Menyesap Teh di Puncak Darjeeling

Siapa yang tak kenal Darjeeling Tea, teh yang amat termahsyur di dunia. Merek-merek teh dunia seperti Twinings, Ahmad Tea, Dilmah, pasti memiliki jenis teh ini.

Darjeeling tea plantation alias kebun teh ini sebenarnya sudah ada sejak dulu, namun jadi populer sejak Inggris menduduki India dan membawa hasil teh ini ke negara mereka. Itu sebabnya, saya yang penggemar berat teh, kegirangan bukan main ketika kawan saya mengajak saya mampir ke sini dulu sebelum melawat ke Sikkim.

“You should smell this,” kata gadis penjual teh di pinggir kebun teh. Dia kemudian meletakkan teh itu di tangan, meniupnya, dan kemudian meminta saya mengendus bau teh itu. Teh Darjeeling yang termahsyur.

Siapa yang tak kenal Darjeeling Tea, teh yang amat termahsyur di dunia. Merek-merek teh dunia seperti Twinings, Ahmad Tea, Dilmah, pasti memiliki jenis teh ini.

Darjeeling memang salah satu deerah Utara India yang menghasilkan teh. Letaknya yang cukup tinggi, sekitar 2042 mdpl, membuatnya cocok dijadikan sebagai kebun teh. Kebun teh ini sebenarnya sudah ada sejak dulu, namun jadi populer sejak Inggris menduduki India dan membawa hasil teh ini ke negara mereka. Itu sebabnya, saya yang penggemar berat teh, kegirangan bukan main ketika kawan saya mengajak saya mampir ke sini dulu sebelum melawat ke Sikkim.

Dari stasiun New Jaipalguri, kami naik share Jeep selama kurang lebih 6 jam. Ya, enam jam berdesak-desakan di jok belakang menyebabkan saya amat lelah dan lapar ketika sampai di sana. Alhasil, begitu jeep sampai di tujuan, yang saya cari pertama kali adalah tempat makan!

Baca Juga: 6 Jam di Jeep Menuju Darjeeling

Di sinilah saya berkenalan dengan Momo. Bukan nama orang, tapi nama dumpling khas Nepal. Karena Darjeeling ini berbatasan dengan Nepal, beberapa makanannya pun mirip. Kawan saya, yang sebelumnya pernah ke Nepal, yang menganjurkan saya untuk makan ini. Dan ternyata rasanya enak bukan main, jadi makanan wajib saya selama di sana.

DSCF3658.JPG

Setelah kenyang, PR selanjutnya adalah mencari penginapan. Karena kami memutuskan untuk go-show, kami belum membooking penginapan sama sekali. Satu-satunya penginapan yang kami booking adalah penginapan di Kolkata, itupun sehari sebelum berangkat karena kami berdua sama-sama salah melihat jadwal.

Setelah berjalan ke sana-sini, akhirnya kami memutuskan menuju ke sebuah penginapan yang kami lewati, yang keliatannya cukup nyaman dihuni. Hotel Meghma namanya. Saya lupa berapa harganya, yang pasti kami dapat harga tersebut setelah tawar menawar. Ternyata di sini, harga hotel pun bisa ditawar!

Sebenarnya, di Darjeeling ini banyak hotel cantik dan villa yang sering diinapi penduduk India yang ingin berlibur. Namun harganya tak cantik, paling tidak buat kantong kami berdua.

India Trip: Begini Ternyata Kereta India!


Darjeeling adalah kota kecil. Tak banyak objek wisata yang ada di sini. Yang menarik bagi kami hanya sebuah monastery.  Ghum Monastery namanya. 

Tujuan utama kami di sini sebenarnya perkebunan teh, namun ternyata gempa yang baru saja terjadi di Nepal yang berimbas ke sini dan menyebabkan gondola yang biasa digunakan untuk menuju kebun teh rusak parah. Padahal gondola ini merupakan gondola legendaris untuk menuju spot-spot wisata perkebunan teh di Darjeeling. Alhasil, kami hanya bisa duduk di sebuah gubuk warung di pinggir kebun teh, sambil menyesap teh hangat Darjeeling yang baru dibuat oleh si pemilik warung dan memandangi hamparan kebun teh yang masih tertutup kabut tebal.

“Mirip ngeteh di puncak ini mah” kata saya.

“Beda lah. Di sini yang bikin teh orang India,” jawab teman saya sekenanya.

Padahal, warga Darjeeling tak seperti warga India yang saya lihat di Kolkata. Mereka kebanyakan berasal dari bangsa Nepal, Tibet, dan Bhutan, yang berkulit putih dan bermata sipit. Mayoritas beragama Budha sehingga monastery banyak dibangun di sini.

Darjeeling juga amat berbeda dengan India lainnya yang kumuh, kotor, dan panas. Darjeeling bersih, sejuk, dan nyaman dihuni.  Saya yang tak berani menyentuh makanan di kaki lima Kolkata, dengan tenangnya makan di pinggir jalan di Darjeeling.

DSCF3904.JPG
Ghum Monastery

Karena teh adalah komoditas utama di Darjeeling, puluhan toko teh dan cafe bisa ditemui di sini. Sebagai pencinta teh, saya kalap. Setiap toko teh saya masuki, dan berakhir dengan membeli setumpuk teh. Mulai dari teh biasa, teh masala, hingga teh coklat yang ternyata rasanya tak terlalu enak. 

DSCF3815.JPG


Esok dini hari, kami sudah terjaga karena kami berniat menuju Tiger Hill, sebuah view point tempat melihat sunrise. Dari sini, akan terlihat puncak Kanchenjunga, bagian dari pegunungan Himalaya, yang berselimut salju abadi. Tapi sepertinya, dewi fortuna sedang ngambek kepada kami. Pemandangan indah yang seharusnya tersaji di sana lagi-lagi tertutup kabut tebal.

Gagal maning.

Menghibur diri, kami mampir ke stasiun Darjeeling, stasiun tempat kereta wisata Darjeeling Steam Railway berujung.  Kereta ini semacam kereta Ambawara yang konon jalurnya telah dibangun sejak 1828 oleh pemerintah Inggris. Harganya mulai dari 1000 rupee dan melewati beberapa titik stasiun.

Kami tak ingin naik kereta.  Kami hanya ingin foto di depan stasiun kebangaan Darjeeling ini.  Paling tidak, ada kenangan dan jejak kami pernah berada di sini.

Sepertinya kami harus kembali lagi ke Darjeeling suatu hari nanti.

DSCF3796.JPG

DSCF3844.JPG

 

 

 

Kolkata: Antara Klakson, Mother Theresa, dan Manisan India

Empat hal yang paling saya ingat tentang Kolkata: panas yang menyengat, mother theresa, manisan India dan klakson yang membabi buta.

Empat hal yang paling saya ingat tentang Kolkata: panas yang menyengat, mother theresa, manisan India dan klakson yang membabi buta.

Ya, empat hal itulah yang saya temui ketika ada di Kolkata. Panas? jelas. Saat saya dan kawan saya ada di sana, suhu udara mencapai 35 derajat. Lumayan panas. Tiap bertemu supermarket, kami berhenti dan membeli minum. Untung, minuman di sini harganya tak semahal di Eropa atau Singapura.

Sebenarnya, banyak penjual minuman di tengah jalan. Namun yaa, kami tak berani meminumnya. Salah seorang kawan saya yang sering bolak balik India wanti-wanti soal ini. Katanya, “jangan jajan sembarangaan kalau ga mau diare, apalagi tipes!”

kolkata
Salah satu penjual minuman di pinggir jalan di Kolkata.
dscf3464
Ga tau mereka jual minuman apa, tapi rame banget.

Tapi akhirnya, kami tak tahan juga. Di depan sebuah kuil, kami melihat penjual kelapa muda. Kami tergoda. Kelapanya kecil, hanya sebesar jeruk bali, dan terlihat sangat cocok di minum di tengah terik matahari. Yang ada di otak kami kala itu: “kelapa kan segar, baru dikupas, lebih higienis lah”. Begitulah sebelum tiba-tiba si bapak penjual yang berturban kuning itu mencoba mengeruk daging kelapa muda dengan tangannya; tangan yang penuh debu dengan sela jari yang kotor dan kukunya hitam sehitam-hitamnya. Kami berdua langsung otomatis berteriak: “noooo, we just need the water!!!”

Mother Theresa

Kolkata adalah kotanya Mother Theresa. Suster luar biasa kelahiran Albania ini menghabiskan hidupnya untuk menolong orang-orang miskin di India, salah satunya di Kolkata. Wajar saja jika namanya diabadikan dan diagungkan oleh masyarakat Kolkata.

Waktu datang pertama kali, saya melihat sebuah plang di tengah jalan bertuliskan “Kolkata, city of Mother Theresa”. Awalnya saya pikir, inilah julukan bagi Kota Kolkata. Ternyata keesokan harinya, saya menemukan beberapa plang serupa dengan tulisan: “Kolkata, The City of Joy” dan  “Kolkata, The City of Poem”, dan “Kolkata, The City of  Palace” dan berbagai plang serupa bertuliskan nama tokoh lainnya.

Galau ini pemerintahnya…

Karena terkenal dengan Mother Theresa, saya dan kawan saya sepakat untuk mencari sesuatu yang berbau Mother Theresa, asalkan sejalan dengan jalan yang kami lalui. Akhirnya, kami menemukan suatu tempat di peta yang bertuliskan “Mother Theresa Sarani” di Park Street. Kebetulan kami memang berniat ke arah Flury, salah satu bakery terfavorit di Kolkata, yang lokasinya tak jauh dari sana.

Kami mengira, tempat ini adalah sebuah monumen tempat Mother Theresa dimakamkan atau sekadar monumen penghormatan seperti Monumen Proklamasi. Tapi ternyata, yang kami jumpai hanya sebuah plang batu kecil berwarna abu-abu yang terletak di pinggir trotar! Ternyata yang kami datangi memang berupa Sarani atau batu. Fiyuuuhh….salah tujuan!

Manisan India

Kolkata terkenal dengan manisannya. Itu yang teman saya temukan dari hasil gugling. Makanya ia, dan akhirnya saya juga ikutan, antusias berburu makanan manis di sana. Tapi karena ada wanti-wanti “jangan jajan sembarangan di India” kami mencari restoran atau bakery yang representatif. Salah satu yang direkomendasikan adalah Flurys Bakery. Konon, bakery ini sudah ada sejak tahun 1927 dan menjadi salah satu tempat favorit para pejabat Inggris.

Ya, sepertinya memang ini restoran mahal dan bergengsi buat ukuran masyarakat umum India. Buktinya yang datang ke sana adalah orang-orang berbaju bagus, berjas, dan sepertinya dari kalangan atas. Sementara saya dan kawan saya hanya memakai sendal jepit, kaos, tas ransel; dengan muka penuh keringat karena bolak balik mencari Mother Theresa Sarani. Namun, kami tetap mendapatkan pelayanan yang istimewa; para pelayan dan bahkan kokinya ternyata sangat ramah. Padahal kami hanya pesan dua pastry dan air putih lho :D.

DSCF3588.JPG
Bagian dalam flury’s. Makanannya lupa dimakan karena langsung habis dalam sekejap. Yaiyalah, cuma kue kecil dan air putih.

Ketika kembali ke Kolkata dari Darjeeling, kami mulai “nakal”, berani membeli manisan di toko pinggir jalan. Alhamdulillah, perut kami baik-baik saja. Mungkin sudah terbiasa dengan India kali yaa…

Klakson di Mana-Mana

Rasanya semua yang pernah ke sana akan sepakat kalau saya mengatakan Kolkata ini adalah “the city of car horn” alias kotanya klakson. Pasalnya, di mana-mana yang terdengar suara klakson dibunyikan. Kolkata memang padat dengan kendaraan, namun rasanya bukan itu yang jadi penyebab utama klakson sering terdengar. Di Jakarta juga kendaraan seperti semut mencari makanan, tapi percayalah, suara klaksonnya tak seramai di Kolkata.

Baca juga: Naik Angkot di Kolkata

Ketika saya dan kawan saya akan menuju bandara untuk pulang ke Jakarta, kami kembali naik taksi. Kali ini bukan taksi kuning ala Rolys Royce seperti yang saya naiki dari bandara dulu, namun taksi sedan putih yang sejatinya ber-AC seperti yang terklaim dari stiker di badan taksinya. Namun taksi saya kali ini tak jauh lebih baik dari taksi sebelumnya. Ditambah lagi, si supir taksi yang masih muda doyan sekali membunyikan klakson. Belok kanan, klakson. Belok kiri, klakson. Mobil masih jauh dan tak menggangu, klakson. Mobil di depan berhenti sebentar, klakson. Ada orang nyebrang (yang masih jauh di pinggir), klakson. Pantaaaas saja di Kolkata sini klaksonnya super ramai!

DSCF4261.JPG
Salah satu keramaian Kolkata.
kolkata
Main kriket di tengah jalan!

Ga terlupakan deh kota satu ini….

Baca Juga: Kolkata: Kota dengan Seribu Cerita (part 1)

 

 

 

6 Jam di Jeep Menuju Darjeeling

Jeep ke Sikkim
Begini bentukan Jeep Tata yang kami naiki. 

Dari Kolkata kami mesti naik kereta ke Stasiun New Jailpaguri. Begitu keluar stasiun, belasan pengemudi jeep mengerubungi kami. Kami memilih asal saja, yang penting dia segera berangkat.

“Jump…jump,” kata si supir Jeep ke saya sambil menunjuk bagian belakang Jeep-nya.

Saya bingung, dari mana saya harus masuk. Jeep putih bermerek Tata, yang asli buatan India, sudah terisi penuh dengan 8 orang. Tinggal dua bangku kosong di bagian belakang. Tak ada jalan lain untuk masuk ke bagian belakang jeep itu kecuali loncat melewati jok belakang.

Di jok itu, sudah ada dua orang. Satu wanita berwajah Tiongkok yang duduk di pojok kiri, satu pria berwajah India di pojok kanan. Ditambah saya dan kawan, artinya kami harus duduk berempat di sana.

Giling, empet-empetan nih kita di belakang?” tanya saya ke teman saya. Dia cuma mengangguk pasrah. Posisinya lebih parah dari saya, dia tak bisa bersender di jok dan tak bisa menggerakkan tangannya. Saya masih beruntung karena wanita di kiri saya badannya cukup mungil.

Baca juga India Trip: Begini Ternyata Kereta India

Ya, Jeep ke Darjeeling dan Sikkim memang berupa jeep share. Satu jeep bisa diisi 8-10 orang, tergantung nasib. Lebih parah dari jeep ke Pananjakan Bromo yang biasanya hanya diisi 6 orang saja. Harga per orangnya 500 rupee, cukup murah untuk perjalanan sekitar 6 jam.

Pilihan lain adalah naik kereta uap wisata atau yang mereka beri nama Darjeeling Toy Train. Waktunya lebih lama, dan jadwalnya lebih sedikit ketimbang naik jeep. Makanya kami tak memilih ini walaupun katanya pemandangannya sungguh cantik.

Perjalanan naik jeep melewati lembah-lembah, naik turun pegunungan.  Jalannya mulus, tak ada lubang-lubang sehingga walau berdempetan di belakang, saya tak terhempas ke sana sini. Untungnya lagi saya perempuan, teman saya jadi terpaksa mengalah. Namun keberuntungan saya hanya bertahan setengah jalan saja. Selepas istirahat di tempat makan, wanita di sebelah saya turun, berganti dengan lelaki India yang cukup besar. Yah, nasiib…

Di tengah jalan, gerimis tiba-tiba turun. Saya dan kawan saya sudah khawatir, sebab carrier kami berada di atas jeep, bersama dengan kardus-kardus dan aneka barang milik penumpang lain. Sang supir tampaknya tenang-tenang saja, tak terpengaruh hujan yang turun makin deras.

Setelah para penumpang protes dalam bahasa India, barulah ia menghentikan mobilnya, dan menutup bagasi atas dengan terpal. Ajaibnya, begitu terpal terpasang, hujan berhenti. Sang supir pun mengoceh dalam bahasa India, yang sepertinya berarti: “kaaan, dah gw bilang ntar juga berenti ujannya. Ribut aja sih lo pada”….

Setelah 6 jam melewati jalan yang menanjak, menurun, berkelok-kelok, akhirnya kami sampai juga ke Darjeeling, siap menyesap segelas teh hangat yang tersohor di dunia ini.

PS: Dari Darjeeling menuju Sikkim dan Sikkim menuju Bagdogra, kami juga menaiki jeep serupa dengan harga yang kurang lebih sama.

Baca juga: Menyesap Teh di Puncak Darjeeling

India, Aman Ga Sih? Aman, Asal…

Ini yang kerap ditanyakan kepada saya, dan juga seringkali saya tanyakan, ketika akan berkunjung ke negeri asal Sakhrukh Khan ini.

Jujur, saya bingung menjawabnya. Saya pergi ke arah India Utara, Sikkim dan Darjeeling, daerah pegunungan yang relatif bersih dan aman. Saya hanya mampir sebentar di Kolkata, daerah yang asli India.

Satu hari setengah di Kolkata membuat saya mengambil kesimpulan ini: India aman asal….

Asal bersama teman lelaki

Ya, saya baru berani ke India bersama kawan saya. Saya tak berani menginjakkan kaki di sana jika hanya bersama kawan wanita saya, apalagi seorang diri.

Ada kejadian begini: saya sedang asyik memfoto sehingga tertinggal di belakang kawan saya. Tak jauh, hanya sekitar 5m. Tapi kemudian, ada seorang laki-laki yang mendekati saya, lalu mengatakan “Hey, I love you”. Saya langsung lari mendekat ke teman saya, tak berani lagi berada jauh darinya.

Kejadian lainnya, saya dan kawan saya iseng mencari oleh-oleh di salah satu pasar terbesar di Kolkata. Saya berjalan di sebelah kawan saya. Benar-benar di sebelahnya. Tapi kemudian, tangan saya ditarik oleh seorang pemuda yang duduk di depan toko. Ketika saya melirik marah ke arah dia, dia malah tersenyum. Senyum nakal.

Asal pilih makanan di toko

Kolkata bak Jakarta, di mana-mana ada pedagang kaki lima menajajakan makanan. Walau lapar, saya menahan diri. Kawan saya yang bolak-balik India pernah berpesan: jangan sentuh makanan kaki lima kalau tak mau kena diare dan hepatitis seperti dia.

Jelas saya menuruti nasehatnya. Di Kolkata saya hanya makan di restoran dan membeli kue di toko. Walau sekali membeli es kelapa di pedagang tua di pinggir jalan. Di Sikkim dan Darjeeling, baru saya berani menyantap makanan di mana-mana. Di pasar, di pinggir jalan, di toko, di restoran, saya santap semua.

Perut saya baik-baik saja, kok.

Jadi, kenapa mesti takut ke India?

Di Bandara India, Saya Mesti Buka Payung!

Ribetnya India bukan hanya ketika memesan tiket kereta. Di bandara, pemeriksaannya berlapis-lapis dan unik. Hal yang tak pernah saya temukan di bandara manapun, termasuk bandara di negara-negara Eropa.

Dari Sikkim menuju Kolkata, saya dan kawan saya mau tak mau menggunakan pesawat terbang demi menghemat waktu cuti kami yang memang tak banyak. Kami memilih maskapai Air India, maskapai nasional India. Bukannya sok nasionalis (ala India), sebenarnya kami mau mencoba maskapai lain, yang sepertinya lebih bagus dan masih gress, yakni Jet Airways dan Indigo. Namun jadwal dan harganya tak matching (baca: mahaaal).

Dari Sikkim, kami naik Jeep lagi menuju Bagdogra, kota terdekat Sikkim yang punya bandara. Bandaranya kecil, mirip bandara di kota-kota kecil di Indonesia. Warnanya cokelat abu-abu, sedikit panas karena tak banyak AC di sana, dan hanya punya satu restoran.

Bagdogra-airport-1200x7991
Sumber:  http://1001things.org/

Kami masing-masing membawa satu carrier dan tas tambahan untuk dimasukkan bagasi. Tas carrier kami, yang tak masuk bagasi, mesti dicek lalu diberi label yang tak boleh kami hilangkan. Kata si bapak petugas yang galak, kalau hilang, tas saya tak bisa masuk pesawat.

Setelah check-in kelar, kami segera masuk ke ruang tunggu sebab tak ada yang bisa kami kerjakan di bandara kecil ini. Sebelum masuk, paspor dan tiket kami diperiksa oleh bapak tua berkumis, berbaju safari cokelat, yang duduk di kursi. Di sampingnya, ada tentara bersenjata. Rupanya, bandara ini milik angkatan bersenjata India. Mirip pangkalan di Malang yang dimiliki AU rupanya.

Selepas pemeriksaan ini, tas carrier kami diperiksa di mesin x-ray. Seperti seharusnya, semua barang bawaan kami diperiksa di sini. Tas dengan bawaan yang tak sesuai dengan ketentuan, atau dicurigai membawa barang aneh-aneh, akan diminta dibuka. Tas saya termasuk kategori ini.

Saya pikir, barang bawaan saya yang diminta dibuka adalah air minum, karena memang saya membawa botol minum yang airnya masih tersisa setengah. Saya sudah siap-siap membuang isinya, tapi tapi ternyata bukan itu yang dicari si petugas. Barang bawaan saya yang mereka ingin lihat adalah payung. Ya, payung lipat yang selalu saya bawa ke mana-mana. Payung cokelat yang saya beli di Jatinegara dengan harga dua puluh ribu rupiah! Air minum saya (yang tersisa hampir 3/4 botol) malah lolos sensor, aman-aman saja.

Di depan orang banyak, mereka meminta saya mengeluarkan payung dari dalam tas, lalu membukanya.  Berasa jadi Sarimin yang pergi ke pasar…

Wanita India di sebelah saya malah lebih parah. Dia membawa chandelier, lampu hias ala Eropa yang ada gantungan berlian imitasinya itu. Lampu itu sudah terkemas dengan apiknya, di dalam sebuah bubble wrap, lalu sudah masuk kardus yang tertutup dengan lakban. Dan you know what….dia diminta mencopot satu persatu bagian lampu itu. Kebayang dong repotnya!

Kawan saya tak kalah sibuknya. Dia yang ada di jalur pria ternyata diminta membuka tas kameranya. Kamera yang ia bawa memang kamera DSLR, sementara kamera mirrrorless saya bentuknya lebih kecil sehingga lolos dari pemeriksaan.

Keribetan tak berhenti di situ. Setelah pemeriksaan barang, ada pemeriksaan badan dengan menggunakan x-ray dan tangan. Untungnya, untuk wanita, pemeriksaan dilakukan di ruang tertutup. Selesai diperiksa, petugas akan memberi cap pada kertas, yang kemudian mesti diselipkan di paspor. Kertas ini kemudian harus diserahkan ke petugas selanjutnya yang berdiri di ujung pemeriksaan. Kawan saya lupa membawa serta paspornya. Alhasil, saya harus lari-lari mencari paspor dia di antara tas-tas, lalu menerobos antrian pria sambil cengar-cengir.

Selesai? Belum.

Menjelang masuk ke pesawat, akan ada 2 lapis petugas lagi. Petugas pertama akan memeriksa tiket dan paspor (lagi…), petugas kedua (yang ada di pintu menuju landasan) akan memeriksa tiket, paspor, dan label tas carrier kami.

Coba hitung. Berapa lapis pemeriksaan di sana, berapa banyak petugas yang dibutuhkan. Awalnya kami mengira, ketatnya pemeriksaan ini karena kami berada di bandara milik angkatan bersenjata. Ternyata, kami mengalami hal serupa di bandara Kolkata, bandara internasional yang cukup besar. Akhirnya kami bersepakat, ini mungkin karena India punya terlalu banyak penduduk, sehingga agar menyerap banyak pekerja, pemeriksaan dibuat berlapis-lapis.

Ga ada duanya deh India ini. Unik!

India Trip: Begini Ternyata Kereta India!

Stasiun yang padat, kereta biru yang kuno, kompartemen berwarna biru menyala, lorong yang penuh orang mengobrol, restoran yang eksotis, dan pemandangan indah dari jendela; berganti dari padang tandus hingga pegunungan himalaya.

Inilah wujud kereta malam India yang tergambar di film Darjeeling Limited besutan sutradara nyeleneh Wes Anderson. Gambaran yang melekat erat di benak saya, yang akhirnya membawa saya ke sana.

Jakarta-KL-Kolkata-Darjeeling-Sikkim-Bagdogra-Kolkata-KL-Jakarta. Beginilah rute perjalanan yang harus saya dan kawan saya tempuh. Panjang memang, tapi hanya itu cara untuk mencapai Sikkim. Tak ada penerbangan langsung dari Jakarta maupun Kuala Lumpur.

Awalnya, kami merencanakan langsung terbang ke Sikkim dengan menggunakan maskapai lokal: Air India, Jet Air, Indigo, atau apapun yang murah. Namun harga yang tiba-tiba membubung tinggi membuat kami urung. Salah seorang teman saya yang berkali-kali ke India menyarankan cara lain: naik kereta. Asyiiik…!!

Baca Juga: India Trip: Welcome to India

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/5/50/Dhaki_Bazaar_-_Sealdah_Railway_Station_-_Kolkata_2011-10-03_030245.JPG
Bagian depan Stasiun Saeldah

Stasiun yang Riweh dan Luas

Stasiun Saeldah adalah tempat kereta Darjeeling Mail yang saya naiki akan bertolak. Dari depan, tampak sudah keriwuhan stasiun berwarna hijau-putih-oranye itu. Seng-seng yang menutupi area pembangunan subway yang menimbulkan debu, serta sampah yang mengunung di sisi kiri stasiun, jadi penyambut kami. Belum lagi belasan gelandangan dan pengemis yang tidur dengan santainya di lantai stasiun yang kotor.

Kami bingung. Tak ada petugas informasi yang bisa ditanyai. Yang ada di kotak informasi di depan stasiun hanya bapak-bapak bertubuh gempal yang sepertinya hanya numpang menunggu di sana. Untung, bapak itu mengerti di mana letak kereta kami. “Nine A or B”, katanya. Saya langsung takjub. Peronnya sampai sembilan? Luar biasa!

Kami bergegas ke peron yang disebutkan, setelah sebelumnya tentu saja tersasar ke peron sebelahnya. Di tengah lautan manusia bersari yang hilir mudik, atau duduk menunggu kereta datang, kami kembali bingung. Naek gerbong yang mana? Sms yang menyatakan tiket kami confirmed memang sudah di tangan, tapi nomer gerbong dan tempat duduk belum kami ketahui.

https://c1.staticflickr.com/4/3094/2335354695_b4d838e1b3_b.jpg
Suasana di peron. Sumber: flickr.com

Dari beberapa blog yang saya baca, untuk mengetahui tempat duduk, kami harus membacanya di papan pengumuman yang ada di peron. Kami mencari papan itu seperti anak smp mencari pengumuman kelulusan. Ternyata, peraturannya sudah berubah. Tak perlu lagi mencari nama di peron seperti mencari nama di pengumuman kelulusan. Kami hanya perlu menanyakannya ke loket inquiry yang ada di sisi kiri stasiun. Ufff….

“Train H-1, berth B,” kata si bapak petugas loket inquiry. “B or G?” tanya saya lagi karena tulisan yang tertera di kertas yang ia berikan tak seperti B. “B”, katanya dengan yakin.


Peronnya Panjaaaang

Kami kembali lagi ke peron 9A. Bukan pekerjaan mudah, karena peron di sini begitu panjangnya. Ya, tak seperti peron di Jakarta, peron Saeldah ini sangat panjang, dua kali panjang dibanding stasiun jakarta kota. Panjang yang luar biasa ini sepertinya untuk mengakomodir keretanya yang juga panjang.

Berbeda dengan bagian depan stasiun, bagian peron tak sepenuh yang saya bayangkan. Awalnya saya pikir, peron di sini akan lebih penuh dari peron stasiun tanah abang saat kereta telat: sesak dan semuanya berdiri dengan rapat. Mungkin karena kereta kami belum datang.

Saya hanya melihat para pekerja yang sibuk mengatur tumpukan kardus barang yang akan dikirimkan via kereta. Ada juga penumpang-penumpang yang sudah duduk menunggu, di bangku, di lantai; yang walaupun tak banyak, tak menyisakan tempat duduk untuk kami.

https://i1.wp.com/www.traveldias.com/wp-content/uploads/2017/03/Flickriver.jpg

Sambil berjalan mencari tempat duduk kosong, kami mengintip kereta lain di peron 9B. Kereta yang juga berwarna biru dan sangaaat panjang. Tiga gerbong pertama adalah gerbong barang; pantas saja banyak kardus di peron. Beberapa gerbong selanjutnya adalah gerbong kelas dua. Bangku-bangku keras berwarna biru berhadap-hadapan yang agak kotor terlihat di sana.

Lima gerbong selanjutnya adalah sleeper. Awalnya kami mau membeli ini, karena kami mengira inilah yang kami cari. Tapi setelah melihat harganya yang kelewat murah (75ribu saja), saya jadi curiga. Saya segera mencari gambar gerbong ini. Untung saja kami tak jadi menggunakan ini. Gerbong sleeper tampak tak terawat, dengan bangku biru panjang bertingkat-tingkat. Padat. Tak ada pembatas antara tempat tidur tersebut. Saya sebenarnya tipe yang cuek, tapi rasanya saya tak akan bisa tidur di sana. ;((

Saya lupa gerbong apa selanjutnya karena kawan saya sudah menemukan tempat untuk duduk. Yang jelas, masih banyak lagi gerbong yang tersisa di belakang sana.


Kereta Legendaris Langganan Pejabat

Sepuluh menit sebelum pukul 22.00, Darjeeling Mail, kereta yang akan kami naiki, datang. Kereta ini katanya adalah kereta legendaris yang telah ada sejak zaman pendudukan Inggris. Kereta ini konon digunakan oleh para tamu VIP dan pejabat. Pantas saja, Wes Anderson menjadikan kereta ini sebagai bagian dari setting filmnya.

Gerbong first class AC ini hanya ada satu. Begitu masuk, ada lorong panjang berwarna putih  gading, selebar satu orang. Di kanannya ada 8 pintu kompartemen yang tertutup rapat.Kami bergegas masuk ke kompartemen kami, kompartemen B, seperti yang dikatakan bapak di loket inquiry tadi.

IMG-20150503-WA0010
Mejeng di depan kereta.

Begitu membuka pintu kompartemen B, saya jadi kembali teringat film Darjeeling Limited. Beda ternyata. Yang nyata ini lebih modern, tak eksotis seperti di film. Ada 4 buah tempat tidur berwarna merah di sana. Bertingkat dua, saling berhadapan. Di tengahnya ada sebuah meja.Di sisi kiri dekat pintu, ada lemari kecil untuk menggantung baju. Nyaman dan bersih.

Tak ada AC di dalam kompartemen, walaupun kami membeli tiket AC first class, yang sejatinya didinginkan oleh AC. Hanya ada 2 buah kipas angin yang menyala dengan kencangnya.

DSCF3653
Bagian dalam kompartemen. Senderan kursi di berth bawah bisa dibuka dan dijadikan tempat tidur.

“Yah, 4 berth ya ternyata. Gw pikir dua, jadi gw pesennya upper ama lower,” tukas saya kepada kawan saya.

Lower berth alias tempat tidur di bawah memang lebih nyaman, lebih lebar dan tak terlalu dekat dengan kipas angin. Mengatur barang juga jadi mudah. Senderan kursi di berth bawah juga bisa dibuka dan dijadikan tempat tidur.

Ketulis di tiket ga, kalau enggak cuek aja ambil yang lower dua2nya,” jawab teman saya.

“Oke lah,” kata saya sambil nyengir lebar “Pura-pura bego aja, ga ngerti. Kali aja penumpang sebelah kita ga sadar kalau tempatnya kita ambil.”


Kami sudah mengatur barang kami, ketika seorang bapak setengah baya berwajah gelap berkemeja putih masuk. Dia duduk dengan cueknya di sebelah saya. Dia diam sambil membaca koran, tak bergeser hingga waktu lama. Saya melirik kawan saya, dengan tatapan yang berarti “keknya dia sadar nih ama tiketnya. Ga mau geser.”

Tapi kami tak kalah cueknya. Pura2 sibuk merapikan ini itu, hingga 5 menit kemudian datang 3 orang yang mengaku memiliki kompartemen itu. Petugas pun memeriksa tulisan tangan bapak inquiry yang diberikan pada saya di loket dan bilang. “This is G, not B.”

Sial, saya salah. Mesti rapi2 barang lagi, deh. Sebelum keluar saya sempat melihat bapak tadi, sedang tertawa lebar penuh kemenangan. Hmm…

Ternyata kompartemen G masih kosong. Kami kegirangan, apalagi waktu kereta berangkat. Yes, satu kompartemen cuma diisi dua orang. Kami sudah memanjatkan syukur, merapikan barang, melapisi kursi dengan seprai, bahkan sudah bersiap tidur dan memakai selimut.

Tapi tiba-tiba, petugas masuk dan berkata ke kawan saya, “you, up. Next stasiun, two passengers will come. They bought up and lower. Like you”

Yaaah….gagal deh dapet seisi kompartemen.


Di film Darjeeling Limited, pemandangan yang ada di balik jendela sangat indah. Itu sebabnya saya bertekad, di pagi hari, saya mesti bangun dan melongok ke luar jendela. Tapi ternyata, saya tidur dengan pulasnya, dan baru bangun ketika mendengar suara dalam bahasa India yang lumayan berisik. Pasangan di sebelah ternyata ribut soal chargeran hape yang tak mau menyala.

Huh, saya langsung keluar kompartemen. Ingin cuci muka rencananya. Kaget saya, ketika melihat di lorong dekat toilet ada beberapa orang yang berdiri, menggosok gigi sambil berdiri dan membawa gelas untuk kumur-kumur. Ada juga yang membuka pintu kereta dan sikat gigi di depan pintunya. Saya, yang terbiasa menyikat gigi di westafel atau di kamar mandi, jadi kaget. Rupanya orang sini bisa sikat gigi di mana saja!

Aha, saya ada di kereta India.

Baca Juga: Menyesap Teh di Puncak Darjeeling

India Trip: Begini Caranya Membeli Tiket Kereta di India

Banyak jalan menuju Roma. Banyak pula jalan dari Kolkata menuju Sikkim.

Yang pertama, yang paling mahal tapi cepat dan nyaman, tentu saja menggunakan pesawat terbang. Air India, Indigo dan Jet Airways adalah penerbangan-penerbangan yang melayani rute ini.

Opsi lainnya adalah menggunakan kereta. Ya, kereta. India termasuk salah satu negara yang mengandalkan transportasi kereta. Karena ingin merasakan sensasi naik kereta di India, dan mengirit biaya perjalanan yang mulai membengkak, kami mengambil opsi ini. Sayangnya membeli tiket kereta di India ternyata caranya tak mudah, walau ternyata setelah dijalani, tak terlalu susah juga.

Begini cara membeli tiket kereta di India.

1. Buka situs cleartrip.com. Situs ini melayani pembelian online semua rute kereta India. Sebenarnya, situs resmi pemerintah IRCTC (Indian Railway Catering & Tourism Corporation) juga menyediakan jasa pembelian online tiket kereta India, namun pembayarannya hanya bisa menggunakan kartu kredit American Express. Sementara situs cleartrip menerima semua jenis kartu.

india

2. Buat akun di situs ini terlebih dahulu, bisa dengan memasukkan email atau connect ke facebook. Saya sih menyarankan jangan connect ke facebook, lebih baik daftar via email aja.

3. Setelah buat akun, coba booking tiket kereta. Masukkan kota tujuan yang ingin dibooking. Akan keluar sederetan kereta yang bisa dipilih. Pilih aja yang sesuai waktu yang diinginkan, lalu tekan “check availability”.

Untuk menuju Sikkim, saya harus naik kereta ke New Jaipaiguri. Ada beberapa kereta yang berangkat ke sana. Kami akhirnya memilih Darjeeling Mail karena menurut info, ini kereta terbaik. Hahaha…enggak juga sih, sebenarnya kami pilih kereta ini karena cocok dengan jadwal kami. Darjeeling berangkat pukul 22.00 dan sampai jam 8 pagi, sementara kereta yang lain ada yang berangkat lebih awal, ada pula yang berangkat lebih malam.

india-2

4. Nah, ga seperti di negara lain, untuk booking kereta di India, kita harus punya akun IRCTC. Akun ini bisa  didapatkan dengan mengisi formulir yang keluar begitu tombol check availability ditekan.

5. Isi formulir yang ada. Untuk nama, mereka minta dua kata tapi tak lebih dari 13 huruf. Teman saya punya nama hanya satu kata, jadi di kata keduanya saya isi saja dengan inisialnya. Untuk nomer telepon, mereka minta nomer telepon di India. Nomer telepon ini akan digunakan untuk mengirim SMS OTP (semacam sms untuk verifikasi). Kalau punya nomer India, silakan isi. Kalau tak punya, jangan khawatir, isi saja dengan nomer telepon asal-asalan, yang penting berawalan 9 dan jumlahnya 10 angka, misalnya 9123456789. Zip kode, isi saja asal-asalan juga, toh tak akan berpengaruh.

6. Setelah register, akan ada email balasan dari care@irctc.co.id. Email pertama isinya semacam pemberitahuan kalau registrasi berhasil. Abaikan saja. Email kedua, berisi user id dan password akun, serta pernyataan soal mobile verification code yang akan dikirim via mobile phone. Ada pula link yang bisa diklik, tapi ingat yaa: “jangan klik link-nya!”.

7. Ini yang bikin ribet. Untuk “meresmikan” akun IRCTC, perlu mobile verification code. Nah, kode ini akan dikirimkan via nomer handphone yang tadi dimasukkan ke formulir. Karena nomer tadi adalah nomer asal-asalan, yang harus dilakukan adalah mengirim “email cinta” kepada IRCTC customer care (care@irctc.co.in), disertai attachment berupa scan paspor. Emailnya isinya cuap-cuap aja, minta dikirimkan SMS OTP dan Email OTP. Yang penting ada nama lengkap, tujuan, dan scan paspor yang ga lebih dari 1MB.

8. Setelah itu, mereka akan mengirimkan beberapa email lagi. Email pertama isinya soal mereka telah menerima imel kita dan akan ditindaklanjuti. Email kedua, baru deh berisi mobile verification code (SMS OTP). Biarkan saja dulu hingga menerima email ketiga dengan subject “SUCCESSFUL REGISTRATION….”. Di email ini ada Email OTP.

Berapa lama email ini didapat? Tergantung tingkat keberuntungan, sepertinya. Ada yang dapat sekitar 3 hari, ada yang dalam hitungan jam sudah dapat balasan. Saya, yang keberuntungannya di tengah-tengah saja, mendapat email ini sekitar 1 hari kemudian.

9. Lihat sampai ke bagian bawah email, hingga melihat tulisan ” in order to verify for partner website……” dan ada link. Klik link tersebut. Jika tak bisa, coba klik ini http://www.cleartrip.com/trains/irctc/account/activate. Yang perlu diingat, kode OTP ini semacam kode sekali pakai. Jadi jangan pakai untuk mengaktifkan akun di tempat lain selain di cleartrip.

Kesalahan ini yang saya alami. Karena di email pertama sudah ada link, saya mengganggap itu adalah link untuk mengaktifkan akun IRCTC. Memang benar, tapi hanya untuk akun di website resmi IRCTC. Dan, karena OTP saya sudah terpakai, saya tak bisa mengaktifkannya lagi via cleartrip. Alhasil, saya harus mengirim email ulang ke pihak IRCTC dan mengulangi proses ini dari awal. :((

10. Setelah selesai, langsung deh bisa booking kereta di India.  Oiya, pemesanan kereta ini hanya bisa dibuka di atas jam 12 waktu India. Jam 8-12, sistemnya ditutup.

11. Setelah selesai, pihak cleartrip akan mengirim imel reservasi. Jika statusnya confirmed, artinya masalah Anda beres. Tinggal tunggu hingga hari H. Tapi jika statusnya WL alias waiting list seperti saya, yang harus dilakukan adalah mengecek status setiap saat, masih single atau udah double #eh.

Gimana, ribet kan?

PS: sebelum membeli tiket kereta India ini, saya lagi-lagi berguru dari situs favorit saya: seat61

Naik Angkot di Kolkata

Enam rupee alias 1200 rupiah. Kalau di Jakarta, uang segini hanya cukup untuk membeli setengah kerupuk gendar, atau teh tawar panas.

Saya amat kaget ketika diminta uang sejumlah ini untuk menaiki bus kota di Kolkata.  Bus yang kondisinya tak terlalu baik, mirip seperti PPD zaman dulu sebelum diremajakan seperti sekarang ini.

Angkutan di Kolkata memang unik dan eksotis. Murahnya juga luar biasa. Itu sebabnya, saya sangat antusias menaiki hampir semua angkutan di sana, mulai dari taksi kuning, trem, hingga subway.

TAKSI KUNING

DSCF3513

Bukan cuma New York yang punya yellow cab. Kolkata juga punya taksi berwarna kuning yang cukup nyentrik. Saya dan kawan saya menaiki taksi ini dari bandara dan ketika menuju bandara.

Baca Juga: Welcome to India

Tarif taksi kuning ini bukan berdasarkan argo, tapi berdasarkan tawar menawar dan belas kasihan di pengemudi. Tapi untungnya, kami tak pernah mendapat tarif terlalu mahal. Hehehe…kayaknya lho..

Tak ada pendingin udara di taksi kuning ini. Kalau kepanasan, ya buka saja jendelanya. Seru. Tapi masalahnya, begitu buka jendela, debu dan asap akan menerpa. Namun anehnya, saya yang alergi debu tak mengalami alergi sama sekali di sini. Mungkin karena saya terlalu euphoria melihat India.

TREM

DSCF3518

Trem Kolkata ini konon adalah trem tertua dan satu-satunya yang masih tersisa di India. Dibuat dan digunakan sejak 1873, artinya sudah 142 tahun trem ini jadi moda transportasi di Kolkata.

Trem hanya terdiri dari dua gerbong. Tak jauh beda dengan angkutan lainnya, trem ini sangat tua dan usang. Seperti kaleng yang berjalanan di atas rel. Sudah pantas masuk ke museum kalau menurut kawan saya.

Sang kenek, yang bertugas memberikan karcis kepada penumpang, sama antiknya. Tua dan menggunakan baju safari cokelat ala pejabat India. Yang lebih mencengangkan adalah tarifnya. Hanya 5 rupee alias 1000 perak!

Trem ini melewati tengah jalan di kota. Untuk menaikinya, tinggal mencari semacam plang bergambar trem. Plangnya sangat kecil hingga kadang-kadang nyaris tak terlihat. Walaupun sudah menggunakan lumia, kami beberapa kali kesulitan untuk mencari haltenya. Alhasil, untuk mencari tahu di mana letak halte-nya, kami seringkali menunggu sampai trem lewat, berhenti, lalu berlari-lari mengejarnya.

Rute trem bisa diliat di sini

DSCF3595
bagian dalam tram

BUS KOTA

DSCF3543

Bus kota di Kolkata juga menarik dan unik. Berwarna biru, mirip dengan bus PPD di Jakarta zaman dulu kala. Tarifnya tak kalah murahnya. Sekali jalan, hanya dikenakan tarif 6 rupee alias 1200 rupiah.

Cukup banyak line bus ini. Daripada pusing menghapalnya, lebih enak pakai GPS alias Gunakan Penduduk Setempat. Tinggal tanya, mereka akan senang hati menjawabnya. Kami melakukan ini berkali-kali walaupun sepertinya ini selalu jadi tugas saya. Adillah. Teman saya pegang Lumia, saya jadi bagian tanya-tanya (yang sayangnya) selalu ke bapak-bapak.

BAJAJ

DSCF3601

Nah, ini dia angkutan asli India yang juga populer di Indonesia. Bentuk bajaj di sini lebih bagus ketimbang bajaj oranye yang ada di Jakarta. Tapi bedanya, bajaj di sini muat hingga 5 orang!

Ya, kalau bajaj di Jakarta penumpang hanya duduk di belakang, dan paling banter bisa diisi tiga orang, di sini, penumpang juga bisa duduk di kanan dan kiri supir. Keren kan?

METRO

Ini moda transportasi tercanggih di Kolkata. Sangat berbeda dengan moda transportasi lainnya. Metro ini terletak di bawah tanah, sehingga bisa mencapai banyak tempat dengan cepat. Stasiunnya juga cukup banyak, sehingga moda ini jadi favorit warga Kolkata.

Saya awalnya skeptis dengan metro ini. Palingan kotor, bau, dan usang, pikir saya. Ternyata saya salah total. Metronya bersih, tepat waktu. Stasiunnya, walaupun tampak tua dan kaku karena warna dinding yang didominasi cokelet tua, bersih dan teratur.

Sistem naiknya pun tak beda dengan metro di negara lain. Beli tiket di loket, lalu penumpang akan mendapat token berupa koin yang harus dimasukkan ke slot di pintu masuk.

Uniknya, di metro ini ada pemisahan antara area wanita dan pria. Jadi dalam satu gerbong, ada area wanita dan area pria. Saya dan kawan saya baru sadar hal ini ketika sudah naik metro untuk kesekian kalinya. Saat itu metro amat penuh, cukup membuat kami harus berdesak-desakan. Saya melihat sekeliling, lalu berkata ke teman saya: “cewek-cewek di sini pada ke mana ya. Kok di sekeliling kita laki semua.”

Kami akhirnya berpendapat, wanita tak banyak yang bekerja, seperti halnya di negara-negara Arab. Ketika turun, barulah kami melihat tanda bahwa area yang kami naiki adalah area pria. Area wanita ada di sebelah kanannya!

Oalaaaah, pantas tadi semua orang menatap saya.

Ps: peta rute metro bisa dilihat di Situs ini

Kolkata, Kota dengan Seribu Cerita (part 2)

Selama menyusuri bangunan-bangunan di Kolkata, kami lebih banyak berjalan kaki. Pegal memang, tapi dengan begini, kami melihat sisi eksotis Kolkata, yang mungkin akan terlewat jika kami terus menerus menggunakan subway dan angkutan lainnya.

Dari lapangan Maiden, kami berjalan lagi menyusuri sudut Kolkata. Tujuan kami adalah tepian sungai Gangga. Tak afdol rasanya jika ke India tapi tak melihat sungai kebanggaan warga India ini.

Setelah berjalan cukup jauh di bawah terik matahari Kolkata yang menyengat, sampai juga kami di Sungai Gangga, yang warnanya lebih bening ketimbang warna sungai Ciliwung di Jakarta. Di sinilah kami mulai melihat secuil kehidupan asli warga Kolkata. Ada perahu kecil milik nelayan yang bersandar, ada perahu besar yang digunakan entah untuk apa. Di sisi lain, yang lebih landai, belasan warga mandi, mencuci, dan menggosok gigi. Tak beda sebenarnya dengan desa-desa di Indonesia. Bedanya, di Indonesia sungai yang biasa dipakai mencuci lebih bersih dan jernih, serta tak ada yang tidur-tiduran di dekatnya. Yup, ternyata banyak tunawisma yang berdiam diri di pinggir sungai.

DSCF3555

DSCF3563

Di sepanjang sungai ini terdapat taman yang dilengkapi trotar. Taman yang lumayan untuk melonjorkan kaki kami yang mulai kelelahan. Tapi, bukan di Kolkata namanya jika ada taman yang kosong. Bangku-bangku dan tempat duduk yang ada di sana sudah dipenuhi oleh orang-orang yang sekadar mengaso. Kalaupun ada bangku kosong, panasnya luar biasa.

Omong-omong soal matahari, Kolkata saat itu memang sangat panas. Entah berapa suhu di sana saat itu, yang jelas, kami merasa kehausan terus menerus. Berbotol-botol air kami habiskan sepanjang hari. Saking seringnya kami kehausan, teman saya bahkan memberi julukan baru bagi Kolkata: The City of Thirsty.

DSCF3533
Penjual es lemon amat banyak di sini. Bukan es lemon macam nestea, tapi air es yang dicampur dengan perasaan jeruk. Ga saya coba, takut malah diare!

——–

Sudder Street adalah tujuan berikutnya. Tempat ini adalah pusat backpaker di Kolkata, seperti halnya Khaosan Road di Bangkok atau gang Poppies di Bali. Tadinya saya pikir, tempat ini akan penuh dengan restoran, kafe, toko-toko sovenir, layaknya pusat backpacker lainnya. Restoran memang ada, kafe pun juga ada, namun jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Di tengah rasa lapar yang mendera, kami memutuskan untuk mengisi perut kami di restoran pertama yang kami temui. Ternyata kami tak salah pilih, restorannya mantap walaupun kami harus menunggu lama untuk mendapatkan sepiring besar nasi biryani.

Saya lupa nama restoran ini, yang jelas di depannya terpampang tulisan “halal food”. Di seberangnya ada money changer tempat kami menukarkan uang di sana. Dan entah kenapa, saya tak memfoto makanan dan tempat ini. Mungkin karena kami sudah sangat kelaparan yaa…

DSCF3575
salah satu sudut sudder street

—-

Saat menuju ke Sudder Street, kami melewati gang-gang perumahan, sehingga bisa melihat kehidupan masyarakat Kolkata.  Berbeda dengan area umum yang terkesan kumuh, area perumahan ini rapi dan bersih. Tak ada sampah. Bangunannya indah, bercat warna-warni walaupun terkelupas di sana-sini.  Di sini kami bisa melihat warga India, yang entah mengapa lebih banyak laki-lakinya, duduk-duduk sambil ngobrol, atau yang paling umum,  bermain kriket di depan gang rumahnya. Tak ada yang mengganggu kami, walaupun tak ada juga yang menyapa kami dengan ramah. man saya, area perumahan memang rapi karena tak ada tunawisma di sana, sementara area publik terkesan jorok karena banyaknya tunawisma yang menjadikan tempat itu sebagai rumahnya.

DSCF3633
Tak ada sampah di gang ini. Bersih
DSCF3634
Di tempat umum, akan mudah ditemui hal seperti ini.

Kolkata: Kota dengan Seribu Cerita (part 1)

DSCF3490

Satu seperempat hari berada di sini, saya bisa melihat dua sisi Kolkata. Di satu sisi, ia punya bangunan-bangunan cantik penambat mata. Di sisi lainnya, ia seperti India sebenarnya, penuh wajah kemiskinan di mana-mana. 

Saat saya dan kawan saya memutuskan untuk menghabiskan satu hari di Kolkata, saya bertanya-tanya dalam hati, “Emang ada apa ya di Kolkata?” Alhasil, di sela-sela pekerjaan yang membabi buta, saya mencari tahu soal kota ini. Ternyata, kolkata punya banyak bangunan indah peninggalan Inggris dan kerajaan Mughal. Semangat saya langsung timbul. Ya, saya memang amat menyukai bangunan-bangunan indah yang punya nilai sejarah.

Di abad 17, Kolkata adalah sebuah kota penting di era kerajaan Mughal, sebuah kerajaan Islam Farsi yang menguasai daratan India, hingga ke semenanjung Mongol. Shah Jehan, yang membangun Taj Mahal, adalah salah satu rajanya. Setelah kerajaan ini runtuh, Kolkata berada di bawah kekuasaan Inggris, dan menjadi salah satu pusat perdagangan di bawah bendera East India Company. Dua percampuran, Mughal dan Inggris, inilah yang mendominasi bangunan-bangunan di Kolkata.

——-

Saya sebenarnya cukup suprise dengan kota ini. Tak seperti yang saya bayangkan, kota ini ternyata tak “seburuk” yang diberitakan. Paling tidak, itulah yang saya rasakan saat datang pertama kali. Walaupun di malam tadi saya melihat beberapa gelandangan di depan teras toko, pagi ini terasa berbeda. Jalan-jalan yang saya dan kawan saya lalui lengang, sepi, tak terlalu kotor. Tak ada kemacetan, penduduk yang lalu lalang, seperti yang kerap saya lihat di berita-berita atau saya dengar dari orang-orang. Trotoarnya pun lebar, sehingga nyaman ditapaki. Sampah-sampah yang saya duga akan bertebaran di mana-mana pun tak terlihat.

Kawan saya berpendapat, ini karena kami berada di tengah kota. Layaknya di Jakarta, Jalan Thamrin-Sudirman pasti bersih, katanya. Saya bilang, mungkin di pagi hari, para gelandangan itu sudah pergi dari “rumah”-nya sehingga jalan terlihat bersih dan lengang. Setelah kembali ke kota ini di hari terakhir, kami baru menyadari satu hal: ini adalah hari libur Nasional! Pantas, jalan-jalan terasa sepi….

DSCF3459
Salah satu sudut Kolkata yang sepi. Yang bentuknya kotak itu adalah pintu masuk ke subway
DSCF3452
Sepiii…

Dari hotel Esteem, yang ternyata letaknya cukup strategis, kami memutuskan untuk berjalan kaki saja menuju tujuan pertama kami: Victoria Town Hall. Lagi-lagi, kami dipandu oleh Lumia milik teman saya (ini benaran bukan iklan, dan bukan endorse-an yaa). Saya pasrah saja, mengikuti langkah teman saya. Di samping tak tahu arah jalan, saya takut tiba-tiba ada yang mencolek atau menculik saya…;))

Benar saja. Di tengah perjalanan, saya yang tertinggal di belakang, tiba-tiba didekati seorang pemuda India yang bertubuh tinggi besar. Sambil berjalan menuju saya, dia berbisik, “Hey, I love you.” Saya langsung kabur, lari ke sebelah teman saya.


Ternyata bukan Victoria Hall objek pertama yang kami temui. Tanpa sengaja, kami melihat sebuah katedral putih yang amat cantik. St Paul Cathedral namanya. Katedral ini dibangun 1837 oleh seorang pendeta Inggris, Daniel. Dari jauh, sudah terlihat jelas kalau gereja ini bergaya Gothic Revival, gaya yang memang sedang popular saat itu di Eropa. Lengkung-lengkung jendela gereja, menara yang tajam, jendela-jendela besar, ada di sini. Ciri khas yang juga digunakan di gereja-gereja Eropa seperti Notre Dame.

Pintu gerbang gereja tertutup rapat. Untung ada seorang penjaga yang melihat kami celingak-celinguk. Ia awalnya tak memperbolehkan kami masuk, namun akhirnya ia membiarkan kami memoto bagian luar gereja. Hanya luarnya. Padahal, saya amat ingin masuk dan melihat interior gereja ini. Kali ini, negosiasi saya gagal total.

DSCF3474
St Paul Cathedral. Keren ya?

Puas berfoto di gereja putih, perjalanan kami lanjutkan ke Victoria Memorial, gedung termegah di Kolkata. Saat menuju ke sana, saya melihat bus tua melintas. “Gue mesti naik itu,” ujar saya kepada kawan saya. Tak lama, ada trem tua melintas. Saya langsung berteriak, “Yes, naik itu jugaaa.”. Hahaha…pecicilan memang. Tapi biar saja, saya orang yang gemar mencoba (dan memoto tentunya) angkutan umum di setiap kota yang saya sambangi. Apalagi kalau angkutannya unik dan menarik (baca juga: Naik Angkot di Kolkata).

Berada di depan Victorial Memorial, tak seperti berada di India. Bangunan yang dibuat untuk menghormati wafatnya Queen Victoria ini sangat sangat Eropa. Berwarna putih dengan kubah ala Byzantium, menggabungkan gaya arsitektur Eropa dan Islam India. Di depannya ada taman besar dan danau, yang sayangnya tak terlalu indah. Saat orang-orang bersari hilir mudik di taman ini, saya jadi membayangkan tarian di film India!

DSCF3498
Ga kayak di India ya?

DSCF3489

Gedung Victoria Hall bisa dimasuki. Di dalamnya ada museum yang isinya benda-benda milik Ratu Victoria. Kami memutuskan tak masuk ke dalam, karena antrian yang panjang dan koleksi yang kami rasa tak terlalu istimewa. Kami hanya berfoto-foto di luarnya, lagi-lagi di bawah sengatan matahari Kolkata yang begitu membara.

Baca Juga: Kolkata: Antara Klakson, Mother Theresa, dan Manisan India


Kami melanjutkan perjalanan kaki kami. Benar-benar berjalan, karena memang, tempat wisata di Kolkata letaknya tak berjauhan. Mengikuti langkah kawan saya, saya akhirnya sampai ke sebuah lapangan besar. Di sana, ada segerombolan anak-anak yang sedang bermain kriket. Yup, seperti halnya negara-negara bekas jajahan Inggris lainnya, kriket adalah olaharaga favorit di India, termasuk di Kolkata. Di mana-mana bisa dijumpai orang yang sedang bermain kriket. Di stadium besar, di lapangan, bahkan di gang depan rumah. Bahkan kami sempat menemukan ratusan orang yang sedang mengantri di sebuah lapangan, untuk mengembalikan tiket pertandingan kriket yang ditunda karena salah seorang pemainnya meninggal dunia.

DSCF3536
antrian di lapangan untuk mengembalikan tiket

Selain kriket, ada hal lain yang menarik perhatian saya, yakni belasan domba yang sedang enak-enaknya merumput di sana, seakan tak peduli di sekitarnya ada pemain-pemain kriket yang sedang memerebutkan bola.

Ternyata di Kolkata sini, saya tak menemukan sapi di jalan, seperti yang saya lihat di foto-foto di media. Saya malah  menemukan banyak domba dan kambing berkeliaran bebas. Digembalakan di mana saja, yang penting ada rumput untuk si domba dan tempat berteduh buat si gembala.

DSCF3523

DSCF3517

Tip Backpacker ke Kolkata:

  • Bawalah air minum, karena panasnya luar biasa
  • Jangan jajan sembarangan, kalau ga mau kena tipes!
  • Kolkata bisa dijangkau dengan jalan kaki, kalau mauuu…..Kalau nggak, naiklah angkutan umum yang murah meriah. Baca: Naik Angkot di India