Panduan Membuat Visa Azerbaijan

Untuk masuk ke Azerbaijan, penduduk Indonesia hanya diwajibkan membuat E Visa.

Dalam waktu kurang dari sehari, Visa Azerbaijan saya sudah siap saya gunakan.

Untuk masuk ke Azerbaijan, penduduk Indonesia hanya diwajibkan membuat E-Visa. Caranya gampang dan ga makan waktu lama, tinggal ikuti panduan yang ada di website resmi Azerbaijan.

Begini cara membuat E Visa Azerbaijan:

1. Masuk ke situs resmi

Situs resmi untuk membuat E Visa Azerbaijan adalah https://evisa.gov.az/en/. Begini penampakan halaman awalnya. Pilih tombol application yang ada di kiri.

Cara Membuat Visa Azerbaijan

2. Isi data awal

Isi nationality dengan Indonesia, passport dengan ordinary passport, dan number of entries dengan single entry kecuali kalian mau balik lagi ke sini.

Cara Membuat Visa Azerbaijan

3. Isi data lainnya

  • Purpose of visit: isi dengan tourism.
  • Consideration periode: kalau nggak terburu-buru, isi 3 hari aja. Kenyataannya, dalam waktu cuma sehari, e-visa ini udah saya dapatkan. Harga visa yang jadi dalam watu 3 hari sebesar 23 dolar, sementara kalau 3 jam harganya 50 dolar.
  • Starting date of e-visa validity: saya biasa mengisinya dengan tanggal sehari atau dua hari sebelum tanggal kedatangan yang betulan. Tujuannya agar kalau terjadi sesuatu, misalnya penerbangan saya dimajukan, saya masih tetap bisa masuk. Jangan khawatir, visanya berlaku lama kok, 9 bulan dari tanggal awal.
Cara Membuat Visa Azerbaijan

4. Isi data personal

Di sini banyak data yang diminta.

Ada surname (nama belakang/nama keluarga), given name (nama depan). Tanggal lahir, pekerjaan, email, alamat, nomer telepon, dan lain sebagainya.

Yang penting adalah, mereka minta bukti foto atau scan paspor. Foto atau scan paspor ini mesti jelas, ga boleh burem atau kena cahaya. Contohnya bisa diliat di bawah, itu saya ambil contohnya dari situs resmi e-visa Azerbaijan ya, bukan foto saya, apalagi foto si Babang.

Oiya, di bagian bawah ada pertanyaan penting lainnya: Have you ever visited the Nagorno-Karabakh and other regions of the Republic of Azerbaijan occupied by the Republic of Armenia since 1991 without an official permission of the Republic of Azerbaijan?

Ini tentu aja mesti dijawab dengan “no”, kalau mau visa Azerbaijan diapprove. Azerbaijan dan Armenia dari tahun 1991 memperebutkan wilayah ini. Jadi kalau pernah ke situ, dijamin akan ditolak mentah-mentah di Azerbaijan.

visa azer-4a
passport_valid_hint

5.  Email Verification

Kalau sudah submit, selanjutnya akan ada verifikasi yang dikirim ke email yang kalian cantumin tadi di form. Klik link yang ada di email, dan akan muncul halaman pembayaran.

Kalian bisa membayarnya dengan kartu kredit atau paypal. Saya memilih bayar dengan kartu kredit, walaupun saya punya paypal. Soalnya, rate paypal suka nggak masuk akal.

6. Terima Visa

Setelah bayar, akan ada email lagi yang berisi pemberitahuan kalau pembayaran sukses dan tinggal tunggu dikirim visa.

Walaupun saya membayar untuk visa yang jadi dalam waktu 3 hari, nyatanya, esok harinya saya sudah dikirimi email yang berisi pemberitahuan kalau e-visa Azerbaijan saya sudah jadi dan saya bisa mengunduhnya lewat link yang ada di email.

Mudah dan cepat, kan?

Baca Juga: Tempat Wisata di Baku Azerbaijan yang Cocok Bagi Muslim Traveller

Begini Cara Membuat Visa Turki

Perjalanan solo travelling ke Turki, Uzbekistan dan negara Kaukasus membuat saya mesti menyiapkan 5 visa.

Salah satunya adalah membuat e Visa Turki. Caranya sangat gampang dan cepat.

Perjalanan solo travelling saya ke lima negara (Oman, Turki, Azerbaijan, Georgia, dan Uzbeksitan) di bulan Juni lalu menyebabkan saya mesti menyiapkan banyak visa sebelum berangkat. Salah satu yang saya harus lakukan adalah membuat Visa Turki.

Ini kali ketiga saya ke Turki. Yang pertama, apply visa di Kedutaan Turki di Jakarta. Kedua, pakai e Visa, karena malas VoA di bandara.

Nah sejak tahun lalu, Turki tidak memperbolehkan lagi turis negara lain, termasuk Indonesia, masuk ke negaranya dengan menggunakan VoA. Semuanya harus menggunakan e Visa Turki yang bisa di-apply secara online melalui situs resminya.

Cara membuat e Visa Turki ini ga susah kok. Lebih susah nyari jodoh #halahcurhat. Hanya butuh koneksi internet dan kartu kredit. Ga punya kartu kredit? Pinjam punya teman.

Begini cara membuat e Visa Turki.

1. Masuk ke situs resmi Visa Turki

Situs resmi E Visa Turki
Situs resmi E Visa Turki

Situs resmi untuk membuat e-Visa Turki adalah https://www.evisa.gov.tr/en/ . Banyak situs yang mirip-mirip dengan ini, namun situs yang di atas ini adalah satu-satunya situs resmi  untuk membuat e-Visa Turki. Tampilannya seperti ini.

Hati-hati dengan website lain yang palsu dan hanya ingin mengambil data dan uang dari si peng-apply.

2. Klik Apply Now

Cara Mengisi E Visa Turki
Cara Mengisi E Visa Turki

Lalu isi asal dan kode yang terpampang di layar. Setelah itu, akan muncul halaman yang berisi nama negara dan jenis paspor. Isi dengan Indonesia dan ordinary passport.

Setelah itu, akan muncul halaman yang berisi tanggal kedatangan. Kalau saya sih, selalu mengisinya dengan tanggal tiga hari sebelum mendarat. Misalnya saya akan mendarat di Istanbul tanggal 27 Agustus 2019, maka saya isi tanggal kedatangan dengan 24 Agustus 2019.

Kenapa mesti dua hari sebelumnya? Untuk jaga-jaga aja, siapa tahu ada reschedule pesawat tiba-tiba dan kedatangan saya dimajukan sehari atau dua hari. Jangan khawatir, e-Visa Turki ini berlaku enam bulan dari tanggal kedatangan.

Pernah ada kejadian ketika saya ke Turki sebelumnya, ibu di depan saya ditolak masuk karena pesawatnya maju setengah hari. Akibatnya dia mesti menunggu di imigrasi selama setengah hari.

3. Isi Data Pribadi

Cara Membuat E Visa Turki
Cara Membuat E-Visa Turki

Setelah itu akan muncul halaman data pribadi. Isi sesuai data kalian, jangan pakai data teman apalagi mantan pacar.

Yang penting diingat adalah given/first name dan surname yaa.  Jangan ketukar seperti punya saya hingga akhirnya saya mesti senyum manis ke petugas imigrasi Turki yang ganteng.

Given/First Name(s): isi dengan nama depan (kata pertama). Misalnya nama saya kan Rahma Ahmad. Ya nama depan saya adalah Rahma. Kalau namanya ada tiga kata, misalnya Rahma Mawar Ahmad, maka yang ditulis di first name itu adalah Rahma Mawar.

Surname(s): isi dengan nama belakang (kata terakhir). Kalau ga punya nama belakang, alias namanya cuma satu kata aja, kosongin aja. 

Baca Juga: Transportasi dari bandara baru Istanbul

Setelah itu tinggal bayar sejumlah 25 USD (plus 1.05 biaya administrasi) via kartu kredit. Tunggu deh email dari Republic of Turkey yang menyatakan bahwa e-Visa Turki sudah jadi dan siap di-download dan dicetak.

Ingat, mesti dicetak ya, bukan cuma disimpan di hape aja.

Tip Apply E Visa Turki

  • E Visa Turki ini berlaku selama enam bulan dari tanggal kedatangan yang diisi, dan bisa digunakan untuk keliling turki selama 30 hari.
  • E Visa Turki ini sifatnya single entry , jadi kalau mau masuk Turki lagi setelah jalan-jalan ke negara tetangganya, mesti apply dua visa Turki yang berbeda.

Selamat jalan-jalan ke Turki!

Baca Juga: 8 Aplikasi yang Penting Saat Wisata ke Turki

 

Begini Cara Membuat Visa Iran di Kedutaan Jakarta

Bagi orang Indonesia yang akan mengunjungi Iran, harus memiliki visa Iran. Ada dua opsi yang tersedia untuk mendapatkan visa Iran. Yang pertama, membuat visa lewat kedutaan Iran di Jakarta. Kedua, membuat VoA alias visa on arrival setibanya di Iran. Saya memilih opsi yang pertama. Bagaimana caranya?

Akhirnya, setelah puluhan purnama tertunda, saya jadi juga menginjakkan kaki di Tanah Persia. Dari dulu emang saya pengen banget ke sini, tapi entah kenapa selalu ga jadi.

Nah, bagi orang Indonesia seperti saya yang akan mengunjungi Iran, harus memiliki visa. Ada dua opsi yang tersedia untuk mendapatkan visa Iran. Yang pertama, membuat visa lewat kedutaan Iran di Jakarta. Kedua, membuat VoA alias visa on arrival setibanya di Iran.

Saya memilih opsi yang pertama karena dari hasil yang saya baca, biaya VoA Iran jauh lebih mahal. Biaya membuat visa Iran di Kedutaan Jakarta hanya sebesar 20Euro, sementara jika membuat VoA harganya 45Euro. Alasan lainnya adalah karena penerbangan saya sampai di Iran dini hari dan saya khawatir antrian loket VoA-nya akan mengular jam segitu.


Dua bulan sebelum berangkat, saya dan kawan saya mendatangi kedutaan Iran di Jakarta. Lokasinya di Menteng, tak jauh dari taman menteng. Sebelumnya, saya sudah menelpon kedutaaan Iran dan mencari tahu syarat apa yang dibutuhkan untuk mengurus visa Iran. Saya sempat juga membaca blog soal ini, dan diminta menelpon staf kedutaan Iran yang namanya Pak Abdullah. Ada pula yang menyuruh menanyakan langsung ke Pak Hussain. Ternyata oh ternyata, Pak Abdullah dan Pak Hussain itu satu orang!

Nah, menurut Pak Abdullah Hussain, syarat visa Iran adalah:

  • Paspor asli dan fotokopi paspor halaman pertama
  • Dua lembar foto berukuran 3×4 dengan latar belakang berwarna putih. Jangan lupa, buat perempuan wajib pake jilbab.
  • Fotokopi KTP dan KK.
  • Formulir visa, bisa diunduh di sini atau ambil di Kedutaan.
  • Bukti tiket pesawat dan pemesanan hotel.
  • Itenerary di Iran (ini sebenernya ga diminta, tapi saya bikin aja biar meyakinkan)
  • Bukti keuangan 3 bulan terakhir.
  • Surat keterangan kerja (saya ga bikin 😀 karena kan sekarang saya freelance aja)

Ketika mengisi formulir, ternyata ada kolom yang menanyakan adakah kenalan di Iran dan jika ada, diminta mengisi alamatnya. Sebenarnya sih, kolom ini ditujukan hanya bagi yang akan menginap di rumah teman atau kerabatnya. Kalau menginap di hotel ya yang cukup menyerahkan bukti pemesanan hotel.

Walaupun sudah punya bukti booking hotel dari booking.com (yang langsung saya cancel begitu visa di-issued) saya tetap mengisi kolom “alamat kenalan di Iran”. Kebetulan saya punya beberapa teman di Iran yang dulunya kuliah di universitas yang sama dengan saya.

Selain itu, alasan saya mengisi ini adalah untuk “menyogok” pihak kedutaan agar visa saya di-issued. Pasalnya, walaupun tak lagi bekerja penuh waktu di media, di KTP saya tercantum bahwa pekerjaan saya adalah wartawan. Dan seperti halnya Cina dan Myanmar, harus ada izin khusus untuk wartawan yang masuk ke Iran. Nah, kawan-kawan saya ini dulunya adalah anak-anak dari para diplomat yang bekerja kedutaan Iran di Jakarta, sehingga saya gunakanlah nama mereka sebagai jaminan. 😀


Kedutaan Iran terletak di HOS Cokrominoto, di pojokan sebelum jalan Imam Bonjol. Pintu masuk untuk pengajuan visa berada di ujung kiri, berbeda dengan pintu masuk staff kedutaan.

Setelah mengisi buku tamu dan meninggalkan tas di satpam, saya dan kawan saya masuk ke sebuah ruangan. Di balik kaca ada seorang bapak berjanggut putih yang ternyata adalah Pak Abdullah Husin, bapak ramah yang mengangkat telepon saya.

Setelah menanyakan beberapa hal, formulir saya diambil. Sementara berkas saya sama sekali tak diperiksa. Mungkin karena salah satu kawan saya, yang ibunya pernah bekerja di kedutaan Iran, menelpon Pak Abdullah ini. Padahal, saya sudah deg-degan karena saya tak menyertakan bukti saya sedang bekerja. Menurut yang udah saya baca-baca di blog lain, berkas selain formulir memang akan dikembalikan, tapi setelah diperiksa.

Kemudian ada staf kedutaan lain yang masuk dan menanyakan beberapa hal yang rasanya tak pernah ditanyakan pada saya saat membuat visa lain. Alih-alih menanyakan itenerary, dia malah menanyakan harga tiket pulang pergi dan di situs apa kami membukingnya. Hehehe…

Pak Abdullah meminta kami menunggu sebentar di ruang tamu. Entah kenapa. Menurut kawan saya, dari yang dia baca di berbagai blog, tak pernah ada satu tulisan pun yang menceritakan soal menunggu ini. “Jangan-jangan visa kita langsung di-issued” kata kawan saya. GR sih karena ini ga terbukti sama sekali…

Sambil menunggu, kami membaca beberapa buah buku tentang wisata Iran yang sengaja diletakkan di sana. Gara-gara baca buku-buku ini, saya jadi menemukan destinasi yang tadinya tak ada di list saya.

Setelah menunggu selama 20 menit, Pak Abdullah menyerahkan selembar kertas kecil berisi nomer rekening dan jumlah yang harus dibayarkan. Pembayaran bisa dilakukan di BRI Menteng, yang lokasi dekat dengan kedutaan. Setelah membayar, slip kami kembalikan lagi ke Pak Abdullah.


Beberapa hari kemudian, di paspor saya sudah tertempel visa Iran. Dan saya dapat waktu tinggal 25 hari! Katanya siih, saya dan kawan saya beruntung bisa dapat waktu tinggal 25 hari, karena biasanya mereka hanya memberikan waktu tinggal 14 hari untuk yang apply di Kedutaan. Walaupun tak berngaruh karena kami pergi hanya 12 hari, tapi tetep aja terasa senang bisa dapat visa lebih lama dari yang lain. Yippi!

UPDATE: sekarang visa Iran bisa dilakukan secara online dan visanya berupa kertas saja, nggak ditempel seperti punya saya.

Membuat Visa Schengen di Kedutaan Belanda, Tak Sesulit yang Dikira

Bagi sebagian orang, visa schengen Eropa jadi momok yang menakutkan. Ada yang bilang, visa schengen Eropa susah didapat. Ada yang bercerita, visanya ditolak padahal syaratnya sudah lengkap. Bikin jiper.

Saya pun jadi deg-degan sebelum membuat visa schengen di Kedutaan Belanda ini. Apalagi, cap di paspor saya yang ini tak terlampau banyak, hanya ada cap dari Singapura, Malaysia, Cina, Turki, UAE, dan India. Paspor lama saya, yang ada paspor negara-negara maju macam Inggris, Jepang, dan Australia, hilang ketika saya pergi ke Chiang Mai dua tahun lalu.

Ternyata, prosesnya tak sesulit yang saya bayangkan. Saya cuma butuh waktu tiga hari untuk mendapatkan visa schengen Belanda di paspor saya. Ya, cuma tiga hari.

Ini dia caranya:

Pertama, tentukan negara tempat Anda akan meng-apply visa. Schengen meliputi hampir semua negara di Eropa, kecuali Inggris dan beberapa negara pecahan Rusia. Di mana mesti apply? Sebaiknya visa di-apply di negara yang nantinya paling lama ditinggali.  Misalnya nih, Anda akan pergi jalan-jalan ke 4 negara Eropa, di Belanda 5 hari, Perancis 3 hari, Italia 3 hari, Swiss 3 hari, maka applynya harus di Belanda. Kalau semuanya sama-sama 3 hari, maka apply-nya di negara yang pertama didatangi.

Saya mendarat pertama kali di Amsterdam, Belanda sehingga saya apply visa dari Belanda.  Katanya, Belanda ini negara Eropa paling gampang untuk apply visa. Asal syaratnya lengkap, visa orang Indonesia pasti disetujui. Mungkin karena jasa balas budi kali yaa…

Untuk apply visa Belanda, saya mendatangi kedutaan Belanda di Rasuna Said, Jakarta. Yang harus diperhatikan adalah, nggak semua visa Eropa mesti di-apply di Kedutaannya. Visa Italia, Spanyol, dan beberapa negara Eropa lainnya mesti di-apply di kantor VFS di Kuningan City.

Kedua, lengkapi dokumennya.  Syarat dokumen untuk visa Schengen Belanda sbb

Print-out penerbangan. Kalau ga pede visa di-approve, jangan dulu beli tiket penerbangan (tiket jangan di-issued). Beberapa agen perjalanan bisa melakukan booking tiket pesawa untuk keperluan visa. Saya belum pernah melakukannya, tapi beberapa teman saya berhasil melakukannya dengan membayar sejumlah biaya ke agen tersebut. Kalau saya kemarin, pede setengah mati. Saya langsung beli tiket dua bulan sebelum keberangkatan, dan kebetulan harganya tak terlalu mahal. Hahaha…untung di-approve visa saya, yaa…

Foto. Usahakan foto di tempat yang memang biasa mencetak foto visa. Foto harus berlatar belakang putih, berukuran 3,5×4,5 (kalau ga salaah, soalnya saya lupa ukuran pastinya) . Kalau memakai jilbab, jilbab jangan sampai menutupi alis dan jidat.  Saya bikin foto di fuji film di lantai dasar Mal Ambassador. Kenapa pilih di situ? Ga ada alasan khusus sih. Kebetulan aja lewat di sana dan saya melihat tulisan di depannya “foto untuk visa”, langsung deh saya masuk ke dalamnya.

Asuransi. Eropa menyaratkan asuransi dengan pertanggungan minimal E3000.  Untuk asuransi ini, saya pilih asuransi AXA Smart Traveller karena bisa beli online dan polisnya dikirim via email. Sebenarnya ada asuransi yang lebih bagus, tapi berhubung ga bisa online, saya akhirnya pilih Axa saja.
Harga untuk 11-15 hari sekitar $43, tapi saat itu diskon hingga harganya hanya $38. Lengkapnya soal asuransi perjalanan, saya tulis belakangan ya.  Tadinya saya akan beli paket family karena saya pergi dengan ibu saya, namun ketika saya telepon ke AXA, mereka bilang kalau yang dimaksud family itu adalah ayah-ibu dan dua orang anak yang umurnya di bawah 20 tahun. Saya ama ibu saya nggak termasuk keluarga karena umur saya sudah sangat-sangat lewat dari 20 tahun 😀

Bukti reservasi hotel. Saya pergi ke 6 negara, tapi yang saya sertakan hanya bukti hotel di 3 kota saja: bukti di Amsterdam, Paris, dan Roma.  Saya buking hotel via situs booking.com, lalu setelah visa di-approve semua hotel itu saya cancel. Hahaha…ketika membuking, saya pilih hotel yang keliatan oke (walau tak terlalu mahal juga). Aslinya, saya kebanyakan pakai airbnb, dan pakai hotel yang promo. Enaknya buking via booking.com ya ini, pesanan bisa dibatalkan sehari sebelum berangkat, tanpa biaya, tanpa kena pinalti.

Bukti keuangan 3 bulan sebelumnya. Ini penting dan riskan. Banyak yang visa Schengen-nya ditolak padahal dana yang ada rekeningnya cukup besar. Ternyata, penyebabnya adalah dana itu tiba-tiba muncul dalam jumlah besar. Yang sebenarnya dilihat si kedutaan bukan cuma jumlah dana yang ada, tapi juga flow keuangan. Kalau setiap bulan ada pemasukan yang jelas dan teratur, menandakan kalau si pengaju visa punya penghasilan dan pekerjaan. Kalau memang mau pinjam, sebaiknya diatur sebisa mungkin biar tak kelihatan kalau pinjam. Biar kere tapi cerdas :D.
Berapa jumlahnya? Di syarat yang ada di web, dalam sehari kita harus punya E34. Kalau 10 hari, berarti di tabungan harus ada minimal E340.

Surat keterangan dari tempat kerja. Ini penting untuk tahu apa benar si pengaju visa bekerja. Saya pakai surat kerja dari HRD saya, tapi ibu saya yang usianya tak produktif lagi tak menyertakan surat apapun. Yaiyalah ya..

Itenerary singkat. Saya sudah buat itenerary per hari. Ga perlu detail, yang penting terlihat kalau kita tahu di sana mau ngapain aja. Di kedutaan, nanti juga akan diberikan lembaran itenerary singkat. (Itenerary lengkap saya di Eropa, bisa lihat di tulisan saya: Itenerary Eropa Barat).

Ketiga, setelah dokumen lengkap, buat janji via internet via https://jakarta.embassytools.com/en/index .  Di situ ada pilihan hari dan jam untuk janjian. Dan ada tombol juga untuk individual atau family. Saya awalnya bikin janji untuk family, tapi ternyata sistemnya error sebelum saya selesai mengisi semua formulir. Ternyata, ini menyebabkan saya gagal dan mendapat email yang mengatakan kalau saya baru bisa membuat janji lagi 13 hari kemudian. Alamak!! Mepet…
Atas saran teman-teman di milis Backpacker Dunia, saya apply kembali besok paginya dan buat janji untuk individual. Untungnya berhasil..:D

Keempat, datang ke Kedutaan di waktu yang udah disepakati di perjanjian. Jangan sampai tak datang karena kalau ini yang terjadi, Anda baru bisa apply lagi 30 hari kemudian. Saya buat janji jam 8 pagi. Jam 7 teng saya sudah ada di sana karena rumah saya cuma selemparan galah dari Kedutaan Belanda. Saya pikir, akan ada antrian nomor dan saya bisa pulang lalu balik lagi 15 menit sebelum jam 8. Ternyata, antriannya berdiri, bo! Di luar pagar pula.

Begitu jam 8 teng, pagar dibuka. Saya pikir, saya akan langsung antri di depan loket seperti di kedutaan lainnya. Ternyata, ada ruangan perantara dulu. Di ruang ini saya mesti mengisi formulir. Dokumen yang saya bawa diperiksa kelengkapan dan susunannya. Yup, susunannya mesti sesuai aturan yang mereka tetapkan, kalau tidak, katanya saya mesti mengulang lagi antrian dari awal.

Begitu selesai urusan di ruang tadi, barulah saya masuk ke antrian loket. Yang menerima berkas saya adalah ibu-ibu yang ramah. Dia bukan bertanya apa tujuan saya ke Eropa, tapi begitu tau saya editor, dia malah cerita soal anaknya yang jago menulis. Hahaha…..

Tiga hari berikutnya, visa Schengen pun tertempel dengan indahnya di halaman dalam paspor saya. Legaaa..

Gampang kan membuat visa Schengen?

Update:

  • per Juli 2016, Visa Schengen Belanda harus dibuat di VFS Global. Di Jakarta, lokasinya di Kuningan City. Lebih lengkapnya bisa klik http://www.vfsglobal.com/Netherlands/Indonesia/Bahasa/index.html. Harganya jadi lebih mahal, yakni sekitar Rp1,2 juta.
  • Saya apply visa Schengen kedua kalinya via Spanyol. Dan cuma dapet 3 bulan multiple. Huhuhu….tapi ini masih mending sih dibanding teman-teman saya yang hanya dapat 3 hari. Ya, 3 hari doang!!

Gampangnya Bikin Visa Jepang

Mendapatkan visa Jepang ternyata cukup gampang. Dalam waktu 4 hari, saya udah punya stiker visa Jepang di sakah satu halaman paspor saya.
Ini dia langkah-langkahnya.

1. Siapkan semua dokumen yang dibutuhkan.
–  paspor asli. Kalo ada paspor yg lama, bawa juga
–  form pengajuan visa. Formulirnya nggak disediakan di sana, jadi harus didonlod di sini: formulir .
–  foto ukuran 4,5x 4,5, backgroundnya putih. Foto ini nantinya ditempel di formulir
–  fotokopi tanda pengenal (ktp)
– surat keterangan dari perusahaan
–  bukti pemesanan tiket dan buking hotel
–  formulir jadwal itenerary selama di jepang. Mereka juga nyedian formulir online yg bisa di donlod di sini: jadwal
–  bukti keuangan

2. Semua dokumen itu harus dalam ukuran A4, jd fotokopi ktp jgn dipotong. Setelah itu susun dokumen berdasar urutan di atas. Form visa pertama, bukti keuangan terakhir.

3. Dateng deh ke kedutaan jepang di Thamrin. Adanya persis di sebelah plaza Indonesia, gedungnya warna coklat. Kalau naik busway, turun di halte bunderan Hi. Untuk pengajuan visa, mereka buka dari jam 08.00-12.00, sementara buat pengambilan visa dr jam 12.00-15.00. Jangan lupa bawa ktp atau id buat dituker dgn ID tamu di pintu gerbang. Ga ada ktp, ga boleh masuk.

4. Ambil nomer, tunggu dipanggil. Ada 4 loket, 2 loket kayaknya buat warga Jepang, 2 loket buat non jepang. Waktu saya ke sana, antrian ga terlalu banyak. Saya datang jam 9 pagi dan dapet nomer 20. Jangan lupa bawa pulpen buat tanda tangan bukti (semacam kuintansi).

5. Setelah berkas diperiksa, bakal dikasih kertas buat ambil visa.

Empat hari kemudian, jadi deh visanya… Biayanya 350ribu buat single entry.
Ga ribet kan?

Visa oh Visa….

Buat orang Indonesia, seperti lo dan gue, urusan visa emang bikin ribet. Banyak cerita tentang gagalnya perjalanan karena visanya ditolak. Berdasarkan cerita orang-orang, negara yang paling susah ngeluarin visa adalah Amerika, diikuti Australia, Inggris, dan negara-negara Eropa lainnya (visa Schengen).

Sebenernya, apa yg bisa membuat visa ditolak? Hanya orang kedutaan dan Tuhanlah yang tahu. (hehehe…). Abis kadang-kadang, syarat udah lengkap, tapi tetep aja ditolak. Untung sih selama ini gue termasuk orang yang beruntung, visa selalu di-approve walau mepet.

Gue pernah nanya ama guide waktu gue ke Sydney, perihal visa ini. Dan dari hasil perbincangan ini, ada beberapa poin yang menurut gue penting buat kita semua:

1. Ga usah nyari dana nomplok
Setiap negara selalu mengajukan syarat ada sejumlah uang di rekening. Jumlahnya bermacem-macem, ada yang bisa mencapai puluhan juta. Nah, banyak yang akhirnya minjem duit buat memenuhi quota ini. Jadi di rekeningnya ada dana puluhan juta secara tiba-tiba.

Menurut si guide, yang kayak gini kemungkinan ditolak, walaupun secara syarat dia udah memenuhi. Sebenernya, yang diliat bukan jumlah total rekeningnya, tapi kondisi rutin keuangan kita. Maksudnya, mereka akan liat apa bener setiap bulan kita menabung (atau nerima gaji). Kalau setiap bulan menabung dengan pasti, itu menandakan kita bekerja, dan cukup uang selama liburan.

2. Bikin Mereka Yakin
Menurut guide gue, hal penting lainnya adalah bagaimana meyakinkan mereka kalau kita beneran mo liburan, bukan kerja. Nah, caranya bisa macem2. Bisa dengan menunjukkan semua bukingan hotel, tiket, dan itenerary di sana.

Bisa juga pake cara mbak2 yang gue baca di milis Indobackpacker. Dia mengkopi semua surat ijin, surat permintaan cuti, imel ke bosnya soal dia pengen cuti buat liburan. Dan, dia dapet visa ke Aussie walaupun tanpa bukti rekening.

Mengurus Sendiri Visa UK

Orang-orang bilang, visa UK adalah visa yang susah didapetin, apalagi buat orang-orang yang belum pernah menginjakkan kaki di benua Eropa dan Amerika, seperti gue ini. Apalagi, waktu yang gue punya buat bikin visa ini sangat-sangat mepet, cuma 3 hari man!! Ya, gue mesti berangkat ke London hari Rabu tanggal 31 Maret, sementara surat sponsor dari pihak Tune baru gue terima hari Kamis. Jadi hanya ada sisa waktu 3 hari kerja.

Awalnya gue akan menggunakan jasa agen travel, agar proses pengurusan lebih mudah. Tapi dua agen travel yang gue hubungi malah mempersulit gue dengan mengatakan “ga mungkin visanya bisa jadi. Normalnya butuh waktu 1-2 minggu.” (Huh…gue juga tau itu.Gue ga mau yang normal, itu sebabnya gue minta tolong kalian).

Akhirnya, gue dan temen gue memutuskan untuk mengurus sendiri visa UK ini. Ternyata, pengurusannya cukup mudah, dan ternyata hanya dalam 3 hari gue mendapatkan stiker visa di paspor gue..(lucky me).

Untuk mengurus visa inggris, kita ga mesti datang ke kedutaan Inggris di Menteng sana. Tapi cukup ke UK Border Agency (VFS Global) yang adanya di Plaza Abda Sudirman, Jakarta (di seberangnya Fx). Sebelum ke sana, kita mesti mengisi formulir aplikasi online di http://www.visa4uk.fco.gov.uk/ApplyNow.aspxNah, formulir online itu nantinya harus dicetak (print) dan disertakan bersama syarat-syarat lainnya. Syarat-syarat tersebut adalah:
– paspor asli (kalau ada paspor lama disertain juga), dan fotokopi paspor
– pas foto terbaru 3,5 x 4,5 dengan background putih (ditempelin di formulir)
– fotokopi akte lahir, KTP, kartu keluarga, kartu nikah (kalau ada).
– surat keterangan dari perusahaan (berkop dan asli)
– surat sponsor (kalau saya, ada surat sponsor dari Tune Hotel, yang menjelaskan mereka yang akan menanggung biaya hidup saya selama di sana).
– tiket pesawat. Nah, berhubung saya belum dikirimin tiket oleh Tune, saya nggak menyertakan ini. Tapi seharusnya sih disertain, tujuannya agar mereka yakin kita bakal pulang lagi ke sini.
– bukti booking hotel
– fotokopi buku tabungan dan rekening koran. Oya, kata travel agen yang batal saya pakai, untuk masuk ke UK, mereka meminta rekening minimal 50 juta.
– biar meyakinkan, sertain aja bukti2 kekayaan (haha..). Ada orang yang menyertakan BPKB, surat tanah, deposito. Tujuannya ya biar mereka tahu kita punya uang dan ga akan cari kerja di sana.
– jadwal selama di sana. Ini nggak diminta sebenernya, tapi gue masukin aja biar mereka tahu kalo gue punya jadwal yang sudah tersusun di sana.

Setelah semua syarat komplit, tinggal datang ke VFS tadi. Kantor VFS buka dari jam 08.00-15.00. Di satpam, kita akan dikasih nomer antrian. Waktu gue dateng sih nggak terlalu ngantri, jaid bisa langsung masuk ke dalam. Nah, di dalam ini, kita mesti menunggu panggilan di loket. Di sini, telepon nggak mesti dimatiin. Jadi, daripada bete nungguin, mending bawa buku deh..

Setelah dipanggil, petugas akan memeriksa kelengkapan syarat-syarat. Kalo ada yang kurang, dia akan meminta kita melengkapinya. Nah, gue kan lom punya tiket tuh. Dia bilang, dia menganjurkan untuk melengkapi dulu, baru ngajuin visa lagi. Tapi gue nekat, gue bilang, gue ambil resikonya karena udah nggak ada waktu lagi.

Selesai memasukkan formulir, kita mesti menunggu lagi untuk pengambilan biometrik. Karena saat itu nggak banyak orang, gue hanya nunggu selama 5 menit. Setelah pengambilan biometrik yang cuma makan waktu 2 menit itu, selesailah tugas kita. Selanjutnya tinggal berharap visa diapproval.

Oiya, biaya yang dibutuhkan adalah Rp 1.050.000 (untuk visa turis 6 bulan) ditambah Rp 25.000 buat biaya pemberitahuan lewat sms (optional)

Negara-negara Bebas Visa


Salah satu yang dirisaukan orang-orang yang ingin melancong ke luar negeri adalah urusan visa. Bagi pemegang pasport Indonesia seperti saya, urusan visa mejadi hal yang rumit karena banyak negara yang enggan mengeluarkan visa bagi pemegang pasport hijau ini.

Tapi ada beberapa negara yang sudah melakukan perjanjian kerjasama bebas visa dengan Indonesia. Jadi, nggak perlu ribet dengan urusan visa yang makan biaya dan tenaga. So, check this out.

Asia 

Brunei – 14 hari
Hong Kong – 30 hari
Macau – 30 hari
Malaysia – 30 hari
Filipina – 21 hari
Singapura – 30 hari
Thailand – 30 hari
Vietnam – 30 hari

Afrika
Maroko – 90 hari
Seychelles – 30 hari

Oseania

Fiji – 120 hari
Mikronesia – 30 hari

Amerika Selatan
Chile – 90 hari
Kolombia – 90 hari
Peru – 90 hari