Pelesiran Bangkok-Chiang Mai-Chiang Rai (part 8): Menuju White Temple

White temple di Chiang Rai, itulah tujuan kami hari ini.

Awalnya, saya dan kawan-kawan ingin menggunakan jasa tur dari Chiang Mai. Tur ini nantinya akan mengunjungi White Temple dan Golden Triangle, perbatasan antara Myanmar, Thailand dan Laos. Kami sudah menyiapkan dana untuk mengikuti tur ini, tapi ternyata waktunya tak matching dengan jadwal kami. Hampir semua tur kembali ke kota Chiang Mai sekitar pukul 7 malam, sementara kami harus naik bus kembali ke Bangkok sekitar pukul 9 malam. Jeda yang hanya 2 jam dianggap cukup mepet, tak ada tur yang mau mengambil risiko ini.

Akhirnya, kami menggunakan bus umum, Greenbus namanya. Satu-satunya bus menuju Chiang Rai ini bisa didapat dari Chiang Mai Bus Arcade terminal 3 dan beberapa tempat lainnya di Chiang Mai. Ada beberapa kelas yang ditawarkan, dengan harga yang berbeda tentunya. Ada kelas standar 1, standar 2  dan VIP. Kami sebenarnya ingin membeli tiket kelas standar saja, tapi karena mengejar waktu, kami membeli tiket bus yang akan segera berangkat. Ternyata, yang ada hanya tiket VIP. Cukup mahal jika dibandingkan kelas standar, tapi ya sudahlah. Kalau tidak salah ingat, harganya sekitar 200bath sekali jalan. (Untuk harga dan jadwal liat website Greenbus ini ya).

Tadinya saya pikir, karena berembel-embel “green”, saya akan mendapatkan bus berwarna serba hijau. Lucu nih, pikir saya. Ternyata warna hijau hanya ada di plang loket, sementara busnya tetap berwarna putih, dengan interior berwarna krem dan hitam. Tak penting sebenarnya warna interiornya, karena bus VIP yang kami dapatkan ini sangat menyenangkan (ya iyalah, VIP gitu loh).  Selain bangku yang nyaman, ia juga dilekapi dengan TV dan game stick. Bisa maen game!

Setelah 3 jam, bus kami sampai di Chiang Rai. Sebenarnya, tujuan akhir bus ini adalah Chiang Rai New Bus Station, tapi agar lebih gampang, kami minta kepada sopir bus untuk menurunkan kami di dekat White Temple. Ya, white temple ini terletak tak jauh dari pinggir jalan yang dilewati bus-bus yang akan menuju Chiang Rai Bus Station, termasuk greenbus yang kami naiki. Dari situ, tinggal berjalan kaki menuju sebuah gang. Tak terlalu jauh. Jangan khawatir terlewat karena hampir separuh isi bus turun di sini, dan supir berteriak-teriak menyuruh penumpang white temple turun. Tapi untuk jaga-jaga, mintalah kepada orang di hostel untuk menuliskan kata-kata “white temple” dalam bahasa Thailand, lalu tunjukkan kepada supir bus.

****

Ketika saya bertanya soal White Temple ini kepada Dave, pemilik hostel di Chiang Mai, ia menyarankan untuk tidak mengunjungi tempat ini karena hanya akan menghabiskan waktu di jalan.

“Seven hours you have to spend, only to see new temple. Not make sense,” katanya. Lebih baik waktu yang kami punya dimanfaatkan untuk mengeksplor Chiang Mai, katanya lagi.

Saya mengiyakan saja. Memang benar, untuk menuju ke sana, saya butuh waktu lebih dari 6 jam (pulang pergi). Tapi di dalam hati, saya tetap ingin pergi ke Chiang Rai. Kalaupun nanti hasilnya mengecewakan, toh paling tidak saya telah mengunjunginya, kan? Bagi saya, ini lebih baik ketimbang tak ke sana dan hanya mendengar keindahan White Temple dari mulut orang.

Untung saya mengikuti ego saya. Untung pula kawan-kawan saya sependapat dengan saya. White Temple memang benar-benar indah, paling tidak, ia berbeda dengan kebanyakan temple yang berwarna emas. Perjalanan lama menuju tempat ini lunas terbayar begitu menyaksikan temple yang sebenarnya bernama Wat Rong Khun ini. Segala sudut rasanya sangat menarik untuk dijadikan objek foto, apalagi jika ditambah cerita dan filosofi yang ada di balik pembuatan kuil ini.

Kuil putih ini dibangun di tahun 1997 oleh seorang seniman asal Thailand yang bernama Chalermchai Kositpipat. Seniman ini sangat memuja Antonio Gaudi, arsitek sekaligus seniman asal Spanyol yang membangun Sagrada Familia, gereja di kota Barcelona. Ia juga ingin membangun sebuah tempat ibadah untuk agama Budha yang penuh filosofi dan detail yang rumit. Sama dengan Sagrada Familia yang tak kunjung selesai dibangun karena kerumitannya, White Temple juga belum selesai dikerjakan. Konon, bangunan ini baru akan rampung di tahun 2070. Wow!

Nantinya, saat semua bangunan selesai, kompleks kuil ini akan terdiri dari 9 bangunan. Saat ini, yang bisa dilihat hanya empat bangunan saja yakni bangunan utamanya dan jembatan yang ada di depannya. Yap, sebelum masuk ke dalam wat, ada sebuah jembatan yang agak menyeramkan. Di kanan kiri jembatan ini ada “kolam” yang berisi sclupture tangan-tangan yang berusaha menggapai ke atas. Saya pikir, ini adalah simbolisasi neraka. Menyeramkan. Tapi ternyata, tangan-tangan ini merupakan simbol dari harapan dan keinginan manusia.

Setelah melewati jembatan yang membuat bulu kuduk saya merinding, ada sebuah gerbang lagi, yang dinamakan Gate of Heaven. Ini tempat yang cocok untuk bernarsis ria karena gerbangnya sangat indah. Tapi bagi saya, bukan gerbangnya saja yang indah, semua sudut bangunan buatan ini indah. Apalagi saat ditimpa matahari, karena di ujung-ujung bangunan ada semacam kaca yang akan berkilauan jika terkena cahaya matahari. Menurut cerita teman saya yang menggemari fotografi, di sore hari, tempat ini jadi jauh lebih indah. Hmmm…

***

Setelah puas, dan sedikit panik karena paspor saya tak ada di tas, kami kembali ke Chiang Mai. Tak seperti saat datang, ketika pulang ini kami harus menuju stasiun bus dahulu. Dari jalan utama (tempat turun tadi), kami harus naik songtheuw menuju stasiun bus. Cukup lama kami harus menunggu. Kami sempat khawatir kami salah menunggu, tapi untunglah ada dua orang ibu-ibu yang berbaik hati menemani kami hingga kami mendapatkan taksi merah itu. Padahal, mereka tak bisa bahasa Inggris, dan kami tak mengerti sedikit pun kalimat yang keluar dari mulut mereka. Mereka hanya tahu satu hal: kami ingin menuju stasiun bus.

Tapi memang benar kata William Arthur Ward, pujangga asal Inggris: Kindness is a universal languange. Kita tak perlu mengerti bahasa orang lain untuk membantu mereka.

Pelesiran Bangkok-Chiang Mai-Chiang Rai (part 7): Kalap di Chiang Mai Night Bazaar

Setelah pulang dari Doi Suthep, kami memutuskan untuk kembali ke hostel, lalu berkeliling di kota lama melihat beberapa wat yang ada di sana. Tapi apa daya, hujan turun tanpa permisi. Menyisakan kami yang cuma bisa bengong di hotel, main UNO sambil makan duren bangkok yang nikmatnya luar biasa.

Ya, di pasar dekat hostel, kami membeli sebuah durian. Sebuah durian yang dagingnya amat tebal dan nyaris tanpa biji itu kami bagi empat, masing-masing mendapat jatah 1-2 buah. Saya, yang baru saja menyantap mie gelas “cuma” mengambil 1 buah. Puas makan, dan setelah hujan mereda, kami pun beranjak menuju night bazaar. Rencana keliling kota tua kami batalkan karena hari sudah terlalu sore dan masih ada gerimis-gerimis di luar. Hal yang saya kemudian sesali karena menurut adik saya suasana kota lama amat memesona. Saya pasti betah berlama-lama di sana, katanya.

Di luar cuacanya lumayan dingin, tapi anehnya, kami semua (kecuali satu orang kawan saya) merasa badan kami sangat hangat, cenderung panas malah. Butuh waktu lama sebelum kami sadar kalau kami mabuk durian! Oalah, ternyata begini ya rasanya mabuk 😀

Dengan muka agak merah, kami berjalan kaki menuju night bazaar, yang letaknya sekitar 10 menit dari hostel. Night bazaar ini adalah salah satu tempat yang wajib dikunjungi di Chiang Mai. Bazaar ini amat terkenal karena cukup besar dan barang-barang yang ditawarkan harganya murah.

Kalau melihat di peta, Chiang Mai Night Bazaar terletak sepanjang Chang Klang Road, di sisi sebelah timur “dinding” kota lama. Tapi kenyataannya, saat saya ke sana, bazaar ini meluas hingga ke jalan-jalan di dekatnya. Mungkin karena saya datang di akhir pekan. Mungkin…

Kalau siang hari, jalan ini layaknya jalan biasa, penuh dengan deretan pertokoan, hotel, restoran dan cafe (macam McD dan Starbucks). Menjelang sore hingga tengah malam, tempat ini menjelma menjadi sebuah pasar kaget, kios-kios non permanen akan dibangun di sepanjang jalan ini. Kios ini menjual banyak barang, mulai dari souvenir khas Thailand, kaos, CD, bahkan peralatan rumah tangga. Rame!!

Chiang-Mai
Begini suasana Chiang Mai Night Market

bazaar

Selain pedagang-pedagang di pinggir jalan, ada juga pedagang di dalam sebuah gedung yang bertajuk “Kalare Night Bazaar.” Karena hujan turun lagi, di bawah payung hitam kuberlindung, kami jadi berlama-lama di sana. Ternyata barang-barang di sini lebih lucu ketimbang di jalan utama tadi. Ada baju, sepatu, tas, souvenir, dan macam-macam barang lucu lainnya. Murah .!! Alhasil, sepulangnya dari sana, saya membawa 3 tentengan tas berisi sepatu, baju, tas, kaos. Huaaa…abis duitku!

Sebenarnya, ada satu lagi bazaar yang ada di sini, yakni Anusan Market, yang konon menjual barang-barang yang tak kalah lucunya. Di Anusan Market juga ada foodcourt yang menjual makanan halal. Tapi sayang, saya tak sempat mampir ke sana.

Oiya, saya sudah pernah melihat pasar malam di Bangkok, di Phnom Penh, dan beberapa kota di Asia lainnya. Menurut saya, pasar malam di Chiang Mai jauh lebih ramai, lebih hidup, dan lebih besar. Must visit deh!

Pelesiran Bangkok-Chiang Mai-Chiang Rai (part 6): Doi Suthep yang Tenggelam oleh Hujan

Chiang Mai terbagi menjadi dua area: kota lama dan kota baru. Kota lama Chiang Mai dibangun sekitar 1296M oleh Lanna Kingdom, kerajaan Budha yang pernah mengusai wilayah Burma (Myanmar), Kamboja, dan Thailand. Kota lama ini menjadi tujuan utama para turis karena di sinilah kita dapat melihat kehidupan asli Chiang Mai: belasan temple (wat), pasar-pasar, banyak hal menarik lainnya.

Tak sulit membedakan kota lama dengan kota baru. Pembatasnya adalah sebuah tembok besar terbuat dari batu bata, yang memang sudah ada dari dulu kala. Kalau dilihat di peta akan terlihat kalau kota lama ini berbentuk segi empat, dan berada tepat di tengah kota Chiang Mai.

Karena pembatasnya adalah sebuah tembok, orang-orang kerap menyebut kota lama ini sebagai “inside the wall area” dan kota barunya sebagai “outside the wall area.”

******

Sebenarnya, saya lebih tertarik untuk mengitari kota lama ini. Namun, kawan-kawan saya lebih ingin melihat Wat Phra That Doi Suthep, kuil yang terletak di ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut.

Kuil ini terletak 1,9km di luar kota Chiang Mai. Banyak tur yang menawarkan paket tur ke sana dengan harga 400-500bath. Keliatannya murah, tapi sebenarnya, tak perlu menggunakan tur karena cara menuju ke sana sangatlah mudah.

Dari jalan raya (di luar wall), kami menyetop songthaew yang lewat. Ini tip dari Dave. Katanya, jangan cari songthaew yang mangkal di dekat pusat turis karena harganya akan lebih mahal. Kami menurutinya, dan menyetop red taxi yang kosong di dekat pasar. Sang supir meminta bayaran 50bath/orang. Untungnya, kami berlima sehingga tak perlu mencari orang lagi. Jika berpergian sendirian, kita harus mencari teman karena supir tak akan mau mengangkut penumpang kalau jumlahnya hanya sedikit.

Doi Suthep sendiri sebenarnya sebuah kawasan di bukitan di utara Chiang Mai. Di sana ada beberapa tempat wisata, namun yang paling terkenal adalah Wat Phra That Doi Suthep. Konon, wat ini dibangun karena mimpi seorang biksu. Di mimpinya, Tuhan meminta biksu mencari sebuah relic yang berisi sebuah tulang yang konon adalah bagian dari bahu Budha. Mendengar hal ini, raja dari Kerajaan Lanna meminta tulang ini dibawa kepadanya. Namun di tengah jalan, tulang itu terbelah menjadi dua. Salah satu bagian (yang lebih besar) ditaruh sebagai hiasan di gajah milik kerajaan, yang kemudian dilepas ke hutan. Gajah ini mendaki Doi Suthep dan kemudian mati. Nah, di tempat si gajah mati inilah didirikan sebuah kuil.

Menurut kawan saya yang pernah ke sini, temple ini sangat indah. Saya percaya saja, apalagi foto-foto yang saya lihat di internet seakan mengiyakan pendapat teman saya itu.

Tapi ternyata, foto selalu lebih indah dari aslinya. Menurut saya, kuil ini biasa saja. Bukannya jelek, tapi ya itu, biasa saja. Mungkin ini karena ekspektasi saya terlalu tinggi. Mungkin karena saya sudah melihat belasan kuil yang lebih indah sebelumnya. Atau mungkin juga karena saat itu hujan turun dengan lebatnya, menutup keindahan yang seharusnya terlihat oleh saya.

Pelesiran Bangkok-Chiang Mai-Chiang Rai (part 1): Kembali ke Bangkok

Ini kedua kalinya saya kembali ke Thailand. Kali ini, bersama teman-teman kantor saya. Awalnya saya sempat menolak diajak kembali ke sini. Maklum, kali pertama saya ke Bangkok, saya menghabiskan satu minggu penuh di sana. Sudah puas rasanya.

Namun, godaan dari teman-teman tak bisa saya tapis. Saya akhirnya bersedia “mengantarkan” mereka ke Bangkok. Siapa tahu, ada yang baru di sana, pikir saya.

Dua bulan menjelang keberangkatan, saya berubah pikiran. Saya tak mau menghabiskan waktu 4 hari saya di Bangkok saja. Saya ingin ke kota lain. Pilihan saya jatuh pada kota Chiang Mai, kota kecil di utara Thailand.

Akhirnya, kawan-kawan saya (yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Bangkok) “terpaksa” mengikuti saya. Hehehe…egois ya saya?  Sebenarnya saya memberi pilihan kepada mereka: ikut saya ke Chiang Mai, atau jalan sendiri-sendiri, dan baru bertemu saya di Bangkok di hari terakhir. Entah kenapa mereka akhirnya ingin mengikuti jejak saya. Sebagai jalan tengah, agar semuanya merasa gembira, akhirnya saya memutuskan untuk “sedikit mengalah”. Saya akan menghabiskan 2 hari di Bangkok, baru kemudian ke Chiang Mai.

Win-win solution. 😀

Saat Kehilangan Paspor di Luar Negeri

Saat liburan ke luar negeri, kehilangan suatu barang adalah hal yang paling tidak diinginkan. Apalagi barang tersebut adalah barang berharga, paspor salah satunya.

Sewaktu liburan ke Chiang Mai kemaren, saya kehilangan paspor. Duh, sebel rasanya. Apalagi paspor saya hilang bukan karena saya kecopetan, tapi karena kelalaian saya. Kesebalan saya bertambah mengingat di paspor itu cukup banyak stempel dan visa negara-negara maju, yang tentunya akan saya butuhkan saat apply visa di kemudian hari.

Rasanya, tak perlu saya ceritakan detailnya bagaimana saya kehilangan paspor itu. Yang akan saya ceritakan di sini adalah proses setelah paspor saya hilang hingga akhirnya saya berhasil menembus imigrasi tanpa paspor itu.

****

Setelah sadar kehilangan paspor, saya berusaha melapor. Walaupun Chiang Mai adalah kota turis, tak mudah ternyata melaporkan kasus kehilangan paspor. Awalnya saya berusaha melapor ke petugas informasi di Arcade Bus Station Chiang Mai, tempat saya kehilangan paspor. Tapi petugas yang ada di sana sama sekali tak membantu, bahkan  tak berusaha sedikit pun memberi tahu saya di mana saya bisa melaporkan kasus saya ini. Mukanya datar, sedatar jalanan di jalan tol.

Orang-orang di sana pun tak banyak membantu. Cuek saja. Saya tak tahu, apa ini disebabkan mereka tak mengerti bahasa Inggris, atau karena sudah terlalu banyak kejadian serupa terjadi di sini. Atau mungkin, mereka bukan orang yang ramah. Entahlah.

Akhirnya, saya menuju ke kantor polisi kecil yang ada di ujung terminal bus. Walaupun di pintunya tertulis “open 24 hours” namun tak tampak satupun polisi yang menjaga. Saya sempat menunggu hingga setegah jam dan akhirnya menyerah.

Akhirnya, ada supir tuk-tuk yang menganjurkan saya untuk menuju ke salah satu tourist police office yang dia tau, yang ternyata letaknya di Night Bazaar (15 menit dari stasiun). Saya yakin, dia tak berniat membantu, hanya menganjurkan supaya saya menggunakan jasanya menggunakan tuk-tuk.

Tourist police ini ternyata sangat kecil, menyempil di tengah-tengah Night Bazaar. Saya sudah hopeless sebenarnya, karena polisi yang ada di situ ternyata tak bisa berbahasa Inggris. Untunglah, ia kemudian memanggil rekannya, yang lebih pintar berbahasa Inggris.

Urusan belum selesai di situ. Tourist police yang ada di Night Bazaar ternyata tak bisa mengeluarkan surat kehilangan. Kantor polisi yang dapat mengeluarkan surat tersebut letaknya cukup jauh, butuh waktu 40 menit untuk sampai di sana. Gaswat! Mana cukup waktu saya. Setelah mengandalkan muka memelas dan bilang kalau saya harus balik malam itu juga ke Bangkok, pak polisi itu mau mengantarkan saya ke kantor polisi, plus mengantarkan saya  kembali ke stasiun.

Awalnya saya mengira, pak polisi itu akan mengantar kami berdua dengan menggunakan kendaraan umum macam tuk-tuk. Ternyata o ternyata, mereka menggunakan mobil polisi bersirine. Wiiih..saya berasa kena razia waria!

Ternyata benar. Kantor polisi itu cukup jauh, dan hampir saja tutup. Omaigod, kenapa di negara yang katanya tourismnya maju, tak ada polisi yang buka 24 jam sih?

Setelah 30 menit menunggu, surat kehilangan saya pun jadi. Dalam bahasa Thailand, yang tak bisa saya baca. Untunglah, pak polisi berbaik hati memberikan saya beberapa lembar salinan sehingga bisa saya gunakan di beberapa tempat.

Petualangan belum berakhir di situ. Saya harus mengejar bus yang akan berangkat. Jantung saya berdebar kencang, waktunya tinggal 20 menit dan jalanan ke sana ternyata macet. Akhirnya, pak polisi mengeluarkan jurus andalannya: sirine. Karena sirine itu, mobil-mobil menyingkir dan saya bisa lewat dengan cepat. Lima belas menit kemudian, saya sampai di stasiun, di depan bus yang akan saya tumpangi. Ya, mobil polisinya berhenti tepat di depan bus. Setelah mengucapkan terima kasih berkali-kali, saya keluar dari mobil polisi itu dengan cengiran lebar, karena semua mata di stasiun memandang saya dengan tanda tanya. Mungkin mereka berpikir, kenapa tuh mbak-mbak di tangkep polisi? 

Baca Juga: Membuat Paspor Pengganti 

Lapor Ke KBRI

Kelegaan saya hanya sementara. Saya mesti mengurus kehilangan dan paspor saya ke Indonesian Embassy di Bangkok. KBRI ini beralamat di Petchburi Road 600-602, tak jauh dari Platinum Market. Ketika saya sampai di sana, KBRI sudah tutup untuk istirahat, dan baru buka dua jam kemudian. Haiyah…

Untungnya, Pak Satpam asli Thailand yang fasih berbahasa Indonesia karena sudah bekerja di sana selama 8 tahun memperbolehkan saya masuk ke dalam kedutaan. Saya akhirnya makan siang di kantin sekolah milik kedutaan. Hff, lumayan. Ngadem sekaligus mengisi perut dengan nasi uduk, ayam goreng, dan sepotong bakwan, yang saat itu terasa sangat nikmat.

Jam dua tepat, KBRI dibuka lagi. Saya diminta menghadap Ibu Ita, yang bekerja di bagian pembuatan paspor. Menurut Ibu Ita, saya akan diberikan Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP), yang bentuknya mirip dengan paspor, namun hanya berlaku untuk satu kali perjalanan saja.

Untuk mendapatkan paspor ini, dibutuhkan syarat-syarat sbb.
– Fotokopi paspor yang hilang
– Fotokopi KK
– Fotokopi KTP
– Fotokopi Akte
– Pasfoto 4×6 sebanyak 3 lembar

Saya sudah punya 4 hal pertama, karena sebelum ke KBRI, saya sempet meminta orang di rumah mengirimkan itu semua ke email saya. Tapi masalahnya, saya tak tahu kalau harus menggunakan foto. Untunglah, di deket situ ada tukang foto. Berbekal uang 80 bath, saya mendapat 8 lbr pas foto ukuran 4×6.

Setelah syarat lengkap, Ibu Ita bilang dia akan proses SPLP saya besok pagi karena sebentar lagi KBRI akan tutup. Waks, gaswat banget. Saya harus balik ke Jakarta malam itu juga!

Begitu tau saya harus balik malam itu, Ibu Ita langsung kasihan. Dia rela lembur demi mengeluarkan surat untuk saya. Setengah jam kemudian, SPLP saya pun jadi, hanya dengan membayar 150 bath. Uff!!

Sebagai informasi, menurut Ibu Ita, normalnya pembuatan SPLP butuh waktu satu hari kerja. Itu kalau semua syarat lengkap. Jika syarat kurang lengkap (seperti fotokopi paspor nggak ada), butuh waktu lama lagi. Tanpa syarat tadi, mereka harus cross check data ke imigrasi Indonesia, yang tentunya butuh waktu lumayan lama.

Nah, di imigrasi, saya tinggal menunjukkan SPLP itu, beserta surat sakti dari KBRI, plus surat kehilangan dari kepolisian Chiang Mai. Semua berjalan lancar. Tanpa kesulitan yang berarti, SPLP dicap dan saya balik ke Indonesia dengan selamat. Thank God!

TIP

Dari kejadian ini, saya banyak dapet hikmah. Selain harus lebih berhati-hati lagi terhadap paspor, ada beberapa hal yang bisa dilakukan:

1. Simpan paspor terpisah dengan uang, atm, dan kartu kredit. Jika terjadi kehilangan paspor, masih punya simpanan uang.

2. Scan semua dokumen, mulai dari KTP, Akte, KK, kartu ATM, paspor. Masukin ke imel atau simpan di dropbox. Atau kalau memungkinkan, bawa fotokopiannya.

3. Tinggalin juga fotokopian dan dokumen asli itu di rumah, dan beritahu lokasi penyimpanannya ke semua orang rumah. Ini bermanfaat banget kalau kita nggak menemukan imel atau nggak punya koneksi internet.

4. Catat lokasi embassy atau konsulat yang ada di kota tujuan.

5. Saat terjadi kehilangan, jangan panik. Segera lapor ke tourist police terdekat atau kantor polisi.

6. Foto semua isi paspor, termasuk stempel masuk ke negara itu. Ketika di Imigrasi, gue ditanya kapan masuk. Karena kebetulan gue masuk ke sana bersama- temen gue, stempel masuk temen gue yang diliat oleh pihak imigrasi. Kalau nggak ada stempel itu, imigrasi mesti mengecek lagi ke komputer mereka, dan butuh waktu lumayan lama.

Semoga nggak ada yang kehilangan paspor, dan semoga tulisan ini bermanfaat!

Tip ini sudah dimuat di Majalah Travel Fotografi