12 Rekomendasi Restoran Halal di Rusia

Tidak sulit menemukan restoran restoran halal di Rusia.

Apa saja itu? Berikut daftar restoran halal di Moscow, Saint Petersburg, dan Kazan.

Ketika akan berangkat ke Rusia, saya sempat khawatir soal makanan halal. Saya pikir, akan sulit menemukan restoran halal di Rusia sehingga saya membekali diri dengan banyak mie instan.

Ternyata tidak. Jumlah umat muslim di Rusia cukup banyak, sekitar 15-20 persen dari total penduduk Rusia. Hal ini menyebabkan di tiap kota di Rusia, terutama kota besar, mudah ditemukan restoran halal.

Apa saja itu? Berikut daftar 12 restoran halal di tiga kota yang saya kunjungi di Rusia: Moscow, Saint Petersburg, dan Kazan.


Restoran Halal di Moscow

Di antara semua kota di Rusia, Moscow ini punya restoran halal paling banyak. Mungkin karena jumlah imigran muslim dari Uzbekistan dan negara stan lainnya di Moscow lebih banyak dibandingkan dengan kota lainnya.

1. Kantin di Moscow Cathedral Mosque

Restoran Halal di Rusia
Kantin di Moscow Cathedral Mosque

Ini restoran halal di Moscow yang menjadi favorit saya karena murah meriah enak. Rata-rata yang datang ke sini adalah warga lokal, sementara turis biasanya makan di  kafe yang ada di pojokan masjid.

Anehnya, harga makanan di kafe dua kali lipat daripada di kantin bawah. Padahal menurut info dari Mbak Susan, guide dan kawan saya di Moscow, kedua tempat ini punya dapur yang sama lho…

Semua makannya diletakkan di dalam etelase kaca sehingga saya bisa memilih langsung makanan yang saya suka. Tinggal tunjuk.

Ada untungnya sih makanannya disajikan di etalase begini, karena semua pelayannya tak bisa berbahasa Inggris. Dan menu yang ditulis besar-besar di dinding juga dalam bahasa Rusia. Yang hurufnya keriting ga jelas gitu.

Makanan yang tersedia di sini adalah makanan dari negara Stan. Ada plov, pasta, kentang dan lain-lain. Harganya mulai dari 150 rubel atau sekitar 30 ribu rupiah. Saya membeli kentang, pasta, dan daging sementara kawan saya membeli semacam sup plus pasta. Total pengeluaran kami berdua ditambah chai (teh) panas jadi 550 rubel atau sekitar 115 ribu rupiah.

Selain makanan utama, tersedia juga roti dan kue-kue manis untuk dessert. Saya tak mencoba ini, karena saya sudah terlalu kenyang makan pasta dan daging, plus kentang pula.

Alamat:  Pereulok Vypolzov, 7, Moscow, Russia, 129090 (jangan masuk ke dalam masjid, namun dari pintu gerbang lurus hingga menemukan tangga turun ke bawah).

2.  Toko Swalayan di Samping Moscow Cathedral Mosque

Restoran Halal di Moscow Rusia
Supermarket di sebelah Moscow Cathedral Mosque

Lokasinya persis di sebelah kantin. Di sini sebenarnya tempat penjual bahan makanan halal,  seperti daging, sosis, dan sebagainya. Namun mereka menyediakan juga roti dan martabak ala Uzbek, yang selalu jadi favorit saya saat menunggu kereta di Uzbek setahun silam.

Harga rotinya mulai dari 50 rubel atau sekitar 10 ribu rupiah. Lumayan buat bekal di jalan karena dijamin halal. Oya, di sini tak ada bangku atau kursi di sini, jadi roti dan kuenya hanya bisa dibawa alias di-take away.

Alamat:  Pereulok Vypolzov, 7, Moscow, Russia, 129090 (jangan masuk ke dalam masjid, namun dari pintu gerbang lurus hingga ke ujung).

3. Chaykhana Restaurant

Chaykhana, Restoran halal di Rusia
Chaykhana, Restoran halal di Rusia

Chaykhana Restaurant adalah restoran Uzbekistan yang ada di seberang Moscow Cathedral Mosque, di dekat lampu merah. Berbeda dengan masakan kantin di samping masjid, masakan di sini harganya lebih mahal. Jelas saja, ini restoran dengan interior yang cantik.

Menu andalannya adalah Plov dan Kebab. Beda dengan nasi plov yang biasa saya makan di Uzbekistan, nasi plov di sini berwarna kuning, dengan topping daging yang diletakkan di tengah, tidak dicampur dengan si nasi. Jangan tanya rasanya, karena bagi saya, semua nasi plov Uzbek enak rasanya.

Menu Chaykhana Restaurant
Menu yang saya pesan di Chaykhana Restaurant. Bawah: nasi plov, atas kiri lagma.

Chai (hot tea) mereka juga sangat enak, karena diberi palm sugar. Modifikasi sepertinya karena sewaktu di Uzbek, saya tak menemukan gula semacam ini. Saran saya sih, ga usah beli hot tea-nya. Mahal.

Btw, menunya ditulis dalam bahasa Rusia. Untungnya, saya agak familiar dengan makanan Uzbek, jadi bisa mengira-ngira apa makanan yang dimaksud di menu. Tapi kalau nggak paham, bisa lah minta bantuan dari mas Google Translate. 

Alamat: Ulitsa Shchepkina, 27, Moscow

Baca Juga: Solo Travelling ke Uzbekistan: Cinta dalam Sepotong Roti dan Segelas Ceri

4. Livan House

Ini adalah restoran asal Lebanon yang berada di area Red Square, Moscow. Lokasinya di dalam Mall Okhtony Ryad, mal di depan Hotel Four Season Okhtony Ryad.

Saya nggak mencoba makan di  sini, karena ketika saya akan ke sana, restoran ditutup karena covid-19. Namun restoran ini direkomendasikan oleh beberapa orang karena dekat dengan area Red Square.

Alamat: Mall Okhtony Ryad, di lantai -3 atau di lantai paling bawah, di area foodcourt.

5.  Sate di Izmailovo Market

restoran halal di Rusia
Sate halal di Izmailovo Rusia

Izmailovo Market adalah tempat untuk membeli oleh-oleh khas Rusia. Tapi ternyata di dalam pasar ini ada makanan halal juga, lho.

Makanannya berupa sate khas Kazakhtan, seperti sate ayam, salmon, jamur, kentang, domba, dll. Harganya sekitar 10-20 rubel per tusuk dan sudah termasuk roti dan minuman.

Alamat: Izmailovo Market, di sisi sebelah kanan.

Baca Juga: Ke Rusia Saat Corona: Sepinya Red Square

6. Cheburechnaya Khalyal / Чебуречная Халяль

Restoran ini lokasinya masih di area Izmailovo, namun bukan di dalam pasarnya. Ia berada di dekat stasiun Metro Partizanskaya.

Makanannya lagi-lagi adalah makanan Uzbek. Ya, rata-rata makanan halal di Moscow adalah makanan Uzbekistan. Bikin saya serasa kembali ke sana.

Saya juga tidak mencoba ini, namun tempat ini juga direkomendasikan banyak orang karena dekat dengan Hotel Alfa, Gamma, dan Beta yang jadi andalan turis Indonesia ketika berkunjung ke Moscow.

7. Kebab House

Terletak di dalam Mall Evropeyskiy, mall di area Kievskaya. Lokasi persisnya ada di lantai 4, area foodcourt. Selain di Mall Evropeyskiy, Kebab House ini juga ada di Arbat Street.


Restoran Halal di St Petersburg

Restoran  halal di St Petersburg tidak sebanyak restoran halal di Moscow. Dan karena Pandemi Covid-19 yang menyebabkan saya hampir tak bisa pulang, saya cuma mengunjungi dua restoran di sana.

8. Al Halal

Restoran Halal di St Petersburg Rusia
Tampak depan Al Halal St Petersburg

Restoran Al Halal ini berada di sebelah Saint Petersburg Mosque, kurang lebih sekitar 100m dari pintu keluarnya.  Makanan yang dijual di sini adalah makanan timur tengah seperti kebab/shawarma, namun mereka juga menjual daging halal dan berbagai barang dari Timur Tengah.

Pemilikrestoran Al Halal sangat ramah, saya sempat mengobrol dengannya. Ia  berasal dari Tangier, Maroko dan sudah belasan tahun menetap di Rusia. Saya juga  sempat menumpang solat di sana, karena masjid di sebelahya ditutup selama pandemi covid.

Restoran Halal St Petersburg Rusia
Bagian dalam Al Halal

Alamat: Kronverkskiy Prospekt, 9. Sekitar 100m ke sebelah kanan dari pintu masuk masjid.

9. Halal Cafe Brother

Saya tak datang ke sini, tapi sempat googling soal tempat ini. Halal Cafe Brat atau Halal Cafe Brother ini letaknya agak jauh dari destinasi wisata namun searah dengan stasiun kereta St Petersburg.

Halal Café Brat ini buka dari jam 11 pagi hingga 11 malam. Jenis makanan yang ditawarkan di kafe ini adalah menu tradisional ala Chechnya. Saya belum pernah coba sih makanan Chenchnya seperti apa, makanya kemarin sempat penasaran banget mau ke sini, tapi ya mesti digagalkan karena harus mengantar kawan saya ke bandara. 

Alamat: Mytninskaya Street No 31. Kalau dari Hermitage, sekitar 30 menit naik metro line 11.

10. Khalol Cafe

Khalol Cafe ini selalu muncul kalau saya gugling soal makanan halal di St Petersburg.  Saya juga tidak ke sini, namun ini direkomendasikan oleh beberapa situs.

Makananannya lagi-lagi makanan khas Uzbekistan. Memang, populasi masyarakat Uzbek di sini cukup banyak, yang membuat saya selalu diledek kawan-kawan saya: “ga move-on banget lo ama Uzbek”. Ya gimana yaa….

Tampatnya cukup besar dan terdapat musala di dalam restoran. Restoran ini sering jadi favorit banyak wisatawan muslim yang berkunjung karena selain menyajikan menu tradisional, harganya pun terjangkau.

Alamat: di Jalan Apraksin nomor 7, sekitar 1 km dari Kazan Kathedral.

Baca Juga: Restoran dan Makanan Halal di Bukit Bintang


Restoran Halal di Kazan

Kazan adalah wilayah khusus di Rusia yang didominasi muslim. Jumlah masjid di sini cukup banyak, sehingga tak sulit menemukan makanan halal di sini.

Saya membatalkan perjalanan saya ke Kazan karena harus balik secepatnya ke Indonesia, namun saya sempat mencari rekomendasi makanan halal di Kazan.

Jumlah yang saya tulis di sini memang hanya dua, karena itu yang banyak beredar di internet. Namun menurut kawan saya, banyak restoran kecil di dekat penginapan dan masjid  di Kazan yang menjual makanan halal.

Ini dia hasil rangkuman saya.

11. Chak Chak / Чак-чак

Chak-Chak adalah snack madu khas Tatarstan. Namun di kafe ini tidak hanya menjual snack tersebut namun juga terdapat makanan berat dan berbagai macam cake. Salah  satu cabangnya terletak di Bauman Street. Tokonya cukup enak untuk ngobrol karena tempatnya luas.

Alamat: Bauman St, 7/10

12. Tubatay / Тюбетей

Tubatay adalah resto makanan lokal dengan branch yang tersebar cukup banyak di Republik Tatarstan termasuk di Kazan. Modelnya semacam fast food chain yang terang, ramai, dan nyaman. Enaknya, semua menunya tersedia dalam bahasa Inggris sehingga mudah memilihnya.

Alamat: Kremlyovskaya St, 21, sekitar 600 meter dari Kazan Kremlin (Blue Mosque).


TIP

Makan Murah Meriah di Stolovaya

Stolovaya adalah kantin dalam versi Rusia. Berbeda dengan restoran yang makanan sesuai menu dan baru dimasak saat kita pesan, di Stolovaya makanan sudah tersaji.

Kita tinggal memilih mana yang cocok untuk kita. Mirip warteg atau warung padang lah kalau di Indonesia.

Tidak semua makanan di Stolovaya halal. Tapi mereka biasanya menjual salad, buah-buahan potong. Bisa pilih itu untuk amannya. 

Restoran dan Makanan Halal di Bukit Bintang

Bukit Bintang juga terkenal sebagai surga kuliner di Kuala Lumpur. Salah satu jalan yang termahsyur adalah Jalan Alor. Namun kebanyakan makanan di sana adalah makanan Chinese food yang saya tak yakin kehalalannya.

Namun jangan khawatir, banyak makanan dan restoran halal di Bukit Bintang buat traveler muslim yang datang ke KL. Beberapanya sering saya datangi, bahkan jadi langganan setiap saya “mudik” ke KL.

Bukit Bintang adalah tempat favorit para pelancong yang datang ke Kuala Lumpur., termasuk saya. Saya lebih sering memilih kawasan ini sebagai tempat menginap karena kawasan ini lengkap. Di sini ada banyak mal, toko, dan cafe. Lokasinya juga strategis, mudah dijangkau dengan monorail, MRT, ataupun Bus GoKL.

Baca Juga: Backpacking ke Taiwan: Berburu Makanan Halal di Taipei

Bukit Bintang juga terkenal sebagai surga kuliner di Kuala Lumpur. Salah satu jalan yang termahsyur adalah Jalan Alor. Namun kebanyakan makanan di sana adalah makanan Chinese food yang saya tak yakin kehalalannya.

Namun jangan khawatir, banyak makanan dan restoran halal di Bukit Bintang buat traveler muslim yang datang ke KL. Beberapanya sering saya datangi, bahkan jadi langganan setiap saya “mudik” ke KL.

Inilah beberapa restoran halal di Bukit Bintang yang sempat saya coba.

Nasi Ayam Chee Meeng Bukit Bintang

Nasi Ayam Chee Meng
Nasi Ayam Chee Meng

Awalnya sempat ragu apakah chinese restaurant ini halal atau tidak, tapi pas sampai di depan resto saya melihat logo halal besar di samping nama restonya. Kami pun lega dan tidak khawatir lagi mengenai kehalalan makanan di resto ini.

Aneka makanan tersedia di resto ini, namun yang paling khas ya nasi ayamnya itu. Harga satu set nasi ayam paha adalah RM 13. Rasanya enak, dagingnya lembut dan bumbunya terasa sampai ke dalam meskipun daging ayamnya cukup tebal.

Suasana resto cukup ramai karena saya ke sana pas jam makan malam sekitar pukul 19.00, dan kebetulan malam minggu pula. Meskipun ramai tapi pelayanan di resto ini terbilang cukup cepat. Pencatatan order pun cukup canggih, pelayanan menuliskan order makanan kami melalui aplikasi di tablet. Saat melihat gambar logo resto ini di dinding, saya baru tahu kalau usia resto ini sudah berdiri sejak tahun 1965. Wah, sudah lumayan tua juga ya ternyata.

Oiya, resto ini tutup jam 9 malam. Jadi order terakhir kira-kira jam 8 malam deh.

Nasi Lemak Alor Corner

Makanan Nasi Lemak Halal di Bukit Bintang
Begini penampakan Nasi Lamak Alor Corner

Nasi Lemak Alor Corner ini tempat favorit saya untuk sarapan. Selain rasanya memang enak, saya belum nemu tempat sarapan lain di sini yang buka di bawah jam 8 pagi. Maklum, saya biasanya sudah cabut dari hostel sekitar jam 7.30.

Letak Nasi Lemak Alor Corner tak jauh dari KFC Bukit Bintang, di pojokan menuju Jalan Alor. Bentuknya berupa tenda non-permanen, di sebelahnya ada kursi-kursi dan meja plastik untuk pengunjung yang makan di sana.

Menu utama yang ditawarkan di Nasi Lemak Alor Corner ini adalah nasi lemak dengan lauk beraneka ragam yang bisa dipilih sesukanya. Ada ayam, daging, perkedel, kentang pedas, tahu, tempe, telor, udang, cumi dan banyak lainnya. Setiap ke sini, pasti bingung nentuin mau makan lauk yang mana.

Oiya, porsi nasi lemak alo corner ini juara, banyak banget!! Tapi bisa pesan nasinya setengah porsi aja, seperti yang selalu saya lakukan. Harganya juga nggak terlalu mahal. Nasi lemak plus ayam goreng sekitar 5RM, nasi lemak dengan telor hanya 3 RM. Murah meriah kenyang.

China Lanzhou Mee Tarik

China Lanzou Mee Tarik

Di sebelah Nasi Ayam Chee Meng ada restoran china halal. China Lanzou Mee Tarik namanya. Saya datang ke sini sebenarnya tak sengaja. Awalnya saya ingin makan di Nasi Ayam Chang Mee namun ternyata restoran tersebut tutup. Akhirnya saya melipir ke restoran di sebelahnya yang tampak menarik dan punya logo halal di depannya (walau logonya dibuat sendiri, bukan dari pemerintah Malaysia).

Restoran ini menjual makanan khas China Lanzhou, yakni daerah di Timur Laut China yang banyak dihuni muslim Hui. Menu khasnya adalah mie tarik, mie yang dibuat dengan cara ditarik-tarik.

Di depan restoran ini bisa diliat koki yang sedang membuat mie. Tapi berhubung saya sudah lapar, saya ga minat melihatnya.

Kuliner halal bukit bintang
Maknan di China Lanzou Mee Tarik

Saya dan kawan-kawan memesan mie tarik daging (braised beef noodle), satu mie lagi yang saya lupa namanya, sate, dan dumpling. Untuk dimakan berempat. 

Rasa mie braised beef noodle-nya enak, saya suka kuahnya yang manis gurih. Tapi mie satu lagi yang saya lupa namanya itu rasanya biasa saja, mirip indomie di rumah. Dumplingnya juga lumayan enak, dan isinya bisa mix beberapa rasa.

5 Makanan dan Restoran Halal di Tbilisi Georgia

Georgia adalah negara Kristen Ortodok yang 80 persen penduduknya menganut agama ini. Hanya 9 persen yang menganut Islam, terutama di bagian selatan yang berbatasan dengan Azerbaijan.

Walaupun didominasi kristen, ternyata banyak resto yang memajang tulisan halal di sini. Termasuk di area Gudauri dan Kazebgi, dua tempat wisata ski dan salju yang terkenal di Georgia. Apa saja makanan halal yang sudah saya coba?

Georgia adalah negara Kristen Ortodok yang 80 persen penduduknya menganut agama ini. Hanya 9 persen yang menganut Islam, terutama di bagian selatan yang berbatasan dengan Azerbaijan.

Walaupun didominasi kristen, ternyata banyak resto yang memajang tulisan halal di sini. Termasuk di area Gudauri dan Kazebgi, dua tempat wisata ski dan salju yang terkenal di Georgia. Walau harganya lebih mahal dibanding restoran non-halal, masih menjual wine dan bir, dan wallahuallam itu daging belinya di suplier halal apa nggak, paling nggak mereka sudah mencoba menyediakan menu non-pork dan memasak makanan tanpa alkohol.

Baca Juga: Solo Backpacking ke Georgia: Antara Diwan Hotel, Indomie, dan Pasta Italia

Banyaknya restoran halal ini disebabkan sekarang ini banyak penduduk Saudi yang berwisata ke sini. Georgia punya destinasi salju yang lebih murah dari Eropa, yang diminati penduduk Saudi yang selalu mencari yang adem macam Puncak. Pemerintah Georgia emang giat banget mempromosikan negaranya ke Saudi, termasuk dengan membuka jalur penerbangan langsung dari Jeddah ke Tbilisi dan menggratiskan visa buat mereka.

Nah, ini beberapa restoran dan makanan halal di Tbilisi yang sempat saya coba

Nayeb Halal Persian Iranian Restaurant

Sesuai namanya, restoran ini dimiliki oleh orang Iran. Pelayannya pun orang Iran. Pengunjungnya juga banyak yang orang Iran. Kecuali saya.

Harga makanan di Nayeb Halal Persian Iranian Restaurant memang mahal, mulai dari 12 Lari (sekitar 50 ibu rupiah), tapi jauh lebih murah dibanding harga Taj Mahal Restaurant. Maklum, restoran halal di Tbilisi hanya ada beberapa, sehingga harganya jadi lumayan mahal.

Menunya lumayan bervariatif, ada masakan ala Iran, Timur Tengah, dan masakan asli Georgia.

IMG_20190611_184335-01.jpeg
Interior Nayeb Persian Halal Restaurant

Pertama kali ke sini, saya memesan nasi biryani. Harganya setelah pajak 15 lari, sekitar 75ribu rupiah. Porsinya lumayan besar, bisa buat dua orang. Saya cuma berhasil makan setengahnya, dan setengahnya lagi saya bungkus buat makan malam. Wkwk, iritisasi.

Nasi Biryani
Nasi Biryani di Nayeb Halal Persian Iranian Restaurant

Kali kedua, saya memesan Khinkali, semacam dumpling isi daging dan sayuran khas Georgia. Saya sebenarnya sudah naksir ini dari awal saya sampai di Tbilisi, tapi saya ga berani makan. Takut ga halal.

IMG_20190612_225508-01
Khinkali

Buffet Shawarma Halal

Ini sebenarnya tak sengaja saya temukan, saat sudah capek jalan dan pengen ngaso sambil minum chai (teh), saya liat ini. Bentuknya bukan restoran, tapi semacam kedai permanen di sebelah taman.

Menunya ngga banyak, cuma kebab, kentang goreng dan chicken wing. Sebenarnya saya bosen makan kebab, tapi chicken wingnya ternyata sudah habis. Mau ga mau. Saya lupa harga kebabnya berapa. Tapi plus chai harga totalnya jadi 11 lari.

IMG_20190611_134818-01.jpeg


Baca Juga: Solo Backpacking ke Georgia: Rekomendasi Rute di Old Town Tbilisi

Bawa Makanan Sendiri

Tapi, atas nama irit dan malas nyari restoran halal, saya cuma makan di restoran saat makan siang dan kalau bersisa dimakan waktu malam. Selebihnya, saya beli roti, buah, dan jus di supermarket untuk sarapan pagi dan kalau perlu saya masak nasi instan di microwave. Nasi instan ini saya titip ke teman dari Korea. 

IMG_20190612_080053-01.jpeg

 

Backpacking ke Taiwan: Jajanan Halal di Taipei Night Market

Taipei terkenal dengan night marketnya yang penuh dengan makanan. Ada Shilin Night Market, Shida Night Market, Raohe Night Market, dan Gongguan Night Market. Semua night market itu menjual banyak makanan, yang sayangnya kebanyakan tak halal. Tapi jangan khawatir, masih ada beberapa makanan yang bisa kita makan. 

Udah baca tulisan saya soal restoran halal di Taipei? Nah, selain makan di restoran-restoran itu, saya juga jajan lhoo…

Taipei terkenal dengan night market-nya yang penuh dengan makanan. Ada Shilin Night Market, Shida Night Market, Raohe Night Market, dan Gongguan Night Market. Semua night market itu menjual banyak makanan, yang sayangnya kebanyakan tak halal. Tapi jangan khawatir, masih ada beberapa makanan yang bisa kita makan.

DSCF1707.JPG

DSCF1802.JPG

Bersama Sarah, kawan saya yang sedang belajar di sana, saya mencicipi beberapa makanan halal di Night Market Taipei. Yuk intip.. 

1. Bola-Bola Ubi

DSCF1685.JPG

Ini bukan restoran, tapi nama makanan yang banyak dijual di street food-nya Taipei. Kata Sarah, ini digoreng dengan minyak biasa, bukan minyak babi, sehingga insyaAllah halal. Bola ubi ini enak banget, dalamnya kopong, sehingga renyah dan manis. Enaknya sih dimakan sewaktu hangat.

Yang ini saya beli di Shinlin Night Market. Harganya? Lupa, tapi ga terlalu mahal dan lumayan mengenyangkan.

2. Pancake

Saya tak tahu nama sebenarnya dari makanan ini, tapi rasanya seperti kue pukis berbentuk bulat dengan isian yang berbeda-beda. Ada isian kacang merah, cokelat, keju, dan sebagainya. Hampir di semua street market menjual ini dengan harga murah.

3. Martabak

Jujur, saya tak tahu apa namanya. Sarah sebenarnya sudah mengatakannya, tapi yaa namanya susah untuk diingat. Semacam martabak mesir yang terbuat dari campuran tepung dan sayuran. Tanpa ada daging di dalamnya.

DSCF1700.JPG

4. Tea Egg

Ini jajajan yang bisa dibeli di 7-11 manapun. Semacam telur pindang yang direbus dalam air teh hitam dan jamu-jamuan herbal yang saya tak tahu itu apa. Konon, telur teh ini berguna bagi kesehatan dan amat popular di Taiwan dan China. Rasanya ga jauh beda dengan telur pindang biasa, karena katanya telur pindang memang mengadaptasi dari teh telur ini.

Image result for tea egg taiwan

5. Peanut Ice Cream Spring Roll

Ini sebenarnya adalah makanan yang terkenal di Jiufen Old Street, ga ada di night market. Makanan ini mirip dengan lumpia basah: dibungkus kulit lumpia. Yang membedakannya adalah isian dalamnya. Kalau lumpia isinya sayuran dan rebung, Peanut Ice Cream Spring Roll ini berisi kacang tanah yang dihaluskan dan es krim. Rasanya paduan asin, manis gitu deh.

 

DSCF1771.JPG

Sebenarnya masih ada makanan lain yang sangat khas Taiwan yakni Stinky Tofu. Sesuai namanya ini adalah kembang tahu yang berbau. Karena baunya itu, saya ga mau makan walaupun katanya sih, rasanya enak banget.

Ada yang mau nambahin?

Backpacking ke Taiwan: Berburu Makanan Halal di Taipei

Taipei memang terkenal dengan street food dan night marketnya. Namun, bagimana dengan kehalalannya? Untunglah sewaktu ke sana, saya ditemani oleh Sarah, adik ipar teman saya, yang sedang mengambil kuliah S2 di sana. Dialah yang menunjukkan di mana saya bisa membeli makanan halal di Taipei dan sekitarnya.

Ketika mencoba gugling soal makanan halal di Taipei, Taiwan, saya cukup suprise. Ternyata tak terlalu susah menemukan makanan halal di Taipei.

Siapa yang tak kenal dengan Shinlin, stall makanan ringan yang hampir ada di setiap mal. Stall ini menjual ayam yang dipotong kecil-kecil lalu diberi bubuk bumbu dan dimakan dengan menggunakan tusuk sate. Atau bubble tea, minuman teh dicampur susu yang diberi topping buble jelly di dalamnya. Nah, kedua makanan tersebut adalah street food khas Taiwan, yang katanya wajib dicari saat berkunjung ke Taiwan.

Bagimana dengan kehalalannya? Untunglah sewaktu ke sana, saya ditemani oleh Sarah, adik ipar teman saya, yang sedang mengambil kuliah S2 di sana. Dialah yang menunjukkan di mana saya bisa membeli makanan halal di Taipei dan sekitarnya.

Baca juga: Lost in Translation in Taichung

Berikut beberapa restoran dan makanan halal di Taipei yang sempat saya cicipi.

1. Chang Beef Noodle Shop

Salah satu makanan yang wajib dicoba di Taipei adalah Beef Noodle, sejenis mie dengan kuah kaldu bening dan irisan daging. Di mana-mana bertebaran tempat makan beef noodle ini, tapi kebanyakan tak halal. Nah, Chang Beef Noodle Shop ini menghadirkan mi halal dengan kuah kaldu sapi. Rasanya lezat dan potongan daging sapinya empuk banget. Selain mie, mereka juga menyajikan pangsit isi daging rebus dan pangsit isi daging goreng.

Restoran ini terletak di No. 21, Yanping South Road, Zhongzheng District, Taipei City. Tak jauh dari Ximending area, pusat perbelanjaan anak muda Taipei. Di dinding restoran penuh dengan kaligrafi bertuliskan ayat AlQuran. Ada logo halalnya juga di depan pintu restorannya.

Beef Noodle Halal Taiwan

Makanan halal Taiwan
Di depannya dijual banyak camilan, tapi saya ga coba sih..

 

2. Fried Chicken Master Gongguan Night Market

Sarah mengajak saya ke salah satu night market kecil dekat kampusnya. Gongguan Night Market namanya. Di sini ada beberapa stall makanan, salah satunya Fried Chicken Master. Restoran fast food ala Taiwan ini memiliki sertifikat halal dari komunitas muslim Tiongkok. Di sana ada taiwanese street food yang tersohor, seperti chicken fillet, chicken pop corn, kentang goreng, dan sebagainya.

Image result for fried chicken master gongguan
Makanan-makanan di Friend Chicken Master. Foto ambil dari DanielFoodDiary.com. Lupa foto-foto saking lapernya

Fried Chicken Master ini beralamat di No. 158, Sec. 3,Tingzhou Road, Zhongzheng District, Taipei. Letaknya satu blok di seberang Gongguan Station. Restoran ini ada di beberapa cabang, tapi yang saya coba adalah di sini. Dan restoran ini ga punya tempat duduk, jadi cuma bisa takeaway ya..

3. At Taqwa Musolla and Restaurant di Ruifang

Ini sebenarnya bukan berada di wilayah Taipei, tapi sudah di wilayah Ruifang. Saya mampir ke sini sebelum menuju Juifen. Restoran ini letaknya sekitar 500m dari Stasiun Kereta Ruifang. Mesti berjalan kaki memang, namun sepanjang jalan menuju restoran ini akan ada deretan toko yang menarik buat dilihat. Dari luar tampilan restoran ini memang tidak terlalu mengesankan, sangat sederhana. Makanan yang tersedia juga sangat sederhana, yakni baso, indomi, telur dadar, ikan goreng, dan beberapa makanan Indonesia lain. Tapi lumayan lah buat mengisi perut sebelum datang ke Jiufen Old Street.

Di sini juga tersedia musala, jadi bisa numpang selonjoran kalau capek. Dan ada juga barang-barang merek dari indonesia. Kalau akan menuju Jiufen Old Street menggunakan bus, setelah makan tinggal menyebrang ke perempatan di dekatnya. Di depan warung kecil ada tempat perhentian bus menuju Jiufen.

Lokasi restoran halal di Ruifang
Lokasi restoran halal di Ruifang

Baca juga: Jajanan Halal di Night Market Taipei

Dimsum Halal di Hongkong

Kalau gugling soal makanan halal di Hongkong, akan muncul sederetan nama restoran halal di sana. Mulai dari restoran milik orang India, kebab milik imigran Turki, ataupun Warung Malang yang merupakan restoran murah meriah milik orang Indonesia di Causeway Bay. Namun kali ini, saya mencoba makan makanan kedoyanan saya yang memang berasal dari Cina: dimsum.

Bersama Singapore Airline dan Kompastravel, saya mendapat kesempatan terbang ke Hongkong untuk menikmati kota pelabuhan ini. Ini salah satu tulisan saya tentang Hongkong.

Kalau gugling soal makanan dan restoran halal di Hongkong, akan muncul sederetan nama restoran dan makanan halal di sana. Mulai dari restoran halal milik orang India, kebab milik imigran Turki, ataupun Warung Malang yang merupakan restoran murah meriah milik orang Indonesia di Causeway Bay. Namun kali ini, saya mencoba makan makanan kedoyanan saya yang memang berasal dari Cina: dimsum.

Sebenarnya, restoran dumpling dan dimsum bertebaran di Hongkong. Ya, macam warung padang di Indonesia lah. Namun restoran yang menyajikan dimsum halal, setahu saya hanya satu ini: Islamic Centre Canteen namanya. Letatknya di daerah Wan Cai Hongkong Island, tak jauh dari Causeway Bay.

Saya tahu restoran halal ini dari kawan saya yang tinggal di Hongkong. Dia mengajak saya bertemu di sini, makan siang sambil ngobrol cantik. Alamatnya sebenarnya jelas, dan sebelumnya saya sudah gugling sebenarnya cara menuju ke sana. Namun bukan saya namanya kalau tak nyasar.

Kalau menurut informasi yang sempat saya gugling, dari Tsim Tsa Tsui (saya menginap di sana) saya seharusnya naik MRT ke Causeway Bay, keluar di Exit A, lalu naik tram dan turun di Tonochy. Atau naik star ferry/ MRT ke Central, dan naik tram ke perhentian yang sama. Namun saya malah ambil star ferry ke WanChai dan berniat jalan kaki dari sana. Sebenarnya jalur ini oke saja menurut peta, tapi ternyata ada pembangunan jalan di sana dan saya tak bisa menyebrang. Dan semuanya berakhir dengan saya nyasar karena salah naik bus.

Baca juga: Makanan Halal di Jepang


Islamic Center Canteen ini terletak di Islamic Centre, sebuah gedung pusat kajian sekaligus masjid. Tak seperti masjid Kowloon yang berkubah dan berminaret, gedung ini hanya berupa gedung kotak berwarna putih dengan jendela-jendela khas Islam berwarna hijau. Bentuk gedung yang nyaris sama dengan yang lain inilah yang juga turut andil dalam menyebabkan saya tersasar.

Kantin terletak di lantai 5. Ketika saya datang pukul 11.00, tak tampak keramaian di dalam masjid. Hanya ada beberapa orang yang kelihatannya keturunan Turki. Namun hal yang berbeda terlihat begitu lift terbuka. Di balik pintu kaca terlihat belasan meja bulat dan bangku yang penuh dengan umat muslim dari berbagai negara. Di sisi kanan, tampak  sebuah pantry besi yang menyajikan beragam menu dimsum. Omaigod!

https://media-cdn.tripadvisor.com/media/photo-s/09/2e/a7/e8/went-for-lunch-today.jpg
Sumber: tripadvisor. Saking lapar dan kalapnya, saya lupa foto!

https://d2iq9gqtfwsete.cloudfront.net/wp-content/uploads/2015/02/Halal-dim-sum-Cedric-Sam.jpg?x10225
Rasa dimsum di sini enaaak… Sumber: halal will travel will

Ketika saya tiba, Anis (kawan saya) sudah membelikan beberapa menu. Ada hakau, dimsum udang, dan beberapa menu lainnya. Namun ia memaksa saya memesan beberapa menu lagi, dan langsung saya sanggupi. Hahaha…….saya sih suka rela dipaksa beli makanan lagi. Dan pada akhirnya, di meja kami tersaji 6 jenis dimsum yang berbeda. Dan satu porsi dimsumnya terdiri dari 3-4 potong. Hmm, kebayang kan penuhnya perut ini?

PS: Saking banyaknya menu yang dipesan, saya sempat membungkus satu porsi dimsum, dan masih enak lho rasanya ketika saya baru memakannya 5 jam kemudian.

Islamic Centre Canteen: 5/F, Masjid Ammar And Osman Ramju Sadick Islamic Centre, 40 Oi Kwan Road, Wan Chai, Yat Sin St, Wan Chai, Hong Kong

Jam Buka: 10.00-17.00, Harga Dimsum: Sekitar 11-15 dolar.

Mau tahu soal Hongkong yang lain? Baca beberapa artikel di All About Hongkong

Tip Mencari Makanan Halal Saat Traveling

Saat traveling, backpackeran, ataupun jalan-jalan ke luar negeri, mencari makanan halal bagaikan sebuah PR yang terkadang sulit. Apalagi kalau traveling ke negara di mana agama Islam menjadi agama minoritas.

Namun, di manapun berada, makanan halal tetap yang utama. Bagaimana cara menemukan makanan halal ketika traveling?

DSCF1113

Saat traveling, backpackeran, ataupun jalan-jalan ke luar negeri, mencari makanan halal bagaikan sebuah PR yang terkadang sulit. Apalagi kalau traveling ke negara di mana agama Islam menjadi agama minoritas.

Namun, di manapun berada, makanan halal tetap yang utama. Bagaimana cara menemukan makanan halal ketika traveling? Simak tip yang saya padukan dari pengalaman saya, Ratu Anindita (presenter, istri Mario Iriwinsyah), dan Chef Herman (pendiri Chef Halal dan Dapurhalal.com). Saya bertemu mereka dalam acara Women’s Day yang diselenggarakan Hijup Jumat lalu. Inilah tipnya

1. Browsing soal Restoran Halal 

Info soal makanan halal bisa dicari dari blog-blog orang yang sudah pernah pergi ke sana (blog ini juga tentunya! Lihat KATEGORI HALAL FOOD yaa). Selain itu, ada beberapa situs yang biasa saya gunakan ketika mencari makanan halal, antara lain halal will travel will. Jika bergabung di komunitas, baik lokal maupun internasional, jangan ragu bertanya. Pasti akan ada yang menjawab!

Jangan seperti yang saya lakukan ya, ketika dulu pertama kali jalan-jalan di London. Gara-gara waktu mepet, saya ga browsing apa-apa soal restoran halal. Alhasil, di hari terakhir di sana, baru saya sadari kalau di depan Tune Hotel yang saya inapi ada restoran halal milik orang Mesir. Hadeeeh….

Baca Juga: RESTORAN HALAL DI JEPANG 

2. Cari Masjid

Biasanya di sekitar masjid terdapat komunitas muslim dan restoran halal. Seperti halnya di Niu Jie Mosque di Beijing, di sekitarnya ada makanan restoran dan supermarket halal (cari yang ada tulisan arabnya ya). Di Seoul, makanan halal bisa dicari di sekitar Masjid Itaewon. Di Guilin, makanan halal ada di area dekat Chongsan Guilin Mosque.

Kalaupun tak menemukan restoran, biasanya di mesjid ada orang yang bisa ditanyai. Kalau beruntung, kamu bisa diajak mampir dan makan gratis di rumah mereka! (wkwkw…ini jangan ditiru ya, tapi lumayan kan buat irit ongkos makan).

DSCF1119.JPG
Chongsan Guilin Mosque. Di sebelahnya ada restoran halal. Di sekitarnya juga ada restoran halal dan toko roti halal. Yang jual baiiiiiiknya luar biasa.

3. Cari Restoran Seafood atau Vegetarian

Jika tak menemukan restoran halal, atau restorannya letaknya jauh dan kamu sudah  kelaparan berat, carilah restoran seafood dan belilah menu yang sederhana alias dimasak dengan tidak macam-macam. Misalnya ikan bakar, ikan goreng, cumi bakar. Jangan membeli menu yang melibatkan proses masak yang kompleks, apalagi yang tak familiar, karena Menurut Chef Herman menu yang dimasak dengan sederhana umumnya aman dari bahan haram (alkohol, sake, arak, minyak hewani, dsb). Jika tak yakin, minta sang chef untuk memasak makananya tanpa arak atau alkohol.

Bagaimana dengan restoran vegetarian. Apa tidak ada kemungkinan bahan haram digunakan di restoran vegetarian? Mengutip pendapat Lukmanul Hakim, Dirut Eksekutif LPPOM MUI seperti yang dilansir oleh Republika.com, sebelum makan di restoran vegetarian, lihat dulu yang dianut pengelola restoran tersebut. Ada restoran vegetarian yang moderat, masih membolehkan penggunaan susu dan bahan turunan hewani. Jenis restoran seperti inilah yang harus dihindari karena bisa saja mereka menggunakan bahan turunan hewani yang haram, misalnya gelatin.

4. Cari Supermarket dan Makan Buah

Ini selalu saya lakukan saat darurat dan untuk mengganjal perut, sebelum menemukan restoran halal.  Atau untuk mengganti menu makan malam. Bisa sekalian diet kan?

DSCF7567.JPG
penjual buah di Luang Prabang, Laos. Cerita soal Luang Prabang bisa dibaca di sini  yaa

5. Cari Menu yang Kira-Kira Tidak Haram di Restoran Fastfood

Upaya terakhir, kalau tidak menemukan ke-empat hal di atas adalah dengan mendatangi restoran cepat saji lalu memesan makanan yang kira-kira tidak dimasak bercampur dengan menu haram. Misalnya, jika di MCD saya memilih memakan kentang goreng dan pancake. Sambil baca bismillah tentunya 😀

6. Minta Staf Hostel Menuliskan Kata-Kata No Pork dan No Alkohol

Ini yang selalu saya lakukan kalau traveling ke negara-negara yang penduduknya sulit berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Apalagi negara yang hurufnya keriting alias bukan huruf Latin. Saya minta staf hostel/hotel menuliskan kata-kata dalam bahasa lokal yang isinya bahwa saya muslim dan tidak makan babi, anjing, dan makanan yang mengandung alhokol. Kalau lupa, atau nggak enak hati, bawa aja gambar babi dicoret 😀

P1390579.JPG
Tulisan yang saya dapat dari muslim di Myanmar. Katanya artinya: Saya muslim Indonesia, tidak makan menu babi.  Cerita saya bertamu ke sekolah muslim di Myanmar dapat dibaca di Berkenalan dengan Kehidupan Muslim Myanmar

7. Bawa Makanan Halal dari Indonesia

Selain 6 hal di atas tadi, saya selalu membawa ransum halal dari Indonesia, untuk berjaga-jaga jika sulit menemukan makanan halal. Biasanya, saya membawa susu diet pengganti sarapan agar kenyang di pagi hari, mie instan, bubur instan (walaupun rasanya tak terlalu enak). Jika memungkinkan mencari nasi atau sumber karbohidrat lain, saya membawa abon sapi.

Di beberapa negara, ada beras instan yang bisa dimasak dengan cara direbus di panci. Biasanya ada di negara-negara Eropa. Sementara di Korea, ada nasi instan yang tinggal dihangatkan di microwave.

Nah, biar gampang masak, saya lebih suka tinggal di apartemen atau hostel yang ada dapurnya. Atau kalau kepepet, ya bawa rice cooker.

Ada yang mau nambahin?

Restoran dan Makanan Halal di Jepang

Kali pertama berkunjung ke Jepang, saya sulit menemukan restoran dengan makanan halal di Jepang.

Alhasil, saya dulu cuma mengandalkan onigiri berisi telur atau onigiri kosong dengan campuran kacang merah, plus susu, plus lauk pauk yang saya bawa dari rumah.

Kini, enam tahun kemudian, menemukan restoran halal di Jepang tidaklah sulit. Jepang memang mulai serius melirik dan menggarap pangsa pasar muslim, sehingga restoran halal mulai bermunculan terutama di kota-kota besar seperti Kyoto, dan Tokyo.

Ini dia hasil perburuan restoran halal di kota Kyoto, Tokyo, Kanazawa dan Kawaguchiko.

Restoran Halal di Kyoto

Ada 3 restoran halal yang berhasil saya temukan di Kyoto.

1. Restoran Ayam-Ya.

Lokasinya sekitar 600m dari stasiun Kyoto.  Restoran ini menyediakan menu khas Jepang seperti Ramen dan Nasi Ayam Karage. Harganya sekitar 680-800 Yen per mangkuk.

https://media-cdn.tripadvisor.com/media/photo-s/08/dc/ce/5d/restoran-ramen-halal.jpg
Tampak muka Ayam-Ya Restoran

Kami memesan Spicy Miso Ramen, Ramen Soy Sauce, dan Nasi Karage. Menurut saya, yang juara adalah Spicy Ramennya. Rasanya cukup enak, potongan ayamnya banyak, cuma kurang pedas.

Wkwk, dibandingin dengan ramen di Indonesia pasti jauh sih pedesnya. Kalau mau lebih pedas, sebenarnya bisa tambah extra chili, tapi mesti bayar lagi siih…

https://i2.wp.com/www.halalmedia.jp/wp-content/uploads/2015/08/116.jpg
Spicy ramen

Yang perlu diingat, tempat ini nggak sepanjang hari dibuka. Mereka tutup di hari Minggu dan National Holiday. Mereka hanya buka pada pukul 11-15.00 siang (last order setengah jam sebelumnya), lalu jam 18.00-22.00.

Awalnya saya tak tahu ini, saya datang jam 14.33. Untung sang pelayan yang berasal dari Sunda masih mau menerima order saya, mungkin karena muka saya melas banget kali ya..

Ayam-Ya ini punya satu cabang lagi, letaknya di Karasuma (dekat Shijo Karasuma Station). Beda dengan yang yang dekat Stasiun Kyoto, restoran yang di sini nyaris tak terlihat.

Letaknya di gang kecil, dan menyatu dengan restoran bernama Miki (kalau saya tak salah ingat ya). Saya mesti bolak-balik 3 kali, dan baru menemukan restoran ini…..yang ternyata tutup!  Nasiiib…

PS: Ayam-Ya Kyoto Station ini punya musala dan toilet yang cukup bersih.

Baca juga: Dimsum Halal di Hongkong

2. Narita Restoran

Restoran ini amat terkenal di Kyoto. Letaknya di daerah Gion, dan kalau gugling di GPS pasti langsung ketemu. Ada dua restoran halal yang bersebelahan, yakni Naritaya Yakiniku Halal Restaurant dan Naritaya Ramen Halal Restaurant.

Saya menskip Yakiniku Restoran karena harganya cukup mahal (mulai dari 1.200 Yen). Saya lebih memilih makan ramen saja.

https://sociorocketnewsen.files.wordpress.com/2015/04/hr-5.jpg?w=580&h=493
Foto: ngambil dari sociorocketnews.com, karena ga foto bagian luarnya. Hujan deres..

Dibanding Ayam-Ya, harga di sini lebih mahal. Jika tak salah ingat (saya lupa mencatatnya), harganya sekitar 700-1000 Yen. Saya kali ini memilih soy-sauce ramen karena yang spicy harganya 900 Yen.

Untuk rasa, saya lebih suka Ayam-Ya. Karena ya mungkin ini ga ada pedes-pedesnya sama sekali kali ya…

PS: Naritaya juga menyediakan musala kecil. Namun tidak terlalu bersih (agak lembap). Begitu juga dengan toiletnya, yang cukup sempit dan tak terlalu bersih.

3. Ramen Factory Tofokuji

Saya tak sengaja sebenarnya ke sini. Awalnya, ketika saya berada di Fushimi Inari, ada seorang mahasiswa magang asal Indonesia yang mengajak ngobrol.

Dia kebetulan bekerja di salah satu restoran ramen yang baru buka, yang letaknya sekitar 50m dari Tofokuji Station, satu stasiun sebelum Inari Station (dari arah Kyoto).

Sebenarnya, tempat ini tidak tepat disebut restoran, karena tidak menjual makanan seperti restoran umumnya. Konsep yang mereka gadang-gadangkan adalah ramen factory, alias tempat belajar membuat ramen sendiri. Setelah ramen dibuat, hasil bisa dimakan sendiri.

DSCF0649.JPG
Saat mencampur bahan kuah. Model: adik saya

DSCF0641.JPG
Ayam untuk kaldu dan taburan ternyata mesti diikat sebelum direbus.

Walaupun belum berlabel halal, mereka mengusung konsep halal dan menargetkan konsumen muslim. Daging dan segala hal yang dipakai di sini sudah halal, namun katanya, baru 3 bulan lagi label halalnya keluar.

Saya percaya saja, karena umumnya orang Jepang tidak akan berbohong soal begini.

Membuat ramen ternyata tak segampang yang saya kira. Tahapannya cukup panjang, mulai dari mengikat ayam, membuat adonan mie, meninju si adonan (sambil bayangin mantan pacar biar ninjunya kuat) hingga merebus dan meracik kuah.

Sekitar 30 menit lebih saya membuat mie ramen saya sendiri.

Karena hari itu baru dibuka, saya dapat kesempatan belajar gratis. Hahaha…nasib baik. Lumayan bisa belajar bikin ramen sambil makan siang gratis, kan?

PS: Gara-gara ke sini, saya jadi masuk koran lokal Jepang, Asahi Shimbun lho…

DSCF0654.JPG

Ramen Factory, abaikan modelnya 😀

FB_IMG_1577420739880.jpg

Restoran Halal di Tokyo

Ada beberapa tempat yang menjual makanan halal di Tokyo. Naritaya dan Ayam Ya yang saya makan di Kyoto juga membuka cabangnya di sini.

Naritaya ada di sekitar Asakusa, dan Ayam Ya ada di Okachimaci di Ueno.

Karena di dekat apartemen saya di Asakusa ada kebab Turki, ibu saya lebih memilih ini. Bosan katanya makan ramen. Akhirnya selama di Tokyo, saya lebih banyak makan kebab. Cukup banyak penjual kebab di sini, terutama di daerah Asakusa, Takeshita Street dan Ueno.

Ada dua stall Kebab yang saya coba. Di Asakusa, yang saya coba adalah Saray Kebab di Asakusa dekat Kaminarimon dan Kebab (yang saya lupa namanya) di Takeshita Street. Di Asakusa,  selain menjual doner kebab (wrapping kebab), juga menjual nasi dan french fries.

Oya, stall di Tokyo rata-rata baru buka sekitar jam 11 dan sudah tutup sekitar jam 9. Jadi kalau mau makan pagi, beli dari malem aja deh…

Restoran Halal di Kawaguchiko

Ada satu restoran halal di area Kawaguchiko, namanya Indo Aladin Restaurant. Letaknya hanya sekitar 20m dari stasiun Kachi-Kachi Ropeway, dekat dengan tempat naik jetty boat.

Walaupun berembel-embel “Indo”, nyatanya ia sama sekali tak menjual makanan Indonesia, atau makanan melayu lainnya. Restoran ini murni restoran India dengan menu India. Roti naan, kari hingga pizza ada di sini.

DSCF0830.JPG
Nasi safron dan chicken tika

Awalnya kami memilih menu nasi biryani, namun ternyata kami kehabisan.

Akhirnya kami memilih makan nasi safron dan chicken tika (3 potong) serta chiken masala (2 potong). Entah apa bedanya kedua ayam tersebut karena kami mendapat satu jenis ayam yang sama 😀

Entah karena sudah sangat lapar, atau karena memang enak, ayam dan nasi habis dalam sekejap. Tapi memang, nasi safronnya sangat enak. Lembut dan rasanya enak di lidah. Ibu saya sampai penasaran ingin buat ini di Indonesia.

Harganya juga tak terlalu mahal. Sekitar 700-1500 Yen per porsi. Kami menghabiskan dua piring nasi safron (untuk bertiga) dan 5 potong ayam, dan mesti mengeluarkan uang sekitar 1500 bertiga.

Mau tau itenerary saya di Jepang? Klik Itenerary 10 Hari di Jepang

Singapore Zam Zam Restaurant: Resto Halal di Bugis, Singapura

Mbak Arry, pemilik blog www.iniarry.com menceritakan pengalamannya mencicipi makanan halal di salah satu restoran di Singapura. 

 

Untuk orang yang pertama kali ke Singapura seperti kami, urusan nyari tempat makan halal di Singapura ternyata jadi masalah tersendiri. Informasi tentang tempat makan halal di Singapura memang bertebaran di internet. Asal nggak males browsing, gampang banget dapat infonya. Tapi berhubung ke sananya memang bukan untuk tujuan wisata kuliner, jadi nyari tempat makannya ya seketemunya aja. Dan pengalaman kami memang tidak mudah nyari resto halal yang seketemunya aja di negara ini. Walhasil, 2 dari 4 kali waktu makan kami di sana akhirnya kudu rela menyantap burgernya McD. Hihi.

Tapi tetep asik kok makan McD di negeri orang, soalnya emang beda rasanya dengan burger McD di Indonesia, jadi kami sih tetep menganggap itu sebagai petualangan kuliner juga.Untungnya semua anggota keluarga kecil kami ini nggak ada yang rewel soal makanan, dan nggak harus makan nasi juga. Dari sebelum berangkat ke Singapura kami sudah bersepakat, jika resto halal yang dicari tidak ketemu, maka carilah McD terdekat 😀 (menurut info dari situs resmi Mc Donald’s Singapore, McD di seantero Singapura sudah bersertifikat halal). Dan beneran kejadian dong, di hari pertama setelah kami mendarat di bandara Changi, di area dekat stasiun MRT Bugis kami kebingungan nyari lokasi resto yang ada di daftar resto halal yang saya siapkan dari rumah. Perut keroncongan itu kan sulit diajak kompromi, tapi lagi liburan dilarang manyun, yes? Jadi setelah beberapa saat menyusuri area di sekitar Bugis Junction dan nggak ketemu sama si resto, akhirnya jurus backup plan pun dipakai : cari McD terdekat! Dan melipirlah kami ke McD Bugis Junction 😀

Makan McD kedua adalah saat kami ke Singapore Science Centre. Di tempat wisata begini mah lebih sedikit lagi pilihannya. Dilihat-lihat cuma ada 3 resto dan 2 diantaranya saya tidak tahu kehalalannya, sementara yang 1 lagi itu McD. Yowessss……daripada kelaparan ya mending melipir masuk McD lagi aja deh 😀

Untungnya di Singapura kami menginap di daerah Bugis, yang mana daerah itu terkenal sebagai area muslim. Tidak sulit mencari resto halal di sini. Kami menginap di Hotel Nuve yang terletak di Jalan Pinang. Resto halal dekat situ yang recommended ada Hj.Maimunah Restaurant & Catering dan Zam Zam Restaurant. Berhubung yang pertama kali ketemu itu Zam Zam Restaurant, jadi kami coba deh ke situ. Jaraknya dekat sekali dengan Hotel Nuve, hanya sekitar 100 meteran saja.

Suasana di Zam Zam Restaurant di sore hari. Meja dan kursi di bagian depan resto pun sampai penuh.
Oma-oma pun rupanya senang nongkrong di resto ini 😀

Di Zam Zam Restaurant ini yang terkenal adalah menu nasi biryani dan murtabaknya. Waktu itu kami ke situ sore hari, sekalian mau jalan ke Gardens By The Bay. Mau makan di tempat, masih belum lapar karena belum jamnya makan malam. Akhirnya kami beli bungkus deer murtabak untuk bekal ke Gardens By The Bay. Kalau varian murtabak lain ada 5-6 tingkatan harga (harga berbeda berdasarkan ukurannya), khusus deer murtabak ini hanya ada 2 ukuran saja. Harganya SGD 10 untuk yang small size dan SGD 20 untuk yang ukuran large.

Daftar harganya dipasang di dinding dekat kasir

Malamnya saat pulang menuju hotel dari Gardens By The Bay, saya minta untuk lewat Zam Zam Restaurant, siapa tau masih buka. Eh ternyata masih buka, padahal sudah hampir pk.22.00 (ternyata jam bukanya memang sampai pk.23.00). Saya penasaran dengan air katira yang sekilas saya lihat tadi sore waktu lagi bayar di kasir. Untungnya minuman ini masih ada. Waktu saya tanya ibu kasir, katanya air katira ini terbuat dari susu lembu. Rasanya manis, enak diminum dalam keadaan dingin. Harganya SGD 2 perbotol, dan kalau beli 3 botol harganya SGD 5. Dari hasil nanya ke Eyang Google, minuman air katira ini banyak dihidangkan di Johor Bahru, Malaysia, saat berbuka puasa di bulan Ramadhan. Asal minuman ini ada yang bilang dari Singapura, ada juga yang bilang aslinya dari India Selatan. Dinamakan air katira karena salahsatu bahan pembuatnya adalah buah katira.

Air katira, terbuat dari susu lembu. Ada semacam biji selasih di dalamnya.
Entah memang selasih atau itu yang disebut buah katira ya.
Resto ini memfasilitasi orang-orang yang ingin memberikan donasi makanan

Keesokan harinya, saat mau cari sarapan (di Hotel Nuve tidak disediakan sarapan) kami memutuskan untuk makan di Zam Zam Restaurant lagi. Kami suka banget dengan murtabaknya, dan ingin coba varian lain selain yang deer. Pagi itu kami bertiga pesan menu murtabak semua, cuma isiannya aja yang beda-beda. Kami pesan murtabak isi daging sapi, ayam, dan kambing. Rasanya? Semuanya enak! Dagingnya nggak pelit, bertaburan di mana-mana. Harga murtabak selain yang deer berkisar antara SGD 5-17 tergantung ukurannya. Untuk minumannya kami pesan teh tarik seharga SGD 1.2 pergelas. Menu lainnya yang direkomendasikan di resto ini adalah nasi biryani yang terdiri dari beberapa varian, harganya berkisar antara SGD 6 s/d SGD 12 perporsi. Kami yang biasanya kalau masuk resto akan pesan menu beda-beda biar bisa icip-icip, di sini kompak milih murtabak semua. Padahal kata teman saya, nasi biryaninya juga enak. Tapi kami nggak ada yang pesan itu, saking kesengsemnya sama si murtabak. Hahaha.

Dagingnya nggak pelit, merata tersebar di seluruh permukaan murtabak. Yummmmyyy…!
Yang punya saya dan si Bocah itu murtabak ukuran terkecil, pas keluar ternyata gede juga porsinya 😀

Lokasi Zam Zam Restaurant adalah di North Bridge Rd, di seberang Masjid Sultan, yang merupakan salahsatu masjid bernilai historis tinggi di Singapura. Kalau kata Om Wiki(pedia), Masjid Sultan ini dibangun pada tahun 1824 oleh Sultan Hussain Shah, dan merupakan masjid pertama yang dibangun di negara republik ini. Stasiun MRT terdekat dari Zam Zam Restaurant adalah stasiun Bugis, jaraknya sekitar 400 m.

Stasiun MRT Bugis. Stasiunnya ada di bawah bangunan ini.

Dua kali datang ke Zam Zam Restaurant di dua waktu yang berbeda (pagi dan sore), saya lihat resto ini selalu ramai oleh pengunjung. Buat kami sendiri, rasa murtabaknya sungguh istimewa. Kapan-kapan jika ke Singapura lagi, saya pasti akan memasukkan kunjungan ke resto ini ke dalam itinerary perjalanan kami.

– arry –

Singapore Zam Zam Restaurant
697 – 699 North Bridge Rd, Singapore
Phone : +65 6298 6320
Website : zamzamsingapore.com
Operating hours : 7AM – 11PM everyday
Tulisan dan foto di artikel ini dicopas dari blog http://www.iniarry.com/2017/08/resto-halal-di-bugis-singapura.html. Dengan seizin yang punya tentunya.

Rekomendasi Restoran di Kuala Lumpur

Mbak Arry, menceritakan pengalaman dia dan keluarganya berburu kuliner halal di Kuala Lumpur.

Saat kami ke Kuala Lumpur bulan Mei 2017 lalu, kami tidak melewatkan kesempatan untuk icip-icip kuliner setempat. Sebelum berangkat tentu saja kami sudah banyak browsing  untuk mencari informasinya. Dari hasil browsing kami mendapat info bahwa Malaysia terdiri dari tiga etnis besar : Melayu, Cina, dan India. Beruntungnya kami bisa mencicipi makanan dari ketiga etnis tersebut dalam perjalanan traveling kami kali ini. Mencari makanan halal di Kuala Lumpur tidak sulit karena mayoritas penduduknya muslim.

ABC Bistro Cafe
Lokasinya di lantai dasar Easy Hotel tempat kami menginap. Jadi setiap tamu yang menginap di Easy Hotel akan dapat kupon breakfast yang bisa digunakan di ABC Bistro Cafe ini. Untuk tamu hotel sudah ditentukan paket breakfast yang bisa dipilih. Kami memilih  makanan khasnya saja, makanan melayu, yaitu roti canai dan nasi lemak. Untuk minuman hanya bisa pilih teh tarik atau kopi tarik. Saya coba dua-duanya dan enak semua rasanya.

Nasi Lemak di ABC Bistro Cafe
Cangkir yang khas digunakan untuk menyajikan teh tarik/kopi tarik hangat. Di Oldtown Cafe waktu saya pesan menu yang sama juga penyajiannya di cangkir seperti ini. Cangkir ini terbuat dari keramik yang cukup tebal.

Saya perhatikan tempat ini cukup ramai dikunjungi orang-orang selain tamu hotel. Di bagian depan hotel tertera tulisan Original Nasi Kandar. Menunya seperti nasi rames kalau di Indonesia.

Suasana di dalam ABC Bistro Cafe
Bagian depan resto

Lokasi ABC Bistro Cafe/Easy Hotel ini persis di samping jembatan penyeberangan KL Sentral ke arah stasiun monorail. Stasiun monorail-nya persis di samping Easy Hotel.

Restoran Visalatchi’s
Lokasinya di Brickfields, jalan kaki sekitar 5-10 menit dari KL Sentral. Resto ini menyediakan makanan khas India Selatan. Kami memesan set menu nasi biryani. Rasa kari India itu ternyata nggak terlalu pedas ya. Butiran nasinya panjang-panjang, yang menurut karyawan resto yang melayani kami, berasnya diimpor langsung dari India. Untuk lauk dagingnya kita bisa milih mau daging ayam atau kambing. Penyajiannya cukup unik, di atas sehelai daun pisang. Jika sudah selesai, daun pisangnya dilipat, ini sebagai tanda bahwa kita sudah selesai makan.

Tampak depan resto
Set nasi biryani di resto ini
Sayur pendamping, termasuk dalam set nasi biryani
Fish puttu, ini menu tambahan. Harus minta ke pelayannya jika menginginkan tambahan menu ini.
Daun pisan yang dilipat adalah tanda bahwa kita sudah selesai makan

Saat kami datang sudah lewat jam makan siang. Suasana resto terlihat agak sepi. Di dinding resto terpasang foto-foto suasana makan bersama di India. Orang-orang tersebut duduk di lantai dan juga menggunakan daun pisang untuk alas makannya.

Suasana di dalam resto
Foto di dinding yang menggambarkan suasana makan bersama di India

Saya lupa di resto ini ada daftar harga atau tidak. Sekedar gambaran, total yang kami bayarkan saat makan di sini adalah RM 48 untuk dua set nasi biryani, menu tambahan fish puttu, nasi putih plus ayam goreng untuk anak saya, dan tiga gelas es teh tarik.

Aneka makanan yang bisa dipilih

Yang agak ajaib di resto India ini adalah gestural pelayannya. Pas saya tanya apakah makanannya pedas, dia geleng-geleng. Trus saya tanya apakah makanannya tidak pedas (untuk memastikan), eh dia geleng-geleng juga. Pedas atau nggak pedas sama aja dia tetep geleng-geleng. Jadi ini makanan pedas apa nggak sih ya, nggak jelas! Hahaha.

Foodcourt di Central Market
Central Market adalah salahsatu pusat oleh-oleh di Kuala Lumpur. Kalau capek hunting oleh-oleh, bisa naik ke lantai 2. Di situ ada foodcourt yang menjual aneka makanan dan minuman khas Malaysia. Waktu kami ke sana perut masih kenyang, jadi kami hanya pesan minuman. Udara cukup panas di luar sehingga membuat kami haus. Si Bocah tidak mau pesan apa-apa karena merasa perutnya benar-benar full 😀

Suasana foodcourt di lantai 2 Central Market

Saya pesan es tebu dan si Ayah pesan es soya cincau. Keduanya sama-sama enak dan bikin segar. Saya tertarik banget pingin coba ais kachang, tapi urung mengingat tenggorokan saya agak sensitif dengan minuman super dingin.

Es tebu dan es soya cincau yang segar. Pesannya di Kopitiam di seberang itu.

Cara ke Central Market dari KL Sentral adalah dengan naik LRT Kelana Jaya, turun di stasiun Pasar Seni. Karena kami menginap di dekat KL Sentral, maka transportasi menuju tempat-tempat kuliner yang saya ceritakan dalam artikel ini start-nya dari KL Sentral semua ya.

Simple Life 
Resto vegetarian ini terletak di Signature Foodcourt, lantai 2 mall Suria KLCC. Menu yang saya pesan adalah nasi lemak. Dalam set menu ini ada semangkuk kecil sayur, saya tidak tahu namanya, tapi rasanya segar sekali. Ada sedikit rasa asam yang membuat sayur ini terasa segar.

Nasi lemak ala Simple Life
Sayur ini rasanya segar banget

Jika makan di Signature Foodcourt, pilih deretan kursi yang dekat dinding kaca. Pemandangannya ke arah air mancur dan taman di depan mall. Makanya spot ini jadi favorit dan bakalan cepat penuh kalau pas jam makan. Saat malam hari bisa lihat air mancur menari warna-warni dari sini tanpa harus turun ke area air mancur di depan mall.

Spot favorit di Signature Foodcourt. Bisa lihat air mancur dan taman di bawah sana.

Untuk menuju mall Suria KLCC dari KL Sentral, naiklah LRT Kelana Jaya lalu turun di stasiun KLCC. Stasiunnya langsung terhubung dengan mall-nya.

Nasi Ayam Hainan Chee Meng
Lokasinya di daerah Bukit Bintang. Dari KL Sentral naik monorail dan turun di stasiun Bukit Bintang. Letaknya di pinggir jalan besar sehingga cukup mudah menemukan resto ini.

Tampak depan resto dari seberang jalan

Awalnya sempat ragu apakah chinese restaurant ini halal atau tidak, tapi pas sampai di depan resto saya melihat logo halal besar di samping nama restonya. Kami pun lega dan tidak khawatir lagi mengenai kehalalan makanan di resto ini.

Aneka makanan tersedia di resto ini, namun yang paling khas ya nasi ayamnya itu. Harga satu set nasi ayam paha adalah RM 11. Rasanya enak, dagingnya lembut dan bumbunya terasa sampai ke dalam meskipun daging ayamnya cukup tebal.

Set nasi ayam hainan terdiri dari ayam, nasi putih, dan kuah bening. Oseng tauge di sisi kanan itu menu tambahan di luar set menu ayam.
Daftar harga (1)
Daftar harga (2)

Suasana resto cukup ramai karena waktu kami ke sana pas jam makan malam sekitar pukul 19.00, dan kebetulan malam minggu pula. Meskipun ramai tapi pelayanan di resto ini terbilang cukup cepat. Pencatatan order pun cukup canggih, pelayanan menuliskan order makanan kami melalui aplikasi di tablet. Saat melihat gambar logo resto ini di dinding, saya baru tahu kalau usia resto ini sudah berdiri sejak tahun 1965. Wah, sudah lumayan tua juga ya ternyata.

Suasana di dalam resto yang cukup ramai karena pas di jam makan malam
Bapak ini sepertinya adalah pemilik restonya. Karyawan yang lain memakai seragam warna kuning, sementara bapak ini tidak memakai seragam. Saya tidak sempat mengobrol karena kondisi resto yang sedang ramai. Khawatir saya akan mengganggu jika mengajak beliau mengobrol.
Berdiri sejak 1965. Resto ini sudah cukup tua juga ya.

Nando’s
Resto yang satu ini memang bukan makanan khas Malaysia. Resto yang menu utamanya ayam bakar ala Portugis ini ternyata buka pertama kali di Afrika Selatan. Konon dulunya di Indonesia juga ada, tapi sekarang sudah tutup. Yang jelas di Jogja tidak ada, jadi kami tertarik untuk mencoba 😀

Berhubung jatah si Ayah makan ayam adalah 2 potong (kalau cuma 1 potong nggak nendang katanya. Hahaha.), jadi kami pesan menu platter, satu set menu besar yang bisa dimakan ramai-ramai untuk 3-4 orang. Level pedasnya bisa milih, mulai dari yang plain sampai extra hot. Dan saya pun jadi teringat menu ayam geprek di banyak warung di Jogja yang bisa milih level pedasnya berdasarkan jumlah cabai. Ah memang Jogja itu ngangenin ya, kemana pun kita pergi tetap selalu Jogja yang diingat. Hihihi.

Peri-Peri Chicken. Ayam bakar ala Portugis.
Potato wedges, bagian dari menu platter yang kami pesan.

Menu platter yang kami pesan terdiri dari 4 potong ayam dan 2 porsi potato wedges, harganya RM 59. Rasanya enak dan porsinya besar jadi cukup mengenyangkan. Yang agak aneh di lidah adalah rasa saus peri-peri yang disediakan untuk dicocol saat makan ayamnya. Ada dua macam saus peri-peri, extra hot dan garlic. Rasa asam yang kuat di sausnya itu terasa agak aneh di lidah. Yang extra hot masih mendingan sih rasanya dibanding yang garlic.

Saus Peri-Peri yang menurut kami rasanya aneh karena dominan asam. Yang extra hot masih lebih mending deh dibanding yang garlic. Hehe.

Resto Nando’s yang kami kunjungi ini letaknya di bandara KLIA2. Yap, kami makan di sini saat hendak pulang ke Jogja. Karena kami ambil penerbangan sore, maka saat jam makan siang kami sudah standby di bandara. Yah daripada ketinggalan pesawat, kami memilih menunggu di bandara saja. Dari beberapa info yang saya baca, untuk penerbangan internasional di KLIA2 sediakan waktu minimal 3.5 jam dari Kuala Lumpur. Bandara KLIA2 ini letaknya di Sepang, membutuhkan waktu sekitar 50-60 menit dari KL Sentral dengan menggunakan bus, jika perjalanan lancar tanpa macet. Perhitungkan juga waktu antrian di imigrasi yang seringkali tidak terduga panjang antriannya.

Karipap
Ini adalah snack khas Malaysia. Bentuknya seperti kue pastel kalau di Indonesia. Karipap ini berisi potongan kentang dan wortel yang diiris kecil-kecil dan diberi bumbu kari. Harganya 50 sen perbuah. Ibu penjual karipap ini berjualan pagi hari di depan deretan toko-toko di samping Easy Hotel tempat kami menginap.

Karipap seharga 50 sen
Ibu penjual karipap ini menggelar dagangannya di pagi hari. Di siang hari lapaknya tutup.

Roti Krim Massimo dan Gardenia
Kalau yang ini memang bukan makanan khas Malaysia. Saya cuma mau bilang kalau roti krim ini enak rasanya. Saya beli di minimarket KK di samping Easy Hotel. Waktu itu saya beli untuk bekal di bus menuju KLIA2. Nyesel belinya cuma 3 buah, dan yang 2 habis dimakan si Bocah dong. Huhuhu.

Yang merk Massimo (kiri) menurut saya lebih enak dibanding yang di sebelahnya

Jangan khawatir dengan kehalalan roti-roti ini. Di bungkusnya tertera logo halal dari majelis ulama setempat.

Tulisan dan foto ini diambil (dengan seiizin yang punya pastinya) dari blog http://www.iniarry.com/2017/07/kuliner-halal-di-kuala-lumpur.html?m=1