonan, meminta jadwal diubah dan dimajukan.

Email sent.

24 Maret, masih di Moscow

Pagi-pagi, Mas Erik mengabarkan kalau tiket kawan saya juga sudah berhasil diubah. Kami akan naik Qatar Air di tanggal 28 Maret. Alhamdulillah, kawan bisa pulang jugaaa. Oman Air Rusia lebih kooperatif ternyata daripada Oman Air Indonesia.

Kami pun girang.  Bergegas berjalan-jalan ke luar penginapan, menuju area Ismailov dan berakhir di supermarket untuk membeli keperluan selama beberapa hari di Moscow. Plus membeli jastipan tentunya.  Tapi ternyata, Moscow sangat sepi hari itu.

Rupanya Putin sudah menginstruksikan masyarakatnya, khususnya para lansia, untuk mengkarantina diri dan memberi denda berat kepada yang melanggarnya. Hanya yang perlu saja boleh keluar rumah.

Baca Juga: Ke Rusia Saat Corona: Sepinya Red Square

25 Maret, masih di Moscow

Pukul 00.20

Kawan saya meminta saya kembali mencoba mengemail Oman Air, meminta supaya kepulangan dimajukan.

Walau sudah mengantuk berat karena seharian berkeliling Moscow, bolak balik naik metro buat liat metro station yang bagus,  akhirnya saya mengirim email ke Oman Air Rusia, minta penerbangan kami dimajukan tanggal 26 Maret esok.

Alasan saya bermacam-macam, mulai dari permintaan Menteri Luar Negeri RI (maap Bu Retno, namanya saya bawa-bawa) sampai isu kalau Rusia akan menutup semua penerbangan. Dan juga karena ada kabar Putin melepaskan singa di jalanan Moscow (ga deh, ini nggak saya tulis).

Pukul 10.30
Sebelum jalan-jalan lagi keliling Moscow, saya mengecek email. Ternyata tak ada balasan dari Oman Air. Ya sudahlah, mungkin memang harus pulang sesuai jadwal semula. Saya langsung menyusun rencana, ngapain aja beberapa hari ini di Moscow.

Moscow Metro Station
Salah satu stasiun di Moscow

Pukul 14.30
Sehabis berkunjung kembali ke Moscow Katedral Mosque, kami lapar. Kantin halal yang biasa kami datangi di sebelah masjid tutup. Akhirnya, kami melipir ke restoran Uzbekistan di seberang masjid, memesan semangkuk Lagma, sepiring Palov, dan satu teko teh.

Sambil menguyah nasi palov yang jadi favorit saya selama di Uzbek, saya iseng mengecek email. Hal yang sangat jarang saya lakukan saat sedang makan.

Ternyata, beberapa menit lalu ada email masuk dari Oman Air Rusia yang menanyakan apakah kami bisa berangkat malam ini juga, pukul 23.45.

Saya melongok ke jam yang saya beli di Arab lima tahun lalu. Pukul 14.30. Artinya kami masih punya waktu 9 jam buat kembali ke hotel, packing, solat, mandi, dan ke airport.

Tanpa pikir panjang, saya langsung balas email dengan jawaban, “Yes, definitely we can”. Dan langsung menghabiskan palov dengan buru-buru, juga seteko teh Uzbek yang ternyata harganya lumayan mahal. Bikin nyesel pesennya.

Pukul 20.30
Saat menuju airport, ada WA dari staff KBRI Rusia. Ia mengatakan kalau Presiden Putin baru saja memerintahkan libur untuk semua kantor dari 28 maret-5 April. Di tanggal kepulangan kami sebelumnya.

Langsung bersyukur karena buka email di saat makan siang di resto tadi. Kebayang kan kalau saya pulang saat tanggal 28, di saat semua libur. Susah koordinasinya.

Pukul 21.23, Demodedovo Airport
Kami masih was-was apakah check in akan berhasil, tapi ternyata berlangsung mulus. Bahkan mas-mas ganteng nan baik penjaga konternya bilang, kalau satu row boleh saya kuasai sendiri karena pesawatnya akan kosong. Baiklah Mas.

Naik Qatar Airways cuma berempat

Nyatanya, memang pesawatnya kosong melompong. Hanya ada saya, kawan saya, traveler wanita dari Philipina, dan satu lagi traveler laki-laki entah dari mana.

Ya, hanya kami berempat penumpang resminya. Penumpang lainnya adalah para awak kabin, plus 20 pilot dan pramugari Qatar yang harus pulang ke Doha karena itu hari terakhir maskapai itu mengudara ke Rusia, sebelum ditutup sementara karena Corona.

Saya penumpang di pesawat terakhir.

Karena jadi penumpang empat-empatnya, pelayanan yang saya terima jadi seperti pelayanan kelas bisnis. Satu pramugari melayani dua orang. Berkali-kali saya ditawari tambahan makanan, minuman, dan snack. Tapi karena itu malam hari, saya lebih memilih buat tidur aja.

Esoknya, saat transit di Doha, saya mendapat kabar kalau tadi pagi, Putin sudah menutup semua jalur penerbangan dari dan menuju Rusia.

Yassalam…..nyaris.

Aurora Village Murmansk: Memandang Aurora dari Balik Jendela

Saya amat bersyukur karena bisa menginap di penginapan terbaik di Rusia ini. Aurira Village Murmanks, sebuah penginapan eksklusif yang berbentuk igloo.

Bles.

Tiba-tiba ban mobil yang kami tumpangi tak bisa bergerak. Saya penasaran dan melongok ke luar jendela, rupanya ban masuk ke dalam tumpukan salju yang cukup tebal.

Pak supir berusaha mengeluarkan ban dari salju. Mobil digas bolak balik, maju mundur. Tapi tak berhasil. Kami terjebak di tengah padang salju. 

Untung saja, ada dua mobil van yang lewat. Salah seorang supir van mengambil alih kemudi dari supir kami dan berusaha mengeluarkannya dari jeratan salju yang menumpuk.

Sambil menunggu, saya mengarahkan pandangan ke lapangan salju di kejauhan. Di sana, di pinggir danau, sudah terlihat dek kayu yang sebagian tertutup salju. Di atasnya ada enam buah bangunan berbentuk setengah lingkaran berwarna putih dengan jendela kaca yang besar, persis seperti yang saya lihat di foto-foto.

Itulah tempat saya dan kawan saya akan menginap malam ini: Aurora Village Murmansk.


Penginapan Impian

Aurora Village yang jadi tujuan kami ini adalah penginapan yang berlokasi sekitar 50km dari kota Murmansk. Jika naik mobil dari kota, kira-kira butuh waktu 40-50 menit, tergantung kondisi jalan saat itu.

Kalau pakai mobil van dari Aurora Village rasanya akan lebih cepat karena mobilnya besar, sementara kami kemarin nekat naik taksi yang bentuknya sedan karena ada keperluan dulu di tengah kota Murmansk.

Baca Juga: Berburu Lady Aurora di Rusia

Letak Aurora Village ini di tepi danau dan jauh dari permukiman. Karena letaknya yang terpencil ini, yang menginap di Aurora Village dapat melihat aurora tanpa harus hunting ke tempat lain. Yap, kalau kita beruntung, bisa melihat aurora sambil minum teh hangat plus cokelat dari dalam kamar. Asyik, kan?

FYI, Aurora memang hanya bisa dilihat di tempat yang minim polusi cahaya dan yang jauh dari permukiman. Seperti di Aurora Village ini.

DSCF7964-01
Penampakan luar aurora village

Ada 10 buah kamar berbentuk Igloo di sini. Meniru bangunan suku eskimo yang hidup di kutub utara.

Empat buah menghadap danau, enam yang lainnya menghadap lapangan salju, seperti yang kami tempati. Di area depan terdapat sebuah bangunan besar, yang nantinya akan digunakan sebagai cafe.

Sayangnya, ketika saya datang, cafe belum selesai dibangun. Namun kabarnya saat ini cafe sudah selesai dibangun dan bisa dipakai untuk acara wedding, party, dan sebagainya.

DSCF7930-01
Kamar di seberang itu adalah kamar yang menghadap danau

DSCF7948
Kalau malam, domenya memang terlihat dari luar, tapi jangan khawatir, ada gordennya kok.

Oya, di depan igloo-igloo ini ada bangku-bangku kayu. Kalau summer, tempat ini sering dijadikan tempat pesta barbekyu. Sementara kalau winter, jadi tempat foto ala-ala aja kali ya. Dingiiin….

DSCF7933-02
Banyak meja dan bangku di sini yang bisa dijadikan tempat nongkrong, kalau ga kedinginan…:D


Interior yang Instagramable

Oleg, pemilik tempat ini, dan staffnya membantu kami membawa koper ke dalam salah satu dome. Kami mendapat kamar nomer satu, yang letaknya paling depan.

Begitu pintu dibuka, tampak dua buah tempat tidur di sana. Tempat tidur yang terlihat sangat hangat karena dilapisi dengan selimut bulu yang tebal.  Sangat cocok di cuaca yang sangat dingin. Saat kami datang, suhu di luar sekitar minus 3 derajat yang membuat kami hanya sanggup berdiri beberapa menit di luar sana.

Selain dua tempat tidur tadi, ada dua tempat tidur lagi di lantai mezanin. Tempat ini memang bisa memuat hingga 4 orang, dengan catatan, yang  tidur di atas adalah anak-anak atau cewe-cewe imut macam saya ini.

Kalau buat laki-laki, apalagi yang terlalu tinggi, bisa mentok di kepala. Oya, menurut si penjaga, bisa minta extrabed satu lagi dengan biaya 2.000 rubel atau sekitar 400 ribu rupiah.

Nah, untuk naik ke atas mezanin ini, ada tangga lipat yang tersembunyi, yang baru akan muncul kalau kita membuka tingkapnya. Persis seperti tangga-tangga tersembunyi menuju loteng di film-film barat yang saya tonton selama ini.

DSCF7852-01-02
Bagian dalam Aurora Village yang instagramable banget

Igloo ini juga dilengkapi dengan kamar mandi dengan air panas, juga perapian. Kami tak menyalakan perapian ini karena selain tak terbiasa, di dalam igloo sudah ada pemanas ruangan yang cukup hangat.

DSCF8048-01-01
Saya dan Ruru, travelmate saya ke Rusia.

Tak lama, salah satu staff Murmanks Igloo mengetuk lagi kamar kami. Ternyata, ia membawakan seteko air panas, sepaket teh Rusia favorit saya, dan setoples cokelat. Ya ampun, cokelatnya enak banget. Kalau tak ingat gigi saya yang baru kelar perawatan saluran akar, bisa habis semua cokelat itu.

Baca Juga: Persiapan Winter di Rusia


Sayangnya, Gagal Dapat Aurora

Menurut perkiraan di website Aurora Village, malam ini perkiraan KP Index untuk Murmansk ada di angka 3, sangat cukup untuk melihat Aurora di langit.

FYI, KP Index adalah tingkat kekuatan pancaran gelombang elektromagnetik yang dipancarkan si aurora. Semakin tinggi KP Indexnya, semakin jelas aurora akan terlihat. Semakin tinggi KP Indexnya, semakin bisa ditangkap kamera.

Kami sudah bersiap bergadang malam ini dengan kamera standby di atas tripod. Dari dalam kamar tentunya, tanpa perlu keluar lagi. Berkat jendela besar di dome ini, aurora dan segala yang ada di langit akan terlihat dengan jelas, bahkan sambil rebahan saya bisa melihat bintang di luar sana.

Tapi sayang, walaupun KP Index berada di angka 3, langit tertutup awan sehingga aurora tak keliatan sama sekali.

Kami mencoba keluar, siapa tahu dia ada di arah yang berlawanan dengan arah jendela kami. Tapi ternyata, setelah sepuluh menit berdiri di luar, hujan salju turun. Sudah pasti tak akan ada aurora di malam ini.

Sedih.

178289016
Begini pemandangan yang akan kami temui kalau aurora muncul di sini. Foto: auroravillage.info

82056665_1034545170233721_4690909920017514496_o
Foto: auroravillage.info


Esoknya paginya, kami berjalan mengelilingi tempat ini. Rencananya, kami mau mengintip dari jauh danau yang membeku di dekat penginapan.

Tapi ternyata, jalan menuju ke sana tertutup salju yang cukup tebal sehingga kami harus urungkan niat, karena takut terperosok ke dalam. Cukup lihat dari jauh saja. Hujan salju malam tadi ternyata cukup lebat dibanding hari-hari sebelumnya.

Ya sudahlah, balik lagi ke dalam Igloo dan foto-foto di dalamnya.

DSCF0020-01


Naik Husky Hingga Memancing di Danau Beku

Selain bisa menginap di sini sambil berburu si northern light,  Aurora Village juga menyediakan paket lain seperti Husky Farm Tour, memancing ikan di danau, tur ke Teriberca, atau ke kunjungan ke Sami Village.

Kami mengambil paket husky farm tour, dengan harga 2.000 rubel per orang. Saya sempat cek harga ke semua operator, tur dari Aurora Village ini harganya termasuk murah, tak beda jauh dengan yang lain.

Jam 12 siang, tim dari Aurora Village menjemput kami dengan mobil van yang bagus, bersih, dan harum. Hanya kami berdua yang ada di dalam van ini ternyata. Menurut Oleg, memang kali ini mereka mengkhususkan diri untuk mengantar kami.

Yippi..


Aurora Village bisa dipesan melalui situs resmi mereka di https://auroravillage.info/ atau bisa lewat OTA seperti booking.com, traveloka, dan sebagainya.

 

 

 

 

 

Berburu Lady Aurora di Rusia

Di dunia ini, ada banyak tempat menyaksikan Aurora Borealis. Salah satunya adalah di kota Murmanks Rusia. Tempat ini memang sedang naik daun karena biaya yang dibutuhkan tidak semahal Iceland ataupun Norwegia.

Bagaimana pengalaman saya berburu Aurora?

We will landing shortly in Murmansk. Please fasten your seat belt, open your window sheet, put back your tables, and sit upright. And don’t forget to use your gloves. Its minus 16 degrees outside” 

Begitu pengumuman awak kabin kepada kami, para penumpang Siberian Airways yang mendarat di bandara Murmansk, Rusia. Pengumuman yang berbeda dengan yang saya pernah dengar sebelumnya karena ada embel-embel diminta mengenakan sarung tangan.

Cuaca di Murmanks dini hari itu memang cukup dingin; minus enam belas derajat celcius. Padahal saat itu sudah masuk bulan Maret, bulan yang cukup “hangat” menurut orang-orang setempat. Namun badai salju yang datang lagi semalam membuat suhu menurun lagi.

Begitu turun dari pesawat, saya melongo, takjub dengan kecilnya ruang kedatangan di bandara ini. Setelah landasan, hanya ada ruang pengambilan bagasi berukuran sekitar 6m x 5m dengan satu belt, lalu setelah itu langsung ada pintu keluar ke jalan. Cuma segitu.

Petugasnya pun cuma dua, petugas yang merangkap jadi satpam dan petugas informasi. Saya pernah melihat beberapa bandara di Indonesia yang kecil, tapi ini rasanya lebih kecil daripada yang pernah saya lihat di Indonesia. 

Murmansk Airport. Sumber: survincity.com
Murmansk Airport. Sumber: survincity.com


Menunggu Bus di Suhu Minus

Saya menggigil kedinginan dan segera merapatkan jaket winter oranye andalan saya Walaupun persiapan sudah maksimal, dengan dua lapisan long john dan jaket khusus winter yang mampu menahan suhu hingga , dinginnya Murmanks masih terasa keras di wajah. Pun di tangan. Tangan saya membeku, dan memaksa saya memakai kembali sarung tangan yang sempat saya lepas di bandara tadi.

Saya dan Ruru, kawan saya, harus berjalan ke arah halte bus dengan mendorong koper, menembus hujan salju. Berkali-kali roda koper saya terperosok ke dalam salju setinggi mata kaki. Susah ternyata berjalan di salju. Apalagi bawa koper.

Saking dingin dan susahnya, saya tak mampu mengambil handphone di kantong dan mengabadikan kesusahan kami menggeret koper.

Jangan bayangkan halte bus yang saya tuju  itu sebagus halte bus bandara Soekarno Hatta. “Halte” busnya hanya sebuah plang di depan sebuah bangunan kecil berwarna cokelat. Sama kecilnya dengan si bandara kedatangan.

Kami memang mencoba menggunakan bus, demi mengirit bujet tentunya. Tarif jemputan dari bandara ke kota sekitar 3.000 rubel per mobil, sementara kalau naik bus, tarifnya hanya 125 rubel per orang. Jauh, kan, bedanya…

Meskipun ada jadwal yang tertempel, saya sempat khawatir bus tak datang. Sebab, hanya kami berdua yang ada di halte bus itu. Semua yang keluar dari bandara dijemput oleh mobil berpenghangat. Untung, bus datang tepat waktu, menyelamatkan saya dari terpaan angin yang makin dingin saja. 

Ufff…

IMG_20200319_131053
Pemandangan yang sempat saya foto dari dalam bus. Semua putiih….


Tujuan utama kami di Murmanks adalah menyaksikan Aurora Borealis, fenomena langit yang hanya ada di lingkaran kutub. Sebenarnya, di dunia ini ada banyak tempat menyaksikannya, salah satunya adalah di kota paling utara di Rusia ini. Tempat ini memang sedang naik daun sebagai tempat menyaksikan aurora karena biaya yang dibutuhkan tidak semahal kalau dibandingkan Iceland ataupun di Norwegia.

Kami berada di Murmanks selama tiga hari tiga malam. Satu malam saya menginap di Aurora Village, dua malam saya habiskan di penginapan di tengah kota. 

Baca Juga: Aurora Village, Memandang Aurora dari Balik Jendela

 

aurora village murmansk
Aurora Village, tempat saya menginap di Murmansk

Di Aurora Village kami gagal mendapatkan si lady Aurora, karena itu kami memutuskan untuk hunting lagi di malam selanjutnya, menggunakan guide. Ya, hunting aurora tak bisa dilakukan sendiri, harus menggunakan guide lokal yang paham kondisi kotanya.

Di malam ketiga barulah kami berangkat berburu. Sebab di malam sebelumnya, Olga, guide yang sangat saya rekomendasikan karena tak begitu mata duitan, mengatakan bahwa langit malam itu berawan. Dan tentu saja, aurora tak akan bisa dilihat jika tertutup awan.

Benar saja. Di pagi harinya, kami melihat tumpukan salju tebal di depan penginapan. Ternyata bukan hanya berawan, semalam hujan salju turun dengan derasnya.  Membuat saya hampir terpeleset dan memutuskan masuk kembali ke penginapan untuk mengambil snow cover anti-slip untuk sepatu saya.

Baca Juga: Persiapan Winter di Rusia

20200320_143944
Salah satu spot di Murmansk.


Akhirnya, “Dia” Datang!

Pukul 21.30, Olga dan Jimmy menjemput kami di penginapan. Sambil tersenyum ramah, ia mengatakan bahwa malam ini langit akan cerah tanpa awan. Namun ia juga tak menjamin akan mendapat aurora karena menurutnya, “Forecast is still a forecast. You don’t know what will happen exactly. It could change by hour.” 

Langit Murmansk malam itu memang terlihat sangat cerah. Dari jendela mobil saya bisa melihat sebuah bintang di sana. Saya lupa apa nama bintangnya, namun kata orang, kalau melihat bintang itu, artinya aurora akan muncul.

Semoga.

Olga membawa kami menjauh dari pusat kota, ke daerah yang lebih minim cahaya. Memang, seperti halnya milky way, aurora hanya bisa disaksikan di area yang gelap gulita. 

Baru dua puluh menit meninggalkan kota, Olga menyuruh kami melihat ke langit di arah kanan. Ada semburat berwarna putih tipis di sana. Aurora muncul. Saya langsung ambil kamera, mengarahkannya ke titik yang ditunjuk Olga. Hijau.  Aurora memang baru akan terlihat berwarna hijau kalau dilihat di kamera.

Saya nyengir lebar. Doa saya terkabul.

DSC09842-2-01

Makin lama semburat makin besar. Tapi Jimmy, kawan Olga yang menjadi driver kami malam itu, belum menghentikan mobil kami. Ia baru berhenti lima belas menit kemudian, di tengah lapangan luas bersalju yang gelap gulita. Di langit sudah tampak semburat putih yang tebal, besar, dan makin jelas. Saya, yang baru pertama kali melihat aurora, langsung lompat kegirangan karenanya.

DSC09856-01-01

DSC09820-2-01-01

Dua jam kami di sana, melihat sang lady menari-nari di langit Murmansk. Untung saat itu udara cukup bersahabat, “hanya” minus 10 derajat. Nyaman, meskipun saya berkali-kali terjeblos ke dalam tumpukan salju yang lumayan dalam dan harus dibantu Olga untuk keluar darinya.

Alhamdulillah. Now, i can check one of my bucket list.

Tip:

  • Bus dari airport ke Murmansk Station: bus no 106. Harga 125 rubel.
  • Penginapan di Murmansk: Aurora Village, harga 5 juta/malam dan Tri Zaytsa, harga 350rb/malam.

 

 

Persiapan Winter di Rusia

Saat akan ke Rusia, saya sempat bingung baju musim dingin apa yang harus saya bawa. Karena suhu di Rusia saat musim dingin bisa mencapai 10 derajat.

Nah, inilah yang saya pakai selama musim dingin di Rusia.

DSCF7902-01

Baju apa yang saya pakai saat musim dingin di Rusia?

Saat akan ke Rusia, saya sempat bingung baju musim dingin apa yang harus saya bawa. Ini bukan winter pertama saya, saya sudah beberapa kali mengalami winter. Namun ini kali pertama saya akan mengalami suhu hingga minus 10 derajat.

Ya, suhu Rusia, terutama Murmansk di musim dingin memang luar biasa. Apalagi nantinya saya akan berburu aurora di malam hari, dengan suhu yang sudah pasti luar biasa dingin.

Nah, inilah yang saya pakai selama musim dingin di Rusia.

1. Base Layer

Lapisan paling dalam (base layer saya) ada 3 lapis. Lapisan pertama adalah long john yang saya beli sudah lama sekali, sampai saya lupa di mana membelinya.

Lapisan kedua dan ketiga adalah Uniqlo Ultrawarm Heattech. Uniqlo ini punya tiga jenis heattech, dan yang paling hangat (tapi paling mahal) adalah Ultrawarm. Lapisan ini saya tukar-tukar. Kadang heatech saya pakai duluan baru long john.

By the way, long john dan ultrawarm heatech ini mesti ngepas banget dengan badan ya, supaya nggak ada angin yang menerobos masuk ke kulit.

2. Lapisan Luar

Setelah tiga lapis, saya pakai lapisan luar berupa sweater heatech uniqlo. Kadang saya pakai kaos saya yang agak tebal.

3. Jaket Winter

Jacket ini yang paling penting. Ga asal tebal. Saya bawa dua buah jaket, yang dua-duanya mengklaim tahan sampai -20 derajat celcius.

Yang pertama adalah jaket goosedown merek universal traveller, yang saya beli setaun lalu di Mitsui KL. Waktu itu harganya sedang diskon jadi sekitar sejuta, dari harga normal 3.5 juta. Mahal? Iya sih, cuma jaket ini seperti investasi. Lebih baik beli yang mahal sekalian tapi bisa dipake seumur hidup.

Jangan asal beli jaket goosedown, apalagi asal tebal. Karena ternyata, yang bagus itu adalah yang kandungan goosedown-nya cukup tinggi di atas 90 persen.

Merek yang cukup OK sebenarnya Colombia atau TNF. Tapi yaaa harganya, ga kuaaat…

Jaket yang satu lagi adalah jaket Mark and Spencer. Saya beli di PIM duluu dengan menggunakan voucher MAP hasil menang lomba dan ternyata masih bisa saya pakai hingga sekarang. Tapi ini nggak waterproof dan bukan goosedown. Cukup hangat untuk menghalau dingin di suhu minus 3, namun tidak sehangat jaket saya yang satunya.

Sebenernya, waktu awal Maret saya main ke Zara, saya nemu jaket winter waterproof yang harganya “cuma” sejuta. Tapiii…ukurannya cuma S dan M, yang jelas nggak muat di badan saya.

4. Celana Winter

Sama dengan atasan, untuk bawahan saya juga pakai lapisan. Yakni legging uniqlo extrawarm, long john, plus uniqloultrawarm legging. Awalnya saya cuma pakai dua lapis, tapi ternyata saya kedinginan. 

Nah untuk luaran, saya pakai jeans winter yang ada lapisan fleace di dalamnya. Saya beli di china, jepang atau korea gitu (lupa), tapi banyak juga kok di toko online. Saya bawa dua, karena ada yang warna hitam dan denim.

Di toko online ada yang jual celana winter yang luarnya dari bahan kulit. Ini waterproof, tapi saya ga suka, karena mengilap banget. Kayak mau nyanyi dangdut!

5. Kaos Kaki

Kaos kaki ini penting buat saya karena kalau telapak kaki dingin, langsung menjalar ke seluruh badan.

Saya pakai kaos kaki dua lapis. Saya bawa 7 kaos kaki, dua kaos kaki heattech uniqlo, satu kaos kaki Mark and Spencer, dua kaos kaki wool dari toko Djohan Manggadua, dan dua kaos kaki biasa. Yang uniqlo ga ngaruh sama sekali. Saran saya, lebih baik beli seperti yang saya beli di toko Djohan.

6. Sepatu Winter

Saya sempat mupeng dengan sepatu Timberland. Namun sepatu incaran saya itu harganya lumayan dan ga pernah diskon. Akhirnya saya menemukan sepatu  boot buatan Bandung , yakni Nokha. Saya pakai ini waktu ke Jepang dulu, dan saya coba lagi pakai ke Rusia ini. Ternyata, lumayan banget.

Sepatu ini memang agak keras dan lebih kaku dibanding Timberland dambaan saya itu. Namun dia waterproof dan cukup tahan menghadapi salju. Bagian bawahnya juga tak licin walaupun saya kadang melengkapinya dengan antislip yang saya beli di aliexpress.

Oya, saya beli sepatu dua nomer di atas saya. Nomer saya 39-40, saya beli sepatu nomer 41. Tujuannya, biar kalau pakai kaos kaki dobel masih muat.

7. Sarung Tangan

Ini juga sangat penting buat saya, karena ini area paling ga tahan dingin buat saya. Dan ga mungkin pakai sarung tangan dobel jadi harus yang oke punya. Saya punya dua sarung tangan, yang satu saya beli di uniqlo, satu lagi baru saya beli di Rusia. Yang saya beli di Uniqlo lumayan tebal dan waterproof sehingga ini lebih sering saya pakai.

Jangan pakai sarung tangan gegayaan ya, yang cuma menang di model keren, karena ga akan mempan lawan winter. Pilih sarung tangan yang cukup tebal, kalau bisa yang waterproof seperti sarung tangan ski.

8. Syal

Perlukah pakai syal? Perlu karena anginnya dingin, dan akan membuat wajah serasa beku dan bebal. Pakai syal apa aja, asal bisa nutup bagian pipi. Apalagi kalau ga pake jilbab, mesti banget pakai syal untuk menutup leher.

9. Penutup Kuping

Saya nggak suka pakai penutup kuping, jadi saya akali dengan menggunakan ciput rajut yang menutup telinga, sebelum pakai jilbab. Lumayan hangat.

Ke Rusia Saat Corona: Sepinya Red Square

Red Square adalah tempat wisata utama di Moscow, Rusia. Di area ini terdapat banyak destinasi wisata seperti St Basil Cathedral, Kremlin Mosque, Lenin Moseleum, Arbat Street, dan lain sebagainya.

Setiap harinya, Red Square ini dipenuhi oleh turis-turis yang ingin mengabadikan dirinya di depan National History yang berwarna merah serta St Basil Cathedral, gereja dengan kubah warna warni mirip lolipop. Kebanyakan turis asal China, sehingga orang Moscow kerap menyebut Red Square ini sebagai “Shanghainya Moscow” karena yang terdengar di sini lebih banyak bahasa Cina ketimbang bahasa Rusia.

Tapi ketika saya ke sana, Red Square jadi berbeda. Gara-gara Corona

Red Square Mosqow

Red Square adalah tempat wisata utama di Moscow, Rusia. Di area ini terdapat banyak destinasi wisata seperti St Basil Cathedral, Kremlin Mosque, Lenin Moseleum, Arbat Street, dan lain sebagainya.

Setiap harinya, Red Square ini dipenuhi oleh turis-turis yang ingin mengabadikan dirinya di depan National History yang berwarna merah serta St. Basil Cathedral, gereja dengan kubah warna warni mirip lolipop. Kebanyakan turis asal China, sehingga orang Moscow kerap menyebut Red Square ini sebagai “Shanghainya Moscow” karena yang terdengar di sini lebih banyak bahasa Cina ketimbang bahasa Rusia.

Namun saat saya tiba di sana, Red Square tak seperti biasanya. Hanya ada saya, kawan saya, dan beberapa gelintir orang. Menurut Mbak Susan, kawan baik kami yang juga seorang guide di Moscow, hal ini telah berlangsung sejak kota Wuhan di China terkena virus Corona dan semua negara membatasi kedatangan warga China ke daerahnya. Termasuk Rusia.

Sepinya Red Square juga dibarengi dengan ditutupnya semua tempat bersejarah di sekitarnya. Kremlin dan Lenin Moseleoum, dua tempat yang saya ingin datangi, tak buka. Hanya ada sepasang polisi di depan, yang langsung menyilangkan tangan di dadanya begitu kami mendekat ke sana. Closed, itu arti silangan tangan itu.

Bahkan GUM, mal bersejarah tepat di depan Red Square pun sangat sepi. Toko-toko masih buka, termasuk toko ice cream yang legendaris yang sempat kami cicipi. Tapi pengunjung yang datang amat sedikit.

Rupanya semalam, Mayor Moscow Sergei Sobyanin mengumumkan perintah untuk membatasi kerumunan massa di Moscow. Saat itu, telah 63 orang positif terinfeksi Covid-19 di Rusia. Karena perintah ini, sekolah mesti libur, begitupun tempat wisata. Orang-orang juga tak boleh berkumpul lagi dan semua kegiatan yang melibatkan banyak orang akan dihentikan.

Baca Juga: Ke Rusia Saat Corona: Welcome to Moscow


Moscow di Awal: Masih Normal

Kami menghabiskan total empat hari di Moscow. Dua hari di awal kedatangan, dan dua hari sebelum kami bisa terbang ke Jakarta setelah berjuang mendapatkan tiket pulang. Soal ini, bisa dibaca di TULISAN INI

Selama dua hari di awal, kehidupan di Moscow tak terlampau sepi. Orang-orang tetap berlalu lalang di mana-mana, subway tetap ramai, supermarket tetap penuh. Kalau saya tak baca berita, saya tak akan tahu kalau ada perintah dari Sergei Sobyanin untuk membatasi kerumunan massa. Semuanya biasa saja.

Tak ada satupun orang yang memakai masker. Tak ada petugas pembersih yang mengelap-lap dengan desinfketan seperti yang saya lihat di MRT Jakarta. Tak ada yang sibuk menyemprot tangannya dengan hand sanitizer seperti yang selalu saya lakukan.  Tak ada social distancing, tak ada upaya mengurangi sentuhan dengan permukaan seperti railing tangga, pintu subway dan sebagainya.

Semuanya tampak biasa saja. Kecuali di di tempat wisata.

Bersama Mbak Susan, kami juga masih bisa masuk ke Cathedral Mosque Moscow, masjid terbesar di Moscow yang punya museum Quran. Kami masih bisa makan di restoran di mal, makan di kantin di sebelah masjid, bahkan masih bisa hilir mudik ke sana-sini.


Di Akhir: Sepi Bak Kota Mati

Namun berbeda halnya ketika kami kembali ke sini, beberapa hari kemudian. Rupanya Vladimir Putin sudah mengeluarkan larangan tegas sebelumnya. Semua penerbangan ke Rusia ditutup, begitupun dengan jalur darat. Tak boleh ada wisatawan asing datang berkunjung lagi.

Uff….saya menarik napas panjang membaca berita ini. Kemarin di Muscat, tepat setelah saya mendarat ada berita kalau esok harinya Oman juga tertutup untuk wisatawan asing. Nyaris saya tidak bisa masuk. 

Aturan tegas dari Putin ini juga melarang penduduk di atas usia 65 tahun ke luar rumah, menutup beberapa rumah ibadah untuk kunjungan wisata, dan menutup beberapa restoran kecuali yang popular di kalangan wisatawan.

Rupanya, dalam waktu beberapa hari saja, jumlah penderita positif Covid-19 di Rusia  sudah mencapai 430 orang. Delapan kali lipat dari waktu kami datang seminggu yang lalu.

Alhasil, di dua hari terakhir kami di Rusia, kami merasakan Moscow yang berbeda. Jalanan sangat sepi, subway kosong melompong, supermarket tak ada orang.

Orang-orang yang berkeliaran juga mulai memakai masker. Toko-toko banyak yang tutup, bahkan Ismailov, pasar souvenir yang amat terkenal di Rusia, juga sepi. Hanya ada beberapa penjual yang berjualan, termasuk pedagang sate asal Tajikistan yang menceritakan kalau hanya kami yang makan satenya hari itu.

IMG_20200324_151445-01
Stasiun aja sepi begini

penjual sate Ismailov
Satu-satunya penjual sate yang buka di Ismailov

 

 

Ke Rusia Saat Corona: Welcome to Moscow

Bagaimana rasanya ada di Rusia saat Corona? 
Inilah yang saya dan kawan saya rasakan selama penerbangan dari Jakarta ke Oman dan dari Oman ke Moscow.

Bagaimana rasanya ada di Rusia saat Corona?

Kami sampai di Demodonevo Internasional Airport Moscow pukul 9 malam. Begitu mendarat, tak tampak ada penjagaan berlebihan di sini. Kami tak dicek suhu tubuh, tak ditanyai apa-apa, bahkan tak diminta mengisi surat apapun seperti halnya yang kami lakukan di Oman sehari sebelumnya. Melenggang bebas saja seperti biasa.

Yang nampak cukup “ramai” malah gate sebelah. Di sana tampak pasukan berbaju putih dengan Alat Pelindung Diri lengkap plus desinfektan di tangannya. Entah pesawat dari negara mana yang mendarat itu, karena saya tak memperhatikannya. Saya lebih fokus mencari bagasi belt yang  ternyata lumayan jauh dari tempat turun penumpang. Ya, ternyata bagasi belt di bandara terbesar di Moscow ini sampai puluhan. Ufff….

Di pesawat Oman Air, pramugarinya juga tak menggunakan masker. Hanya saat menyajikan makanan lah mereka baru menggunakan masker. Orang-orang di sekeliling saya juga tampak tenang-tenang saja. Hanya saya tampaknya yang sibuk. Memakai masker selama penerbangan, menyemportkan alkohol ke seluruh kursi, tray makanan, layar IFE, tombol jendela, hingga ke ke seatbelt.

Bodo ah, yang penting hati tenang


 

Moscow Demodenovo Airport
Moscow Demodenovo Airport

Para penumpang yang hilir mudik di bandara juga tak tampak mengenakan masker. Hanya kami, dan beberapa orang lainnya yang menggunakannya.

Memang, menurut kawan saya yang tinggal di sana, orang Rusia lebih cuek terhadap virus ini karena mereka pernah mengalami virus dahsyat sebelumnya. Apalagi, saat saya datang, belum banyak yang terkena virus ini.

Ya, sebelum jalan, saya sempat mengecek soal perkembangan virus Covid-19 di Rusia. Menurut data, hanya 34 orang yang terinfeksi virus di seantero Rusia. Dan jumlahnya sama seperti data sebulan sebelumnya.

Masih aman, ga terlalu signifikan perkembangannya, begitu pikir saya. Makanya saya berani memutuskan untuk tetap berangkat.


Yandex vs Aeroexpress

Di luar bandara Demodovo, juga tetap terasa biasa. Mobil-mobil yang kebanyakan berbentuk sedan masih hilir mudik mengangkut penumpang. Tukang-tukang taksi pun masih ramai berkerumun di pintu keluar bandara. Mengamati dan mendekati traveler yang bisa jadi calon penumpang mereka.

Beberapa supir mendekati kami, menawarkan taksi ke kota. Saya menggeleng dengan tegas, karena saya sudah memesan taksi lewat Yandex. Yandex ini adalah situs taksi online yang populer di negara Rusia dan negara pecahannya.

Saya pernah menggunakan ini sebelumnya di Uzbek dan Georgia, sehingga tak terlalu kesulitan dengan aplikasinya. Lagipula, ada translator otomatis di aplikasi ini, sehingga saya tak perlu bingung soal komunikasi dengan si driver.

Awalnya kami akan menggunakan AeroExpress, kereta express menuju kota. Namun setelah mempertimbangkan kepraktisannya, kami lebih memilih menggunakan taksi.

Kalau naik AeroExpress, kami mesti naik subway lagi, dan mesti menggotong koper yang lumayan berat ke atas. FYI, hampir semua stasiun subway di Rusia tidak memiliki eskalator, jadi siap-siap aja deh gotong-gotong koper.

Apalagi, harga kereta express ini tak terlampu berbeda dengan total yang kami keluarkan kalau menggunakan Yandex. Harga AeroExpress ini sekitar 450 rubel per orang, belum lagi ditambah harga subway sekitar 40 rubel per orang. Kalau berdua, totalnya jadi 980 rubel. Sementara kalau naik taksi, kami hanya perlu merogoh kocek sebesar 1100-1300 rubel. Ga beda jauh kan?


Nyaris Ditipu Driver Tua

Kami menunggu di tiang E, di luar pintu kedatangan, seperti janji saya dengan driver. Saya menggigil, menahan dingin karena hujan salju tiba-tiba turun dan suhu jadi minus sekian derajat. Walau jaket saya sudah lumayan tebal, saya tak pakai long john karena sebelumnya saya mampir di Oman. Susah ternyata pindah dari negara super panas ke negara super dingin begini.

Baca Juga: Persiapan Winter di Rusia

Tak lama, ada taksi kuning yang berhenti di depan kami, mengaku kalau itu adalah taksi pesanan kami.  Saya yang belum mengerti pelat nomer Rusia sempat terkecoh, karena di peta aplikasi, taksi yang saya pesan memang sudah sampai di depan saya.

Untung, tepat ketika saya akan menyerahkan koper saya ke si supir, mobil di belakang mengklakson dengan keras berkali-kali. Saya menengok kesal, tapi kemudian bersyukur, karena rupanya supir tua yang mengklakson itu adalah supir taksi yang saya pesan. Ufff…

Perjalanan ke Netizen Hotel tempat kami menginap selama di Moscow, lumayan lama ternyata. Sekitar satu jam perjalanan. Saya antusias memandang keadaan sekeliling walaupun sudah mulai gelap. Saat melirik ke aplikasi Yandex, saya kaget. Aplikasi saya mati. Taksi dianggap sudah sampai padahal kami baru berjalan selama 20 menit saja.

Rupanya, itu akal-akalan sang pengemudi, agar ia bisa menambah tarif lebih dari yang tertera. Tarif seharusnya, yang sempat saya ingat, sekitar 1100-1150 Rubel. Namun ia meminta 1300 rubel, yang akhirnya saya iyakan karena saya tak punya bukti tarif seharusnya. Lagipula, saat itu sudah malam dan saya sudah terlalu lelah. Dan lagipula, tarifnya “cuma” beda sekitar 150 rubel.

Saya sempat bertanya ke kawan saya yang tinggal di sana, katanya memang beberapa supir taksi sengaja melakukan hal itu agar bisa mendapatkan tarif lebih mahal dibanding seharusnya.

Aha, begitu rupanya. Welcome to Moscow then!

Baca Juga: Aurora Village Murmansk, Memandang Aurora dari dalam Igloo