Tips Berpergian di Myanmar

Myanmar memang bukan destinasi populer bagi traveler Indonesia. Wisatanya pun berlum terkelola dengan baik. Bagi Anda, yang ingin berpergian ke Myanmar, berikut beberapa tips berpergian di Myanmar yang berhasil saya kumpulkan.

1. Mata uang yang dipakai di Myanmar adalah kyats. 1 Dolar kurang lebih sama dengan 1.000 kyats. Beberapa hotel dan tempat wisata dapat dibayar dengan menggunakan dolar.

2. Penukaran kyats dapat dilakukan di bandara ataupun di bank. Simpan struk penukaran, karena akan diminta ketika ingin menukarkan kembali kyats ke Dolar.

3. Kebanyakan, hostel di Myanmar tak bisa dibuking dari Indonesia. Jika sampai detik terakhir Anda belum berhasil juga membuking hostel, jangan khawatir. Lakukan on the spot. Atau, paling tidak, buking hostel di Yangon. Dari situ, Anda dapat meminta tolong membuking hotel di kota lain.

4. Hal yang sama berlaku pada bus. Jika berhasil membuking salah satu hostel, minta tolong kepada mereka untuk membuking bus.

5. Walaupun relatif jarang, ada beberapa scam yang diceritakan para traveler. Scam yang paling sering terjadi adalah seorang ibu-ibu memberikan Anda bunga untuk diletakkan di patung, lalu setelah itu meminta uang dalam jumlah besar sebagai imbalan bunga tersebut.

BACA JUGA: BERKENALAN DENGAN KEHIDUPAN MUSLIM MYANMAR

Naik Bus Malam di Myanmar

Bus Bagan-Mandalay

Saya datang ke-3 kota: Yangon, Bagan, Mandalay. Salah satu cara berpindah antarkota di Myanmar adalah dengan menggunakan bus malam. Saya dan teman saya pun menggunakan opsi ini. Selain dapat menghemat waktu, kami dapat mengirit biaya penginapan. 

Bus malam yang kami tumpangi pertama adalah bus malam  yang bertolak dari Yangon ke Myanmar. Bus yang namanya tak bisa saya baca ini saya dapatkan dari supir taksi yang mengantar kami dari bandara ke terminal. Katanya, “this is the best bus company in Yangon.” Kami percaya saja. Katanya lagi, “you are lucky, only 2 seat left. For you.” Kami juga percaya.

Nyatanya, busnya tak seindah perkataan si supir taksi. Bus lain yang ada di terminal terlihat lebih mentereng.  Soal “keberuntungan” juga tak terbukti. Bus kosong, saya bahkan tidur sambil selonjor, mengambil jatah bangku 4 orang. Kalau ini yang dimaksud si supir dengan keberuntungan, ya saya beruntung.

Satu-satunya hal baik dari bus ini adalah sang supir. Di awal keberangkatan, supir ini melakukan banyak ritual: mulai dari membersihkan setir (yang memakan waktu 10 menit), memeriksa AC (yang sebenarnya tak perlu diperiksa karena sudah jebol), mengalungkan bunga ke spion, dan berdoa. Supir yang religius!

Supir ini pun rela mematikan AC—yang amat dingin dan tak bisa dikecilkan—jika ia merasa penumpangnya kedinginan. Indikatornya gampang, penumpangnya (termasuk saya) bolak-balik memeriksa tisu yang  dimanfaatkan menyumpal lubang AC.

Ngomong-ngomong soal AC, semua bus malam di Myanmar ini terkenal dengan AC yang kelewat dingin.  “You buy air conditioner bus, you get it”, mungkin itu semboyan para pengusaha bus itu. Saya ibarat orang kampung yang kena musim dingin: kaki disumpal kaos kaki tebal, baju dilapis dua, ditambah lagi dengan jaket tebal. Biarlah, yang penting tidur nyenyak.

Terpesona Video Klip ala Myanmar

Bus malam saya yang kedua adalah bus Bagan Mandalay. Berbeda dengan bus sebelumnya, bus ini lebih nyaman dan teratur. Apalagi ada Pak Manajer, yang mengatur segala hal di dalam bus. Pak manajer yang klimis, tak bersarung dan tak bersirih ini yang memegang kendali atas bus. Dia yang yang mengatur kapan bus berangkat, siapa saja yang boleh naik bus, dan acara apa yang ditayangkan di televisi bus.Ya, acara di televisi yang membuat saya terjaga.

Sewaktu menaiki bus malam di Kamboja beberapa tahun lalu, saya mendapat suguhan “lawak pantura ala Kamboja.” Sepanjang malam, saya harus terjaga, mendengar suara keras dari televisi, ditambah suara tawa membahana dari para penumpang.

Tak ingin kejadian itu terulang, saya mempersiapkan sumbat telinga. Tapi ternyata, di bus ini, sumbat telinga saya tak berguna. Bukan karena suara keras, bukan juga karena gelak tawa penumpang. Saya terjaga karena yang ditayangkan di TV adalah video klip penyanyi Myanmar, yang minta ampun garingnya.

Video klip pertama adalah video klip dari penyanyi pria berambut gondrong, yang mirip Once mantan personil Dewa. Si Once gadungan ini bernyanyi di suatu pertunjukan, disaksikan oleh wanita yang sepertinya sang pujaan hati. Wajah si wanita berwambut panjang ini muncul terus menerus di layar backdrop panggung. Lucunya, walaupun si wanita ini melihat wajahnya di layar, ekspresinya datar, seakan ia tak tahu kalau wajahnya terpampang dengan besarnya di sepanjang acara.

Setelah video klip ini ditayangkan, saya jadi penasaran, video klip apa selanjutnya. Ternyata bukan Once lagi yang muncul, tapi pria yang berkaus putih ketat bercelana jeans yang robek di bagian lututnya.

Pria ini berdiri di samping jendela di sebuah apartemen. Dari tempat ia berdiri itu, terlihat jelas mobil-mobil berseliweran, yang sayangnya, terlihat sangat palsu. Sepertinya, pria ini mau menunjukkan kekayaannya, karena ia berkali-kali menunjukkan isi apartemennya itu.

Setelah puas berdiri dekat jendela, si pria ini pun menelpon sang gadis pujaan, menggunakan hp yang luar biasa besarnya. Sang gadis berhanduk lalu mengangkat telepon si pria, kerepotan karena ia harus memegangi handuknya sambil menarik anten handphone, yang luar biasa panjangnya.

Setelah itu, si pria mengikuti gadis ini—yang baru saya sadari adalah gadis yang sama dengan video klip pertama tadi—ke sebuah mal.  Gadis ini membeli perhiasan, baju, sepatu, dan banyak barang lainnya, sementara si pria malu-malu mengintip gadisnya dari balik rak baju.

Adegan selanjutnya tak saya lihat, karena pak manager tiba-tiba mengganti acaranya. Saya memekik perlahan, mengeluarkan suara “yah…” Rupanya pak manager yang duduk di bangku depan saya mendengar kalimat itu.  Dengan bangganya, dengan tatapan “wow, you like my music”-nya, dia kembali memencet remote, mengembalikan ke saluran semula. Yeay!!

Kini, di televisi muncul lagi Once gadungan. Kali ini, ia sedang bersama teman-temannya di sebuah kamar. Di samping tempat tidurnya ada sebuah televisi tabung dan telepon rumah berwarna merah, yang berkali-kali disorot kamera. Rupanya, telepon masih merupakan barang mewah bagi rakyat Myanmar, sehingga barang ini pun menjadi simbol kemakmuran sesorang.

Scene selanjutnya dipenuhi oleh telepon. Si telepon ada di mana-mana, mulai dari di dalam rumah, di mobil, bahkan di lapangan basket!  SI pria dan si gadis pun sepanjang video klip terus menerus menelpon, mulai dari kamar mandi (lagi-lagi), mal, sampai di panggung pertunjukan!

Yang paling menggelikan adaah bagian terakhir video klip ini. Di scene ini, Once gadungan duduk di kap mobil. Dan sang gadis duduk menyamping di bangku depan, dengan kaki menjolor keluar….sambil menelpon! Tak lama kemudian, di belakang mobil ada air dengan riak-riak. Oo, ceritanya di tepi laut, pikir saya. Walaupun terlihat sangat palsu, tapi bolehlah usahanya. Tapi ternyata, lama kelamaan air ini muncul juga di bagian ban,  lalu naik hingga menyentuh pintu mobil. Hebatnya…si gadis tetap duduk tenang, tersenyum sambil menelpon!!

Bawa Bangku Sendiri

Kebanggan bapak manager terhadap saya, yang cinta video klip negerinya, sedikit ternoda oleh ulah saya di perhentian bus. Saya, yang malas makan di perhentian itu (karena tak sreg dengan tempatnya), membeli telor puyuh dan nasi bungkus. Rencananya, nasi bungkus plus telor puyuh ini akan saya makan di perjalanan. Baru saja saya menyelesaikan suapan pertama, si bapak manajer mendatangi saya sambil berkata dengan galaknya. “Can not eat at bus becos air conditioner. If you want eat, you quit. I will wait you.”

Sejak itu, dia jadi curiga terhadap saya. Setiap saya tak sengaja menyenggol plastik makanan, yang mengakibatkan bunyi kresek-kresek, dia langsung memandang ke saya. Karena sebal, timbul rasa iseng. Saya berkali-kali menyenggol plastik makanan, sehingga pak manajer pun berkali-kali menengok ke  arah saya. Setelah dia menyerah alias tak menengok-nengok lagi, saya pun menghentikan keisengan saya.

Oiya, sejak perhentian itu, penumpang bus jadi bertambah. Bukan penumpang legal yang duduk nyaman di kursi seperti saya, tapi penumpang illegal yang duduk di lorong tengah, dengan kursi yang dibawa sendiri!  Dan ternyata, penumpang berkursi plastik bukan hanya satu atau dua orang, tetapi sepuluh! Oalah..

Norak di Bus Ketiga

Bus malam ketiga saya adalah bus Mandalay-Bagan. Saya mendapat bus ini dari hotel tempat saya menginap. Di awal, saya dan travelmate saya bersikeras meminta resepsionis mencarikan JJ Express, karena kami sempat melihat bus ini di terminal Mandalay tempo hari.

Teryata, menurut sang resepsionis, ia tak berhasil mendapat JJ Express dan menyarankan kami naik bus Satamann, yang baru saja beroperasi. Karena baru, bus ini memberikan harga khusus: 14.000 kyat. Bus JJ express saat itu harganya 17.000 kyat.

Saya sebenarnya sadar, si resepsionis sepertinya tak memesan JJ Express, dan menganjurkan bis ini karena bekerja sama dengan hotelnya. Tapi, sudahlah, harganya murah.  Rasanya, setelah naik dua bus aneh sebelumnya, saya bisa menerima bus dalam kondisi apa saja.

Ternyata, bus ini jauh lebih bagus dari perkiraan saya. Busnya dua tingkat. Bagian bawahnya terdiri dari kamar mandi, bagasi, dan ruang sopir. Sementara tempat duduk ada di lantai dua. Tempat duduknya pun nyaman, berupa reclining seat yang mirip di pesawat, dilengkapi dengan sandaran kaki. Ada selimutnya pula.Senangnya!

Begitu duduk, saya disuguhi kopi lattedan diberi peralatan mandi (handuk kecil, sikat gigi dan odol). Bakal nyenyak tidur nih, pikir saya. Ternyata saya salah. Semua kenyamanan ini hilang akibat AC yang terlalu dingin. Parahnya lagi, ACnya sentral yang tak bisa dikecilkan, atau paling tidak disumbat dengan tisu. Alhasil, saya kembali terjaga. Saya baru bisa memanjamkan mata 10 menit sebelum sampai di Yangon, lalu bangun dengan pilek sempurna.

TIP

Bus di Myanmar tak bisa dipesan online. Satu-satunya cara adalah dengan membelinya on the spot atau meminta bantuan hotel tempat Anda menginap. Cukup banyak bis yang beroperasi, namun yang paling terkenal adalah JJ Express, Shwe Mandalar, dan Mandalar Inn.

Update: menurut info dari Mbak Ade di kolom komen, sekarang ini JJ Express udah bisa dipesan lewat www.jjexpress.net. Makin gampang jadinya.

Backpacker ke Myanmar: Mati Gaya di Yangon

Sule Paya di waktu malam

Hari terakhir backpacker di Myanmar saya habiskan dengan berkeliling Yangon. Tak banyak objek yang ingin saya kunjungi di sini. Rasanya saya sudah puas melihat kuil di Bagan, dan menyaksikan biksu di Mandalay.

Kawan saya rupanya sependapat dengan saya. Namun sayang rasanya bila berdiam diri di hostel saja. AKhirnya kami memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar Sule Paya Pagoda.


Sule Paya Pagoda ini adalah pagoda emas yang terletak tepat di jantung Yangon. Kami tak berniat masuk ke dalamnya. Keliatannya ia tak begitu menggoda. Kami hanya mengitarinya, sambil melihat kehidupan masyarakat Yangon yang mulai tersentuh kemodernan.

Berbeda dengan masyarakat di Mandalay dan Bagan, penduduk Yangon mulai banyak yang meninggalkan Longji (pakaian khas mereka yang seperti sarung), menguyah sirih, dan menggunakan tanaka (bedak dingin khas Myanmar). Gadget seperti telepon genggam dan tablet pun mulai banyak digunakan. Kios-kios penyewaan telepon bermunculan di mana-mana.

Liat deh apa yang ada di pinggang bapak-bapak itu. Tablet!


Puas melihat-liat, kami bergegas menuju Bogyake Market. Pasar ini dapat dijadikan tempat membeli oleh-oleh. Pada dasarnya, kerajinan yang dijual di pasar ini tak berbeda jauh dengan kerajinan ala Kamboja dan Thailand. Entah mana yang meniru mana.

Kios penyewaan telepon

Di perjalanan menuju Bogyoke, kami ditegur seorang pemuda tampan berkacamata. Anawar namanya. Ia bekerja sebagai tenaga IT di salah satu perusahaan telekomunikasi asal China. Ia tak menggunakan longji, tak bersirih, dan fasih berbahasa Inggris. Tuntutan pekerjaan, katanya. Rupanya perusahaan tempat ia bekerja meminta pegawainya untuk lebih modern.

Anawar adalah seorang muslim. Begitu mengetahui kami hanya berjalan berdua, ia langsung khawatir,  dan meminta kami menelpon dia jika terjadi sesuatu. Dia bilang “We , moslem, are brothers.” Modus ini, mah…


Dengan uang tersisa hanya beberapa kyat (lainnya sudah kami habiskan untuk membeli oleh-oleh), kami berusaha mencari makanan halal. Walau masih punya simpanan dolar, kami tak ingin menukarnya dengan kyats. Kyats hanya berlaku di negara ini. Tak ada negara lain yang mau menukarnya.


Sambil berjalan mencari makanan, kami menyadari bahwa cukup banyak masjid di dekat Bogyoke Market. Tapi lagi-lagi, semua masjid menganut paham Hambali, yang artinya kami tak bisa menumpang sholat di sana. 


Akhirnya, setelah berputar-putar, kami mendapatkan makanan cepat saji berlabel halal, yang lumayan bersih. Padahal, menurut imel yang saya terima dari Anawar, tepat di seberang Bogyoke Market ada gang yang seluruhnya menjual makanan halal. Oalah..

Taman di Yangon

Perut kenyang, kami mati gaya. Tak tau apalagi yang dapat dikunjungi di Yangon. Sambil menunggu sore, kami akhirnya berdiam diri di sebuah taman, tak jauh dari Sule Pagoda. Taman yang cukup bersih ini nampaknya jadi tempat berkumpul warga Yangon. Makin sore, taman makin penuh. 

Menjelang malam, di taman ini ternyata ada pertunjukan air mancur. Sayangnya, pertunjukannya minus music, sehingga tak terlalu memukau. Tapi lumayan lah, sebagai pengisi waktu dan penutup malam kami.

Myanmar Day 5: Motherland Inn Yangon

Kami tiba di Yangon dini hari. Berbeda dengan kota-kota sebelumnya, di Yangon ini kami sudah memesan sebuah hostel via onlen. Motherland Inn nama hotel ini. Mereka cukup cepat meresepon pemesanan kami.

Hostel ini cukup terkenal di kalangan wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Yangon. Letaknya tidak terlalu strategis, cukup jauh dari pusat kota. Namun kemudahan pemesanan, pelayanan yang memuaskan, staf yang fasih berbahasa Inggris, serta jemputan gratis dari dan ke bandara membuat hostel ini diminati banyak orang.

Seperti penginapan lainnya di Myanmar, kami diperbolehkan masuk ke hostel di pagi hari, tanpa biaya tambahan. Malahan, sambil menunggu kamar disiapkan, kami diperbolehkan menyantap sarapan yang tersedia, lagi-lagi tanpa biaya tambahan.

Motherland Inn Hotel
No 433, Lower Pazundaung Road, Yangon, Myanmar (Burma).Ph: 0095-1 291343, 0095-1 290348,
0095-095185395,0095-095053206
http://www.myanmarmotherlandinn.com/

Berkenalan dengan Kehidupan Muslim Myanmar

Selain mendapatkan pemandangan-pemandangan eksotis di Mandalay, di sini kami memperoleh kesempatan bertemu keluarga penganut Islam di Mandalay, dan merasakan sedikit kehidupan mereka, kaum minoritas di tengah umat Budha.


Menurut Wikipedia, umat Islam di Myanmar hanya sebesar 4 persen dari seluruh jumlah penduduk Myanmar. Kebanyakan umat Islam ini merupakan keturunan dari bangsa Persia, India, dan Arab. Seperti halnya Abdu Hamed, pria keturunan Melayu-India yang mengenalkan saya pada kehidupan Islam di Myanmar.

Hamed adalah seorang supir taksi yang mangkal di depan hotel kami di Mandalay. Kami menyewa taksinya untuk berkeliling Mandalay. Yang membuat saya menyewa taksinya ialah kalimat pertama yang ia ucapkan. Berbeda dengan supir taksi lain yang langsung bertanya “Where do you wanna go?”, Hamed malah berkata “Assalamualaikum, ya ukhti. Do you wanna pray?”

Saya menjelaskan bahwa kami ingin berkeliling Mandalay. Berhubung kami sudah check out dari hotel, saya mengatakan bahwa nantinya, sepulangnya dari U-Bein Bridge, saya memang akan mencari tempat sholat. Seusai mengantarkan saya ke U Bein, Hamed pun mengajak saya ke rumahnya, karena ternyata kebanyakan masjid di Myanmar tidak diperuntukkan untuk wanita.

Berbeda dengan umat muslim di Indonesia, umat Islam di Myanmar menganut mahzab Hambali, yang menganjurkan kaum wanita untuk sholat di rumah. Alhasil, tak akan ada masjid yang menyediakan ruang khusus untuk wanita, seperti halnya masjid-masjid di Indonesia.

Rumah Hamed terletak tepat di depan masjid, di sebuah gang sempit yang seluruhnya dihuni oleh umat Islam. Rumah ini, seperti rumah-rumah lain di gang itu, terdiri dari dua lantai. Lantai pertama terbuat dari batu bata yang diplester kasar, sementara lantai kedua terbuat dari tripleks yang dicat dengan warna cerah.

Endy, saya, keponakan, dan ibunda Hamed

Di dalam rumah yang tak terlalu besar ini, Hamed tinggal bersama istri dan kedua anaknya yang masih duduk di bangku SD. Di rumah itu juga terdapat kedua orang tua Hamed: sang ayah yang berwajah India, dan sang ibu yang nampaknya turunan bangsa Melayu. Ada pula adik kandung Hamed, yang tinggal bersama suami dan kedua anak mereka yang masih kecil.

Nuansa Islam terasa kental di sini. Di dinding rumah terdapat banyak tulisan kaligrafi dan lukisan bergambar Ka’bah. Lukisan Kabah itu ternyata baru saja dipasang, sebagai pengingat kalau tahun ini ibunda Hamed akan berangkat menunaikan haji ke Tanah Suci.

Di ruang tamu terdapat banyak buku-buku berbahasa Arab, termasuk salah satunya Al Quran besar yang selalu digunakan ayahanda Hamed untuk mengaji.

Keramahan keluarga ini begitu terasa. Sayangnya, hanya Hamed yang dapat berkomunikasi dalam bahasa Melayu dan Inggris. Anggota keluarga lain hanya tersenyum, menyambut kami dengan pelukan hangat dan makanan yang tersaji lengkap di lantai rumah.

Ya, mereka memaksa kami makan bersama. Untunglah, sebelumnya kami telah menyantap makanan di restoran halal yang tak jauh dari hotel. Kami tak perlu menghabiskan jatah keluarga itu, yang nampaknya memang tak terlalu banyak.

Saya dan salah satu tetangga Hamed.

Selain keluarga Hamed, para tetangga yang ada di kawasan itu juga sangat ramah. Setiap orang menyapa kami, mempersilakan kami masuk ke rumahnya. Andai saja saya tak terburu waktu, pasti sudah saya sambangi satu persatu.

Hamed juga mengajak kami meninjau sebuah madrasah kecil yang ada di Mandalay, tak jauh dari hotel kami berada. Tak sengaja memang. Saat itu, Hamed mengajak kami makan malam di salah satu restoran muslim. Ketika makan, tak sengaja saya mendengar lantunan ayat AlQuran. Saya pun bertanya sumber suara itu dan meminta Hamed mengantar saya ke sana.

Ruang kelas besar di madrasah

Ternyata, lantuanan suara itu berasal dari sebuah madrasah. Madrasah kecil ini memiliki dua ruang, dengan jumlah murid tak kurang dari 1.000 orang.

Di ruang pertama, saya melihat para lelaki kecil sedang berusaha menghafal Al Quran, dipimpin oleh ustad muda yang kelihatannya berasal dari Tanah Melayu. Ruang kedua, yang lebih besar, diperuntukan untuk mengajar bahasa Arab dan Al Quran. Bocah-bocah berpeci dan berkerudung, namun mengenakan tanaka, terlihat memenuhi ruang kelas ini.

Menurut Hamed, madrasah ini adalah milik masyarakat muslim Mandalay. Siapa saja boleh bersekolah di sini, dengan gratis. Pelajaran dimulai di sore hari, setelah mereka menyelesaikan pelajaran di sekolah umum. Guru-guru yang mengajar pun tidak dibayar, mereka adalah sukarelawan yang memang berniat tetap menanamkan pengetahuan dan ajaran Islam di tengah anak-anak muslim Myanmar.

Saya bertanya, sulitkah menjadi muslim di tengah kepungan umat Budha? Hamed menjawab, walaupun terkadang meraka mendapat tekanan, mereka semua berani menunjukkan jati diri mereka sebagai muslim.

Hamed misalnya, meletakkan tasbih di taksinya. Istri dan ibu Hamed, sehari-harinya menggunakan jilbab. Ayah Hamed, menggunakan kopiah dan berjanggut panjang. Jumlah madarasah dan masjid di Mandalay pun cukup banyak, sehingga umat Islam di sana tidak kesulitan menjalankan ibadahnya.


Sayangnya, saya tak bisa tinggal lama di sini. Begitu selesai makan, saya harus kembali ke stasiun bus. Saya mesti kembali ke Yangon dan terbang ke Jakarta.

Ternyata, bukan hanya Hamed yang mengantar saya dan kawan saya. Sang istri, keponakan, dan anaknya juga ikut. Hamed tak meminta bayaran untuk ini. Saya jadi terharu, akhirnya saya memberikan jilbab, yang baru saya beli di KL dan belum saya pakai, untuk istri Hamed.

Ah, moslem brotherhood amat terasa saat itu.

Note: di dekat hotel garden cukup banyak tempat makan halal. Jika bingung, tanyakan saja pada tukang taksi yang mangkal di depan hotel. Kebanyakan dari mereka adalah umat Islam, dan dengan senang hati menjawab pertanyaan.

Update: di tahun lalu sempat terjadi pertikaian antara umat Budha Mandalay dengan umat Islam. Saya tak tahu lagi kabar keluarga ini karena saya tak punya nomer mereka

BACA JUGA: NAIK BUS MALAM DI MYANMAR

Myanmar Day 4: Menikmati Kejayaan Mandalay Masa Lampau

Mandalay Royal Palace

Mandalay adalah kota terbesar kedua di Myanmar, setelah Yangon. Kota yang terletak di pinggir sungai Irawadi ini menyimpan banyak sejarah Myanmar, karena dulu Mandalay pernah menjadi ibukota dari sebuah kerajaan besar di Myanmar.

Sisa-sisa peninggalan kejayaan kerajaan itu dapat dilihat di Mandalay Palace, yang terletak tepat di jantung kota Mandalay. Layaknya kompleks istana kerajaan, bangunan yang aslinya berdiri di tahun 1857 ini dikelilingi oleh taman yang luas, benteng tinggi, dan parit raksasa. Kini, area di sekeliling istana  dijadikan markas tentara. Sementara si istana sendiri, dapat dinikmati oleh pengunjung umum.

Istana yang kini berdiri merupakan rekontruksi dari bangunan asli, yang terbakar ketika masa pendudukan Inggris. Jika melihat foto-foto asli istana ini, jelas terlihat bahwa di masa itu, Mandalay hidup makmur. Istana konon terbuat dari kayu jati yang dipenuhi detail ukiran. Namun sekarang, istana ini tak lagi menunjukkan kemakmuran itu. Lantai istana kotor dan berdebu. Padahal, istana ini sangat cantik. Jauh lebih cantik dari keraton Yogyakarta.

Baca Juga: Naik Bus Malam di Myanmar

Kejayaan Mandalay dapat pula dilihat pada bangunan-bangunan lain yang ada di bawah kaki Mandalay Hill. Di sana terdapat beberapa bangunan, seperti Shwenandaw Monastery, sebuah bangunan monastery yang terbuat dari kayu jati berukir. Bangunan yang dibangun oleh King Mingdon di abad 18 ini adalah satu-satunya bangunan di komplek Royal Palace yang selamat dari kebakaran.

Shwenandaw Monastery

Selain dua bangunan itu, terdapat pula beberapa bangunan lain yang cukup menarik di Mandalay. Kami menikmati bangunan-bangunan ini setelah makan siang, sebelum kami naik ke Mandalay Hill untuk menikmati sunset.

Sandamuni Paya. Pagoda-pagoda kecil ini berisi ayat-ayat dalam Kitab Triptaka. Satu pagoda mewakili satu ayat.

Salah satu sudut kuil di Mandalay Hill.

Salah satu sudut kuil di Mandalay Hill.

Note: Untuk menikmati Mandalay, sewalah taksi sehari penuh. Tarif taksi untuk sehari penuh (termasuk ke Mandalay Hill dan U Bein Bridge berkisar 10.000 kyats per taksi. Untuk meninjau Mandalay Hill dan beberapa pagoda di bawahnya, tarif taksi berkisar 5.000-7.000 kyat. 

Myanmar Day 4: Mengintip Pesantren Para Biksu

Malam hari, kami sudah sampai di Mandalay. Perjalanan antara Bagan dan Mandalay ternyata hanya butuh waktu 5 jam, tak terlampau lama.

Lagi-lagi, saya mengandalkan ingatan. Yang ada di benak saya hanya Garden Hotel, hotel yang katanya terletak di daerah muslim. Untungnya (lagi-lagi) supir taksi yang mengantar saya tahu hotel ini. Kami beruntung.

Garden hotel ini lumayan bersih, walaupun tak bisa dikatakan bagus. Meskipun ada jendela, tapi pemandangan yang saya dapat hanyalah tembok gedung tetangga. Kamar yang saya tempati terletak di lantai 3, yang sayangnya, tak ada lift untuk menuju ke sana.

Di lantai 5, ada roof garden. Dari roof garden ,yang sebenarnya hanya dak beton ini ,saya bisa melihat jika area ini dikelilingi masjid. Aman, pikir saya. Saya dapat mencari makanan halal dengan mudah di sini.

Baca Juga: Berkenalan dengan Kehidupan Muslim Myanmar


Keesokan harinya, kami bertolak ke U-Bein Bridge. Tempat ini adalah rekomendasi dari backpacker Prancis yang bersama-sama kami ke Mount Popa. Dia bilang, ini adalah tempat terbagus di Mandalay. Di sana terdapat jembatan kayu panjang, dan di dekatnya terdapat sekolah biksu yang cukup terkenal.

U Bein Bridge

U-Bein Bridge ini terletak di Amarapura, sekitar 40 menit dari pusat kota Mandalay. Untuk mencapai tempat ini, kami menggunakan taksi. Taksi memang satu-satunya moda yang bisa digunakan untuk mencapai tempat-tempat wisata.

U-Bein Bridge adalah jembatan kayu jati sepanjang 1, 2 km di atas Taughtaman Lake. Jembatan ini konon telah ada sejak lama, dan masih bertahan hingga sekarang. Jembatan ini sangat populer di kalangan wisatawan, terutama saat senja. Di siang hari, jembatan ini menurut saya biasa saja. Mungkin karena saya, yang asli orang Indonesia, telah terbiasa melihat jembatan kayu di mana-mana.

Hal yang lebih menarik adalah melihat Mahandagayon Monastery, yang terletak tak jauh dari jembatan. Di “pesantren” para biksu ini, kami melihat acara monks feeding, saat para biksu mendapat jatah makan siang mereka.

para calon biksu

Acara monk feeding ini berlangsung setiap hari, tepat pukul 10 pagi. Kami sampai sebelum jam 10, sehingga sempat berkeliling, melihat kehidupan para biksu di tempat ini. Tak ubahnya sebuah pesantren, para biksu ini ditempatkan dalam asrama-asrama yang berbeda. Menurut Tat, seorang biksu yang ramah menyapa kami, monastery ini adalah salah satu asrama biksu terbesar di Myanmar. Terdapat sekitar 1.500 biksu dan calon biksu yang menimpa ilmu di sini.

Masih menurut Tut, para biksu ditempatkan dalam kelas yang berbeda, sesuai dengan tingkatan mereka. Tingkatan ini juga membedakan warna baju yang mereka pakai. Para calon biksu, menggunakan baju berwarna putih. Sementara, para seniornya yang sudah menjadi biksu, menggunakan baju berwarna oranye atau merah bata. Tut mengatakan, warna baju para biksu ini sangat tergantung monastery-nya. Ada yang menggunakan warna oranye, ada pula yang menggunakan warna merah bata, seperti di Indonesia. Yang penting, warna tersebut melambangkan tanah, dan bukan warna terang.

Keseharian mereka tak berbeda jauh dengan kehidupan para santri di pesantren. Mereka mandi, belajar, mencuci baju, dan makan bersama. Acara makan bersama inilah yang diminati para wisatawan, seperti saya.

Lima menit sebelum pukul 10, terdengar suara alarm. Rupanya itu penanda bahwa para monk ini harus segera bersiap. Tepat pukul 10, terdengar lagi suara alarm yang lebih panjang. Saya, yang masih mengintip dapur para biksu segera berlari menuju jalan utama di depan uang makan. Di jalan ini ternyata telah berbaris rapi belasan biksu. Masing-masing membawa sebuah wadah aluminium besar dan sebuah serbet di tangan.

 

Para biksu ini berdiri dalam diam dengan wajah menunduk. Walaupun puluhan kamera berusaha menangkap momen ini, mereka tetap berusaha tenang dan menunduk. Ajaran rendah hati memang mendasari keseharian para biksu ini.

 

Setelah ada aba-aba, para biksu dengan rapi masuk ke area makan. Di depan ruang makan sudah berdiri 5 orang wanita pengurus monastery, yang akan memberikan makanan. Wanita pertama memberikan nasi, yang kedua memberikan sejenis kerupuk, yang terakhir memberikan roti. Tak ada lauk? Sepertinya tidak. Namun ketika mengintip ke dapur, saya sempat melihat pembuatan sayuran. Mungkin untuk makan malam nanti.

Garden Hotel
83rd and 25th Street (around the corner from nylon hotel).
Taksi dari terminal ke hotel: 2.000 kyats

Myanmar Day 3: Hujan dan Monyet di Mount Popa

Pagi ketiga di Myanmar ini awalnya akan diisi dengan mengunjungi kembali Old Bagan untuk melihat sunrise yang termahsyur itu. Tapi apa daya, dari malam hingga pagi hari, hujan turun dengan derasnya. Gagal melihat sunset, gagal pula melihat sunrise. :((

Akhirnya, kami memutuskan, kami akan mengunjungi Mount Popa, sebuah kuil yang terletak sekitar 2 jam dari Bagan. Kami menggunakan jasa tur yang disediakan di hotel, dengan tarif 4.000 kyat per orang.

Pukul 8 tepat, kami dijemput oleh sebuah minivan. Di dalam minivan itu, sudah ada 4 orang lain. Tiga pemuda dari Prancis, dan satu nenek tua dari Italia. Perjalanan awalnya berlangsung menyenangkan, langit cerah, udara tak terlalu panas. Namun semua berubah. Tiba-tiba ban minivan bocor. Kami harus menunggu 15 menit sebelum datang minivan yang baru. Cukup menyebalkan, apalagi kami melihat awan mendung sudah menggelayut di langit.

Minivan yang pecah ban

Minvan pengganti ternyata jauh lebih bagus, ber-AC dengan atap yang dapat dibuka tutup. Sayangnya, atap ini tak dapat dibuka lama karena tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Hujan terus bertahan hingga kami sampai di puncak Mount Popa. Alhasil, kami tak dapat menikmati apa-apa. Seluruh dataran Bagan, yang konon dapat terlihat dari Mount Popa, tertutup kabut tebal.

Perjalanan tambah tak menyenangkan karena di sana banyak terdapat monyet. Karena hujan, kotoran monyet ini terbawa ke mana-mana. Seperti halnya kuil lain di Myanmar, untuk masuk ke kuil ini kami diharuskan membuka alas kaki. Kebayang, kan, rasanya kaki ini seperti apa?

Karena tak mendapat apa-apa, kami semua memutuskan untuk segera kembali ke Bagan. Satu jam lebih awal dari jadwal semula. Tak apalah, dengan begini saya dan kawan saya maish punya sedikit waktu mengeksplor area sekitar penginapan, sebelum kami bertolak ke Mandalay.

What a bad day!

Myanmar Day 2: Bagan, Kota Seribu Kuil

Setelah melepas penat, saya dan kawan mmemulai perjalanan di Bagan, kota seribu kuil yang misterius. Suasana Bagan yang masih langsung lengang dan tenang mengingatkan sa akan kota-kota kecil di Jawa Tengah. I like it..

Ada banyak cara mengitari Bagan. Yang paling sering dipilih para turis adalah sepeda berdinamo. Cara ini disukai karena murah. Peminjam sepeda hanya dikenai biaya 2.500 kyat per hari. Cara ini sebenarnya menyenangkan, asalkan fisik kuat dan tahan panas. Ya, Bagan terkenal sebagai daerah yang panas, tandus dan berdebu. Terutama di Old Bagan, tempat kuil-kuil berada. Sebagian besar jalan di sana masih berupa tanah berdebu, yang akan semakin berdebu saat ada sepeda dan delman melintas.

Daripada terus terusan tertimpa debu, kami memilih cara lain yang (sayangnya) lebih mahal: naik horse cart alias delman. Delman ini bisa disewa per hari, mulai dari sunrise hingga sunset. Biaya sewanya tergantung negosiasi dengan si kusir. Biasanya berkisar antara 10.000-15.000 per delman.

Berhubung tak punya catatan sama sekali, kami pasrah saja dengan rute yang ditawarkan Pak Delman. Saya hanya mengingat beberapa nama kuil, yang sempat saya baca selintas sebelum terbang ke Myanmar, ditambah nama-nama dari peta Bagan, yang ajaibnya sempat saya cetak sebelum berangkat.

Perjalanan dimulai dari Shwezigon Pagoda, pagoda emas yang terletak tak jauh dari Terminal Bus. Konon, pagoda yang amat mirip dengan Shwedagon Pagoda di Yangon ini dibangun karena mimpi Raja. Di mimpi tersebut, Raja melihat seekor gajah putih (hewan yang disucikan) membenamkan kepalanya di dalam gundukan pasir. Nah, untuk menangkal bencana, di tempat itu dibangun sebuah pagoda.

Shwezigon Pagoda

Penjelajahan dengan delman pun dilanjutkan ke area Old Bagan, di mana kuil-kuil lama berada. Old Bagan ini cukup besar, sebenarnya tak cukup jika dijelajahi hanya dalam satu hari. Namun, mengingat pengalaman di Angkor Wat, kami tak ingin menjelajahi satu persatu kuil di sana. Kala di Angkor Wat, kami mabuk kuil, sehingga di akhir, kami tak terlalu antusias melihat kuil.

Sang kusir dan kudanya membawa kami ke sebuah kuil kecil yang saya tak ingat lagi namanya. Di kuil ini, kami bisa naik ke atas sambil melihat pemandangan. Wow, ternyata Bagan memang benar-benar kota seribu kuil. Di depan mata, yang tersaji hanyalah kuil dan kuil, dalam bentuk dan ukuran yang berbeda.

Random temple. Di atasnya ada pelataran yang bisa dinaiki.

Setelah selesai berfoto ria di pelataran candi yang panas, kusir membawa kami ke sebuah restoran vegetarian. Yeay, makan! Tak seperti di Yangon dan Mandalay, sulit menemukan restoran berlabel halal di sini. Alhasil, kami meminta pak kusir untuk membawa kami ke restoran vegetarian. The Moon, nama restoran itu. Makanannya cukup enak, tempatnya cukup nyaman, dan harganya tidak terlalu mahal. Saya tak ingat menu apa yang saya makan, yang saya ingat adalah saya minum dua gelas Lessi, sejenis yogurt yang dicampur dengan jus buah. Harganya hanya 700 kyat, dan rasanya….mantap!!

Outdoor area di The Moon.

Perjalanan dilanjutkan menuju HtilMinlo Temple. Kuil yang dibangun di tahun 1211 ini termasuk kuil yang sangat dilindungi pemerintah Bagan. Di dalam kuil ini sebenarnya terdapat banyak pahatan yang indah. Sayangnya, saat gempat besar melanda Myanmar, kuil ini runtuh. Proses rekontruksinya tidak terlalu baik, sehingga bagian dalam hanya dilapisi dengan plesteran kasar saja.

HtilMinlo Temple. Katanya, di senja hari, temple ini amat indah.

Tujuan selanjutnya adalah Ananda Temple, kuil tersuci di Bagan. Namun sebelum mencapai kuil itu, kami dibawa ke beberapa kuil lagi, yang entah bernama apa. Di kuil-kuil kecil tersebut, saya diikuti beberapa pedagang kecil. Ketika saya menolak tawaran barang mereka, mereka meminta uang Rupiah sebagai tanda mata. Dengan bahasa Inggris yang baik, mereka tak segan-segan mengobrol dan berbagi cerita.

Seperti sebuah templete, begitu dagangan ditolak, mereka akan menanyakan asal usul. Begitu dijawab Indonesia, mereka langsung sumringah, dan berkata bahwa jarang sekali orang Indonesia berkunjung ke sana, apalagi yang mengenakan hijab seperti saya. Ajaibnya, begitu dengar kata Indonesia, mereka langsung menghentikan kegiatan “memaksa”, dan berganti dengan obrolan ramah. Hal ini nampaknya tak terjadi pada turis Barat. Para pedagang cilik itu terus saja menguntit mereka. Entah apa sebabnya. Mungkin karena kedekatan emosional dengan Indonesia (sesama negara ASEAN), atau mereka pikir orang Indonesia tak punya uang banyak?

Ananda Temple berbeda dengan kuil lainnya yang terbuat dari bata, kuil ini bercat putih. Entah memang begini asalnya, atau ini akibat restorasi yang dilakukan setelah terkena gempa. Yang jelas, temple ini sejatinya memang indah. Konon, karena indahnya, temple ini sempat dijuluki sebagai Westminster Abbey-nya Burma.

Sayangnya, seperti kuil lainnya di Bagan, Ananda temple tidak terestorasi dengan baik. Elemen-elemen arsitektur yang indah seperti pahatan di dinding hilang ditelan pleseteran dan cat. Ditambah lagi perawatan yang kurang baik, membuat kuil-kuil di Bagan sangat kotor. Jauh berbeda dengan kuil-kuil di Angkor Wat.

Bagian luar Ananda Temple

Di dalam Ananda Temple ini, saya sempat bertemu seorang biksu. Awalnya saya mendengar lantunan irama dari salah satu ruang di dalam kuil. Irama merdu itu sangat mirip dengan lantunan suara Qori saat membaca ayat Al Quran. Tergerak saya untuk mendekatinya. Dengan bahasa Inggris terbata-bata, si biksu yang sedang duduk sambil membaca kitab mempersilakan saya masuk ke ruangan itu. Saya bilang, ayat yang dia baca dari kitab di depannya terdengar sangat mirip dengan lantunan kitab dari agama saya. Ia meminta saya mencontohkannya. Saya akhirnya membaca surat Al Fatihah, dengan cara yang sangat biasa. Saya, kan, bukan qoriah yang pandai melantunkan Al Quran dengan suara indah. Namun ternyata suara itu sudah cukup membuat dia kagum. Dia bilang, suatu hari, dia akan pergi ke Mandalay, mencari masjid dan mendengarkan ayat-ayat AlQuran. Ah, jadi terharu!

Biksu yang sedang membaca kitab.

Perjalanan di Bagan terus berlanjut ke beberapa kuil, dan akhirnya berakhir di Shwesandaw Temple untuk menikmati sunset. Temple ini terletak cukup tinggi dan memiliki pelataran cukup luas sehingga menjadi tempat favorit untuk menunggu matahari terbenam. Sayangnya, saat itu awan mendung menutupi tenggelamnya matahari, sehingga sunset di Bagan yang konon sangat indah itu tak dapat saya nikmati.

Note:
 – Tak ada biaya masuk ke tiap temple, tapi untuk memasuki Bagan, kita diharuskan membayar admission fee sebesar $15.
– Semua temple mengharuskan pengunjungnya membuka alas kaki, termasuk kaus kaki. Jadi lebih baik, gunakan alas kaki yang mudah dibuka.
– Hampir seluruh lantai temple dipenuhi kotoran burung yang mengering. Sediakan tissu basah untuk membersihkan kaki.

Artikel ini telah diterbitkan di Tabloid RUMAH edisi April 2016

Myanmar Day 2: New Park Hotel, Bagan

Bus malam yang kami tumpangi sampai di Bagan pagi buta, sebelum matahari keluar dari peraduannya. Begitu pintu bus terbuka, belasan supir delman merapat, mengerubuti penumpang bus yang menjejakkan kaki di bumi Bagan.

Baca Juga: Myanmar Day 1: He’s name is Ahmad

Kami memilih salah satu kusir yang kelihatannya baik. Kami minta diantarkan ke New Park Hotel, (lagi-lagi) satu-satunya hotel yang ada di ingatan saya. Hotel kecil di Bagan memang sulit sekali dibooking dari Indonesia. Bagan adalah kota kecil yang masih tertinggal, tang belum terjamah koneksi internet. Padahal, New Park Hotel ini punya situs. Dan saya sudah mencoba membuking via kanal “reservation” di situs tersebut. Tapi apa daya, situsnya tak berfungsi sebagai mana mestinya.

 

Ternyata, New Park Hotel terletak tak jauh dari terminal bus. Baru saja pantat ini menduduki kursi empuk sang delman, kami sudah sampai. Untung, di pagi buta itu ada penjaga hotel. Dan untung juga, ada satu kamar tersisa untuk kami.

New Park Hotel direkomendasikan banyak backpacker karena harganya yang tidak terlampau mahal, namun cukup baik untuk tinggal. Letaknya juga strategis, tak terlampu jauh dari terminal dan pusat turis. Sebagai informasi, Bagan terbagi menjadi tiga area yakni Old Bagan, New Bagan dan Nyaung Oo (Nyaung U). Untuk tempat tinggal, disarankan memilih Nyaung Oo karena di sana banyak terdapat fasilitas (restoran, terminal, pasar).

New Park Hotel memiliki beberapa jenis kamar. Kamar di bagian depan, yang berbalkon, dihargai sekitar 30-35 dolar semalam. Kamar yang lebih  bagus lagi berbandrol 45 dolar semalam. Kamar yang tersisa untuk kami letaknya di belakang. Lumayan, walaupun tidak sebagus yang di depan. Kamar mandinya bersih, ACnya dingin walaupun cukup berisik karena masih berupa AC lama. Yang kurang bagi saya hanya satu, ada debu di sepreinya. Bagi sebagian orang, debu ini mungkin tidak terlalu terasa. Tapi bagi saya, yang punya alergi, kehadiran debu di kasur sangat mengganggu tidur. Rasanya, kamar yang saya tempati itu belum terlalu tuntas dibersihkan.

 

Saya sempat bertemu traveler lain yang menginap di sana. Menurut mereka, kamar yang mereka tempati (yang ada di depan) kondisinya cukup baik. Tak ada komplain dari mereka mengenai kamar tersebut.

Di luar kondisi kamar, saya terkesan dengan hotel ini. Pemilik hotel ini sangat baik. Saya hanya dikenai charge satu malam, padahal saya datang di pagi-pagi buta. Kalau di hotel biasa, saya pasti sudah dikenai biaya menginap dua malam.

Oiya, hotel ini juga menyediakan jasa tur, penyewaan sepeda, pemesanan tiket bus, dan free sarapan pagi.

New Park Hotel: 
Thiripyisaya Block No.4, Bagan, Nyaung Oo, Myanmar
Telp: 062-70122.
Website: http://www.newparkmyanmar.com