“Obat” Ampuh Covid: Patuh Protokol Kesehatan

Jumat, 18 September 2020. Dini hari.

Adik saya yang bertugas di sebuah RS khusus covid menelpon. Ia mengabarkan kalau Om saya yang baru berusia 49 tahun tak kuat lagi menahan gempuran virus Covid-19 di tubuhnya. Ia meninggal dunia setelah dua minggu berjuang di ICU.

Saya dan keluarga hanya sempat melihat fotonya sekali. Saat itu di seluruh tubuhnya dipenuhi alat-alat medis, di mulutnya ada selang ventilator untuk mempompa oksigen ke paru-paru, di tangannya ada beberapa tusukan infus.

Sedihnya, tak ada satu pun dari kami yang bisa menemani termasuk anak-anaknya, karena memang begitulah protokol yang berlaku untuk pasien covid. Hanya adik saya, yang kebetulan kebagian bertugas jaga malam itu, yang bisa menemani Om saya hingga Allah memanggilnya.

Kejadian itu membuat saya sadar bahwa bahaya covid masih mengintai, bahkan mulai dekat dengan circle saya. Apalagi kemarin ini, saya sempat mendengar kabar kalau beberapa kawan sebaya saya juga mesti isolasi mandiri karena mengalami gejala-gejala khas Covid.

Baca Juga: Pengalaman Tes PCR Swab Mandiri di RS Tria Dipa

Uang Ternyata Bisa Menularkan Virus

Mengapa Covid berbahaya?

Menurut dr. Riskiyana S. Putra, M.Kes. Direktur Promosi Kesehatan & Pemberdayaan Masyarakat Kementrian Kesehatan RI, di acara ” Seminar Online Bareng Blogger” Rabu kemaren, covid ini sebenarnya virus yang gampang mati.

Ia bisa dimatikan hanya dengan suhu panas tertentu ataupun dengan sabun biasa. Namun masalahnya, virus ini sangat cepat berkembang dan jika sudah menempel di tubuh inangnya, ia dengan cepat merusak tubuh inangnya bahkan hanya dalam waktu hitungan hari saja.

Virus ini juga jadi berbahaya karena ia gampang sekali menular. Tidak seperti penyakit lain, seperti jantung atau kanker. Virus ini bisa menyebar lewat droplet, lalu berdiam diri di benda-benda yang terkena droplet itu.

Bisa lewat sentuhan tangan, misalnya salaman, atau bisa juga lewat benda yang tadi terkena droplet itu, termasuk uang kertas yang sering banget kita pegang. Apalagi uang kan sering berpindah dari tangan satu ke tangan lain. Makanya, dr Riski menyarankan untuk mencuci tangan setelah memegang uang atau benda-benda lainnya yang berpotensi menulari virus.

Sumber: materi dr. Riskiyana S. Putra, M.Kes

Wanita Ternyata Lebih Bisa Jaga Jarak

Kalau lihat dan baca berita-berita, saat ini angka yang positif terinfeksi covid memang meningkat tajam. Per harinya bisa mencapai 4.000 kasus positif. Serem.

Apa yang menyebabkannya? Selain memang makin banyaknya orang yang dites, ternyata menurut dr.Riski, survei kepatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan masih rendah. Coba lihat hasil survei di bawah ini, hanya 30 % yang menaati imbauan untuk menjaga jarak.

Dan uniknya, dari hasil survei, wanita ternyata lebih patuh buat jaga jarak dibandingkan laki-laki. Udah biasa jaga jarak dari para fans kali ya…

Sumber: materi dr. Riskiyana S. Putra, M.Kes
Sumber: materi dr. Riskiyana S. Putra, M.Kes

Jangan Jadi Agen Virus

Kenapa awareness masyarakat agak kurang?

Menurut dr Rose Mini AP, M.Psi, yang biasa dipanggil Bunda Romi, masyarakat sebenarnya sudah tahu soal bahaya Covid dan protokol kesehatan. Namun banyak hal yang menyebabkan masyarakat akhirnya tidak patuh atau abai.

Salah satunya adalah karena ketiadaan contoh, baik itu contoh dari orang tua ataupun contoh dari pemimpin masyarakat. Memang, benar. Misalnya nih, kalau pak Lurahnya ga pakai masker kalau di luar rumah, ya masyarakatnya pasti males juga pakai masker kan.

Hal lainnya adalah karena masyarakat belum terbiasa dengan protokol kesehatan ini. Apa-apa memang harus dibiasakan, kalau perlu ada sanksi tegas. Saya ingat dulu waktu penerapan aturan wajib pemakaian seat belt. Awalnya ga enak banget, tapi lama-lama kalau tak memakai seat belt rasanya ada yang kurang.

Benar kata peribahasa “ala bisa karena biasa”.

Sumber: presentasi dr Rose Mini AP, M.Psi,

Yang paling saya garis bawahi adalah karena kurangnya empati terhadap orang lain. Merasa diri sehat, padahal bisa jadi ia memang tidak terpengaruh covid karena imunnya baik. Namun ia bisa menjadi agen yang menyebarkan virus ke orang lain.

Contohnya banyak, salah satunya terjadi pada kawan saya. Kawan saya ini sangat abai terhadap protokol kesehatan. Ia masih sering berkumpul dengan temannya tanpa memakai masker.

Ia akhirnya terkena covid dan ia menularkan ke orangtuanya yang lebih rentan. Ia sehat walafiat tanpa gejala, namun ayahnya tak bisa diselamatkan lagi. Menyesallah ia seumur hidupnya.

Obat Manjur Covid: Patuh pada Protokol Kesehatan

Selama vaksin belum ditemukan, satu-satunya cara untuk mencegah penyebaran covid adalah dengan mengadaptasi kebiasaan baru.

Cuci tangan sesering mungkin, terutama sehabis memegang sesuatu, sebelum makan, habis keluar rumah cara yang paling ampuh. Virus ini terdiri dari lemak yang akan hancur jika terkena sabun.

Cara lainnya bisa dilihat di gambar di bawah ya…

Sumber: materi dr. Riskiyana S. Putra, M.Kes
Sumber: materi dr. Riskiyana S. Putra, M.Kes

Usut punya usut, Om saya yang meninggal ini pernah lalai, beberapa kali tidak memakai masker saat bertemu kliennya. Mungkin dari sanalah virus Covid masuk ke tubuh Om saya dan akhirnya menggerogoti tubuhnya .

Yuk yang belum menerapkan protokol kesehatan dan masih aba, mulailah menerapkan aturan ini agar covid segera enyah dari dunia. Dan yang sudah menerapkannya, jangan bosan. Terus terapkan aturan kesehatan ini.

Baca Juga: Harga dan Tempat Tes Swab di Jakarta

6 Perbedaan Travelling Zaman Dulu vs Zaman Sekarang

Saya mulai travelling secara mandiri sejak 15 tahun lalu. Dari pengalaman saya, ada beberapa perbedaan travelling zaman dulu  dan sekarang.

Begini perbedaannya.

“Better to see something once than hear about it a thousand times”

~Anyonymous

Saya mulai travelling ke luar negeri secara mandiri sejak 15 tahun lalu, sejak saya bisa membiayai sendiri perjalanan saya tanpa campur tangan orang tua. Saat itu, Airasia baru melebarkan sayapnya ke Indonesia, sehingga harga tiket pesawat yang tadinya selangit dan cuma bisa dibeli segelintir orang, jadi terjangkau untuk semua orang. Mengutip kata Tony Fernandes, CEO Airasia, “Now everyone can fly.”

Selama 15 tahun itu, teknologi makin berkembang. Kecepatan informasi pun makin bertambah. Dalam waktu singkat, berbagai informasi soal travelling bisa dicari dari berbagai belahan dunia. Dulu, untuk mencari informasi tentang suatu destinasi, saya mesti bertanya langsung ke orang-orang atau membeli buku panduan semacam Lonely Planet yang harganya minta ampun mahalnya. Kini, semuanya tinggal klik, tinggal cari di google.

Selain soal informasi, banyak hal jadi berbeda di dunia travelling. Nah, ini dia beberapa perbedaan travelling zaman dulu  dan sekarang, versi saya tentunya.

1. Tak Ada Internet, Janjian Ketemu Pakai SMS

Zaman awal saya travelling dulu, tak ada provider internet atau Mifi seperti Java Mifi, dan lain sebagainya. Paling banter ada internet roaming dari provider lokal yang tarifnya mencekik. Penjual SIM card lokal di bandara pun tak sebanyak sekarang, dan kalaupun ada, syarat pembeliannya luar biasa susah. Misalnya saja dulu di China, untuk mendapatkan harus fotokopi paspor, dan hanya bisa dibeli di gerai resminya di tengah kota.

Karena mahal, biasanya saya cuma mengandalkan wifi gratisan di penginapan atau restoran, yang seringkali nyala-hidup semaunya. Atau paling sering, wifi-nya hanya ada di public room atau di ruang komunal dekat resepsionis. Jadi kalau mau cari info, ya mesti nongkrong di sana, sambil memandangi mas resepsionis.

Nah, karena tak bisa dibantu internet sepanjang perjalanan, mau tak mau persiapan saya harus matang sebelum berangkat. Itenerary harus dibuat selengkap mungkin, disertai dengan cara menuju ke sana dari titik ke titik.

Yang repot, kalau pergi beramai-ramai dan terpisah. Janjiannya susah, paling murah pakai SMS yang tarifnya sekali SMS sekitar 10 ribu rupiah. Kalau sekarang mah gampang, kepisah pun tinggal telp via WA, kan?

Anehnya, walau tanpa internet, saya dan kawan-kawan sukses-sukses saja travelling ke negara-negara yang waktu itu masih “mentah” dan minim informasi seperti Myanmar, Kamboja, dan Vietnam.  Sukses janjian di satu titik kalau terpaksa berpisah, tanpa harus nyasar dan cari-mencari. Pernah, saya dan kawan-kawan terpisah di Angkor Wat dan tanpa internet, kami berhasil bertemu di tengah

Kalau sekarang, tanpa internet, pusingnya luar biasa.

2. Peta Cetak Vs Digital

map
Map seperti ini yang saya dulu saya bawa ke mana-mana. Sumber: GISResource.com

Zaman awal saya travelling dulu, belum ada yang namanya google map apalagi movit dan segala macam aplikasi untuk membantu mencari jalan. Kalau cari alamat, ya mesti liat peta cetak. Peta segede gaban itu mesti dibawa-bawa ke mana-mana.

Peta itu biasanya saya dapatkan dari teman yang sudah ke sana atau dari Tourist Information Center di bandara. Atau biasanya, di dekat pintu keluar akan ada rak besar tempat segala flyer dan peta ada di sana. Tinggal ambil.

Sebagai cadangan, biasanya saya mengunduh lebih dahulu peta di internet lalu mengeprintnya. Nanti di penginapan, barulah saya minta atau pinjam peta dari hotel. Kalau nggak ada juga, ya nasib. Cuma bisa mengandalkan GPS alias Gunakan Penduduk Setempat.

Tak enaknya, tas jadi lebih berat dengan peta-peta itu. Enaknya, saya lebih paham soal arah dan letak suatu destinasi ketimbang sekarang yang cuma mengandalkan suara dari mbak di Google Map: “two hundred meter, turn left“.

Baca Juga: Restoran dan Makanan Halal di Bukit Bintang

3. Google Translate Manual

google_translate
Sumber: ayosemarang.com

Karena internet tak ada, segala aplikasi penunjang pun juga ga ada, termasuk google translate. Nah, kalau ke negara-negara yang masyarakatnya tak bisa bahasa Inggris seperti China, mau tak mau di itenerary saya ada dua bahasa.

Seperti yang saya buat waktu ke China. Itenerarynya saya buat dalam bahasa Indonesia, dan di sebelahnya ada aksara Cina. Biasanya kan kalau googling destinasi, akan muncul nama dengan aksara China.  Nah itulah yang saya copy dan paste di itenerary saya.

Akibatnya, itenerary saya jadi panjang. Bahkan waktu ke China, itenerary saya sudah seperti buku. Ada 30 halaman!

4. Airasia Mirip Angkot

airasia
sumber: thejakartapost.com

Di awal kemunculannya, Airasia itu tidak menerapkan nomer seat. Jadi penumpang bebas memilih seat sesuai kemauannya. Siapa cepat, dia dapat kursi yang enak.

Jadi, begitu pintu gate dibuka, kita harus lari sekencang-kencangnya agar bisa naik ke pesawat lebih dulu dan dapat kursi oke. Apalagi kalau pergi bareng teman, biasanya saya yang kebagian lari duluan ke pesawat sementara kawan saya membawakan tas saya agar saya bisa lari lebih cepat.

Mirip naik kereta Commuter Line atau Transjakarta di jam sibuk., deh. Rusuh!

Baca Juga: 6 Hal yang Harus Dilakukan di Luang Prabang

5. KLIA 2 Dulu Mirip Gudang

lcct-inside
Sumber: backpackingmalaysia.com

P1290916
Tempat “melantai favorit di LCCT, üntuk ngecharge hp. Di sebelah kiri itu Marrybrown.  (Foto tahun 2011)

KLIA 2, tempat mendarat pesawat Airasia, dulu tak sebagus sekarang. KLIA 2 ini baru dibuka tahun 2014 silam. Dulu namanya masih LCCT (Low Cost Carier Terminal) dan bentuknya masih mirip gudang.

Ya, benar-benar seperti gudang besar. Atapnya dari lembaran baja yang langit-langitnya terekspos. Jalur pipa AC terlihat jelas di sana. Dindingnya dari gipsum yang di beberapa bagian sudah agak kotor. WC-nya pun jorok, dan tak banyak bangku untuk duduk sehingga saya lebih sering “melantai” alias duduk di lantai saat sedang menunggu penerbangan.

Tempat makannya hanya ada beberapa, salah satunya adalah Marry Brown, fast food asli Malaysia. Restoran ini kecil dan banyak lalatnya!

6. Fiskal yang Bikin Harga Tiket Selangit

Tahu fiskal luar negeri? Fiskal luar negeri ini adalah pajak yang harus dibayarkan oleh orang yang mau melakukan perjalanan ke luar negeri, baik melalui udara, laut, maupun darat. Tarif fiskal ini sebesar Rp1.000.000 untuk perjalanan udara, dan Rp500.000 untuk perjalanan darat dan laut. Lumayan mahal kan?

Nah, waktu pertama kali ke Singapura tahun 2004 , saya nggak sanggup membayar fiskal satu juta itu. Akhirnya, demi mengirit bujet 500ribu, saya terbang dulu ke Batam dan kemudian naik ferry ke Singapura. Niat banget kan?

Untungnya, di tahun 2009, fiskal perlahan-lahan mulai dihapuskan. Mayan, irit sejuta!

Baca Juga: 4 Tempat Wisata Gratis di Singapura yang Jarang dikunjungi Turis Indonesia

 

 

 

 

17 Tip untuk Female Solo Traveler

Di tahun 2020 ini, Alhamdulillah saya telah menginjakkan kaki di 41 negara di dunia.

Hampir setengah negara itu saya kunjungi sendiri, alias solo travelling. Terakhir, setahun lalu, saya solo travelling selama sebulan ke Turki, Georgia, Azerbaijan, dan Uzbekistan. Simak tipnya di sini ya

0608-2019-073790341487907171925-01
Gur E Amir Moseloum, Samarkand

Di tahun 2020 ini, Alhamdulillah saya telah menginjakkan kaki di 41 negara di dunia. Suatu hal yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Hampir setengah negara itu saya kunjungi sendiri, alias solo travelling. Terakhir, setahun lalu, saya solo travelling selama sebulan ke Turki, Georgia, Azerbaijan, dan Uzbekistan.

Baca juga: Tip Backpacking ke Negara Kaukasus

Kok bisa? Gimana tip solo Travelling? Itu yang selalu ditanyakan ke saya.

Jujur, awalnya saya melakukan solo travelling itu karena terpaksa. Di tahun 2008, saya dapat undangan liputan dari salah satu hotel di Macau, dan karena saya kepingin banget ke Hongkong (yang cuma perlu naik ferry dari Macau), saya nekat sendirian ke Hongkong. Dari situ lah daya ketagihan buat solo travelling.

Enak ternyata.

Kenapa Doyan Solo Travelling?

Design by: canva

Saya bukan anti jalan rame-rame. Seringkali juga saya melakukannya. Tapi solo travelling ini semacam me time buat saya. Paling nggak, setahun sekali, saya mesti melakukannya sekali.

Menurut saya nih, banyak kelebihan solo travelling dibanding jalan sendirian.

1. Saya bebas banget nentuin jadwal perjalanan saya.

Ga mesti kompromi dengan teman perjalanan. Mau diam lama di satu tempat, bisa. Mau ganti destinasi di menit-menit terakhir, juga suka-suka saya.

Misalnya aja waktu saya solo travelling ke Eropa Timur tiga tahun lalu. Saya memutuskan ganti destinasi dari tadinya mau menjelajah Jerman dulu sebelum ke Eropa TImur, ganti menjadi menuju Barcelona demi melihat Sagrada Familia. Kalau ramean, mana mungkin keputusannya secepat itu.

2. Melatih saya untuk berkomunikasi dengan orang yang baru saya temui.

Dulu saya suka malas ngobrol sama orang lain apalagi yang baru kenal. Setelah solo travelling, saya lebih terbuka dan gampang ngobrol dengan orang baru.

3. Melatih mandiri pastinya dan ngelatih rasa percaya diri.

saat solo travelling, mau ga mau semua harus dikerjain sendiri. Jadi terbiasa ga bergantung pada orang lain.

4. Melatih buat mengambil keputusan dengan cepat.

Katanya, perusahaan di luar negeri ada yang minta riwayat solo travelling seseorang ketika melamar kerja lho, karena katanya yang bisa solo travelling adalah orang yang bisa jadi karakter kuat. Katanyaa…

5. Lebih fokus terhadap destinasi, dan kesempatan ketemu orang lokal lebih besar.

Kalau jalan rame-rame kan biasanya asik sendiri dengan grup, jadi ga berusaha interaksi dengan orang lokal. Kalau solo travelling, mau ga mau interaksi dengan orang lokal.

Ga Enaknya saat Solo Travelling

Ga enaknya saat solo travelling Juga ada pastinya.

1.  Ga ada yang motoin.

Walau pake tripod, susah juga kadang-kadang. Kalau ada teman bisa diminta tolong untuk foto berbagai angle, walaupun belum tentu hasilnya lebih bagus dari pake tripod sih…

2. Kekurangan lainnya adalah, ga bisa curhat kalau ada sesuatu hal yang bikin bete.

Dan kalau ada hal yang krusial, mesti dipecahin dan dipikirin sendiri. Seperti misalnya (amit-amit) ketinggalan pesawat. Kalau ada temen, kan bisa nangis bareng, kalau sendiri ya mesti nangis sendiri.

3. Yang paling sedih kalau ke tempat romantis.

Gimanaa gitu liat orang gandengan tangan, sementara saya cuma gandengan tas.

4. Kadang lebih mahal karena nggak bisa share cost.

Misalnya nih, saat saya ke Uzbekistan. Dari bandara ke tengah kota ga ada angkutan publik, mau ga mau naik taksi. Nah, karena sendirian, biaya taksi mesti saya tanggung sendiri. Beda kalau saya jalan berdua, ongkos taksi bisa dibagi dua.

Banyak pengalaman menyenangkan yang saya temui selama solo travelling, antara lain selalu dapat teman baru dari berbagai negara. Nah, agar gampang ketemu temen baru, saya senengnya nginep di dormitori yang satu kamar beramai-ramai, bukan kamar privat. Buat irit juga sih karena kamar privat harganya jauh lebih mahal.

Baca Juga: Solo Backpakcing ke Azerbaijan: Ditolak Cewek Ukraina di Penginapan

Saat solo travelling, alhamdulillah saya juga sering mendapat bantuan dari orang yang baru saya kenal. Di Hongkong misalnya, saya ditraktir makan oleh TKW dan di Macau saya diajak ke markas mereka yang rahasia (karena byk TKW ilegalnya). Deg-degan abis, takut saya ikutan ketangkep karena lagi banyak razia saat itu. Di Uzbekistan, sering dapat makanan gratis dari para pedagang di pasar. Banyak serunya.

Baca Juga: Wisata ke Macau: Masuk ke Markas TKW

Tip Solo Travelling

Tentu aja, saat solo Travelling, saya melakukan beberapa persiapan. Ini yang sebaiknya dilakukan:

1. Bikin itenerary sebaik mungkin.

Apalagi kalau baru awal-awal solo travelling. Bikin yang rinci, sampai ke biayanya. Ini yang ideal banget.

Sekarang ini, saya masih bikin itenerary walau ga detail banget. Itenerary saya sekarang ini biasanya  hanya berupa rincian kota mana yang saya tuju, naik apa ke sana, naik apa ke penginapan. Tujuan wisata di kota itu biasanya baru saya cari setibanya di penginapan, atau saat menunggu di airport.

2. Survey.

Cari tahu peraturan dasar di negara itu, terutama menyangkut traveler.

Misalnya, di Uzbekistan harus menginap di penginapan karena akan ditanyakan ketika keluar, atau misalnya di Jepang akan ada badai sehingga ada kemungkinan kereta dicancel, atau di Singapura nggak boleh lagi menginap di Airbnb karena dianggap ilegal dan bisa kena denda, dsb.

3. Install aplikasi yang membantu.

Biasanya saya pakai:
–  Google map dan movit buat nyari jalan
– Google translator buat nanya-nanya kalau datang ke negara yang bahasanya bukan Inggris
– Rome2rio untuk cari rute transportasi antarkota
– Beberapa aplikasi lokal di negara itu seperti naver map di korea, bus tracker di taiwan, dsb.
– Saya juga install aplikasi taksi online di negara itu, jaga-jaga kalau butuh taksi.

Baca juga: 8 Aplikasi yang Penting Saat Wisata ke Turki

4. Gugling kemungkinan scam/penipuan di destinasi tujuan.

Bisa liat di blog orang, atau di travelscam.org. Banyak scam di mana-mana.

Misalnya di Bangkok, seringnya ada supir tuk-tuk yang bilang Grand Palace tutup lalu diajak keliling naik tuk-tuk dan dipaksa beli barang di sebuah toko. Atau di Vietnam, penjual buah dengan ramahnya ngasih keranjangnya buat foto, dan kemudian si turis disuruh bayar mahal.

Atau di Paris ada scam pura-pura minta tandatangan dan akhirnya nyopet. Di Praha, ada penjual lukisan palsu yang pura-pura lukisannya terinjak turis dan minta ganti dengan harga mahal.

5. Install aplikasi safe travel dari kemenlu.

Di situ ada nomer telp penting yang bisa dihubungi. Oiya, catet juga nomer kbri/konsulat yang bisa dihubungi.

6. Beli SIM Card

Sekarang ini udah banyak banget sim card dan mifi yang bisa ngebantu biar ga nyasar dan gampang nyari informasi.

Bisa dibeli di indonesia (di tokopedia, klook.id, dsb) atau di negara tujuan. Harganya biasanya lebih murah beli di negara tujuan, tapi butuh waktu lagi untuk pasang-pasang di hape.

7. Tetap Waspada

Untuk keamanan, terutama cewe, jangan langsung mengiyakan ajakan jalan bareng dari orang yang baru dikenal di jalan. Apalagi di negara yang terkenal perayu maut kayak di Turki dan Kashmir, India.

Tapi jangan juga menutup kemungkinan untuk kenalan traveler baru. Pake feeling aja.

8. Sederhana

Jangan pake baju yang terlalu mencolok. Low profile aja. Kita kan mau jalan-jalan, bukan mau fashion show.

9. Jaga Uang

Simpen uang dan paspor di money belt (bisa gugling kayak apa bentuknya). Dan pisahin ke beberapa tempat.

10. Scan semua dokumen penting

Dokumen yang harus discan: paspor, akte, kartu keluarga, kartu nama, pas foto, dan taro di email. Ini buat antisipasi kalau (amit-amit) paspor hilang.

Baca Juga: Saat Kehilangan Paspor di Luar Negeri

11. Saya tergabung dalam couchsurfing. Dulunya sih suka nebeng nginep di rumah mereka, namun sekarang ini lebih milih buat ketemuan aja. Paling nggak, ada orang lokal yang saya kenal di sana.

12. Walaupun negaranya aman, saya menghindari pulang terlalu malam lewat jalan sepi. Kecuali ada teman yang terpercaya.

13. Cari temen di hostel. Jangan ragu buat nyapa, sok akrab aja. Tawarin cemilan dari Indonesia (saya seringnya nawarin Indomie) Kalau kayaknya cocok, ajak jalan bareng. Lumayan kaan ada yang motoin dan share ongkos.

14. Ngobrol ama orang lokal. Saya sering dapet insight lokasi oke dari orang lokal. Misalnya di Bukhara Uzbekistan, saya tau ada pasar lokal yang murah banget gara-gara dikasih tau orang lokal. Orang lokal biasanya juga lebih tau restoran murah tapi enak. Tapi tetep ya, waspada selalu.

15. Pernah berasa kesepian? Pernah banget, apalagi kalau perjalanannya panjang, lebih dari tiga minggu. Kalau begini biasanya saya ga keliling, saya diem aja di satu tempat sampe mood balik.

16. Ga bisa bahasa Inggris? Ga masalah. Saya pernah ketemu traveler cewek dari Jepang yang udah keliling 30 negara Asia. Dan dia sama sekali ga bisa bahasa Inggris! Dia cuma mengandalkan google translate.

17. Takut nyasar? Nyasar malah seru lho, malah kadang bisa ketemu hal baru yang ga terduga. Kayak waktu di Lisse, Belanda. Saya salah naik sepeda. Alhasil saya nyasar ke area perumahan dan malah nemu ladang tulip yang bagus. Lagipula sekarang udah ada mifi, jadi soal nyasar bisa diantisipasi.

Baca Juga: Solo Travelling ke Uzbekistan: Cinta dalam Sepotong Roti dan Segelas Ceri

Ke Rusia Saat Corona: Hampir Tak Bisa Pulang karena Lockdown

Perjalanan ke Rusia kemarin bisa dibilang perjalanan nyaris. Nyaris tak bisa masuk Oman karena lockdown dan nyaris tak bisa pulang ke Indonesia tak ada penerbangan. Untung saja saya membaca email, beberapa jam sebelum kepulangan saya sehingga saya bisa naik pesawat terakhir dari Rusia.

Perjalanan ke Rusia di awal Maret kemarin bisa dibilang perjalanan yang sangat beruntung dan selalu nyaris. Nyaris tak bisa masuk Oman karena lockdown dan juga nyaris tak bisa pulang ke Indonesia karena lockdown dan tak ada penerbangan.

14 Maret 2020, Muscat

Sebelum menuju Rusia, saya dan kawan saya harus transit 19 jam di Muscat, Oman. Kami gunakan kesempatan itu untuk keluar, bermalam sehari di Muscat dan berjalan-jalan di sana. Semuanya berjalan normal. Di bandara, kami hanya diminta mengisi lembar kesehatan yang tidak diperiksa sama sekali.

Setelah kami sampai di rumah host CS kami, kami mendapat berita bahwa mulai besok, pemerintah Oman tak lagi memperbolehkan wisatawan masuk ke negaranya. Fiuhh…..kalau aja pesawat kami mendarat besok, kami cuma bisa ngendon di bandara. Nyaris.

19 Maret 2020, Murmansk

20200319_142624-01

Saya memandang jatuhnya salju lebat  lewat kaca dapur penginapan saya di Murmansk,  melihat orang-orang tua berjaket tebal berlalu lalang di sana.

Sambil menyesap teh hangat, saya iseng mengecek tiket saya lewat aplikasi Oman Air. Ternyata, di sana tertulis kalau kepulangan saya ke Jakarta via Muscat diundur menjadi tanggal 29 Maret.

Padahal beberapa jam sebelumnya, saya sudah mengeceknya di aplikasi Traveloka tempat saya membeli tiket. “Masih on schedule”, begitu tulisannya. 

Saya langsung menengok ke arah kawan saya yang sedang sibuk menguyah biskuit keras khas Rusia, yang memang disediakan pemilik penginapan. Ternyata sama. Jadwalnya juga berubah.

Kami jelas tak mungkin pulang di tanggal 29 Maret, karena visa Rusia kami hanya berlaku hingga tanggal 28 Maret. Ya, Rusia memang pelit soal visa, tanggal habis visa sama persis dengan tanggal yang tertera pada tiket pulang. Nggak lebih sehari pun.

Mbak Susan, kawan baik kami di Moscow memberi kami nomer telepon salah satu staf KBRI Moscow.

Sambil mengontak KBRI di Moscow untuk  mencari kemungkinan cara memperpanjang visa, saya coba mencari info ke website Oman Air.

Ternyata ada pengurangan dan pembatasan jumlah penerbangan dari dan ke Oman.  Sehari setelah saya datang ke Muscat memang ada perintah untuk menutup kedatangan wisatawan asing ke Muscat. Imbasnya, tak ada penerbangan dari Oman ke manapun, termasuk ke Rusia dan ke Indonesia. Termasuk di tanggal 28 itu. 

Gawat.

Baca Juga: Berburu Lady Aurora di Rusia


Saya bukan orang yang gampang panik, tapi tetap aja khawatir dengan keadaan ini. Alhasil, segala cara saya coba untuk menghubungi Oman Air, mulai dari mengirim email, mencecar lewat twitter, Facebook, dan IG, hingga mengirim WA ke salah satu kontak Oman Air Jakarta yang diberikan salah satu teman saya yang punya usaha travel.

Hasilnya nihil, nggak ada yang menjawab satupun.

Saya segera gerilya mencari bantuan. Saya post di IG Story, meminta kontak Oman Air. Banyak ternyata yang menawarkan bantuan.

Salah satunya sepupu jauh, yang menawarkan diri untuk menelpon kantor Oman Air di Jakarta. Dialah yang kemudian meneror kantor Oman Air tiap hari, walaupun susah karena cukup banyak yang melakukan hal yang sama.

Bantuan lain datang dari Mas Erik, travel consultant dari HIS Travel. Dia, yang punya akses ke Oman Air Jakarta, mencoba melacak tiket saya dan meminta perubahan maskapai. Padahal, saya tak terlalu kenal dengannya. Saya bertemu dia di Bukhara sekali, saat dia membawa rombongan yang diguide oleh kawan  saya di Uzbekistan.

Baik banget….

20 Maret 2020, masih di Murmansk

Berkat bantuan sepupu saya dan Mas Erik, tiket berhasil diubah. Oman Air mengganti penerbangan saya dengan maskapai Qatar Air, untuk penerbangan tanggal 28 Maret.

Gratis, saya nggak kena biaya tambahan apapun. Alhamdullillah, saya akhirnya bisa pulang juga ke Indonesia yaaa…

Tapi entah kenapa, tiket travelmate saya masih bermasalah. Penerbangannya nggak bisa diganti tanggalnya.

21 Maret 2020, St Petersburg

Bandara St Petersburg
Bandara St Petersburg

Mas Erik terus mencoba menghubungi Oman Air, meminta tiket kawan saya diubah juga. Tapi sayangnya, hasilnya masih sama seperti kemaren. Tiket kawan saya belum bisa berubah.

Akhirnya, di sela-sela berkeliling objek wisata di St Petersburg, kami mampir ke bandara, mencari kantor perwakilan Oman Air di sana. Biasanya kan, di setiap bandara ada counter tiketnya, gitu pikir saya.

Tapi ternyata, di bandara sekelas St Petersburg, tak ada konter Oman Air. Hanya ada konter beberapa maskapai lokal, itupun hanya berupa stall kecil yang ditunggui ibu-ibu berambut pirang yang nggak ada senyumnya sama sekali. Rusia banget.

Oiya, di Russia ini emang punya moto: “tersenyum tanpa keperluan adalah orang idiot”. Gitu.

Akhirnya, kami memutuskan untuk membatalkan perjalanan ke Kazan dan memajukan jadwal perjalanan ke Moscow. Tiket Sapsan, kereta cepat yang menghubungkan St Peterseburg dan Moscow yang sudah kami beli  sebelumnya, terpaksa kami refund.

Kami menggantinya dengan jadwal yang lebih pagi supaya masih ada waktu untuk menuju kantor Oman Air di Moscow.

Padahal, Kazan jadi bucketlist saya karena di sanalah area di Rusia yang didominasi Muslim. Bahkan kami sudah berjanji bertemu dengan salah satu umat muslim di sana dan mengunjungi rumahnya. Dan perjalanan kami ke Kazan, rencananya akan menggunakan sleeper train khas Rusia, kereta yang merupakan bagian dari Siberian Train yang menjadi impian saya.

Sedih, tapi ya sudahlah.

Lagipula, pihak KBRI meminta saya tidak jauh-jauh dari Moscow karena ada isu Presiden Putin akan melockdown kota Moscow dan menutup akses keluar masuk Moscow.

KBRI juga mengabarkan kalau mulai hari itu Rusia sudah membatasi penerbangan ke beberapa negara.

23 Maret, Moscow

Ditemani Nadia, anaknya Mbak Susan, kami mendatangi kantor Oman Air di Moscow. Untung ada Nadia, karena kantor perwakilan Oman Air ini terletak di gedung yang cukup sulit dijangkau. Dia aja yang akamsi nyasar, apalagi saya.

Ditambah lagi, si resepsionis cantik yang menemui kami nggak bisa berbahasa Inggris. Ngomong apa ntar. 

Tapi ternyata, kami tak bisa berbicara langsung dengan pihak Oman Air, cuma bisa bicara lewat telepon yang ada di tempat resepsionis.

Hasil pembicaraan akhirnya berujung pada kesimpulan bahwa saya tetap harus mengemail kantor pusat Oman Air dengan men-cc-nya ke kantor Oman Air Rusia. Tak ada jalan lain.

Saya langsung menuju kursi tamu di gedung itu dan mengetik email permohonan, meminta jadwal diubah dan dimajukan.

Email sent.

24 Maret, masih di Moscow

Pagi-pagi, Mas Erik mengabarkan kalau tiket kawan saya juga sudah berhasil diubah. Kami akan naik Qatar Air di tanggal 28 Maret. Alhamdulillah, kawan bisa pulang jugaaa. Oman Air Rusia lebih kooperatif ternyata daripada Oman Air Indonesia.

Kami pun girang.  Bergegas berjalan-jalan ke luar penginapan, menuju area Ismailov dan berakhir di supermarket untuk membeli keperluan selama beberapa hari di Moscow. Plus membeli jastipan tentunya.  Tapi ternyata, Moscow sangat sepi hari itu.

Rupanya Putin sudah menginstruksikan masyarakatnya, khususnya para lansia, untuk mengkarantina diri dan memberi denda berat kepada yang melanggarnya. Hanya yang perlu saja boleh keluar rumah.

Baca Juga: Ke Rusia Saat Corona: Sepinya Red Square

25 Maret, masih di Moscow

Pukul 00.20

Kawan saya meminta saya kembali mencoba mengemail Oman Air, meminta supaya kepulangan dimajukan.

Walau sudah mengantuk berat karena seharian berkeliling Moscow, bolak balik naik metro buat liat metro station yang bagus,  akhirnya saya mengirim email ke Oman Air Rusia, minta penerbangan kami dimajukan tanggal 26 Maret esok.

Alasan saya bermacam-macam, mulai dari permintaan Menteri Luar Negeri RI (maap Bu Retno, namanya saya bawa-bawa) sampai isu kalau Rusia akan menutup semua penerbangan. Dan juga karena ada kabar Putin melepaskan singa di jalanan Moscow (ga deh, ini nggak saya tulis).

Pukul 10.30
Sebelum jalan-jalan lagi keliling Moscow, saya mengecek email. Ternyata tak ada balasan dari Oman Air. Ya sudahlah, mungkin memang harus pulang sesuai jadwal semula. Saya langsung menyusun rencana, ngapain aja beberapa hari ini di Moscow.

Moscow Metro Station
Salah satu stasiun di Moscow

Pukul 14.30
Sehabis berkunjung kembali ke Moscow Katedral Mosque, kami lapar. Kantin halal yang biasa kami datangi di sebelah masjid tutup. Akhirnya, kami melipir ke restoran Uzbekistan di seberang masjid, memesan semangkuk Lagma, sepiring Palov, dan satu teko teh.

Sambil menguyah nasi palov yang jadi favorit saya selama di Uzbek, saya iseng mengecek email. Hal yang sangat jarang saya lakukan saat sedang makan.

Ternyata, beberapa menit lalu ada email masuk dari Oman Air Rusia yang menanyakan apakah kami bisa berangkat malam ini juga, pukul 23.45.

Saya melongok ke jam yang saya beli di Arab lima tahun lalu. Pukul 14.30. Artinya kami masih punya waktu 9 jam buat kembali ke hotel, packing, solat, mandi, dan ke airport.

Tanpa pikir panjang, saya langsung balas email dengan jawaban, “Yes, definitely we can”. Dan langsung menghabiskan palov dengan buru-buru, juga seteko teh Uzbek yang ternyata harganya lumayan mahal. Bikin nyesel pesennya.

Pukul 20.30
Saat menuju airport, ada WA dari staff KBRI Rusia. Ia mengatakan kalau Presiden Putin baru saja memerintahkan libur untuk semua kantor dari 28 maret-5 April. Di tanggal kepulangan kami sebelumnya.

Langsung bersyukur karena buka email di saat makan siang di resto tadi. Kebayang kan kalau saya pulang saat tanggal 28, di saat semua libur. Susah koordinasinya.

Pukul 21.23, Demodedovo Airport
Kami masih was-was apakah check in akan berhasil, tapi ternyata berlangsung mulus. Bahkan mas-mas ganteng nan baik penjaga konternya bilang, kalau satu row boleh saya kuasai sendiri karena pesawatnya akan kosong. Baiklah Mas.

Naik Qatar Airways cuma berempat

Nyatanya, memang pesawatnya kosong melompong. Hanya ada saya, kawan saya, traveler wanita dari Philipina, dan satu lagi traveler laki-laki entah dari mana.

Ya, hanya kami berempat penumpang resminya. Penumpang lainnya adalah para awak kabin, plus 20 pilot dan pramugari Qatar yang harus pulang ke Doha karena itu hari terakhir maskapai itu mengudara ke Rusia, sebelum ditutup sementara karena Corona.

Saya penumpang di pesawat terakhir.

Karena jadi penumpang empat-empatnya, pelayanan yang saya terima jadi seperti pelayanan kelas bisnis. Satu pramugari melayani dua orang. Berkali-kali saya ditawari tambahan makanan, minuman, dan snack. Tapi karena itu malam hari, saya lebih memilih buat tidur aja.

Esoknya, saat transit di Doha, saya mendapat kabar kalau tadi pagi, Putin sudah menutup semua jalur penerbangan dari dan menuju Rusia.

Yassalam…..nyaris.

Berburu Lady Aurora di Rusia

Di dunia ini, ada banyak tempat menyaksikan Aurora Borealis. Salah satunya adalah di kota Murmanks Rusia. Tempat ini memang sedang naik daun karena biaya yang dibutuhkan tidak semahal Iceland ataupun Norwegia.

Bagaimana pengalaman saya berburu Aurora?

We will landing shortly in Murmansk. Please fasten your seat belt, open your window sheet, put back your tables, and sit upright. And don’t forget to use your gloves. Its minus 16 degrees outside” 

Begitu pengumuman awak kabin kepada kami, para penumpang Siberian Airways yang mendarat di bandara Murmansk, Rusia. Pengumuman yang berbeda dengan yang saya pernah dengar sebelumnya karena ada embel-embel diminta mengenakan sarung tangan.

Cuaca di Murmanks dini hari itu memang cukup dingin; minus enam belas derajat celcius. Padahal saat itu sudah masuk bulan Maret, bulan yang cukup “hangat” menurut orang-orang setempat. Namun badai salju yang datang lagi semalam membuat suhu menurun lagi.

Begitu turun dari pesawat, saya melongo, takjub dengan kecilnya ruang kedatangan di bandara ini. Setelah landasan, hanya ada ruang pengambilan bagasi berukuran sekitar 6m x 5m dengan satu belt, lalu setelah itu langsung ada pintu keluar ke jalan. Cuma segitu.

Petugasnya pun cuma dua, petugas yang merangkap jadi satpam dan petugas informasi. Saya pernah melihat beberapa bandara di Indonesia yang kecil, tapi ini rasanya lebih kecil daripada yang pernah saya lihat di Indonesia. 

Murmansk Airport. Sumber: survincity.com
Murmansk Airport. Sumber: survincity.com


Menunggu Bus di Suhu Minus

Saya menggigil kedinginan dan segera merapatkan jaket winter oranye andalan saya Walaupun persiapan sudah maksimal, dengan dua lapisan long john dan jaket khusus winter yang mampu menahan suhu hingga , dinginnya Murmanks masih terasa keras di wajah. Pun di tangan. Tangan saya membeku, dan memaksa saya memakai kembali sarung tangan yang sempat saya lepas di bandara tadi.

Saya dan Ruru, kawan saya, harus berjalan ke arah halte bus dengan mendorong koper, menembus hujan salju. Berkali-kali roda koper saya terperosok ke dalam salju setinggi mata kaki. Susah ternyata berjalan di salju. Apalagi bawa koper.

Saking dingin dan susahnya, saya tak mampu mengambil handphone di kantong dan mengabadikan kesusahan kami menggeret koper.

Jangan bayangkan halte bus yang saya tuju  itu sebagus halte bus bandara Soekarno Hatta. “Halte” busnya hanya sebuah plang di depan sebuah bangunan kecil berwarna cokelat. Sama kecilnya dengan si bandara kedatangan.

Kami memang mencoba menggunakan bus, demi mengirit bujet tentunya. Tarif jemputan dari bandara ke kota sekitar 3.000 rubel per mobil, sementara kalau naik bus, tarifnya hanya 125 rubel per orang. Jauh, kan, bedanya…

Meskipun ada jadwal yang tertempel, saya sempat khawatir bus tak datang. Sebab, hanya kami berdua yang ada di halte bus itu. Semua yang keluar dari bandara dijemput oleh mobil berpenghangat. Untung, bus datang tepat waktu, menyelamatkan saya dari terpaan angin yang makin dingin saja. 

Ufff…

IMG_20200319_131053
Pemandangan yang sempat saya foto dari dalam bus. Semua putiih….


Tujuan utama kami di Murmanks adalah menyaksikan Aurora Borealis, fenomena langit yang hanya ada di lingkaran kutub. Sebenarnya, di dunia ini ada banyak tempat menyaksikannya, salah satunya adalah di kota paling utara di Rusia ini. Tempat ini memang sedang naik daun sebagai tempat menyaksikan aurora karena biaya yang dibutuhkan tidak semahal kalau dibandingkan Iceland ataupun di Norwegia.

Kami berada di Murmanks selama tiga hari tiga malam. Satu malam saya menginap di Aurora Village, dua malam saya habiskan di penginapan di tengah kota. 

Baca Juga: Aurora Village, Memandang Aurora dari Balik Jendela

 

aurora village murmansk
Aurora Village, tempat saya menginap di Murmansk

Di Aurora Village kami gagal mendapatkan si lady Aurora, karena itu kami memutuskan untuk hunting lagi di malam selanjutnya, menggunakan guide. Ya, hunting aurora tak bisa dilakukan sendiri, harus menggunakan guide lokal yang paham kondisi kotanya.

Di malam ketiga barulah kami berangkat berburu. Sebab di malam sebelumnya, Olga, guide yang sangat saya rekomendasikan karena tak begitu mata duitan, mengatakan bahwa langit malam itu berawan. Dan tentu saja, aurora tak akan bisa dilihat jika tertutup awan.

Benar saja. Di pagi harinya, kami melihat tumpukan salju tebal di depan penginapan. Ternyata bukan hanya berawan, semalam hujan salju turun dengan derasnya.  Membuat saya hampir terpeleset dan memutuskan masuk kembali ke penginapan untuk mengambil snow cover anti-slip untuk sepatu saya.

Baca Juga: Persiapan Winter di Rusia

20200320_143944
Salah satu spot di Murmansk.


Akhirnya, “Dia” Datang!

Pukul 21.30, Olga dan Jimmy menjemput kami di penginapan. Sambil tersenyum ramah, ia mengatakan bahwa malam ini langit akan cerah tanpa awan. Namun ia juga tak menjamin akan mendapat aurora karena menurutnya, “Forecast is still a forecast. You don’t know what will happen exactly. It could change by hour.” 

Langit Murmansk malam itu memang terlihat sangat cerah. Dari jendela mobil saya bisa melihat sebuah bintang di sana. Saya lupa apa nama bintangnya, namun kata orang, kalau melihat bintang itu, artinya aurora akan muncul.

Semoga.

Olga membawa kami menjauh dari pusat kota, ke daerah yang lebih minim cahaya. Memang, seperti halnya milky way, aurora hanya bisa disaksikan di area yang gelap gulita. 

Baru dua puluh menit meninggalkan kota, Olga menyuruh kami melihat ke langit di arah kanan. Ada semburat berwarna putih tipis di sana. Aurora muncul. Saya langsung ambil kamera, mengarahkannya ke titik yang ditunjuk Olga. Hijau.  Aurora memang baru akan terlihat berwarna hijau kalau dilihat di kamera.

Saya nyengir lebar. Doa saya terkabul.

DSC09842-2-01

Makin lama semburat makin besar. Tapi Jimmy, kawan Olga yang menjadi driver kami malam itu, belum menghentikan mobil kami. Ia baru berhenti lima belas menit kemudian, di tengah lapangan luas bersalju yang gelap gulita. Di langit sudah tampak semburat putih yang tebal, besar, dan makin jelas. Saya, yang baru pertama kali melihat aurora, langsung lompat kegirangan karenanya.

DSC09856-01-01

DSC09820-2-01-01

Dua jam kami di sana, melihat sang lady menari-nari di langit Murmansk. Untung saat itu udara cukup bersahabat, “hanya” minus 10 derajat. Nyaman, meskipun saya berkali-kali terjeblos ke dalam tumpukan salju yang lumayan dalam dan harus dibantu Olga untuk keluar darinya.

Alhamdulillah. Now, i can check one of my bucket list.

Tip:

  • Bus dari airport ke Murmansk Station: bus no 106. Harga 125 rubel.
  • Penginapan di Murmansk: Aurora Village, harga 5 juta/malam dan Tri Zaytsa, harga 350rb/malam.

 

 

Persiapan Winter di Rusia

Saat akan ke Rusia, saya sempat bingung baju musim dingin apa yang harus saya bawa. Karena suhu di Rusia saat musim dingin bisa mencapai 10 derajat.

Nah, inilah yang saya pakai selama musim dingin di Rusia.

DSCF7902-01

Baju apa yang saya pakai saat musim dingin di Rusia?

Saat akan ke Rusia, saya sempat bingung baju musim dingin apa yang harus saya bawa. Ini bukan winter pertama saya, saya sudah beberapa kali mengalami winter. Namun ini kali pertama saya akan mengalami suhu hingga minus 10 derajat.

Ya, suhu Rusia, terutama Murmansk di musim dingin memang luar biasa. Apalagi nantinya saya akan berburu aurora di malam hari, dengan suhu yang sudah pasti luar biasa dingin.

Nah, inilah yang saya pakai selama musim dingin di Rusia.

1. Base Layer

Lapisan paling dalam (base layer saya) ada 3 lapis. Lapisan pertama adalah long john yang saya beli sudah lama sekali, sampai saya lupa di mana membelinya.

Lapisan kedua dan ketiga adalah Uniqlo Ultrawarm Heattech. Uniqlo ini punya tiga jenis heattech, dan yang paling hangat (tapi paling mahal) adalah Ultrawarm. Lapisan ini saya tukar-tukar. Kadang heatech saya pakai duluan baru long john.

By the way, long john dan ultrawarm heatech ini mesti ngepas banget dengan badan ya, supaya nggak ada angin yang menerobos masuk ke kulit.

2. Lapisan Luar

Setelah tiga lapis, saya pakai lapisan luar berupa sweater heatech uniqlo. Kadang saya pakai kaos saya yang agak tebal.

3. Jaket Winter

Jacket ini yang paling penting. Ga asal tebal. Saya bawa dua buah jaket, yang dua-duanya mengklaim tahan sampai -20 derajat celcius.

Yang pertama adalah jaket goosedown merek universal traveller, yang saya beli setaun lalu di Mitsui KL. Waktu itu harganya sedang diskon jadi sekitar sejuta, dari harga normal 3.5 juta. Mahal? Iya sih, cuma jaket ini seperti investasi. Lebih baik beli yang mahal sekalian tapi bisa dipake seumur hidup.

Jangan asal beli jaket goosedown, apalagi asal tebal. Karena ternyata, yang bagus itu adalah yang kandungan goosedown-nya cukup tinggi di atas 90 persen.

Merek yang cukup OK sebenarnya Colombia atau TNF. Tapi yaaa harganya, ga kuaaat…

Jaket yang satu lagi adalah jaket Mark and Spencer. Saya beli di PIM duluu dengan menggunakan voucher MAP hasil menang lomba dan ternyata masih bisa saya pakai hingga sekarang. Tapi ini nggak waterproof dan bukan goosedown. Cukup hangat untuk menghalau dingin di suhu minus 3, namun tidak sehangat jaket saya yang satunya.

Sebenernya, waktu awal Maret saya main ke Zara, saya nemu jaket winter waterproof yang harganya “cuma” sejuta. Tapiii…ukurannya cuma S dan M, yang jelas nggak muat di badan saya.

4. Celana Winter

Sama dengan atasan, untuk bawahan saya juga pakai lapisan. Yakni legging uniqlo extrawarm, long john, plus uniqloultrawarm legging. Awalnya saya cuma pakai dua lapis, tapi ternyata saya kedinginan. 

Nah untuk luaran, saya pakai jeans winter yang ada lapisan fleace di dalamnya. Saya beli di china, jepang atau korea gitu (lupa), tapi banyak juga kok di toko online. Saya bawa dua, karena ada yang warna hitam dan denim.

Di toko online ada yang jual celana winter yang luarnya dari bahan kulit. Ini waterproof, tapi saya ga suka, karena mengilap banget. Kayak mau nyanyi dangdut!

5. Kaos Kaki

Kaos kaki ini penting buat saya karena kalau telapak kaki dingin, langsung menjalar ke seluruh badan.

Saya pakai kaos kaki dua lapis. Saya bawa 7 kaos kaki, dua kaos kaki heattech uniqlo, satu kaos kaki Mark and Spencer, dua kaos kaki wool dari toko Djohan Manggadua, dan dua kaos kaki biasa. Yang uniqlo ga ngaruh sama sekali. Saran saya, lebih baik beli seperti yang saya beli di toko Djohan.

6. Sepatu Winter

Saya sempat mupeng dengan sepatu Timberland. Namun sepatu incaran saya itu harganya lumayan dan ga pernah diskon. Akhirnya saya menemukan sepatu  boot buatan Bandung , yakni Nokha. Saya pakai ini waktu ke Jepang dulu, dan saya coba lagi pakai ke Rusia ini. Ternyata, lumayan banget.

Sepatu ini memang agak keras dan lebih kaku dibanding Timberland dambaan saya itu. Namun dia waterproof dan cukup tahan menghadapi salju. Bagian bawahnya juga tak licin walaupun saya kadang melengkapinya dengan antislip yang saya beli di aliexpress.

Oya, saya beli sepatu dua nomer di atas saya. Nomer saya 39-40, saya beli sepatu nomer 41. Tujuannya, biar kalau pakai kaos kaki dobel masih muat.

7. Sarung Tangan

Ini juga sangat penting buat saya, karena ini area paling ga tahan dingin buat saya. Dan ga mungkin pakai sarung tangan dobel jadi harus yang oke punya. Saya punya dua sarung tangan, yang satu saya beli di uniqlo, satu lagi baru saya beli di Rusia. Yang saya beli di Uniqlo lumayan tebal dan waterproof sehingga ini lebih sering saya pakai.

Jangan pakai sarung tangan gegayaan ya, yang cuma menang di model keren, karena ga akan mempan lawan winter. Pilih sarung tangan yang cukup tebal, kalau bisa yang waterproof seperti sarung tangan ski.

8. Syal

Perlukah pakai syal? Perlu karena anginnya dingin, dan akan membuat wajah serasa beku dan bebal. Pakai syal apa aja, asal bisa nutup bagian pipi. Apalagi kalau ga pake jilbab, mesti banget pakai syal untuk menutup leher.

9. Penutup Kuping

Saya nggak suka pakai penutup kuping, jadi saya akali dengan menggunakan ciput rajut yang menutup telinga, sebelum pakai jilbab. Lumayan hangat.

Ke Rusia Saat Corona: Sepinya Red Square

Red Square adalah tempat wisata utama di Moscow, Rusia. Di area ini terdapat banyak destinasi wisata seperti St Basil Cathedral, Kremlin Mosque, Lenin Moseleum, Arbat Street, dan lain sebagainya.

Setiap harinya, Red Square ini dipenuhi oleh turis-turis yang ingin mengabadikan dirinya di depan National History yang berwarna merah serta St Basil Cathedral, gereja dengan kubah warna warni mirip lolipop. Kebanyakan turis asal China, sehingga orang Moscow kerap menyebut Red Square ini sebagai “Shanghainya Moscow” karena yang terdengar di sini lebih banyak bahasa Cina ketimbang bahasa Rusia.

Tapi ketika saya ke sana, Red Square jadi berbeda. Gara-gara Corona

Red Square Mosqow

Red Square adalah tempat wisata utama di Moscow, Rusia. Di area ini terdapat banyak destinasi wisata seperti St Basil Cathedral, Kremlin Mosque, Lenin Moseleum, Arbat Street, dan lain sebagainya.

Setiap harinya, Red Square ini dipenuhi oleh turis-turis yang ingin mengabadikan dirinya di depan National History yang berwarna merah serta St. Basil Cathedral, gereja dengan kubah warna warni mirip lolipop. Kebanyakan turis asal China, sehingga orang Moscow kerap menyebut Red Square ini sebagai “Shanghainya Moscow” karena yang terdengar di sini lebih banyak bahasa Cina ketimbang bahasa Rusia.

Namun saat saya tiba di sana, Red Square tak seperti biasanya. Hanya ada saya, kawan saya, dan beberapa gelintir orang. Menurut Mbak Susan, kawan baik kami yang juga seorang guide di Moscow, hal ini telah berlangsung sejak kota Wuhan di China terkena virus Corona dan semua negara membatasi kedatangan warga China ke daerahnya. Termasuk Rusia.

Sepinya Red Square juga dibarengi dengan ditutupnya semua tempat bersejarah di sekitarnya. Kremlin dan Lenin Moseleoum, dua tempat yang saya ingin datangi, tak buka. Hanya ada sepasang polisi di depan, yang langsung menyilangkan tangan di dadanya begitu kami mendekat ke sana. Closed, itu arti silangan tangan itu.

Bahkan GUM, mal bersejarah tepat di depan Red Square pun sangat sepi. Toko-toko masih buka, termasuk toko ice cream yang legendaris yang sempat kami cicipi. Tapi pengunjung yang datang amat sedikit.

Rupanya semalam, Mayor Moscow Sergei Sobyanin mengumumkan perintah untuk membatasi kerumunan massa di Moscow. Saat itu, telah 63 orang positif terinfeksi Covid-19 di Rusia. Karena perintah ini, sekolah mesti libur, begitupun tempat wisata. Orang-orang juga tak boleh berkumpul lagi dan semua kegiatan yang melibatkan banyak orang akan dihentikan.

Baca Juga: Ke Rusia Saat Corona: Welcome to Moscow


Moscow di Awal: Masih Normal

Kami menghabiskan total empat hari di Moscow. Dua hari di awal kedatangan, dan dua hari sebelum kami bisa terbang ke Jakarta setelah berjuang mendapatkan tiket pulang. Soal ini, bisa dibaca di TULISAN INI

Selama dua hari di awal, kehidupan di Moscow tak terlampau sepi. Orang-orang tetap berlalu lalang di mana-mana, subway tetap ramai, supermarket tetap penuh. Kalau saya tak baca berita, saya tak akan tahu kalau ada perintah dari Sergei Sobyanin untuk membatasi kerumunan massa. Semuanya biasa saja.

Tak ada satupun orang yang memakai masker. Tak ada petugas pembersih yang mengelap-lap dengan desinfketan seperti yang saya lihat di MRT Jakarta. Tak ada yang sibuk menyemprot tangannya dengan hand sanitizer seperti yang selalu saya lakukan.  Tak ada social distancing, tak ada upaya mengurangi sentuhan dengan permukaan seperti railing tangga, pintu subway dan sebagainya.

Semuanya tampak biasa saja. Kecuali di di tempat wisata.

Bersama Mbak Susan, kami juga masih bisa masuk ke Cathedral Mosque Moscow, masjid terbesar di Moscow yang punya museum Quran. Kami masih bisa makan di restoran di mal, makan di kantin di sebelah masjid, bahkan masih bisa hilir mudik ke sana-sini.


Di Akhir: Sepi Bak Kota Mati

Namun berbeda halnya ketika kami kembali ke sini, beberapa hari kemudian. Rupanya Vladimir Putin sudah mengeluarkan larangan tegas sebelumnya. Semua penerbangan ke Rusia ditutup, begitupun dengan jalur darat. Tak boleh ada wisatawan asing datang berkunjung lagi.

Uff….saya menarik napas panjang membaca berita ini. Kemarin di Muscat, tepat setelah saya mendarat ada berita kalau esok harinya Oman juga tertutup untuk wisatawan asing. Nyaris saya tidak bisa masuk. 

Aturan tegas dari Putin ini juga melarang penduduk di atas usia 65 tahun ke luar rumah, menutup beberapa rumah ibadah untuk kunjungan wisata, dan menutup beberapa restoran kecuali yang popular di kalangan wisatawan.

Rupanya, dalam waktu beberapa hari saja, jumlah penderita positif Covid-19 di Rusia  sudah mencapai 430 orang. Delapan kali lipat dari waktu kami datang seminggu yang lalu.

Alhasil, di dua hari terakhir kami di Rusia, kami merasakan Moscow yang berbeda. Jalanan sangat sepi, subway kosong melompong, supermarket tak ada orang.

Orang-orang yang berkeliaran juga mulai memakai masker. Toko-toko banyak yang tutup, bahkan Ismailov, pasar souvenir yang amat terkenal di Rusia, juga sepi. Hanya ada beberapa penjual yang berjualan, termasuk pedagang sate asal Tajikistan yang menceritakan kalau hanya kami yang makan satenya hari itu.

IMG_20200324_151445-01
Stasiun aja sepi begini

penjual sate Ismailov
Satu-satunya penjual sate yang buka di Ismailov

 

 

Ke Rusia Saat Corona: Welcome to Moscow

Bagaimana rasanya ada di Rusia saat Corona? 
Inilah yang saya dan kawan saya rasakan selama penerbangan dari Jakarta ke Oman dan dari Oman ke Moscow.

Bagaimana rasanya ada di Rusia saat Corona?

Kami sampai di Demodonevo Internasional Airport Moscow pukul 9 malam. Begitu mendarat, tak tampak ada penjagaan berlebihan di sini. Kami tak dicek suhu tubuh, tak ditanyai apa-apa, bahkan tak diminta mengisi surat apapun seperti halnya yang kami lakukan di Oman sehari sebelumnya. Melenggang bebas saja seperti biasa.

Yang nampak cukup “ramai” malah gate sebelah. Di sana tampak pasukan berbaju putih dengan Alat Pelindung Diri lengkap plus desinfektan di tangannya. Entah pesawat dari negara mana yang mendarat itu, karena saya tak memperhatikannya. Saya lebih fokus mencari bagasi belt yang  ternyata lumayan jauh dari tempat turun penumpang. Ya, ternyata bagasi belt di bandara terbesar di Moscow ini sampai puluhan. Ufff….

Di pesawat Oman Air, pramugarinya juga tak menggunakan masker. Hanya saat menyajikan makanan lah mereka baru menggunakan masker. Orang-orang di sekeliling saya juga tampak tenang-tenang saja. Hanya saya tampaknya yang sibuk. Memakai masker selama penerbangan, menyemportkan alkohol ke seluruh kursi, tray makanan, layar IFE, tombol jendela, hingga ke ke seatbelt.

Bodo ah, yang penting hati tenang


 

Moscow Demodenovo Airport
Moscow Demodenovo Airport

Para penumpang yang hilir mudik di bandara juga tak tampak mengenakan masker. Hanya kami, dan beberapa orang lainnya yang menggunakannya.

Memang, menurut kawan saya yang tinggal di sana, orang Rusia lebih cuek terhadap virus ini karena mereka pernah mengalami virus dahsyat sebelumnya. Apalagi, saat saya datang, belum banyak yang terkena virus ini.

Ya, sebelum jalan, saya sempat mengecek soal perkembangan virus Covid-19 di Rusia. Menurut data, hanya 34 orang yang terinfeksi virus di seantero Rusia. Dan jumlahnya sama seperti data sebulan sebelumnya.

Masih aman, ga terlalu signifikan perkembangannya, begitu pikir saya. Makanya saya berani memutuskan untuk tetap berangkat.


Yandex vs Aeroexpress

Di luar bandara Demodovo, juga tetap terasa biasa. Mobil-mobil yang kebanyakan berbentuk sedan masih hilir mudik mengangkut penumpang. Tukang-tukang taksi pun masih ramai berkerumun di pintu keluar bandara. Mengamati dan mendekati traveler yang bisa jadi calon penumpang mereka.

Beberapa supir mendekati kami, menawarkan taksi ke kota. Saya menggeleng dengan tegas, karena saya sudah memesan taksi lewat Yandex. Yandex ini adalah situs taksi online yang populer di negara Rusia dan negara pecahannya.

Saya pernah menggunakan ini sebelumnya di Uzbek dan Georgia, sehingga tak terlalu kesulitan dengan aplikasinya. Lagipula, ada translator otomatis di aplikasi ini, sehingga saya tak perlu bingung soal komunikasi dengan si driver.

Awalnya kami akan menggunakan AeroExpress, kereta express menuju kota. Namun setelah mempertimbangkan kepraktisannya, kami lebih memilih menggunakan taksi.

Kalau naik AeroExpress, kami mesti naik subway lagi, dan mesti menggotong koper yang lumayan berat ke atas. FYI, hampir semua stasiun subway di Rusia tidak memiliki eskalator, jadi siap-siap aja deh gotong-gotong koper.

Apalagi, harga kereta express ini tak terlampu berbeda dengan total yang kami keluarkan kalau menggunakan Yandex. Harga AeroExpress ini sekitar 450 rubel per orang, belum lagi ditambah harga subway sekitar 40 rubel per orang. Kalau berdua, totalnya jadi 980 rubel. Sementara kalau naik taksi, kami hanya perlu merogoh kocek sebesar 1100-1300 rubel. Ga beda jauh kan?


Nyaris Ditipu Driver Tua

Kami menunggu di tiang E, di luar pintu kedatangan, seperti janji saya dengan driver. Saya menggigil, menahan dingin karena hujan salju tiba-tiba turun dan suhu jadi minus sekian derajat. Walau jaket saya sudah lumayan tebal, saya tak pakai long john karena sebelumnya saya mampir di Oman. Susah ternyata pindah dari negara super panas ke negara super dingin begini.

Baca Juga: Persiapan Winter di Rusia

Tak lama, ada taksi kuning yang berhenti di depan kami, mengaku kalau itu adalah taksi pesanan kami.  Saya yang belum mengerti pelat nomer Rusia sempat terkecoh, karena di peta aplikasi, taksi yang saya pesan memang sudah sampai di depan saya.

Untung, tepat ketika saya akan menyerahkan koper saya ke si supir, mobil di belakang mengklakson dengan keras berkali-kali. Saya menengok kesal, tapi kemudian bersyukur, karena rupanya supir tua yang mengklakson itu adalah supir taksi yang saya pesan. Ufff…

Perjalanan ke Netizen Hotel tempat kami menginap selama di Moscow, lumayan lama ternyata. Sekitar satu jam perjalanan. Saya antusias memandang keadaan sekeliling walaupun sudah mulai gelap. Saat melirik ke aplikasi Yandex, saya kaget. Aplikasi saya mati. Taksi dianggap sudah sampai padahal kami baru berjalan selama 20 menit saja.

Rupanya, itu akal-akalan sang pengemudi, agar ia bisa menambah tarif lebih dari yang tertera. Tarif seharusnya, yang sempat saya ingat, sekitar 1100-1150 Rubel. Namun ia meminta 1300 rubel, yang akhirnya saya iyakan karena saya tak punya bukti tarif seharusnya. Lagipula, saat itu sudah malam dan saya sudah terlalu lelah. Dan lagipula, tarifnya “cuma” beda sekitar 150 rubel.

Saya sempat bertanya ke kawan saya yang tinggal di sana, katanya memang beberapa supir taksi sengaja melakukan hal itu agar bisa mendapatkan tarif lebih mahal dibanding seharusnya.

Aha, begitu rupanya. Welcome to Moscow then!

Baca Juga: Aurora Village Murmansk, Memandang Aurora dari dalam Igloo

Solo Travelling ke Uzbekistan: Megahnya Makam Imam Bukhari di Samarkand

FB_IMG_1577510661644

Salah satu tujuan saya ke Samarkand, Uzbekistan, adalah untuk melihat makam Imam Besar Al Bukhari, perawi hadis asal Bukhara yang telah merawikan ribuan hadis shahih bagi umat muslim.

Dari literatur yang saya baca, Imam Bukhari bernama asli Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Ju’fi. Namun karena lahir dan besar di Bukhara, ia dikenal dengan nama Al Bukhari.


Untuk menuju ke sana secara mandiri dan sendirian ternyata tak terlalu mudah, karena letaknya lumayan jauh, sekitar 25km dari Samarkand.

Biasanya, orang menyewa taksi dengan harga sekitar 100.000-150.000 som (150-250rb rupiah). Murah kalau beramai-ramai, mahal kalau jalan sendirian seperti saya. Dari sehari sebelumnya, saya sudah hilir mudik mencari teman di hostel yang mau ke sana. Namun tak ada yang berminat, karena tujuan ini memang hanya populer di kalangan umat muslim. Sementara isi hostel saya kali itu tak ada yang muslim.

Baca Juga: Solo Travelling ke Uzbekistan: Cinta dalam Sepotong Roti dan Segelas Ceri


Melihat biaya yang lumayan, awalnya saya malas-malasan ke sana. Ditambah suhu saat itu sangat panas, berkisar 40 derajat. Makin enggan bergerak lah saya. Tapi untunglah, Salim, kawan baik saya yang asli Uzbek pagi-pagi sudah menelpon saya. Dia mengatakan, “Udah jauh-jauh ke sini ga ziarah. Ngapain coba? Rugi.”

Untungnya lagi, Ismailov, ABG penjaga hostel (yang berkali-kali minta foto bareng saya terus karena menurut dia “wow you have many followers at instagram”—padahal cuma 3000an) mau mengantar saya ke tempat share taxi berada. Letaknya tak jauh dari Siyab Bazaar, di bawah jembatan layang.

Share taxi ini semacam mobil omprengan, bentuknya sedan dan bisa diisi beberapa orang. Ia baru berangkat setelah penumpang penuh. Untuk tujuan Bukhari, ongkosnya cuma 5.000 som (9000an rupiah) sekali jalan. Jauuuuh lebih murah ketimbang saya sewa mobil sendirian.


Moseleum alias kuboor alias kuburan Imam Bukhari ini sangat megah. Detail arsitekturnya menarik. Tapi sayangnya, buat pengunjung non Uzbek seperti saya, tidak tersedia guide berbahasa Inggris. Alhasil saya jadi cuma meraba-raba apa yang ada di sana, ditambah hasil dari mbah gugel yang alhamdulillah sempat saya cari sebelumnya.

FB_IMG_1577510691812

FB_IMG_1577510703816

FB_IMG_1577510697853

Kebanyakan pengunjungnya adalah penduduk dari Uzbekistan. Cuma saya seorang alien di sana, berbeda tampangnya dari yang lain. Paling hitam, paling pesek.

Setelah berkeliling, saya duduk di bangku yang banyak ada di sana. Tak jauh dari saya ada doa yang dipimpin seseorang berbaju biru berkopiah khas Uzbek. Sepertinya setiap orang yang datang akan dipimpin berdoa olehnya. Alhamdulillah doanya menggunakan bahasa Arab dan isinya adalah doa yang biasa dibaca setelah solat. Bisa mengerti sedikit lah saya, dan bisa juga ikutan mengucapkan “aamiin”.

Sebenarnya menurut Salim, orang Indonesia diperbolehkan masuk ke makam yang ada di lantai bawah. Ini disebabkan adanya hutang budi ke Indonesia, karena yang mendesak makam ini diperbaiki adalah Presiden Soekarno. Beliau mengancam Presiden Rusia saat itu, akan memboyong jenasah Imam Bukhari ke Indonesia kalau keadaan makamnya nggak terawat. Tapii…..kawan saya ini telat bilangnya. Dan tak ada petugas yang menanyakan hal ini pula.

Ah sudahlah, yang penting saya sudah berkunjung ke sana.

Baca Juga: Solo Travelling To Uzbekistan: Its Fifteen or Fifty?

Solo Travelling To Uzbekistan: Its Fifteen or Fifty?

IMG_20190614_083803-01.jpeg

Lapangan terbang Islam Karimov muncul di depan mata. Saya mengucap syukur dalam hati berkali-kali, karena akhirnya saya bisa menjejakkan kaki di negara ini. Negara yang selalu ada dalam mimpi saya: Uzbekistan.

Saya sudah bersiap bertepuk tangan, seperti halnya yang dilakukan di Azerbaijan. Namun ternyata di sini tak ada tepukan tangan ketika pilot mendaratkan pesawat dengan selamat. Semuanya hanya mengucap syukur dan mengusapkan tangan ke muka. Sama dengan Indonesia.

Baca Juga: Pengalaman Naik Buta Airways ke Tbilisi


Begitu keluar dari bandara, para supir taksi langsung menghampiri saya, menawarkan jasa pengantaran ke penginapan di kota. Jarak bandara ke kota Tashkent tak jauh, hanya 25 km. Hanya butuh waktu setengah jam menuju ke kota.

Namun, tak ada taksi resmi di kota ini. Semua mobil bisa jadi taksi di sini, bahkan mobil milik pribadi sekalipun. Ya, kita bisa menyetop mobil di jalan dan menanyakan apakah dia bersedia mengantar ke tempat yang kita tuju. Kalau searah dan sepakat soal harga, tinggal naik. Syaratnya, ya mesti bisa berbahasa Uzbek,

Sebenarnya ada Yandex, aplikasi taksi online asal Rusia yang bisa dipakai sebagai alternatif. Layaknya taksi online di Indonesia, harga taksi online ini jauh lebih murah daripada taksi biasa. Lebih terjamin harga dan keberadaannya pula.

Sayangnya, saat tiba di bandara, saya tak punya jaringan internet. Penjual sim card satu-satunya di bandara sedang tak punya stok, sementara jaringan wifi tak ada di bandara ini.

Sixty to city, miss,” teriak salah satu pengemudi.

Forthy,” teriak yang lainnya.

Akhirnya saya menjatuhkan pilihan pada salah satu pengemudi tua berkopiah khas Uzbek, yang berteriak “fifteen“.


“Gunaydin,” sapa pengemudi taksi ini dalam bahasa Turki. Saya cuma tersenyum dan membalasnya dengan ucapan terima kasih. Dia mengira saya orang Turki. Wajar, karena jarang orang Indonesia yang datang ke sini seorang diri seperti saya. Rata-rata yang datang adalah rombongan tur yang berziarah sepulang umroh.  Saya mungkin anomali.

Seperti halnya mayoritas masyarakat Uzbekistan, pengemudi taksi ini tak bisa berbahasa Inggris. Dia hanya bisa berbahasa Uzbek dan Rusia, dua bahasa yang jamak digunakan di Uzbekistan. Namun ia mengerti sedikit bahasa Turki karena memang kedua bahasa ini berasal dari akar rumpun bahasa yang sama: Turkic Languange.

Uzbekistan, Azerbaijan, dan beberapa negara Asia Tengah lainnya, termasuk ke dalam Turkic Etnic, sehingga bahasa yang digunakan di negara-negara tersebut agak mirip dan memiliki beberapa kosa kata yang sama. Seperti halnya bahasa Malaysia, Brunei dan Indonesia yang berasal dari rumpun bahasa Melayu.


Setengah jam kemudian saya sampai di hostel. Art Hostel, yang direkomendasikan banyak backpacker dunia karena letaknya yang strategis, murah, dan bersih. Saya  segera memberikan uang 100ribu som, dan si bapak tua berkopiah khas Uzbek hanya mengembalikannya 50 ribu som. Saya protes.

“Your money. Hundred. And Fifteen,” katanya sambil menunjuk uang lima seratus ribuan yang saya berikan dan lima puluhan kembalian.

“No, you should give me 35.000 more,” kata saya sambil menulis di kalkulator handphone.

Percebatan alot terus terjadi dalam dua bahasa. Saya pakai bahasa Indonesia, karena toh dia tak mengerti juga bahasa Inggris, dan sang supir menggunakan bahasa Uzbekistan. Hingga akhirnya saya sadar, terjadi miskomunikasi antara saya dan si bapak. “Fifteen” versi si bapak adalah 50.000 sementara fifteen versi saya adalah 15.000.

Oalah…. sejak saat itu, setiap mau naik taksi di Uzbek, saya selalu memastikan “Fifteen or fifty? Thirteen or thirty? Fourteen or fourty?”

Baca Juga: Solo Backpacking ke Georgia: Antara Diwan Hotel, Indomie, dan Pasta Italia