Restoran dan Makanan Halal di Bukit Bintang

Bukit Bintang juga terkenal sebagai surga kuliner di Kuala Lumpur. Salah satu jalan yang termahsyur adalah Jalan Alor. Namun kebanyakan makanan di sana adalah makanan Chinese food yang saya tak yakin kehalalannya.

Namun jangan khawatir, banyak makanan dan restoran halal di Bukit Bintang buat traveler muslim yang datang ke KL. Beberapanya sering saya datangi, bahkan jadi langganan setiap saya “mudik” ke KL.

Bukit Bintang adalah tempat favorit para pelancong yang datang ke Kuala Lumpur., termasuk saya. Saya lebih sering memilih kawasan ini sebagai tempat menginap karena kawasan ini lengkap. Di sini ada banyak mal, toko, dan cafe. Lokasinya juga strategis, mudah dijangkau dengan monorail, MRT, ataupun Bus GoKL.

Baca Juga: Backpacking ke Taiwan: Berburu Makanan Halal di Taipei

Bukit Bintang juga terkenal sebagai surga kuliner di Kuala Lumpur. Salah satu jalan yang termahsyur adalah Jalan Alor. Namun kebanyakan makanan di sana adalah makanan Chinese food yang saya tak yakin kehalalannya.

Namun jangan khawatir, banyak makanan dan restoran halal di Bukit Bintang buat traveler muslim yang datang ke KL. Beberapanya sering saya datangi, bahkan jadi langganan setiap saya “mudik” ke KL.

Inilah beberapa restoran halal di Bukit Bintang yang sempat saya coba.

Nasi Ayam Chee Meeng Bukit Bintang

Nasi Ayam Chee Meng
Nasi Ayam Chee Meng

Awalnya sempat ragu apakah chinese restaurant ini halal atau tidak, tapi pas sampai di depan resto saya melihat logo halal besar di samping nama restonya. Kami pun lega dan tidak khawatir lagi mengenai kehalalan makanan di resto ini.

Aneka makanan tersedia di resto ini, namun yang paling khas ya nasi ayamnya itu. Harga satu set nasi ayam paha adalah RM 13. Rasanya enak, dagingnya lembut dan bumbunya terasa sampai ke dalam meskipun daging ayamnya cukup tebal.

Suasana resto cukup ramai karena saya ke sana pas jam makan malam sekitar pukul 19.00, dan kebetulan malam minggu pula. Meskipun ramai tapi pelayanan di resto ini terbilang cukup cepat. Pencatatan order pun cukup canggih, pelayanan menuliskan order makanan kami melalui aplikasi di tablet. Saat melihat gambar logo resto ini di dinding, saya baru tahu kalau usia resto ini sudah berdiri sejak tahun 1965. Wah, sudah lumayan tua juga ya ternyata.

Oiya, resto ini tutup jam 9 malam. Jadi order terakhir kira-kira jam 8 malam deh.

Nasi Lemak Alor Corner

Makanan Nasi Lemak Halal di Bukit Bintang
Begini penampakan Nasi Lamak Alor Corner

Nasi Lemak Alor Corner ini tempat favorit saya untuk sarapan. Selain rasanya memang enak, saya belum nemu tempat sarapan lain di sini yang buka di bawah jam 8 pagi. Maklum, saya biasanya sudah cabut dari hostel sekitar jam 7.30.

Letak Nasi Lemak Alor Corner tak jauh dari KFC Bukit Bintang, di pojokan menuju Jalan Alor. Bentuknya berupa tenda non-permanen, di sebelahnya ada kursi-kursi dan meja plastik untuk pengunjung yang makan di sana.

Menu utama yang ditawarkan di Nasi Lemak Alor Corner ini adalah nasi lemak dengan lauk beraneka ragam yang bisa dipilih sesukanya. Ada ayam, daging, perkedel, kentang pedas, tahu, tempe, telor, udang, cumi dan banyak lainnya. Setiap ke sini, pasti bingung nentuin mau makan lauk yang mana.

Oiya, porsi nasi lemak alo corner ini juara, banyak banget!! Tapi bisa pesan nasinya setengah porsi aja, seperti yang selalu saya lakukan. Harganya juga nggak terlalu mahal. Nasi lemak plus ayam goreng sekitar 5RM, nasi lemak dengan telor hanya 3 RM. Murah meriah kenyang.

China Lanzhou Mee Tarik

China Lanzou Mee Tarik

Di sebelah Nasi Ayam Chee Meng ada restoran china halal. China Lanzou Mee Tarik namanya. Saya datang ke sini sebenarnya tak sengaja. Awalnya saya ingin makan di Nasi Ayam Chang Mee namun ternyata restoran tersebut tutup. Akhirnya saya melipir ke restoran di sebelahnya yang tampak menarik dan punya logo halal di depannya (walau logonya dibuat sendiri, bukan dari pemerintah Malaysia).

Restoran ini menjual makanan khas China Lanzhou, yakni daerah di Timur Laut China yang banyak dihuni muslim Hui. Menu khasnya adalah mie tarik, mie yang dibuat dengan cara ditarik-tarik.

Di depan restoran ini bisa diliat koki yang sedang membuat mie. Tapi berhubung saya sudah lapar, saya ga minat melihatnya.

Kuliner halal bukit bintang
Maknan di China Lanzou Mee Tarik

Saya dan kawan-kawan memesan mie tarik daging (braised beef noodle), satu mie lagi yang saya lupa namanya, sate, dan dumpling. Untuk dimakan berempat. 

Rasa mie braised beef noodle-nya enak, saya suka kuahnya yang manis gurih. Tapi mie satu lagi yang saya lupa namanya itu rasanya biasa saja, mirip indomie di rumah. Dumplingnya juga lumayan enak, dan isinya bisa mix beberapa rasa.

8 Rekomendasi Penginapan Murah di Kuala Lumpur

Ini dia rekomendasi 8 penginapan murah di Kuala Lumpur yang pernah saya inapi.

Hampir semua penginapan murah di Kuala Lumpur yang saya inapi ini berpusat di sekitar Bukit Bintang dan KL Central, karena memang kedua tempat itulah yang paling ramai dan strategis untuk diinapi. Sekali pernah juga sih nginep di The Face Suite KLCC karena tempatnya sedang ngehits.

Baca Juga: Tempat Beli Oleh-Oleh di Kuala Lumpur

Nah, inilah beberapa penginapan di Kuala Lumpur di Bukit Bintang dan penginapan di KL Sentral yang pernah saya coba.

The Pod’s Backpacker Home and Cafe Kuala Lumpur

Image result for the pods kl sentral
Sumber: The Pod’s

The Pod’s Backpacker Home and Cafe Kuala Lumpur adalah penginapan backpacker yang lokasinya dekat sekali dengan KL Sentral. Tinggal jalan kaki menyeberangi NU Sentral, sampailah di penginapan ini. The Pod’s Backpacker Home and Cafe Kuala Lumpur juga tinggal selangkah lagi dari monorail KL Sentral, sehingga kalau mau jalan-jalan ke Bukit Bintang jadi mudah.

Di sekeliling hostel The Pods KL ini ada beberapa tempat makan yang terkenal enak. Ada ABC Cafe Bistro yang buka 24 jam dan menyajikan makanan India. Ada 7 eleven yang buka 24jam, ada satu lagi tempat makan India yang saya lupa namanya.

Di The Pods KL ini, saya hanya pernah mencoba menginap di female dorm dengan harga 30RM permalam. Murah, apalagi masih bisa titip koper kalau penerbangan pulang saya sore. Dibanding titip di KL Central, harganya sama, kan mending saya nginep di The Pods ini sekalian.

Kamarnya bersih, namun agak sempit. Susah untuk buka-buka koper, kecuali bawanya koper ukuran kabin. Selain kamar dormitori, di sini juga ada single atau double private room.

Travelogue Guest House Bukit Bintang

Penginapan Murah di Kuala Lumpur
Travelogue Guest House Kuala Lumpur

Travelogue Guest House juga salah satu pilihan saya kalau ingin menginap di daerah bukit bintang. Lokasinya strategis, tepat di depan monorail bukit bintang Airasia dan pintu masuk MRT Bukit Bintang.

Tak jauh dari situ juga ada Sungai Wang, Lot 10, dan di seberangnya ada Mal pavilion. Ke Alor dan Arabian Ain tinggal jalan kaki. Strategis banget deh.

Mereka punya kamar dormitori dan privat, dapur lengkap dengan alat-alatnya. Harganya juga ga terlalu mahal, mulai dari 100 rb per bed. Sayangnya, untuk dormitori mereka cuma sedia mix dorm, tak ada female dorm.

Dan untuk dorm yang isinnya empat, kamarnya lumayan sempit. Kekurangan lainnya adalah, letaknya di lantai 3 dan ga ada lift. Bisa sih minta bantuan, mereka menyediakan bel di lantai dua. Tapi kan lumayan bawa koper satu lantai.

Hotel Sentral Kuala Lumpur

Penginapan Murah di Kuala Lumpur
Kamar di Hotel Sentral Kuala Lumpur

Ketika kedua kalinya ingin membooking di The Pods KL, kali ini kamar private karena saya berdua, saya iseng mengecek Booking.com. Dan ternyata, Hotel Sentral Kuala Lumpur sedang promo. Kamar private double room dibanderol dengan harga yang sama dengan kamar private di The Pods. Jelas saja saya lebih memilih menginap di Hotel Sentral kan.

Hotel Sentral ini letaknya persis di sebelah kanan The Pods. Jadi sangat strategis. Ke monorail tinggal jalan 2 menit, ke KL Central tinggal nyebrang.

Nah, karena ini bentuknya hotel, kamarnya tentu lebih besar dan lebih enak dibading tetangga sebelahnya.

Saya memesan express twin room tanpa jendela. Tapi ternyata, ketika check in saya dapat kamar berjendela. Alhamdulillah… rezeki anak sholehah. Kamarnya bersih, kamar mandinya di dalam dan juga cukup bersih. Luasnya tak terlalu besar, tapi cukup untuk saya dan kawan saya membuka dan mengubek-ubek koper medium kami.

Oiya, express room ini ternyata beda lokasi dengan kamar standar Hotel Sentral. Liftnya pun berbeda. Kalau kamar standarnya liftnya ada di sebelah kiri resepsionis, sementara kamar express ini liftnya ada di balik tembok, di dekat Spa. Dan untuk menuju lift, ada 5 anak tangga dulu. Ufff…

Izumi Hotel Bukit Bintang

Izumi Hotel Bukit Bintang

Saya menginap di Izumi Hotel Bukit Bintang Kuala Lumpur saat bulan puasa. Saat itu, saya mencari hotel yang dekat dengan Al Arabian, sentra kuliner puasa di daerah Bukit Bintang. Pas banget, ada promo setengah harga dari Izumi Hotel Bukit Bintang ini. Jadi harga totalnya ga terlalu mahal, lebih murah dari nginep berdua di backpacker hostel malah.

Izumi Hotel ini letaknya juga strategis. Hanya 300 meter dari monorail Bukit Bintang, dan 100m dari halte bus GoKL. Jadi gampang ke mana-mana. Sewaktu puasa, di depannya langsung ada bazaar Ramadhan. Jadi ga perlu jajan jauh-jauh cari makanan berbuka khas Malaysia. Ke Sungai Wang, Lot 10, dan Pavilion juga tinggal jalan kaki.

Saya memesan kamar tanpa jendela. Lumayan bersih dan enak, tapi sempit. Dan tambah keliatan sempit karena ga ada jendela. Saking sempitnya saya susah fotonya…

Baca Juga: Restoran dan Makanan Halal di Bukit Bintang

Sky Hotel Bukit Bintang

sky hotel bukit bintang
sky hotel bukit bintang

Sky Hotel Bukit Bintang ini saya pesan dua jam sebelum check in, sewaktu pulang kondangan di rumah kawan couchsurfing saya di daerah Seramban, Kuala Lumpur.

Karena dadakan, saya nggak pakai milih ini itu, saya hanya mencari hotel yang lumayan bagus di Bukit Bintang, tapi paling murah di antara yang ada. Kebetulan, pas banget hotel ini sedang promo. Saya dapat kamar yang oke dengan harga kurang dari 400.000.

Kalau soal lokasi, Sky Hotel Bukit Bintang tidak sestrategis Izumi Hotel.  Walaupun begitu, lokasinya deket sekali dengan jalan Alor dan cuma 300m dari stasiun monorail Imbi. Hanya aja, kalau mau naik GoKL, mesti jalan dulu 600m ke arah stasiun Monorail Bukit Bintang.

Masih oke sih yaa…

Kalau soal kamar, oke banget. Gedeeeee. Pun dengan kasurnya, saya tidur berempat pun muat. Hahaha, jangan ditiru ya, sebenarnya awalnya cuma mau bertiga, tapi kawan saya yang rumahnya 1 jam dari KL tak mungkin pulang karena kami ngobrol di salah satu restoran di jalan Alor hingga larut malam.

Di dekat hotel ini ada warung kelontong yang cukup besar dan lengkap. Bisa jadi salah satu tempat buat berburu bahan makanan khas Malaysia, yang kadang nggak saya temui di tempat lain. Misalnya aja tepung pisang goreng Adabi. Di supermarket gede pun saya ga nemu, eh malah nemu di sini.

The Face Suites Kuala Lumpur

The Face Suites Kuala Lumpur
The Face Suites Kuala Lumpur

The Face Suite dan Regalia adalah dua penginapan paling happening di Kuala Lumpur. The Face Suite Kuala Lumpur ini sebenarnya aparthotel alias apartemen yang bergabung dengan hotel, jadi pemiliknya bisa menyewakan unit apartemennya ke orang lain.

Yang bikin The Face Suite Kuala Lumpur ini terkenal karena di lantai atasnya ada infinity pool dengan latar belakang pemandangan kota Kuala Lumpur. Ada petronas dan menara KL sebagai backgroundnya. Kece buat foto-foto, apalagi waktu malam. Buat yang menginap di sana, bisa dapat fasilitas berenang di sini. Bisa pinjem handuk pula.

Oiya, saya memesannya via Airbnb, dengan harga sekitar 36 dolar per kamar. Jadi cuma bayar 2 dolar karena kawan saya pakai referal dari saya dan ia dapat potongan 34 dolar. (Kalau mau voucher potongan airbnb senilai 32 dolar, klik INI ya).

Unit yang saya inapi ini interiornya modern clean, semua serba putih. Keren deh. Di dalam unit itu ada 2 kamar yang disewakan, satu kamar mandi dengan kamar mandi di dalam, dan satu kamar dengan kamar mandi di luar. Saya jelas menyewa yang kamar mandinya di luar, karena harganya lebih murah!

Unit apartemen The Face Suite Kuala Lumpur yang saya inapi ini dilengkapi juga dengan dapur lengkap dengan microwave, kulkas, kompor, griller, dan peralatan masak-makan. Ada juga mesin cuci dan setrika. Lengkap.

Untuk menuju ke sini dari KL Sentral bisa naik monorail dan turun di Bukit Nanas. Atau kalau mau pakai taksi resmi, bayarnya cuma 14RM. Grab, pastinya lebih murah lagi.

Tune Hotel KL

penginapan murah di Kuala Lumpur
Tune Hotel Kuala Lumpur

Tune hotel Kuala Lumpur ini berada di jalan Tuanku Abdul Rahman, di tengah-tengah antara monorail Medan Tuanku dan Sultan Ismail. Agak jauh sih dari kawasan paling ramai di KL, bukit bintang. Tapi masih bisa lah dicapai dengan monorail.

Saya menginap di sini sudah lama (sekitar tahun 2011). Waktu itu, dekat sini hanya ada tempat makan outdoor yang ga terlalu menarik. Sekarang, di dekat sini ada tempat makan yang lumayan terkenal di KL, namanya RSMY Cheese Naan.

Kalau soal kamar, Tune Hotel KL ini kamarnya jelas oke. Walaupun simpel, tapi bersih dan nyaman. Luasnya standar, lebih besar dari Izumi dan Hotel Sentral, tapi lebih kecil dari Sky Hotel. Kalau yang pernah nginep di Tune lainnya, pasti tau deh kamarnya kayak apa.

Swiss Garden Residence Bukit Bintang

Swiss Garden Residence Bukit Bintang
Swiss Garden Residence Bukit Bintang

Sama dengan The Face Suite, Swiss Garden Residence ini juga apartemen hotel. Jadi apartemen yang disewakan untuk diinapi.

Saya menginap di sini karena ketinggalan pesawat pulang. Mau tak mau kembali ke KL. Saya balik naik bus dan dari KL Sentral ke sini dengan taksi resmi sekitar 17rm.

Lokasinya tak jauh dari Bukit Bintang dan Jalan Alor, walau bukan di pusatnya Bukit Bintang seperti Izumi dan Travelogue. Mesti berjalan kaki sekitar 10 menit. Kalau naik monorail (Hang Tuah) mesti jalan sekitar 5 menit.

Saya menginap di #17Home @Swiss Garden Bukit Bintang. Booking via airbnb. Kamarnya besar dan bagus, bisa diisi 4-5 orang. Kamar mandinya juga mewah, ada bathtubnya. Dapurnya lengkap, TVnya keren, bisa diputar-putar *norak saya.

Fasilitas di Swiss Garden sendiri juga oke. Ada kolam renang besar dengan pemandangan kota (walau bukan pemandangan Petronas seperti Face Suite). Ada fitness center juga kalau ingin olahraga, ada tempat bermain anak.

Tempat Beli Oleh-Oleh di Kuala Lumpur

Jalan jalan ga afdol tanpa beli oleh-oleh. Termasuk saat jalan-jalan di Kuala Lumpur. Biarpun udah berkali-kali ke sini, tetep aja saya selalu beli oleh-oleh buat keluarga.
Di mana tempat beli souvenir atau oleh-oleh di Kuala Lumpur? Nah, ini beberapa tempat membeli oleh-oleh dan souvenir di Kuala Lumpur yang biasa saya datangi

Jalan-jalan ga afdol tanpa beli oleh-oleh. Termasuk kalau jalan-jalan ke Kuala Lumpur.

Biasanya yang saya bawa dari KL adalah coklat, pineapple tart cookies, milo 3in1 (kata ponakan saya rasanya beda dengan milo di Indonesia) dan beberapa kosmetik yang nggak ada di Indonesia.

Di mana tempat beli souvenir, cokelat, atau oleh-oleh di Kuala Lumpur? Nah, ini beberapa tempat membeli oleh-oleh dan souvenir di Kuala Lumpur yang biasa saya datangi.

1. Jaya Grocer KLIA 2

images (4).jpeg

Ini andalan saya kalau waktu mepet dan ga sempet beli oleh-oleh di kota Kuala Lumpur. Jaya Grocer punya cabang di bandara KLIA2, jadi bisa beli oleh-oleh di sini sebelum pulang.

Di jaya grocer sini tersedia berbagai macam makanan, mulai dari coklat beryls, milo, teh tarik, 7days croissant, dan segala hal yang lagi happening di KL. Bahkan dulu sempet jual top cookies, lho..

2. Mydin

Mydin Kuala Lumpur

Mydin ini adalah semacam jaringan supermarket besar di KL. Ada beberpa cabang antara lain di Little India, di Kotaraya (dekat Petaling Street), Chow Kit, dan di beberapa tempat lainnya. Yang pernah saya datangi baru di Little India dan Kotaraya. Menurut saya, lebih enak di Little India karena gedungnya lebih bagus. Mydin di Kotaraya gedungnya tua dan kesannya kusam.

Barang apa yang dijual di Mydin? Banyak..mulai dari cokelat bermerk macam cadbury, tablerone, kitkat, Alfredo (yang mirip beryls) dengan harga lebih murah dibanding tempat yang lain. Coklat ga jelas mereknya juga banyak siiih….

Gimana dengan coklat Beryls? Saya pernah nemu satu jenis coklat beryls aja. Dan ga setiap saat ada di sana. Jadi kayaknya sih, kalau mau khusus nyari coklat Beryls, jangan ke sini, mending ke konternya langsung di mal.

Oiya, buat masuk ke sini, tas ga boleh dibawa. Jadi ada loker penitipan seharga 2 rm. Satu loker kecil muat untuk dua daypack ukuran 20-30 ltr.

Baca Juga: Restoran dan Makanan Halal di Bukit Bintang

3. Hanifa

Saya belum pernah ke Hanifa, tapi beberapa teman memberi rekomendasi untuk ke sini. Katanya, lebih besar dari Mydin, dan bisa bikin kalap belanja.

Salah satu cabang Hanifa terletak di Little India, ga jauh dari Mydin. Jadi kalau punya waktu seharian, bisa lah sekalian tawaf di Mydin dan Hanifa, lalu ditutup dengan makan sambosa di deket masjid Jamek.

4. Petaling Street

Petalling street adalah nama jalan di daerah Chinatown yang menjual beragam souvenir khas Kuala Lumpur. Ada gantungan kunci, tempelan kulkas, coklat gambar petronas, dan sebagainya. Harganya bisa ditawar, asal gigih aja nawarnya.

5. UO Superstore

Supermarket yang namanya merupakan singkatan dari “Untung Orang Ramai” ini terletak di Jl. Tuanku Abdul Rahman, nggak jauh dari pasar dan stasiun monorel Chow Kit.

Saya belum pernah ke sini, tapi kata temen saya sih, barangnya lumayan muraah…

Oiya, di pasar Chow Kit bisa beli buahan seger yang murah juga lho. Paling serinh beli buah plum dan anggur yang harganya cuma 10rb sekilo.

6.KLCC Suria

Ini sebenernya mal biasa sih, tapi sering banget saya datengin kalau mau beli titipan top cookies pineapple tart alias nastar kekinian ala Kuala Lumpur. Yaak, kan biar balik modal mesti buka jastipan khaan..

Letak toko top cookies ini strategis banget. Adanya di basement, jadi begitu masuk mal dari arah depan (halte bus), langsung turun satu lantai dan belok kanan. Tokonya berupa kios gerobak kecil yang penuh dengan toples.

Ada yang mau nambahin list ini?

Baca Juga: Backpacker ke Penang (part 1): Tune Hotel, Penginapan Murah dan Nyaman di Penang

 

 

Q & A Soal Transit di KLIA

Berbagai pertanyaan dan komentar masuk ke tulisan saya soal Transit di KLIA 2, Mau Ngapain?  Nah, biar gampang bacanya, saya rangkum di sini ya pertanyaan yang paling banyak ditanyakan soal Transit di KLIA dan Kuala Lumpur.

Image result for klia 2
Sumber: klia2.info

Berbagai pertanyaan dan komentar masuk ke tulisan saya: Transit di KLIA 2, Mau Ngapain?  Nah, biar gampang bacanya, saya rangkum di sini ya pertanyaan yang paling banyak ditanyakan soal Transit di KLIA dan Kuala Lumpur.

Q: Kalau transit di KLIA 2 , mesti keluar imigrasi?

A: Tergantung. Kalau beli tiket Airasia yang fly thru, ga mesti keluar imigrasi lagi. Kalau beli tiket satuan, ada yang harus keluar ada yang nggak.

Q: Apa maksud tiket fly thru dan tiket satuan? 

A: Tiket satuan adalah tiket yang dibeli per section penerbangan. Misalnya nih, saya mau ke Taiwan dari Jakarta. Maka saya beli tiket Jakarta-KL, lalu beli lagi tiket KL-Taipei secara terpisah. Saya akan dapat dua nomer (kode) booking yang terpisah.

Sementara, Fly thru ini istilah di Airasia untuk beli tiket langsung ke tujuan dalam satu kode booking. Misalnya, saya mau ke Taiwan tadi. Nah ketika di website Airasia saya langsung booking tiket Jakarta-Taipei, walaupun akan transit di KL.  Saya nanti hanya dapat satu bookingan yang isinya dua penerbangan yakni Jakarta-KL, dan KL-Taipei.

Q: Apa untungnya tiket fly thru dan tiket satuan? 

A; Biasanya tiket satuan ini harganya lebih murah. Tapi kalau membeli tiket fly thru, otomatis bagasi akan sampai ke tujuan akhir dan kita tak perlu keluar imigrasi lagi (bisa langsung menuju area transfer antarnegara). Sementara jika membeli tiket satuan, setelah mendarat saya harus keluar di imigrasi, check in lagi di konter, masuk ke imigrasi lagi.

Q: Apa kalau beli tiket satuan harus keluar imigrasi? 

A; Nggak harus, dengan catatan: sudah check in online, sudah punya boarding pass (sudah print dari rumah), dan nggak bawa bagasi. Kalau salah satu syarat ini ga terpenuhi, ya mesti keluar imigrasi. (Note: kebijakan ini bisa berubah ya).

Q: Kenapa kalau beli tiket satuan dan bawa bagasi nggak bisa langsung ke area transfer dan harus keluar imigrasi?

A: Kalau beli tiket satuan, bagasi hanya akan sampai di Kuala Lumpur, bukan di destinasi akhir. Mau ga mau, bagasi harus diambil dan kemudian dimasukkan lagi ke konter check in. Nah, konter check in ini kan adanya di luar, maka mesti keluar imigrasi dulu.

Q: Kalau keluar imigrasi, perlu visa ga?

A: Untuk berkunjung ke semua negara ASEAN, kita nggak perlu visa. Yang diperluin cuma paspor dan duit :D.

Q: Akan bermasalah nggak kalau keluar imigrasi saat transit?

A: Nggak, asalkan punya bukti tiket lanjutannya (membuktikan kita hanya transit aja). Selama ini sih saya nggak pernah ditanyain, tapi itu karena hampir setengah paspor saya isinya stamp Malaysia ya. Biasanya, kalau transit dan catatan perjalanannya belum banyak (paspor masih kosong), akan ditanya kapan penerbangan selanjutnya. Tunjukin aja tiketnya.

Q: Berapa lama jarak antarpenerbangan yang aman?

A: Kalau beli tiket satuan, saya sih ngasih jarak minimal 3,5 jam antara penerbangan satu dengan lainnya, apalagi kalau bawa bagasi. Karena antrian imigrasi di KLIA2 ini cukup panjang. Tiga setengah jam ini waktu yang paling minimal yaaa, dengan catatan pesawatnya ga delay.

Hitungannya gini. Dari turun pesawat ke imigrasi, sekitar 20 menit. Antri imigrasi, paling cepet 20 menit (kalau lagi sepi ya). Keluar nunggu bagasi, 20 menit lagi. Itu udah sejam. Lalu keluar check in lagi, mesti antri lagi.  Itu hitungan minimal ya, bisa jadi lebih kalau imigrasinya antri parah.

Q: Kalau saya transit dan mau jalan-jalan ke Kuala Lumpur, bisa ga?

A: Bisa kalau cukup waktunya. Kalau menurut saya, minimal 8 jam baru bisa jalan-jalan ke KL. Jarak dari KLIA ke KL lumayan jauh, sekitar 45 menit-1 jam. Belum lagi waktu untuk cari bus, antri imigrasi, titip barang (kalau pakai bagasi). Ada sih alternatif naik kereta cepat, tapi menurut saya sih ga worth it kalau habisin uang segitu cuma hanya mau lihat Petronas.

Baca Juga: Cara Menuju Kuala Lumpur dari KLIA 2

Q: Kalau saya transit dan mau jalan-jalan ke Kuala Lumpur, ada penitipan barang di KLIA2 ?

A: Ada, harganya mulai dari 18 RM. Lokasi lengkapnya bisa lihat di http://www.klia2.info/about-klia2/facilities/luggage-storage-and-locker ya. Di KL Sentral juga ada penitipan barang, bentuknya loker juga dengan harga yang sama dengan harga di KLIA. Saran saya sih, mending titip di KLIA aja supaya ga ribet ketika naik bus/kereta.

Q: Kalau saya transit dan mau jalan-jalan ke Kuala Lumpur, naik apa ya enaknya?

A: Ada pilihan naik bus, kereta, dan grab. Lebih lengkapnya bisa cek di tulisan saya soal Cara Menuju Kuala Lumpur dari KLIA 2.

Q: Kalau saya turun di KLIA2 dan penerbangan selanjutnya ada di KLIA, bagaimana caranya?

A: Ini beda bandara, jadi mau ga mau harus keluar imigrasi dan kemudian naik kereta express ke KLIA. Harganya cuma 2 RM dan waktu menuju ke sana hanya 5 menit.

Ada pilihan naik free bus. Tapi kalau waktunya mepet, jangan naik ini ya. Rutenya agak memutar dan mampir dulu di semacam tempat parkir mobil (gw lupa apa namanya).

Q: Kalau dari Medan (atau daerah lain di Indonesia) mau ke Jakarta via KL, mesti bawa paspor ga?

A: Pastinya. Walaupun cuma transit dan beli tiket fly thru, tetep mesti bawa paspor.

Penerbangan ke KL, meskipun tujuan akhirnya ke Jakarta, dihitung sebagai penerbangan internasional. Artinya di bandara Medan akan terbang dari terminal internasional dan akan melewati pemeriksaan imigrasi. Begitu sampe di KL, kalau pake tiket flytrhu emang ga akan kena pemeriksaan imigrasi, namun begitu sampe Jakarta, akan mendarat di terminal internasional. Artinya kita dianggap datang dari luar negeri dan wajib melewati petugas imigrasi.

 

 

Keliling Kuala Lumpur Gratis dengan Bus Go KL

Kalau ingin jalan-jalan di dalam kota Kuala Lumpur secara gratis, pakai saja bus gratis Go KL City Bus. Jadi lebih irit!

bus go KL ke Petronas

Kalau ingin jalan-jalan di dalam kota Kuala Lumpur, ada beberapa alternatif moda transportasi yang bisa digunakan. Ada monorail, LRT, bus, dan yang teranyar adalah bus Go KL City Bus yanggratis .

Kalau di Jakarta ada City Tour Bus Jakarta, di Bandung ada Bandors, di KL ada bus Go KL City Bus. Saya selalu naik ini ketika di KL, demi menghemat isi kantong. Yup, sama seperti bus-bus wisata lainnya, untuk naik bus Go KL ini saya tak perlu membayar tiket sepeser pun. Tiketnya gratis.

Bus Go KL ini hanya beredar di area pusat kota saja, namun rutenya menjangkau hampir semua tempat wisata di tengah kota Kuala Lumpur. Petronas KLCC, Bukit Bintang, Petaling Street (China Town), Pasar Seni, Masjid Jamek, KL Tower dilalui bus ini.

Baca juga: Cara Menuju KL Central dari KLIA

Rute Bus Go KL

Ada beberapa rute bus Go KL yang dibagi berdasarkan line. Ada line merah, ungu, biru, dan hijau. Kalau di webnya sih, pembagian warna ini berdasarkan jenis kegiatan wisata yang bisa dilakukan.

  • Line Merah/ Go Relax, rutenya  kebanyakan melewati hotel.
  • Line Biru/ Go Work, tempat yang dilalui rata-rata adalah perkantoran.
  • Line Hijau/ Go Shop karena melewati dua tempat belanja besar (KLCC dan area Bukit Bintang).
  • Line Ungu/ Go Sightseeing karena melewati banyak tempat wisata.

Tapi itu mah bisa-bisanya mereka aja memberi nama rute. Ga ngaruh juga sih karena beberapa tempat bisa dilalui banyak line. Cukup lihat peta di bawah ini aja. Rutenya sendiri berbentuk loop. Artinya kalau mau balik ke tempat semula mesti ikut busnya berkeliling dulu.

Misalnya nih saya tinggal di Bukit Bintang dan mau menuju Petronas. Saya tinggal naik bus GoKL line hijau dan berhetni di KLCC. Kalau dari Petronas mau ke KL Tower misalnya, tinggal naik yang hijau lagi berhenti di Pavilion dan sambung line warna ungu.

peta bus Go KL
peta bus Go KL

Sebenarnya bus ini sudah ada sejak tahun 2012, tapi saya baru coba sekitar tahun 2015 lalu. Saya naik rute ungu, hijau, biru karena itu rute-rute yang loopnya paling kecil dan juga rute terdekat dari tempat-tempat yang saya tuju. Busnya bersih, kaca-kacanya lebar, dan yang penting ada WiFi gratis!!

Tip Menggunakan Bus Go KL

  1. Bus ini beroperasi hampir sepanjang hari jadi jangan khawatir kemalaman dan ga bisa pulang. Jadwalnya Senin-Kamis: 6.00am-11.00pm. Jumat-Sabtu: 6.00am-1.00am. Minggu: 7.00am-11.00am.
  2. Bus lewat setiap 5-10 menit sekali tapi kadang lama banget sih.
  3. Di rush hour (peak hour) antrian penumpang bus ini bisa panjang. Jadi kalau buru-buru, lebih baik naik monorail saja.
  4. Ada beberapa halte yang dilewati banyak rute bus, misalnya saja halte Monorel Bukit Bintang. Jadi kalau mau naik, lihat rute dan nama line bus yang ada di bus ya…

Baca juga: Kuliner Halal di Bukit Bintang

 

Cara Menuju Kuala Lumpur dari KLIA 2

Karena di postingan tentang Transit di KLIA banyak banget yang nanya soal cara menuju kota Kuala Lumpur (KL Sentral) dari sini, akhirnya kuputuskan aja untuk menulis artikel khusus tentang ini. Cekidot ya…

Karena di postingan tentang Transit di KLIA banyak banget yang nanya soal cara menuju kota Kuala Lumpur dari KLIA 2, akhirnya saya putuskan aja untuk menulis artikel khusus tentang ini. Cekidot ya…

KLIA dan KLIA2 terletak di Sepang, jaraknya kurang lebih 55km dari kota Kuala Lumpur. Nah, dari KLIA2 menuju kota Kuala Lumpur bisa menggunakan 3 moda transportasi.

1. Naik bus

Image result for skybus klia
FOTO: KLIA2.INFO

Ini cara termurah yang bisa dilakukan untuk mencapai Kuala Lumpur dari KLIA2 ataupun KLIA. Bus-bus ini akan menuju KL Sentral. Lalu di Sentral, Anda bisa melanjutkan ke penginapan atau tempat lain dengan menggunakan LRT atau Monorail.

Waktu perjalanan dari KLIA2 menuju KL Sentral dengan bus sekitar 45 menit hingga 1 jam, tergantung kondisi lalu lintas di dalam kota KL.

Begitu keluar dari imigrasi dan kustom, carilah tanda panah yang menunjukkan shuttle bus/couch bus. Adanya di lantai 1, turun 1 lantai dari lantai kedatangan.

Ada beberapa perusahaan bus yang melayani rute KLIA2 ke KL Sentral, dan sebaliknya. Ada aerobus, ada skybus. Namun saya lebih suka menggunakan skybus, perusahaan bus milik airasia, karena menurut saya bus milik aerobus rada bau apek yaa..

Tiket bus bisa dibeli di tempat (di loket-loket yang ada di lantai 1). Namun agar lebih murah, saran saya belilah tiket online. Untuk tiket skybus misalnya, jika membeli on the spot harganya 12.5RM, sementara jika membeli online di situs resmi Skybus harganya hanya 11RM (one way) dan 10 RM (return). Kalau membelinya saat check in online Airasia atau saat booking Airasia, harganya malah cuma 8RM. Lumayaan kan bisa dipakai buat beli teh tarik?

Untuk jadwalnya, bisa dicek di https://www.skybus.com.my

Bus ini akan berhenti di KL Sentral. Dari sana, bisa menggunakan monorail atau LRT untuk mencapai tempat lain. Kalau mau ke bukit bintang, tinggal gunakan monorail yang terhubung langsung dengan KL Sentra ini.

Jika bawaan segambreng dan ingin menggunakan taksi, sebaiknya gunakan taksi resmi, jangan menggunakan taksi yang ditawarkan dekat tempat turun bus.

Cara menemukan taksi resmi: dari tempat turun bus naiklah, lalu jalan lurus sampai menemukan eskalator setelah McD (dan ada tanda panah bertuliskan “taksi”). Naik eskalator,  dan di sebelah kanan sebelum pintu kaca akan ada konter taksi resmi. Belilah tiket taksi di sana.

Harga taksi resmi jauuh berbeda dengan harga taksi tak resmi yang ditawarkan di tempat turun bus. Untuk menuju daerah Bukit Nanas (tak jauh dari Bukit Bintang), supir taksi di dekat tempat turun bus meminta harga 45RM. Padahal kalau taksi resmi, harganya cuma 17RM. Lebih bagus pula taksinya!

2. Naik Kereta KLIA Express

Image result for klia express
KLIA Express dari KLIA ke KL Sentral

KLIA Express adalah moda transportasi yang paling cepat untuk mencapai kota Kuala Lumpur (KL Sentral), tapi ya itu, harganya lumayan mahal.  Sekali jalan bisa mencapai RM55 alias 200 ribu rupiah. Saya mah sayang duitnya, bisa dipakai buat beli nasi lemak 5-7 kali!

Namun kalau terburu-buru atau takut ketinggalan pesawat, KLIA Express ini bisa jadi pilihan. Hanya butuh waktu 30 menit untuk mencapai KL Sentral dari KLIA2. Letak stasiunnya di KLIA juga lebih dekat ke area departure, kalau dibanding tempat skybus.

Layout plan, level 2 of gateway@klia2 Mall
Lokasi KLIA Ekspress

Lebih lengkap soal KLIA Express bisa dilihat di web resmi mereka ya…

3. Naik Grabcar

Kalau datang bersama kawan-kawan dan lagi tak pengen repot saya memilih naik Grabcar. Dari bandara ke KL tarifnya 65rm plus tol 10rm. Total 75rm.

Aplikasi Grabcar yang dipakai di Indonesia bisa langsung dipakai di sana, tanpa perlu men-setting apapun.

Yang perlu diingat, kebanyakan mobil mereka bentuknya sedan, jadi hanya muat 3-4 orang, plus koper atau tas yang nggak terlalu besar. Ada baiknya, sebelum naik, dicek dulu ke supirnya jenis mobilnya. Jangan sampai ketika mau naik, sopirnya ngomel karena mobilnya terlalu penuh.

Jika lebih dari 3 orang, pilih mobil yang kapasitasnya mobilnya lebih besar. Saya belum pernah coba dan tak pernah ngecek juga, karena baru dua kali pesab grab dari bandara dan dua-duanya cuma bertiga.

 

Rekomendasi Restoran di Kuala Lumpur

Mbak Arry, menceritakan pengalaman dia dan keluarganya berburu kuliner halal di Kuala Lumpur.

Saat kami ke Kuala Lumpur bulan Mei 2017 lalu, kami tidak melewatkan kesempatan untuk icip-icip kuliner setempat. Sebelum berangkat tentu saja kami sudah banyak browsing  untuk mencari informasinya. Dari hasil browsing kami mendapat info bahwa Malaysia terdiri dari tiga etnis besar : Melayu, Cina, dan India. Beruntungnya kami bisa mencicipi makanan dari ketiga etnis tersebut dalam perjalanan traveling kami kali ini. Mencari makanan halal di Kuala Lumpur tidak sulit karena mayoritas penduduknya muslim.

ABC Bistro Cafe
Lokasinya di lantai dasar Easy Hotel tempat kami menginap. Jadi setiap tamu yang menginap di Easy Hotel akan dapat kupon breakfast yang bisa digunakan di ABC Bistro Cafe ini. Untuk tamu hotel sudah ditentukan paket breakfast yang bisa dipilih. Kami memilih  makanan khasnya saja, makanan melayu, yaitu roti canai dan nasi lemak. Untuk minuman hanya bisa pilih teh tarik atau kopi tarik. Saya coba dua-duanya dan enak semua rasanya.

Nasi Lemak di ABC Bistro Cafe
Cangkir yang khas digunakan untuk menyajikan teh tarik/kopi tarik hangat. Di Oldtown Cafe waktu saya pesan menu yang sama juga penyajiannya di cangkir seperti ini. Cangkir ini terbuat dari keramik yang cukup tebal.

Saya perhatikan tempat ini cukup ramai dikunjungi orang-orang selain tamu hotel. Di bagian depan hotel tertera tulisan Original Nasi Kandar. Menunya seperti nasi rames kalau di Indonesia.

Suasana di dalam ABC Bistro Cafe
Bagian depan resto

Lokasi ABC Bistro Cafe/Easy Hotel ini persis di samping jembatan penyeberangan KL Sentral ke arah stasiun monorail. Stasiun monorail-nya persis di samping Easy Hotel.

Restoran Visalatchi’s
Lokasinya di Brickfields, jalan kaki sekitar 5-10 menit dari KL Sentral. Resto ini menyediakan makanan khas India Selatan. Kami memesan set menu nasi biryani. Rasa kari India itu ternyata nggak terlalu pedas ya. Butiran nasinya panjang-panjang, yang menurut karyawan resto yang melayani kami, berasnya diimpor langsung dari India. Untuk lauk dagingnya kita bisa milih mau daging ayam atau kambing. Penyajiannya cukup unik, di atas sehelai daun pisang. Jika sudah selesai, daun pisangnya dilipat, ini sebagai tanda bahwa kita sudah selesai makan.

Tampak depan resto
Set nasi biryani di resto ini
Sayur pendamping, termasuk dalam set nasi biryani
Fish puttu, ini menu tambahan. Harus minta ke pelayannya jika menginginkan tambahan menu ini.
Daun pisan yang dilipat adalah tanda bahwa kita sudah selesai makan

Saat kami datang sudah lewat jam makan siang. Suasana resto terlihat agak sepi. Di dinding resto terpasang foto-foto suasana makan bersama di India. Orang-orang tersebut duduk di lantai dan juga menggunakan daun pisang untuk alas makannya.

Suasana di dalam resto
Foto di dinding yang menggambarkan suasana makan bersama di India

Saya lupa di resto ini ada daftar harga atau tidak. Sekedar gambaran, total yang kami bayarkan saat makan di sini adalah RM 48 untuk dua set nasi biryani, menu tambahan fish puttu, nasi putih plus ayam goreng untuk anak saya, dan tiga gelas es teh tarik.

Aneka makanan yang bisa dipilih

Yang agak ajaib di resto India ini adalah gestural pelayannya. Pas saya tanya apakah makanannya pedas, dia geleng-geleng. Trus saya tanya apakah makanannya tidak pedas (untuk memastikan), eh dia geleng-geleng juga. Pedas atau nggak pedas sama aja dia tetep geleng-geleng. Jadi ini makanan pedas apa nggak sih ya, nggak jelas! Hahaha.

Foodcourt di Central Market
Central Market adalah salahsatu pusat oleh-oleh di Kuala Lumpur. Kalau capek hunting oleh-oleh, bisa naik ke lantai 2. Di situ ada foodcourt yang menjual aneka makanan dan minuman khas Malaysia. Waktu kami ke sana perut masih kenyang, jadi kami hanya pesan minuman. Udara cukup panas di luar sehingga membuat kami haus. Si Bocah tidak mau pesan apa-apa karena merasa perutnya benar-benar full 😀

Suasana foodcourt di lantai 2 Central Market

Saya pesan es tebu dan si Ayah pesan es soya cincau. Keduanya sama-sama enak dan bikin segar. Saya tertarik banget pingin coba ais kachang, tapi urung mengingat tenggorokan saya agak sensitif dengan minuman super dingin.

Es tebu dan es soya cincau yang segar. Pesannya di Kopitiam di seberang itu.

Cara ke Central Market dari KL Sentral adalah dengan naik LRT Kelana Jaya, turun di stasiun Pasar Seni. Karena kami menginap di dekat KL Sentral, maka transportasi menuju tempat-tempat kuliner yang saya ceritakan dalam artikel ini start-nya dari KL Sentral semua ya.

Simple Life 
Resto vegetarian ini terletak di Signature Foodcourt, lantai 2 mall Suria KLCC. Menu yang saya pesan adalah nasi lemak. Dalam set menu ini ada semangkuk kecil sayur, saya tidak tahu namanya, tapi rasanya segar sekali. Ada sedikit rasa asam yang membuat sayur ini terasa segar.

Nasi lemak ala Simple Life
Sayur ini rasanya segar banget

Jika makan di Signature Foodcourt, pilih deretan kursi yang dekat dinding kaca. Pemandangannya ke arah air mancur dan taman di depan mall. Makanya spot ini jadi favorit dan bakalan cepat penuh kalau pas jam makan. Saat malam hari bisa lihat air mancur menari warna-warni dari sini tanpa harus turun ke area air mancur di depan mall.

Spot favorit di Signature Foodcourt. Bisa lihat air mancur dan taman di bawah sana.

Untuk menuju mall Suria KLCC dari KL Sentral, naiklah LRT Kelana Jaya lalu turun di stasiun KLCC. Stasiunnya langsung terhubung dengan mall-nya.

Nasi Ayam Hainan Chee Meng
Lokasinya di daerah Bukit Bintang. Dari KL Sentral naik monorail dan turun di stasiun Bukit Bintang. Letaknya di pinggir jalan besar sehingga cukup mudah menemukan resto ini.

Tampak depan resto dari seberang jalan

Awalnya sempat ragu apakah chinese restaurant ini halal atau tidak, tapi pas sampai di depan resto saya melihat logo halal besar di samping nama restonya. Kami pun lega dan tidak khawatir lagi mengenai kehalalan makanan di resto ini.

Aneka makanan tersedia di resto ini, namun yang paling khas ya nasi ayamnya itu. Harga satu set nasi ayam paha adalah RM 11. Rasanya enak, dagingnya lembut dan bumbunya terasa sampai ke dalam meskipun daging ayamnya cukup tebal.

Set nasi ayam hainan terdiri dari ayam, nasi putih, dan kuah bening. Oseng tauge di sisi kanan itu menu tambahan di luar set menu ayam.
Daftar harga (1)
Daftar harga (2)

Suasana resto cukup ramai karena waktu kami ke sana pas jam makan malam sekitar pukul 19.00, dan kebetulan malam minggu pula. Meskipun ramai tapi pelayanan di resto ini terbilang cukup cepat. Pencatatan order pun cukup canggih, pelayanan menuliskan order makanan kami melalui aplikasi di tablet. Saat melihat gambar logo resto ini di dinding, saya baru tahu kalau usia resto ini sudah berdiri sejak tahun 1965. Wah, sudah lumayan tua juga ya ternyata.

Suasana di dalam resto yang cukup ramai karena pas di jam makan malam
Bapak ini sepertinya adalah pemilik restonya. Karyawan yang lain memakai seragam warna kuning, sementara bapak ini tidak memakai seragam. Saya tidak sempat mengobrol karena kondisi resto yang sedang ramai. Khawatir saya akan mengganggu jika mengajak beliau mengobrol.
Berdiri sejak 1965. Resto ini sudah cukup tua juga ya.

Nando’s
Resto yang satu ini memang bukan makanan khas Malaysia. Resto yang menu utamanya ayam bakar ala Portugis ini ternyata buka pertama kali di Afrika Selatan. Konon dulunya di Indonesia juga ada, tapi sekarang sudah tutup. Yang jelas di Jogja tidak ada, jadi kami tertarik untuk mencoba 😀

Berhubung jatah si Ayah makan ayam adalah 2 potong (kalau cuma 1 potong nggak nendang katanya. Hahaha.), jadi kami pesan menu platter, satu set menu besar yang bisa dimakan ramai-ramai untuk 3-4 orang. Level pedasnya bisa milih, mulai dari yang plain sampai extra hot. Dan saya pun jadi teringat menu ayam geprek di banyak warung di Jogja yang bisa milih level pedasnya berdasarkan jumlah cabai. Ah memang Jogja itu ngangenin ya, kemana pun kita pergi tetap selalu Jogja yang diingat. Hihihi.

Peri-Peri Chicken. Ayam bakar ala Portugis.
Potato wedges, bagian dari menu platter yang kami pesan.

Menu platter yang kami pesan terdiri dari 4 potong ayam dan 2 porsi potato wedges, harganya RM 59. Rasanya enak dan porsinya besar jadi cukup mengenyangkan. Yang agak aneh di lidah adalah rasa saus peri-peri yang disediakan untuk dicocol saat makan ayamnya. Ada dua macam saus peri-peri, extra hot dan garlic. Rasa asam yang kuat di sausnya itu terasa agak aneh di lidah. Yang extra hot masih mendingan sih rasanya dibanding yang garlic.

Saus Peri-Peri yang menurut kami rasanya aneh karena dominan asam. Yang extra hot masih lebih mending deh dibanding yang garlic. Hehe.

Resto Nando’s yang kami kunjungi ini letaknya di bandara KLIA2. Yap, kami makan di sini saat hendak pulang ke Jogja. Karena kami ambil penerbangan sore, maka saat jam makan siang kami sudah standby di bandara. Yah daripada ketinggalan pesawat, kami memilih menunggu di bandara saja. Dari beberapa info yang saya baca, untuk penerbangan internasional di KLIA2 sediakan waktu minimal 3.5 jam dari Kuala Lumpur. Bandara KLIA2 ini letaknya di Sepang, membutuhkan waktu sekitar 50-60 menit dari KL Sentral dengan menggunakan bus, jika perjalanan lancar tanpa macet. Perhitungkan juga waktu antrian di imigrasi yang seringkali tidak terduga panjang antriannya.

Karipap
Ini adalah snack khas Malaysia. Bentuknya seperti kue pastel kalau di Indonesia. Karipap ini berisi potongan kentang dan wortel yang diiris kecil-kecil dan diberi bumbu kari. Harganya 50 sen perbuah. Ibu penjual karipap ini berjualan pagi hari di depan deretan toko-toko di samping Easy Hotel tempat kami menginap.

Karipap seharga 50 sen
Ibu penjual karipap ini menggelar dagangannya di pagi hari. Di siang hari lapaknya tutup.

Roti Krim Massimo dan Gardenia
Kalau yang ini memang bukan makanan khas Malaysia. Saya cuma mau bilang kalau roti krim ini enak rasanya. Saya beli di minimarket KK di samping Easy Hotel. Waktu itu saya beli untuk bekal di bus menuju KLIA2. Nyesel belinya cuma 3 buah, dan yang 2 habis dimakan si Bocah dong. Huhuhu.

Yang merk Massimo (kiri) menurut saya lebih enak dibanding yang di sebelahnya

Jangan khawatir dengan kehalalan roti-roti ini. Di bungkusnya tertera logo halal dari majelis ulama setempat.

Tulisan dan foto ini diambil (dengan seiizin yang punya pastinya) dari blog http://www.iniarry.com/2017/07/kuliner-halal-di-kuala-lumpur.html?m=1

Tidur di KLIA 2

Terkadang kita mesti tidur di bandara karena berbagai alasan. Mau tak mau. Saya beberapa kali melakukannya di beberapa bandara di dunia. Tapi karena paling sering pakai airasia, ya jadinya saya paling sering tidur di KLIA2.

Di mana saya biasa tidur gratis di KLIA2?

1. Di lantai karpet dekat kafe Old Town

Saya pernah mencoba tidur di lantai karpet dekat kafe Old Town. Jadi begitu keluar dari imigrasi, lewati Erawan, ke arah kanan. Akan ada semacam area kosong di sebelah kafe Old Town yang dipenuhi orang tidur. Dulu, ini tempat tidur favorit saya di KLIA2 sebelum semua orang tidur di sini. Akhir-akhir ini saya menghindari tempat ini karena tempatnya rada bau dan berdebu. Dan juga, kemarin saya lihat, tempat itu sudah berubah jadi toko.

2. Musola di lantai 3 KLIA 2

Saya juga pernah tidur di musola di lantai 3 KLIA 2, di sebelah kiri pintu masuk   Internasional Departure. Bersih, lantainya terbuat dari kayu. Dibanding musala lain, tempat ini lebih ramai. Ada yang suka ramai karena katanya lebih aman, tapi ramai itu jadi minus buat saya, pasalnya tidur saya jadi tak nyenyak karena banyak orang yang masuk dan keluar.

Prayer rooms
Foto: http://www.klia2.info

3. Lantai Mezanin

Saya juga pernah mencoba tidur di lantai mezanin di atas pintu masuk Internasional Departure. Di sini ada beberapa bangku yang bisa ditiduri. Lumayan sepi dan bisa bikin tidur nyenyak. Sayangnya, nggak ada karpet di sini, jadi nggak bisa tiduran di lantai.

Entrance for International departures
Foto: http://www.klia2.info

4 Movie Lounge

Bagaimana kalau tidak keluar imigrasi alias ada di area transit (mereka menyebutnya area satelit) ? Nah, malah lebih enak. Banyak tempat tidur di area transit KLIA2 yang lebih nyaman dan tenang. Saya suka tidur di movie lounge atau sport lounge. Sepi, bisa liat pesawat (karena di sana ada jendela besar yang terhubung dengan tempat parkir pesawat), dan dekat dengan musala, WC, serta air minum. Tapi…areanya kecil dan mesti rebutan dengan bule-bule!

Foto: http://www.klia2.info

5. Urban Food Court

Tempat lain yang pernah saya inapi di area transit KLIA2 adalah di Urban Food Court di Level 3 (di seberang Sama-Sama Hotel, depan Burger King). Di sini ada bangku panjang yang empuuk.

IMG-20160826-WA0010 (1)
Urban Food Court

Nah, gimana. Ada rekomendasi tempat tidur lain di KLIA 2?

Tune Hotel

Karena mesti terbang ke Hanoi pagi buta (jam 6.20), gue mencari penginapan yang nggak jauh dari bandara. Satu-satunya pilihan adalah tune hotel, milik Airasia. Gue lupa berapa tarif yang gue dapet di sini, tapi sepertinya karena saat itu nggak promo, tarifnya lebih mahal ketimbang gue menginap di backpacker hotel di bukit bintang. Tapi mau nggak mau, sebab monorail dari Bukit Bintang ke KL Sentral (tempat skybus berada) hanya sampai jam 12 malem.  Naik taksi, pasti jatuhnya jadi lebih mahal.

Dari terminal LCCT, tune hotel sebenernya nggak terlalu jauh. Kalau jalan kaki, kira-kira 10 menit lah. Tapi…jalan yang dilalui bukan jalan khusus yang adem dan rimbun, melainkan parkiran mobil yang panasnya Naudzubillah. 


Sebenernya ada shuttle bus dari LCCT ke Tune dan sebaliknya, bayarnya hanya 1 RM. Tapi temen gue (yang udah pernah nginep di sini sebelumnya) baru inget hal itu ketika kita udah menginjakkan kaki di hotel. Oalah..

Kamar hotelnya sangat lumayan walaupun nggak terlalu luas. Tapi, seperti halnya AA, tune hotel ini rada pelit. Mau AC, bayar. Butuh anduk atau toiletries, pun mesti bayar. So, biar irit, gue hanya pake kamar standar (tanpa AC, cuma kipas angin). Tapi ternyata, panasnya minta ampun. Serba salah deh gue malam itu. Mau pake selimut kok ya panas banget, kalau nggak pake bisa-bisa gue masuk angin. Lebih enak tidur di lobi kayaknya:p

My First Trip

Ini cerita waktu pertama kalinya gue berindependent-traveller; pergi ke suatu tempat tanpa bantuan tur, guide, ataupun temen. Tujuan gue kali ini adalah Kuala Lumpur. Gue pergi berdua ama temen kantor gue, gara-gara ada promo murah dari airasia.

Biar murah dan irit fiskal, gue nggak langsung ke KL, tapi lewat Batam dulu. Jadi rutenya: Jkt-Batam-Sing-KL-Jkt. Lumayan ribet, tapi jadinya gue bisa mampir ke Singapura dulu, walaupun cuma sehari aja. (cerita tentang singapur gue tulis belakangan ya, soalnya gue balik lagi ke singapur di lain waktu dan mengunjungi tempat yang lebih komplit).