A-Z dan Tip Backpacking ke Kamboja (Phom penh, Angkor Wat) dan Ho Chi Minh

Tip Backpacking ke Kamboja

Di September 2010, saya berkesempatan backpacking ke Angkor Wat, Kamboja bersama 3 orang travelmate saya. Rute perjalanan saya kali ini adalah Jakarta menuju Ho Chi Minh dengan Airasia. Dari Ho Chi Minh saya menggunakan bus selama 12 jam menuju Siam Reap. Dari Siam Reap saya naik bus lagi selama 6 jam menuju Phnom Penh, sebelum pulang ke Jakarta via Kuala Lumpur.

Berikut ini beberapa ringkasan dan tip mengenai Backpacking ke Kamboja (Phom penh, Angkor Wat) dan Ho Chi Minh, yang saya kumpulkan dari berbagai sumber.

Ho Chi Minh

WHERE TO GO
  • Independence Palace
  • Museum Ho Chi Minh
  • Jade Pagoda ( kaya klenteng) mesti naik taxi ,karena nda tahu pasti lokasinya –> Gunakan MaiLinh taxi dan Vinasun taxi .
  • Notre Dame Cathedral yang berada di pusat kota (hati2 nyebrangnya) dan kantor Pos megah yang ada pas di sebelah Notre Dame.
  • War Remnants Museum untuk melihat kekejaman perang di Vietnam.
  • Reunification Palace (yang seru malah bunker bawah tanahnya) –> Ingat hampir semua museum di Vietnam beroperasi dari pagi sampai jam 12, terus tutup untuk makan siang dan buka lagi sekitar jam 2an. Harga tiket masuk ke museum2 ini VND 15.000/org.
  • Ben Thanh market, kalau malam hari lapak2 makanan banyak banget, harga juga bersaing. Menu biasanya udah di pajang lengkap sama foto dan harga, jadi kita tinggal tunjuk aja. Belanja juga di Ben Thanh aja, nawarnya yang giat yah.
  • Cu Chi Tunnel –> ikut tur aja, sekitar 4-5 dolar (stgh hari). Ada juga yang digabung dengan tur ke Chao Dai Temple, klenteng 3 agama. Kalau yang ini butuh waktu seharian.
TIP
  • HCMC-Phnom Penh bus tiketnya US$10-12 (plus visa cambodia diurus orang bus $US24–harga visa $US20+ jasa $US4). Perjalanan 6 jam. Sebaiknya staydi backpacker area De Tham atau Bui Vien Street di HCMC. Agen bus ada banyak di sana.
  • Di De Tham Street HCMC/Saigon (backpacker area-district 1) cari The Sinh Tourist ya. Di Saigon cuma 1 di De Tham street itu.
  • Masuk kamboja pake visa tapi gak mesti ngurus di jakarta kok di sana juga bisa.. aku byr 25 dollar sama org sinh touristnya dan semuanya dia yg urus 10 menit bis jalan org Sinh Touristnya br mulai tnyain siapa-siapa aja yg blm punya visa.. paling nanti diperbatasan tinggal cap paspor periksa bagasi dan cek suhu tubuh..
  • Utk makanan di HCM, perlu dicoba yang namanya mie vietnam pho hoa
  • Kalo di HCMC, yg saya tahu di Jalan Pham Ngu Lao, byk biro perjalanan. Saya wkt itu pake Vung Tau Tourist, pelayanannya bagus dan mau digerecokin. Tapi tetap,mesti hati2 juga milih biro perjalanan.
  • Untuk makanannya, disana banyak macem2 mie gitu deh, dan berasnya juga enak. dan puas2in makan dragon fruit deh
  • HCM ke SR: (1) direct ke SR biasanya sleeping bus (25-30USD), lama perjalanan direct sekitar 12 jam. bus paling akhir berangkat pk.14.00, (2) sitting bus (20USD), HCMC – PP (9USD). bus paling akhir berangkat pk.15.00 (Samco bus).
  • HCMC-Phnom Penh bus tiketnya US$10-12 (plus visa cambodia diurus orang bus $US24–harga visa $US20+ jasa $US4). Perjalanan 6 jam. Sebaiknya stay di backpacker area De Tham atau Bui Vien Street di HCMC. Agen bus ada banyak di sana.
  • Ada transportasi bus dari Ho Chi Minh (HCM) ke Siem Reap tapi makan waktu lama dan Anda harus melalui Phom Penh dulu. HCM-Siem Reap 6 jam. (Beli tiket di De Tham/Bui Vien Street banyak agent bus kok) Brangkat jam 07.00, 08.00 dan 13.00 harga tiket bus berikut visa masuk Cambodia 23-24$US. Anda tinggal duduk di dalam bus karena yang ngurus awak bus. Ntar di border Cambodia baru turun untuk dicek petugas orangnya yang punya paspor ini ada apa nggak di dalam bus.
  • Waktu aku di saigon, aku ditawari 2 buah model transportasi ke PP, yang satu seharga U$6 (kita harus urus imigrasi sendiri) yang satu lagi U$13 (urusan imigrasi ada yang mengatur). Mereka dengan cueknya menyelesaikan paspor2 yang diberikan oleh calo terlebih dahulu yang memakan waktu sangat lama.
  • Jangan lupa bawa bekal dari saigon, karena bus nggak berhenti untuk makan siang.
  • Bawa uang receh one US dollaran yang banyak karena di sana lebih laku dollar daripada mata uang mereka. dan ni uang ngga bisa dituker dimana2, jadi rugi kalo kebanyakan nuker duit sono. kalo nuker juga DITIPU mulu. jatuhnya uang dollar elo jadi anjlok banget.

Phnom Penh      

WHERE TO GO
  • Russian market (mirip dgn ben than market)
  • Museum Tual Seng
  • Foreign Correspondence Market (FCC)
  • Independence monument
  • Wat Phnom
  • Bong Kaek Lake
  • Hotel yang dulu jadi tpt ngungsi org2 asing waktu jaman Khmer merah,
  • Psar Thmey
  • Old Market,
  • Musium-21 (2USD)
  • Killing Field / Choeung Ek Genocidal Centre (3USD),
  • Royale Palace + Silver Pagoda (1 area, biayanya kalo tdk salah 6,5USD termasuk biaya camera).
TIPS
  • Dari PP ada beberapa bus yang ke SR, saya sarankan Mekong Express (11 USD), waktu itu saya berangkat pk.14.00 tiba sekitar pk.21.00 di SR.
  • Phom Penh-Siem Reap tiket dibeli di Preah Sisowath Road (tinggal di sini aja banyak hotel murah–kawasan RIVER SIDE), harga tiket $US5-7, perjalanan 5 jam.
  • Di Phnom Penh, sewa Re-mok, kayak tuktuk di Thailand gitu, sehari 12-15 dollar. sudah bisa kemana2, nongkrong di belakang sopir nyante2, gak mikirin jurusan. Waktu itu saya dari jam 9 pagi sampai jam 6 sore bayar 15 dollar. dah masuk bensin dll.
  • Untuk urusan visa masuk ke Laos dan Kamboja, sebaiknya bayar pakai USD. Karena kalau bayar pakai Baht, akan jauh lebih mahal. Sebab mereka memakai patokan kurs semaunya. Tahun lalu saya membayar visa on arrival Kamboja US$ 25 ( setara dengan 900 baht, waktu itu.
  • Di PP, coba hubungi Mas Firdaus, dia orang indonesia dan sudah 14 tahun di sana. Dia kerja di Bali Cafe GH, tapi sayang Bali Cafe GHnya baru saja tutup dan dia buka restoran lagi. No hpnya mas Firdaus +85512967480*. Orangnya baik sekali. Bilang saja taunya dari Andri.
  • Untuk sewa tuk2 itu per harinya 15 USD (dari jam 8.00pagi sampai jam 4.00sore)
  • Tidak usah tukar Riel (Mata uang Cambodia), karena metoda pembayaran menggunakan USD.
  • Dari Phnom Penh menuju Siam Reap naik bus sekitar 7 jam juga harga busnya sekitar 12 $US.
  • Untuk Kamboja, bila naik bis memang lebih baik naik Mekong Express daripada Cambodia Angkor Express
  • Beberapa info yg masuk ke milis ini bilang bahwa dari thailand ke kamboja lebih rumit daripada jalur vietnam ke kamboja di karenakan banyaknya scam bus di thai ditambah lagi dengan pengurusan visa on arrival (saya baca di blognya mbak Dyah Elok, untuk pengurusan visa yang diatur oleh biro perjalanannya sepertinya ngga ribet dan hanya kena $20 dan $4 untuk jasa pengurusan oleh biro perjalanan tersebut).

Siem Reap  

WHERE TO GO
  • Angkor wat dan Angkor Thom –> ini sudah butuh seharian penuh (biasanya berangkat jam 5 subuh selesai jam 4 sore, pakai tuktukt 10-13 dollar, masuk angkor bayar 20$)
  • Malamnya ke night market atau jalan2 disekitaran pasar lihat2 cafe
TIPS
  • Kalo mau ke Angkor Wat, saya sarankan untuk datang ke sana pagi2 banget pukul 05.00 start dari hotel. Pesan tuk tuk malam sebelumnya. Biasanya mereka mau dicarter seharian dari pukul 05.00-19.00 (sampai sunset dengan 10-15$US). Ratusan backpackers sudah berjajar di depan Angkor Wat sejak 05.00. Jam 9 sebaiknya bergerak ke komplex candi lainnya misalnya ke Bayon Temple, Ta Phrom tempat shooting Tomb Rider Angelina Jolie. Dan setelah pukul 14.00 balik lagi ke Angkor Wat karena udah nggak backlight untuk ambil gambar. Menjelang pukul 18.00 naik ke Phnom Bakeng untuk nonton sunset..
  • Di Siem Reap, nginap saja di kawasan dekat Old Market (dari terminal bus naik tuk tuk $US2). Di Old Market ini banyak bar yang cozy buka sampai lewat tengah malam.
  • Cobain dragon fruit jusnya, enak bgt.
  • Biaya masuk angkor wat, 20 dollar.
  • Sebaiknya di SR kamu udah booked hotel karena terminal busnya agak jauh dr pusat kota & SR kalau malam rada sepi gitu, kecuali daerah Old Market (backpacker area).
  • Kalau naik tuk2 dr terminal ke pusat kota kena sekitar 6USD/orang

Backpacking ke Kamboja dan Vietnam: Hotel di Ho Chi Minh

hotel ho chi minhdefault

Dalam perjalanan Backpacking ke Kamboja dan Vietnam September 2010 lalu, saya  mampir di Ho Chi Minh Vietnam. Kami sengaja mengambil rute ini untuk menuju Kamboja. Ya, tujuan utama kami memang untuk melihat Angkor  Wat di Kamboja yang terkenal karena film Tomb Rider.

Sebanarnya, ada dua alternatif yang bisa kami pilih untuk menuju ke Angkor Wat. Alternatif pertama adalah rute dari Jakarta menuju Kuala Lumpur untuk kemudian langsung menuju Siam Reap. Namun berhubung saya dan kawan-kawan sedang bosan-bosannya dengan Kuala Lumpur itu, kami memutuskan untuk nyari alternatif lain untuk menuju Angkor Wat.

Rute termudah yang berhasil kami temukan adalah Jakarta menuju langsung ke Ho Chi Minh Vietnam. Dari Ho Chi Minh kami akan naik bus menuju Siam Reap. Pulangnya, kami akan naik bus lagi dari Siam Reap ke Phom Penh, sebelum bertolak kembali ke Jakarta via Kuala Lumpur.

Kami memilih rute ini dengan beberapa alasan. Pertama, penerbangannya langsung dari Jakarta, sehingga kami tak perlu bermalam di LCCT lagi (note: kala itu bandara airasia belum pindah ke KLIA2). Kedua, saya sebenarnya belum pernah ke Ho Chi Minh, jadi ga apapalah menuju ke sini. Yang ketiga, saya juga bisa bertandanga ke Phom Penh.

Muter-muter sih, yang penting murah…


Kami sampai di Ho Chi Minh malam hari. Kawan saya membuking hotel di Ngoc Linh, salah satu hostel yang berada di daerah Pham Ngu Lao. Di jalan ini memang banyak sekali hostel murah, ya bisa dibilang daerah backpacker gitu deh. Dari sini, juga dekat dan gampang ke mana-mana. Selain itu, di Pham Ngu Lao juga banyak agen tur dan agen bus seperti Sinh Tourist, Mylinh, dan sebagainya.

Hostel Ngoc Linh, yang kami tempati itu lumayan juga, harganya 20 dolar/malam (twin). Kami memesan kamar standar, namun karena si mas-masnya salah memasukkan data, kami mendapat kamar yang lebih bagus, lengkap dengan bathtub. Tapi ini kata si masnya loh, jangan2 emang harga kamarnya segitu.

Dari bandara, kami meminta jemputan dari hostel dengan harga $ 14/mobil. Lumayan, karena kami jalan berempat, satu orang hanya membayar $3,5. Daripada naek taksi atau bus, lebih baik ini karena lumayan jauh juga jarak dari bandara ke tengah kota.

Ngoc Linh Hostel

283/21 PHAM NGU LAO STR
DIST.01 HCM CITY, VIETNAM
TEL: (84-8) 3837.5159 -3920.7874

Backpacking ke Kamboja dan Vietnam: Kaki Keram di Chu Chi Tunnel

Objek utama Ho Chi Minh adalah Chu Chi Tunnel. Terowongan bekas Vietkong ini amat terkenal sehingga banyak sekali paket yang menawarkan tur ke sana. Saya dan kawan-kawan mengambil paket dari hotel saya di Ho Chi Minh dengan harga 5 USD. Harga ini tidak termasuk tiket masuk ke Chu Chi Tunnel dan makan

Objek utama Ho Chi Minh adalah Chu Chi Tunnel. Terowongan bekas Vietkong ini amat terkenal sehingga banyak sekali paket yang menawarkan tur ke sana. Saya dan kawan-kawan mengambil paket dari hotel saya di Ho Chi Minh dengan harga 5 USD. Harga ini tidak termasuk tiket masuk ke Chu Chi Tunnel dan makan. Hanya jasa nganter doang sih..

Sebenarnya banyak jasa tur lain yang menawarkan paket serupa, dengan harga sekitar 4-5 dolar. Tapi berhubung kami malas mencari tur lagi, plus waktu kami di sana hanya sebentar, kami memutuskan untuk ikutan tur ini.

Baca: Hotel di Ho Chi Minh

Selain paket ke Chu Chi Tunnel ini, sebenernya ada paket yang sekaligus mengunjungi Cao Dao Temple, kuil yang digunakan 3 agama sekaligus sebagai tempat sembahyang. Dari foto-foto yang saya lihat, bangunannya sangat artistik dan keren. Bangunannya berwarna cokelat dengan gaya yang mirip istana grand palace di Thailand. Tapi yang paling menarik adalah prosesi sembahyang yang diadakan di waktu tertentu.

Pengen banget sebenarnya saya ikut tur ini. Tapi sayangnya, waktu yang dibutuhkan untuk mengunjungi kedua objek di atas mesti seharian, sementara kalau hanya mengambil paket Chu Chi Tunnel, jam 2 siang kami sudah bisa kembali ke Ho Chi Minh.  Nah, berhubung waktu kami amat sangat mepet, dengan terpaksa kami mengabaikan tawaran menarik itu. Hiks


Jam 8 pagi, seluruh peserta sudah berkumpul di depan hostel. Banyak juga ternyata pesertanya, termasuk dua orang cowo Jerman yang ganteng, yang duduk di sebelah saya. Salah satunya masih ABG ting-ting. Ia menggunakan celana merah, dengan sepatu dan kacamata gaul yang warnanya sama dengan warna celananya itu.

Ada juga serombongan ibu-ibu entah dari negara mana yang selalu melihat saya dengan pandangan takjub. Sepertinya mereka belum pernah meliat orang menggunakan jilbab kali ya, jadi mereka sangat heran melihat saya yang tertutup dari atas sampai bawah di hari sepanas itu. Sementara yang lainnya bermini-mini ria. Hihihi..

Rombongan kami dikawal oleh seorang guide yang rada menyebalkan. Dia lebih senang mengobrol dengan ibu-ibu dan bapak-bapak, yang jelas koceknya lebih tebal dan lebih royal ketimbang kami, para backpacker muda. Dia selalu duduk di dekat mereka, dan tak peduli dengan anggota tur yang lainnya. Konon, itu khas tur guide Vietnam dan negara-negara berkembang lainnya. Mata duitan..

Sebelum mengunjungi Chu Chi Tunnel,  kami dibawa menuju ke sebuah tempat pembuatan kerajinan tangan di daerah Binh Tan. Uniknya, pembuat kerajinan tangan di sini adalah difabel. Salut melihat mereka bekerja dengan terampilnya, melukis dan menghasilkan kerajinan yang indah.


Setelah puas melihat para pekerja hebat itu, kami akhirnya dibawa menuju tujuan utama: Chu Chi Tunnel. Untuk masuk ke sana, kami diharuskan membeli tiket terusan seharga 5000 VND  (kurang lebih Rp 25.000).  Dengan tiket ini, kami diajak mengelilingi area Chu Chi Tunnel,  yang masih penuh dengan pepohonan tinggi.

P1230258.JPG
jebakan di tanah yang dibuat dari bambu

Sebelum masuk ke dalam terowongan, kami dibawa ke sebuah ruangan berdinding bata beratap jerami, untuk melihat video mengenai sejarah terowongan ini. Sebagai anak guru sejarah yang tiap hari dicekoki sejarah mengenai Vietkong ini, saya jadi tak tertarik mendengarnya. Sudah hapal.

Selepas dari ruang video, kami dibawa melihat diorama-diorama para Vietkong. Ada diorama penduduk yang sedang memasak, membuat peluru, dan sebagainya. Menurut saya sih, lebih bagus diorama di Monas, lebih halus pekerjaannya. Yang ini kasar, hanya saja dia dibuat di habitat aslinya dan ukurannya sebesar  manusia betulan.

Setelah itu, kami diajak menyusuri hutan melihat senjata-senjata yang digunakan oleh Vietkong. Ada bambu runcing, ada jebakan di tanah yang terbuat dari bambu dan racun. Bule-bule itu sangat kagum melihat senjata sederhana dari bambu ini. Sementara kami, yang asalnya dari negeri ’45, merasa biasa aja mendengar penjelasan si guide yang berapi-api itu. Nenek moyangku pake begitu juga pak…

Oh iya, guide-nya ini bukan lagi guide yang tadi membawa kita dari hotel. Melainkan seorang bapak-bapak yang dulu pernah mengkhianati Vietnam dengan menjadi tentara Amerika dan membunuh teman senegaranya. Dan sekarang, dia mencari uang dari hasil karya orang yang dibunuhnya.

Kejam nggak tuh si Bapak..


Sebelum masuk ke dalam terowongan, kami dibawa menuju sebuah lubang kecil tempat tentara Vietkong bersembunyi ketika sedang berpatroli. Ini lubang bener-bener kecil. Berbentuk persegi empat, dengan kedalaman kurang lebih 1,6 meter. Karena penasaran, saya mencoba masuk ke dalam sini. Masuknya sih gampang, karena ternyata lubangnya masih lebih besar dari badan saya (hehe..sok langsing). Namun ternyata keluarnya… ampun susah banget. Karena tinggi lubang ini 1,6 meter, dan badan hanya bisa masuk hingga ketiak, kaki saya tak bisa mencapai dasarnya. Saat saya ingin keluar dari lubang dengan menumpu pada tangan, kaki saya tak bisa membantu menaikkan badan saya ke atas. Alhasil, dua cowo bule ganteng harus menarik saya keluar dari lubang itu. Dan setelah saya berhasil keluar dengan sukses, semua orang bertepuk tangan dan bersorak gembira. Hehehehe

P1230265.JPG
sebelum ga bisa naik 😀

Tujuan terakhir adalah terowongan. Dari penampang terowongan yang ada di ruang video tadi, terlihat kalau terowongan ini terbagi menjadi 3 level. Di sinilah bangsa Vietkong bersembunyi dan bergerilya melawan tentara Amerika. Konon menurut si guide, ada seorang ibu yang terpaksa membunuh anak bayinya yang menangis, agar tangisannya tidak terdengar tentara Amerika yang ujung-ujungnya bisa membahayakan keselamatan semua orang.

Tragis.

Terowongan ini kabarnya sangat panjang. Katanya panjangnya mencapai berkilo-kilo meter, namun yang boleh dimasuki turis hanya sepanjang 500 m aja.  Masuk ke terowongan ini sifatnya optional, turis yang tak mau ikut masuk bisa menunggu di pintu keluar. Di sepanjang terowongan juga ada semacam pintu darurat untuk turis-turis yang mungkin mengalami klaustrofobia atau tiba-tiba ketakutan dan ingin keluar.

Saya tak tahu persis berapa tinggi terowongan ini. Yang jelas, untuk melewatinya saya harus berjalan sambil berjongkok. Tak bisa berdiri, walau sambil membungkuk.  Saya dan seorang kawan saya yang ikutan sih tenang-tenang saja. Tapi tak demikian halnya dengan para bule, yang harus berjuang berjongkok dengan kaki panjangnya. FYI aja, bule tuh ga bisa jongkok loh…

P1230296.JPG
Aslinya ini gelap gulita. Saya foto asal pake blitz dan ini hasilnya.

Saya pikir semua orang dalam rombongan kami masuk ke terowongan ini. Ternyata hanya ada enam orang yang masuk hingga titik akhir. Saya, kawan saya, sepasang bule Amerika, dan dua orang turis lain yang tampaknya berasal dari negara latin atu negara mediterania. Anggota rombongan yang lain ada yang memang dari awal tak masuk, ada yang menyerah di depan pintu masuk, ada juga yang mundur di tengah jalan, termasuk dua cowok Jerman alay itu. Makanya, begitu saya dan kawan saya keluar dengan peluh di seluruh  tubuh dan baju yang kotor, orang-orang yang lain langsung bertepuk tangan dengan riuhnya.

Hahaha….berasa  jagoan ga tuh. 

Pengalaman masuk ke terowongan sambil jongkok sejauh 500m ini ternyata seru. Hasilnya, keesokan harinya paha dan kaki kami keram.

Baca juga: A-Z Backpacking ke Kamboja dan Vietnam

Backpacking ke Kamboja dan Vietnam: Seharian di Angkor Wat

Hanya satu dua hari kami berada di Siam Reap. Tujuannya hanya satu, melihat kompleks bersejarah Angkor.

angkor wat sunrise

Hanya dua hari kami berada di Siam Reap, Kamboja. Tujuannya hanya satu, melihat kompleks bersejarah Angkor Wat.

Perjalanan backpacking Kamboja dan Vietnam kami berlanjut. Dari Ho Chi Minh, Vietnam, kami naik bus selama 12 jam menuju Siam Reap, Kamboja.

Di Siam Reap, kami menginap di daerah Old Market. Dari beberapa rekomendasi hotel yang diberikan, akhirnya kami memutuskan menggunakan Hotel Popular Guest house Siam Reap. Pertimbangan kami, hotel ini tak jauh dari old market, dan beberapa market lainnya. Juga tak jauh dari jalan raya menuju Angkor Wat, dan paling murah di antara hotel yang lain. 

Dari hasil nego kawan saya, Keshie, pemilik hotel di Siam Reap ini bersedia menjemput kami di kantor Sinh Tourist, yang ternyata lumayan jauh dari hotel. Kami dijemput dengan menggunakan tuk-tuk, dengan supir yang bernama Wandi. Wandi ini tampangnya persis orang Indonesia, tapi sok manis dan sok merayu. Dia pernah bilang ke kawan saya, “Your smile like a sunshine, heating my heart”. Ishhh…

Hotelnya sebenernya lumayan, tapi kamar yang diberikan ke kami kurang memuaskan. Awalnya sih kami akan diberikan kamar di lantai dua (yang menurut analisa kami itu kamar yang lebih bagus). Tapi paha saya dan kawan saya Keshie sakit akibat merangkak di Chu Chi Tunnel kemarin. Jadilah kami meminta kamar yang ada di bawah saja. Mereka sempat agak bingung sih, mungkin karena kamar yang di bawah kualitasnya tak sebaik yang di atas kali ya.

Sebenernya, kamar saya lumayan untuk harga sangat murah,  hanya agak berdebu dan panas (karena tak ada AC). Kamar dua kawan saya yang lain tampaknya lebih parah karena terletak di sebelah dapur. Pastinya lebih lembap, panas, dan gelap ….

Baca Juga: Backpacking ke Kamboja dan Vietnam: Bus Phnom Penh yang Penuh Drama


Oya, si Wandi itu, sang supir tuk-tuk ternyata menjemput kami bukan tanpa pamrih. Ada udang di balik bakwan goreng. Dengan menjemput kami tadi, dia mengharapkan kami akan memakai jasa dia untuk berkeliling Siam Reap. Sesaat setelah sampai di hotel, dia langsung ngajak kami membicarakan “our business plan for tomorrow”.

Untuk menuju ke Angkor Wat, dia membandrol harga $20. Menurut dia, itu harga yang murah, dan dia tak mau memberikan harga yang mahal yang mesti kami tawar. Dari hasil gugling di internet, tarif yang normal berkisar 10-15 dolar. Makanya, kami langsung menolak tawaran itu dan mencoba menawar di angka 10.

Tampang dia, yang semula ramah, berubah menjadi menyebalkan. Dia menolak mentah-mentah tawaran kami. Namun sebagai emak-emak yang doyan belanja di tanah abang, kami tak gentar dengan taktik begini. Kami segera pergi, keluar dari hotel untuk jalan-jalan dan cari makan. Sesuai perkiraan, dia langsung mencegah kami dan mengatakan kalau harganya bisa turun. Setelah perdebatan alot, akhirnya kami sepakat di angka 13. Angka yang aneh dan nanggung.


Pagi-pagi buta (jam 4.30), Wandi menjemput kami di depan hotel. Kami memang minta dijemput pagi agar bisa menyaksikan sunrise di Angkor Wat yang termahsyur itu.  Setelah perjalanan melewati jalan-jalan yang gelap, setengah jam kemudian kami sampai di depan gerbang kompleks Angkor. Wandi membantu membelikan kami one day pass ticket di loket, seharga $ 20 per orang. Lumayan mahal memang.

Selain tiket one day pass, dijual juga ticket pass untuk 2 hari, 3 hari, seminggu dan sebulan! Banyak yang bilang, sehari tak akan cukup untuk mengitari Angkor. Memang iya sih, kalau dari awal sudah berniat mengelilingi seluruh komplek Angkor ini. Tapi kalau saya sih, sehari juga sudah cukup. Bosen kaan liat candi melulu.

Oiya, sebagai informasi, Angkor adalah nama kompleks seluas 400 km yang berisi ratusan candi peninggalan Raja Hindu yang dibangun dari abad ke 9 hingga abad ke-15. Salah satu candi di sini, yang paling terkenal, adalah Angkor Wat. Selain itu, masih banyak candi lain yang ada di kompleks ini misalnya Angkor Thom dan Ta Phrom, tempat syuting film Lara Croft.

Wandi mengajak kami ke tujuan pertama hari itu: menyaksikan matahari terbit di lotus pond alias kolam teratau di depan Angkor Wat. Sesampainya di sana, suasana masih gelap namun sudah banyak sekali orang yang berkerumun di depan danau, mencari spot yang tepat untuk mengabadikan keindahan Angkor Wat. Tempat-tempat terbagus biasanya sudah diisi oleh bangku-bangku yang disewakan oleh ibu-ibu penjual makanan. Tapi jangan khawatir tak mendapatkan spot, tempatnya luas kok. Kalaupun ga dapet, nyelip aja di antara bangku-bangku itu :p.

Memang, saat matahari muncul, Angkor Wat menjadi sangat indah. Bentuk candi, yang tadinya gelap tak terlihat, sedikit demi sedikit muncul sebagai siluet, dengan latar belakang langit yang kemerahan. Yang lebih keren, bayangan candi juga muncul di lotus pond. Mistis…

FB_IMG_1587209920345 (4)

P1230867.JPG

Selepas dari Angkor Wat, kami melanjutkan perjalanan ke Angkor Thom atau dikenal juga dengan nama Bayon Temple.  Candi ini terkenal karena banyak patung four budha faces (patung budha dengan empat sisi), yang dipercaya membawa keberuntungan dalam hidup. Sewaktu di Thailand dulu, saya pernah diberitahu arti masing-masing wajah. Tapi lupa total.

Tujuan selanjutnya adalah Ta Phrom, tempat yang dijadikan setting Lara Croft dalam Tomb Rider. Yang sudah nonton filmnya pasti tau dong seperti apa candi ini. Yup, Ta Phrom adalah sisa-sisa candi yang berada di antara akar pohon besar.

P1230832.JPG
Ta Phrom

Perjalanan dilanjutkan dengan mengelilingi dan datang ke beberapa candi lain (yang namanya tak bisa saya ingat). Menurut saya nih, selain 3 candi yang sudah kami datangi tadi, candi yang lainnya biasaaa aja. Saya lebih menyukai Candi Prambanan yang cantik, atau Candi Borobudur yang megah.

Angkor Wat-1
Random temple (lupa namanya apa)

Perjalanan kami hari itu berakhir di Bakheng Phom, untuk melihat sunset. Bakheng Phom adalah sebuah candi yang terletak di sebuah bukit. Karena adanya di ketinggian itulah, ia dijadikan tempat melihat sunset.

Untuk mencapai candi itu, kami harus mendaki bukit yang lumayan tinggi ditambah mendaki anak tangga candi yang licin dan tinggi. (kenapa orang dulu bikin anak tangga tinggi banget ya). Kalau tak mau susah payah dan capek berjalan, sebenernya ada penyewaan gajah. Tapi ya itu, harganya mahal..

Sayangnya, cuaca sangat mendung saat itu hingga matahari tetutup awan gelap. Gagal deh usaha kami melihat sunset.

TIP MELIHAT ANGKOR WAT 

  • Bawa senter kecil, yang berguna banget karena banyak undakan di jalan menuju lotus pond. Jalan ini tak terlihat karena gelap.
  • Harga makanan di area Angkor cukup mahal. Paling murah adalah nasi goreng (tanpa telor) seharga 5 dolar. Jadi kalo mo irit tapi rada repot, bawa bekel sebanyak-banyaknya :p
  • Kalau belanja di Kamboja, tawar setega mungkin. Penjualnya pasti bilang, kasianlah saya, tambah lagi harganya, nanti anak saya mo dikasi apa kalau harganya segini, saya rugi, bla..bla..bla. Jangan kesian, itu emang taktik mereka biar kita ga nawar terlalu rendah
  • Hati-hati, di Siam Reap banyak copet dan banyak nyamuk!!

 

Popular Guest House #033, Group 10, Viheachin Village, Svaydangkum commune, Siem Reap District, Siem Reap. Tel : (855) 12 916165

Vietnam, A Growing Country

“Ngapain ke vietnam, sama aja ama Indonesia” tutur salah teman ketika gue menceritakan ihwal niat berkunjung ke Vietnam. “Justru itu, gue penasaran. Kenapa negara yang baru aja merdeka itu, yang katanya alamnya mirip ama Indonesia itu, bisa ngundang bule-bule tuk dateng ke sono”, jawab gue. Alasan yang gue ada-adakan sebenarnya, karena alasan gue ke vietnam bukan itu. Gue (lagi-lagi) mengunjungi satu negara karena ada penerbangan Airasia ke sana. In the name of irit.
 
Tapi ternyata, jawaban gue atas pertanyaan temen gue itu ada benernya juga. Vietnam, negara yang baru lepas landas beberapa tahun kemaren, ternyata setiap tahunnya dikunjungi turis banyak banget. Padahal, luas Vietnam ini hanya 331 km2 ( 1/7 wilayah Indonesia), dan wisata yang dijualnya “hanya” masyarakat dan alamnya. 

—-

Dua minggu sebelum berangkat, gue ngecek keadaan cuaca di Hanoi. Tertulis saat itu udara di sana 11 derajat. Hm…dingin nih. Gue udah bersiap membawa jaket tebel gue, yang gue pake waktu ke Bromo. Baju-baju pun gue udah pilih yang tebel.

Seminggu sebelum hari H, gue cek lagi cuaca di sana. Loh, kok cuacanya meningkat drastis, jadi 29-33 derajat. Karena penasaran, gue buka semua situs cuaca di dunia. Mulai dari BBC, hingga yahoo weather. Semua menyatakan hal yang sama. Alhasil, jaket tebal pun dilungsurkan.

Sehari sebelum berangkat, gue mericek lagi. Siapa tahu udara lebih bersahabat. Ternyata, tetap sama: 27-30 derajat. Malah ada sebuah situs yang menyatakan udara di sana mencapai 36 derajat. Panas! Gue pun memilih untuk membawa baju-baju yang lebih tipis.

Tapi ternyata, bukan matahari yang menyambut gue di Hanoi, melainkan angin dingin yang membuat gue mesti merapatkan jaket. (Untung gue bawa jaket setengah tebel buat di pesawat). Ternyata, suhu di sana sekitar 13-14 derajat. OMG, saltum!  BBC tak bisa dipercaya.

Bagaimana cerita gue dan kawan-kawan di Hanoi? Simak postingan berikutnya ya…

Baca juga: Tip Memilih Taksi di Hanoi

Water Puppet Show

Salah satu andalan wisata di Hanoi adalah pertunjukkan water puppet alias wayang air. Tiketnya ada dua macem, 40.000 dong buat barisan belakang dan 60.000 kalau pengen duduk di depan.  Pertunjukkan dimulai setiap satu jam. Gue lupa mencatat jam berapa aja pertunjukkan ini diadakan, tapi yang jelas pertunjukkan siang dimulai jam 14.00.

Pertunjukkan berlangsung kurang lebih 40 menit. Dimulai dengan prolog berbahasa Inggris, yang diiringi dengan musik khas Vietnam. Kemudian muncullah wayang-wayang dari balik layar, menari-nari di atas air. Yang pertama muncul adalah empat buah naga yang meliuk-liuk di atas air. Konon, naga inilah cikal bakal bangsa Vietnam. Setelah naga hilang di balik layar, muncul pengembala kerbau yang lagi main seruling diikuti dengan beberapa pak tani yang sedang menanam padi di sawah.  Scene berikutnya ada cerita tentang kehidupan nelayan yang memancing ikan. Total ada 17 scene yang berbeda.

Gue pikir, sang pengendali wayang itu berendem di bawah air. Hebat betul, pikir gue, bisa tahan napas lama banget. Tapi, di akhir acara layar terbuka dan menampakkan para dalang yang sedang beratraksi. Ternyata eh ternyata minuman itu haram.. hehe..maksud gue, ternyata sang dalang berdiri di balik layar. Dan wayang digerakkan dengan tongkat panjang dibantu dengan beberapa benang.


Sebenarnya, pertunjukkan ini lumayan bagus. Wayang bisa bergoyang kanan kiri, ikan-ikan bisa berlompatan seperti hidup. Turis bule sangat menyukai pertunjukkan ini. Mereka kerap bertepuk tangan atau tertawa terbahak. Bagi gue, pertunjukkan ini cukup membosankan. Mungkin karena Indonesia punya kesenian yang hampir sama: wayang kulit dan wayang golek. Mungkin juga karena bahasa yang digunakan adalah bahasa Vietnam,  yang bikin gue nggak mengerti apa yang dibicarakan di depan. Atau mungkin juga karena emang hari itu gue lagi ngantuk berat. Alhasil, gue lebih banyak tidur ketimbang nonton.

 
Lokasi: 57 B Dinh Tien Hoang Street (seberang danau Hoan Kiem)