Backpacking in Taiwan: Jiufen yang Tak Seindah Bayangan

Walaupun hujan, saya memutuskan tetap berangkat ke Jiufen Old Street, kota tua yang dulunya kaya dengan hasil tambang. Bagi penyuka film anime Spirited Away, wajib berkunjung ke sini karena katanya kota ini merupakan inspirasi dari film anime Ghibli ini. Saya sih nggak ngerti sama sekali soal film ini, saya datang ke sini semata-mata karena melihat foto di timeline IG kawan saya. Di sana ada kota Jiufen di sore hari. Kota berkontur dengan bangunan kuno dan lampion di mana-mana. Cantik.

Hujan lagi.

Hari kedua di Taipei pun saya masih diberi hujan. Kata pemilik hostel, saya memang datang di musim yang salah. Saat itu (bulan Desember awal), Taipei memang memasuki musim dingin dan sering hujan. Namun menurut kawan saya yang tinggal di sana, Taipei memang kota hujan. Ga afdol kalau ga hujan, katanya. 

Walaupun hujan, saya memutuskan tetap berangkat ke Jiufen Old Street, kota tua yang dulunya kaya dengan hasil tambang. Bagi penyuka film anime Spirited Away, wajib berkunjung ke sini karena katanya kota ini merupakan inspirasi dari film anime Ghibli ini. Saya sih nggak ngerti sama sekali soal film ini, saya datang ke sini semata-mata karena melihat foto di timeline IG kawan saya. Di sana ada kota Jiufen di sore hari. Kota berkontur dengan bangunan kuno dan lampion di mana-mana. 


Untuk menuju Jiufen, saya menggunakan kereta menuju Ruifang Station. Saya lupa harganya karena saat membeli, saya dibantu oleh nenek-nenek tua yang mengira saya kebingungan. Padahal, di mesin tiket ada bahasa Inggrisnya dan dengan mudah saya membaca tulisan itu. Wwkw…..biar deh. Biar nenek-nenek itu senang. 

Dari stasiun Riufang, tinggal naik bus lagi menuju Jiufen. Tapi karena saya sangat lapar, saya mampir dulu ke restoran halal milik orang Indonesia yang ada di sini. Nah dari situlah saya baru naik bus ke Jiufeng.

Baca juga: Backpacking ke Taiwan: Berburu Makanan Halal di Taipei

Saya sengaja menuju Jiufeng agak sore. Selain menunggu hujan berhenti, saya mau melihat suasana sore di sana yang cantik. Tapi ternyata, begitu saya turun, yang saya lihat adalah jalan yang penuuuh dengan banyak orang. Yaa, saya sampai susah bergerak karenanya.

Karena terlalu penuh orang, saya akhirnya memutuskan untuk jajan. Yaa…jajan ice cream frave khas Jiufeng yang nggak ada di kota lain. Namanya peanut ice cream spring roll alias kulit lumpia yang dikasih ice cream dan kacang tumbuk. Hahaha, enak sih rasanya. Paduan asin, gurih, dan manis gitu deh.

DSCF1784.JPG
salah satu sudut Jiufen

Saya berkeliling, sambil mencari gang kosong yang tak banyak orang. Ternyata, semua jalan bahkan ke tempat kecil pun banyak orang. Kata ibu-ibu bule yang sempat bertemu saya, hari itu ada belasan bus berisi turis China daratan yang mampir ke situ. Pantesaaaan….. 

Akhirnya, saya memutuskan untuk mencari tea house saja agar saya bisa duduk sambil minum teh, seperti yang disarankan banyak orang. Ya, Jiufen ini terkenal dengan tea house-nya. Di mana-mana ada tea house, salah satunya yang paling terkenal adalah A Mei Tea House. Tapi saya tak menemukan bangku kosong di semua tea house yang ada. Semuanya penuuh. Yang kosong hanya tea house yang terlihat mahal. Mana berani saya ngintip ke sana.

Setelah berjalan ke sana- sini tanpa tujuan dan bingung karena terlalu orang akhirnya saya memutuskan kembali ke Taipei. Kali ini dengan menggunakan bus 1062 yang langsung menuju Raohe Night Market di Taipei. Walaupun gagal trip Jiufen saya kali ini, tapi paling tidak saya sudah melihat salah satu tujuan wisata di sana. Plus pemandangan orang banyak tentunya. 😀 

 

“Come…come…” kata nenek tua yang bekerja sebagai cleaning service di Taipei Main Station. Saya mengikuti langkahnya yang cukup cepat menuju loket otomatis. Saya membiarkan ia membelikan tiket kereta untuk saya menuju Jiufen sambil berdoa dalam hati kalau ia menangkap maksud saya dan tak salah membelinya.di hari pertama di Taipei saya memutuskan untuk menuju Jiuefen Old Street yang fotonya sempat saya lihat di timeline salah seorang kawan saya. Sebuah kawasan tua

 

Backpacking ke Taiwan: Keliling Taipei dengan Bus

Taipei punya sistem trasnportasi yang baik. Ada metro bawah tanah, ada sepeda, dan ada bus kota (Taipei Public Bus). Walaupun metro lebih cepat, saya lebih suka naik bus kota ke mana-mana. Kebetulan, hostel yang saya inapi letaknya selemparan batu dari halte bus. Sementara, stasiun metro letaknya 10 menit dari hostel. Atas nama males jalan jauh, saya jadinya lebih sering naik bus. Naik metro saya lakukan kalau objek wisatanya cukup jauh atau kalau lagi diburu waktu.

Image result for bus in taipei
sumber: Wikimedia Commons

Taipei punya sistem trasnportasi yang baik. Ada metro bawah tanah (MRT), ada sepeda, dan ada bus kota (Taipei Public Bus). Walaupun metro lebih cepat, saya lebih suka naik bus kota di Taipei. Kebetulan, hostel yang saya inapi letaknya selemparan batu dari halte bus. Sementara, stasiun metro letaknya 10 menit dari hostel. Atas nama males jalan jauh, saya jadinya lebih sering naik bus. Naik metro saya lakukan kalau objek wisatanya cukup jauh atau kalau lagi diburu waktu.

Untuk membayar bus di Taipei ini, saya menggunakan kartu Easy Card. Kartu semacam kartu flazz ini saya beli di Bandara Taichung dan dapat diisi ulang di mesin-mesin pembelian tiket di stasiun atau mrt, serta di 7-11.

Tarif bus di Taipei ini dihitung flat, yakni sebesar NT15 kalau masih dalam satu zona tarif. Nah yang bikin bingung adalah kapan harus membayarnya. Jika di panel di atas pintu masuk menunjukkan karakter 上 (diucapkan shàng, “on”), itu artinya kita harus bayar NT 15  saat naik  bus. Jika bus menunjukkan karakter 下  (diucapkan xìa, “off”), bayar  saat turun bus.  Tapi kalau lewat zonanya, mesti bayar saat naik dan turun. Begitu.

travel in taipei taiwan

Bingung? Sama. Nah daripada saya bingung mesti ngapalin itu fonem , saya sih tap kartu easycard saat naik dan turun. Kalau ada bunyi “biip”, itu artinya pembayaran udah dilakukan saat saya naik. Lebih gampang kan?

Baca juga: Penginapan Murah di Taipei


Kalau gugling rute bus, akan muncul sederet nama company bus plus jalurnya. Pusing jadinya. Ga usah dipikirin, lebih baik langsung cari tujuan di google map, dan lihat nomer bus yang mesti dinaikin.

Saya menggunakan google map hanya di awal karena kawan saya yang tinggal di sana menganjurkan saya untuk menggunakan aplikasi khusus yang bernama “Bus Tracker Taipei”. Bener juga sih, lebih gampang dan lebih akurat.

bus di Taipei
Ini cuma tampilan di playstore. Jangan khawatir, ada pilihan bahasa Inggrisnya kok.

Cara menggunakan aplikasi ini: masukkan tujuan dan kemudian aplikasi akan menunjukkan bus nomer berapa yang harus dinaiki. Lihat di halte mana bus itu berada karena bus tidak berhenti di semua halte. Di halte akan ada sign yang menunjukkan nomer bus dan rutenya.

Aplikasi ini real time, jadi ketahuan di mana saya sekarang berada, di mana saya harus naik-turun dan berapa menit lagi saya bisa sampai ke halte berikutnya. Halte-halte yang terlewati akan berwarna abu-abu sementara halte di depan akan berwarna merah.

Screenshot_20181122-133820.jpg
Enter a caption

Dan yang penting, ada juga alarm pengingatnya, yang akan mengingatkan saya 5 menit sebelum di halte tujuan. Penting banget karena saya suka keasyikan lihat pemandangan dan lupa mesti turun di mana.

Btw, tiap bus berbeda jam operasinya. Ada yang sampai jam 10 malam, ada yang sampai jam 11 malam, ada pula yang sampai jam 12 malam. Perhatikan yaa, jangan sampai ketinggalan bus dan ga bisa balik ke hostel. Kayak saya :D.

Note: aplikasi ini bisa juga dipakai untuk MRT dan kereta ke luar kota Taipei.

 

Backpacking ke Taiwan: Jajanan Halal di Taipei Night Market

Taipei terkenal dengan night marketnya yang penuh dengan makanan. Ada Shilin Night Market, Shida Night Market, Raohe Night Market, dan Gongguan Night Market. Semua night market itu menjual banyak makanan, yang sayangnya kebanyakan tak halal. Tapi jangan khawatir, masih ada beberapa makanan yang bisa kita makan. 

Udah baca tulisan saya soal restoran halal di Taipei? Nah, selain makan di restoran-restoran itu, saya juga jajan lhoo…

Taipei terkenal dengan night market-nya yang penuh dengan makanan. Ada Shilin Night Market, Shida Night Market, Raohe Night Market, dan Gongguan Night Market. Semua night market itu menjual banyak makanan, yang sayangnya kebanyakan tak halal. Tapi jangan khawatir, masih ada beberapa makanan yang bisa kita makan.

DSCF1707.JPG

DSCF1802.JPG

Bersama Sarah, kawan saya yang sedang belajar di sana, saya mencicipi beberapa makanan halal di Night Market Taipei. Yuk intip.. 

1. Bola-Bola Ubi

DSCF1685.JPG

Ini bukan restoran, tapi nama makanan yang banyak dijual di street food-nya Taipei. Kata Sarah, ini digoreng dengan minyak biasa, bukan minyak babi, sehingga insyaAllah halal. Bola ubi ini enak banget, dalamnya kopong, sehingga renyah dan manis. Enaknya sih dimakan sewaktu hangat.

Yang ini saya beli di Shinlin Night Market. Harganya? Lupa, tapi ga terlalu mahal dan lumayan mengenyangkan.

2. Pancake

Saya tak tahu nama sebenarnya dari makanan ini, tapi rasanya seperti kue pukis berbentuk bulat dengan isian yang berbeda-beda. Ada isian kacang merah, cokelat, keju, dan sebagainya. Hampir di semua street market menjual ini dengan harga murah.

3. Martabak

Jujur, saya tak tahu apa namanya. Sarah sebenarnya sudah mengatakannya, tapi yaa namanya susah untuk diingat. Semacam martabak mesir yang terbuat dari campuran tepung dan sayuran. Tanpa ada daging di dalamnya.

DSCF1700.JPG

4. Tea Egg

Ini jajajan yang bisa dibeli di 7-11 manapun. Semacam telur pindang yang direbus dalam air teh hitam dan jamu-jamuan herbal yang saya tak tahu itu apa. Konon, telur teh ini berguna bagi kesehatan dan amat popular di Taiwan dan China. Rasanya ga jauh beda dengan telur pindang biasa, karena katanya telur pindang memang mengadaptasi dari teh telur ini.

Image result for tea egg taiwan

5. Peanut Ice Cream Spring Roll

Ini sebenarnya adalah makanan yang terkenal di Jiufen Old Street, ga ada di night market. Makanan ini mirip dengan lumpia basah: dibungkus kulit lumpia. Yang membedakannya adalah isian dalamnya. Kalau lumpia isinya sayuran dan rebung, Peanut Ice Cream Spring Roll ini berisi kacang tanah yang dihaluskan dan es krim. Rasanya paduan asin, manis gitu deh.

 

DSCF1771.JPG

Sebenarnya masih ada makanan lain yang sangat khas Taiwan yakni Stinky Tofu. Sesuai namanya ini adalah kembang tahu yang berbau. Karena baunya itu, saya ga mau makan walaupun katanya sih, rasanya enak banget.

Ada yang mau nambahin?

Backpacking ke Taiwan: Berburu Makanan Halal di Taipei

Taipei memang terkenal dengan street food dan night marketnya. Namun, bagimana dengan kehalalannya? Untunglah sewaktu ke sana, saya ditemani oleh Sarah, adik ipar teman saya, yang sedang mengambil kuliah S2 di sana. Dialah yang menunjukkan di mana saya bisa membeli makanan halal di Taipei dan sekitarnya.

Ketika mencoba gugling soal makanan halal di Taipei, Taiwan, saya cukup suprise. Ternyata tak terlalu susah menemukan makanan halal di Taipei.

Siapa yang tak kenal dengan Shinlin, stall makanan ringan yang hampir ada di setiap mal. Stall ini menjual ayam yang dipotong kecil-kecil lalu diberi bubuk bumbu dan dimakan dengan menggunakan tusuk sate. Atau bubble tea, minuman teh dicampur susu yang diberi topping buble jelly di dalamnya. Nah, kedua makanan tersebut adalah street food khas Taiwan, yang katanya wajib dicari saat berkunjung ke Taiwan.

Bagimana dengan kehalalannya? Untunglah sewaktu ke sana, saya ditemani oleh Sarah, adik ipar teman saya, yang sedang mengambil kuliah S2 di sana. Dialah yang menunjukkan di mana saya bisa membeli makanan halal di Taipei dan sekitarnya.

Baca juga: Lost in Translation in Taichung

Berikut beberapa restoran dan makanan halal di Taipei yang sempat saya cicipi.

1. Chang Beef Noodle Shop

Salah satu makanan yang wajib dicoba di Taipei adalah Beef Noodle, sejenis mie dengan kuah kaldu bening dan irisan daging. Di mana-mana bertebaran tempat makan beef noodle ini, tapi kebanyakan tak halal. Nah, Chang Beef Noodle Shop ini menghadirkan mi halal dengan kuah kaldu sapi. Rasanya lezat dan potongan daging sapinya empuk banget. Selain mie, mereka juga menyajikan pangsit isi daging rebus dan pangsit isi daging goreng.

Restoran ini terletak di No. 21, Yanping South Road, Zhongzheng District, Taipei City. Tak jauh dari Ximending area, pusat perbelanjaan anak muda Taipei. Di dinding restoran penuh dengan kaligrafi bertuliskan ayat AlQuran. Ada logo halalnya juga di depan pintu restorannya.

Beef Noodle Halal Taiwan

Makanan halal Taiwan
Di depannya dijual banyak camilan, tapi saya ga coba sih..

 

2. Fried Chicken Master Gongguan Night Market

Sarah mengajak saya ke salah satu night market kecil dekat kampusnya. Gongguan Night Market namanya. Di sini ada beberapa stall makanan, salah satunya Fried Chicken Master. Restoran fast food ala Taiwan ini memiliki sertifikat halal dari komunitas muslim Tiongkok. Di sana ada taiwanese street food yang tersohor, seperti chicken fillet, chicken pop corn, kentang goreng, dan sebagainya.

Image result for fried chicken master gongguan
Makanan-makanan di Friend Chicken Master. Foto ambil dari DanielFoodDiary.com. Lupa foto-foto saking lapernya

Fried Chicken Master ini beralamat di No. 158, Sec. 3,Tingzhou Road, Zhongzheng District, Taipei. Letaknya satu blok di seberang Gongguan Station. Restoran ini ada di beberapa cabang, tapi yang saya coba adalah di sini. Dan restoran ini ga punya tempat duduk, jadi cuma bisa takeaway ya..

3. At Taqwa Musolla and Restaurant di Ruifang

Ini sebenarnya bukan berada di wilayah Taipei, tapi sudah di wilayah Ruifang. Saya mampir ke sini sebelum menuju Juifen. Restoran ini letaknya sekitar 500m dari Stasiun Kereta Ruifang. Mesti berjalan kaki memang, namun sepanjang jalan menuju restoran ini akan ada deretan toko yang menarik buat dilihat. Dari luar tampilan restoran ini memang tidak terlalu mengesankan, sangat sederhana. Makanan yang tersedia juga sangat sederhana, yakni baso, indomi, telur dadar, ikan goreng, dan beberapa makanan Indonesia lain. Tapi lumayan lah buat mengisi perut sebelum datang ke Jiufen Old Street.

Di sini juga tersedia musala, jadi bisa numpang selonjoran kalau capek. Dan ada juga barang-barang merek dari indonesia. Kalau akan menuju Jiufen Old Street menggunakan bus, setelah makan tinggal menyebrang ke perempatan di dekatnya. Di depan warung kecil ada tempat perhentian bus menuju Jiufen.

Lokasi restoran halal di Ruifang
Lokasi restoran halal di Ruifang

Baca juga: Jajanan Halal di Night Market Taipei

Backpacking ke Taiwan: We Come Hostel, Penginapan Gaya Industrial di Taipei

Di Taipei, saya memutuskan untuk menginap di daerah dekat Taipei Main Station. Cukup banyak penginapan di dekat stasiun Taipei ini, namun akhirnya pilihan saya jatuh pada We Come Hostel karena tertarik melihat gambarnya dan harganya juga murah.

Di Taipei, saya memutuskan untuk menginap di daerah dekat Taipei Main Station. Cukup banyak penginapan di dekat stasiun Taipei ini, namun akhirnya pilihan saya jatuh pada We Come Hostel karena tertarik melihat gambarnya dan harganya juga murah. Tapi rata-rata hostel dan penginapan di Taipei ini bagus-bagus dan harganya tidak terlalu mahal.

Penginapan ini letaknya sekitar 700m dari Taipei Main Station dan 1,2km dari Taipei Bus Station. Di awal-awal saya merasa letaknya cukup jauh, tapi setelah beberapa kali lewat, ternyata nggak terlalu jauh juga. Banyak hal menarik yang bisa dilihat sepanjang jalan. Ditambah lagi, penginapan ini dekat dengan perhentian bus, jadi ke mana-mana mudah.

Ya, saya lebih sering menggunakan bus selama berkeliling di Taipei. Selain karena penginapan saya dekat dengan halte bus, saya bisa menikmati kota. Kalau naik MRT, walaupun lebih cepat, harganya lebih mahal dan saya tak bisa melihat kota di sepanjang perjalanan.

Baca juga: Backpacking ke Taiwan: Keliling Taipei dengan Bus

Yang saya suka dari hostel ini adalah desainnya yang industrial. Ada ruang komunal besar yang keren banget. Dan ada dapurnya juga. Setiap malam saya menghangatkan makanan halal yang sudah saya beli sebelumnya. Di pagi hari ada sarapan, tapi karena saya ragu minyak yang dia pakai untuk menggoreng, saya cuma berani makan roti tawarnya.

Ruang komunal. Sumber: wecomehostel.com

Dapurnya lengkaaap. Ada microwave, kompor, kulkas, dispenser air hangat, coffee maker. Sumber: wecomehostel.com

Dapurnya lengkap. Ada microwave, kompor, peralatan masak (wajan, panci) jadi saya bisa masak indomie di situ, ada juga coffe maker yang bisa bikin latte secara gratis (ini saya ga coba, krn ga bisa minum kopi). Komplet deh.

Oiya, saya menempati kamar female dormitory. Satu kamar isinya 4 orang. Kamarnya enak, nggak sempit. Tangga ke upper bed pun landai sehingga nggak bikin saya was-was. Malah tangganya bisa diduduki, jadi kalau saya ngobrol dengan yang lain, saya bisa sambil duduk di tangga itu.

Female dorm

 

We Come Hostel Taipei. 

Alamat: No. 26號, Gangu Street, Datong District, Taipei City, Republik Tiongkok 112. 

Backpacking ke Taiwan: Lost in Translation in Taichung

Gara-gara mencari tiket murah ke Taiwan dari Hongkong, saya malah mendarat di kota kecil, yang letaknya dua jam dari Taipei. Masalahnya, di sana jarang yang bisa berbahasa Inggris!

Perjalanan ke Taiwan ini bisa dibilang perjalanan dadakan. Awalnya saya mendapat tiket gratis dari Singapore Airline ke Hongkong karena memenangkan lomba blog dari tulisan saya Bermalam di Gurun Sahara. Namun karena saya sudah dua kali ke Hongkong, saya memutuskan untuk menuju ke satu tempat lagi yang letaknya tak terlalu jauh dari Hongkong.

Awalnya saya ingin menuju China lagi. Namun sebagai pemegang KTP dengan kolom pekerjaan bertuliskan “wartawan”, mendapat visa China amat sulit bagi saya. Akhirnya, Taiwan lah yang jadi pilihan saya. karena  untuk pemegang visa aktif Schengen, Jepang, Australia, atau Amerika, bisa mendapat e-visa ROC Travel Authorization Certificate secara gratis. Visa ini bisa diapply online di situs resmi mereka INI.

Untuk mencapai Taiwan dari Hongkong saya menggunakan Maskapai HK Express. Murah karena saat itu sedang ada promo, saya hanya perlu membayar sekitar 350rb pp. Namun, HK Express ini tidak mendarat langsung di Taipei, tetapi di kota kecil bernama Taichung yang terletak sekitar 2 jam dari Taipei. Takpalah…


Bandara Taichung ternyata amat kecil, lebih kecil dari bandara Halim malah. Namun bandaranya bersih dan teratur. Sayang saya tak sempat memfotonya karena fokus saya cuma satu: mencari konter penjual SIMCard. Ya, saya mesti menemukan SIM card untuk membantu saya mencari informasi karena di sini jarang yang bisa berbahasa Inggris dengan baik.

Saya membeli tourism sim card. SIM card ini hanya berisi data dan tidak bisa dipakai menelpon. SIM Card khusus turis ini ada 3 pilihan, ada untuk 3, 5 dan 7 hari. Saya membeli untuk 5 hari dan harganya kalau saya tidak salah ingat sekitar sekitar 150 ribu rupiah. Sebenarnya, Taiwan sim card ini bisa dibeli via klook dan diambil di bandara HK. Bisa juga beli di tokopedia di Indonesia. Tapi harganya lumayan beda jauh. (Lebih lengkap soal SIM card ini bisa dilihat di situs ini.)

Di Taichung Airport ini hanya ada satu konter yang menjual SIM Card, dan untungnya sang penjual bisa berbahasa Inggris. Karena bahasa Inggrisnya lumayan bagus, saya menanyakan nomer bus yang bisa saya tumpangi menuju terminal (saya akan menggunakan bus menuju taipei). Ternyata, dia bukan hanya menjawab pertanyaan saya, tapi mengantarkan saya hingga ke pintu bus dan berpesan kepada supir bus untuk menurunkan saya di suatu tempat. Konter SIM Card-nya ditutup sementara cuma untuk mengantarkan saya ke bus! Terharu


Untuk menuju Taipei dari Taichung, banyak sarana yang bisa digunakan. Bisa menggunakan kereta cepat THSR, bisa juga memakai bus. Saya jelas memilih opsi memakai bus karena kereta cepat amat mahal. Harga kereta sekitar  670-750 NTD (Standard Class) dan 965-1060 NTD (Business Class). Sementara harga bus hanya 220 ND.

Banyak perusahaan bus yang bisa dipilih, antara lain UBus and Kuo-Kuang (paling murah), Aloha, Ho-Hsin. Saya memilih UBus karena menurut review, ialah perusahaan yang paling oke dan banyak jamnya. (Untuk lihat jadwal bus bisa diliat di situs ini)

Dari info bapak penjual SIM Card, saya mestinya turun di Stasiun Kereta Api Taichung karena di seberangnya berderet penjual karcis bus. Jika melihat dari google map, jarak antara bandara dengan terminal bus sekitar 1-1.5 jam. Lumayan jauh, karena itu saya tenang-tenang saja duduk adem di dalam bus walaupun semua orang di dalamnya memandang saya dengan heran.  Tapi belum sampai stasiun, driver bus berteriak ke saya (dalam bahasa mandarin tentunya). Saya pikir, dia berbicara dengan orang lain, karenanya saya diam saja. Lalu orang-orang di kanan kiri saya ikutan ramai, mencolek-colek saya dan menunjuk ke seberang jalan. Ternyata, ada stasiun khusus UBus, yang letaknya jauh sebelum Stasiun Kereta. Dan si driver bus mencoba memberitahu saya. Oalaaaah….


Setelah membeli tiket bus, dengan bahasa Tarzan karena penjaga loket juga tak bisa berbicara bahasa Inggris, saya disuruh menunggu dan dengar pengumuman soal keberangkatan. Tak ada tulisan di tiket jam berapa bus akan berangkat. Dan masalah utamanya adalah …….. semua pengumuman diteriakkan dalam bahasa Mandarin. Tulisan LCD soal keberangkatan pun dalam bahasa yang sama. Untung ada semacam penjaga pintu di sana, yang walaupun tak bisa berbahasa Inggris, sukarela menjadi reminder saya kalau bus akan berangkat. Karena takut ia lupa, saya cari sukarelawan kedua: tukang minum (tentu dengan imbalan saya harus beli minum di tempatnya).

Sumber: wikipedia.com

UBus yang saya tumpangi dari Taichung ke Taiwan lumayan nyaman. Kursinya bisa direclining dan ada charger USB-nya. Girang banget saya lihat colokan USB ini, melebihi girangnya saya lihat makanan. Tapi lagi-lagi, si supir dan kondekturnya sama sekali tak bisa berbahasa Inggris. Ga masalah sih, karena saya akan turun di perhentian terakhir yakni Taipei Bus Terminal.

Taipei here I come…..

Baca Juga: Berburu Makanan Halal di Taipei