Empat Hal yang Bikin Saya Kangen Pekanbaru

Pekanbaru memang bukan tujuan wisata utama, karena orang yang datang ke sini kebanyakan ingin transit sebelum melanjutkan perjalanan menuju kota lain di Riau.

Namun banyak tempat yang dapat dikunjungi yang bikin saya kangen untuk datang lagi ke sini.

Pandemi virus Corona yang melanda dunia termasuk Indonesia membuat semua hal jadi tertunda. Termasuk rencana travelling saya ke salah satu kota di Sumatera, Pekanbaru, yang harus ditunda sampai situasi memungkinkan untuk ke sana.

Ini bukan kali pertama saya ke Pekanbaru. Saya pernah menginjakkan kaki saya di sana dua tahun lalu, dalam rangka tugas dari kantor untuk mewawancarai Bapak Walikota Pekanbaru, Bapak Firdaus, ST. Setelah tugas wawancara kelar, saya memperpanjang cuti saya di sana dan mengeksplor Pekanbaru seorang diri. Tawaran dari staf kantor Walikota untuk menemani saya berkeliling saya tolak, saya khawatir tak menikmati Pekanbaru seutuhnya jika ditemani resmi seperti itu.


Dari hasil obrolan saya dengan Walikota, saya diberitahu sedikit sejarah Pekanbaru. Awalnya, Pekanbaru ini bernama Senapelan yang dikepalai oleh seorang kepala dusun. Kepala dusun ini membuat sebuah pasar di akhir pekan, namun tidak berhasil karena jarang penduduk yang datang. Kemudian, sang anak yang meneruskan tahta, memindahkan lokasi pasar ke dekat pelabuhan. Pasar  yang baru itu dikenal dengan nama pasar Pekan Baharu. Nama inilah yang kemudian dikenal dan menjadi cikal bakal nama Pekanbaru.

Kota yang terletak di tepi Sungai Siak ini dulu menjadi tempat singgah kapal-kapal Belanda yang tak bisa merapat ke daerah Siak. Karena sering disinggahi kapal, Pekanbaru pun berkembang menjadi kota pelabuhan yang punya peranan penting di lintas perdagangan di Sumatera.

Menurut Pak Wali lagi, pada tahun 1958, Pemerintah Indonesia menetapkan Pekanbaru sebagai ibukota Provinsi Riau. Ini menyebabkan Pekanbaru jadi pusat perdagangan dan ekonomi yang penting di Provinsi Riau. Hingga sekarang ini.


Ketika saya akan mengeksplor Pekanbaru, banyak yang bilang kalau kota ini tak punya hal menarik untuk didatangi. Pekanbaru memang bukan tujuan wisata utama, karena seperti yang dijelaskan oleh Pak Wali ke saya, orang yang datang ke sini kebanyakan ingin transit sebelum melanjutkan perjalanan menuju kota lain di Riau.

Namun bukan berarti saya tak bisa bersenang-senang di sana. Ada beberapa tempat yang dapat dikunjungi dan ada beberapa hal mengasyikkan yang bikin saya kangen untuk datang lagi ke sini.

Sarapan di Warung Kopi Kim Teng

Warung kopi ini sangat terkenal sehingga semua orang, bahkan Pak Walikota pun, menyarankan saya untuk ke sini. Katanya, belum ke Pekanbaru kalau belum sarapan di Kimteng. Saya bukan pencinta kopi, tapi saya jadi penasaran, kenapa sih saya disarankan untuk ke sini. 

Alhasil, pagi-pagi sekali, dari hotel di Pekanbaru, saya sudah bergerak ke sana untuk sarapan. Warung kopi ini memang sudah buka sejak pukul 7 pagi. Saya kira, saya orang pertama yang datang ke sana. Tapi ternyata, ketika saya sampai sana, kedai sudah penuh. Benar-benar penuh. Hanya tersisa beberapa meja, itupun sudah direservasi orang.

Kedai ini memang bukan sekadar tempat nongkrong dan minum kopi, tapi juga sudah menjadi tempat transaksi bahkan tempat meeting. “Ngopinya secangkir, ngobrolnya di sana dua jam,” begitu ungkapan Pak Walikota.

Untungnya, ada meja kosong untuk saya. Di pojokan, di mana saya bisa mengamati keseluruhan kedai ini. Kedainya cukup besar, sepertinya baru dipugar. Di dindingnya banyak terdapat foto-foto para pesohor yang pernah datang ke sini. Di sebelah kanan terdapat foto perjalanan kedai Kimteng, yang ternyata sudah berdiri sejak lama.

Dari yang saya baca, nama “Kimteng” sendiri berasal dari nama Tang Kimteng. Ia seorang keturunan Tionghoa kelahiran Singapura yang sejak tahun 1940-an sudah menjadi tentara Indonesia di Sumatera. Setelah merdeka, Kimteng ikut berjualan di kedai kakaknya. Lalu pada tahun 1950-an, ia  membuka Kedai Kopi Segar di rumahnya, di dalam gang dekat pelabuhan Pelindo. Lama kelamaan, kedai ini berkembang dan kemudian diteruskan oleh sang cucu. Kedai kopi Segar ini pun lebih dikenal dengan nama Kim Teng dan nama ini bertahan hingga sekarang.

Menu andalan KimTeng ini adalah kopi hitam dan roti srikaya. Saya, yang tak biasa meminum kopi, sok-sokan mencoba kopi ini. Alhasil, sampai malam buta, saya masih merasakan efeknya. Jantung saya berdebar kencang, mata saya tak bisa terpejam. Memang, menurut teman-teman saya, kopinya cukup kuat bahkan untuk orang yang biasa meminum kopi sekalipun.

DSCF5682

DSCF5687
Kopi dan Roti Srikaya yang mankyuss. Selai srikaya-nya dan kopi bubuknya dijual juga seharga 35ribu/jar.

Kulineran Malam di Jalan Sudirman

Saat saya tanya apa yang saya bisa lakukan di malam hari di Pekanbaru, semua orang menjawab, “kulineran aja ke Jalan Sudirman.” Saya agak sangsi sebenarnya, mengingat di siang hari sebelumnya saya sudah datang ke sana dan cuma ada mal dan pertokoan saja.  Jalan Sudirman ini memang jalan utama di Pekanbaru. Selain mal, ruko-ruko, di sini banyak hotel, mulai dari hotel berbintang sampai hotel murah di Pekanbaru. 

Di mana kulinerannya? Malas ah kalau ke mal. 

Ternyata, di malam hari, Jalan Sudirman berubah menjadi sentra kuliner. Beragam kuliner khas Pekanbaru bisa saya temukan di sini. Ada yang menjual roti bakar hingga makanan Padang. Uniknya, jika di Jakarta ataupun di kota lain warung nasi padang biasanya berupa toko atau warung khusus, di sini warung padang berupa tenda tidak permanen. Masakannya dimasak dan diletakkan di gerobak, mirip tukang nasi goreng di dekat rumah saya.

Di jalan ini juga ada sate padang yang terkenal dan banyak direkomendasikan orang-orang, yakni Sate Padang Bundo Kanduang. Dengan harga Rp19.000 saja, saya bisa menyantap seporsi sate padang yang maknyus.

Ada pula Martabak Mesir Radar Siang Malam. Martabak ala India ini memiliki isian daging yang tebal, dengan kulit martabaknya yang lembut, dan kuahnya yang terasa segar manis. Martabak terenak yang pernah saya coba.  Saking sukanya bahkan saya pesan dua!

DSCF5666
Salah satu sudut kuliner di Jalan Sudirman
DSCF5844
Sate Bundo Kanduang

Jalan-jalan Sore di Masjid Agung An-Nur

Sebelum kulineran di Jalan Sudirman, saya mampir dulu ke Masjid Raya Annur. Masjid yang juga dikenal dengan Masjid Agung Pekanbaru ini adalah masjid terbesar di Pekanbaru yang didesain dengan gaya arsitektur yang merupakan paduan gaya arsitektur Timur Tengah, Melayu, dan India. Katanya, masjid ini didaulat sebagai Taj Mahal Pekanbaru.

Saya penasaran. Masjid ini memang indah. Tapi yang saya suka, masjid kebanggaan masyarakat Pekanbaru ini bukan hanya jadi tempat beribadah, namun juga tempat berolahraga dan berkumpul masyarakat Pekanbaru. Ya, kalau datang ke sini menjelang sore seperti yang saya lakukan, di lapangan depan masjid banyak orang yang berolahraga, jalan-jalan sore, atau hanya duduk-duduk mencicipi kuliner kaki lima di sana.

Salah satu kuliner yang saya coba di kompleks Masjid An Nur adalah kerupuk siram. Ini jajanan khas Riau dan beberapa daerah di sekitarnya seperti Sumatera Barat. Kerupuk siram adalah kerupuk gendar yang terbuat dari ketan, di atasnya diberi bihun, dan kemudian disiram dengan saus padang. Harganya hanya sekitar 4000-5000 rupiah saja per buah. Murah meriah enak kenyang.

DSCF5643
Masjid Annur yang ramai
AgDMpDYRINJJZByps4PtrBBqmOx7OM6hibnvdzM9F0Os
Masjid Agung An-Nur

Membaca Perpustakaan HS Soeman

Ketika saya tanya ke salah seorang kawan arsitek soal bangunan menarik di Pekanbaru selain masjid raya, ia menyarankan untuk mendatangi bangunan ini. “Bangunan yang eye catching”, katanya.

Saya mengikuti sarannya. Memang benar. Selain masjid Agung Annur, ini adalah bangunan lainnya yang mampu menarik mata saya. Bangunannya berbeda dari sekelilingnya sehingga langsung terlihat dari kejauhan. Konon, bentuk perpustakaan ini diambil dari bentuk buku yang terbuka, namun ada juga yang berpendapat kalau bentuk bangunan ini terinspirasi dari lekar, meja tempat meletakkan Al Quran saat belajar mengaji. Riau memang kental dengan nuansa Islam sehingga mungkin saja unsur Islami dimasukkan ke perpustakaan ini.

Saya masuk ke dalamnya, sengaja ingin membaca buku di sana. Bagian dalamnya ternyata lumayan menarik, buku-bukunya cukup banyak. Di lantai dasar terdapat café dan di lantai paling atas terdapat deck; di sini saya bisa melihat Kota Pekanbaru dari ketinggian.

Di sekitar perpustakaan H.S Soeman juga ada bangunan-bangunan modern lainnya yang cukup menarik, seperti kantor Gubernur Riau dan kantor perwakilan Bank Indonesia. Tapi cuma bisa diliat dari luar aja ya.

Soeman_HS_Library,_Pekanbaru,_Indonesia
Tampak luarnya.
DSCF5894
Section anak-anak. Masih sepi karena saat itu masih jam sekolah.
Aj4wqFBhOfN2yXFZywYV_SSjvOZ-GJ2VIbIuT6a1jGAM (1)
section bacaan umum

Penginapan di Pekanbaru

Pekanbaru ternyata menarik kan? Saya saja ingin kembali ke sana lagi. Apalagi, Pekanbaru ini termasuk mudah untuk dijelajahi dengan angkutan umum. Ada ojek online, ada bus trans metro. Rute trans metro ini sudah bisa menjangkau beberapa tempat wisata, bahkan bisa menuju bandara Sultan Syarif Kasim II. Untuk area yang tak ada trans metro seperti Kimteng, bisa menggunakan angkot. Masyarakat Pekanbaru juga cukup ramah, mereka akan senang hati menjelaskan apa yang harus saya naiki untuk menuju tempat-tempat itu. 

Untuk urusan menginap pun tak sulit. Banyak hotel murah di Pekanbaru, yang terjangkau bujet saya. Beberapa di antaranya adalah hotel di bawah bendera Reddoorz. Harganya mulai dari dua ratus ribuan per kamar. Walaupun harganya terjangkau, hotel-hotel ini tetap nyaman ditempati. 


Semoga saja pandemi ini segera berakhir dan saya bisa menikmati lagi kehangatan kopi Kimteng, menikmati makanan khas Melayu dan merasakan suasana di Pekanbaru lagi. Aamiin…

Aurora Village Murmansk: Memandang Aurora dari Balik Jendela

Saya amat bersyukur karena bisa menginap di penginapan terbaik di Rusia ini. Aurira Village Murmanks, sebuah penginapan eksklusif yang berbentuk igloo.

Bles.

Tiba-tiba ban mobil yang kami tumpangi tak bisa bergerak. Saya penasaran dan melongok ke luar jendela, rupanya ban masuk ke dalam tumpukan salju yang cukup tebal.

Pak supir berusaha mengeluarkan ban dari salju. Mobil digas bolak balik, maju mundur. Tapi tak berhasil. Kami terjebak di tengah padang salju. 

Untung saja, ada dua mobil van yang lewat. Salah seorang supir van mengambil alih kemudi dari supir kami dan berusaha mengeluarkannya dari jeratan salju yang menumpuk.

Sambil menunggu, saya mengarahkan pandangan ke lapangan salju di kejauhan. Di sana, di pinggir danau, sudah terlihat dek kayu yang sebagian tertutup salju. Di atasnya ada enam buah bangunan berbentuk setengah lingkaran berwarna putih dengan jendela kaca yang besar, persis seperti yang saya lihat di foto-foto.

Itulah tempat saya dan kawan saya akan menginap malam ini: Aurora Village Murmansk.


Penginapan Impian

Aurora Village yang jadi tujuan kami ini adalah penginapan yang berlokasi sekitar 50km dari kota Murmansk. Jika naik mobil dari kota, kira-kira butuh waktu 40-50 menit, tergantung kondisi jalan saat itu.

Kalau pakai mobil van dari Aurora Village rasanya akan lebih cepat karena mobilnya besar, sementara kami kemarin nekat naik taksi yang bentuknya sedan karena ada keperluan dulu di tengah kota Murmansk.

Baca Juga: Berburu Lady Aurora di Rusia

Letak Aurora Village ini di tepi danau dan jauh dari permukiman. Karena letaknya yang terpencil ini, yang menginap di Aurora Village dapat melihat aurora tanpa harus hunting ke tempat lain. Yap, kalau kita beruntung, bisa melihat aurora sambil minum teh hangat plus cokelat dari dalam kamar. Asyik, kan?

FYI, Aurora memang hanya bisa dilihat di tempat yang minim polusi cahaya dan yang jauh dari permukiman. Seperti di Aurora Village ini.

DSCF7964-01
Penampakan luar aurora village

Ada 10 buah kamar berbentuk Igloo di sini. Meniru bangunan suku eskimo yang hidup di kutub utara.

Empat buah menghadap danau, enam yang lainnya menghadap lapangan salju, seperti yang kami tempati. Di area depan terdapat sebuah bangunan besar, yang nantinya akan digunakan sebagai cafe.

Sayangnya, ketika saya datang, cafe belum selesai dibangun. Namun kabarnya saat ini cafe sudah selesai dibangun dan bisa dipakai untuk acara wedding, party, dan sebagainya.

DSCF7930-01
Kamar di seberang itu adalah kamar yang menghadap danau
DSCF7948
Kalau malam, domenya memang terlihat dari luar, tapi jangan khawatir, ada gordennya kok.

Oya, di depan igloo-igloo ini ada bangku-bangku kayu. Kalau summer, tempat ini sering dijadikan tempat pesta barbekyu. Sementara kalau winter, jadi tempat foto ala-ala aja kali ya. Dingiiin….

DSCF7933-02
Banyak meja dan bangku di sini yang bisa dijadikan tempat nongkrong, kalau ga kedinginan…:D

Interior yang Instagramable

Oleg, pemilik tempat ini, dan staffnya membantu kami membawa koper ke dalam salah satu dome. Kami mendapat kamar nomer satu, yang letaknya paling depan.

Begitu pintu dibuka, tampak dua buah tempat tidur di sana. Tempat tidur yang terlihat sangat hangat karena dilapisi dengan selimut bulu yang tebal.  Sangat cocok di cuaca yang sangat dingin. Saat kami datang, suhu di luar sekitar minus 3 derajat yang membuat kami hanya sanggup berdiri beberapa menit di luar sana.

Selain dua tempat tidur tadi, ada dua tempat tidur lagi di lantai mezanin. Tempat ini memang bisa memuat hingga 4 orang, dengan catatan, yang  tidur di atas adalah anak-anak atau cewe-cewe imut macam saya ini.

Kalau buat laki-laki, apalagi yang terlalu tinggi, bisa mentok di kepala. Oya, menurut si penjaga, bisa minta extrabed satu lagi dengan biaya 2.000 rubel atau sekitar 400 ribu rupiah.

Nah, untuk naik ke atas mezanin ini, ada tangga lipat yang tersembunyi, yang baru akan muncul kalau kita membuka tingkapnya. Persis seperti tangga-tangga tersembunyi menuju loteng di film-film barat yang saya tonton selama ini.

DSCF7852-01-02
Bagian dalam Aurora Village yang instagramable banget

Igloo ini juga dilengkapi dengan kamar mandi dengan air panas, juga perapian. Kami tak menyalakan perapian ini karena selain tak terbiasa, di dalam igloo sudah ada pemanas ruangan yang cukup hangat.

DSCF8048-01-01
Saya dan Ruru, travelmate saya ke Rusia.

Tak lama, salah satu staff Murmanks Igloo mengetuk lagi kamar kami. Ternyata, ia membawakan seteko air panas, sepaket teh Rusia favorit saya, dan setoples cokelat. Ya ampun, cokelatnya enak banget. Kalau tak ingat gigi saya yang baru kelar perawatan saluran akar, bisa habis semua cokelat itu.

Baca Juga: Persiapan Winter di Rusia


Sayangnya, Gagal Dapat Aurora

Menurut perkiraan di website Aurora Village, malam ini perkiraan KP Index untuk Murmansk ada di angka 3, sangat cukup untuk melihat Aurora di langit.

FYI, KP Index adalah tingkat kekuatan pancaran gelombang elektromagnetik yang dipancarkan si aurora. Semakin tinggi KP Indexnya, semakin jelas aurora akan terlihat. Semakin tinggi KP Indexnya, semakin bisa ditangkap kamera.

Kami sudah bersiap bergadang malam ini dengan kamera standby di atas tripod. Dari dalam kamar tentunya, tanpa perlu keluar lagi. Berkat jendela besar di dome ini, aurora dan segala yang ada di langit akan terlihat dengan jelas, bahkan sambil rebahan saya bisa melihat bintang di luar sana.

Tapi sayang, walaupun KP Index berada di angka 3, langit tertutup awan sehingga aurora tak keliatan sama sekali.

Kami mencoba keluar, siapa tahu dia ada di arah yang berlawanan dengan arah jendela kami. Tapi ternyata, setelah sepuluh menit berdiri di luar, hujan salju turun. Sudah pasti tak akan ada aurora di malam ini.

Sedih.

178289016
Begini pemandangan yang akan kami temui kalau aurora muncul di sini. Foto: auroravillage.info
82056665_1034545170233721_4690909920017514496_o
Foto: auroravillage.info

Esoknya paginya, kami berjalan mengelilingi tempat ini. Rencananya, kami mau mengintip dari jauh danau yang membeku di dekat penginapan.

Tapi ternyata, jalan menuju ke sana tertutup salju yang cukup tebal sehingga kami harus urungkan niat, karena takut terperosok ke dalam. Cukup lihat dari jauh saja. Hujan salju malam tadi ternyata cukup lebat dibanding hari-hari sebelumnya.

Ya sudahlah, balik lagi ke dalam Igloo dan foto-foto di dalamnya.

DSCF0020-01


Naik Husky Hingga Memancing di Danau Beku

Selain bisa menginap di sini sambil berburu si northern light,  Aurora Village juga menyediakan paket lain seperti Husky Farm Tour, memancing ikan di danau, tur ke Teriberca, atau ke kunjungan ke Sami Village.

Kami mengambil paket husky farm tour, dengan harga 2.000 rubel per orang. Saya sempat cek harga ke semua operator, tur dari Aurora Village ini harganya termasuk murah, tak beda jauh dengan yang lain.

Jam 12 siang, tim dari Aurora Village menjemput kami dengan mobil van yang bagus, bersih, dan harum. Hanya kami berdua yang ada di dalam van ini ternyata. Menurut Oleg, memang kali ini mereka mengkhususkan diri untuk mengantar kami.

Yippi..


Aurora Village bisa dipesan melalui situs resmi mereka di https://auroravillage.info/ atau bisa lewat OTA seperti booking.com, traveloka, dan sebagainya.

 

 

 

 

 

The Kayana Seminyak, Privasi ala Bali

Privat. Itu yang saya tangkap begitu kaki saya menginjak The Kayana Resort ini. Dimulai dari lobi hingga kamar, yang terlihat adalah ketenangan dan suasana khas Bali.

Dari bandara, saya langsung menuju daerah Petitenget, daerah yang sedang naik daun karena banyaknya hotel, cafe, dan restoran menarik yang ada di sini. Yang saya tuju adalah The Kayana, sebuah resor yang berada di bawah naungan hotel Santika Group.

Saya sampai di lobi. Aroma sandalwood langsung terasa di sana, membuat saya langsung rileks dan tenang. Tak sabar rasanya masuk ke dalamnya.

Tak perlu menunggu lama, saya dan kawan pun diantar menuju kamar dengan mobil golf. Mobil golf? Yup, karena areanya luas, ada mobil golf yang siap antarjemput ke kamar. Menuju kamar, yang saya lewati adalah jalan setapak dengan pohon-pohon kamboja di sekelilingnya. Tak ada bangunan-bangunan di kanan-kiri jalan, seperti halnya yang biasa ada di resor-resor yang saya tinggali. Ternyata, di balik pepohonan rindang itu ada dinding-dinding, dan di balik dinding itu ada villa-villa. Salah satunya Pool Villa, kamar yang akan saya tempati.

97609_14021813250018373596.jpg
Lobi hotel. Foto by The Kayana
20150102_125232
Jalan dari lobi menuju villa. Balinya berasa ya?

Saya penasaran seperti apa villa yang ada di balik dinding itu. Dan begitu pintu jineng kayu ala Bali dibuka, yang tampak adalah sebuah gazebo kayu di kanan, di sebelah kirinya ada kamar besar yang seluruh dindingnya dari kaca. Di antara kamar dan gazebo itu ada kolam renang kecil! Yes, ada kolam renangnya, walaupun ukurannnya mini dan hanya cukup untuk berendam saja.

Kata petugas yang mengantar saya, ada 3 macam unit villa di sini. Yang pertama adalah yang saya tempati, pool villa yang punya kolam renang di dalamnya. Lalu ada two bedroom villa dengan kolam renang juga tentunya (dan ukurannya lebih besar). Dan ada lagi deluxe villa yang tak punya kolam renang. Katanya lagi, konsep Kayana ini adalah private villa, makanya setiap villa dibuat “berlindung” di balik dinding. Betul kan yang saya pikirkan di awal?

one-bedroom-deluxe-villa-plunge-pool
Pengen langsung nyebur!

Bagaimana dengan kamarnya?

Villa saya terdiri atas satu kamar yang dindingnya dipenuhi jendela. Jadi dari kamar, saya bisa melihat ke luar dan begitu juga sebaliknya. Tenang, pemandangannya hanya sebatas di dalam villa karena seperti yang tadi saya ungkapkan, tiap villa dikelilingi tembok tinggi sehingga tak akan terlihat dari luar.

Di tengah kamar terdapat ranjang double yang cukup besar. Ukuran bule sepertinya. Yang menarik, ranjang ini dilengkapi kelambu yang membuat tempat ini jadi terlihat romantis. Emang bener kata Si Bli, sebenernya villa ini lebih cocok buat pasangan yang lagi honeymoon, bukan yang jomblo seperti saya. *eh, curcol. Memang sih, selama saya di sana, saya lebih sering bertemu dengan pasangan-pasangan muda yang sedang honeymoon.

97609_14030110520018515392
kamarnya saya
The-Kayana_1270657664.jpg
Sisi lain kamar saya

Malamnya, saya dan kawan saya bertemu sang manajer, yang mentraktir kami makan malam di restoran yang ada di dalam kawasan Kayana. Restoran ternyata juga sangat menarik, di depannya ada kolam renang besar yang bisa dipakai tamu jika tak puas berendam di kolam renang villa masing-masing.

pool
photo: the kayana.com

Buat yang pingin resor yang tenang, romantis, dan privat, The Kayana sangat cocok. Apalagi buat liburan bareng pasangan. Rasanya pas sekali. Bagi saya, kekurangannya cuma satu, resor ini tak punya akses langsung ke pantai.

Sayang, saya hanya satu malam di sini. Padahal ingin berlama-lama dan mencoba spa  yang tampaknya nikmat sekali. Nanti kapan-kapan saya balik deh, buat honeymoon karena tempat ini bener-bener tenang, private, dan Bali banget. Aaamiin…

The Kayana

Jalan Raya Petitenget, Kerobokan Kelod, 
Kuta Utara
Bali, Indonesia
Tel: +62 361 847 6628 ; Fax: +62 361 847 6633

8 Rekomendasi Penginapan Murah di Kuala Lumpur

Ini dia rekomendasi 8 penginapan murah di Kuala Lumpur yang pernah saya inapi.

Hampir semua penginapan murah di Kuala Lumpur yang saya inapi ini berpusat di sekitar Bukit Bintang dan KL Central, karena memang kedua tempat itulah yang paling ramai dan strategis untuk diinapi. Sekali pernah juga sih nginep di The Face Suite KLCC karena tempatnya sedang ngehits.

Baca Juga: Tempat Beli Oleh-Oleh di Kuala Lumpur

Nah, inilah beberapa penginapan di Kuala Lumpur di Bukit Bintang dan penginapan di KL Sentral yang pernah saya coba.

The Pod’s Backpacker Home and Cafe Kuala Lumpur

Image result for the pods kl sentral
Sumber: The Pod’s

The Pod’s Backpacker Home and Cafe Kuala Lumpur adalah penginapan backpacker yang lokasinya dekat sekali dengan KL Sentral. Tinggal jalan kaki menyeberangi NU Sentral, sampailah di penginapan ini. The Pod’s Backpacker Home and Cafe Kuala Lumpur juga tinggal selangkah lagi dari monorail KL Sentral, sehingga kalau mau jalan-jalan ke Bukit Bintang jadi mudah.

Di sekeliling hostel The Pods KL ini ada beberapa tempat makan yang terkenal enak. Ada ABC Cafe Bistro yang buka 24 jam dan menyajikan makanan India. Ada 7 eleven yang buka 24jam, ada satu lagi tempat makan India yang saya lupa namanya.

Di The Pods KL ini, saya hanya pernah mencoba menginap di female dorm dengan harga 30RM permalam. Murah, apalagi masih bisa titip koper kalau penerbangan pulang saya sore. Dibanding titip di KL Central, harganya sama, kan mending saya nginep di The Pods ini sekalian.

Kamarnya bersih, namun agak sempit. Susah untuk buka-buka koper, kecuali bawanya koper ukuran kabin. Selain kamar dormitori, di sini juga ada single atau double private room.

Travelogue Guest House Bukit Bintang

Penginapan Murah di Kuala Lumpur
Travelogue Guest House Kuala Lumpur

Travelogue Guest House juga salah satu pilihan saya kalau ingin menginap di daerah bukit bintang. Lokasinya strategis, tepat di depan monorail bukit bintang Airasia dan pintu masuk MRT Bukit Bintang.

Tak jauh dari situ juga ada Sungai Wang, Lot 10, dan di seberangnya ada Mal pavilion. Ke Alor dan Arabian Ain tinggal jalan kaki. Strategis banget deh.

Mereka punya kamar dormitori dan privat, dapur lengkap dengan alat-alatnya. Harganya juga ga terlalu mahal, mulai dari 100 rb per bed. Sayangnya, untuk dormitori mereka cuma sedia mix dorm, tak ada female dorm.

Dan untuk dorm yang isinnya empat, kamarnya lumayan sempit. Kekurangan lainnya adalah, letaknya di lantai 3 dan ga ada lift. Bisa sih minta bantuan, mereka menyediakan bel di lantai dua. Tapi kan lumayan bawa koper satu lantai.

Hotel Sentral Kuala Lumpur

Penginapan Murah di Kuala Lumpur
Kamar di Hotel Sentral Kuala Lumpur

Ketika kedua kalinya ingin membooking di The Pods KL, kali ini kamar private karena saya berdua, saya iseng mengecek Booking.com. Dan ternyata, Hotel Sentral Kuala Lumpur sedang promo. Kamar private double room dibanderol dengan harga yang sama dengan kamar private di The Pods. Jelas saja saya lebih memilih menginap di Hotel Sentral kan.

Hotel Sentral ini letaknya persis di sebelah kanan The Pods. Jadi sangat strategis. Ke monorail tinggal jalan 2 menit, ke KL Central tinggal nyebrang.

Nah, karena ini bentuknya hotel, kamarnya tentu lebih besar dan lebih enak dibading tetangga sebelahnya.

Saya memesan express twin room tanpa jendela. Tapi ternyata, ketika check in saya dapat kamar berjendela. Alhamdulillah… rezeki anak sholehah. Kamarnya bersih, kamar mandinya di dalam dan juga cukup bersih. Luasnya tak terlalu besar, tapi cukup untuk saya dan kawan saya membuka dan mengubek-ubek koper medium kami.

Oiya, express room ini ternyata beda lokasi dengan kamar standar Hotel Sentral. Liftnya pun berbeda. Kalau kamar standarnya liftnya ada di sebelah kiri resepsionis, sementara kamar express ini liftnya ada di balik tembok, di dekat Spa. Dan untuk menuju lift, ada 5 anak tangga dulu. Ufff…

Izumi Hotel Bukit Bintang

Izumi Hotel Bukit Bintang

Saya menginap di Izumi Hotel Bukit Bintang Kuala Lumpur saat bulan puasa. Saat itu, saya mencari hotel yang dekat dengan Al Arabian, sentra kuliner puasa di daerah Bukit Bintang. Pas banget, ada promo setengah harga dari Izumi Hotel Bukit Bintang ini. Jadi harga totalnya ga terlalu mahal, lebih murah dari nginep berdua di backpacker hostel malah.

Izumi Hotel ini letaknya juga strategis. Hanya 300 meter dari monorail Bukit Bintang, dan 100m dari halte bus GoKL. Jadi gampang ke mana-mana. Sewaktu puasa, di depannya langsung ada bazaar Ramadhan. Jadi ga perlu jajan jauh-jauh cari makanan berbuka khas Malaysia. Ke Sungai Wang, Lot 10, dan Pavilion juga tinggal jalan kaki.

Saya memesan kamar tanpa jendela. Lumayan bersih dan enak, tapi sempit. Dan tambah keliatan sempit karena ga ada jendela. Saking sempitnya saya susah fotonya…

Baca Juga: Restoran dan Makanan Halal di Bukit Bintang

Sky Hotel Bukit Bintang

sky hotel bukit bintang
sky hotel bukit bintang

Sky Hotel Bukit Bintang ini saya pesan dua jam sebelum check in, sewaktu pulang kondangan di rumah kawan couchsurfing saya di daerah Seramban, Kuala Lumpur.

Karena dadakan, saya nggak pakai milih ini itu, saya hanya mencari hotel yang lumayan bagus di Bukit Bintang, tapi paling murah di antara yang ada. Kebetulan, pas banget hotel ini sedang promo. Saya dapat kamar yang oke dengan harga kurang dari 400.000.

Kalau soal lokasi, Sky Hotel Bukit Bintang tidak sestrategis Izumi Hotel.  Walaupun begitu, lokasinya deket sekali dengan jalan Alor dan cuma 300m dari stasiun monorail Imbi. Hanya aja, kalau mau naik GoKL, mesti jalan dulu 600m ke arah stasiun Monorail Bukit Bintang.

Masih oke sih yaa…

Kalau soal kamar, oke banget. Gedeeeee. Pun dengan kasurnya, saya tidur berempat pun muat. Hahaha, jangan ditiru ya, sebenarnya awalnya cuma mau bertiga, tapi kawan saya yang rumahnya 1 jam dari KL tak mungkin pulang karena kami ngobrol di salah satu restoran di jalan Alor hingga larut malam.

Di dekat hotel ini ada warung kelontong yang cukup besar dan lengkap. Bisa jadi salah satu tempat buat berburu bahan makanan khas Malaysia, yang kadang nggak saya temui di tempat lain. Misalnya aja tepung pisang goreng Adabi. Di supermarket gede pun saya ga nemu, eh malah nemu di sini.

The Face Suites Kuala Lumpur

The Face Suites Kuala Lumpur
The Face Suites Kuala Lumpur

The Face Suite dan Regalia adalah dua penginapan paling happening di Kuala Lumpur. The Face Suite Kuala Lumpur ini sebenarnya aparthotel alias apartemen yang bergabung dengan hotel, jadi pemiliknya bisa menyewakan unit apartemennya ke orang lain.

Yang bikin The Face Suite Kuala Lumpur ini terkenal karena di lantai atasnya ada infinity pool dengan latar belakang pemandangan kota Kuala Lumpur. Ada petronas dan menara KL sebagai backgroundnya. Kece buat foto-foto, apalagi waktu malam. Buat yang menginap di sana, bisa dapat fasilitas berenang di sini. Bisa pinjem handuk pula.

Oiya, saya memesannya via Airbnb, dengan harga sekitar 36 dolar per kamar. Jadi cuma bayar 2 dolar karena kawan saya pakai referal dari saya dan ia dapat potongan 34 dolar. (Kalau mau voucher potongan airbnb senilai 32 dolar, klik INI ya).

Unit yang saya inapi ini interiornya modern clean, semua serba putih. Keren deh. Di dalam unit itu ada 2 kamar yang disewakan, satu kamar mandi dengan kamar mandi di dalam, dan satu kamar dengan kamar mandi di luar. Saya jelas menyewa yang kamar mandinya di luar, karena harganya lebih murah!

Unit apartemen The Face Suite Kuala Lumpur yang saya inapi ini dilengkapi juga dengan dapur lengkap dengan microwave, kulkas, kompor, griller, dan peralatan masak-makan. Ada juga mesin cuci dan setrika. Lengkap.

Untuk menuju ke sini dari KL Sentral bisa naik monorail dan turun di Bukit Nanas. Atau kalau mau pakai taksi resmi, bayarnya cuma 14RM. Grab, pastinya lebih murah lagi.

Tune Hotel KL

penginapan murah di Kuala Lumpur
Tune Hotel Kuala Lumpur

Tune hotel Kuala Lumpur ini berada di jalan Tuanku Abdul Rahman, di tengah-tengah antara monorail Medan Tuanku dan Sultan Ismail. Agak jauh sih dari kawasan paling ramai di KL, bukit bintang. Tapi masih bisa lah dicapai dengan monorail.

Saya menginap di sini sudah lama (sekitar tahun 2011). Waktu itu, dekat sini hanya ada tempat makan outdoor yang ga terlalu menarik. Sekarang, di dekat sini ada tempat makan yang lumayan terkenal di KL, namanya RSMY Cheese Naan.

Kalau soal kamar, Tune Hotel KL ini kamarnya jelas oke. Walaupun simpel, tapi bersih dan nyaman. Luasnya standar, lebih besar dari Izumi dan Hotel Sentral, tapi lebih kecil dari Sky Hotel. Kalau yang pernah nginep di Tune lainnya, pasti tau deh kamarnya kayak apa.

Swiss Garden Residence Bukit Bintang

Swiss Garden Residence Bukit Bintang
Swiss Garden Residence Bukit Bintang

Sama dengan The Face Suite, Swiss Garden Residence ini juga apartemen hotel. Jadi apartemen yang disewakan untuk diinapi.

Saya menginap di sini karena ketinggalan pesawat pulang. Mau tak mau kembali ke KL. Saya balik naik bus dan dari KL Sentral ke sini dengan taksi resmi sekitar 17rm.

Lokasinya tak jauh dari Bukit Bintang dan Jalan Alor, walau bukan di pusatnya Bukit Bintang seperti Izumi dan Travelogue. Mesti berjalan kaki sekitar 10 menit. Kalau naik monorail (Hang Tuah) mesti jalan sekitar 5 menit.

Saya menginap di #17Home @Swiss Garden Bukit Bintang. Booking via airbnb. Kamarnya besar dan bagus, bisa diisi 4-5 orang. Kamar mandinya juga mewah, ada bathtubnya. Dapurnya lengkap, TVnya keren, bisa diputar-putar *norak saya.

Fasilitas di Swiss Garden sendiri juga oke. Ada kolam renang besar dengan pemandangan kota (walau bukan pemandangan Petronas seperti Face Suite). Ada fitness center juga kalau ingin olahraga, ada tempat bermain anak.

Cari Hotel di Semarang dengan Traveloka

Akhir-akhir ini saya banyak disibukkan oleh tugas ke berbagai kota dan kabupaten di Indonesia. Dalam sebulan, bisa dua atau tiga kali saya pergi. Seneng aja saya sih, apalagi setelah pekerjaan selesai dan saya ada waktu banyak (baca: ga dikejar dosen pembimbing tesis), saya diperbolehkan eksten alias memperpanjang waktu saya di sana sendiri. Lumayan kaan, liburan tanpa mesti beli tiket pesawat #anakmodis.

Salah satu tempat yang akan saya sambangi (lagi) adalah Semarang. Ya, setelah tugas tiga hari di Semarang bulan depan, saya ingin menjelajahi ibu kota Jawa Tengah ini. Sendirian saja. Banyak objek di Semarang yang ingin saya kunjungi lagi, terutama objek-objek wisata arsitekturnya. Kata kawan-kawan saya yang baru saja dari sana, pembangunan yang dilakukan pemerintah kota menjadikan Semarang kini menjadi lebih cantik dan menarik.

Kota tua Semarang akan menjadi tujuan utama saya. Saya sebenarnya sudah beberapa kali ke sini, namun katanya lagi, sekarang ini pemda Semarang melakukan revitalisasi kota tua sehingga Kota Tua Semarang menjadi lebih tertata rapi. Bangunan-bangunan yang dulunya kumuh dan tak terawat dipugar dan diperbaiki; ada yang kemudian dikelola pemerintah, ada pula yang diambil alih oleh swasta dan kemudian dijadikan restoran atau kafe.

DSCF7509
kota tua Semarang

Ya, café. Selain tempat-tempat wisata seperti Gereja Blenduk, di kota tua sekarang ini katanya banyak cafe baru bermunculan. Salah satunya Cafe Siegel, sebuah cafe modern namun berlokasi di dalam bangunan tua. Saya jadi ingat starbuck cafe yang ada di salah satu daerah Shamian Dao di Guangzhou, China. Saya betah berlama-lama di sana karena cafenya ada di bangunan tua yang dibangun sejak tahun 1920. Kebayang kan kerennya?

Tempat lain di Semarang yang bikin saya penasaran adalah Kampung Pelangi, sebuah kampung warna-warni yang fotonya pernah saya lihat di timline IG kawan pejalan. Katanya sih, area ini dulunya adalah sebuah kampung kumuh. Kini, kampung kumuh tersebut dibersihkan lalu dicat dengan aneka warna. Selain menarik dilihat, di sini banyak lukisan dinding yang bisa dijadikan latar belakang profile picture IG. Semacam yang ada di Bali Lane Singapura atau Melaka di Malaysia gitu.

Walaupun sudah berkali-kali ke Semarang, namun biasanya saya menginap di rumah teman ataupun di rumah sepupu saya di Semarang Atas. Kali ini, saya mesti mencari-cari sendiri hotel yang letaknya strategis: dekat dengan tempat tugas saya, tapi ga jauh juga dengan objek-objek wisata yang akan saya datangi. Setelah bertanya sana-sini, saya disarankan menginap di area Semarang Tengah saja. Okelah

Pilihan jatuh pada hotel Dafam. Saya mendapat harga Rp375.000/malam yang saya booking lewat situs traveloka. Kalau saya bandingkan dengan situs lain, harga di situs traveloka ini lebih murah. Apalagi kalau belinya lewat aplikasinya.  Saya coba intip situs lain, harganya berkisar Rp385.000 lebih. Bagi saya sih, 10ribu itu lumayan lho, apalagi kalau dikalikan sekian malam.

Btw, akhir-akhir ini saya selalu cari hotel pake situs pencari hotel Traveloka. Selain harganya relatif murah, pilihan hotelnya lumayan lengkap, mulai dari hotel yang mahal sampai yang murah. Mulai dari hotel bintang lima hingga losmen bed and breakfast. Kalau lihat di situsnya, di situ ada tulisan kalau mereka bekerja sama dengan banyak jaringan hotel lokal dan internasional, mulai dari Swiss Bell, Accor, Tauzia, Santika, dan banyak lainnya. Ada juga hotel-hotel yang ada di bawah bendera airyroom.

peta
list penginapan di Traveloka sangat lengkap.

Dan yang penting buat saya niih,  harga yang tertera di sana adalah harga akhir. Artinya, yang saya lihat di halaman awal itulah yang akan saya bayar. Saya pernah pakai situs pencari hotel yang lain. Di situs itu, yang ditampilkan adalah harga awal yang belum termasuk pajak dan biaya administrasi. Saat mau bayar, baru deh keliatan total harganya yang ternyata berbeda sekian puluh ribu dengan harga yang ditampilkan di awal. Nyebelin kan

Selain itu, di traveloka ini juga ada filter-filter yang mempermudah saya mencari hotel yang sesuai  buat saya. Ada filter bintang, harga, kategori, fasilitas. Ada pula filter jenis properti jadi bisa mencari jenis penginapan yang diinginkan apakah apartemen, hotel, atau hostel. Yang paling sering saya pakai (selain filter harga tentunya) adalah filter area. Jadi saya bisa memilih lokasi yang sesuai dengan keinginan saya. Misalnya nih, saya kan inginnya di area dekat tengah kota. Saya klik filter area dekat Lawang Sewu, muncullah sederet hotel yang bisa saya pilih.

Ada juga fitur pencarian dengan peta. Jadi hotel-hotelnya ditampilkan bukan berupa daftar panjang, tapi dengan peta. Dengan peta begini, lebih enak mencari hotel sesuai lokasi yang saya mau. Di situs lain ada juga sih fitur semacam ini, tapi di traveloka ini terasa lebih mudah.

peta 2
fitur peta yang jadi andalan saya. lebih gampang kalau pilih hotel sesuai lokasi yang saya mau

Bagaimana soal kemudahan pembayaran? Waktu booking hotel ini, saya bayar pakai kartu kredit biar dapat poin kartu kredit dan dapat promo. Yap, ada promo khusus dengan kartu kredit BNI saat saya booking. Makanya, sebelum booking atau bayar, sering-sering deh cek halaman promo traveloka karena pasti ada aja promo menariknya. Sekarang ini aja ada promo beberapa kartu kredit.

Selain pembayaran dengan kartu kredit, ada beberapa metode pembayaran yang saya bisa pilih: mulai dari bayar di atm, mobile banking, ataupun pay at hotel alias bayar di hotel.  Metode yang terakhir ini memang ga berlaku di semua hotel sih. Daftar hotel yang menggunakan sistem pay at hotel akan muncul kalau mengklik menu “pay at hotel” di bagian atas list hotel atau di sidebar di sisi kiri (ini kalau buka di pc).

peta 3.jpg
berbagai pilihan pembayaran traveloka

Sejauh ini, saya pribadi masih akan pakai situs ini. Harganya lebih murah (apalagi kalau ada promo),  situsnya mudah dipakai alias user friendly, dan banyak pilihan cara pembayarannya. Kalau kamu, gimana? (ADV)

 

Svarga Resor Lombok: Oase di Pantai Senggigi

Babilonia Garden. Itu yang terlintas di pikiran saya ketika melihat foto Svarga Resort Senggigi, sebuah resor di Lombok yang diarsiteki oleh Prof. Yandi Andri Yatmo, dosen saya di UI.

Tak seperti resor biasa yang pernah saya inapi sebelumnya yang permukaannya datar-datar saja, resor ini dibuat bertingkat dan berundak-undak. Split level, begitu bahasa kerennya dalam dunia arsitektur.

Setelah dua tahun hanya melihat foto tersebut, baru kemarin ada kesempatan mampir lagi ke Lombok. Ada penugasan. Tanpa pikir panjang, saya meminta tiket penugasan saya diperpanjang dan membulatkan tekad untuk bermalam di resor impian saya. Resor yang namanya diambil dari bahasa Sansekerta, yang artinya surga”.


“Assalamulaikum, mbak Rahma,” manager on duty yang bertugas hari itu menyapa saya dengan ramah. Seumur-umur, baru kali ini saya disapa dengan begitu di sebuah resor di Lombok. Nama saya disebut. Dan ini bukan hanya dilakukan oleh sang manager, namun semua staff di sini selalu mengucapkan salam sekaligus menyebut nama saya. Bahkan staff di kantin pun melakukan hal yang sama. Saya pikir, karena saya kenal pemilik dan arsiteknya lah saya jadi disapa dengan ramah. Namun setelah saya amati, sepertinya SOP di resor ini mengharuskan staff, terutama yang berkaitan langsung dengan pengunjung, menghapalkan nama mereka. Entah bagaimana caranya.

Setelah urusan check-in selesai, sang manager dan salah satu staff yang saat itu sedang bertugas mengantar saya ke kamar saya: Varda Deluxe Suite. Kamar ini katanya adalah salah satu kamar dengan view terbaik di sini. Tak sabar rasanya membuktikan janji si bapak, sambil berharap semoga bukan cuma promosi semata…

DSCF9650
Ini yang temui begitu keluar lobi dan bergerak menuju kamar saya di atas.

DSCF9633

Sambil berjalan di antara tangga-tangga yang instagramable (desainnya apik!), menuju ke kamar saya yang letaknya di atas, saya iseng bertanya kepada pak manager, “Kalau mau lihat sunset, tempat deket sini mana ya?”

Sambil tersenyum ramah, si manajer menjawab, “Dari kamar mbak juga bisa.

Saya penasaran. Begitu pintu kamar dibuka, saya langsung tahu kenapa si manager mengatakan hal itu. Tepat di belakang pintu itu ada sebuah ruang tamu dengan jendela besar di seluruh sisinya. Jendelanya frameless alias tanpa kusen, membuat yang duduk di sana bisa bebas melihat view di sekelilingnya. Jika melongok ke kanan, akan terlihat bukit hijau dengan hamparan pohon palem. Kalau melihat ke kiri, pemandangannya laut!

Bukan hanya di ruang tamu, kamar Varda Deluxe Suite yang saya inapi ini punya dek terbuka. Dari situ saya juga bisa melihat hal yang sama dengan di ruang tamu: bukit di sebelah kanan, dan laut di sebelah kiri. Asyiiik…

DSCF9368
Dek terbuka. Saya doyannya duduk di sini pas pagi atau sore hari. Biar ga item…:D

Bukannya berisitrahat, saya malah asyik memfoto setiap jengkal kamar saya. Mulai dari ruang tamu tadi, yang ada dapurnya. Lalu kolam pendek berbatu, tempat saya sering merendam kaki saya sambil minum teh (semoga beneran boleh ngerendam kaki di sini ya). Lalu kamar tidur yang punya privat, tapi tetap punya view ke arah kolam. Atau kamar mandi, yang punya pintu langsung ke luar.

Semuanya saya suka!

DSCF9322
Pemandangan dari arah dapur dan ruang tamu ke arah kolam, bathub dan kamar (di sebelah kiri).
DSCF9361
Foto ini saya ambil dari dek favorit saya.
DSCF9341
Kamarku…abaikan laptopnya (bukan iklan, apalagi endorse :D)

Tak sabar rasanya menunggu sunset tiba. Namun, ketika sang matahari benar-benar akan menghilang dari pandangan, saya malah bingung. Bingung menentukan di mana enaknya saya melihat sunset: dari sofa ruang tamukah, atau duduk santai di dek ujungkah, atau sambil menyesap teh dan duduk-duduk di kolam? Untungnya sunset di Lombok sana berlangsung cukup lama, sehingga saya ada waktu untuk pindah-pindah tempat (dan berfoto tentunya) semau saya. Semuanya tempat sama asyiknya ternyata.

DSCF9400

DSCF9412
Enaknya, jendela ruang tamu bisa dibuka-tutup.

DSCF9397

Bagaimana kalau kamarnya ada di bawah? Tenang. Di lantai paling atas ada dek yang dibuka untuk umum. Tetap bisa lihat view dan vista seperti yang saya lihat dari kamar saya ini.

View Terbuka, Privasi Tetap Terjaga

Yang juga patut saya acungi jempol atas desain dosen saya ini adalah terjaganya privasi tiap kamar, tanpa harus menghalangi pemandangan ke luar. Saya tak bisa melihat ke kamar di atas saya, pun sebaliknya.

Awalnya saya ragu, ketika ingin berendam gaya-gayaan di bak mandi terbuka di dekat dek. Kalau keintip, menang banyak dong mereka. Tapi nyatanya, di atas bathub ini ada atap, sehingga saya bisa berendam dengan bebasnya, merilekskan badan saya yang kaku, sambil memandang taburan bintang di atas langit Lombok yang indah.

DSCF9589

Breakfast yang Enak

Satu hal lagi yang saya sukai dari tempat ini adalah breakfast alias makan paginya yang enak. Makan paginya bukan berupa buffet yang bebas diambil semau dan semuanya, melainkan berdasarkan menu. Ada menu western, Indonesia, mediteran, dan beberapa menu lain yang saya lupa detailnya.

Karena saya dapat jatah dua orang, saya tak mau rugi. Saya pesan dua menu: lontong sayur dari menu indonesia, dan tortila dari menu mediteran. Saya skeptis dan tak berharap banyak pada awalnya, tapi ternyata penampilannya sangat menggoda. Diiringi tatapan dari meja sebelah yang menyiratkan “itu mbak-mbak makanannya dua porsi lho”, saya makan dengan lahapnya. Rasanya ternyata enak! Menyesal saya minta porsi saya dikurangi.

Restoran Salza Resto ini ada di pinggir infinity pool alias kolam renang yang terasa tanpa pinggir. View-nya ke arah laut. Jadi, untuk penghuni kamar-kamar yang tak punya kolam renang sendiri, masih tetap dapat menikmati asyiknya bermain air di kolam renang ini. Ataupun menikmati sunset dari kursi-kursi yang ada di sana.

DSCF9580.JPG
Infinity pool di depan restoran.

Malamnya, setelah balik dari Senggigi, saya iseng keluyuran dan memotret lagi resor ini. Tetap apik ternyata di malam hari, malah padaran lampu menambah indah tempat ini. Kalau dulu dosen lighting saya bilangnya sih, “Lighting makes architecture come alive in night”.

DSCF9484.JPG

Merilekskan Tubuh di Hagia Spa

Selain memanjakan mata dengan pemandangan, saya juga memanjakan badan dengan spa di sini. Di svarga ini ada spa yang namanya Hagia Spa, letaknya tak jauh dari kolam renang.

Sayangnya saya hanya punya 30 menit waktu, karena harus bergegas pulang ke Jakarta. Saya memilih jenis spa yang paling cepat, yakni wraping. Jadi, badan saya dibalur dengan cream rempah, lalu dibalut dengan plastik wrap. Kata mbaknya, tujuannya agar kandungan si cream cepat meresap dan juga agar badan saya (yang saat itu mulai terasa tak enak) jadi merasa hangat. Terus terang, saya tak terlalu merasakan hangat di tubuh, namun yang pasti saya merasa jauh lebih rileks setelahnya.


Dua hari di Svarga Resor rasanya kurang. Tak rela rasanya harus membawa keluar koper saya dari pintu kayu, menuruni tangga, menuju lift, dan berpamitan pada staff di sana. Ah, saya pasti akan balik ke sana.

PS: Harga kamar yang saya tempati sekitar 1,2 jutaan, di traveloka. Tak terlalu mahal saya rasa untuk kamar dengan view begini, di lokasi ini. Atau bisa dicoba di situs Svarga Resort karena sering ada promo. Lumayan kan?

Btw, buat yang bawa orang tua, sebaiknya jangan pesan kamar di paling atas. Akses lift hanya sampai lantai dua (atau tiga ya itu), selebihnya mesti pakai tangga. Walaupun tangganya dirancang landai dan pemandangannya menyenangkan, kalau buat orang tua, rasanya tetap tak cocok.

Svarga Resort Lombok

Jalan Raya Senggigi, Kerandangan, Desa Senggigi Kec. Batulayar
West Lombok – West Nusa Tenggara 83355 Indonesia
Phone (+62) 370 6195999 (Hunting) Fax +62 6195888

http://www.svargaresort.com/en/

 

Summer Bed and Breakfast Banjarmasin: Hotel Retro di Pinggir Sungai Martapura

Banyak penginapan dan hotel di Banjarmasin, namun setelah memilih sana-sini dalam waktu singkat, dengan berbagai pertimbangan yang lebih rumit daripada pilih jodoh (halah), saya akhirnya memutuskan untuk menginap di Summer Bed and Breakfast Banjarmasin.

Tadinya, saya akan menginap di Amaris, salah satu hotel yang masih satu grup dengan tempat saya bekerja. Saya dapat harga murah di sana, lumayan bisa menghemat bujet saya. Tapi ternyata, setelah cek sana sini macam Veni Rose, Amaris ini letaknya jauh dari tengah kota, lebih dekat dengan bandara. Padahal, katanya di sana susah menemukan angkutan umum.

Kalau bertanya kepada beberapa teman, entah kenapa semua menganjurkan membuking kamar di salah satu hotel mahal di pinggir sungai. Saya memang mencari hotel di pinggir sungai karena objek wisata Banjarmasin terpusat di sana. Tapi harganya, ga sanggup kantong saya.

Setelah gugling, sampailah saya ke situs hotel Summer Bed and Breakfast Banjarmasin. Awalnya, saya pikir, hotel ini satu grup dengan yang ada di Bandung. Ternyata bukan oi, (setelah sampai di sana dan sok you know sama Masnya, baru saya sadar, yang di Bandung bukan ini namanya :D). Begitu liat harga, foto kamar, dan lokasinya, tanpa pikir panjang saya langsung booking.

761643_14103115430023107470
Yang ini di area tangga dekat kamar saya.

Hotel Summer Bed and Breakfast Banjarmasin ini letaknya hanya 5 menit dari pusat keramaian Sungai Martapura. Jadi setiap pagi, dipinggir sungai ini ada yang namanya Wisata Pasar Apung Banjarmasin. Walaupun pasar apung yang ini buatan (bukan yang original) dan penuh turis, tapi pedagangnya asli lho. Saya masih bisa belanja buah-buahan serta makan lontong orari di pinggir sungai (yang harganya cuma 7.000 perak, padahal saya nambah ketupatnya lho!). Dan juga wisata kuliner di sana. Yup, kalau malam tiba, di sini ada semacam pusat kuliner. Ada macam-macam makanan khas Banjar, kecuali soto Banjar.

Dari tempat ini pula saya bisa sewa perahu buat menuju Pasar Apung Lok Baitan. Saya mendapat harga Rp300.000 untuk menuju ke sana, hasil share dengan beberapa orang backpacker yang baru saya temui di sana.

Untuk menuju beberapa tempat wisata lain, hotel ini juga tak jauh. Kalau mau ke Masjid, tinggal menyebrangi jembatan. Mau ke Patung Bekantan, juga bisa. Kalau mauu…soalnya saya tak paham apa bagusnya si patung ini. Panas pula.

Selain lokasinya yang strategis, yang saya suka adalah desainnya. Ya,  hotelnya desainnya ala retro modern, tampak beda dibanding bangunan sekitarnya. Banyak spot buat bernarsis ria di sini. Di sebelah kiri, di bawah tangga, ada pojokan bergaya retro lengkap dengan televisi tabung kuno. Di sebelah kanan, dekat lift, ada pojok internet yang di belakangnya dilukis dengan mural. Kece!

DSCF2819.JPG
Lobi Hotel
DSCF2821
Salah satu sudut retro di dekat lift

Desain kamarnya cukup bagus untuk ukuran bujet dengan harga yang tak terlalu mahal. Gayanya minimalis, dengan mural di dinding belakang tempat tidur. Saya kebagian berada di lantai 7 dan dari kamar, saya bisa melihat sungai Martapura.

Kekurangannya menurut saya ada pada kamar mandinya, karena tak ada batas lantai antara area shower dan area wastafel. Jadi kalau saya mandi, airnya mengalir sampai ke seluruh kamar mandi.

DSCF2831
Ini kamar yang saya tempati

Yang saya paling suka, di lantai paling atas ada The Poeple’s Place Cafe. Di Jakata juga ada beberapa sih, cuma yang di sini harganya jauh lebih murah. Banget. Dan enaknya, ada outdoor seat area. Kalau malam, outdoor seat area ini keren banget, bisa ngopi-ngopi sambil liat pemadangan Sungai Martapura di waktu malam. Cafe ini juga jadi tempat yang okeh banget sewaktu saya mesti nunggu hujan reda dan mati gaya.

DSCF2848.JPG

 

DSCF3024.JPG
Romantis ya kalau malam…

Summer Bed and Breakfast Banjarmasin.

Jalan Veteran No.3 Banjarmasin

 

 

 

Menginap di Venetian Macau

Suatu malam, atasan saya menelpon, memberitahu kalau ada undangan dari Venetian Hotel di Macau, dan saya yang akan diberangkatkan ke sana.

Suatu keberuntungan, karena sebagai anak bawang, biasanya saya tak pernah dapat dinas ke tempat yang enak. Kali ini, bos saya tak bisa berangkat karena ada urusan keluarga, istrinya sedang sakit. Editor saya sedang sibuk dengan sekolahnya. Dua rekan saya yang lebih senior, paspornya habis masa berlakunya.

Yes, dewi fortuna berpihak pada saya. Yes, saya akan menginap di Venetian Macau, salah satu hotel paling terkenal dan paling mahal di Macau. Saat itu

Naik Viva Macau

Pesawat yang saya tumpangi kali ini adalah Viva Macau, sebuah low budget airline milik Macau. Pesawatnya lumayan besar, lebih besar daripada AirAsia. Seperti low budget airline lainnya, di atas pesawat penumpang tak mendapat makanan.

Ada sih makanan yang dijual, tapi harganya itu loh, ampun-ampun. Satu bungkus pop mie dibandrol dengan harga HK$ 40. Lalu, secangkir teh dihargai HK$ 10. Wah…mahalnya.

Selepas dari Macau Airport yang ukurannya tak lebih dari bandara Adisucipto itu, saya menaiki shuttle bus menuju Venetian Hotel Macau. Di Macau memang tersedia banyak sekali shuttle bus milik hotel, yang bisa dinaiki dengan gratis.

Kamar Seluas Lapangan Badminton, Seharga 4 Jutaan

Lima menit kemudian saya sudah sampai di lobby hotel Venetian Macau. Karena saya mendapat undangan khusus dari Venetian Macau, saya tak perlu melakukan reservasi. Cukup menunggu di VIP Room, ditemani musik dan banyak minuman segar, sambil menungggu kunci pintu diantarkan.

Hmm…nikmatnya jadi VIP.

Room boy mengantarkan saya dan salah seorang wartawan majalah lifestyle ke sebuah kamar. Begitu dibuka, saya girang. Kamar yang saya tempati luas sekali!

Kamar ini didesain dengan gaya Eropa. Ada dua tempat tidur yang diatasnya dihiasi dengan kelambu khas kamar tidur putri raja. Area tidur ini dilengkapi dengan lemari built-in, TV plasma 32 inch, dan safety box.

Lalu, ada juga ruang tamu yang dilengkapi (lagi) dengan TV dan minibar.  Ada pula meja tulis yang dilengkapi dengan printer multifungsi (yang bisa sekalian mengkopi dan men-scan). Yang kurang di sini cuma satu: internetnya mesti bayar!

venetian-bella-suite
ini kamar saya. Keren yaa? Sumber foto: venetian macao.com

Saat saya cek di internet, tarif kamar ini sekitar HK$ 1800. Mahal, tapi kalau diisi beramai-ramai (dan sepertinya pasti muat), bisa jadi murah. Kata pelayan di sana, masih ada kamar yang lebih besar, yakni kamar VIP yang tarifnya bahkan tak disebutkan di internet. Kabarnya, orang-orang Cendana sering sekali menginap di sana.

Baca Juga: Mencari “Portugis” di Senado Square

Nyasar di Dalam Hotel

Esoknya, saya diantar berkeliling resort ini. Mulai dari lobi hotel, casino, hingga ke area pertokoannya. Wiiiih….luas sekali ternyata Venetian Resort ini, mencapai 10.5 juta m2 atau kira-kira seluas 56 kali lapangan bola.

Menurut sang PR yang menemani saya selama di Macau, di sini terdapat 3.000 kamar. Weleh…weleh….. Tapi, walaupun besar konon pembuatannya hanya memakan waktu 3 tahun, lho..

Saking luasnya hotel ini, saya baru bisa menghapal jalan setelah 3 hari berada di sini. Itu pun saya tetap harus memegang peta hotel. Sebenarnya, di mana-mana ada komputer khusus untuk menunjukkan jalan. Tapi tetep aja bingung…

Oya, seluruh interiornya dirancang dengan gaya Renaissance Italia. Konon, sang pemilik, menginginkan sebuah hotel mewah bergaya Italia setelah ia dan sang istri menghabiskan waktu di Venezia Italia. 

Contohnya salah satu lorong hotel yang dibuat dengan lengkung-lengkung dan ornamen-ornamen khas Eropa. Pilarnya didominasi warna kuning, langit-langitnya digambari lukisan ala Leonardo Da Vinci. Dan katanya ukiran-ukiran itu yang dibuat dari emas 24 karat murni!

85650_14121816030024046784
salah satu lorong di hotel
15821b38-dad5-11e5-80e8-06fc1406e58b1
Foto: venetianmacao.com
IMG_5574
Bola dunia di lobi hotel

Naik Gondola Ala Venesia

Agar lebih terasa ada di Venesia, cobalah naik gondola. Tarif gondola ini HK$ 108/ orang untuk 15 menit perjalanan. Mahal sih ya, tapi untungnya saya naik dengan percuma (haiyah). 

Ada 3 kanal yang bisa dipilih, tapi saya sarankan untuk naik di Grand Canal, pasalnya toko-toko di sisi kanal ini lebih menarik ketimbang kanal yang lain.

The Venetian Hotel and Casino in Macau
sumber: travelpag

Gondola saya disupiri oleh seorang wanita bertubuh besar bernama Bonita. Bonita ini asli dari venesia, tapi kini tinggal di Las Vegas. Bonita bilang tempat ini mirip dengan tempat asalnya. Bedanya, bangunan di sini lebih baru dan bersih, dan sungainya tidak coklat seperti di Venesia.

IMG_5772b
Sendal jepit gue….:*(^%$

Sambil mendayung Gondola, Bonita menyanyikan lagu-lagu Italia. Saya tak tahu sama sekali artinya, tapi tangan saya merinding mendengar suara Bonita yang merdu. Menurut Bonita, semua pendayung mesti bersuara merdu.

Oya, saya sempat bertemu suami Bonita, yang juga bekerja sebagai pendayung gondola. Suaranya? Tak kalah dengan Bonita. Dan, ia bisa menyanyikan lagu rasa sayange, loh..

Pertama Kali Nonton Sirkus

Saya juga diajak menonton Sirkus ZAIA, Cirque du Soleil. Di Venetian memang terdapat pertunjukan kolosal. Cirque du Soleil ini adalah sirkus dari Kanada. Mereka bekerja sama dengan Venetian Resort, mempertunjukan sirkus yang diberi nama ZAIA.

Pertunjukannya diadakan di satu ruangan teater besar. Sebelum mulai, saya diajak masuk ke area belakang, tempat para pemain “tinggal”. Di sana ada ruang gymnastic besar tempat para pemain berolahraga agar bisa tampil maksimal.

Ada ruang kostum, tempat para desainer merancang kostum. Ada ruang tes make-up, ada klinik kecil, ada ruang latihan, ada pula ruang rekreasi. Sayangnya, saya terikat kontrak untuk tidak mempublikasikan gambarnya di manapun.

Karcis ZAIA  terhitung mahal (HK$ 788 atau sekitar 1,5juta), namun hasilnya sebanding sekali dengan pertunjukan yang disuguhkan.

ZAIA adalah perpaduan antara musik, tari dan akrobat. Musiknya live, loh, dengan penyanyi dan orchestra lengkap. Tarian yang disuguhkan juga sangat memikat, ditambah lagi dengan efek cahaya yang bagus. Kostum dan make-upnya juga menarik, bertema outer space namun berwarna-warna.

t_venetian_macao_cirque-du-soleil3
Sumber: Venetianmacao

Panggungnya diset dengan luar biasa. Latar belakang panggung berupa proyeksi bintang, yang katanya merupakan hasil proyeksi bintang di langit Macau. Lantai panggung bisa naik turun. Di langit-langit teater terdapat semacam rel, jadi adakalanya ada artis yang berayun-ayun di dengan menggunakan tali dan berkeliling teater dengan menggunakan rel. seperti terbang beneran.

Kalau soal cerita, saya tak akan mengerti kalau saja sang PR tak menceritakannya ke saya. Pasalnya, ceritanya ekspilisit sekali, perlu mencerna lebih keras untuk paham yang alur ceritanya.

Katanya ceritanya tentang Zaia, seorang penduduk planet yang terletak antara bumi dan bulan, yang sedang melanglang buana. Tapi memang tak perlu mengerti ceritanya, cukup nikmati saja gerakan di panggung sana.

TIP:

  •  Walaupun tidak menginap di Venetian, masih bisa keliling venetian, termasuk ke lobi hotelnya. Masuk kasinonya pun diperbolehkan.
  • Di kasino ada area buat belajar permainan di sana. Gratis! Saya sih ga coba ya, secara dalam Islam ga boleh mendekati judi, jadi saya cuma lihat aja.