Empat Hal yang Bikin Saya Kangen Pekanbaru

Pekanbaru memang bukan tujuan wisata utama, karena orang yang datang ke sini kebanyakan ingin transit sebelum melanjutkan perjalanan menuju kota lain di Riau.

Namun banyak tempat yang dapat dikunjungi yang bikin saya kangen untuk datang lagi ke sini.

Pandemi virus Corona yang melanda dunia termasuk Indonesia membuat semua hal jadi tertunda. Termasuk rencana travelling saya ke salah satu kota di Sumatera, Pekanbaru, yang harus ditunda sampai situasi memungkinkan untuk ke sana.

Ini bukan kali pertama saya ke Pekanbaru. Saya pernah menginjakkan kaki saya di sana dua tahun lalu, dalam rangka tugas dari kantor untuk mewawancarai Bapak Walikota Pekanbaru, Bapak Firdaus, ST. Setelah tugas wawancara kelar, saya memperpanjang cuti saya di sana dan mengeksplor Pekanbaru seorang diri. Tawaran dari staf kantor Walikota untuk menemani saya berkeliling saya tolak, saya khawatir tak menikmati Pekanbaru seutuhnya jika ditemani resmi seperti itu.


Dari hasil obrolan saya dengan Walikota, saya diberitahu sedikit sejarah Pekanbaru. Awalnya, Pekanbaru ini bernama Senapelan yang dikepalai oleh seorang kepala dusun. Kepala dusun ini membuat sebuah pasar di akhir pekan, namun tidak berhasil karena jarang penduduk yang datang. Kemudian, sang anak yang meneruskan tahta, memindahkan lokasi pasar ke dekat pelabuhan. Pasar  yang baru itu dikenal dengan nama pasar Pekan Baharu. Nama inilah yang kemudian dikenal dan menjadi cikal bakal nama Pekanbaru.

Kota yang terletak di tepi Sungai Siak ini dulu menjadi tempat singgah kapal-kapal Belanda yang tak bisa merapat ke daerah Siak. Karena sering disinggahi kapal, Pekanbaru pun berkembang menjadi kota pelabuhan yang punya peranan penting di lintas perdagangan di Sumatera.

Menurut Pak Wali lagi, pada tahun 1958, Pemerintah Indonesia menetapkan Pekanbaru sebagai ibukota Provinsi Riau. Ini menyebabkan Pekanbaru jadi pusat perdagangan dan ekonomi yang penting di Provinsi Riau. Hingga sekarang ini.


Ketika saya akan mengeksplor Pekanbaru, banyak yang bilang kalau kota ini tak punya hal menarik untuk didatangi. Pekanbaru memang bukan tujuan wisata utama, karena seperti yang dijelaskan oleh Pak Wali ke saya, orang yang datang ke sini kebanyakan ingin transit sebelum melanjutkan perjalanan menuju kota lain di Riau.

Namun bukan berarti saya tak bisa bersenang-senang di sana. Ada beberapa tempat yang dapat dikunjungi dan ada beberapa hal mengasyikkan yang bikin saya kangen untuk datang lagi ke sini.

Sarapan di Warung Kopi Kim Teng

Warung kopi ini sangat terkenal sehingga semua orang, bahkan Pak Walikota pun, menyarankan saya untuk ke sini. Katanya, belum ke Pekanbaru kalau belum sarapan di Kimteng. Saya bukan pencinta kopi, tapi saya jadi penasaran, kenapa sih saya disarankan untuk ke sini. 

Alhasil, pagi-pagi sekali, dari hotel di Pekanbaru, saya sudah bergerak ke sana untuk sarapan. Warung kopi ini memang sudah buka sejak pukul 7 pagi. Saya kira, saya orang pertama yang datang ke sana. Tapi ternyata, ketika saya sampai sana, kedai sudah penuh. Benar-benar penuh. Hanya tersisa beberapa meja, itupun sudah direservasi orang.

Kedai ini memang bukan sekadar tempat nongkrong dan minum kopi, tapi juga sudah menjadi tempat transaksi bahkan tempat meeting. “Ngopinya secangkir, ngobrolnya di sana dua jam,” begitu ungkapan Pak Walikota.

Untungnya, ada meja kosong untuk saya. Di pojokan, di mana saya bisa mengamati keseluruhan kedai ini. Kedainya cukup besar, sepertinya baru dipugar. Di dindingnya banyak terdapat foto-foto para pesohor yang pernah datang ke sini. Di sebelah kanan terdapat foto perjalanan kedai Kimteng, yang ternyata sudah berdiri sejak lama.

Dari yang saya baca, nama “Kimteng” sendiri berasal dari nama Tang Kimteng. Ia seorang keturunan Tionghoa kelahiran Singapura yang sejak tahun 1940-an sudah menjadi tentara Indonesia di Sumatera. Setelah merdeka, Kimteng ikut berjualan di kedai kakaknya. Lalu pada tahun 1950-an, ia  membuka Kedai Kopi Segar di rumahnya, di dalam gang dekat pelabuhan Pelindo. Lama kelamaan, kedai ini berkembang dan kemudian diteruskan oleh sang cucu. Kedai kopi Segar ini pun lebih dikenal dengan nama Kim Teng dan nama ini bertahan hingga sekarang.

Menu andalan KimTeng ini adalah kopi hitam dan roti srikaya. Saya, yang tak biasa meminum kopi, sok-sokan mencoba kopi ini. Alhasil, sampai malam buta, saya masih merasakan efeknya. Jantung saya berdebar kencang, mata saya tak bisa terpejam. Memang, menurut teman-teman saya, kopinya cukup kuat bahkan untuk orang yang biasa meminum kopi sekalipun.

DSCF5682

DSCF5687
Kopi dan Roti Srikaya yang mankyuss. Selai srikaya-nya dan kopi bubuknya dijual juga seharga 35ribu/jar.

Kulineran Malam di Jalan Sudirman

Saat saya tanya apa yang saya bisa lakukan di malam hari di Pekanbaru, semua orang menjawab, “kulineran aja ke Jalan Sudirman.” Saya agak sangsi sebenarnya, mengingat di siang hari sebelumnya saya sudah datang ke sana dan cuma ada mal dan pertokoan saja.  Jalan Sudirman ini memang jalan utama di Pekanbaru. Selain mal, ruko-ruko, di sini banyak hotel, mulai dari hotel berbintang sampai hotel murah di Pekanbaru. 

Di mana kulinerannya? Malas ah kalau ke mal. 

Ternyata, di malam hari, Jalan Sudirman berubah menjadi sentra kuliner. Beragam kuliner khas Pekanbaru bisa saya temukan di sini. Ada yang menjual roti bakar hingga makanan Padang. Uniknya, jika di Jakarta ataupun di kota lain warung nasi padang biasanya berupa toko atau warung khusus, di sini warung padang berupa tenda tidak permanen. Masakannya dimasak dan diletakkan di gerobak, mirip tukang nasi goreng di dekat rumah saya.

Di jalan ini juga ada sate padang yang terkenal dan banyak direkomendasikan orang-orang, yakni Sate Padang Bundo Kanduang. Dengan harga Rp19.000 saja, saya bisa menyantap seporsi sate padang yang maknyus.

Ada pula Martabak Mesir Radar Siang Malam. Martabak ala India ini memiliki isian daging yang tebal, dengan kulit martabaknya yang lembut, dan kuahnya yang terasa segar manis. Martabak terenak yang pernah saya coba.  Saking sukanya bahkan saya pesan dua!

DSCF5666
Salah satu sudut kuliner di Jalan Sudirman
DSCF5844
Sate Bundo Kanduang

Jalan-jalan Sore di Masjid Agung An-Nur

Sebelum kulineran di Jalan Sudirman, saya mampir dulu ke Masjid Raya Annur. Masjid yang juga dikenal dengan Masjid Agung Pekanbaru ini adalah masjid terbesar di Pekanbaru yang didesain dengan gaya arsitektur yang merupakan paduan gaya arsitektur Timur Tengah, Melayu, dan India. Katanya, masjid ini didaulat sebagai Taj Mahal Pekanbaru.

Saya penasaran. Masjid ini memang indah. Tapi yang saya suka, masjid kebanggaan masyarakat Pekanbaru ini bukan hanya jadi tempat beribadah, namun juga tempat berolahraga dan berkumpul masyarakat Pekanbaru. Ya, kalau datang ke sini menjelang sore seperti yang saya lakukan, di lapangan depan masjid banyak orang yang berolahraga, jalan-jalan sore, atau hanya duduk-duduk mencicipi kuliner kaki lima di sana.

Salah satu kuliner yang saya coba di kompleks Masjid An Nur adalah kerupuk siram. Ini jajanan khas Riau dan beberapa daerah di sekitarnya seperti Sumatera Barat. Kerupuk siram adalah kerupuk gendar yang terbuat dari ketan, di atasnya diberi bihun, dan kemudian disiram dengan saus padang. Harganya hanya sekitar 4000-5000 rupiah saja per buah. Murah meriah enak kenyang.

DSCF5643
Masjid Annur yang ramai
AgDMpDYRINJJZByps4PtrBBqmOx7OM6hibnvdzM9F0Os
Masjid Agung An-Nur

Membaca Perpustakaan HS Soeman

Ketika saya tanya ke salah seorang kawan arsitek soal bangunan menarik di Pekanbaru selain masjid raya, ia menyarankan untuk mendatangi bangunan ini. “Bangunan yang eye catching”, katanya.

Saya mengikuti sarannya. Memang benar. Selain masjid Agung Annur, ini adalah bangunan lainnya yang mampu menarik mata saya. Bangunannya berbeda dari sekelilingnya sehingga langsung terlihat dari kejauhan. Konon, bentuk perpustakaan ini diambil dari bentuk buku yang terbuka, namun ada juga yang berpendapat kalau bentuk bangunan ini terinspirasi dari lekar, meja tempat meletakkan Al Quran saat belajar mengaji. Riau memang kental dengan nuansa Islam sehingga mungkin saja unsur Islami dimasukkan ke perpustakaan ini.

Saya masuk ke dalamnya, sengaja ingin membaca buku di sana. Bagian dalamnya ternyata lumayan menarik, buku-bukunya cukup banyak. Di lantai dasar terdapat café dan di lantai paling atas terdapat deck; di sini saya bisa melihat Kota Pekanbaru dari ketinggian.

Di sekitar perpustakaan H.S Soeman juga ada bangunan-bangunan modern lainnya yang cukup menarik, seperti kantor Gubernur Riau dan kantor perwakilan Bank Indonesia. Tapi cuma bisa diliat dari luar aja ya.

Soeman_HS_Library,_Pekanbaru,_Indonesia
Tampak luarnya.
DSCF5894
Section anak-anak. Masih sepi karena saat itu masih jam sekolah.
Aj4wqFBhOfN2yXFZywYV_SSjvOZ-GJ2VIbIuT6a1jGAM (1)
section bacaan umum

Penginapan di Pekanbaru

Pekanbaru ternyata menarik kan? Saya saja ingin kembali ke sana lagi. Apalagi, Pekanbaru ini termasuk mudah untuk dijelajahi dengan angkutan umum. Ada ojek online, ada bus trans metro. Rute trans metro ini sudah bisa menjangkau beberapa tempat wisata, bahkan bisa menuju bandara Sultan Syarif Kasim II. Untuk area yang tak ada trans metro seperti Kimteng, bisa menggunakan angkot. Masyarakat Pekanbaru juga cukup ramah, mereka akan senang hati menjelaskan apa yang harus saya naiki untuk menuju tempat-tempat itu. 

Untuk urusan menginap pun tak sulit. Banyak hotel murah di Pekanbaru, yang terjangkau bujet saya. Beberapa di antaranya adalah hotel di bawah bendera Reddoorz. Harganya mulai dari dua ratus ribuan per kamar. Walaupun harganya terjangkau, hotel-hotel ini tetap nyaman ditempati. 


Semoga saja pandemi ini segera berakhir dan saya bisa menikmati lagi kehangatan kopi Kimteng, menikmati makanan khas Melayu dan merasakan suasana di Pekanbaru lagi. Aamiin…

3 Lokasi untuk Menikmati Sunset di Pulau Moyo

Keindahan Pulau Moyo bukan hanya Air Terjun Mata Jitu. Sunset di Pulau Moyo juga amat indah dan sayang untuk dilewatkan. Ada beberapa tempat untuk menikmati sunset di pulau Moyo, tiga di antaranya adalah Takat Sagale, Dermaga Labuhan Aji, dan Batu Kapal.

Sunset selalu menjadi momen yang dinantikan. Warna oranye dan jingga yang timbul ketika matahari tenggelam membuatnya tampak dramatis dan menenangkan. Apalagi jika ditemani suara ombak Pulau Moyo.

Pulau Moyo yang terletak di Kabupaten Sumbawa Besar mulai terkenal di dunia sejak mendiang Putri Diana mengunjunginya. Para pesohor dunia pun berbondong-bondong menghabiskan liburan di sana. Sebut saja Mick Jagger, David Bechkam, Edwin Van Der Saar dan yang teranyar adalah bintang korea Rain dan Kim Tae Hee.

Pulau eksotis di utara Sumbawa ini terkenal dengan keindahan alam yang masih alami. Salah satu objek wisata di Pulau Moyo adalah Air Terjun Mata Jitu. Air yang dikenal juga sebagai Queen Waterfall karena pernah didatangi Putri Diana ini memiliki pesona tersendiri. Air yang mengalir melalui tujuh undakan dan berujung di kolam jernih akan menarik minat siapa saja yang memandangnya.

Namun keindahan Pulau Moyo bukan hanya Air Terjun Mata Jitu. Sunset di Pulau Moyo juga amat indah dan sayang untuk dilewatkan. Ada beberapa tempat untuk menikmati sunset di pulau Moyo, tiga di antaranya adalah Takat Sagale, Dermaga Labuhan Aji, dan Batu Kapal.

Takat Segale

DSCF5949
Takat Sagale Pulau Moyo

Takat Segele adalah pulau kecil yang terbentuk dari karang (atol) mati, koral, dan pasir. Jika air laut tak pasang, pulau ini akan terlihat dengan jelas dari dermaga Labuhan Aji Moyo. Pulaunya berbentuk memanjang, berwarna cokelat, dan terdapat sedikit gundukan seteinggi 2m.

Di pulau kecil ini, wisatawan dapat langsung menyelam dan menikmati keindahan bawah lautnya. Atau duduk-duduk di pulau karang sembari memandang ke ufuk barat menyaksikan matahari tenggelam. Sangat tenang, apalagi  jika langit sangat cerah, siluet Gunung Rinjani bisa terlihat dari sini.

Untuk sampai ke sini, wisatawan harus menyewa perahu boat dengan harga sekitar 300-500 ribu rupiah per perahu. Perjalanan menuju ke sana sekitar 10-20 menit dari Dermaga Labuhan Aji, Moyo.

Dermaga Labuhan Aji

DSCF5970

Jika tak ingin mengeluarkan dana untuk menuju Takat Segele, menikmati sunset di pantai dekat Labuhan Aji sudah sangat cukup. Homestay-homestay yang berada di pinggir pantai umumnya menyediakan tempat duduk yang menghadap pantai. Jika tidak tinggal di sana, Anda bisa membeli makanan atau kopi di restoran milik mereka.

Alternatif lainnya adalah duduk di hamparan pasir di sebelah dermaga. Sambil duduk, Anda bisa menikmati matahari turun dari peraduannya, melihat perahu nelayan kembali ke tempatnya dan warna langit berubah menjadi jingga.

Pantai Batu Kapal

DSCF6238
Pantai Batu Kapal Pulau Moyo

Pantai Batu Kapal ini terletak cukup jauh dari perkampungan Desa Labuhan Aji, sehingga Anda harus menggunakan kendaraan bermotor ke sana dengan harga sewa sekitar 100-150 ribu rupiah.

Butuh waktu sekitar 1 jam untuk bisa sampai di sana, melewati jalan setapak yang dikepung hutan di kanan kirinya.  Menurut keterangan warga, jalan setapak ini adalah jalan yang dilalui para pegawai Arwana Resort untuk pulang dan pergi sehingga agak jarang orang yang melaluinya.

Sesuai namanya, di  pantai Batu Kapal ini terdapat batu besar yang berbentuk mirip dengan kapal yang bersandar. Dari atas batu besar ini, Anda bisa melihat keindahan matahari yang tenggelam di laut Sumbawa sambil mendengar deru ombak yang membentur batu karang.

Artikel ini telah diterbitkan di https://pesona.travel/keajaiban/2211/indahnya-sunset-di-pulau-moyo

7 Makanan Khas Jakarta yang Menggoda Selera

Lahir dari keluarga Betawi membuat saya terbiasa mencicipi berbagai makanan khas Jakarta di lingkungan rumah. Sayangnya, banyak makanan masa kecil saya yang perlahan menghilang dan sulit ditemukan.

Namun, sekarang ini kuliner khas Jakarta kembali menggeliat. Beberapa restoran menyediakan menu khusus makanan khas Jakarta. Namun dari semua makanan khas Jakarta yang ada, inilah sepuluh makanan terpopuler dan terfavorit saya yang masih dapat dijumpai dengan mudah. Jadi, saat Anda berada di Jakarta, jangan lupa mencicipi 10 hidangan ini. Dijamin ingin tambah!

Banyaknya bangsa yang singgah dan menetap di Jakarta dari dulu kala, membuat Jakarta menjadi kota campuran berbagai bangsa terutama Arab, China, Belanda, Portugis dan Melayu. Makanan khas Jakarta pun merupakan hasil campuran dari berbagai budaya ini. Hal inilah yang menjadikan makanan khas Jakarta menjadi unik.

Lahir dari keluarga Betawi membuat saya terbiasa mencicipi berbagai makanan khas Jakarta di lingkungan rumah. Sayangnya, banyak makanan masa kecil saya yang perlahan menghilang dan sulit ditemukan.

Namun, sekarang ini kuliner khas Jakarta kembali menggeliat. Beberapa restoran menyediakan menu khusus makanan khas Jakarta. Namun dari semua makanan khas Jakarta yang ada, inilah sepuluh makanan terpopuler dan terfavorit saya yang masih dapat dijumpai dengan mudah. Jadi, saat Anda berada di Jakarta, jangan lupa mencicipi 10 hidangan ini. Dijamin ingin tambah!

1. Kerak Telor, Omelet ala Jakarta

http://jilbabbackpacker.com/2019/02/05/7-makanan-khas-jakarta-yang-menggoda-selera

Saat Pekan Raya Jakarta (PRJ) dilangsungkan, kerak telor selalu jadi primadona utama yang diburu pengunjung. Bahkan ada yang datang ke PRJ hanya khusus untuk mencari makanan khas Jakarta ini. Memang makanan yang satu ini rasanya unik.  Gurih, agak crunchy, dan walaupun menggunakan telur bebek, rasanya tidak amis.  Cocok sekali dijadikan teman minum teh di sore hari, apalagi di saat hangat karena keraknya akan terasa lembut di mulut.

Selain rasanya, proses pembuatannya juga menarik dilihat. Omelet ala Jakarta ini dibuat dari beras ketan putih, telur ayam atau telur bebek, dan ebi. Sesuai namanya “kerak”, bahan-bahan ini dimasak hingga mengkerak (menjadi keras) dan sedikit gosong di atas tungku tanah liat. Setelah matang, kerak telor diberi taburan yang terbuat dari kelapa sangrai, cabai merah, kencur, jahe, merica, garam, dan gula pasir. Yummy!

Meningkatnya pamor kerak telor membuatnya makin mudah ditemui. Di perkampungan Mampang tempat saya tinggal, kerak telor ini bisa ditemui di banyak pedagang kaki lima. Atau Anda masih bisa mencarinya di Kampung Betawi Setu Babakan Jakarta Selatan, pedagang kaki lima di Jalan Sabang, di Foodcourt Tanabang, atau di café-café yang menyajikan makanan Jakarta.

2. Nasi Uduk, Favorit Tiap Orang

http://jilbabbackpacker.com/2019/02/05/7-makanan-khas-jakarta-yang-menggoda-selera

Makanan yang rasanya mirip Nasi Lemak Malaysia ini termasuk makanan khas Jakarta yang sangat mudah ditemukan. Dulu, nasi uduk hanya disajikan di momen istimewa seperti maulid Nabi, pernikahan, atau hajatan. Tapi kini, nasi uduk jadi santapan sehari-hari yang ada di mana-mana.

Nasi uduk dibuat dari beras yang dimasak dengan santan, membuat nasi ini terasa nikmat dan gurih. Apalagi jika diberi tambahan lauk berupa tempe kering, sambal kacang, ayam ataupun semur (daging yang diberi kuah kecap). Konon, semur adalah hasil pengembangan dari steak yang sering dimakan bangsa Eropa. Masyarakat Betawi mengadopsi steak itu menjadi daging yang diberi kuah kecap. Ada beberapa orang yang memakan nasi uduk ditambah semur jengkol. Nikmat!

Beli di mana: Nasi uduk dapat dibeli banyak tempat. Yang cukup terkenal dan menjadi favorit saya adalah adalah adalah Nasi Uduk Zainal Fanani yang ada di Kebon Kacang Jakarta Pusat. Di sini, nasi uduk disajikan dalam daun pisang berukuran kecil-kecil. Santannya sangat terasa gurih. Nasi Uduk Nek Boyong di CIlandak juga jadi favorit saya. Begitupun nasi Uduk Gondangdia dan nasi Uduk Bang Iwan di Rawa Belong.

3. Ketupat Laksa Betawi yang Penuh Rasa

http://jilbabbackpacker.com/2019/02/05/7-makanan-khas-jakarta-yang-menggoda-selera

Nama laksa diambil dari bahasa Sansekerta yang artinya “banyak”. Penamaan ini diberikan karena makanan ini menggunakan jenis bumbu yang cukup banyak. Laksa memang bukan monopoli Betawi. Negara-negara peranakan seperti Malaysia dan Singapura pun punya makanan ini sebab makanan ini memang merupakan adopsi dari makanan Melayu dan China.

Berbeda dengan laksa Malaysia atau Singapura yang memakai mie, Laksa Betawi ini menggunakan bihun dan ketupat sebagai bahan utama, dan tidak menggunakan udang. Ditambah dengan tauge, irisan telur,  dan kerupuk sebagai pelengkapnya laksa ini cukup mengenyangkan dan pas dijadikan santapan makan siang. Untuk kuahnya, seperti namanya, menggunakan banyak sekali rempah-rempah sehingga laksa ini memiliki rasa yang sangat tasty dan gurih.  Jauh lebih nikmat dibanding Laksa Bogor atau Laksa Singapura yang cenderung plain.

Laksa Betawi yang mantap dan menjadi favorit saya adalah Laksa Assirot Kebayoran Lama. Rasanya, maknyus!

4. Mie Juhi yang Legendaris

http://jilbabbackpacker.com/2019/02/05/7-makanan-khas-jakarta-yang-menggoda-selera

Tak banyak orang yang tau tentang makanan ini. Makanan ini memang tidak sepopuler kerak telor atau nasi uduk, namun rasanya sangat enak. Setiap kali berkunjung ke Jalan Sabang, inilah yang saya cari terlebih dahulu. Mie juhi terdiri dari mie yang diberi irisan mentimun, selada, kentang rebus, dan tahu goreng. Campuran ini kemudian diberi kuah yang terbuat dari kacang yang dihaluskan. Yang membuatnya istimewa adalah taburan juhi (cumi yang difermentasi dan dikeringkan) di atasnya.

Mie juhi ini adalah salah satu makanan yang terpengaruh dari masakan China. Bahan dasarnya yakni mie, tahu, adalah bahan-bahan dasar yang banyak digunakan oleh penduduk asli China. Juhi juga sering dijadikan cemilan oleh masyarakat China.

Mie juhi favorit saya ini dapat dibeli di Jalan Sabang (depan Ramayana), Pasar Kebayoran Lama, Petojo (H.Misbach), atau di Jalan Veteran. Jika ingin suasana beda, Anda bisa mencari rujak juhi di tempat-tempat seperti Kafe Betawi dan foodcourt Tanabang Blok A.

5. Soto Betawi Nan Gurih

http://jilbabbackpacker.com/2019/02/05/7-makanan-khas-jakarta-yang-menggoda-selera

Setiap daerah di Indonesia punya soto, termasuk Jakarta.  Berbeda dengan soto daerah lainnya yang berkuah bening, soto Betawi berisi daging sapi yang disiram dengan kuah kental dan berwarna putih, sebab kuah ini dicampur dengan santan ataupun susu sapi. Rasa kuah ini sangat gurih karena diberi aneka rempah seperti bawang merah, jahe, daun salam, serai, dan cengkeh.

Soto Betawi yang terkenal antara lain Soto Jakarta Pak Yunus, yang berlokasi di seberang Gedung Ex Imigrasi (Budha Bar), Jl. Teuku Umar, Menteng. Atau Soto H. Maruf yang ada di TIM Cikini. Bisa juga datang ke Soto Betawi Babe Jamsari, Meruya. Yang terakhir ini tidak menggunakan santan. Sebagai penggantinya, ia menggunakan susu kambing. Favorit!

6. Asinan Betawi yang Menggoda

asinan.JPG

Berbeda dengan asinan Bogor yang menggunakan kuah cuka yang pedas, asinan Betawi menggunakan saus kacan kentang. Isiannya berupa sayuran sawi, kol, selada yang diasinkan, lalu ditambahkan dengan potongan tahu rebus. Kerupuk mie kuning ditaburkan di atasnya, lalu diberi kuah saus kacang, dan ditambahkan dengan kecap pedas manis. Menggoda selera, kan?

Jika tergoda asinan Betawi, Anda bisa datang ke Asinan Betawi Gang Kemboja, Asinan Jatinegara, atau Asinan Pasar Jangkrik Jakarta Pusat. Ketiga asinan ini punya rasa yang paling nikmat.

7. Toge Goreng ala Jakarta

toge goreng.JPG

Orang-orang asli Betawi sebenarnya lebih mengenal makanan ini dengan nama Toge Asap, karena proses memasak yang mengeluarkan asap. Namun belakangan ini, nama toge goreng lebih akrab terdengar.

Makanan yang juga dapat ditemui di Bogor ini terdiri dari toge yang direbus, lalu diberi irisan ketupat, tahu, dan mie kuning. Walaupun toge hanya direbus, jika dimasak dengan baik, bau langu yang biasa ada di toge tak akan tercium sama sekali. Apalagi saat sudah disiram dengan kuah kental yang terbuat dari oncom dan kecap manis buatan sendiri. Mantap.

Selain di restoran yang menyediakan makanan Betawi, toge goreng ini bisa didapat di Setu Babakan, Jakarta Selatan. Dahulu, di daerah Kuningan Jakarta, ada Bang Samari, penjual toge goreng yang berkeliling. Rasanya paling mantap di antara toge goreng yang pernah saya coba. Namun sayang, sang penjual sudah tua dan tak ada yang meneruskan dagangannya.


Mupeng lihat makanan ini kaan? Yuk berkunjung ke Jakarta. Mumpung bulan ini dan bulan depan ada libur panjang. Dan mumpung ada promo tiket Air Asia di situs Pegipegi.  (Ternyata, sekarang ini Pegipegi juga menyediakan pemesanan tiket ya. Sebelumnya kaan saya hanya taunya kalau Pegipegi hanya untuk pesan hotel aja).

pegi2

Cara memesan tiket Air Asia ke Jakarta lewat situs Pegipegi cukup simpel. Tinggal memasukkan tujuan dan tanggal yang diinginkan, lalu akan muncul sederet penerbangan. Kalau mau lebih gampang dan ga perlu melototin satu per satu, pakai aja tombol filter yang ada di bagian atas. Ada filter maskapai, jadi saya bisa pilih maskapai yang saya mau. Kalau pengen beli Air Asia, maskapai favorit saya, tinggal centang nama Air Asia di filter ini.

Ada juga tombol filter waktu,  yang kalau di-klik akan muncul 4 pilihan waktu terbang sesuai yang diinginkan. Ada filter harga, jadi kalau pakai filter ini nanti yang muncul di pilihan hanya penerbangan yang sesuai bujet saya. Dan terakhir filter transit, jadi saya bisa milih mau transit berapa kali atau mau penerbangan yang langsung ke tujuan. Gampang, kan?

Kalau pada mau ke Jakarta dan makan, yuk kutemenin! (ADV)

 

 

 

 

 

 

Mengintip Kenangan Enam Presiden di Balai Kirti

jalan-1

Enam buah patung mantan Presiden RI ada di tengah ruangan berdinding kaca. Tiap patung punya gaya berbeda, menggambarkan gerakan khas saat Sang Presiden sedang berorasi di depan rakyatnya. Di belakangnya tampak secuil bangunan bergaya Belanda dengan kanopi berbentuk segitiga.

Foto enam buah patung gagah yang diunggah di salah satu akun sosial milik kawan saya itulah yang kemudian membawa saya datang ke sebuah museum di tengah kota Bogor yang bernama Museum Kepresidenan Indonesia.

Museum yang juga diberi nama Balai Kirti—yang diambil dari bahasa Sansekerta yang berarti Tempat Kemahsyuran—dibangun sejak tahun 2013, dan diresmikan penggunaannya oleh Susilo Bambang Yudhoyono pada bulan November 2014. Balai Kirti memang digagas oleh mantan orang nomer satu di Indonesia itu dengan tujuan untuk lebih mengenalkan keseharian dan peninggalan pahlawan-pahlawan yang telah berjasa memimpin Indonesia kepada khalayak umum.

Bangunan Transparan

Tak sulit untuk menemukan bangunan ini. Letaknya ada di tengah kota, bersebelahan dengan Gereja Zeboath dan Kebun Raya Bogor. Selain itu, tampilan museum ini agak berbeda dengan sekitarnya. Jika bangunan di sekitarnya bergaya kolonial khas Belanda, bangunan ini bergenre modern dengan bentuk kotak. Walaupun begitu, ia tak tampak egois dan berdiri sendiri. Hal ini disebabkan penggunaan kaca di seantero ruang yang membuat museum terlihat “transparan” dan menyatu dengan bangunan tua di sekelilingnya.

Museum yang dirancang oleh Adjie Negara ini terdiri dari 3 lantai, namun saat ini hanya lantai 1 dan 2 yang bisa dikunjungi. Lantai paling atas, berupa roof garden, rencananya nanti akan dijadikan restoran dan toko buku.

jalan-10

Selfie di Patung Presiden

Begitu masuk ke dalam Museum, dinding berisi Garuda Pancasila, naskah Proklamasi dan Pancasila berdiri tegak menyambut pengunjung yang datang ke sana. Di kanan kiri dinding ini terdapat semacam art work merah yang berisi gambar keenam putra bangsa yang pernah memimpin Indonesia. Warna merah yang kontras dan dinding kaca yang menyusupkan sinar membuat ruang ini terasa hangat namun memikat mata.

jalan-2
Begitu masuk, ada dinding ini. Dinding yang bertuliskan Pancasila.
jalan-3
Sisi di sebelah kanan pintu masuk. Suka banget ama artwork warna merah itu..
jalan-4
Ruang audio. Ruang ini tak setiap saat dibuka, sehingga jika ingin menikmati video di sana, Anda harus meminta kepada guide untuk memutarkannya.

Tak jauh dari sana ada ruang besar dengan atap yang tinggi menjulang. Di tengah ruang inilah berdiri dengan gagah enam buah patung mantan Presiden Indonesia, mulai dari Soekarno hingga Susilo Bambang Yudhoyono. Ruang ini menjadi ruang favorit para pengunjung, sehingga tak jarang ruang ini penuh dengan orang yang ingin ber-selfie-ria di depan patung para pemimpin bangsa.

Menurut Rozinah Nabihah, kepala  Museum Kepresidenan Indonesia, patung ini menggambarkan gaya para pemimpin ketika mereka sedang berpidato. Gaya Soekarno yang berkobar-kobar, Soeharto yang kalem, Habibie yang penuh rasa ingin tahu, GusDur yang jenaka, Megawati yang selalu mengepalkan tangannya, hingga SBY yang penuh perhitungan seksama, tergambar dengan jelas di sana.

Memorabilia Presiden

jalan-5
Patung enam Presiden

Di lantai dua, Anda bisa masuk ke Galeri Kepresidenan. Di sini, terdapat barang-barang peninggalan para mantan Presiden, baju kenegaraan, foto-foto milik pribadi, serta foto dengan para petinggi negara lain. Di sini juga terdapat audio video yang menampilkan hasil kerja Sang Presiden selama menjabat.

Yang unik adalah barang-barang pribadi milik para mantan Presiden. Di galeri milik Soekarno misalnya, terdapat replika tongkat komando yang kerap dibawanya. Konon, replika tongkat komando ini harus dibuat berkali-kali karena selalu patah saat dikerjakan. Tongkat akhirnya berhasil dibuat setelah para perajin menggunakan jenis kayu yang sama dengan kayu tongkat asli.

Di galeri milik Soeharto, selain replika tulisan tangan miliknya, ada kacamata, pipa rokok, dan telepon rumah bersepuh emas yang selalu ada di meja kerja Soeharto. Di galeri milik Habibie, Anda bisa melihat kamera leica kesayangannya serta buku kerja bertuliskan tangan Habibie. Sementara di galeri Gus Dur, ada peci dan sarung yang sering digunakan beliau dalam berbagai kesempatan.

Galeri milik Megawati tak kalah menariknya. Di sini, selain ada baju kenegaraan, ada pula perangkat minum teh dan bunga edelweiss, bunga abadi yang ternyata digemari putri Soekarno itu. Di galeri SBY, ada toga yang dipakai SBY saat menerima gelar kehormatan dari Universitas Pertahanan Indonesia. Berbeda dengan galeri lainnya, di sini terdengar lagu-lagu ciptaan SBY.

Namun sayangnya, di seluruh galeri ini, pengunjung dilarang menyalakan kamera miliknya. Kamera baru boleh dinyalakan di dua ruang terakhir.

jalan-8
Sudut lain yang dapat digunakan untuk ber-narsis-ria. Di ujung, ada lubang yang sengaja dibiarkan kosong. Anda bisa berfoto di ujung lubang, lalu berkhayal menjadi “the next President of Indonesia.”
jalan-7
Di ruang ini, Anda bisa berpura-pura berpidato di dalam Istana Bogor
jalan-9
Perpus yang kereen abis

Ruang lain yang cukup menyita perhatian saya adalah perpusatakaan kepresidenan yang menyediakan buku-buku favorit para presiden dan buku yang menceritakan tentang para presiden tersebut. Dari buku-buku yang tersaji, Anda bisa melihat secuil kepribadian mereka. Habibie misalnya, ternyata lebih suka membaca buku-buku sains berbahasa Jerman. GusDur lebih menikmati membaca buku-buku tauhid dan agama, sementara SBY lebih menyukai buku-buku umum dan ketatanegaraan.

Bagi saya, museum ini cukup menyenangkan. Selain dapat melihat kenangan para presiden—walaupun jumlahnya tak banyak—bangunan dan interior museum ditata dengan apik dan modern. Artwork-artwork terlihat menghiasi beberapa sudut museum, sehingga memancing pengunjung untuk bernarsis ria. Museum ini juga bisa menjadi tujuan wisata sejarah dan edukasi, untuk lebih mengenal para pemimpin bangsa. Bukankah kata pepatah, “tak kenal maka tak sayang”?

Cara Menuju Ke Sana

Balai Kirti terletak di sebelah gereja Zebouth. Jika Anda menggunakan moda kereta, Anda dapat turun di stasiun Bogor, lalu meneruskan perjalanan dengan angkot 01,02, atau 10. Jika kondisi jalan raya lancar, tak sampai 10 menit Anda sudah sampai di depan gerbang.

Museum ini dibuka untuk umum, baik perseorangan maupun rombongan. Tak ada biaya yang dikenakan untuk masuk ke sini. Namun, Anda perlu mengirimkan permohonan kunjungan seminggu sebelumnya. Permohonan ini dapat dikirimkan melalui email ke museumkepresidenanindonesia@gmail.com. Tak perlu takut, permohonan Anda pasti disetujui jika museum tidak padat pengunjung atau tidak ada acara kenegaraan di sana. Jangan lupa untuk berpakaian sopan, tidak mengenakan jeans, baju ketat, kaos, baju tanpa lengan, dan sendal jepit.

Artikel ini telah dimuat di Tabloid RUMAH edisi 329-XII

Membuncah Bangga di Pulau Ndana, Pulau Terluar Indonesia

Tak banyak yang tahu pulau Ndana, pulau kecil di selatan Pulau Rote ini yang merupakan pulau terluar Indonesia.

Saya pun demikian. Saya baru tahu ada pulau ini ketika mengecek peta, beberapa hari sebelum kami tiba di Pulau Rote.

Tujuan kami di sini hanya satu, melongok perbatasan Indonesia dan menuju Danau Merah. Tapi siapa sangka, di sinilah rasa nasionalisme saya tergugah.

Saat perahu kecil yang saya dan kawan-kawan naiki dari Pulau Rote berlabuh di pulau terluar Indonesia ini, kami diminta melapor ke barak militer yang ada di sana.

Awalnya saya ogah-ogahan mendekat, berpikir kalau di sana hanya ada sebuah barak tentara. Biarlah teman saya saja yang melapor, begitu pikir saya.

Namun mau tak mau saya mendekat setelah melihat lambaian tangan seorang pria tegap. Sang Komandan. “Kalian tak boleh jalan sendirian ke arah Danau Merah, Kami akan antar kalian,” tukasnya dengan ramah namun tegas.

Saya melihat sekeliling saya. Pak Komandan, dan kami, berdiri depan sebuah bangunan sederhana, di tengah padang yang tandus dan panas. Bangunan itu dibuat dari dinding bata yang dicat dengan warna loreng-loreng khas TNI, atapnya dari seng, dan berbendera Indonesia. Di sebelahnya ada 3 bangunan lain yang tampak serupa.

Bukan tanpa alasan kami tak dibiarkan sendirian. Pulau Ndana memang bukan tujuan wisata. Pulau ini adalah pulau terluar Indonesia, pulau yang menjadi markas Tentara Nasional Indonesia yang menjaga perbatasan dengan negara tetangga, Australia.

Tak ada fasilitas wisata di sini, tak ada pula rambu-rambu yang menunjukkan jalan ke Danau Merah. Berjalan sendirian tanpa ditemani orang yang sudah tahu medan tentu bukan pilihan.

Saya mengira, hanya ada satu atau dua orang tentara yang akan mengikuti langkah kami. Namun kami salah. Ternyata ada sepuluh orang anak buah Sang Komandan yang ditugaskan berjalan bersama dengan kami. Ya sepuluh, padahal kami hanya berlima. Wow, kami bagaikan orang penting yang punya banyak pengawal!

Salah satu tentara yang ikut adalah Pak Benny. Dia selalu berjalan bersisian dengan saya. Karena itulah, saya banyak mendengar cerita darinya. 


“Enam bulan. Kami di sini enam bulan,” ujar Pak Benny menjawab pertanyaan saya.

“Lama banget Pak. Ga bosen ama tempat isinya padang tandus begini?” tanya saya penasaran. Sebagian besar dataran di Pulau Ndana memang ditumbuhi rerumputan kering yang menguning bagaikan savana Afrika. Itu sebabnya, pulau ini dijadikan cagar alam untuk para rusa.

Saya melihat sekeliling lagi. Di kanan kiri hanya ada rerumputan kering setinggi betis. Di beberapa tempat bahkan ada yang tingginya mencapai pinggang saya. 

DSCF4430
Padang savana di Pulau Ndana

“Ya kadang-kadang bosan. Tapi ini tugas, mau ndak mau dijalanin.” ujarnya dengan logat Jawa yang kental. Pak Benny memang lahir dan tinggal di Surabaya.

Pak Benny bercerita, ia hanya satu di antara 30 orang yang bertugas menjaga tempat itu. Gabungan dari Marinir dan TNI AL. Tiga puluh orang yang bersedia jauh dari keluarganya selama enam bulan.

Tiga puluh orang yang mesti bergantian berpatroli di lautan, memastikan tak ada kapal asing yang memasuki perairan tanpa izin. Tiga puluh orang yang harus membunuh kebosanan di sela-sela pekerjaan.

Kadang-kadang katanya, persediaan makanan habis karena ombak cukup besar. Mereka seminggu sekali memang berbelanja ke Pulau Rote atau bertukar ikan dengan nelayan. Kalau tak ada makanan, mereka mesti memotong ayam-ayam peliharaan mereka. Di belakang barak memang ada kandang kambing dan ayam.

Pak Benny yang ternyata pernah beberapa kali ditugaskan ke medan perang juga berkisah,  di baraknya dulu ada anterna parabola sehingga ia bisa melihat acara televisi. Kini, antena itu rusak; ia dan kawan-kawannya hanya mengandalkan sinyal WiFi untuk mencari berita dan menyambung komunikasi dengan keluarga.

DSCF4435
Patung Jenderal Sudirman yang berdiri gagah memandang lautan ujung pantai di depannya. Pantai yang menjadi titik awal penarikan garis perbatasan, garis zona ekonomi antara Indonesia dan Australia.

Setelah 10 menit berjalan di tengah padang tandus yang panas, kami semua sampai di sebuah lapangan yang tidak terlalu luas. Di tengahnya ada patung Jenderal Sudirman yang berdiri dengan gagahnya, menghadap ke arah Samudra Hindia di depannya.

Saya iseng bertanya, “Kenapa Pak Sudirman malah lihat ke arah Australia, Pak. Bukan ke Indonesia?”

“Hussh…beliau itu lagi ngeliatin kami. Ngeliat tentara yang menjaga laut Indonesia.” kelakar Pak Benny.


Perjalanan menuju Danau Merah ternyata memang tak mudah. Selama 1 jam lebih kami harus melewati hutan yang “lantainya” terbuat dari karang yang tajam. Saya harus berjalan hati-hati agar kaki saya, yang hanya dibalut sendal jepit, tak terluka. Para tentara sudah memberitahu hal ini sebenarnya. Malah kawan saya ada yang dipinjamkan sepatu, yang sayangnya hanya ada satu. (Sepatu yang lain ukurannya tak pas dengan kaki saya).

Tak ada petunjuk jalan, kecuali kode batu dan torehan di karang yang dibuat para tentara. Pantas Sang Komandan tak memperbolehkan kami berjalan sendirian .

“Danau merah ini banyak cerita mistisnya. Di deket barak juga ada. Di seluruh pulau emang ada. Makanya ga ada penduduk yang mau tinggal di sini,” kata Pak Benny tiba-tiba. Berbisik, seakan takut ada yang mendengar perkataannya.

Konon, menurut cerita rakyat, dasar danau yang terletak di Pulau Ndana ini berwarna merah dikarenakan Nallesanggu, seorang panglima, membersihkan padang dan tubuhnya dari darah manusia setelah melakukan pembunuhan massal. Ia melakukan ini untuk membalas dendam atas kematian sang ayah, Sangguana, yang dihukum mati oleh penduduk pulau Ndana ini.

Itu sebabnya, menurut Pak Benny, tak ada lagi penduduk yang mau tinggal di sana, kecuali para tentara.

Mendengar cerita Pak Benny, saya bertanya lagi, tak takutkah ia berada di sana? Sambil tertawa lebar ia menjawab, “Ya pasti takut. Tapi kami lebih takut kalau negara ini direbut tetangga.”

Saya jadi terkesima mendengar jawabannya. Tak tau mesti bicara apa.

DSCF4450


Selepas dari Danau Merah, kami pulang melewati jalur yang berbeda sebelumnya. Pak Benny dan kawan-kawannya memilih jalan di tepi pantai. Biar bisa lihat sisi lain Ndana yang indah, katanya. Ya, Ndana memang indah. Hamparan pasir putih yang kontras dengan warna lautan yang biru, bersanding indah dengan savana kekuningan di sebelahnya. Cantik.

“Indah memang”, kata Pak Benny seakan membaca pikiran saya. “itu sebabnya, kita nndak mau pulau ini dan pulau lainnya direbut sama Australia. Jangan sampai Sipadan terulang lagi,” katanya bersemangat. Luar biasa.

DSCF4498
Salah satu bagian pantai pasir putih di Ndana.
DSCF4518
Saya, kawan-kawan, dan beberapa orang “pengawal” kami.

Setelah tiga jam lebih berjalan, saya dan kawan-kawan kembali ke barak. Melepas lelah sejenak, lalu pamit kepada para “pengawal” kami. Tiga jam yang saya lalui di sana meninggalkan rasa salut yang luar biasa. Saya tak bisa membayangkan jika saya harus yang tinggal di sana. Hidup tanpa televisi, tanpa hiburan, tanpa keluarga, enam bulan lamanya.

Rasanya, sisi nasionalisme saya jadi lebih bangkit karena mendatangi Ndana. Saya tak pernah sebangga ini dengan tentara-tentara Indonesia.

Sebelum pulang, saya kembali menengok ke patung Sudirman yang kini jauh di sana. Saya jadi teringat tulisan yang ada di dekatnya: “Tak akan sekali-kalipun kulepaskan Pulau Dana Rote ini kepada siapapun yang akan memisahkannya dari pangkuan ibu pertiwi”

Latest Posts

Timmyness, 10 Prinsip Kerja IDN Media yang Bisa Ditiru para Blogger

Beberapa tahun lalu saya pernah diajak berkunjung ke IDN Media yang waktu itu masih berlokasi di Palmerah, Jakarta Barat. Gedungnya amat cozy, dengan ruang-ruang bekerja yang nyaman dan terasa santai.

Yang menarik perhatian saya adalah banyaknya qoute yang terpampang di dinding. Mulai dari ruang parkir hingga ruang santai karyawan tak luput dari qoute-qoute yang penuh makna dan membangkitkan semangat.

Salah satunya adalah soal Timmyness, 10 nilai yang harus dimiliki Timmy. (FYI, Timmy ini adalah sebutan untuk pekerja IDN Media).

Timmyness ini dibuat oleh CEO IDN Media, Winston Utomo, sejak IDN Media pertama kali berdiri dan menjadi pijakan para Timmy saat bekerja.

Sumber; IDN Media

Walaupun dibuat untuk karyawan IDN Media, kesepuluh nilai Timmyness ini cocok juga diikuti oleh semua orang, lho. Termasuk kita, para blogger.

Apa aja itu?

1. Bringing creativity, sincerity, and passion to the work

Bekerja di bidang apapun, apalagi di bidang tulis menulis dan media, kreativitas dan ide segar mutlak dibutuhkan. Kreativitas ini bukan bawaan lahir atau anugerah dari Allah begitu saja.

Kreativitas dan ide bisa muncul jika ditingkatkan terus menerus. Caranya? dengan memperluas pengetahuan, melakukan training untuk meng-upgrade diri, dan sebagainya.

Namun, kerja dengan penuh kreativitas saja tak cukup, karena ketulusan pun diperlukan sehingga pekerjaan yang dilakukan memberi hasil positif.

“Mereka yang bekerja dengan ketulusan adalah penggerak untuk kehidupan yang lebih baik. Timmy pun diharapkan dapat membaktikan ketulusan kerjanya bagi masyarakat Indonesia dengan mendemokrasikan informasi.”

~Winston utomo

2. Communicating properly and acting ethically.

Dalam segala hal, komunikasi itu penting. Apalagi saat bekerja di dalam sebuah tim yang terdiri dari banyak orang.

Komunikasi yang baik dan benar menjadi krusial untuk menghindari kesalapahaman yang seringkali berujung pada konflik internal.

3. Thriving in ambiguity and fast-paced environment with constant changes.

Untuk bertemu masa depan, harus siap menghadapi perubahan. Begitu kata para filsuf.

Memang, perubahan adalah suatu hal tak terhindarkan. Nah untuk dapat bertahan, kita harus terus beradaptasi, mengikuti tiap perubahan yang ada sesuai dengan perkembangan zaman.

Hal ini juga berlaku untuk para blogger. Selalu terjadi perkembangan platform blog, dan para blogger pun mesti mengiktui perkembangan zaman supaya nggak ketinggalan, kan.

4. Being active and collaborative rather than competitive.

Persaingan yang tidak sehat dalam sebuah tim bisa menyebabkan konflik dan perpecahan. Sikut-sikutan, istilahnya.

Daripada bersaing, kenapa tidak berkolaborasi untuk mencapai sesuatu yang lebih baik, seperti halnya yang banyak dilakukan para artis youtuber sekarang ini?

5. Embracing diversity.

Indonesia ini negeri yang bhinneka, yang terdiri dari suku, agama, umur, dan latar belakang yang berbeda. Perbedaan ini harus dihargai, termasuk di dalam sebuah perusahaan seperti IDN Media ataupun di kehidupan kita sebagai blogger sehari-hari.

Timmyness juga hadir di beberapa ruangan. Sumber; IDN Media

6. Maintaining a positive attitude even when things do not go one’s way.

Life is never flat. Tidak ada hidup yang selalu berjalan mulus, akan ada hal-hal yang terjadi di luar rencana kita. Namun usahakanlah untuk tetap berpikiran positif dalam menyikapi hal-hal yang tidak sesuai ekspektasi itu.

Kalau kita bersikap negatif dan selalau menyalahkan keadaan, produktivitas kinerja kita bisa menurun. Dengan bersikap positif, seseorang juga akan memberikan pengaruh positif ke orang-orang yang ia jumpai.

Dan sebaliknya, kalau orang tersebut terlalu banyak mengeluh, ia juga akan memberi dampak kurang baik bagi orang-orang di sekitarnya.

Bayangkan, kalau teman kita selalu mengeluh bahkan di status FB-nya, malas bukan berteman dengannya?

7. Assisting others in the group with their work for the benefit of the group.

Kerjasama tim yang baik amat dibutuhkan untuk mencapai keberhasilan. Itulah yang selalu harus dilakukan, tidak perlu menjadi egois dan mau menang sendiri.

8. Praising coworkers when they are successful and helping them when they need it.

Banyak orang lupa untuk membiasakan diri mengapresiasi keberhasilan teman atau rekan kerja. Bahkan adakalanya malah iri dengan keberhasilan orang lain.

Dengan memberikan apresiasi kita pada orang lain, berarti kita juga telah menyampaikan dukungan kita kepada mereka.

~ WINSTON utomo
Timmyness di kantor IDN Media Surabaya. Sumber; IDN Media

9. Doing the right thing even when no one is watching.

Kejujuran dan integritas adalah kunci utama untuk meraih kepercayaan orang lain. Kejujuran bisa mempengaruhi kredebilitas dan reputasi kita di mata klien, atasan, dan rekan kerja.

10. Seeing the company’s success as one’s own success.

Karyawan juga harus bangga jika perusahaan sukses. Dan sebaliknya, perusahaan tidak akan berkembang tanpa kerja keras dan kerja cerdas para karyawannya.

Seperti yang dikatakan Winston kepada Timmy, “IDN Media ingin setiap Timmy merasa dilibatkan dalam keberhasilan perusahaan一bahwa tanpa mereka, IDN Media tak akan berhasil mencapai mimpi tersebut. Hal ini tentu akan meningkatkan sense of belonging, rasa bangga mereka terhadap perusahaan juga.”


Kalau kesepuluh Timmyness ini kita praktikan dengan baik, pasti kita akan jadi blogger yang kompeten di mata semua orang, dan kalau menjadi karyawan, adalah karyawan yang berdedikasi tinggi.

.

 

Jalan-Jalan di Penang Sambil Cek Kesehatan, Kenapa Nggak?

Balek kampung alias pulang kampung.

Begitu istilah yang disematkan kawan-kawan kalau saya datang ke Malaysia. Istilah ini muncul karena saking seringnya saya bertandang ke Malaysia, lebih sering daripada orang lain balik ke kampung halaman mereka.

Kenapa saya doyan bolak-balik ke Malaysia? Hmmm… Malaysia punya daya tarik tersendiri yang tak ada di tempat lain. Atmosfernya beda. Di sana saya bisa merasakan perpaduan budaya Melayu, Cina, India, dan bahkan Inggris. Dalam satu kota, saya bisa lihat pernikahan ala India di kuil, upacara di klenteng China, dan keramahan khas Melayu.

Hampir semua kota di Malaysia menawarkan perpaduan tiga budaya ini. Salah satunya di Georgetown, Penang. Area yang dinobatkan sebagai Unesco World Heritage ini punya banyak hal yang membuat saya betah berlama-lama di sana.

Dari Tempat Syuting Hingga Surga Kuliner

Georgetown memang bikin kangen untuk dijelajahi. Apalagi buat saya, yang amat suka dengan bangunan-bangunan berarsitektur tinggi dan bersejarah. Di sini, saya merasa ada di “dunia” saya. Di sana-sini ada bangunan tua yang masih terawat dengan baik, cafe-cafe lucu yang enak dipandang mata, dan street art yang luar biasa.

Ada Masjid Kapiten Keling, masjid yang dibangun oleh para pedagang India. Karena kota pelabuhan, Penang memang banyak disinggahi pedagang dari berbagai bangsa, salah satunya India.

Ada pula Gereja St. Goerge yang merupakan peninggalan Inggris. Dan yang tak boleh dilewatkan adalah Chong Fat Tze Mansion, rumah taipan alias orang terkaya di Penang yang pernah jadi lokasi Crazy Rich Asia.

Wisata medis di Penang
Chong Fat Zhe Mansion yang jadi tempat syuting film Crazy Rich Asia.

Selain bangunan-bangunan yang masih terawat, yang juga bisa dikunjungi adalah street art Penang, yang kerap dijadikan gambar-gambar di brosur dan kartu pos Penang. Street art yang dibuat seniman asal Lithuania ini jadi trademark kota Penang dan akhirnya jadi buruan para wisatawan. Termasuk saya.

Ga sah rasanya kalau belum foto di street art ini.

Salah satu Street Art di Penang
Street art yang paling terkenal. Wajib foto di sini.

Baca Juga: Backpacker ke Penang (part 5): Berburu Street Art di George Town

Penang juga surganya pencinta kuliner. Sama seperti bangunannya yang merupakan paduan berbagai budaya, kuliner di Penang ini juga terdiri dari campuran budaya India, Melayu, dan China Peranakan.

Ada nasi Kandar Line Clear yang antriannya lumayan panjang saking terkenalnya. Ada pula warung laksa halal di Bee Hwa Cafe yang selalu penuh dengan pengunjung. Dan masih banyak kuliner enak lainnya yang bikin saya selalu kangen kembali ke sini.

Jalan-Jalan Sambil Berobat

Nah, saat ke Penang itu, di pesawat saya bertemu dengan kawan saya. Dia mau mengantar orang tua dan mertuanya melakukan medical check up di salah satu rumah sakit Penang. Adventist Penang Hospital namanya. Salah satu rumah sakit yang populer di kalangan warga Indonesia.

Menurut penuturannya, ia memilih untuk melakukannya di sana karena biaya yang harus ia keluarkan lebih terjangkau ketimbang melakukan hal yang sama di Indonesia. Penasaran, saya cek beberapa biaya rumah sakit di sana. Untuk medical check up menyeluruh mulai dua juta rupiah. Itu sudah termasuk konsultasi dengan dokter spesialis. Sementara harga paket yang serupa di sini, berkisar 4 jutaan.

Selain itu, menurut kawan saya itu, hasilnya lebih cepat ia dapatkan. Dalam waktu beberapa jam saja, ia sudah bisa mengetahui hasil pemeriksaaan dan melakukan konsultasi, sehingga ia tak perlu bolak-balik ke rumah sakit.

“Jadi gue biasanya tiga hari di sana. Sehari buat persiapan, sehari buat pemeriksaan, dan sehari buat jalan-jalan plus kulineran di sana,” begitu katanya.

Sekalian jalan-jalan, sekalian berobat.

Hmmm, benar juga. Kenapa tak penah terpikirkan oleh saya untuk sekalian melakukan check up ketika jalan-jalan ke Malaysia ya?

Malaysia Healthcare Travel Council

Ketika memutuskan untuk melakukan medical check up di Penang, kawan saya ini mendatangi Malaysia Healthcare Travel Council (MHTC) di Gedung WTC 3 Sudirman, di sebelah Bank Permata.  

SUmber; MHTC

MHTC ini adalah sebuah organisasi yang didirikan  oleh Kementerian Kesehatan Malaysia yang bertugas  sebagai perwakilan dari 69 rumah sakit swasta di Malaysia.

Rumah sakit yang difasilitasi oleh MHTC ini antara lain Penang Adventist, Gleneagles Penang, Loh Guan Lye Specialist Centre, Mahkota Medical Centre, Sunway Medical Centre, Alpha Fertility Centre, Institut Jantung Negara, Pantai Hospital Group, dan Prince Court Medical Centre.

MHTC ini juga berfungsi sebagai pusat informasi. Jadi tinggal datang ke kantornya atau telepon ke call center, kita bisa bertanya soal rumah sakit yang sesuai dengan kebutuhan. Bisa juga nanya soal tempat wisata, hotel, dan segala hal yang berkaitan dengan kunjungan wisata medis di Malaysia.

MHTC ini bisa juga menjadi fasilitator untuk yang ingin berobat ke Malaysia. Misalnya kawan saya, dia difasilitasi oleh MHTC. Jadi begitu keluar dari bandara, ada petugas dari MHTC yang menjemput sehingga ia tak perlu lama mengantri di imigrasi.

Setelah itu, kawan saya diajak ke MHCT Concierge and Lounge, sebelum dijemput oleh mobil jemputan menuju rumah sakit atau menuju hotel yang sudah dipesan sebelumnya.

Oya, pemesanan hotel ini bisa dibantu juga oleh pihak MHCT, karena sudah bekerja sama dengan beberapa hotel di Malaysia.

Video soal fasilitas MHTC

MHTC ini kantor pusatnya di Kuala  Lumpur, tapi punya kantor perwakilan di Jakarta, Surabaya, dan Medan. Kalau mau tanya-tanya, tinggal datang ke kantornya. Ga dikenakan biaya kok.

Malaysia Healthcare Video Competition

Sumber: MHTC

Nah, buat yang mau jalan-jalan gratis sambil check up di Malaysia (yang juga gratis), ikutan aja Malaysia Healthcare Video Competition. Kompetisi ini diadakan oleh Malaysia Healthcare, bekerja sama dengan Tourism  Malaysia dan juga komunitas Indonesia di Malaysia.

Hadiahnya oke banget. Ada Go Pro Hero 7, Dji Osmo Mobile 2, Brica Steady 8 Pro, dan Miband. Dan 5 pemenang ini semuanya akan mendapatkan paket medical check up dari rumah sakit pilihan di Malaysia, tiket pesawat pp, dan hotel bintang 5 untuk 3 hari 2 malam. Lumayan banget kan?

Gimana Cara Ikutannya?

Ga susah kok. Tinggal buat vlog/video 2-3 menit yang menceritakan soal pariwisata Malaysia dan wisata medis di Malaysia. Dua-duanya mesti ada dalam video ya, nggak boleh hanya salah satunya.

Ini syarat lengkapnya:

  1. Peserta adalah Warga Negara Indonesia dan berdomisili di Indonesia ataupun Malaysia
  2. Konten tidak boleh mengandung unsur SARA (Suku, Agama, Ras, Antar Golongan) kampanye politik, serta pesan negatif dan menyerang kelompok tertentu
  3. Konten boleh berbentuk VIDEO ataupun VLOGGING (video harus disertai dengan penjelasan)
  4. Konten wajib berbahasa Indonesia
  5. Durasi video 2-3 menit
  6. Konten harus menggabungkan 2 tema (PARIWISATA MALAYSIA & WISATA MEDIS)

Cara ikutannya begini.

  1. Peserta pastinya harus mem-follow akun Instagram @medtourismmy.id. Jangan di-private juga ya akunnya.
  2. Videonya juga harus di-upload di akun YouTube peserta, kemudian share video itu di akun Instagram (feed/IG TV) masing-masing dan tag serta mention @medtourismmy.id
  3. Tulis Judul video di akun YouTube & Instagram peserta dan tambahkan hashtag #Liburansehat #RinduMalaysia. Contohnya : 5 Fakta Malaysia dan Medical Checkup di Penang #Liburansehat #RinduMalaysia
  4. Agar kesempatan menang lebih besar, jangan lupa ajak teman/followers kamu untuk like video yang kamu unggah di Youtube & Instagram yaa.

Oiya, batas pengumpulan videonya sampai 10 Desember 2020 ya. Masih ada waktu kurang lebih tiga minggu nih buat bikin video dan menangin hadiah-hadiah kerennya.

Lebih lengkapnya bisa cek di https://medicaltourismmalaysia.id/ atau klik IG @medtourismmy.id.

“Obat” Ampuh Covid: Patuh Protokol Kesehatan

Jumat, 18 September 2020. Dini hari.

Adik saya yang bertugas di sebuah RS khusus covid menelpon. Ia mengabarkan kalau Om saya yang baru berusia 49 tahun tak kuat lagi menahan gempuran virus Covid-19 di tubuhnya. Ia meninggal dunia setelah dua minggu berjuang di ICU.

Saya dan keluarga hanya sempat melihat fotonya sekali. Saat itu di seluruh tubuhnya dipenuhi alat-alat medis, di mulutnya ada selang ventilator untuk mempompa oksigen ke paru-paru, di tangannya ada beberapa tusukan infus.

Sedihnya, tak ada satu pun dari kami yang bisa menemani termasuk anak-anaknya, karena memang begitulah protokol yang berlaku untuk pasien covid. Hanya adik saya, yang kebetulan kebagian bertugas jaga malam itu, yang bisa menemani Om saya hingga Allah memanggilnya.

Kejadian itu membuat saya sadar bahwa bahaya covid masih mengintai, bahkan mulai dekat dengan circle saya. Apalagi kemarin ini, saya sempat mendengar kabar kalau beberapa kawan sebaya saya juga mesti isolasi mandiri karena mengalami gejala-gejala khas Covid.

Baca Juga: Pengalaman Tes PCR Swab Mandiri di RS Tria Dipa

Uang Ternyata Bisa Menularkan Virus

Mengapa Covid berbahaya?

Menurut dr. Riskiyana S. Putra, M.Kes. Direktur Promosi Kesehatan & Pemberdayaan Masyarakat Kementrian Kesehatan RI, di acara ” Seminar Online Bareng Blogger” Rabu kemaren, covid ini sebenarnya virus yang gampang mati.

Ia bisa dimatikan hanya dengan suhu panas tertentu ataupun dengan sabun biasa. Namun masalahnya, virus ini sangat cepat berkembang dan jika sudah menempel di tubuh inangnya, ia dengan cepat merusak tubuh inangnya bahkan hanya dalam waktu hitungan hari saja.

Virus ini juga jadi berbahaya karena ia gampang sekali menular. Tidak seperti penyakit lain, seperti jantung atau kanker. Virus ini bisa menyebar lewat droplet, lalu berdiam diri di benda-benda yang terkena droplet itu.

Bisa lewat sentuhan tangan, misalnya salaman, atau bisa juga lewat benda yang tadi terkena droplet itu, termasuk uang kertas yang sering banget kita pegang. Apalagi uang kan sering berpindah dari tangan satu ke tangan lain. Makanya, dr Riski menyarankan untuk mencuci tangan setelah memegang uang atau benda-benda lainnya yang berpotensi menulari virus.

Sumber: materi dr. Riskiyana S. Putra, M.Kes

Wanita Ternyata Lebih Bisa Jaga Jarak

Kalau lihat dan baca berita-berita, saat ini angka yang positif terinfeksi covid memang meningkat tajam. Per harinya bisa mencapai 4.000 kasus positif. Serem.

Apa yang menyebabkannya? Selain memang makin banyaknya orang yang dites, ternyata menurut dr.Riski, survei kepatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan masih rendah. Coba lihat hasil survei di bawah ini, hanya 30 % yang menaati imbauan untuk menjaga jarak.

Dan uniknya, dari hasil survei, wanita ternyata lebih patuh buat jaga jarak dibandingkan laki-laki. Udah biasa jaga jarak dari para fans kali ya…

Sumber: materi dr. Riskiyana S. Putra, M.Kes
Sumber: materi dr. Riskiyana S. Putra, M.Kes

Jangan Jadi Agen Virus

Kenapa awareness masyarakat agak kurang?

Menurut dr Rose Mini AP, M.Psi, yang biasa dipanggil Bunda Romi, masyarakat sebenarnya sudah tahu soal bahaya Covid dan protokol kesehatan. Namun banyak hal yang menyebabkan masyarakat akhirnya tidak patuh atau abai.

Salah satunya adalah karena ketiadaan contoh, baik itu contoh dari orang tua ataupun contoh dari pemimpin masyarakat. Memang, benar. Misalnya nih, kalau pak Lurahnya ga pakai masker kalau di luar rumah, ya masyarakatnya pasti males juga pakai masker kan.

Hal lainnya adalah karena masyarakat belum terbiasa dengan protokol kesehatan ini. Apa-apa memang harus dibiasakan, kalau perlu ada sanksi tegas. Saya ingat dulu waktu penerapan aturan wajib pemakaian seat belt. Awalnya ga enak banget, tapi lama-lama kalau tak memakai seat belt rasanya ada yang kurang.

Benar kata peribahasa “ala bisa karena biasa”.

Sumber: presentasi dr Rose Mini AP, M.Psi,

Yang paling saya garis bawahi adalah karena kurangnya empati terhadap orang lain. Merasa diri sehat, padahal bisa jadi ia memang tidak terpengaruh covid karena imunnya baik. Namun ia bisa menjadi agen yang menyebarkan virus ke orang lain.

Contohnya banyak, salah satunya terjadi pada kawan saya. Kawan saya ini sangat abai terhadap protokol kesehatan. Ia masih sering berkumpul dengan temannya tanpa memakai masker.

Ia akhirnya terkena covid dan ia menularkan ke orangtuanya yang lebih rentan. Ia sehat walafiat tanpa gejala, namun ayahnya tak bisa diselamatkan lagi. Menyesallah ia seumur hidupnya.

Obat Manjur Covid: Patuh pada Protokol Kesehatan

Selama vaksin belum ditemukan, satu-satunya cara untuk mencegah penyebaran covid adalah dengan mengadaptasi kebiasaan baru.

Cuci tangan sesering mungkin, terutama sehabis memegang sesuatu, sebelum makan, habis keluar rumah cara yang paling ampuh. Virus ini terdiri dari lemak yang akan hancur jika terkena sabun.

Cara lainnya bisa dilihat di gambar di bawah ya…

Sumber: materi dr. Riskiyana S. Putra, M.Kes
Sumber: materi dr. Riskiyana S. Putra, M.Kes

Usut punya usut, Om saya yang meninggal ini pernah lalai, beberapa kali tidak memakai masker saat bertemu kliennya. Mungkin dari sanalah virus Covid masuk ke tubuh Om saya dan akhirnya menggerogoti tubuhnya .

Yuk yang belum menerapkan protokol kesehatan dan masih aba, mulailah menerapkan aturan ini agar covid segera enyah dari dunia. Dan yang sudah menerapkannya, jangan bosan. Terus terapkan aturan kesehatan ini.

Baca Juga: Harga dan Tempat Tes Swab di Jakarta

Situs Penting untuk Booking Hotel dan Pesawat

Sekarang ini, di zaman serba maju ini, dan pesawat tak perlu lagi menelpon, atau mencari tahu situs hotel atau airline yang bersangkutan.

Beberapa situs ini membantu saya membooking dan menemukan hotel, pesawat, dan transportasi lain saat saya travelling.

Loading…

Something went wrong. Please refresh the page and/or try again.

Wisata Kota Tua: Beranjangsana Naik Ojek Sepeda

 

Puluhan sepeda tua terparkir di halaman museum Fatahillah, Jakarta. Di dekatnya berdiri beberapa lelaki yang memakai rompi bertuliskan “Onthel Wisata Kota Tua”. Mereka itulah para serdadu bersepeda yang siap mengantar wisatawan berkeliling kota tua dengan sepeda onthel.

Bagi pencinta sejarah ataupun bagi para penikmat arsitektur, Kota Tua Jakarta (The Oud Batavia) adalah tempat yang tepat untuk memuaskan dahaga. Kota yang pernah dijuluki sebagai Jewel Of The East (permata dari timur) ini menyimpan banyak catatan sejarah.

Kota tua Batavia adalah kota yang dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda di tahun 1620. Kota ini dibangun di atas reruntuhan kota Jayakarta, yang direbut VOC dari tangan Fatahillah. Nama Batavia sendiri diambil dari kata “Batavieren”, sebuah suku di Eropa yang menjadi cikal bakal bangsa Belanda.

Batavia yang awalnya hanya seluas 15 hektar dan berada di sekitar Pelabuhan Sunda Kelapa lalu diperluas hingga ke tepian sungai Ciliwung. Pemerintah Belanda berusaha menciptakan kota yang mirip dengan kota Amsterdam. Kanal-kanal yang saling berpotongan tegak lurus pun dibuat, layaknya kanal di Amsterdam. Di kiri-kanan kanal tersebut, didirikan bangunan-bangunan bergaya Eropa. Lalu di pusat kota, dibangun gedung-gedung pemerintahan, termasuk sebuah stadhuis (balaikota). Kini, gedung bekas balaikota itu dijadikan sebuah museum dan dikenal dengan nama Museum Fatahillah (Museum Sejarah Jakarta).

Naik Ojek

Para pelajar SMA sedang menyewa sepeda

 Menikmati kota tua dapat dilakukan dengan beragam cara, salah satunya adalah dengan naik ojek sepeda onthel. Di sekitar kota, ojek sepeda bertebaran di mana-mana, antara lain di depan Stasiun Kota, di pelataran museum Fatahillah, dan di depan Museum Bank Mandiri. Namun yang berada di bawah pengawasan pihak Museum Fatahillah hanyalah para pengojek yang mangkal di depan museum Fatahillah.

Selain menyediakan jasa ojek sepeda (yang artinya Anda akan dibonceng oleh si pemilik sepeda), Onthel Wisata Kota Tua juga menyediakan jasa penyewaan sepeda. Para pengunjung dipersilakan mengayuh sendiri sepedanya, dengan hanya membayar uang sewa Rp 20.000/jam.

Untuk menyewa jasa ojek, uang yang harus dikeluarkan hanyalah sebesar Rp 30.000. Dengan uang sebanyak itu, Anda akan diajak berplesiran ke 5 tempat: Pelabuhan Sunda Kelapa, Museum Bahari, Menara Syahbandar, Jembatan Kota Intan, dan Toko Merah. Batas waktu tak ditentukan. 1 jam boleh, 2 jam silakan saja. Para pengojek ini akan sabar menunggu. Jika ingin pergi ke tempat-tempat di luar 5 tujuan utama itu (misalnya ke Masjid Luar Batang atau ke Petak Sembilan), akan dikenakan biaya tambahan.

Lima Tujuan Utama
Tur akan dimulai dari pelataran Museum Jakarta. Lalu setelah mengitari museum ini, sepeda akan digenjot ke gang-gang ke sekitar museum. Di sini dapat ditemukan bangunan-bangunan bergaya kolonial dengan jendela-jendela besar. Sayangnya, banyak bangunan yang dalam kondisi memprihatinkan.

Selepas dari gang tersebut, bersiaplah untuk berpegangan karena sepeda kan melewati jalan raya, menyelip di antara kendaraan bermotor yang lalu lalang di jalan raya. Siapkan pula kacamata dan sapu tangan karena udara panas dan debu akan menerpa Anda.

Pelabuhan Snda Kelapa

Lalu, setelah sekitar 10 menit di jalan raya, sampailah ke Pelabuhan Sunda Kelapa. Di pelabuhan ini, selain dapat melihat perahu-perahu kayu berlabuh, Anda juga dapat menguji nyali, naik ke atas geladak kapal dengan hanya menggunakan sebilah papan. Pilihan lainnya adalah menyusuri muara Sunda Kelapa dan menyusup di antara perahu-perahu besar dengan menggunakan sampan kecil. Untuk hal yang terakhir ini, ada rupiah yang mesti dikeluarkan. Berapa tepatnya, tergantung negosiasi Anda dengan si tukang perahu. Sebenarnya, kegiatan ini mengasyikkan andai saja tak ada bau yang mengganggu, air yang keruh, dan sampah-sampah yang mengambang.

Lihat Pelabuhan Dari Atas

museum bahari

Setelah puas melihat pelabuhan pertama di Jakarta itu, Anda akan dibawa menuju Menara Syahbandar dan Museum Bahari. Kedua tempat itu terletak kira-kira 5 menit dari Sunda Kelapa. Untuk masuk ke dua tempat itu, pengunjung hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp 2.000.

Di menara setinggi 18 meter ini, Anda dapat melihat Pelabuhan Sunda Kelapa dan sungai Ciliwung dari atas menara, merasakan bagaimana dulu tentara Hindia Belanda mengawasi pelabuhan utamanya. Sementara di Museum Bahari, tersaji berbagai informasi tentang kelautan, serta contoh-contoh kapal dari berbagai belahan Nusantara.

Selanjutnya, tukang ojek sepeda akan membawa Anda akan menuju Jembatan Intan dan Toko Merah. Kedua tempat ini terletak di jalan Kali Besar, di muara sungai Ciliwung. Area pingir sungai ini sebenarnya tempat yang indah, makanya dahulu kala para noni-noni gemar beranjangsana ke tempat ini. Sayangnya, banyaknya sampah membuat sungai jadi kotor dan bau. Selain itu, bangunan-bangunan di sana pun banyak yang tak terawat dengan baik.

Plesiran Anda pun berakhir di kedua tempat itu. Pegal dan capek yang melanda terbayar dengan sebentuk cerita tentang kota tua Jakarta.

Lombok (day 3) — Gili Trawangan, Bener-Bener Paradise

Di perahu, kami bertemu dengan seorang ibu yang ikut rombongan puterinya dan teman-temannya. Dari dialah kami mendapat info penginapan yang murah meriah, namanya wisma hantu. (serem amat yak namanya).

Karena ga tau mesti nginep di mana, kami memutuskan ikut dengan ibu itu. Ternyata hanya ada satu kamar yang tersisa hingga akhirnya kami mencari lagi penginapan di sekitarnya. Untunglah, ga jauh dari situ ada Lili Homestay, yang masih punya kamar kosong. Setelah tawar-menawar, kami dapat harga Rp 90.000/kamar.

Dulu, ada anggapan, penginapan di Gili mahal-mahal. Emang sih, kalau yang bentuknya resor di tepi pantai pasti mahal lah. Nah, kalau mau yang murah macam penginapan gue ini, emang mesti masuk ke dalam-dalam. Tapi bagi gue ga masalah, kan cuma buat tidur aja.

Lily Homestay: 087865526139



Makan di Gili

Di buku yang pernah gue baca (yang dikirimin ke gue oleh salah satu penerbit), ditulis bahwa makanan di Gili mahal sehingga disarankan buat bawa bekel dari daratan. Haiyaa…

Ternyata enggak tuh. Gue menemukan beberapa warung yang murah meriah. Salah satunya warung Indonesia yang letaknya persis di sebelah Lili Homestay. Di sini ada menu prasmanan yang terdiri dari ayam, sayur, tempe dengan harga hanya Rp 10.000. Lebih murah dari makan di kantin Gramedia coba..

Selain Warung Indonesia, masih banyak warung lain yang jual makanan murah. Kebanyakan jual nasi campur, yakni nasi yang dicampur aneka lauk yang bikin kenyaang. Harganya berkisar Rp 10.000-Rp 20.000. Coba aja susuri bagian dalam, banyak kok warung nasi. Oya, di kapal pulang gue ketemuan dengan Pak Man, yang kabarnya punya warung nasi yang enak banget yang udah terkenal di mana-mana.

Bersepeda Keliling Gili

Untuk mengelili Gili, kami memutuskan menyewa sepeda aja. Harganya Rp 50.000 buat sehari penuh. Kalau cuma mau pakai jam-jaman juga bisa, harganya kalau ga salah Rp 15.000/dua jam.

Asyik banget bersepeda. Kalau mau berenti buat berenang atau snorkeling, tinggal senderin tuh sepeda di pohon, lalu nyebur de. Kami sangat menikmatinya…di awal.:P. Kok di awal? Simak deh cerita gue berikut.

Setelah puas berenang, snorkeling ngeliat ikan warna-warni, foto sana-sini, kami memutuskan untuk mengelilingi seluruh pulau Gili dengan sepeda. Setengah bagian pulau cukup menyenangkan, tapi setengahnya lagi, menyengsarakan. Jalannya berpasir, sepeda gue ga bisa lewat!!. Terpaksa mesti mendorong sepeda di tengah panasnya matahari Gili. Ampuuun deh. Ditambah lagi, bagian belakang Gili itu bukan daerah komersil yang banyak penginapan. Isinya hanya semak belukar dan pantainya penuh karang. Jadi gue saranin, kalau udah menemukan jalan berpasir, puter balik aja deh.

Gara-gara maksa bersepeda muterin Gili, gue dan keshie tepar banget. Alhasil, kita ketinggalan sunset yang katanya adalah sunset terindah ke-8 di dunia. Huaaaa…

Eh, ketinggalan sunset ini juga disebabkan banyak hal sih. Pertama, ban sepeda keshie kempes dan harus pompa. Pompa milik si penyewaan sepeda rusak, jadi terpaksa harus nyari pompa baru. Kedua, pas gue nanya arah mana kalau mau lihat sunset, 4 orang yang ada di situ menunjuk ke 4 arah yang berbeda, sambil berdebat satu dengan lainnya. Tobaat..

Oiya, sebenarnya di gili ini banyak banget spot bagus buat foto. Salah satunya adalah gazebo di seberang Villa Ombak. Gazebonya dari kayu, dihiasi dengan kain warna pink. Di sebelahnya ada perahu yang semang sengaja ditaro di situ. Sayangnya, gue ga sempet foto di situ. Sebenernya pas naik sepeda tadi gue ngelewatin tempat itu, tapi berhubung Fean buru-buru ingin menghampiri orang yang menemukan hape-nya, kami jadi buru-buru. Yaah..

Oya lagi, selain Gili Trawangan, ada pula GIli Meno dan Gili Air. Kedua tempat ini letaknya ga jauh dari Trawangan. Kabarnya sih, tempatnya bagus juga tapi ga seramai Trawangan. Kalau ingin ke sana, bisa menyewa perahu dari Trawangan.

Kampung Naga, Desa Sunda Yang Masih Terjaga

Kira-kira tiga ratus anak tangga mesti dilalui untuk mencapai Kampung Naga, sebuah kampung di lembah gunung Cikuray, yang masih memegang kuat adat dan tradisi leluhurnya. Pegal dan capek memang, namun terbayar dengan apa yang akan Anda lihat di sana

Menapaki seratus anak tangga pertama, yang terlihat hanya deretan pohon eboni dan albasia yang menjulang. Seratus anak tangga berikutnya, suguhan nikmat berupa pemandangan petak-petak sawah akan tersedia untuk Anda. Di seratus anak tangga terakhir, barulah tampak deretan rumah bercat putih dengan atap ijuk berwarna hitam, dikelilingi bukit yang penuh dengan pepohonan dan sungai Ciwulan yang mengalir deras. Itulah Kampung Naga.

Kampung Naga—tak ada yang tahu kenapa kampung ini dinamakan demikian—dihuni sekitar 311 jiwa. Walaupun telah bersentuhan dengan dunia modern—hampir sebagian besar masyarakatnya telah mengenyam bangku sekolah—masyarakat Kampung Naga tetap patuh mempertahankan adat yang telah turun temurun diwariskan kepada mereka. Bagi mereka, menjalankan adat berarti menghormati para leluhur (atau biasa disebut karuhan). Sesuatu yang datangnya bukan dari ajaran karuhan dianggap tabu, yang bila dilanggar akan menimbulkan petaka.

Ajaran karuhan bagaikan hukum tak tertulis yang mesti diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Kampung Naga. Cara membangun rumah, bentuk rumah, letak dan arah rumah, pakaian upacara, kesenian yang dipertunjukkan, tak boleh dilakukan sembarangan.

Pola Perkampungan
Kampung Naga berdiri di lembah subur seluas 1,5 hektar dan dibagi menjadi hutan, sungai, daerah persawahan, dan daerah perkampungan. Setiap area memiliki batas-batas yang tak boleh dilanggar. Area perkampungan, misalnya, tak boleh dibangun di lahan persawahan, dan begitu pula sebaliknya. Masyarakat Kampung Naga percaya bahwa pada batas antardaerah tersebut ada mahkluk halus. Jika batas dilanggar, mahkluk halus itu akan marah dan menimbulkan petaka.

Daerah perkampungan ini memiliki 111 bangunan, terdiri atas 108 rumah, 1 balai pertemuan (bale patemon), 1 masjid, dan 1 lumbung. Masjid, balai pertemuan dan lumbung diletakkan sejajar, menghadap ke arah timur-barat. Di depannya terdapat halaman luas (semacam alun-alun) yang digunakan untuk upacara adat. Di depan masjid ada kentongan besar, yang dibunyikan ketika ingin mengumpulkan massa, memberitahukan waktu-waktu penting (waktu subuh, magrib dan isya), serta memberitahu jika ada bahaya.

Bangunan yang lain, yaitu rumah penduduk, mesti menghadap utara-selatan. Karena daerah ini banyak rayap, rumah dibuat dengan model panggung, yaitu ditinggikan sekitar 50 cm dari tanah. Dinding rumah terbuat dari anyaman bambu atau bilah-bilah kayu, yang dibiarkan mentah begitu saja, atau dicat dengan menggunakan kapur putih. Selain untuk memberi warna, kapur putih berguna untuk melindungi dinding dari serangan rayap. Untuk atap, mereka membuatnya dari ijuk, alang-alang, atau daun nipah.

Lengang Tanpa Listrik

Kehidupan yang sederhana namun bersahaja tampak pada masyarakat Kampung Naga. Karena sebagian besar masyarakat Kampung Naga menggantungkan hidupnya pada hasil kebun dan sawah mereka, waktu mereka pun dihabiskan di sana. Para wanita, yang tidak ikut suaminya ke sawah, mengisi hari mereka dengan memasak dan mengurus keluarga. Di sela-sela pekerjaan rumah tangga itu, para wanita mengerjakan kerajinan anyaman, yang dijual kepada wisatawan yang berkunjung ke sana.

Suasana lengang akan tampak ketika malam tiba. Tak ada listrik membuat mereka mengandalkan penerangan hanya dari lampu teplok yang digantung di dinding. Tak ada alat-alat elektronik, semuanya dikerjakan secara tradisional. Namun, di beberapa rumah sudah ada perangkat audio (umumnya TV) yang dihidupkan menggunakan aki.

Kepercayaan masyarakat Kampung Naga kepada mahluk halus masih dipegang kuat. Mereka memandang suci tempat-tempat yang dijadikan tempat tinggal mahluk halus tersebut (oleh masyarakat Kampung Naga disebut sebagai tempat yang angker atau sanget). Demikian juga tempat-tempat seperti makam Sembah Eyang Singaparna (leluhur Kampung Naga) dan Bumi ageung (rumah pertama yang didirikan di Kampung Naga). Tempat-tempat itu hanya boleh didatangi oleh tokoh adat masyarakat Kampung Naga pada waktu tertentu. Wisatawan tak boleh mendekatinya, apalagi memotretnya.

Bermalam di Kampung Naga

Jika ingin merasakan suasana dan kehidupan Kampung Naga sebenarnya, cobalah untuk bermalam di sana. Anda bisa merasakan mandi di kamar mandi setengah “terbuka” (tanpa atap), bermalam di rumah dengan hanya diterangi lampu teplok, dan makan makanan khas Kampung Naga. Namun, tentu saja, Anda mesti meminta izin jauh-jauh hari pada kuncen.

Yang perlu diingat, janganlah berkunjung pada hari Selasa, Rabu, atau Sabtu. Sebab, pada hari itu masyarakat Kampung Naga sedang melakukan ritual menyepih, dan dilarang membicarakan adat istiadat dan asal-usul kampungnya.

Masjid Agung Cirebon. Penuh Cerita, Penuh Makna

Alkisah, saat masjid Cirebon hampir selesai didirikan, datanglah utusan dari Mataram Kuno bernama Menjangan Wulung. Lantaran tidak menyukai agama Islam, ia ingin menggagalkan pembuatan masjid itu. Ia lalu naik ke kubah masjid dan menyebarkan mantera yang menyebabkan kematian 3 muazin (tukang azan).

Ratu Mas Kadilangu, raja yang berkuasa saat itu, meminta para wali songo untuk menghentikan mantera itu. Sesudah bertarekat dan meminta pentujuk dari Allah, Sunan Kalijaga lantas menitahkan tujuh muazin untuk melantunkan azan secara bersamaan. Menurut cerita, pada waktu azan subuh dikumandangkan, dari kubah masjid terdengar ledakan; kubah hancur dan mantera Menjangan pun bisa dilumpuhkan. Ada juga yang mengatakan kubahnya terpental ke Masjid Agung Banten, yang menyebabkan Masjid Agung Banten memiliki dua kubah kembar. Karena itu, sampai sekarang, kumandang azan selalu dilakukan oleh tujuh orang muazin (azin pitu).

Versi yang lain mengatakan, dulu ada wabah penyakit ganas yang melanda kota Cirebon. Untuk membasminya, Panembahan Ratu -raja yang memerintah saat itu- melepaskan tongkat saktinya. Secara tak sengaja, tongkat itu mengenai kubah masjid hingga kubahnya pun runtuh. Sejak saat itulah, masjid Cirebon tidak memiliki kubah lagi.

Dua kisah itu, yang menceritakan kenapa masjid Cirebon tak berkubah, hanya sebagian dari cerita dan mitos yang menggambarkan “keunikan” Masjid Cirebon, salah satu masjid tertua di Jawa. Masih banyak mitos dan cerita lain yang mengiringi masjid yang dikenal juga sebagai Masjid Sang Cipta Rasa.

Dibuat dalam Semalam
Masjid Sang Cipta Rasa, Masjid Agung Kasepuhan, atau Masjid Agung Cirebon terletak 100 meter barat laut Keraton Kasepuhan. Masjid ini dibangun setelah masjid Demak, yakni sekitar tahun 1489 Masehi atau ketika Sunan Gunung Jati berusia sekitar 41 tahun. Konon, menurut cerita rakyat setempat, pembangunan mesjid ini hanya memakan waktu satu malam; pada waktu subuh keesokan harinya telah dipergunakan untuk shalat Subuh.

Sunan Kalijaga yang bertindak sebagai penanggungjawab meminta Raden Sepat, arsitek dari Majapahit, membuat gambar dan ruang-ruang masjid. Raden Sepat merancang ruang utama masjid berbentuk bujur sangkar dengan luas 400 meter persegi dengan kemiringan 30 derajat arah barat laut.

Tak seperti masjid Demak dan Kudus, masjid ini tak memiliki menara. Ada alasan kuat kenapa menara tak dibuat. Pada saat itu, ketika muazin mengumandangkan azan, mau tak mau ia harus naik ke atas menara. Hal tersebut dianggap tabu dan bertentangan dengan adat Jawa yang melarang orang biasa duduk atau berdiri lebih tinggi dari raja.

Perpaduan Islam dan Jawa

Masjid ini terdiri dari lima ruang: 1 ruang utama, 3 serambi, dan 1 ruang belakang. Ruang utama Masjid Agung Cirebon dikelilingi oleh dinding bata setebal ½ meter dan memiliki sembilan pintu. Sembilan pintu itu melambangkan Wali Songo, 9 wali yang menyebarkan Islam di tanah Jawa. Pintu utama berukuran normal, terletak di timur. Delapan lainnya di samping kiri dan kanan, dengan tinggi sekira 1 meter. Pintu setinggi 1 meter ini akan “memaksa” orang membungkuk ketika melewatinya. Hal ini disengaja, sebagai simbol dari sifat rendah hati, sopan santun, dan hormat-menghormati.

Selain banyak menggunakan filsafat dari ajaran Islam, masjid ini juga mengadaptasi budaya Jawa dan Hindu. Hal itu tercermin dari atapnya yang berbentuk limas bersusun tiga. Terlepas dari mitos dan cerita yang ada, atap limas merupakan adaptasi dari atap Joglo yang banyak digunakan di rumah-rumah tradisional Jawa. Selain itu, pintu gerbang utama berbentuk seperti paduraksa (gapura beratap), yang banyak terdapat pada pintu masuk candi di Jawa, antara lain Candi Bantar.

Sayangnya, kini keadaan masjid yang pernah menjadi pusat penyebaran agama Islam di Jawa Barat ini kurang terawat. Padahal dulu, ketika akan meninggal, Sunan Gunung Jati berpesan pada rakyat Cirebon, “Ingsun titip tajug lan fakir miskin (Saya titip surau ini dan fakir miskin).”