Panduan Wisata Macau

Saya mendapat undangan dari Venetian Macau untuk meliput hotel mereka. Walaupun undangan, saya mengumpulkan juga beberapa panduan untuk jalan-jalan dan wisata di Macau, sekadar jaga-jaga kalau saya punya waktu bebas di luar tugas liputan saya di Venetian Macau.

Ini dia panduan wisata Macau yang berhasil saya kumpulkan sebelum berangkat wisata ke Macau.

Where to go
1. Hotel Venetian
What to do: Naik gondola (mahal sih, HK$ 108/ orang selama 15 menit), keliling resort Venetian dan mal Grand Canal Shop (lantai 2), makan di foodcourt, ada laser show setiap jam 20.00.
How to get there: Naik bis kota nomor 3 tujuan Macau Fery Terminal. Trus jalan kaki menyebrang jalan melalui lorong bawah tanah. di sana sudah menunggu bis-bis mewah berwarna biru bertuliskan The Venetian, antrilah. Gratis. Perjalanan sekitar 50 menit.
Tips: Ingatlah tadi datang dengan bis dari mana, karena nanti pulangnya naik bis yang sama (karena bis Venetian itu datang dari macem2 arah dengan bentuk dan warna yang sama). Cerita lengkapnya bisa dibaca di: Undangan dari Venetian

2. Senado Square
What to do: Semacam alun-alun kota Macau, makan2, belanja. Buat cerita lengkapnya bisa baca: Menyelusuri Senado Square

3. Ruins of St. Paul
What to do: Foto2, cicipin tester kue gratis, liat-liat juga Church of Our Lady of Penha, St. Lawrence’s Church, dan St. Dominic’s Church.
How to get there: jalan kaki dari Senado Square.

4. Macau Tower
What to do: Biaya naik HK$ 80 tarif bungee jumping mulai HK$ 800.

5. Fisherman’s Wharf
What to do: Semacam theme park gratis, toko-toko, restoran, pinggir laut, bisa melihat jembatan yang menghubungkan Macau Peninsula dan Taipa island.

6.  Whynn Casino

Setiap 20 menit sekali ada air mancur menari disertai semburan api (namanya Cybermetic Fauntain).

7. Grand Lisboa Casino

Must-try food:
1. Cafe Nata –> Kafe paling ngetop se-Macau. Beken dengan kue tart-nya. Kabarnya kopinya juga nikmat.
2. Margareth Nata de café –> Egg tart enak di daerah Senado Square.
3. KOI KEI Pastelaria –> Beken banget di Macau).
4. Lord Stow’s Bakery –>Di dekat Coloane Village. Buat cerita lengkapnya bisa baca: Keliling Coloane Village

Tips:

  • Naik bis nomor tiga ke Macao Ferry Terminal. Biaya 2,5 MOP.
  • Casino bisa jadi tempat yang oke buat ngadem sekaligus ngambil air mineral/minum (ambil aja jus, kopi, teh susu, atau air putih dari nampan si pelayan), gratis!
  • Porsi makanan di sana biasanya gede banget, jadi dimakan rame-rame aja.
  • Siapkan uang receh sebelum naik bis! Karena tidak akan dikasih kembalian.
  • Sering-seringlah naik shuttle bus. Gratis! Ada banyak di Macau, dengan tujuan dari hotel ke pelabuhan, dari casino ke pelabuhan, dan sebaliknya. Bisa juga sampai Porto de Cerco (perbatasan antara Macau dan Zhuhai (China) yg letaknya di bagian paling utara-nya Macau).
  • Bis di Macau beroperasi di 40 rute dari pukul 06.45 sampai tengah malam.

Ferry Macau ke Hongkong

  • Feri dari Macau ke HK: Turbo Jet, New World, dan Cotai Jet. Turbo Jet berangkat dari Macau Ferry Terminal ke Shun Tak Center di Hongkong Island. New World (NWFF) adalah ferry yang menghubungkan Macau Ferry Terminal dan Kowloon Ferry Terminal. Cotai Jet adalah ferry terbaru milik Sands Grup (pemilik Venetian), dan berangkat dari Taipa Ferry Terminal menuju Shun Tak Center.
  • Harga satu ferry dengan yang lain tidak terlalu beda. Di hari biasa, harga cotai jet kelas ekonomi HK$ 142, sedangkan turbo jet HK$ 149. Kalau malam hari, atau weekend, tarifnya lebih mahal.
  • Jarak dari Venetian ke Taipa Ferry Terminal cuma 5 menit, sedangkan ke Macau bisa menghabiskan waktu 15 menit.
  • Bisa beli tiket feri COTAI di hotel Venetian (khusus jurusan Hongkong Island). Untuk kepergian setelah jam 5, harganya lebih mahal, buka 24 jam, perjalanan sekitar 1 jam.
  • Ferry dari Macau ke HK ada setiap setengah jam sekali (mulai dari jam 7.00 sampai jam 00.30 (hari libur) atau 20.30 (hari kerja). Baiknya jangan berangkat pas hari libur atau sore/malam hari karena tiketnya lebih mahal. Tentukan pula tujuan mau ke new HK atau ke Kowloon (Tsim Tsa Tsui atau kota lamanya HK, ambil First Ferry).

Hostel/hotel murah di Macau:

  1. Hostel Augusters Lodge (Rua do Dr Pedro Jose Lobo 24, Kam Loi Macau, augusters@augusters.de, www.augusters.de) –> ada tepat di depan Grand Lisboa dan Whynn. Apartemen di lantai tiga, berkamar 3 dengan 1 kamar mandi.
  2. The San Va Hospedaria (Rue Da Felicidade 67) –> 5 menit jalan kaki dari pusat kota.
  3. Hotel Ko Wah atau Kou Va (Rua da Felicidade, No. 71, Macau, nomor telepon 2893 0755 dan 2837 5599).
  4. Villa Universal –> juga ada di Rua da Felicidade (persis di sebelah Ko Wah Hotel).
    Tips:
    – Rua de Felicidade adalah daerah “lampu merah”-nya Macau.

 

Wisata ke Macau: Masuk ke Markas TKW

dikira-meninggal-tkw-pulang-lumpuh-tak-digaji-selama-10-tahun

Di Macau, saya bertemu dengan seorang TKW asal Malang bernama Desi (karena saya harus merahasiakan namanya, ini bukan nama sebenarnya). Saya bertemu dengannya di lorong Venetian Hotel. Ia duluan yang menegur saya dan rombongan, karena mendengar kami berbicara bahasa Indonesia. (note: waktu itu, yang jumlah orang Indonesia yang menginap di sini masih sangat sedikit).

Desi ini sudah tinggal 10 tahun di negeri orang. Mendengar pengalamannya membuat saya berdecak kagum. Berat sekali ternyata perjuangan dia untuk bertahan hidup. Menurut ceritanya, dia pernah harus kabur dari agennya karena gajinya dipotong 7 bulan penuh, lalu sembunyi di sebuah rumah sakit untuk menghindari kejaran. Ia juga memalsukan dokumen agar tak mudah ditemukan agen yang lama, mengganti nama dengan nama yang mirip nama lokal, dan berganti-ganti pekerjaan sampai akhirnya menemukan yang tepat di Macau.

Walaupun tidak tamat SD, Desi ini juga berjiwa usaha loh. Dia kini menjadi semacam agen yang menampung para TKI dari Hongkong yang kehabisan visa. FYI, untuk mendapatkan visa baru, TKW mesti keluar dulu dari Hongkong. Nah, Desi menyediakan jasa untuk menampung para TKW itu.

Saya pun tak menolak ketika diajak ke tempat tinggalnya, yang sering ia sebut “kos”, yang berada di daerah yang cukup kumuh (untuk ukuran Macau). Ternyata di sini banyak agen sejenis Desi.

Kosnya itu terdiri dari 3 kamar (2 kamar plus ruang tamu sebenarnya), sebuah kamar mandi dan sebuah dapur kecil. Setiap kamar punya 2-3 tempat tidur tingkat, serta dua buah kasur di lantai. Kalau sedang penuh, satu kasur bisa diisi 1-2 orang!

Yang saya kagum, di sini ternyata ada laptop canggih lengkap dengan jaringan internet. Wah…ternyata, para TKW itu melek teknologi juga. Setiap malam mereka menghabiskan waktu untuk ceting, membuka website liputan6.com untuk tahu berita di kampungnya, ataupun meng-add teman lewat friendster. Ck..ck..ck..

Bersama Desi, dan beberapa temannya, saya diajak keliling “kampung”nya Macau, melihat sisi lain Macau. Sayangnya karena saya tak berani mengeluarkan kamera, saya tak memfoto apapun di sana. Saya juga sudah berjanji tak mempublikasikan foto dan tempat tinggal Desi di sini, yang sempat saya abadikan dengan kamera saya.

Tapi, karena Desi, saya jadi lihat kehidupan TKW Indonesia sebenarnya. Desi ini, dalam sebulan bisa mengirimkan uang ke ibunya di kampung sekitar 7-10 juta. Uang itu merupakan uang pendapatannya dari tempat kerjanya dan kos-kosannya, dan sudah dikurangi ongkos dan kebutuhannya sehari-hari. Dia memang berusaha sehemat mungkin.

Namun tak semua TKI sehemat Desi. Menurut cerita Desi dan kawan-kawannya yang sempat ngobrol dengan saya, banyak TKI dan TKW yang terjebak kehidupan glamor di HK dan Macau. Mereka senang pesta, mabuk-mabukan, atau menghabiskan uang di meja judi. Bahkan, ada beberapa yang terlibat hutang karena judi, sehingga terpaksa kerja rodi untuk menutup utangnya itu. Saya sempat diajak ke salah satu kasino kelas bawah, dan memang benar, di sana banyak TKW dan TKI yang sedang bermain judi.

Wisata ke Macau: Berkeliling Coloane

Macau terdiri dari 3 pulau, yakni pulau Macau, Taipa dan Coloane. Antara pulau Taipa dan Coloane, dulu terdapat semacam selat kecil. Oleh Sands Group, pulau tersebut diurug, dan dijadikan lahan untuk hotel, dsb. Lahan urugan itu dikenal dengan nama Cotai Strip (singkatan dari Coloane-Taipa). Nah, Venetian berada di cotai strip ini, airport berada di Taipa, sedangkan Ferry Macau Terminal berada di Macau. Luas Macau? Hmm..rasanya sama dengan luas kecamatan Mampang 😀

Nah, hari ini saya diajak PR Venetian Hotel menyusuri area Coloane. Yang pertama saya datangi adalah Museu da Historia da Taipa e Coloane alias Museum Sejarah Taipa dan Coloane. Sesuai namanya, Museum ini terletak di pulau Taipa. Museum ini dulunya rumah tinggal, dan sampai sekarang bangunannya masih asli.

IMG_5123
Museu da Historia da Taipa e Coloane

Menurut saya, bangunannya menarik sekali. Bergaya Eropa, berwarna hijau pastel. Di setiap bangunan ada teras, dan dipagar terasnya diletakkan boks berisi bunga-bunga. Kalau tak diteriaki si guide, saya pasti bakal berlama-lama di sini. (Ini nih nggak enaknya pakai travel)

Oya, ada 3 bangunan di sini yang isinya berbeda-beda. Bangunan pertama isinya sejarah Taipa. Bangunan kedua isinya contoh tipikal rumah tinggal Taipa zaman dulu. Katanya, tata letak dan furniturnya masih asli, loh.

IMG_5115
Salah satu yang ada di dalam Coloane Cultural Center.

A Ma Cultural Village
Awalnya saya akan mengunjungi A Ma Temple di kota Macau. Namun, menurut sang guide, A Ma Temple ini kurang bagus, kotor dan biasa aja. Akhirnya saya dibawa ke A Ma Cultural Village, yang ada  di Coloane (di atas bukit).

IMG_5167.JPG

IMG_5154b

 

Alkisah, A-Ma (dikenal juga dengan nama Tin Hiau) adalah seorang gadis miskin yang lahir di keluarga nelayan. Dari kecil ia memang memiliki kekuatan suci. Konon, ia selalu berdiri di tepi pantai dengan menggunakan baju merah untuk memandu kapal-kapal nelayan agar selamat dalam cuaca yang buruk. Suatu hari, badai yang sangat dahsyat meluluhlantakkan kapal yang ditumpangi oleh kakak dan ayahnya. A-Ma bersemedi dan secara ajaib ayahnya selamat. Sejak itu, ia dipercaya sebagai dewa yang dapat melindungi para nelayan dari badai.

Dewa A-Ma ini dipercaya oleh nelayan-nelayan di berbagai belahan dunia, termasuk di Makau. Untuk menghormati A-Ma, di abad ke-16 nelayan Makau membuat sebuah klenteng pemujaan. Dan di tahun 2001 kemaren, di atas pegunungan setinggi 170 m di atas permukaan laut, dibangun sebuah Pusat Kebudayaan A-Ma (A-Ma Cultural Village). Pusat kebudayaan seluas 7000 m2 ini terdiri atas sebuah istana, perpustakaan, toko dan pusat pembelajaraan bagi para biksu. Bentuk bangunannya rada mirip dengan klenteng Sam Po Kong di Semarang.

Tak jauh dari sini juga terdapat patung A-Ma setinggi 19,99 m yang kabarnya dapat dilihat dari Laut China Selatan.

Oya, A-Ma Temple yang ada di pulau Macau relatif lebih mudah dicapai, bisa dengan bus, taksi atau becak. Sedangkan A-Ma Village ini jauh dan ada di atas bukit, sehingga kendaraan ke sana agak sulit. Taksi hanya mau mengantar sampai kaki bukit, sedangkan bus yang mengantar sampai atas jarang sekali. Saya bertemu dengan 3 orang ibu-ibu dari Phipina, yang sudah menunggu bus selama ½ jam, dan akhirnya menumpang di mobil saya.

Coloane Village

Di ujung kiri bawah pulau Coloane terdapat satu objek wisata lagi: Coloane Village. Kalau ingin melihat kampungnya orang Macau (khususnya orang Coloane) di sinilah tempatnya. Rumah-rumah di sini mungil-mungil, namun penuh dengan bunga. Seneng banget saya melihatnya. Di tengah-tengah coloane village ini terdapat semacam taman kecil yang nyaman.

Tak jauh dari Coloane Village terdapat Chapel of St. Francis Xavier. Ceruk untuk altarnya berwarna biru muda, sehingga dari jauh keliatan seperti laut. Di kanan kiri gereja terdapat semacam arcade (selasar) yang isinya berbagai makanan murah ala Macau.

IMG_5227

 

IMG_5238.JPG
bagian dalam gereja

Oiya, pas ke sini sebenarnya saya bareng dengan kru TV dari Thailand plus host-nya yang lumayan ganteng (malah menurut saya, dia orang Thailand terganteng yang saya pernah lihat). Orang ini sepertinya cukup terkenal di sana, pasalnya ketika bertemu dengan segerombolan gadis Thailand, para gadis itu berteriak heboh. Mungkin di sini sama seperti Dude Herlino kali ya..

Walaupun ganteng, kelakuannya itu loh… Selain terlihat sombong (tapi belakangan baru saya tahu karena dia ternyata karena dia tak bisa bahasa Inggris sama sekali), di setiap kesempatan dia tak lupa mengoleskan bibirnya dengan pelembab bibir berwarna merah muda (ini mungkin tuntutan peran). Dan yang paling bikin saya senewen, saat nonton pertunjukan ZAIA di samping saya, dia tak henti-hentinya menggigit kuku, merapikan rambut, atau merapikan jasnya. Aduhh..

IMG_5208.JPG
lupa foto bareng, adanya cuma foto ini *menyesal

Egg Tart yang Melegenda

IMG_5258

Kue ini termasuk kue favorit saya selama berada di Macau. Di Senando Square banyak juga yang menjual ini seharga 5-7 HK$, tapi menurut orang hotel, toko Lord Stow’s Bakery di dekat Coloane Village lah yang asli dan paling populer. Di sini, egg tart nya lebih besar dan harganya sekitar HK$ 8 per buah. Tapi memang, rasa eggtart di sini lebih enak dibanding di Senando Square.

Eggtart ini ternyata tahan lama juga ya. Karena tak habis (dan teman-teman saya lainnya tak ada yang suka), saya menyimpannya di hotel, tidak di dalam kulkas. Dua hari kemudian, saya makan, ternyata rasanya masih enak (kalau yang ini tidak saya rekomendasikan untuk ditiru, karena bagi saya eggtart dalam kondisi apapun rasanya selalu enak).

Kalau ingin membawa eggtart untuk oleh-oleh, saya lebih menyarankan untuk membelinya di bandara saja. Selain harganya tidak terlampau beda, eggtart masih dalam kondisi baik ketika sampai di Jakarta.

IMG_5205.JPG
Lord Stow, dari depan tampangnya ga meyakinkan ya?

Menginap di Venetian Macau

Suatu malam, atasan saya menelpon, memberitahu kalau ada undangan dari Venetian Hotel di Macau, dan saya yang akan diberangkatkan ke sana.

Suatu keberuntungan, karena sebagai anak bawang, biasanya saya tak pernah dapat dinas ke tempat yang enak. Kali ini, bos saya tak bisa berangkat karena ada urusan keluarga, istrinya sedang sakit. Editor saya sedang sibuk dengan sekolahnya. Dua rekan saya yang lebih senior, paspornya habis masa berlakunya.

Yes, dewi fortuna berpihak pada saya. Yes, saya akan menginap di Venetian Macau, salah satu hotel paling terkenal dan paling mahal di Macau. Saat itu

Naik Viva Macau

Pesawat yang saya tumpangi kali ini adalah Viva Macau, sebuah low budget airline milik Macau. Pesawatnya lumayan besar, lebih besar daripada AirAsia. Seperti low budget airline lainnya, di atas pesawat penumpang tak mendapat makanan.

Ada sih makanan yang dijual, tapi harganya itu loh, ampun-ampun. Satu bungkus pop mie dibandrol dengan harga HK$ 40. Lalu, secangkir teh dihargai HK$ 10. Wah…mahalnya.

Selepas dari Macau Airport yang ukurannya tak lebih dari bandara Adisucipto itu, saya menaiki shuttle bus menuju Venetian Hotel Macau. Di Macau memang tersedia banyak sekali shuttle bus milik hotel, yang bisa dinaiki dengan gratis.

Kamar Seluas Lapangan Badminton, Seharga 4 Jutaan

Lima menit kemudian saya sudah sampai di lobby hotel Venetian Macau. Karena saya mendapat undangan khusus dari Venetian Macau, saya tak perlu melakukan reservasi. Cukup menunggu di VIP Room, ditemani musik dan banyak minuman segar, sambil menungggu kunci pintu diantarkan.

Hmm…nikmatnya jadi VIP.

Room boy mengantarkan saya dan salah seorang wartawan majalah lifestyle ke sebuah kamar. Begitu dibuka, saya girang. Kamar yang saya tempati luas sekali!

Kamar ini didesain dengan gaya Eropa. Ada dua tempat tidur yang diatasnya dihiasi dengan kelambu khas kamar tidur putri raja. Area tidur ini dilengkapi dengan lemari built-in, TV plasma 32 inch, dan safety box.

Lalu, ada juga ruang tamu yang dilengkapi (lagi) dengan TV dan minibar.  Ada pula meja tulis yang dilengkapi dengan printer multifungsi (yang bisa sekalian mengkopi dan men-scan). Yang kurang di sini cuma satu: internetnya mesti bayar!

venetian-bella-suite
ini kamar saya. Keren yaa? Sumber foto: venetian macao.com

Saat saya cek di internet, tarif kamar ini sekitar HK$ 1800. Mahal, tapi kalau diisi beramai-ramai (dan sepertinya pasti muat), bisa jadi murah. Kata pelayan di sana, masih ada kamar yang lebih besar, yakni kamar VIP yang tarifnya bahkan tak disebutkan di internet. Kabarnya, orang-orang Cendana sering sekali menginap di sana.

Baca Juga: Mencari “Portugis” di Senado Square

Nyasar di Dalam Hotel

Esoknya, saya diantar berkeliling resort ini. Mulai dari lobi hotel, casino, hingga ke area pertokoannya. Wiiiih….luas sekali ternyata Venetian Resort ini, mencapai 10.5 juta m2 atau kira-kira seluas 56 kali lapangan bola.

Menurut sang PR yang menemani saya selama di Macau, di sini terdapat 3.000 kamar. Weleh…weleh….. Tapi, walaupun besar konon pembuatannya hanya memakan waktu 3 tahun, lho..

Saking luasnya hotel ini, saya baru bisa menghapal jalan setelah 3 hari berada di sini. Itu pun saya tetap harus memegang peta hotel. Sebenarnya, di mana-mana ada komputer khusus untuk menunjukkan jalan. Tapi tetep aja bingung…

Oya, seluruh interiornya dirancang dengan gaya Renaissance Italia. Konon, sang pemilik, menginginkan sebuah hotel mewah bergaya Italia setelah ia dan sang istri menghabiskan waktu di Venezia Italia. 

Contohnya salah satu lorong hotel yang dibuat dengan lengkung-lengkung dan ornamen-ornamen khas Eropa. Pilarnya didominasi warna kuning, langit-langitnya digambari lukisan ala Leonardo Da Vinci. Dan katanya ukiran-ukiran itu yang dibuat dari emas 24 karat murni!

85650_14121816030024046784
salah satu lorong di hotel
15821b38-dad5-11e5-80e8-06fc1406e58b1
Foto: venetianmacao.com
IMG_5574
Bola dunia di lobi hotel

Naik Gondola Ala Venesia

Agar lebih terasa ada di Venesia, cobalah naik gondola. Tarif gondola ini HK$ 108/ orang untuk 15 menit perjalanan. Mahal sih ya, tapi untungnya saya naik dengan percuma (haiyah). 

Ada 3 kanal yang bisa dipilih, tapi saya sarankan untuk naik di Grand Canal, pasalnya toko-toko di sisi kanal ini lebih menarik ketimbang kanal yang lain.

The Venetian Hotel and Casino in Macau
sumber: travelpag

Gondola saya disupiri oleh seorang wanita bertubuh besar bernama Bonita. Bonita ini asli dari venesia, tapi kini tinggal di Las Vegas. Bonita bilang tempat ini mirip dengan tempat asalnya. Bedanya, bangunan di sini lebih baru dan bersih, dan sungainya tidak coklat seperti di Venesia.

IMG_5772b
Sendal jepit gue….:*(^%$

Sambil mendayung Gondola, Bonita menyanyikan lagu-lagu Italia. Saya tak tahu sama sekali artinya, tapi tangan saya merinding mendengar suara Bonita yang merdu. Menurut Bonita, semua pendayung mesti bersuara merdu.

Oya, saya sempat bertemu suami Bonita, yang juga bekerja sebagai pendayung gondola. Suaranya? Tak kalah dengan Bonita. Dan, ia bisa menyanyikan lagu rasa sayange, loh..

Pertama Kali Nonton Sirkus

Saya juga diajak menonton Sirkus ZAIA, Cirque du Soleil. Di Venetian memang terdapat pertunjukan kolosal. Cirque du Soleil ini adalah sirkus dari Kanada. Mereka bekerja sama dengan Venetian Resort, mempertunjukan sirkus yang diberi nama ZAIA.

Pertunjukannya diadakan di satu ruangan teater besar. Sebelum mulai, saya diajak masuk ke area belakang, tempat para pemain “tinggal”. Di sana ada ruang gymnastic besar tempat para pemain berolahraga agar bisa tampil maksimal.

Ada ruang kostum, tempat para desainer merancang kostum. Ada ruang tes make-up, ada klinik kecil, ada ruang latihan, ada pula ruang rekreasi. Sayangnya, saya terikat kontrak untuk tidak mempublikasikan gambarnya di manapun.

Karcis ZAIA  terhitung mahal (HK$ 788 atau sekitar 1,5juta), namun hasilnya sebanding sekali dengan pertunjukan yang disuguhkan.

ZAIA adalah perpaduan antara musik, tari dan akrobat. Musiknya live, loh, dengan penyanyi dan orchestra lengkap. Tarian yang disuguhkan juga sangat memikat, ditambah lagi dengan efek cahaya yang bagus. Kostum dan make-upnya juga menarik, bertema outer space namun berwarna-warna.

t_venetian_macao_cirque-du-soleil3
Sumber: Venetianmacao

Panggungnya diset dengan luar biasa. Latar belakang panggung berupa proyeksi bintang, yang katanya merupakan hasil proyeksi bintang di langit Macau. Lantai panggung bisa naik turun. Di langit-langit teater terdapat semacam rel, jadi adakalanya ada artis yang berayun-ayun di dengan menggunakan tali dan berkeliling teater dengan menggunakan rel. seperti terbang beneran.

Kalau soal cerita, saya tak akan mengerti kalau saja sang PR tak menceritakannya ke saya. Pasalnya, ceritanya ekspilisit sekali, perlu mencerna lebih keras untuk paham yang alur ceritanya.

Katanya ceritanya tentang Zaia, seorang penduduk planet yang terletak antara bumi dan bulan, yang sedang melanglang buana. Tapi memang tak perlu mengerti ceritanya, cukup nikmati saja gerakan di panggung sana.

TIP:

  •  Walaupun tidak menginap di Venetian, masih bisa keliling venetian, termasuk ke lobi hotelnya. Masuk kasinonya pun diperbolehkan.
  • Di kasino ada area buat belajar permainan di sana. Gratis! Saya sih ga coba ya, secara dalam Islam ga boleh mendekati judi, jadi saya cuma lihat aja.

Bambu Restaurant

Di Venetian ada beberapa restoran, tapi favorit saya adalah Bambu Restaurant. Sistem makannya buffet, jadi kita bisa memilih makanan yang sesuai selera. Makanannya cukup beragam, dari makanan berat hingga kue-kue ringan.

Tapi saya mesti pilih-pilih makanan, karena di sini banyak sekali makanan yang tak halal. Jadi, saya cuma menikmati makanan vegetarian saja plus kue-kue yang menggugah selera. Oya, bagi penyuka egg tart, di sini juga tersedia egg tart yang yummy..

Banyak Keramik di Leal Senado

Di seberang Senado Square terdapat satu bangunan yang menarik untuk dikunjungi, bernama Leal Senado Building. Bangunan ini (lagi-lagi) bergaya Eropa. Namun beda dengan bangunan di Senando Square, bangunan ini hanya berwarna abu-abu. Di lantai dasar terdapat perpustakaan dan taman. Lantai 2 ada kantor, yang tak boleh dimasuki.
Menurut saya, yang paling menarik dari bangunan ini adalah tangga dari lobbi menuju ke arah taman di belakang gedung. Dinding di kanan kiri tangga ditempeli dengan keramik bermotif biru-putih, yang mengingatkan saya akan motif-motif keramik di Belanda.

Bareng Artis Thailand

Di Macau, saya bergabung dengan rombongan TV Thailand yang juga sedang meliput Venetian. Salah satu anggota rombongan adalah pembawa acara TV yang lumayan ganteng (malah menurut saya, dia orang Thailand terganteng yang saya pernah lihat). Orang ini sepertinya cukup terkenal di sana, pasalnya ketika bertemu dengan segerombolan gadis Thailand, para gadis itu berteriak heboh. Mungkin di sini sama seperti Dude Herlino kali ya..

Walaupun ganteng, kelakuannya itu loh… Selain terlihat sombong (tapi ini ternyata karena dia tak bisa bahasa Inggris sama sekali), di setiap kesempatan dia tak lupa mengoleskan bibirnya dengan pelembab bibir berwarna merah muda (ini mungkin tuntutan peran). Dan yang paling bikin saya senewen, saat nonton pertunjukan ZAIA di samping saya, dia tak henti-hentinya menggigit kuku, merapikan rambut, atau merapikan jasnya. Aduhh..

Grand Canal Shop

Di lantai 2, ada area shopping yang dikenal dengan nama grand canal shop. Ini sebenarnya area yang paling saya sukai di venetian. Bukan karena di sini banyak sekali toko-toko lucu, tapi karena gaya arsitektur yang diterapkan di sini, Venesia banget!

Bentuk bangunannya dibuat mirip dengan bangunan di venesia, lengkap dengan jendela lengkung dan balkon-balkon. Lampunya juga gaya Eropa. Foto di sini pasti hasilnya bagus karena langitnya selalu biru, karena langitnya berupa lukisan. Dari video yang diberikan pihak Venetian saya melihat cara kerja sang pelukis awan. Setiap selesai melukis satu area, ia akan merebahkan badannya sambil menatap lukisannya, untuk melihat apakah lukisannya sudah mirip dengan langit yang sesungguhnya. Kalau belum, ia akan mengulangnya lagi sampai benar-benar mirip.

Makan Di Foodcourt

Selain restoran-restoran mewah, Venetian juga menyediakan foodcourt yang terjangkau kantong. Sebenarnya, untuk makan siang ini saya ditawari makan di Imperial Dim sum, restoran mewah di tengah-tengah kasino. Tapi saya agak ragu ada makanan halal di sana, jadi saya lebih memilih makan “murah” di foodcourt.

Di foodcourt ini tersedia berbagai macam makanan. Kebanyakan sih Chinese food. Tapi ada juga sih restoran cepat saji yang menyediakan aneka burger. Saya lebih memilih makan “rasa singapura” yang mengklaim dirinya “halal”.