A-Z dan Tip Backpacking ke Kamboja (Phom penh, Angkor Wat) dan Ho Chi Minh

Tip Backpacking ke Kamboja

Di September 2010, saya berkesempatan backpacking ke Angkor Wat, Kamboja bersama 3 orang travelmate saya. Rute perjalanan saya kali ini adalah Jakarta menuju Ho Chi Minh dengan Airasia. Dari Ho Chi Minh saya menggunakan bus selama 12 jam menuju Siam Reap. Dari Siam Reap saya naik bus lagi selama 6 jam menuju Phnom Penh, sebelum pulang ke Jakarta via Kuala Lumpur.

Berikut ini beberapa ringkasan dan tip mengenai Backpacking ke Kamboja (Phom penh, Angkor Wat) dan Ho Chi Minh, yang saya kumpulkan dari berbagai sumber.

Ho Chi Minh

WHERE TO GO
  • Independence Palace
  • Museum Ho Chi Minh
  • Jade Pagoda ( kaya klenteng) mesti naik taxi ,karena nda tahu pasti lokasinya –> Gunakan MaiLinh taxi dan Vinasun taxi .
  • Notre Dame Cathedral yang berada di pusat kota (hati2 nyebrangnya) dan kantor Pos megah yang ada pas di sebelah Notre Dame.
  • War Remnants Museum untuk melihat kekejaman perang di Vietnam.
  • Reunification Palace (yang seru malah bunker bawah tanahnya) –> Ingat hampir semua museum di Vietnam beroperasi dari pagi sampai jam 12, terus tutup untuk makan siang dan buka lagi sekitar jam 2an. Harga tiket masuk ke museum2 ini VND 15.000/org.
  • Ben Thanh market, kalau malam hari lapak2 makanan banyak banget, harga juga bersaing. Menu biasanya udah di pajang lengkap sama foto dan harga, jadi kita tinggal tunjuk aja. Belanja juga di Ben Thanh aja, nawarnya yang giat yah.
  • Cu Chi Tunnel –> ikut tur aja, sekitar 4-5 dolar (stgh hari). Ada juga yang digabung dengan tur ke Chao Dai Temple, klenteng 3 agama. Kalau yang ini butuh waktu seharian.
TIP
  • HCMC-Phnom Penh bus tiketnya US$10-12 (plus visa cambodia diurus orang bus $US24–harga visa $US20+ jasa $US4). Perjalanan 6 jam. Sebaiknya staydi backpacker area De Tham atau Bui Vien Street di HCMC. Agen bus ada banyak di sana.
  • Di De Tham Street HCMC/Saigon (backpacker area-district 1) cari The Sinh Tourist ya. Di Saigon cuma 1 di De Tham street itu.
  • Masuk kamboja pake visa tapi gak mesti ngurus di jakarta kok di sana juga bisa.. aku byr 25 dollar sama org sinh touristnya dan semuanya dia yg urus 10 menit bis jalan org Sinh Touristnya br mulai tnyain siapa-siapa aja yg blm punya visa.. paling nanti diperbatasan tinggal cap paspor periksa bagasi dan cek suhu tubuh..
  • Utk makanan di HCM, perlu dicoba yang namanya mie vietnam pho hoa
  • Kalo di HCMC, yg saya tahu di Jalan Pham Ngu Lao, byk biro perjalanan. Saya wkt itu pake Vung Tau Tourist, pelayanannya bagus dan mau digerecokin. Tapi tetap,mesti hati2 juga milih biro perjalanan.
  • Untuk makanannya, disana banyak macem2 mie gitu deh, dan berasnya juga enak. dan puas2in makan dragon fruit deh
  • HCM ke SR: (1) direct ke SR biasanya sleeping bus (25-30USD), lama perjalanan direct sekitar 12 jam. bus paling akhir berangkat pk.14.00, (2) sitting bus (20USD), HCMC – PP (9USD). bus paling akhir berangkat pk.15.00 (Samco bus).
  • HCMC-Phnom Penh bus tiketnya US$10-12 (plus visa cambodia diurus orang bus $US24–harga visa $US20+ jasa $US4). Perjalanan 6 jam. Sebaiknya stay di backpacker area De Tham atau Bui Vien Street di HCMC. Agen bus ada banyak di sana.
  • Ada transportasi bus dari Ho Chi Minh (HCM) ke Siem Reap tapi makan waktu lama dan Anda harus melalui Phom Penh dulu. HCM-Siem Reap 6 jam. (Beli tiket di De Tham/Bui Vien Street banyak agent bus kok) Brangkat jam 07.00, 08.00 dan 13.00 harga tiket bus berikut visa masuk Cambodia 23-24$US. Anda tinggal duduk di dalam bus karena yang ngurus awak bus. Ntar di border Cambodia baru turun untuk dicek petugas orangnya yang punya paspor ini ada apa nggak di dalam bus.
  • Waktu aku di saigon, aku ditawari 2 buah model transportasi ke PP, yang satu seharga U$6 (kita harus urus imigrasi sendiri) yang satu lagi U$13 (urusan imigrasi ada yang mengatur). Mereka dengan cueknya menyelesaikan paspor2 yang diberikan oleh calo terlebih dahulu yang memakan waktu sangat lama.
  • Jangan lupa bawa bekal dari saigon, karena bus nggak berhenti untuk makan siang.
  • Bawa uang receh one US dollaran yang banyak karena di sana lebih laku dollar daripada mata uang mereka. dan ni uang ngga bisa dituker dimana2, jadi rugi kalo kebanyakan nuker duit sono. kalo nuker juga DITIPU mulu. jatuhnya uang dollar elo jadi anjlok banget.

Phnom Penh      

WHERE TO GO
  • Russian market (mirip dgn ben than market)
  • Museum Tual Seng
  • Foreign Correspondence Market (FCC)
  • Independence monument
  • Wat Phnom
  • Bong Kaek Lake
  • Hotel yang dulu jadi tpt ngungsi org2 asing waktu jaman Khmer merah,
  • Psar Thmey
  • Old Market,
  • Musium-21 (2USD)
  • Killing Field / Choeung Ek Genocidal Centre (3USD),
  • Royale Palace + Silver Pagoda (1 area, biayanya kalo tdk salah 6,5USD termasuk biaya camera).
TIPS
  • Dari PP ada beberapa bus yang ke SR, saya sarankan Mekong Express (11 USD), waktu itu saya berangkat pk.14.00 tiba sekitar pk.21.00 di SR.
  • Phom Penh-Siem Reap tiket dibeli di Preah Sisowath Road (tinggal di sini aja banyak hotel murah–kawasan RIVER SIDE), harga tiket $US5-7, perjalanan 5 jam.
  • Di Phnom Penh, sewa Re-mok, kayak tuktuk di Thailand gitu, sehari 12-15 dollar. sudah bisa kemana2, nongkrong di belakang sopir nyante2, gak mikirin jurusan. Waktu itu saya dari jam 9 pagi sampai jam 6 sore bayar 15 dollar. dah masuk bensin dll.
  • Untuk urusan visa masuk ke Laos dan Kamboja, sebaiknya bayar pakai USD. Karena kalau bayar pakai Baht, akan jauh lebih mahal. Sebab mereka memakai patokan kurs semaunya. Tahun lalu saya membayar visa on arrival Kamboja US$ 25 ( setara dengan 900 baht, waktu itu.
  • Di PP, coba hubungi Mas Firdaus, dia orang indonesia dan sudah 14 tahun di sana. Dia kerja di Bali Cafe GH, tapi sayang Bali Cafe GHnya baru saja tutup dan dia buka restoran lagi. No hpnya mas Firdaus +85512967480*. Orangnya baik sekali. Bilang saja taunya dari Andri.
  • Untuk sewa tuk2 itu per harinya 15 USD (dari jam 8.00pagi sampai jam 4.00sore)
  • Tidak usah tukar Riel (Mata uang Cambodia), karena metoda pembayaran menggunakan USD.
  • Dari Phnom Penh menuju Siam Reap naik bus sekitar 7 jam juga harga busnya sekitar 12 $US.
  • Untuk Kamboja, bila naik bis memang lebih baik naik Mekong Express daripada Cambodia Angkor Express
  • Beberapa info yg masuk ke milis ini bilang bahwa dari thailand ke kamboja lebih rumit daripada jalur vietnam ke kamboja di karenakan banyaknya scam bus di thai ditambah lagi dengan pengurusan visa on arrival (saya baca di blognya mbak Dyah Elok, untuk pengurusan visa yang diatur oleh biro perjalanannya sepertinya ngga ribet dan hanya kena $20 dan $4 untuk jasa pengurusan oleh biro perjalanan tersebut).

Siem Reap  

WHERE TO GO
  • Angkor wat dan Angkor Thom –> ini sudah butuh seharian penuh (biasanya berangkat jam 5 subuh selesai jam 4 sore, pakai tuktukt 10-13 dollar, masuk angkor bayar 20$)
  • Malamnya ke night market atau jalan2 disekitaran pasar lihat2 cafe
TIPS
  • Kalo mau ke Angkor Wat, saya sarankan untuk datang ke sana pagi2 banget pukul 05.00 start dari hotel. Pesan tuk tuk malam sebelumnya. Biasanya mereka mau dicarter seharian dari pukul 05.00-19.00 (sampai sunset dengan 10-15$US). Ratusan backpackers sudah berjajar di depan Angkor Wat sejak 05.00. Jam 9 sebaiknya bergerak ke komplex candi lainnya misalnya ke Bayon Temple, Ta Phrom tempat shooting Tomb Rider Angelina Jolie. Dan setelah pukul 14.00 balik lagi ke Angkor Wat karena udah nggak backlight untuk ambil gambar. Menjelang pukul 18.00 naik ke Phnom Bakeng untuk nonton sunset..
  • Di Siem Reap, nginap saja di kawasan dekat Old Market (dari terminal bus naik tuk tuk $US2). Di Old Market ini banyak bar yang cozy buka sampai lewat tengah malam.
  • Cobain dragon fruit jusnya, enak bgt.
  • Biaya masuk angkor wat, 20 dollar.
  • Sebaiknya di SR kamu udah booked hotel karena terminal busnya agak jauh dr pusat kota & SR kalau malam rada sepi gitu, kecuali daerah Old Market (backpacker area).
  • Kalau naik tuk2 dr terminal ke pusat kota kena sekitar 6USD/orang

Backpacking ke Kamboja dan Vietnam: Hotel di Ho Chi Minh

hotel ho chi minhdefault

Dalam perjalanan Backpacking ke Kamboja dan Vietnam September 2010 lalu, saya  mampir di Ho Chi Minh Vietnam. Kami sengaja mengambil rute ini untuk menuju Kamboja. Ya, tujuan utama kami memang untuk melihat Angkor  Wat di Kamboja yang terkenal karena film Tomb Rider.

Sebanarnya, ada dua alternatif yang bisa kami pilih untuk menuju ke Angkor Wat. Alternatif pertama adalah rute dari Jakarta menuju Kuala Lumpur untuk kemudian langsung menuju Siam Reap. Namun berhubung saya dan kawan-kawan sedang bosan-bosannya dengan Kuala Lumpur itu, kami memutuskan untuk nyari alternatif lain untuk menuju Angkor Wat.

Rute termudah yang berhasil kami temukan adalah Jakarta menuju langsung ke Ho Chi Minh Vietnam. Dari Ho Chi Minh kami akan naik bus menuju Siam Reap. Pulangnya, kami akan naik bus lagi dari Siam Reap ke Phom Penh, sebelum bertolak kembali ke Jakarta via Kuala Lumpur.

Kami memilih rute ini dengan beberapa alasan. Pertama, penerbangannya langsung dari Jakarta, sehingga kami tak perlu bermalam di LCCT lagi (note: kala itu bandara airasia belum pindah ke KLIA2). Kedua, saya sebenarnya belum pernah ke Ho Chi Minh, jadi ga apapalah menuju ke sini. Yang ketiga, saya juga bisa bertandanga ke Phom Penh.

Muter-muter sih, yang penting murah…


Kami sampai di Ho Chi Minh malam hari. Kawan saya membuking hotel di Ngoc Linh, salah satu hostel yang berada di daerah Pham Ngu Lao. Di jalan ini memang banyak sekali hostel murah, ya bisa dibilang daerah backpacker gitu deh. Dari sini, juga dekat dan gampang ke mana-mana. Selain itu, di Pham Ngu Lao juga banyak agen tur dan agen bus seperti Sinh Tourist, Mylinh, dan sebagainya.

Hostel Ngoc Linh, yang kami tempati itu lumayan juga, harganya 20 dolar/malam (twin). Kami memesan kamar standar, namun karena si mas-masnya salah memasukkan data, kami mendapat kamar yang lebih bagus, lengkap dengan bathtub. Tapi ini kata si masnya loh, jangan2 emang harga kamarnya segitu.

Dari bandara, kami meminta jemputan dari hostel dengan harga $ 14/mobil. Lumayan, karena kami jalan berempat, satu orang hanya membayar $3,5. Daripada naek taksi atau bus, lebih baik ini karena lumayan jauh juga jarak dari bandara ke tengah kota.

Ngoc Linh Hostel

283/21 PHAM NGU LAO STR
DIST.01 HCM CITY, VIETNAM
TEL: (84-8) 3837.5159 -3920.7874

Backpacking ke Kamboja dan Vietnam: Seharian di Angkor Wat

Hanya satu dua hari kami berada di Siam Reap. Tujuannya hanya satu, melihat kompleks bersejarah Angkor.

angkor wat sunrise

Hanya dua hari kami berada di Siam Reap, Kamboja. Tujuannya hanya satu, melihat kompleks bersejarah Angkor Wat.

Perjalanan backpacking Kamboja dan Vietnam kami berlanjut. Dari Ho Chi Minh, Vietnam, kami naik bus selama 12 jam menuju Siam Reap, Kamboja.

Di Siam Reap, kami menginap di daerah Old Market. Dari beberapa rekomendasi hotel yang diberikan, akhirnya kami memutuskan menggunakan Hotel Popular Guest house Siam Reap. Pertimbangan kami, hotel ini tak jauh dari old market, dan beberapa market lainnya. Juga tak jauh dari jalan raya menuju Angkor Wat, dan paling murah di antara hotel yang lain. 

Dari hasil nego kawan saya, Keshie, pemilik hotel di Siam Reap ini bersedia menjemput kami di kantor Sinh Tourist, yang ternyata lumayan jauh dari hotel. Kami dijemput dengan menggunakan tuk-tuk, dengan supir yang bernama Wandi. Wandi ini tampangnya persis orang Indonesia, tapi sok manis dan sok merayu. Dia pernah bilang ke kawan saya, “Your smile like a sunshine, heating my heart”. Ishhh…

Hotelnya sebenernya lumayan, tapi kamar yang diberikan ke kami kurang memuaskan. Awalnya sih kami akan diberikan kamar di lantai dua (yang menurut analisa kami itu kamar yang lebih bagus). Tapi paha saya dan kawan saya Keshie sakit akibat merangkak di Chu Chi Tunnel kemarin. Jadilah kami meminta kamar yang ada di bawah saja. Mereka sempat agak bingung sih, mungkin karena kamar yang di bawah kualitasnya tak sebaik yang di atas kali ya.

Sebenernya, kamar saya lumayan untuk harga sangat murah,  hanya agak berdebu dan panas (karena tak ada AC). Kamar dua kawan saya yang lain tampaknya lebih parah karena terletak di sebelah dapur. Pastinya lebih lembap, panas, dan gelap ….

Baca Juga: Backpacking ke Kamboja dan Vietnam: Bus Phnom Penh yang Penuh Drama


Oya, si Wandi itu, sang supir tuk-tuk ternyata menjemput kami bukan tanpa pamrih. Ada udang di balik bakwan goreng. Dengan menjemput kami tadi, dia mengharapkan kami akan memakai jasa dia untuk berkeliling Siam Reap. Sesaat setelah sampai di hotel, dia langsung ngajak kami membicarakan “our business plan for tomorrow”.

Untuk menuju ke Angkor Wat, dia membandrol harga $20. Menurut dia, itu harga yang murah, dan dia tak mau memberikan harga yang mahal yang mesti kami tawar. Dari hasil gugling di internet, tarif yang normal berkisar 10-15 dolar. Makanya, kami langsung menolak tawaran itu dan mencoba menawar di angka 10.

Tampang dia, yang semula ramah, berubah menjadi menyebalkan. Dia menolak mentah-mentah tawaran kami. Namun sebagai emak-emak yang doyan belanja di tanah abang, kami tak gentar dengan taktik begini. Kami segera pergi, keluar dari hotel untuk jalan-jalan dan cari makan. Sesuai perkiraan, dia langsung mencegah kami dan mengatakan kalau harganya bisa turun. Setelah perdebatan alot, akhirnya kami sepakat di angka 13. Angka yang aneh dan nanggung.


Pagi-pagi buta (jam 4.30), Wandi menjemput kami di depan hotel. Kami memang minta dijemput pagi agar bisa menyaksikan sunrise di Angkor Wat yang termahsyur itu.  Setelah perjalanan melewati jalan-jalan yang gelap, setengah jam kemudian kami sampai di depan gerbang kompleks Angkor. Wandi membantu membelikan kami one day pass ticket di loket, seharga $ 20 per orang. Lumayan mahal memang.

Selain tiket one day pass, dijual juga ticket pass untuk 2 hari, 3 hari, seminggu dan sebulan! Banyak yang bilang, sehari tak akan cukup untuk mengitari Angkor. Memang iya sih, kalau dari awal sudah berniat mengelilingi seluruh komplek Angkor ini. Tapi kalau saya sih, sehari juga sudah cukup. Bosen kaan liat candi melulu.

Oiya, sebagai informasi, Angkor adalah nama kompleks seluas 400 km yang berisi ratusan candi peninggalan Raja Hindu yang dibangun dari abad ke 9 hingga abad ke-15. Salah satu candi di sini, yang paling terkenal, adalah Angkor Wat. Selain itu, masih banyak candi lain yang ada di kompleks ini misalnya Angkor Thom dan Ta Phrom, tempat syuting film Lara Croft.

Wandi mengajak kami ke tujuan pertama hari itu: menyaksikan matahari terbit di lotus pond alias kolam teratau di depan Angkor Wat. Sesampainya di sana, suasana masih gelap namun sudah banyak sekali orang yang berkerumun di depan danau, mencari spot yang tepat untuk mengabadikan keindahan Angkor Wat. Tempat-tempat terbagus biasanya sudah diisi oleh bangku-bangku yang disewakan oleh ibu-ibu penjual makanan. Tapi jangan khawatir tak mendapatkan spot, tempatnya luas kok. Kalaupun ga dapet, nyelip aja di antara bangku-bangku itu :p.

Memang, saat matahari muncul, Angkor Wat menjadi sangat indah. Bentuk candi, yang tadinya gelap tak terlihat, sedikit demi sedikit muncul sebagai siluet, dengan latar belakang langit yang kemerahan. Yang lebih keren, bayangan candi juga muncul di lotus pond. Mistis…

FB_IMG_1587209920345 (4)

P1230867.JPG

Selepas dari Angkor Wat, kami melanjutkan perjalanan ke Angkor Thom atau dikenal juga dengan nama Bayon Temple.  Candi ini terkenal karena banyak patung four budha faces (patung budha dengan empat sisi), yang dipercaya membawa keberuntungan dalam hidup. Sewaktu di Thailand dulu, saya pernah diberitahu arti masing-masing wajah. Tapi lupa total.

Tujuan selanjutnya adalah Ta Phrom, tempat yang dijadikan setting Lara Croft dalam Tomb Rider. Yang sudah nonton filmnya pasti tau dong seperti apa candi ini. Yup, Ta Phrom adalah sisa-sisa candi yang berada di antara akar pohon besar.

P1230832.JPG
Ta Phrom

Perjalanan dilanjutkan dengan mengelilingi dan datang ke beberapa candi lain (yang namanya tak bisa saya ingat). Menurut saya nih, selain 3 candi yang sudah kami datangi tadi, candi yang lainnya biasaaa aja. Saya lebih menyukai Candi Prambanan yang cantik, atau Candi Borobudur yang megah.

Angkor Wat-1
Random temple (lupa namanya apa)

Perjalanan kami hari itu berakhir di Bakheng Phom, untuk melihat sunset. Bakheng Phom adalah sebuah candi yang terletak di sebuah bukit. Karena adanya di ketinggian itulah, ia dijadikan tempat melihat sunset.

Untuk mencapai candi itu, kami harus mendaki bukit yang lumayan tinggi ditambah mendaki anak tangga candi yang licin dan tinggi. (kenapa orang dulu bikin anak tangga tinggi banget ya). Kalau tak mau susah payah dan capek berjalan, sebenernya ada penyewaan gajah. Tapi ya itu, harganya mahal..

Sayangnya, cuaca sangat mendung saat itu hingga matahari tetutup awan gelap. Gagal deh usaha kami melihat sunset.

TIP MELIHAT ANGKOR WAT 

  • Bawa senter kecil, yang berguna banget karena banyak undakan di jalan menuju lotus pond. Jalan ini tak terlihat karena gelap.
  • Harga makanan di area Angkor cukup mahal. Paling murah adalah nasi goreng (tanpa telor) seharga 5 dolar. Jadi kalo mo irit tapi rada repot, bawa bekel sebanyak-banyaknya :p
  • Kalau belanja di Kamboja, tawar setega mungkin. Penjualnya pasti bilang, kasianlah saya, tambah lagi harganya, nanti anak saya mo dikasi apa kalau harganya segini, saya rugi, bla..bla..bla. Jangan kesian, itu emang taktik mereka biar kita ga nawar terlalu rendah
  • Hati-hati, di Siam Reap banyak copet dan banyak nyamuk!!

 

Popular Guest House #033, Group 10, Viheachin Village, Svaydangkum commune, Siem Reap District, Siem Reap. Tel : (855) 12 916165

Backpacking ke Kamboja dan Vietnam: Bus ke Phnom Penh yang Penuh Drama

Preman, waria, dan kakek-kakek berminyak angin. Itulah yang kami temui di bus antara Siam Reap dan Phom Penh. 

Alih-alih melihat para bule bermata biru, di bus antara Siam Reap dan Phom Penh ini kami malah bersama  preman, waria, dan kakek-kakek berminyak angin.

Setelah puas mengunjungi Angkor Wat, saya dan kawan-kawan harus pulang ke Jakarta via Kuala Lumpur. Namun karena pesawat ke Kuala Lumpur bertolak dari Phnom Penh, dari Siam Reap kami pun harus kembali menuju Phnom Penh.

Sama seperti perjalanan pergi, perjalanan pulang dari Siam Reap ke Phom Penh pun harus ditempuh selama 6 jam dengan menggunakan bus. Karena kemarin bus Sinh Tourist agak mengecewakan, busnya kecil dan ngebut, kami pun ingin mencari alternatif bus lain. Ketika bertanya tempat pembelian bus ke petugas hotel, dia malah menjual tiket bus AC dengan harga cuma $ 6. Tanpa pikir panjang, kami langsung mengiyakan karena harga bus lain sekitar $ 10-12. Selain murah, kami tak perlu susah payang menggotong-gotong ransel ke tempat bus, ataupun menyewa tuk-tuk lagi.

Baca Juga: Seharian di Angkor Wat

Ternyata, bukan bus lah yang menjemput kami di hotel, melainkan mobil L300. Memang, bus hanya boleh masuk sampai terminal di ujung kota dan tak boleh masuk ke dalam kota Siam Reap. Karenanya, kami dijemput terlebih dahulu dengan menggunakan mobil kecil. Kalau naik tuk-tuk ke terminal ini, katanya biayanya $6/orang. Katanyaaa….


Sampai di terminal, kami kaget. Terminalnya lebih mirip pasar yang becek. Walaupun sudah mafhum dengan kondisi Kamboja yang tak sebagus Indonesia, kami masih berpikir kalau paling tidak bus ini punya tempat tersendiri seperti Shin Tourist atau bus company lainnya.

Kejutannya bukan hanya itu. Ternyata bus yang kami tumpangi bukan bus pariwisata yang biasa dipakai oleh turis. Ini adalah bus umum alias bus yang memang biasa dipakai orang lokal untuk menuju kota lain. Mirip bus antar kota antar propinsi gitu lah.


Dari luar, kondisi busnya bagus, walaupun bagasinya kotor dengan sisa sayur atau entah barang apa. Koper salah satu kawan saya jadi basah karenanya. Untung saat itu saya pakai koper fiber, sehingga lebih aman.

Kami berempat duduk baris ketiga dari belakang. Okelah, pikir saya, Busnya bersih dan ber-AC. Tak masalah kalau bus ini adalah bus umum. Bisa lihat keadaan orang lokal.

Tapi begitu bus berjalan lima menit kemudian, semua berubah. Di depan saya, duduk seorang ibu dengan anaknya yang muntah di sepanjang perjalanan. Dan ibu itu tak berusaha sama sekali mengobati anaknya, atau paling tidak memberi kantong plastik untuk wadah muntah anaknya. Sang kondektur lah yang berinisiatif memberikan kantong, pasti karena khawatir busnya bakal kotor dan ia mesti lembur buat membersihkan muntahan si anak. Saya juga sibuk memberi kantong, khawatir muntahannya mengalir ke bangku saya dan membuat saya ikutan muntah.

Di sebelah kanan depan bangku kami, ada kakek-kakek yang dengan setianya menaburkan minyak angin di seluruh tubuhnya. Baunya itu loh, menjalar ke seluruh bagian bus. Ditambah lagi dengan bau parfum semerbak dari waria yang duduk di sebelahnya, yang dandanannya super seksi dan super ajaib.

Di kursi paling belakang, ada bapak-bapak yang tampangnya sangar. Dengan moto “ini bus gue, yang lain cuma numpang“, ia tidur dengan suara ngorok yang menggelegar dan  kaki baunya  yang dinaikkan ke atas kursi.

Kebayang, kan nasib kami selama enam jam? Eh, bukan cuma itu. Awalnya saya berniat tidur saja sepanjang perjalanan. Tapi gagal karena sang supir menyetel keras-keras karaoke khas Kamboja yang musiknya mirip dengan dangdut Pantura. Diselingi dengan lawak berbahasa Khmer yang membuat semua orang di bus (kecuali kami) tertawa terbahak-bahak.

Nasib…

Backpacking ke Kamboja dan Vietnam: Keliling Phnom Penh

Phnom Penh Grand Palace

Setelah pasrah di dalam bus umum selama enam jam (baca: Drama di Bus Kamboja), kami sampai di Phom Penh. Begitu keluar dari tempat bus, puluhan sopir tuk-tuk langsung menghampiri bak semut mengerubuti gula. Males dengan keributan dan keramaian itu, kami berjalan sedikit mencari tempat yang lebih sepi. Di sana, kami menawar tuk-tuk seharga $10 untuk mengantar kami ke hotel, sekaligus mengantar kami ke Killing Field.

Hotel yang kami tempati ternyata cukup bagus. Namanya Indochine. Letaknya ga jauh dari pinggir Sungai Mekong (bahasa kerennya Riverside) dan Royal Palace.

Oya, nama jalan di sini unik. Namanya berupa angka, jadi ada st 123, st 124, dan seterusnya. Enak, karena jelas mesti nyari ke mana dan berapa jauh dari tempat kita berada. 

Baca Juga: Makanan Halal di Phom Penh


Setelah cuci muka, pakai bedak dan minyak wangi, kami pun diantar ke Killing Field. Ternyata letaknya lumayan jauh, sekitar 45 menit dari hotel. Sepanjang perjalanan, yang kami lihat adalah jalanan yang sedang digali, yang berdebu dan berpolusi.  Selepas dari kota, barulah terlihat area pinggiran Phnom Penh yang mirip mengingatkan saya dengan area pedesaan di Sumatera.

Saya pikir, di Killing Field ini, saya akan menemukan bangunan besar dengan museum dan sebagainya. Saya sudah menganalogikannya dengan Lubang Buaya, karena sama-sama tempat pembantaian. Ternyata hanya ada satu monumen tinggi, tempat 9.000 tengkorak bekas pembantaian Khmer ditaruh.

Sebagai informasi, dulu di Kamboja ini dikuasai oleh rezim Khmer yang dipimpin oleh PolPot. Ia memerintah dengan cara diktator namun juga membunuh banyak orang dengan cara kejam. Kata sejarah sih, tujuannya untuk membersihkan etnis Khmer. Mereka dibunuh dengan disiksa ataupun dengan genosida. Dan di antara orang-orang yang dibunuhnya itu terdapat banyak ilmuwan, artis, politikus, dan orang-orang pintar, yang dikhawatirkan akan membangkang terhadap mereka. 

Di belakang monumen tersebut, terdapat lubang-lubang yang konon adalah tempat mayat-mayat dikubur. Selain itu, ada gubuk-gubuk tempat pembantaian. Ada gubuk untuk pembubuhan bayi, ada juga khusus wanita. Cukup membuat saya merinding dan tak mau berlama-lama di sana..


Selepas dari ladang pembantaian yang mengerikan itu, ada dua pilihan menghadang. Ben Tanh Market atau Russian Market. Entah kenapa, saya selalu suka liat pasar. Menurut saya, pasar mewakili kehidupan masyarakat sebenarnya. Tapi karena waktu tak cukup untuk mencapai keduanya, akhirnya kami memilih Ben Tanh Market. Alasannya simpel. karena ia lebih dekat dengan hotel kami.

Ben Tanh market adalah sebuah pasar tua di yang gedungnya bergaya Perancis. Gedungnya berbentuk lingkaran, berwarna kuning, dan di bagian tengahnya berbentuk kubah. Menarik sih, tapi sayang, ketika kami datang, pasar ini sudah akan tutup.


P1240075.JPG

Keesokan harinya, kami sepakat untuk mengunjungi Grand Palace, istana raja yang letaknya ga terlalu jauh dari hotel kami. Menuju Grand Palace, kami melewati riverside (tepi sungai Mekong).  Tepian sungai ini menurut saya cukup bagus loh, walaupun sungainya keruh dan coklat. Di pinggir sungai ini dibuat semacam trotoar yang lebarnya lebih dari 5 m. Ada bangku-bangku dan taman untuk duduk-duduk. Saat malam hari, trotoar ini jadi tempat latihan anak muda buat belajar breakdance, skateboard, dan segala macam kegiatan anak muda lainnya. Kalau siang hari tempat ini kosong melompong. Panas soalnya…

Di seberang riverside ini terdapat bangunan-bangunan yang menurut saya, sebagai pencinta arsitektur, lumayan menarik. Bangunan-bangunan tersebut bergaya Perancis, dengan café-café terbuka yang menghadap langsung ke jalan.  Memang, Kamboja dulu pernah dikuasi Prancis sehingga ada pengaruhnya terhadap bangunan di sini.

Baca Juga:  Seharian Keliling Angkor Wat


Di jalan menuju Grand Palace, ada beberapa supir tuk-tuk yang menghampiri kami, menawarkan jasa tuk-tuknya. Karena kami menolak, mereka bilang kalau Grand Palace hari itu tutup karena ada hari besar keagamaan. Hehehe…tipuan lama. Di Thailand juga ada scam serupa, dengan harapan kami akan mengubah tujuan kita dan akhirnya ikut bersama mereka. 

Nyatanya, Grand Palace tak tutup sama sekali. Memang, dari arah Riverside, pintu masuk bangunan ini tak terlihat. Pintu utamanya, yang berupa gerbang besar di depan taman, memang ditutup karena itu ga boleh dimasuki umum. Pintu untuk masyarakat dan turis terletak kira-kira 200 meter di samping kiri gerbang tadi. 

Grand Palace Phom Penh
Grand Palace Phom Penh

Grand Palace ini ternyata mirip dengan grand palace di Bangkok. Bedanya, ini lebih kecil dengan bangunan yanglebih sedikit. Oya, Grand Palace dibuka jam 8:00-11:00 (morning shift) dan 14:00-17:00 (afternoon shift).  Dan untuk masuk ke dalam sini harus membayar $10.

Warung Bali, Restoran Halal di Phnom Penh Kamboja

Ternyata di Phom Penh ada warung halal milik orang Indonesia. Harganya murah dan rasanya enak.

Ternyata di Phnom Penh Kamboja, ada restoran halal milik orang Indonesia. Harganya murah dan rasanya enak.

Saya sempat khawatir waktu akan ke backpacking ke Kamboja. Khawatir soal susahnya mencari makanan halal di Kamboja. Saya sudah bersiap membawa indomie dan segala macam perbekalan lainnya. Namun ternyata, dari info yang saya dapet dari salah satu milis backpacker, ada warung yang menyediakan makanan halal di Phnom Penh Kamboja.

Restoran halal ini milik orang Indonesia, namanya Warung Bali. Setelah muter-muter dan nyasar ke sana sini, akhirnya saya dan kawan-kawan menemukan warung halal milik Mas Firdaus itu. Ternyata, warung itu terletak persis di depan taman di dekat Grand Palace, yang berarti cuma 4 blok dari hotel saya. Oalah..

Saat kami ke sana, Mas Firdaus menyambut dengan ramah. Ia menceritakan soal kenapa dia bisa ada di sana. Katanya, ia sebelumnya bekerja sebagai juru masak kedutaan Indonesia di Phnom Penh. Setelah berganti duta besar, dia berhenti karena merasa tak ga cocok dengan sang duta besar baru. Kemudian dia diajak oleh seseorang untuk membuka café dengan nama Bali Café, nama yang lebih menjual dibandingkan nama Indonesia Cafe. Entah kenapa, café itu bangkrut. Akhirnya Mas Firdaus bersama seorang temannya buka restoran baru yang diberi nama Warung Bali.

Makanan di sini cukup beragam, ada makanan Indonesia seperti gado-gado dan nasi goreng. Ada pula makanan khas Kamboja. Rasanya enak, terjamin halal, dan yang pasti harganya murah dibanding restoran lain yang ada di phnom penh ini. Berempat, sekali makan saya hanya menghabiskan dana sekitar 15 dolar,. Itu sudah pulang dengan perut kekenyangan dan masih ada sisa yang bisa dibungkus. Lucunya, setiap saya tanya berapa isi satu porsi, Mas Firdaus selalu jawab 4 buah per porsi. Entahlah apa isinya memang segitu, atau dia ngepas-ngepasin sama jumlah kami yang memang ber-4.

Selain Mas Firdaus, di sana ada dua orang lagi yakni seorang bapak (yang saya lupa namanya) dan anaknya yang masih ABG, yang baru sampai di Kamboja ini. Di awal pertemuan, si ABG ini berbicara ke kami dengan bahasa yang amat formal dan sopan. Setelah merasa akrab, dia mulai memakai bahasa gaul yang rada alay. Saking berasa akrabnya, si ABG ini mengajak kami malam minggaun ke sebuah tempat, yang dia bilang sebagai Ancolnya Kamboja. Huahahaha…

Alamat Warung Bali: St 178 No 25 Eo.

Telp: 012 967480/ 012 831528