Catatan dari Iran: Terpesona dengan Cahaya Masjid Nasir Al Mulk

Sebuah ruang yang diterangi dengan bias cahaya warna warni indah yang datang dari barisan kaca patri. Itulah gambaran Masjid Al Mulk, masjid yang membuat saya ngotot untuk bertandang ke Iran.

Saya tahu gambar masjid itu dari Ehsan Rafizadeh, kawan saya asal Iran yang saya kenal sewaktu kuliah dulu. Ia mengirimkan saya postcard dengan gambar masjid ini saat ia tiba di negaranya, setelah tinggal di Jakarta dua tahun lamanya. Postcard-nya hilang, tapi keindahan masjid itu masih terekam jelas di otak saya.

Siapa sangka, bertahun-tahun kemudian, saya benar-benar bisa datang ke tempat yang selama ini hanya ada di postcard saya.


Masjid Nasir Al Mulk ini dikenal juga dengan nama Pink Mosque karena interiornya menggunakan tile berwarna merah muda. Bukan pink tile itu yang membuat masjid ini terkenal, namun bias cahaya matahari yang masuk lewat kaca patri lah yang membuat masjid ini jadi favorit banyak orang. Termasuk saya.

Masjid Nasir Al Mulk terletak tak jauh dari hotel Niayesh, sehingga saya dan kawan saya tinggal berjalan kaki ke sana. Untunglah, karena kalau kesiangan, tempat ini akan penuh dengan orang banyak. Masjid ini memang jadi tujuan utama di Shiraz, makanya selalu penuh dengan orang.

Menurut info yang saya baca di internet, masjid sudah buka pukul 08.00, namun waktu terbaik untuk mengunjungi masjid ini adalah sekitar pukul 9 hingga 10 pagi. Saat itu, cahaya matahari tepat berada di sisi jendela, sehingga bayangan yang terbentuk jadi cantik dan sempurna seperti yang ada di foto-foto di majalah. Karena hotel saya letaknya dekat, tepat pukul 8.30 saya sudah ada di sana.

Saya kira, saya yang pertama tiba, ternyata banyak orang yang melakukan hal yang sama dengan saya. Gagal jadi yang pertama.

Mengambil foto yag bagus di sini susah-susah gampang. Susah, karena banyak orang lalu lalang yang juga ingin berfoto di sini. Jadi tiap-tiap orang harus sadar diri, tak berlama-lama di satu spot foto supaya yang lain mendapat giliran juga.

Tapi yang namanya manusia, pasti tak ada puasnya. Salah satunya adalah pasangan dari Malaysia, yang betah diam di satu spot berlama-lama. Padahal semua orang sudah berkali-kali berteriak minta mereka pindah, tapi mereka tetap cuek seakan masjid punya mereka berdua. Mereka baru mau pindah ketika saya ikutan teriak, “Mas, pindah Mas. Gantian dong!”

Saya nggak usah cerita panjang lebar soal masjid ini ya, cukup lihat saja foto-foto indah di bawah ini.

2018_0323_05305500-01-01
Kalau diamati lebih dekat, itu ada penampakan orang di ujung. Susah banget disuruh ngumpet.
2018_0323_06184300-01
Bukan lagi doa, tapi gegayaan aja biar beda

Catatan dari Iran: Antara Niayesh Hotel dan Guide Presiden Soekarno

Di Shiraz, kami menginap gratis di salah satu hotel terkenal dan mahal.

Kami juga sekamar dengan kakek-kakek yang mengatur semua orang di sana. Kakek-kakek yang katanya pernah jadi guide Presiden Soekarno sewaktu melawat ke Iran.

Shiraz. Ini adalah kota kedua yang saya datangi di Iran.

Saya menggunakan bus dari Tehran untuk menuju Shiraz. Bus yang lumayan nyaman, sehingga perjalanan 14 jam saya tidak terlalu terasa. Apalagi, sang kondektur berbaik hati memberikan tambahan snack berupa roti dan aneka jajanan lainnya.

Bus hanya dua kali berhenti di toilet dan sekali di rumah makan. Tak ada yang saya beli, karena Mbak Afifah, host kami di Tehran, dengan baik hati memberi kami bekal untuk makan di jalan. Bus juga berhenti di salah satu musala saat subuh tiba. Saya ikutan turun untuk solat, dan agak terkejut karena yang turun untuk solat hanya saya, kawan saya, supir bus, dan dua orang tua. Yang lainnya, yang kebanyakan anak muda, tetap duduk dengan santainya.

Baca Juga: Keliling Iran Naik Bus


Siang hari kami sampai di Shiraz. Kami menginap di Niayesh Boutique Hotel yang letaknya sangat strategis. Hanya perlu berjalan kaki menuju tempat-tempat wisata di Shiraz. Hotel ini sangat terkenal di Shiraz, sehingga saya tak perlu menjelaskan apa-apa kepada sopir taksi di mana letak hotel ini.

images (7).jpeg

Mungkin kalian tak percaya kalau kami menginap di sini gratis. Bukan karena di-endorse, tapi karena sang manajer adalah member couchsurfing dan menawarkan kami untuk menginap di sana.  Kami diberi dua bed di mix dormitori room yang walaupun letaknya di basement, namun lega dan terang. Kekurangannya hanya satu, toiletnya ada di lantai atas.

Niayesh Botique Hotel ini punya 7 buah bangunan. Yang kami tempati adalah bangunan ketiga, yang dipisahkan oleh lorong-lorong dari yang pertama. Ya, untuk menuju bangunan kedua, kami mesti melewati lorong-lorong yang instagramble. Pastinya saya foto-foto di sana saat lewat.

images (8).jpeg

IHZcDOwjA2oLN6UPP7Dqy9akZT3MdEOxzSrJK1Zd.jpeg

Di tiap bangunan ada semacam open space yang isinnya restoran. Harga makanannya lumayan mahal sih, itu sebabnya saya tak pernah makan di situ. Ada pula rooftop yang bisa digunakan untuk melihat Shiraz dari atas. Di bangunan saya, rooftopnya dijadikan cafe, yang walaupun ada di hotel mewah, harganya tidak terlalu fantastis.

Di depan Niayesh ini ada agen perjalanan. Saya memesan tiket bus untuk menuju Isfahan di sana. Harganya tak berbeda dengan membeli di konter, hanya saja mereka mengenakan biaya tambahan.


Saya menginap tiga malam di sana. Di malam pertama, di kamar itu hanya ada 3 orang Rusia yang salah satunya berprofesi sebagai kameramen. Dia pernah mengunjungi Indonesia selama 3 bulan untuk meliput soal orang utan. Dua orang lagi saya lupa, tapi yang jelas mereka selama beberapa bulan ini berkeliling negara-negara Eropa dan Asia.

Di malam kedua, kami mendapat tamu tambahan: kakek-kakek Iran. Di siang hari, saya sempat bertemu dia dan dia mengaku kalau ia masih keturunan pemilik hotel ini. Dia menawarkan saya untuk menonton konser biola kawannya di salah satu taman di Shiraz. Dia juga mengaku pernah menjadi guide Presiden Soekarno sewaktu ia berkunjung ke Iran dan melihat Persepolis.

Percaya nggak percaya, saya mengiyakan saja semua omongan kakek itu. Daripada kualat.

Kehadiran kakek itu mengubah banyak hal di kamar. Pemandangan saya, yang tadinya kasur kosong berganti dengan kakek-kakek. Apes.

Ia juga mengatur semua hal di sana. Mulai di mana handuk mesti diletakkan hingga di mana baju harus digantung. Kami juga tak boleh ngobrol kalau lampu sudah dimatikan, padahal malam sebelumnya kami melakukannya hingga larut malam. Tak boleh bersuara saat naik ke atas, yang agak sulit dilakukan, karena pintu kamar pasti berdecit saat dibuka. Walau agak sebal, semua menurut saja. Takut kualat juga mungkin.

Dari sekian banyak peraturan, yang paling saya syukuri adalah, si kakek memarahi para lelaki yang seenaknya saja hilir mudik di kamar dengan pakaian seadanya. Saya sebenarnya sudah beberapa kali terpaksa menginap di mix dorm, dan sudah mafhum dengan kebiasaan para bule yang seperti itu. Tapi menurut si kakek “its not polite, boys. Theres two young women here.” Alhamdulillah Kek….

Niayesh Boutique Hotel

Fars Province, Shiraz, District 8, Alley No4، Dastgheib Blvd, Iran. Phone: +98 902 876 0541

 

Catatan dari Iran: Secuil Kehidupan di Tehran

Pesawat airasia yang saya dan kawan saya naiki akan segera mendarat. Pilot sudah mengumumkan keadaan cuaca di Imam Khomeini Airport, para awak pesawat mulai berkeliling meminta tray dinaikkan, jendela dibuka, dan seatbelt dipakai.

Mendengar pengumuman itu, para penumpang wanita asal negara Iran langsung berdiri, mengenakan jubah untuk menutupi baju  yang agak terbuka serta memakai kerudung untuk menutupi rambut.

Itulah yang terjadi di penerbangan kami ke Iran.

Tehran terbelakang, kotor, dan tak maju. Itu yang saya dengar dari mana-mana. Fakta yang ada, sungguh berbeda.

Pesawat airasia yang saya dan kawan saya naiki akan segera mendarat. Pilot sudah mengumumkan keadaan cuaca di Imam Khomeini Airport, para awak pesawat mulai berkeliling meminta tray dinaikkan, jendela dibuka, dan seatbelt dipakai.

Mendengar pengumuman itu, para penumpang wanita asal negara Iran langsung berdiri, mengenakan jubah untuk menutupi baju  yang agak terbuka serta memakai kerudung untuk menutupi rambut.

Itulah yang terjadi di penerbangan kami ke Iran.

Karena negara ini menerapkan aturan ketat soal busana, terutama untuk wanita, maka sebelum mendarat para wanita Iran ini mengganti busana mereka dengan busana yang sesuai dengan aturan pemerintah: baju panjang hingga selutut dan rambut tertutup. Wanita-wanita pelancong seperti saya mesti ikut aturan juga. Namun aturannya tidak seketat warga negaranya, masih ada toleransi bagi kami yang berkunjung ke negaranya.

Mitos dan Fakta tentang Backpacking ke Iran

Soal busana ini, awalnya saya mengira akan melihat perempuan-perempuan berbusana serba hitam, seperti halnya yang saya lihat di televisi. Saya sudah menyiapkan beberapa baju hitam supaya tidak terlalu mencolok nantinya di sana. Ternyata saya salah. Busana wanita di Iran tidak melulu begitu. Mereka memang memakai busana panjang namun tidak harus hitam. Berwarna-warni malah, walaupun warnanya cenderung netral dan tidak bermotif alias polos.

Screenshot_2019-09-20_092830~2.jpg

DSCF3400.JPG
Pakaian sehari-hari wanita Iran

Mereka umumnya menggunakan manteu (istilah mereka untuk mantel tipis) untuk luaran, kaus biasa bahkan beberapa menggunakan kaus tanpa lengan yang dipakai ketika di rumah, lalu dipadukan dengan celana panjang jeans.

Screenshot_2019-09-20_092818~2.jpg

Baca Juga: Catatan dari Iran: WiFi Gratis dari Tuhan


Dua minggu saya berada di Iran. Menginap di rumah beberapa teman Iran agar saya bisa merasakan kehidupan asli mereka.

Salah satunya Zohreh. Ia adalah kawan perempuan yang saya kenal sewaktu mengikuti ayahnya bertugas di Jakarta. Ia kuliah di fakultas yang sama dengan saya. Kami cukup akrab saat itu, saya beberapa kali bertemu keluarganya.

DSCF4738
Zohreh dan bibinya

Zohreh wanita Iran modern. Ia bekerja sebagai dosen bahasa Spanyol di sebuah universitas ternama, menyetir mobil sendiri ke mana-mana, tak pernah menggunakan pakaian hitam kecuali di saat keagamaan. Pendidikannya tinggi, S2 Sastra Spanyol.

Oiya, pendidikan di Iran ini gratis hingga pasca sarjana. Itu sebabnya, rata-rata orang Iran bertitel Master, termasuk tukang taksi yang saya naiki sewaktu di Shiraz. Jeleknya, karena kebanyakan pendidikan tinggi, mereka jadi punya saingan terlalu banyak. 

Di beberapa hari terakhir di Tehran, tadinya saya akan juga akan menginap di rumah Zohreh. Namun terjadi salah persepsi. Saya mengira ia masih di Kerman (saat itu ia pulang kampung untuk Nowrouz), padahal ia sudah buru-buru kembali ke Tehran demi menyiapkan rumahnya untuk saya.

Walau tak bisa menginap di rumahnya, saya sempatkan untuk main sebentar sebelum bertolak ke bandara. Rumahnya modern, letaknya di kompleks apartemen besar. Rata-rata perumahan di Tehran berbentuk flat atau apartment. Selama beberapa hari di sana, tak saya jumpai rumah tapak.

Apartemen Zohreh, yang menurut pengamatan saya masuk ke dalam kategori apartemen kelas menengah, juga dilengkapi dengan fasilitas modern. Masuk ke parkiran (yang ada di lantai dasar), ia tak perlu repot-repot turun dan membuka gerbang. Ada sensor yang membaca nomor mobilnya dan otomatis membuka pintu untuknya.

Di seberang apartemen ada mal besar, yang dilengkapi dengan bioskop. Di sebelahnya, sedang dibangun sebuah mal lagi yang tak kalah besarnya.


Zohreh dan Bibinya yang berusia 60 tahun, membawa kami ke dua tempat. Yang pertama adalah kawasan sejuk yang terletak di pinggir Tehran, saya lupa namanya. Di sana banyak tempat makan yang asri. Mirip dengan puncak menurut saya.

Kami juga diajak ke kawasan mal dan rekreasi modern yang terkenal di Tehran: BamLand.  Kawasan ini terdiri dari butik, mal, dan cafe di pinggir danau, yang sepertinya sering didatangi anak muda gaul di sana.

Screenshot_2019-09-20_093155~2.jpg

Kami masuk ke salah satu cafe yang didesain ala Timur Tengah. Dari sana terpapang pemandangan danau buatan. Di bangku depan saya, ada keluarga muda yang juga sedang menikmati sore. Di bangku sebelah kanan, ada grup sosialita yang akan merayakan ulang tahun salah satu anggotanya.

Sepanjang perjalanan menuju ke sana saya melihat hal yang biasa ditemui di kota metropolitan: mal, jalan tol, mobil berderet-deret yang entah kenapa warnanya putih semua. Tak seperti yang saya dengar di berita soal keterbelakangan kota-kota di Iran. 

DSCF4724
BamLand
DSCF4763.JPG
Salah satu jalan di Teheran

Di lain kesempatan, saat saya jalan sendiri dengan kawan saya, saya juga melihat kehidupan modern anak muda Tehran. Di ujung jalan bernama 30th Tir Street (Si-e-Tir), ada sebuah area yang terkenal sebagai kawasan kuliner gaul.

Related image

Area kuliner pinggir jalan itu dilapisi dengan conblock. Menyiratkan kehangatan. Di kiri jalan berderet truk-truk makanan dengan didesain menarik. Bangku dan meja kayu tertata rapi di depan food truck itu. Di sela-selanya ada tiang-tiang kayu, tempat lampu-lampu gantung bertengger. Mengingatkan saya dengan gaya pusat makanan di Praha dan Budapest.

Kami sempat menikmati beberapa makanan di sana. Sambil melihat dan mengamati yang lain tentunya. Kebanyakan mereka datang  bergerombol bersama kawan-kawannya. Tak beda dengan kehidupan metropolitan lainnya seperti Jakarta. Kecuali, tak ada alkohol tentunya.

P_20180409_141944-01
Salah satu sudut kota Iran. Bersih kan?

 

 

 

Catatan dari Iran: WiFi Gratis dari Tuhan

Perjalanan backpacking saya di Iran dimulai dari ibukota Iran, Tehran.

Kota ini adalah kota maju yang punya prasarana lengkap. Hanya satu hal penting yang tak dimiliki Tehran: WiFi. Bahkan di cafe mahal sekalipun. Alhasil, tanpa bantuan internet, saya harus menjelajah Teheran seharian penuh. Untunglah saya mendapatkan WiFi gratis dari Tuhan.

Tehran adalah kota maju yang punya prasarana lengkap. Hanya satu hal penting yang tak dimiliki Tehran: WiFi. Bahkan di cafe mahal sekalipun. Alhasil, tanpa bantuan internet, saya harus menjelajah Teheran seharian penuh. Untunglah saya mendapatkan WiFi gratis dari Tuhan.

Perjalanan backpacking saya di Iran dimulai dari ibukota Iran, Tehran. Di sini saya menginap di rumah salah satu kenalan saya, Mbak Afifah, seorang penulis buku Road to Persia yang saya kenal via dunia maya.

Baca Juga : Keliling Iran Naik Bus

Mbak Afifah awalnya ingin mengantar saya keliling Tehran, namun kondisi kesehatannya yang belum pulih benar membuat niat itu mesti diurungkan. Ia hanya mengantar kami hingga ke stasiun terdekat dengan menggunakan taksi.

Walaupun namanya taksi, moda transportasi ini lebih mirip mobil sedan omprengan yang bisa dinaiki siapa saja yang searah. Jadi, di tengah jalan, taksi  macam ini bisa berhenti mencari penumpang lain. Tak ada rute tetap, si calon penumpang mesti bertanya kepada si pengemudi apakah si taksi akan melewati tempat yang dituju.

Kalau tak mau ada orang lain yang naik, tinggal katakan kata ajaib, “Darbast” yang artinya kurang lebih closed door. Harganya pasti lebih mahal, tapi yang penting lebih terjamin sampai tujuan. Taksi berlogo resmi sebenarnya juga banyak, biasanya ada di dekat stasiun. Warnanya kuning, berlogo taksi di atas atau di badannya. Saya tahu pasti apa taksi kuning inu bisa menggunakan argo, tapi selama saya di sana, selalu nego harga.

DSCF2795.JPG


Kami tiba di stasiun MRT (Metro) terdekat yang saya lupa namanya. Saya cukup takjub, karena tak menyangka Teheran sudah selangkah lebih maju dari Indonesia dalam masalah transportasi. Ada MRT di sini, yang nyaman, aman, dan bersih. Lebih bersih dari MRT di Jakarta yang baru saja dibuka.

Metro di Iran dipisahkan antara gerbong wanita dan laki-laki, namun ada gerbong yang campuran.

Shahr Rey, Iran 2013 (20) (15025618305).jpg
Sumber: wikipedia

Saat di stasiun metro, Mbak Afifah mengajak kami membeli Iran Sim Card. Kami memang sangat perlu SIM Card ini untuk berkomunikasi dengan para host kami di kota lain dan juga mencari jalan ke tujuan wisata. Di bandara, konter sim card-nya tutup. Dan dasar nasib, konter khusus di stasiun MRT yang kami datangi ternyata juga tak bisa menyediakan kartu untuk turis. “Sehabis tahun baru, kuota habis,” kata mas-mas di konter. Ya, seminggu lalu Iran memang baru saja merayakan Nowruz, tahun baru yang didasarkan pada kalender kuno Persia. Mungkin karena banyak turis yang datang, maka kartu habis. Mungkin.

Karena tak mendapat SIM Card, mbak Afifah memberi kami catatan di mana ia tinggal, dalam bahasa Iran tentunya.  Saya pun sebelumnya sudah memfoto segalas sudut jalan menuju rumah Mbak Afifah, tapi ternyata kemudian tak berguna, karena di mata saya semua pojokan bentuknya jadi mirip.


DSCF2771.JPG
Golestan Palace

Saya dan kawan saya berjalan dengan pede-nya, walaupun tanpa internet di hape. Ah, dulu-dulu travelling tanpa internet juga bisa, pikir saya. Lagipula, saya sudah mengunduh peta offline di google map saya.

Semua berjalan lancar di awal. Kami bisa naik turun MRT, melihat secuil kehidupan Teheran, tanpa ada kesulitan berarti.

Kami juga mengunjungi beberapa tempat di Tehran yang memang sudah masuk bucket list saya. Golestan Palace, istana raja terbesar di Iran yang sangat mewah, kami datangi.  Pun dengan Yarjani Street, sebuah kawasan yang terkenal dengan banyaknya museum.

Kami juga sempat makan burger besar di dekat pasar sambil cuci mata memandang makhluk-makhluk ganteng yang berseliweran. Ditambah dengan nongkrong di 30th Tir Street yang penuh dengan cafe tenda kekinian.

Bahkan, setelah keluar dari Golestan Palace kami sempat diwawancara televisi lokal Iran dan diminta menyapa pemirsa TV sana dengan bahasa Indonesia. Hostnya tentu saja ganteng. Saking gantengnya, saya jadi lupa foto bareng!

Baca Juga: Tip Backpacking ke Iran

DSCF2807.JPG
Salah satu museum di Yarjani Street
DSCF2810.JPG
Salah satu jalan di Tehran

Masalah baru timbul ketika kami ingin pulang ke rumah Mbak Afifah. Meski ada catatan alamat, tapi tak ada catatan di stasiun mana kami harus turun, lalu naik apa dari sana. Akhirnya kami berusaha mencari WiFi. Kami masuk cafe, melipir ke dekat bank dan hotel, berharap ada sedikit sinyal WiFi yang mampir di handphone kami. Nihil. Nggak satu tempat pun di sini yang punya WiFi. Fiuhh…

Di tengah-tengah upaya keras mencari WiFi, saya tiba-tiba ingat kalau rumah Mbak Afifah ini terletak dekat dengan Azadi Tower, landmark terkenal di area barat Tehran yang dibuat sebagai penghormatan terhadap Kerajaan Persia. Kami pun akhirnya menuju ke sana, buat foto-foto tentunya. Daripada bingung nggak tau mesti pulang ke mana, mending cari tempat terdekat buat narsis kaan….


Azadi Tower ternyata tak terlalu ramai sore itu. Sambil memandang tower yang dibuat dari pualam putih Isfahan ini,  saya iseng menyalakan WiFi saya. Dan ajaib …… ada WiFi terbuka, tanpa password pula! Sepertinya, Wifi itu berasal dari handphone salah satu pengunjung di sana.

Langsung saya WA Mbak Afifah, mengabarkan di mana posisi kami saat itu dan menanyakan arah pulang. Teman saya masih asyik foto sana-sini, mengabadikan menara yang dibangun tahun 1971 ini. Sementara saya berdiri saja, diam di bawah lengkungan Azadi Tower yang penuh detail indah, tak berani bergerak satu centimeter pun. Saya takut sinyal WiFi hilang gara-gara saya pindah tempat.

Ajaibnya, begitu saya berhasil mendapatkan petunjuk arah pulang, sinyal WiFi menghilang. Sepertinya, si pemilik sudah pergi dari Azadi. Di saat yang tepat.

Saya melambaikan tangan ke teman saya yang masih sibuk memfoto Azadi dari segala arah, mengajaknya pulang karena langit mulai gelap. Setelah saya cerita kalau saya sudah berhasil me-WA Mbak Afifah, dia bingung dan menanyakan dari mana saya dapat WiFi.

“Dari Tuhan,” jawab saya sambil nyengir lebar.

 

Keliling Iran Naik Bus

Trip backpacking saya di Iran dimulai dari Tehran, lalu menuju Shiraz, Yazd, Isfahan, Kashan, dan kembali ke Tehran sebelum pulang ke Jakarta.

Nah, selama dua minggu keliling Iran itu, saya mengandalkan transportasi bus untuk pindah dari satu kota ke kota lain. Awalnya saya ingin naik kereta, soalnya saya ini kereta mania. Tapi setelah gugling-gugling dan nanya ke host, mereka lebih menyarankan naik bus aja selama di Iran. Selain lebih gampang belinya, harganya lebih murah, dan lebih cepat sampainya.

2018_0324_18241900-01.jpeg
Salah satu spot di Yazd

Trip saya di Iran dimulai dari Tehran, lalu menuju Shiraz, Yazd, Isfahan, Kashan, dan kembali ke Tehran sebelum pulang ke Jakarta.

Nah, selama dua minggu di Iran itu, saya mengandalkan transportasi bus untuk pindah dari satu kota ke kota lain. Awalnya saya ingin naik kereta, soalnya saya ini kereta mania. Tapi setelah gugling-gugling dan nanya ke host, mereka lebih menyarankan naik bus aja selama di Iran. Selain lebih gampang belinya, harganya lebih murah, dan lebih cepat sampainya.

Perusahaan dan Jenis Bus

Ada 2 jenis bus di Iran ini. Yang pertama bus normal (Mahmoody) dan satu lagi bus VIP. Bus VIP harganya 1,5 kali bus normal, namun ini yang pilihan yang pas, apalagi perjalanan antarkota di Iran bisa memakan waktu 6-12 jam. Bus VIP terdiri dari 3 seat per baris, kursinya bisa direbahin sampe full dan ada sandaran kaki. Untuk bus jarak jauh, ada charger usb-nya juga.

Ada banyak perusahaan bus di Iran. Kalau dari yang saya baca,yang lumayan itu yakni Royal Safar Iranian. Saya naik bus ini dari  Tehran ke Shiraz, Shiraz ke Yazd, dan dari Yazd ke Isfahan.

Kami naik bus satu perusahan lagi, yang namanya bahkan saya tak ingat, dari Kashan ke Tehran. Yang terakhir ini sebenarnya bukan mau kami memilih bus ini, tapi karena tiba-tiba barang kami sudah mendarat di bagasi bus itu sebelum kami sadar. Ceritanya, saat taksi berhenti di Terminal di Kashan, tiba-tiba carrier kami diangkut oleh petugas bus dan dibawa ke loket bus di dalam terminal. Belum selesai kekagetan saya, petugas di loket menyodorkan tiket menuju Tehran dan 2 menit kemudian kami sudah di bus. Total, dari saya keluar taksi hingga naik bus, semua berlangsung hanya dalam waktu 5 menit aja. Wkwkw, kilat!

Harganya memang lebih murah, kondisi busnya juga ga jauh beda, jadi saya pasrah aja. Ditambah lagi, itu sudah hari terakhir saya di Iran, dan saya udah sangat-sangat percaya dengan orang-orang di sana. Terbukti, busnya oke-oke saja, kecuali dia sering banget berhenti untuk angkut penumpang di jalan.

Di dalam semua bus VIP, akan diberikan snack dan jus. Kalau waktunya lebih lama, seperti bus saya dari Tehran ke Shiraz yang memakan waktu 12 jam, snacknya lebih berat alias ada roti dan kue-kuenya. Berasa jadi bocah dapet snack ulang tahun…

Keliling Iran dengan bus
Bagian dalam bus di Iran. Sumber: quarterlifecruises

Cara Memesan Bus di Iran

Bus di Iran bisa dipesan lewat agen bus atau beli langsung di terminal. Kalau menginap di couchsurfing, mintalah tolong kepada host untuk memesankan bus. Di penginapan juga bisa minta tolong, tapi sebaiknya pesan sehari sebelumnya.

Agen-agen bus juga banyak bertebaran di mana-mana. Saya membeli tiket bus ke Shiraz misalnya, lewat agen bus yang ada di sebelah Niayesh Boutique Hotel. Harga tiketnya sama, namun ada tambahan biaya komisi dan administrasi.

Pesan langsung di terminal juga bisa. Asal ga pusing aja dengan petugas-petugas dari tiap company yang berusaha menggaet customer begitu turun dari bus. Kalau ini yang terjadi, bilang aja kalian udah pesan tiket dari salah satu company bus (sebut aja nama perusahannya). Dan mereka otomatis langsung mundur kok, bahkan ada yang berbaik hati malah nganterin ke perusahaan bus yang dimaksud, walaupun itu sebenernya bus saingan mereka.

*gagal paham ama orang sini*

Terminal Bus

Awalnya saya takut membayangkan kalau saya mesti sampai di terminal subuh-subuh. Takut diganggu dan takut terminalnya menyeramkan. Tapi ternyata enggak kok. Semua terminal di kota-kota yang saya datangi nyaman, bersih, dan aman. Jauuuh lebih bersih dan nyaman dari terminal Kampung Rambutan bahkan. Fasilitasnya juga oke, kamar mandinya bersih, musalanya bersih, dan ada restoran. Yang ga ada cuma satu: WiFi! Duuh padahal penting banget ya pas nunggu punya WiFi

Di setiap terminal juga ada petugas informasi, yang sayangnya, kebanyakan ga bisa bahasa Inggris.  Tapi petunjuk dan sign-nya ada dalam bahasa Inggris kok, jadi jangan takut ga salah naik.

Yang perlu diingat adalah beberapa kota punya dua terminal. Jadi ketika beli bus, perhatikan terminalnya ya. Jangan sampai salah naik.

Shiraz punya dua terminal. Namun yang sering dipakai untuk ke luar kota adalah Karandish Terminal.  Terminalnya besar, dan lebih bagus dari terminal luar kota di Jakarta. Petunjuknya ada dalam bahasa Inggris dan bahasa Farsi, jadi ga usah khawatir kesasar. Tapi dinginnya minta ampun. Yup, ketika saya ke sana, suhu malam hari di Shiraz tiba-tiba dingin menyebabkan saya kedinginan saat menunggu bus.

Yazd hanya punya satu terminal yakni Di Terminal Yazd, saya sempat mandi, berganti baju, serta makan pagi. Terminal bus Yazd ini malah amat bagus, mirip dengan rumah-rumah di tengah gurun. Di terminal Yazd ini juga ada taksi resmi, dengan tarif yang sudah diatur di loket. Jadi lebih enak bagi turis seperti saya ini.

Esfahan punya empat terminal, tapi yang paling sering dipakai untuk keluar kota adalah Kave, Jey, dan Sofeh. Bus dari Shiraz berhenti di Sofeh. Bus dari Tehran biasanya berhenti di Kave, sementara bus dari Varzaneh biasanya berhenti di Jey.  Saya sempat menunggu pagi di Sofeh, karena bus sampai jam 4 pagi sementara host saya baru akan menjemput jam 7 pagi. Selama menunggu itu saya tidur….dan aman-aman aja. Paling diliatin orang banyak.

Bagaimana dengan Tehran? Tehran punya banyak terminal bus.

  • Western bus terminal (Terminal-e-gharb). Ini terminal terbesar di Tehran. Bus dari luar negeri (misalnya dari Armenia) biasanya ada di sini. Bisa diakses dengan berjalanan kaki dari metro station.
  • Beihaghi bus terminal (Terminal-e-beihaghi). Terminal ini melayani berbagai tujuan utama di Iran seperti Esfahan, Yazd, Tabriz, atau Shiraz. Saya naik bus Royal Safar menuju Shiraz dari terminal ini. Agak jauh dari metro stasiun, jadi mau ga mau mesti naik taksi.
  • Southern bus terminal (Terminal-e-jonoob). Keduanya juga melayani beberapa bus dari selatan Iran. Bus saya dari Yazd pun berhenti di sini. Terminal ini terhubung langsung dengan metro (subway).

NOTE: maap ga punya foto terminalnya, semua ada di hape dan hapenya mati total.

Tips Backpackingan ke Iran

Sudah baca tulisan saya sebelumnya soal mitos dan fakta yang saya temui selama berada di Iran? Nah, kalau akhirnya tergoda untuk pergi backpacking ke Iran, ini tips-tips yang penting buat diketahui. 

DSCF3736.JPG

Sudah baca tulisan saya sebelumnya soal mitos dan fakta yang saya temui selama berada di Iran? Nah, kalau akhirnya tergoda untuk pergi backpacking ke Iran, ini tips-tips backpackingan ke Iran yang penting buat diketahui.

1. Bawa uang secukupnya.

Tips backpackingan ke Iran yang penting banget adalah ini. Di sini, atm dan kartu kredit (selain yang diterbitkan oleh bank Iran) tidak berlaku. Jadi sebelum berangkat, hitung dengan baik perkiraan pengeluaran termasuk makan dan belanja-belanja. Bawa dolar atau Euro, namun jangan tukarkan sekaligus. Tukarkan secara bertahap di setiap kota agar sisa Riyal di akhir perjalanan tidak terlalu banyak.

Pengeluaran saya selama 10 hari di sana kurang lebih 500 dolar, sudah termasuk makan, namun tidak termasuk tiket pesawat dan penginapan (saya full menumpang di rumah orang).

2. Jangan Tertukar antara Riyal dan Toman

DSCF3453.JPG

Mata uang resmi yang berlaku di Iran adalah Riyal Iran.  Satu riyalnya kurang lebih 0.35 rupiah. Jadi dengan uang 100 dolar atau sekitar 1,4 juta rupiah, bisa mendapatkan uang Riyal sebanyak 4-4,5 juta Riyal. Jadi kayaa…..

Tapi, “mata uang” yang jamak dipakai masyarakat di sana bukan Riyal, tapi Toman.  Ini bukan mata uang saingan yang punya lembaran berbeda dengan riyal. Toman ini hanya cara mereka mempermudah transaksi supaya angka nolnya tidak berderet panjang. Mereka menghilangkan angka nol terakhir, sehingga 1000 Riyal = 100 Toman.

Jadi, kalau mau beli barang atau naik taksi, tanya dulu “ini dalam Riyal atau toman ya”. Jangan sampe seperti saya di hari-hari awal di sini yang sangat riang gembira melihat harga baju murah, ternyata itu dalam Toman saudara-saudara.

3. Booking hostel via Situs Khusus

DSCF2854
Niayesh Boutique Hotel di Shiraz, hotel yang sangat saya rekomendasikan .

Penginapan di sini tergolong mahal jika dibandingkan penginapan di negara-negara lain, kecuali Jepang dan Singapura yaa. Kamar private untuk dua orang di penginapan bintang 3 ataupun di hostel harganya sekitar 35 euro alias 600ribu rupiah. Untuk kamar dorm, harganya sekitar 10-15 euro alias 200 ribuan. Mahal yaaa…

Dan kebanyakan hostel yang “murah meriah” ini tak ada di booking.com ataupun situs buking yang umumnya saya pakai. (BACA JUGA: SITUS PENTING UNTUK TRAVELLING). Ada sih beberapa, tapi jumlahnya tak banyak.

Lalu di mana harus membookingnya? Gunakan situs hostel in Iran ini.  Saya sempat membooking kamar dorm di hotel di Yazd via situs ini dan kemudian membatalkannya ketika saya tiba-tiba tak jadi menginap di Yazd.

Dan karena kartu kredit luar tak bisa dipakai di sini, cara pembayarannya adalah dengan cash. Makanya, sebelum pergi, jangan lupa penginapan ini dimasukkan ke budget ya. Jangan sampai ga ada uang pas mau bayar!

Walaupun di segala hal wanita dan laki-laki dipisah, tapi anehnya dorm di sini seluruhnya adalah mixed dorm.

4. Tukar Uang di Money Changer 

Kami baru tahu ini di hari terakhir dari Mbak Afifah, host kami di Tehran. Katanya, rate money changer lebih tinggi dari bank. Selama ini kami sih tukar di berbagai tempat. Ada di money changer dekat hotel, ada yang di bank, bahkan ada yang di orang. Ya, yang terakhir ini terpaksa karena dua hari bank dan money changer resmi tutup karena ada libur Isra Miraj. Mau tak mau kami menukarnya di salah satu “penukaran uang gelap”.

Oya, sewaktu datang, kami tertipu oleh pengemudi taksi yang menawarkan penukaran uang. Kami sebenarnya ingin menukar di money changer di bandara, namun karena hari sudah gelap (jam 2 malam) dan keliatannya si bapak baik hati, kami naik taksinya dia. Untuk membayarnya, mau tak mau kami menukarkan uang kepadanya. Sebelumnya, kawan saya sudah mengecek rate di internet dan si bapak memberikan rate yang sama dengan di internet. Kami pikir, ya sudahlah, sama ini. Tapi ternyata, rate hari itu jauuh lebih tinggi dibanding di internet. Ya, rate di mbah gugel tak bisa dipercaya rupanya.

5. Makan Satu Porsi Berdua 

DSCF2978
Salah satu makanan yang kami makan di Kate Mas, Shiraz. Nyesel sih beli segini banyak 😀

Makanan di Iran luar biasa besar porsinya. Jadi buat cewek-cewek imut macam saya ini, cukuplah satu porsi berdua. Biasanya sih mereka paham dan ga reseh nanya-nanya.  Bukan hanya menu nasi-kebab yang porsinya melimpah, tapi juga menu fastfood macam burger dan spagetti (di sana mereka menyebutnya makaroni). Ukurannya jumbooo…

Tapi setelah 10 hari di sana, perut saya mulai menyesuaikan diri. Jika di awal selalu minta tambahan piring kosong, di hari-hari akhir saya mintanya, “tambah nasinya satu lagi!”. wkwk…

6. Gak Usah Beli Minum

Air keran di Iran rata-rata sudah layak minum. Banyak juga pengisian air minum di sepanjang jalan, terutama dekat pasar. Jadi, nggak perlu beli air minum selama di sana, cukup bawa botol kosong aja. Selama minum air di sana sih, perut saya baik-baik aja.

7. Bawa cemilan atau souvenir kecil

DSCF4347.JPG
Bareng bocah-bocah SMP di Yazd

Masyarakat Iran mirip dengan masyarakat Indonesia yang ramah banget kalau ketemu orang asing. Apalagi anak-anaknya. Mereka dengan sukarela membagi makanan ke saya.  Sayangnya saya nggak bawa apa-apa buat mereka.

Pernah di suatu objek wisata di Yazd, saya ketemuan anak dengan orang tuanya. Mereka mengundang saya makan di rumahnya. Berhubung saya naik taksi dengan batas waktu hanya 3 jam saja, saya ga bisa mampir ke rumah mereka. Sebagai bentuk terima kasih atas undangan mereka, saya memberikan gelang tenun yang saya pakai ke putrinya. Reaksinya sungguh di luar dugaan. Anak SD itu lompat-lompat berteriak kegirangan,  lebih heboh daripada saya kegirangan menang lomba ke UK dulu.

Yang udah pernah ke Iran, ada yang mau nambahin tip-tip buat backpackingan ke Iran?

Baca Juga : Cara Membuat Visa Iran

Mitos dan Fakta tentang Backpacking ke Iran

Iran ternyata ga seseram yang diberitakan media barat. Iran itu nyaman, aman, tenang, dan maju.

2018_0323_05305500-01-01

Dont judge a book by its cover.

Kata-kata itulah yang pas menggambarkan Iran. Saat saya bilang mau ke sini, tanggapan orang-orang beragam.

Ada yang bilang, “itu kan negara perang, ntar kena bom gimana.”

Ada yang langsung men-judge, “hati-hati, ntar diculik”.

Ada pula yang khawatir solat saya nantinya, karena paham yang diajarkan di sana sangat berbeda dengan paham yang saya anut di Indonesia.

Wajar sih banyak orang yang khawatir, karena informasi yang sering mereka (dan saya juga) liat adalah yang jelek-jelek aja. Jujur, saya awalnya juga sempet khawatir, padahal saat kuliah dulu, saya punya banyak teman Iran yang lumayan dekat dengan saya.

Saya berkali-kali tanya ke mereka dan host yang akan saya tebengi, “Aman kan ya nunggu di terminal bus dini hari?”. “Gak masalah kan masuk ke masjid buat solat?”, “Bener nih gak apa-apa cewek backpackeran ke sana?”

Dan sederet pertanyaan bernada khawatir lainnya.

Nah, ini beberapa mitos yang sempet saya denger soal Iran, dan fakta yang saya temui selama travelling di sana.

 

1. Mitos: Orang Iran menyeramkan?

Fakta: Yang ketemuan saya sih ramah-ramah banget. Mirip-mirip lah ama orang Indonesia. Setiap ketemu, mereka ucap salam dan senyum.

Banyak banget orang ngajak saya ngobrol, ngajak foto, hingga nawarin mampir ke rumahnya. Banyak traveler yang bilang, “Iranian are the most welcoming and friendliest poeple in the world”.

Foto di bawah ini adalah foto bareng anak-anak SMP di Yazd. Mereka berkali-kali minta foto ke saya. Bahkan kemudian gurunya akhirnya ikutan foto bareng saya dan manggilin anak didiknya yang lain.

Di Shiraz, saya disamperin seorang anak yang lari-lari karena mau ngasih saya kuaci. Yaa, niat banget dia.

 

FB_IMG_1578533007854.jpg

 

2.  Mitos: Iran kotor

Fakta: Masa? Selama yang saya liat, beberapa kota di sini malah lebih bersih dari Jakarta. Emang ada yang kotor, tapi percayalah, India dan beberapa daerah di Jakarta jauuuh lebih kotor.

 

3. Mitos: Susah solat buat Sunni

Fakta: Emang sih, mereka didominasi Syiah. Tapi alhamdulilah selama di sini saya solat dengan mudahnya. Paling-paling, ketika solat diliatin karena gerakannya beda (terutama oleh orang-orang tua). Atau setelah solat ditanya-tanyain, “Sunni?”. Udah, gitu aja. Ada juga yang setelah tahu saya Sunni malah ngajak foto bareng. #lah

 

4. Mitos: Iran ga aman buat cewek

Fakta: Saya malah lebih merasa aman jalan di sini ketimbang di India. Di India sana, mata cowoknya jelalatan, bikin saya parno jalan (padahal saya jalan bareng temen cowok lhooo).

Di Iran sini, paling diliatin dan disenyumin, atau yang paling parah difoto diem-diem. Tanpa terasa ada tendensius negatif. Seneng aja mah saya disenyumin cowok-cowok ganteng. Surga dunia.

Baca Juga: Catatan dari Iran: Secuil Kehidupan di Tehran

5. Mitos: Iran banyak copet

Fakta: Mungkin ada, di negara mana aja pasti ada orang yang berniat jahat. Tapi selama di sini, masyarakatnya terlihat aman. Barang temen saya ketinggalan di suatu destinasi, dan baru kita sadari 30 menit setelahnya. Dan ajaib, itu barang ga pindah sama sekali dari tempatnya. Tapi tetap, di mana pun berada, harus jaga diri dan waspada.

 

6. Mitos: Cewe mesti pake item-item?

Fakta: Nggak juga. Ada sih aturan dari pemerintah Iran. Namun menurut host saya di Shiraz, yang pake baju hitam dan chador (kerudung panjang kaya jubah) biasanya yang tingkat religiulitasnya tinggi. Yang lain, pakai baju panjang biasa aja dipadu celana, walaupun emang kebanyakan warnanya netral.

Gimana dengan turis? Turis asing wanita yang dateng ke Iran tentu aja mesti ikut aturan, mesti pake baju panjang dan kerudung. Tapi warnanya ga mesti item kok dan kerudungnya bisa berupa syal atau scarf aja.

 

7. Mitos: Karena diembargo, Iran jadi negara terbelakang.

Fakta: kata siapaaa…..??? Walaupun diembargo Amerika, Iran negara yang maju. Sistem transportasi di Tehran jauh lebih baik dari Jakarta. Mereka udah punya metro bawah tanah dari dulu. Sistem tata kotanya juga lebih rapi dari Jakarta.

Yang terpengaruh oleh embargo ini kayaknya cuma kartu kredit dan atm, karena yang bisa berlaku di sana hanya yang diterbitkan oleh Iran.

 

So, kenapa mesti takut ke Iran?

Baca Juga: Tips Backpackingan ke Iran

Begini Cara Membuat Visa Iran di Kedutaan Jakarta

Bagi orang Indonesia yang akan mengunjungi Iran, harus memiliki visa Iran. Ada dua opsi yang tersedia untuk mendapatkan visa Iran. Yang pertama, membuat visa lewat kedutaan Iran di Jakarta. Kedua, membuat VoA alias visa on arrival setibanya di Iran. Saya memilih opsi yang pertama. Bagaimana caranya?

Akhirnya, setelah puluhan purnama tertunda, saya jadi juga menginjakkan kaki di Tanah Persia. Dari dulu emang saya pengen banget ke sini, tapi entah kenapa selalu ga jadi.

Nah, bagi orang Indonesia seperti saya yang akan mengunjungi Iran, harus memiliki visa. Ada dua opsi yang tersedia untuk mendapatkan visa Iran. Yang pertama, membuat visa lewat kedutaan Iran di Jakarta. Kedua, membuat VoA alias visa on arrival setibanya di Iran.

Saya memilih opsi yang pertama karena dari hasil yang saya baca, biaya VoA Iran jauh lebih mahal. Biaya membuat visa Iran di Kedutaan Jakarta hanya sebesar 20Euro, sementara jika membuat VoA harganya 45Euro. Alasan lainnya adalah karena penerbangan saya sampai di Iran dini hari dan saya khawatir antrian loket VoA-nya akan mengular jam segitu.


Dua bulan sebelum berangkat, saya dan kawan saya mendatangi kedutaan Iran di Jakarta. Lokasinya di Menteng, tak jauh dari taman menteng. Sebelumnya, saya sudah menelpon kedutaaan Iran dan mencari tahu syarat apa yang dibutuhkan untuk mengurus visa Iran. Saya sempat juga membaca blog soal ini, dan diminta menelpon staf kedutaan Iran yang namanya Pak Abdullah. Ada pula yang menyuruh menanyakan langsung ke Pak Hussain. Ternyata oh ternyata, Pak Abdullah dan Pak Hussain itu satu orang!

Nah, menurut Pak Abdullah Hussain, syarat visa Iran adalah:

  • Paspor asli dan fotokopi paspor halaman pertama
  • Dua lembar foto berukuran 3×4 dengan latar belakang berwarna putih. Jangan lupa, buat perempuan wajib pake jilbab.
  • Fotokopi KTP dan KK.
  • Formulir visa, bisa diunduh di sini atau ambil di Kedutaan.
  • Bukti tiket pesawat dan pemesanan hotel.
  • Itenerary di Iran (ini sebenernya ga diminta, tapi saya bikin aja biar meyakinkan)
  • Bukti keuangan 3 bulan terakhir.
  • Surat keterangan kerja (saya ga bikin 😀 karena kan sekarang saya freelance aja)

Ketika mengisi formulir, ternyata ada kolom yang menanyakan adakah kenalan di Iran dan jika ada, diminta mengisi alamatnya. Sebenarnya sih, kolom ini ditujukan hanya bagi yang akan menginap di rumah teman atau kerabatnya. Kalau menginap di hotel ya yang cukup menyerahkan bukti pemesanan hotel.

Walaupun sudah punya bukti booking hotel dari booking.com (yang langsung saya cancel begitu visa di-issued) saya tetap mengisi kolom “alamat kenalan di Iran”. Kebetulan saya punya beberapa teman di Iran yang dulunya kuliah di universitas yang sama dengan saya.

Selain itu, alasan saya mengisi ini adalah untuk “menyogok” pihak kedutaan agar visa saya di-issued. Pasalnya, walaupun tak lagi bekerja penuh waktu di media, di KTP saya tercantum bahwa pekerjaan saya adalah wartawan. Dan seperti halnya Cina dan Myanmar, harus ada izin khusus untuk wartawan yang masuk ke Iran. Nah, kawan-kawan saya ini dulunya adalah anak-anak dari para diplomat yang bekerja kedutaan Iran di Jakarta, sehingga saya gunakanlah nama mereka sebagai jaminan. 😀


Kedutaan Iran terletak di HOS Cokrominoto, di pojokan sebelum jalan Imam Bonjol. Pintu masuk untuk pengajuan visa berada di ujung kiri, berbeda dengan pintu masuk staff kedutaan.

Setelah mengisi buku tamu dan meninggalkan tas di satpam, saya dan kawan saya masuk ke sebuah ruangan. Di balik kaca ada seorang bapak berjanggut putih yang ternyata adalah Pak Abdullah Husin, bapak ramah yang mengangkat telepon saya.

Setelah menanyakan beberapa hal, formulir saya diambil. Sementara berkas saya sama sekali tak diperiksa. Mungkin karena salah satu kawan saya, yang ibunya pernah bekerja di kedutaan Iran, menelpon Pak Abdullah ini. Padahal, saya sudah deg-degan karena saya tak menyertakan bukti saya sedang bekerja. Menurut yang udah saya baca-baca di blog lain, berkas selain formulir memang akan dikembalikan, tapi setelah diperiksa.

Kemudian ada staf kedutaan lain yang masuk dan menanyakan beberapa hal yang rasanya tak pernah ditanyakan pada saya saat membuat visa lain. Alih-alih menanyakan itenerary, dia malah menanyakan harga tiket pulang pergi dan di situs apa kami membukingnya. Hehehe…

Pak Abdullah meminta kami menunggu sebentar di ruang tamu. Entah kenapa. Menurut kawan saya, dari yang dia baca di berbagai blog, tak pernah ada satu tulisan pun yang menceritakan soal menunggu ini. “Jangan-jangan visa kita langsung di-issued” kata kawan saya. GR sih karena ini ga terbukti sama sekali…

Sambil menunggu, kami membaca beberapa buah buku tentang wisata Iran yang sengaja diletakkan di sana. Gara-gara baca buku-buku ini, saya jadi menemukan destinasi yang tadinya tak ada di list saya.

Setelah menunggu selama 20 menit, Pak Abdullah menyerahkan selembar kertas kecil berisi nomer rekening dan jumlah yang harus dibayarkan. Pembayaran bisa dilakukan di BRI Menteng, yang lokasi dekat dengan kedutaan. Setelah membayar, slip kami kembalikan lagi ke Pak Abdullah.


Beberapa hari kemudian, di paspor saya sudah tertempel visa Iran. Dan saya dapat waktu tinggal 25 hari! Katanya siih, saya dan kawan saya beruntung bisa dapat waktu tinggal 25 hari, karena biasanya mereka hanya memberikan waktu tinggal 14 hari untuk yang apply di Kedutaan. Walaupun tak berngaruh karena kami pergi hanya 12 hari, tapi tetep aja terasa senang bisa dapat visa lebih lama dari yang lain. Yippi!

UPDATE: sekarang visa Iran bisa dilakukan secara online dan visanya berupa kertas saja, nggak ditempel seperti punya saya.