8 Aplikasi yang Penting Saat Wisata ke Turki

Saat wisata ke Turki, saya dibantu oleh beberapa aplikasi di handphone. Aplikasi-aplikasi ini saya unduh saat masih di Indonesia, dan terbukti sangat berguna selama di sana. Apa saja itu?

aplikasi saat wisata ke Turki

Turki adalah negara indah yang jadi favorit banyak orang, termasuk saya. Sudah tiga kali saya berwisata ke sana. Rasanya ingin kembali lagi, lagi, dan lagi.

Nah, saat wisata ke Turki itulah, saya dibantu oleh beberapa aplikasi di handphone. Aplikasi-aplikasi ini saya unduh saat masih di Indonesia, dan terbukti sangat berguna selama di sana.

Apa saja aplikasi yang penting saat wisata ke Turki?

1. Moovit

Moovit ini adalah aplikasi andalan saya ketika berwisata, termasuk ketika wisata ke Turki.

Moovit ini sangat berguna untuk mengetahui angkutan umum apa yang mesti kita ambil dari satu destinasi ke destinasi, lokasi tempat angkutan umum berada, dan berapa lama waktu tempuh ke destinasi.

Enaknya, aplikasi ini adalah aplikasi real time. Artinya, kalau kita bergerak, dia akan bergerak seiring pergerakan kita. Dan akan memberi tahu kalau kita sudah sampai di tujuan.

Buat saya, aplikasi ini lebih akurat dibanding google map, lebih detail dan user friendly juga.

2. Trafi

Aplikasi yang sejenis dengan Moovit adalah Trafi. Namun saya belum pernah menggunakannya, jadi tak bisa memberikan review soal aplikasi ini.

Namun menurut kawan saya, aplikasi ini berguna banget saat di sana terutama saat akan naik kereta antarkota di Turki.

3. Bi Taksi

Bi Taksi ini adalah aplikasi untuk memanggil taksi di kota-kota besar di Turki. Saya baru mencobanya di Istanbul dan lumayan berguna.

Nantinya akan ada pilihan taksi jenis apa yang bisa digunakan; ada pilihan taksi standar dan taksi premium, juga dilengkapi dengan harganya.

Berbeda dengan grab atau gocar, taksi yang ada di Bi Taksi ini adalah taksi resmi dan harganya juga tak lebih murah daripada kita menyetopnya di pinggir jalan. Namun lebih terjamin dan lebih mudah.

Saya dua kali memakainya, salah satunya saat saya turun di terminal di pagi buta dan mesti membawa koper ke perhentian bus bandara. Daripada susah, akhirnya saya naik taksi dan memanggilnya dengan aplikasi ini.

Baca Juga: Transportasi dari Bandara Baru Istanbul

4. Google Translate

Di daerah yang banyak turis seperti Istanbul dan Kapadokya rata-rata orang Turki bisa berbahasa Inggris dasar. Namun di daerah seperti Izmir, atau daerah Turki Timur, masih banyak yang tak bisa berbahasa Inggris. Nah, aplikasi google translate ini bisa sangat membantu menterjemahkan apa yang kita maksud.

Google translate yang berupa aplikasi juga bisa membaca huruf Turki melalui kamera dan kemudian menterjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia atau bahasa lain yang diinginkan.

Satu lagi fitur andalan google translate yang amat berguna bagi saya adalah translate ucapan. Walau kadang meleset kalau pengucapan kita tak jelas, namun lumayan lah…

5. Sesli Sözlük

Ini aplikasi yang disarankan sepupu saya yang tinggal di Turki, untuk menggantikan google translate yang sering kacau penerjemahannya.

Mirip sebenarnya dengan google translate, namun ia hanya bisa menterjemahkan dari bahasa Turki ke bahasa Inggris, jerman, spanyol, dan beberapa bahasa lain. Belum ada pilihan bahasa Indonesia.

Saya pakai yang mana? Google translate aja karena memori handphone saya tak cukup untuk mengunduh aplikasi lagi.

6. Airbnb dan Booking.com

Dua platform untuk booking penginapan di Turki ini adalah andalan saya. Saya biasanya membandingkan mana yang lebih murah di antara keduanya, dan membandingkannya lagi dengan tempat booking hotel lain seperti Agoda, Traveloka, Tiket.com, dan sebagainya.

Oiya, untuk kamu yang pertama kali pakai airbnb, bisa klik referral saya ini. Akan dapat potongan harga hingga 15 dolar lho…

7. Culinary Backstreets

Ini adalah aplikasi untuk mengetahui lokasi-lokasi tempat makanan favorit di beberapa negara di dunia, termasuk di Turki.

Selain nama restoran, ada juga review dari beberapa travel blogger dan reviewer di sana. Saya jarang pakai ini karena buat saya, semua makanan di Turki termasuk makanan di pinggir jalannya rasanya enak dan enak banget.

8. EX Currency

Ini aplikasi yang perlu ga perlu sih. Aplikasi ini berguna menghitung kurs dari lira turki ke mata uang lain, termasuk rupiah. Kursnya lumayan akurat, jadi berguna banget kalau akan belanja supaya nggak salah hitung.

Transportasi dari Bandara Baru Istanbul

Bandara Ataturk di Istanbul sudah tidak dipakai lagi, diganti dengan bandara baru Istanbul International Airport (Istanbul Havalimani) yang jaraknya dua kali dari bandara Ataturk. Tapi jangan khawatir, walaupun jauh, transportasi dari Bandara Istanbul ini ke tengah kota, misalnya ke Sultanahmet tak susah.

Ada beberapa transportasi umum yang bisa digunakan dari Istanbul International Airport ke kota, antara lain metro dan bus airport  Havaist. Saya belum pernah mencoba naik Metro; malas harus berganti kereta. Saya lebih suka naik bus Havaist karena tinggal duduk tenang sampai tujuan. 

Bandara Ataturk di Istanbul sudah tidak dipakai lagi, diganti dengan bandara baru Istanbul International Airport (Istanbul Havalimani) yang jaraknya dua kali dari bandara Ataturk. Tapi jangan khawatir, walaupun jauh, transportasi dari Bandara Istanbul ini ke tengah kota, misalnya ke Sultanahmet tak susah.

Ada beberapa transportasi umum yang bisa digunakan dari Istanbul International Airport ke kota, antara lain metro dan bus airport  Havaist. Saya belum pernah mencoba naik Metro; malas harus berganti kereta. Saya lebih suka naik bus Havaist karena tinggal duduk tenang sampai tujuan. 

Bus Havaist ini ada di pintu keluar bandara. Tapi sebelum ke naik ke bus, ada baiknya beli sim card dan ambil uang dulu di ATM bandara. Saya lupa nama bank yang biasa saya ambil, tapi ada beberapa bank yang men-charge komisi 10 persen, ada pula yang free. 

Kenapa mesti ambil ATM, ga bawa uang dari sini? Karena Lira, mata uang Turki, agak susah ditemukan di Indonesia. Karena jarang itulah, kurs lira jadi mahal. Lumayan beda 500-1000 rupiah kalau dibandingkan dengan kurs ambil di ATM sana. Lumayan banget kan. Tapi sih, buat jaga-jaga, saya selalu bawa USD sekitar 100-200 dolar. Jadi kalau ATM tiba-tiba bermasalah, masih ada cadangan.

Baca Juga: Begini Cara Membuat E-Visa Turki

Lokasi Havaist Bus di Bandara 

Havaist bus ini berlokasi di pintu keluar New Istanbul Airport. Tinggal cari tanda public bus, atau tanya aja ke petugas yang pakai rompi Havaist yang berseliweran di sana-sini. Walau banyak yang ga bisa bahasa Inggris, mereka baik kok, bahkan ada seorang petugas yang membantu saya mendorong dua koper saya hingga ke tempat Havaist Bus berada. Ya,saya waktu itu bawa dua koper, karena satu koper isinya titipan sepupu yang tinggal di sana.

Harga tiket Havaist Bus ini sekitar 26 TL atau sekitar 100 ribu rupiah. Bisa dibeli di loket atau mesin karcis di dekat bus, dengan uang cash. Ingat, cuma bisa dengan uang cash. Atau saran saya, agar lebih mudah, belilah kartu Istanbul Card (IstanbulKart). Istanbul Card ini semacam kartu Jak Linko, yang bisa dipakai untuk naik semua transportasi umum di Istanbul.

istambulkart
Sumber: istanbulkart.istanbul

Di Mana Beli IstanbulKart?

IstanbulKart bisa dibeli di mesin tiket yang ada di lantai -2nd Arrival Hall. Di situ berderet banyak mesin berwarna kuning bertuliskan Biletmatik, tempat membeli IstanbulKart. Istanbulkart juga bisa dibeli di loket dekat Havaist Bus berada. Tapi ingat, dua-duanya cuma bisa pakai uang cash.

Oiya, Istanbulkart ini katanya berlaku selama lima tahun. Tapi punya saya udah lebih dari 10 tahun dan masih bisa kepakai. Saldonya terakhirnya pun masih aman.

Nah, di kunjungan terakhir saya ke Turki, pesawat Oman Air saya delay 5 jam. Dan itu artinya, saya sampai di New Istanbul Airport hampir tengah malam. Alhasil, saya mesti lari-lari mengejar bus terakhir dan tak sempat mengambil uang di atm. Kartu kredit ternyata tidak bisa digunakan untuk membeli tiket bus di mesin dan Istanbul Card saya isinya cuma tinggal 6 lira. Untunglah bisa menggunakan kartu kredit berlogo Mastercard di dalam bus (hanya yang logonya mastercard ya, bukan visa)

Lokasi beli Istanbulkart di Bandara Istanbul
Lokasi beli Istanbulkart di Bandara Istanbul

Rute dan Jadwal Havaist Bus

Bus Havaist ini ada setiap 15 menit sekali, dan benar-benar tepat waktu. Kalau lewat, ya mesti tunggu bus selanjutnya. Bus ada paling pagi jam 05.00 dan paling malam jam 11.00 (tergantung rute).

Bus ini punya beberapa rute. Rute paling popular buat turis adalah tujuan Sultanahmet dan Taksim. Di Sultanahmet, bus akan berenti di Sultanahmet Square, dekat dengan Hagia Sofia. Sementara di Taksim, akan berhenti di Taksim Square, dekat KFC.

Ini rutenya yang saya ambil dari situs resminya Havaist Bus. Untuk tujuan Sultanahmet bisa naik Bus Havaist nomer 1S, sementara tujuan Taksim bisa naik nomer 19.

İST6 ALİBEYKÖY OTOGARI (Coach Station)-ISTANBUL AIRPORT: 31 km., 45 min, 22 TL
İST17 AVCILAR-HALKALI-AIRPORT: 40 km., 100 min, 21 TL.
İST15 BAHÇEŞEHİR-AIRPORT: 42 km., 100 min, 21 TL
İST4 BAKIRKÖY İDO-AIRPORT: 44 km., 80 min, 24 TL
İST14 BAŞAKŞEHİR-AIRPORT: 27 km., 40 min, 21 TL.
İST5 BEŞİKTAŞ-AIRPORT: 43 km., 90 min, 23 TL.
İST3 ESENLER OTOGAR-AIRPORT: 39 km., 75 min, 22 TL.
İST7 KADIKÖY-AIRPORT: 64 km., 110 min, 32 TL.
İST8 PENDİK-AIRPORT: 97 km., 100 dakika, 37 TL
İST1S SULTANAHMET-EMİNÖNÜ-AIRPORT: 52 km., 100 min, 26 TL
İST19 TAKSİM- AIRPORT: 40 km., 80 min, 25 TL
İST2 TÜYAP EXHIBITION CENTER-AIRPORT: 58 km., 100 min, 26 TL
İST1Y YENİKAPI-AIRPORT: 48 km., 110 min, 25 TL

Jangan khawatir kelewatan, di dalam bus ada TV LED yang memberitahukan perhentian selanjutnya. Tapi kalau ke Sultanahmet sih, itu perhentian terakhir jadi ga akan kelewatan deh. Kalau saya, ga pernah sampai ke tujuan akhir, karena rumah sepupu saya ada di daerah lain. Jadi mesti melek terus liat layar LED, jangan sampai saya nyasar.

Bagian dalam bus Havaist
Begini bagian dalam bus Havaist

Rute Bus Havaist
Rute Bus Havaist. Sumber: Turkish Airline

Buat lebih lengkap soal jadwal Havaist Bus, cek aja di website mereka ya https://hava.ist/en/new-timetables

Begini Cara Membuat Visa Turki

Perjalanan solo travelling ke Turki, Uzbekistan dan negara Kaukasus membuat saya mesti menyiapkan 5 visa.

Salah satunya adalah membuat e Visa Turki. Caranya sangat gampang dan cepat.

Perjalanan solo travelling saya ke lima negara (Oman, Turki, Azerbaijan, Georgia, dan Uzbeksitan) di bulan Juni lalu menyebabkan saya mesti menyiapkan banyak visa sebelum berangkat. Salah satu yang saya harus lakukan adalah membuat Visa Turki.

Ini kali ketiga saya ke Turki. Yang pertama, apply visa di Kedutaan Turki di Jakarta. Kedua, pakai e Visa, karena malas VoA di bandara.

Nah sejak tahun lalu, Turki tidak memperbolehkan lagi turis negara lain, termasuk Indonesia, masuk ke negaranya dengan menggunakan VoA. Semuanya harus menggunakan e Visa Turki yang bisa di-apply secara online melalui situs resminya.

Cara membuat e Visa Turki ini ga susah kok. Lebih susah nyari jodoh #halahcurhat. Hanya butuh koneksi internet dan kartu kredit. Ga punya kartu kredit? Pinjam punya teman.

Begini cara membuat e Visa Turki.

1. Masuk ke situs resmi Visa Turki

Situs resmi E Visa Turki
Situs resmi E Visa Turki

Situs resmi untuk membuat e-Visa Turki adalah https://www.evisa.gov.tr/en/ . Banyak situs yang mirip-mirip dengan ini, namun situs yang di atas ini adalah satu-satunya situs resmi  untuk membuat e-Visa Turki. Tampilannya seperti ini.

Hati-hati dengan website lain yang palsu dan hanya ingin mengambil data dan uang dari si peng-apply.

2. Klik Apply Now

Cara Mengisi E Visa Turki
Cara Mengisi E Visa Turki

Lalu isi asal dan kode yang terpampang di layar. Setelah itu, akan muncul halaman yang berisi nama negara dan jenis paspor. Isi dengan Indonesia dan ordinary passport.

Setelah itu, akan muncul halaman yang berisi tanggal kedatangan. Kalau saya sih, selalu mengisinya dengan tanggal tiga hari sebelum mendarat. Misalnya saya akan mendarat di Istanbul tanggal 27 Agustus 2019, maka saya isi tanggal kedatangan dengan 24 Agustus 2019.

Kenapa mesti dua hari sebelumnya? Untuk jaga-jaga aja, siapa tahu ada reschedule pesawat tiba-tiba dan kedatangan saya dimajukan sehari atau dua hari. Jangan khawatir, e-Visa Turki ini berlaku enam bulan dari tanggal kedatangan.

Pernah ada kejadian ketika saya ke Turki sebelumnya, ibu di depan saya ditolak masuk karena pesawatnya maju setengah hari. Akibatnya dia mesti menunggu di imigrasi selama setengah hari.

3. Isi Data Pribadi

Cara Membuat E Visa Turki
Cara Membuat E-Visa Turki

Setelah itu akan muncul halaman data pribadi. Isi sesuai data kalian, jangan pakai data teman apalagi mantan pacar.

Yang penting diingat adalah given/first name dan surname yaa.  Jangan ketukar seperti punya saya hingga akhirnya saya mesti senyum manis ke petugas imigrasi Turki yang ganteng.

Given/First Name(s): isi dengan nama depan (kata pertama). Misalnya nama saya kan Rahma Ahmad. Ya nama depan saya adalah Rahma. Kalau namanya ada tiga kata, misalnya Rahma Mawar Ahmad, maka yang ditulis di first name itu adalah Rahma Mawar.

Surname(s): isi dengan nama belakang (kata terakhir). Kalau ga punya nama belakang, alias namanya cuma satu kata aja, kosongin aja. 

Baca Juga: Transportasi dari bandara baru Istanbul

Setelah itu tinggal bayar sejumlah 25 USD (plus 1.05 biaya administrasi) via kartu kredit. Tunggu deh email dari Republic of Turkey yang menyatakan bahwa e-Visa Turki sudah jadi dan siap di-download dan dicetak.

Ingat, mesti dicetak ya, bukan cuma disimpan di hape aja.

Tip Apply E Visa Turki

  • E Visa Turki ini berlaku selama enam bulan dari tanggal kedatangan yang diisi, dan bisa digunakan untuk keliling turki selama 30 hari.
  • E Visa Turki ini sifatnya single entry , jadi kalau mau masuk Turki lagi setelah jalan-jalan ke negara tetangganya, mesti apply dua visa Turki yang berbeda.

Selamat jalan-jalan ke Turki!

Baca Juga: 8 Aplikasi yang Penting Saat Wisata ke Turki

 

Di Konya, Saya Sholat 6 Kali Sehari !

Tak ada pilihan lain bagi jiwa, selain untuk mengasihi. Namun, pertama kali jiwa harus merangkak dan merayap di antara kaki para pecinta. Hanya para pecinta yang dapat lepas dari perangkap dunia dan akhirat. Hanya hati yang dipenuhi dengan cinta yang dapat menjangkau langit tertinggi. Bunga mawar kemuliaan hanya dapat bersemi di dalam hati para pecinta.

Siapa yang tak kenal Jalaludin Rumi, penyair Sufi yang amat terkenal. Sebait kata di atas adalah salah satu karyanya yang amat terkenal. Kecintaannya kepada Tuhan diabadikannya melalui puisi-puisi yang indah dan pengasingan diri dari kemewahan duniawi.

Walaupun bukan penganut ajaran Sufi, saya bersikeras mengunjungi tempat Rumi dimakamkan, Konya. Di sana ada Mevlana Rumi Museum, museum yang sekaligus makamnya. Nah, di samping museum ini terdapat masjid indah bernama Semiliye Cami.  Begitu melihat masjid yang bergaya Ottoman ini, saya langsung berniat sholat di sini.

camii
Tampak luar Semiliye Cami. Pohon yang melingkar mirip uler di atas pager muter-muter itu adalah ciri khas Konya.

Makanya, begitu keluar dari museum, saya segera masuk ke masjid untuk sholat, jamak zuhur dan ashar. Seusai sholat, saya tidak segera keluar. Saya duduk-duduk, ngaso sambil mengagumi interior masjid yang dibangun tahun 1558 ini. Interiornya memang luar biasa, khas masjid Ottoman yang megah.  Ada kubah besar bertaburan motif-motif indah, ada chandellier besar di tengah masjid. Indah.

Saat saya mengagumi interior masjid dari balik bilik wanita, azan ashar berkumandang. Sama seperti di Indonesia, bilik wanita dan pria dibuat terpisah. Di masjid ini, bilik wanita berada di sudut kiri masjid, dibatasi oleh partisi kayu berlubang-lubang. Ketika azan selesai, saya tenang-tenang saja, sebab saya sudah sholat ashar sebelumnya. Saya akan beranjak keluar ketika serombongan jamaah wanita datang, tersenyum ramah ke saya, menegur dan menepuk-nepuk bahu saya, lalu mengajak saya sholat bersama.

Sebenarnya, saya ingin bilang kalau saya sudah sholat jamak tadi. Tapi saya tak tahu cara mengatakannya. Daripada susah menjelaskannya, akhirnya saya sholat (lagi), berjamaah bersama mereka. Saya jadi sholat ashar 2 kali, dan artinya hari ini, saya sholat sampai 6 kali! MasyaAllah…

Pesan dari Masjid Kecil di Kusadasi

P1110376
Suasana Kusadasi

Setelah setengah harian menyusuri pantai, melihat keramaian pelabuhan, dan menyegarkan mata di toko-toko yang berderet, saya tak sengaja menemukan sebuah masjid kecil. Kaleici Camii namanya. Masjid ini terletak tak jauh dari pantai Kusadasi, tersembunyi di antara toko-toko jaket kulit dan cenderamata.

Masjid ini tak seindah masjid-masjid di Turki lainnya. Hanya berbentuk kotak yang dibubuhi warna putih. Tak tampak satupun hiasan di sana. Polos saja.

Itu sebabnya, saya tak terlalu tertarik melihat bagian dalam masjid ini. Sejujurnya, saya ke sini hanya karena ingin menumpang buang air kecil, lalu duduk-duduk sebentar melonjorkan kaki yang pegal akibat berkeliling pantai.

Saat saya sedang asyik duduk di beranda masjid, tiba-tiba ada ibu tua berjilbab yang mendekati saya. Bajunya tak terlalu bagus, coat panjang cokelat khas Turki, cenderung kumal dan sedikit berbau. Rambutnya tertutup jilbab berbunga yang juga tak kalah kumalnya. Saya kaget, takut dia menghampiri saya untuk meminta uang, makanan, atau apapun itu. Apalagi kemudian dia berbicara dalam bahasa Turki sambil menepuk-nepuk pundak saya. Pikiran buruk berkecamuk dalam otak saya saat itu “jangan-jangan saya dihipnotis.”

Saya segera merapikan tas dan bersiap untuk meninggalkan tempat itu. Tapi kemudian saya mendengar kata-kata “sholah..sholah..” yang diucapkannya sambil mengatupkan tangannya ke dada lalu menunjuk ke dalam masjid. Ternyata, ibu ini menyuruh saya sholat. Jujur, saya sebenarnya tak berniat sholat di sini. Nanti saja pikir saya, sesampainya di hostel. Tapi ajakan ibu itu membuat saya jadi malu kepada diri sendiri. Skak mat buat saya yang menunda sholat. 

Saya pun segera berwudhu, kemudian menuju sholat di lantai dua. Tempat yang kecil  dan kosong. Tak ada orang lain di sana, hanya ada saya dan bapak-bapak berjanggut berbaju putih.

Setelah selesai sholat, saya langsung beranjak karena saya harus segera kembali ke Selcuk dengan minibus. Tapi sang ibu berjilbab bunga-bunga tadi menghampiri saya lagi. Kali ini ia membawa sebuah gelas plastik berisi air, menyuruh saya meminumnya. Bagi saya, yang memang haus sekali saat itu, air putih yang sebenarnya biasa saja jadi terasa sangat nikmat. Belum selesai rasa terharu saya, tiba-tiba ia menyerahkan sebuah tasbih berwarna biru, (dengan bahasa tubuh) menyuruh saya mengambilnya, meminta saya menggunakannya untuk berdzikir dan berdoa.

Dia lalu berkata “Alloh kabul etsin, Alloh kabul etsin, Alloh kabul etsin.” Semoga Alloh mengabulkan doa kamu.

Oh my God. Meleleh air mata saya.

Istanbul, Kota Cantik di Tengah Asia dan Eropa

Ada 2 negara di dunia yang sangat ingin saya kunjungi: Mesir dan Turki. Alhamdulillah, cita-cita saya sudah terwujud 1/4 –nya. Saya udah mengunjungi salah satu kota mahapenting di Turki: Istanbul.

Kata orang, Istanbul adalah kota paling cantik di dunia. Kata saya, Istanbul tiada duanya. Rasanya saya jatuh cinta pada kota kecil yang dulunya bernama Konstantinopel ini.

Merujuk pada berbagai literatur yang saya baca, Istanbul merupakan kota terbesar kedua di Turki setelah Ankara. Namun, Istanbul ini lebih banyak dikunjungi turis karena menyuguhkan berbagai atraksi wisata yang sangat menarik.

Hagia Sofia, Masjid atau Gereja?

P1090684
Hagia Sofia

Salah satu bangunan yang menjadi ikon Istanbul adalah Hagia Sofia. Menurut Mahmet, pemandu saya di sana, Hagia Sofia atau Aya Sofia berarti “jiwa yang suci”.

Hagia sofia dibangun di zaman Konstantius, anaknya Konstantin yang Agung dari Yunani. Awalnya, bangunan ini digunakan sebagai gereja. Lalu setelah Istanbul direbut oleh pasukan Islam dan berganti nama menjadi Konstantinopel, Hagia Sofia berubah menjadi masjid. Sekarang, bangunan ini dijadikan museum dan objek wisata.

Masih menurut si Mahmet, bangunan Hagia Sofia yang berdiri sekarang ini adalah bangunan Hagia Sofia yang ketiga. Bangunan yang pertama hancur karena bencana alam, sementara bangunan kedua hangus dilalap api.

Di dinding Hagia Sofia terdapat kaligrafi-kaligrafi bertuliskan asma Allah dan Nabi Muhammad yang berdampingan dengan lukisan Maria dan Isa. Dari beberapa media sih saya sempet baca dan denger, kalau lukisan ini memang ada dari dulu. Saya tadinya juga berpikir gitu, tapi iseng-iseng saya tanyain hal ini ke sang guide.

Ternyata oh ternyata, lukisan itu baru aja dibuat pemerintah Turki, supaya orang ngeh kalau dulunya bangunan ini pernah dipakai untuk gereja dan masjid. Tapi entahlah benar atau tidak omongan si guide ini.

Baca Juga: Begini Cara Membuat E-Visa Turki

Tapi, terlepas dari hal tadi, Hagia Sofia adalah bangunan yang sangat menarik. Bagian luarnya berwarna oranye yang sudah pupus, sedangkan bagian dalamnya berwarna abu-abu tua. Kubah-kubah yang besar diselingi minaret yang menjulang tinggi membuat bangunan ini tampak megah.

Bagian dalamnya, luas banget, tanpa ada tiang-tiang yang kerap mengganggu pandangan. Konon, kata dosen struktur saya, bagian dalam yang luas dan tanpa tiang ini berkat penggunaan kubah. Itu sebabnya, Hagia Sofia dijadikan salah satu simbol kehebatan arsitektur berkubah di zaman Byzantium.

Karena pernah dipake sebagai masjid, di dalam Hagia Sofia terdapat sebuah mimbar besar dan tinggi. Ada juga tempat wudhu yang bentuknya seperti pancuran mini.

Di salah satu bagian, ada tiang yang ramai dikerubungi orang. Tiang ini punya lubang sebesar jempol. Para pengunjung dipersilakan memasukkan jempolnya ke dalam lubang, dan harus memutar jempol itu 360 derajat, tanpa mengeluarkannya dari lubang. Konon, siapa yang berhasil melakukannya, permintaannya akan terkabul.

Saya mencoba juga, tapi ga berhasil-berhasil. Jempol saya malah sakit keplintir-plintir.

Blue Mosque

P1090647

Masjid Biru atau juga dikenal dengan nama Masjid Sultan Ahmet terletak persis di depan Hagia Sofia. Nggak perlu naik bus, apalagi naek angkot. Cukup nyebrang jalan aja. Masjid ini dibangun oleh Sultan Ahmed 1, dan jadi masjid pertama yang bener-bener dibangun di dataran Istanbul. Hagia Sofia juga masjid sih, tapi aslinya kan gereja.

Saya pikir, karena namanya adalah Blue Bosque, saya akan menemukan masjid berwarna biru, seperti halnya blue mosque di Iran. Tapi, sejauh mata memandang, nggak ada warna birunya sama sekali.

Dari luar, bangunan ini mirip-mirip dengan Hagia Sofia dan masjid lainnya di Istanbul. Tapi yang ini, punya lebih banyak kubah dan minaret; ada 6 kalo ga salah itung. Dari luar, masjid ini nggak biru sama sekali. Warnanya malah abu-abu terang, dan dihiasi dengan sejumlah mozaik khas Turki.

Begitu masuk ke dalam, yang pertama akan ditemui adalah sebuah courtyard besar. Di kanan-kiri lapangan itu terdapat arcade (selasar) yang berfungsi sebagai tempat jalan. Kata Budi Sukada, dosen sejarah arsitektur saya dulu, courtyard ini adalah ciri khas masjid-masjid zaman kerjaaan Ottoman. Tujuannya, agar orang tidak langsung masuk ke pintu, melainkan melipir ke kanan kiri masjid.

Haha..masuk ke sini saya jadi serasa belajar sejarah arsitektur, mengingat kembali apa yang pernah diajarin bapak satu itu tentang kebudayaan Islam.

Masuk ke area dalam masjid, saya langsung terpesona. Baguus banget nih masjid. Bagian dalamnya luaas banget. Dindingnya seluruhnya terlapisi oleh ubin-ubin bermotif, yang konon dibikin dengan tangan alias handmade. Kabarnya lagi, karena ini bikinan tangan, warna ubin ini bisa berubah tergantung arah matahari yang menyinarinya. Saking terpesonanya saya ama masjid ini, saya malah lupa buat foto-foto di dalamnya.

Oya, buat non-Islam, jangan datang pas waktu sholat. Pasalnya, pada waktu-waktu itu masjid digunakan untuk sholat sehingga tertutup untuk kunjungan turis.