Perjalanan Tur ke Kazbegi yang Penuh Drama

Hari ketiga di Georgia, saya memutuskan untuk ke Kazbegi, salah satu area wisata di Georgia. Saya mupeng ke sini setelah melihat foto kawan saya. Dia berdiri di salah satu padang rumput, bagian belakangnya ada deretan pegunungan bersalju. Indah. Seharusnya, kalau saja mood kami tak dirusak oleh seseorang berwajah datar.

Hari ketiga di Georgia, saya memutuskan untuk mengikuti tur ke Kazbegi, salah satu area wisata di Georgia. Saya mupeng ke sini setelah melihat foto kawan saya. Dia berdiri di salah satu bukit padang rumput luas, bagian belakangnya ada deretan pegunungan yang diselimuti salju. Indah. Seharusnya begitu, kalau saja perjalanan ke Kabegi saya tak dirusak oleh seseorang wanita cantik berwajah datar.

Kazbegi, sekarang bernama Stepantsminda, adalah salah satu wilayah di Georgia. Lokasinya sekitar 154km ke arah utara Tbilisi. Kira-kira sejauh perjalanan dari Jakarta ke Bandung via tol Cipularang.

Tempat ini menjadi terkenal karena lansekapnya yang indah, terutama di musim dingin. Walaupun saya datang di musim panas, semua orang yang saya temui di sepanjang perjalanan menuju Georgia tetap menganjurkan saya untuk paling tidak menghabiskan waktu sehari di Kazbegi.

Kazebgi bukan hanya punya lansekap indah. Ia juga punya beberapa destinasi wisata. Ada Trinity Church, gereja Kristen Ortodok cantik di atas puncak bukit.  Foto gereja ini seakan jadi ikon wisata Georgia. Ia dipajang di mana-mana, di postacard, di brosur wisata, dan juga di dinding bandara.

Kazbegi juga dekat dengan Gaudari, area ski yang terkenal hingga ke Arab Saudi. Konon katanya, orang Arab memiilih berwisata musim dingin ke sini karena bujet yang mereka keluarkan lebih murah ketimbang mereka harus pergi ke Swiss.

Pantas saja, ketika saya sampai di Tbilisi Airport tiga hari lalu, saya dikepung rombongan dari Arab, sampai-sampai saya dikira orang Arab oleh penjaga toko simcard dan disapa dengan bahasa Arab.


Ditolak Lagi oleh Cewek Ukraina

Untuk menuju Kazbegi dari Tbilisi, bisa menggunakan angkutan marshutka, taksi minibus khas Rusia. Harganya hanya 10 gel (sekitar 45 ribu rupiah), dan bisa dinaiki dari Didube Metro Station. Tapi sayangnya, seperti angkot di Pasar Palmerah, marshutka ini baru akan jalan kalau penumpangnya sudah penuh. Hanya Tuhan dan si abang yang tahu kapan marshutka akan berangkat.

Alternaitf ini cuma cocok bagi traveler yang tak masalah soal waktu ataupun traveler yang akan menginap di Kazbegi.

Karena saya hanya punya waktu sedikit dan tak berencana menginap di Kazbegi, saya memutuskan untuk ikut one day trip dari travel yang direkomendasikan oleh salah satu pegawai hostel Diwan yang saya inapi. Harga turnya 54 lari atau sekitar 250rb rupiah.

Hal yang saya sesali karena ternyata kantornya jauh dari hostel dan pagi-pagi saya mesti jalan kaki sekitar 3km, karena titik kumpulnya harus di kantor itu. Padahal nantinya, saya akan bergabung dan menjemput beberapa peserta lain di agen tur yang letaknya lebih dekat dengan hostel saya. Nasib.

Rombongan saya terdiri dari banyak orang dari berbagai bangsa. Ada pasangan dari Iran, pasangan dari Israel, pasangan gay dari Perancis, pasangan suami istri dari Inggris, pasangan dari Arab dan pasangan baru dari India. Ada juga female solo traveler yang cantik dari Ukraina dan dari Rusia. Ada juga male solo traveler dari Jordan. Dan saya tentunya. Empat belas  orang jumlahnya.

Karena sendirian, saya berusaha mengakrabkan diri dengan si cewek cantik Ukraina itu. Cewek yang bisa 4 bahasa karena pernah tinggal dan bekerja di Dubai dan Jerman. Namun, seperti halnya saya ditolak di hostel di Azerbaijan, lagi-lagi saya ditolak cewek Ukraina. Keramahan saya dibalas dengan tatapan cuek, pertanyaan saya dijawab seperlunya saja. Dia lebih suka ngobrol dengan yang lain. Oke, fine…

Untunglah ada Khaleed, si cowok botak cerewet dan kritis asal Jordan. Dia lah yang jadi partner dan fotografer saya selama tur itu.

Yee…dapet juga kaaan mbak.

Baca Juga: Solo Backpakcing ke Azerbaijan: Ditolak Cewek Ukraina di Penginapan


Dari Bendungan ke Benteng

Minibus saya berangkat sekitar jam 9, dan langsung menuju arah Kazbegi. Saya yang ngantuk berat karena semalam tak tidur nyenyak, tertidur di separuh perjalanan dan baru terbangun saat si guide yang saya lupa namanya mengatakan kami sudah sampai di Zhinvali Reservoir, sebuah bendungan yang dibangun di zaman Uni Soviet.

Ia tak menjelaskan lebih lanjut tentang bendungan ini,  namun dari tempat saya berdiri telah terbentang pemandangan danau buatan berwarna biru kehijauan dengan latar belakang pegunungan. Bagus, tapi tak luar biasa.

DSCF8585JPG
Zhinvali Reservoir

Tujuan selanjutnya adalah Annauri Fortress, sebuah benteng kuno yang dibangun pada abad ke-13.  Di dalamnya terdapat dua buah gereja kristen Ortodok. Saya tak terlalu tertarik dengan gereja ini, karena seharian kemarin saya sudah masuk ke beberapa gereja Ortodok di Tbilisi. Lagipula, bagi saya, interior gereja Ortodok rada membosankan, hanya didominasi warna cokelat tanpa ornamen mencolok; tak seperti gereja Katolik yang penuh warna dan ornamen indah.

Bagi saya, bagian luarnya lebih menarik karena di belakangnya ada reruntuhan bangunan berlatar belakang Zhinavali Reservoir yang sebelumnya kami kunjungi.

Perjalanan ke Kazbegi
Annauri Fortress
DSCF8621JPG
Salah satu sudut Annauri Fortress

Baca Juga: Solo Backpacking ke Georgia: Rekomendasi Rute di Old Town Tbilisi


Begitu masuk minibus, saya mencoba tidur lagi, tapi tak bisa lelap karena di bangku belakang si cowok Jordan sibuk berbicara keras dengan pasangan Israel mengenai kesamaan makanan Israel dan Jordania. Di bangku depan, si cewek Ukraina cekikikan bersama partner barunya yang ternyata berasal dari Rusia.

Sementara si guide malah sibuk berbicara dengan pasangan Prancis, memamerkan bahasa Prancisnya yang lumayan oke. Untunglah kemudian ia sadar diri, dan mengganti percakapannya dengan bahasa Inggris yang dimengerti semua orang.

Sayup-sayup, saya mendengar ia menyebutkan kalau kami sedang melewati Georgian Militery Highway, jalan utama yang menghubungkan Georgia dengan Vladikavkaz di Rusia. Konon katanya, di zaman dulu rute ini adalah rute para pedagang jalur silk road yang membawa barang dagangannya dari China menuju Russia. Namun jalan aspal  yang sekarang ini dibuat oleh para tentara Rusia di tahun 1799, itu sebabnya jalan ini berembel-embel “military” di namanya. Katanya lagi, ini termasuk salah satu highway terindah di dunia.

Saya melihat ke arah jalan. Memang benar, jalan yang dibuat mengitari pegunungan Kaukasus ini indah. Di kanan kirinya bisa dilihat pegunungan bersalju membentang. Saya datang di bulan Juni, dan masih turun hujan salju. Di musim dingin, salju di sini sangat lebat, sehingga di beberapa tempat dibuat terowongan guna menghindari longsoran salju.


Terlambat Satu Jam karena Parasailing

Perjalanan dilanjutkan ke Russia-Georgia Friendship Monument. Seperti namanya, monumen setengah lingkaran ini  adalah monumen persaudaraan antara Rusia dan Georgia. Saya tak terlalu tertarik dengan penjelasan guide soal monumen ini, karena mata saya tertuju pada vista di belakang monumen ini. Sebuah lapangan rumput besar, dengan deretan lembah gunung di belakangnya. Ujung gunung tersebut masih diselimuti salju. Indah. Saya membayangkan, apa jadinya kalau saljunya lebih banyak. Pasti luar biasa.

DSCF8724JPG

IMG_20190612_170413-01

Guide memberi kami waktu tiga puluh menit untuk menikmati pemandangan ini. Saya dan sembilan peserta lainnya patuh dengan perintah ini. Kami sudah ada di dalam minibus tepat di waktu yang ditentukan. Tapi satu orang lagi, si cewek Ukraina, tak ada di tempat. Tak ada yang tau ia ke mana, termasuk kawan barunya itu. Ternyata, ia naik parasailing yang memang merupakan atraksi favorit di sana.

Ia baru datang setengah jam kemudian, dan dengan muka tanpa merasa bersalah, ia mengatakan kalau antriannya penuh dan ia akhirnya tak jadi naik parasailing itu.

Lah sejam tadi ngapain aja, Neng?

Omelan terdengar di seluruh minubus. Semua penumpang protes karena ini berarti kami akan terlambat setengah jam di Kazbegi, tujuan utama kami hari itu.  Semuanya khawatir hujan akan turun di sana, karena di kejauhan, awan hitam tebal sudah terlihat menggelantung.

Tapi si muka datar cuek saja, tak menggubris omelan semua orang dan malah asyik memamerkan foto-fotonya ke kawan barunya.

Pengen saya colek rasanya. Pake sambel campur bon cabe level 10.


Hampir Terjebak Badai

Begitu sampai di Kazbegi, langit semakin gelap. Tapi berhubung kami sudah membayar uang tambahan untuk naik ke Trinity Church, kami tetap naik. Oya, untuk naik ke Trinty Church ini, kami haru berganti mobil. Minibus yang kami naiki tak bisa menanjak hingga ke puncak gunung.

Dan tahukah kalian, si cewek Ukraina ini tak ikutan naik karena ia akan dijemput oleh pemilik penginapan di situ. Yaa, dia dan satu orang lainnya ternyata menginap di Kazbegi , saudara-saudara. Dia baru akan naik besok, bersama guide dari hotelnya.

Kami semua memandangnya dengan tatapan sebal dan menusuk kalbu, lalu masuk ke mobil jeep yang akan membawa kami ke puncak gunung, tempat gereja Trinity berada. Mobil kecil ini hanya berisi lima orang: guide kami, saya, cowo Jordan itu, dan pasangan  gay dari Perancis. Peserta lain ada di mobil satunya.

Di dalam mobil tentu semua menumpahkan kekesalan kepada si guide yang masih berusaha bersikap baik dengan membela cewek itu.  Saya tak ikut marah-marah, selain susah ngomel pakai bahasa Inggris, saya lebih khawatir pada awan hitam di langit yang makin tebal saja.

Benar saja, begitu sampai di atas, hujan turun. Si guide langsung menyuruh kami  berlari mengambil kain pinjaman sebelum masuk ke dalam gereja. Ya, sama seperti masuk ke dalam masjid, untuk masuk ke gereja ortodok ini peraturannya amat ketat. Tak boleh memakai celana pendek, tak boleh memakai celana ketat apalagi rok mini. Hanya saya yang aman, tak perlu memakai kain tambahan.

Kami tak terlalu lama di dalam gereja, karena pemilik mobil meminta kami segera ke parkiran mobil, dan kembali menuju ke bawah. Ia takut badai besar menghadang dan kami tak bisa turun. Ya, begitu saya keluar dari gereja, angin kencang menerpa. Saya harus lari turun menuju parkiran (yang letaknya kurang lebih 100m) dengan melawan terpaan angin kencang dan hujan deras. Saya, yang paling kecil di antara yang lain, tertinggal di belakang, hingga akhirnya salah satu cowok Prancis itu kembali dan menarik tangan saya supaya saya tak terbang bersama angin.

Uhh, romantis kan. Andai bukan gay.

25 Gergeti Trinity church
Seharusnya, kalau ga ujan badai, pemandangan seperti ini yang akan saya dapati. Foto ambil di internet.

 

 

5 Makanan dan Restoran Halal di Tbilisi Georgia

Georgia adalah negara Kristen Ortodok yang 80 persen penduduknya menganut agama ini. Hanya 9 persen yang menganut Islam, terutama di bagian selatan yang berbatasan dengan Azerbaijan.

Walaupun didominasi kristen, ternyata banyak resto yang memajang tulisan halal di sini. Termasuk di area Gudauri dan Kazebgi, dua tempat wisata ski dan salju yang terkenal di Georgia. Apa saja makanan halal yang sudah saya coba?

Georgia adalah negara Kristen Ortodok yang 80 persen penduduknya menganut agama ini. Hanya 9 persen yang menganut Islam, terutama di bagian selatan yang berbatasan dengan Azerbaijan.

Walaupun didominasi kristen, ternyata banyak resto yang memajang tulisan halal di sini. Termasuk di area Gudauri dan Kazebgi, dua tempat wisata ski dan salju yang terkenal di Georgia. Walau harganya lebih mahal dibanding restoran non-halal, masih menjual wine dan bir, dan wallahuallam itu daging belinya di suplier halal apa nggak, paling nggak mereka sudah mencoba menyediakan menu non-pork dan memasak makanan tanpa alkohol.

Baca Juga: Solo Backpacking ke Georgia: Antara Diwan Hotel, Indomie, dan Pasta Italia

Banyaknya restoran halal ini disebabkan sekarang ini banyak penduduk Saudi yang berwisata ke sini. Georgia punya destinasi salju yang lebih murah dari Eropa, yang diminati penduduk Saudi yang selalu mencari yang adem macam Puncak. Pemerintah Georgia emang giat banget mempromosikan negaranya ke Saudi, termasuk dengan membuka jalur penerbangan langsung dari Jeddah ke Tbilisi dan menggratiskan visa buat mereka.

Nah, ini beberapa restoran dan makanan halal di Tbilisi yang sempat saya coba

Nayeb Halal Persian Iranian Restaurant

Sesuai namanya, restoran ini dimiliki oleh orang Iran. Pelayannya pun orang Iran. Pengunjungnya juga banyak yang orang Iran. Kecuali saya.

Harga makanan di Nayeb Halal Persian Iranian Restaurant memang mahal, mulai dari 12 Lari (sekitar 50 ibu rupiah), tapi jauh lebih murah dibanding harga Taj Mahal Restaurant. Maklum, restoran halal di Tbilisi hanya ada beberapa, sehingga harganya jadi lumayan mahal.

Menunya lumayan bervariatif, ada masakan ala Iran, Timur Tengah, dan masakan asli Georgia.

IMG_20190611_184335-01.jpeg
Interior Nayeb Persian Halal Restaurant

Pertama kali ke sini, saya memesan nasi biryani. Harganya setelah pajak 15 lari, sekitar 75ribu rupiah. Porsinya lumayan besar, bisa buat dua orang. Saya cuma berhasil makan setengahnya, dan setengahnya lagi saya bungkus buat makan malam. Wkwk, iritisasi.

Nasi Biryani
Nasi Biryani di Nayeb Halal Persian Iranian Restaurant

Kali kedua, saya memesan Khinkali, semacam dumpling isi daging dan sayuran khas Georgia. Saya sebenarnya sudah naksir ini dari awal saya sampai di Tbilisi, tapi saya ga berani makan. Takut ga halal.

IMG_20190612_225508-01
Khinkali

Buffet Shawarma Halal

Ini sebenarnya tak sengaja saya temukan, saat sudah capek jalan dan pengen ngaso sambil minum chai (teh), saya liat ini. Bentuknya bukan restoran, tapi semacam kedai permanen di sebelah taman.

Menunya ngga banyak, cuma kebab, kentang goreng dan chicken wing. Sebenarnya saya bosen makan kebab, tapi chicken wingnya ternyata sudah habis. Mau ga mau. Saya lupa harga kebabnya berapa. Tapi plus chai harga totalnya jadi 11 lari.

IMG_20190611_134818-01.jpeg


Baca Juga: Solo Backpacking ke Georgia: Rekomendasi Rute di Old Town Tbilisi

Bawa Makanan Sendiri

Tapi, atas nama irit dan malas nyari restoran halal, saya cuma makan di restoran saat makan siang dan kalau bersisa dimakan waktu malam. Selebihnya, saya beli roti, buah, dan jus di supermarket untuk sarapan pagi dan kalau perlu saya masak nasi instan di microwave. Nasi instan ini saya titip ke teman dari Korea. 

IMG_20190612_080053-01.jpeg

 

Solo Backpacking ke Georgia: Rekomendasi Rute di Old Town Tbilisi

Saya menghabiskan tiga hari di Tbilisi, Georgia. Sangat cukup untuk mengeksplor seluruh kota Tbilisi hingga ke sudutnya.

Berbeda dengan Baku di Azerbaijan yang modern dan metropolitan, Tbilisi di Georgia ini lebih homey. Atmosfernya mirip Yogyakarta yang banyak bangunan tua dan peninggalan bersejarah.

Untuk mengitari Tbilisi ini, sebenarnya saya bisa naik bus kota. Harganya murah, tak sampai 1 lari per kali naik. Tapi saya lebih suka mengitarinya dengan berjalan kaki karena di setiap sudut Tbilisi ada hal menarik untuk dilihat. Walaupun jalan kaki ini membuat saya selalu ngos-ngosan dan kelaparan, sebab kontur Tbilisi ini berbukit-bukit dan berundak-undak.

Baca Juga: Solo Backpacking ke Georgia: Antara Diwan Hotel, Indomie, dan Pasta Italia

Salah satu lokasi yang jadi favorit saya di sini adalah Old Town. Di sini banyak bangunan bersejarah, bangunan tua, serta cafe-cafe menarik yang sayangnya harganya lumayan mahal.  

Darimana enaknya memulai perjalan di Old Town ini? Begini rekomendasi rute di Old Town Tbilisi versi saya.

Tujuan Pertama: Clock Tower

Dari hostel tempat saya menginap, saya berjalan kaki ke arah Clock Tower, melewati gang-gang kecil yang saya tak tahu namanya, bertemu dengan beberapa orang lokal yang sedang berada di depan rumahnya. Berbeda dengan Azerbaijan yang lebih banyak senyum, di sini tak ada yang tersenyum sama sekali.

Clock tower ini bukan bangunan lama sebenarnya. Ia baru dibangun tahun 2010 oleh seorang seniman. Desainnya dibuat unik seakan miring dan hampir rubuh, namun terlihat serasi dan menyatu dengan bangunan teater di sebelahnya. Setiap jam, clock tower ini akan berbunyi. Malaikat bersayap akan keluar dari jendela di atas jam dan membunyikan bel di ujung tower.

DSCF8426

Tujuan Kedua: Peace Bridge

Dari clock tower, saya berjalan lagi ke arah Peace Bridge, jembatan modern yang amat terkenal di Tblisi. Sebenarnya dari segi bentuk, jembatan ini biasa saja menurut saya. Lebih bagus jembatan lengkung di depan Polda Metro Jaya. Namun di sini sering terdapat art performance yang enak untuk dinikmati.

Tujuan Ketiga: Rike Park dan Narika Fortress

Dari Peace Bridge saya berjalan ke arah Rike Park, mencari Narika Fortress cable car station, tempat cable car menuju Narika Fortress bermula.

Narika Fortress ini sebenarnya bisa dicapai dengan berjalan kaki, tapi jalannya menanjak lumayan curam. Sementara jika menggunakan cable car, biaya yang mesti dikeluarkan hanya sebesar 2.5 lari (sekitar 12 ribu) untuk sekali jalan. Lebih murah kalau dibandingkan dengan membeli minuman sehabis lelah memanjat.

Dari pelataran Narika Fortress ini, saya bisa melihat kota Tblisi dari ketinggian. Di kejauhan akan tampak gereja Orthodok menjulang tinggi, dengan latar belakang pegunungan. Indah. Apalagi menjelang sore hari, saat matahari mulai kembali ke peraduannya. 

DSCF8265
Pemandangan dari Narika Fortress

DSCF8277

Tujuan Keempat: Old Town

Dari arah Narika Fortress, saya turun ke arah Old Town, melewati gang-gang kecil yang dipenuhi bangunan-bangunan tua. Saya sengaja tak menggunakan GPS saya saat itu, membiarkan kaki saya melangkah semaunya. Dan hasilnya saya nyasar ke gang kecil.

Di ujung gang ada anjing galak yang terus menyalak ke arah saya. Saya bingung, mesti putar badan lalu lari atau diam saja di situ. Tak ada orang di sana kecuali saya, tak ada yang bisa saya minta tolong. Akhirnya saya sampai pada kesimpulan:  saya putar badan, pura-pura tenang berjalan ke arah sebaliknya, lalu kemudian lari sekencang-kencangnya. Uff….

Di area Old Town ini sebenarnya banyak gereja kecil dan museum. Tapi entah kenapa, saya tak tertarik memasukinya. Mungkin karena efek hampir dikejar anjing tadi, saya jadi lapar berat. Saya lebih tertarik mencari makanan halal, sambil kembali ke hostel untuk beristirahat.

Baca Juga: Makanan dan Restoran Halal di Tbilisi Georgia

DSCF8447

DSCF8312
Salah satu sudut Old Town Tblisi

Solo Backpacking ke Georgia: Antara Diwan Hotel, Indomie, dan Pasta Italia

Di Tbilisi, Georgia, saya menginap di sebuah hotel. Diwan Hotel namanya. Letaknya di tengah kota, 600m dari Freedom Square dan halte bus menuju bandara. Keliatannya deket yaa, tapi untuk ke sana dibutuhkan tenaga ekstra karena kontur Tbilisi berbukit-bukit. Apalagi kalau bawa koper dan ransel. Huh…

Diwan Hostel ini punya rating tinggi 9.1 di booking.com dan beberapa situs OTA lainnya. Lokasinya strategis, harganya juga murah. Makanya saya memilih untuk menginap di sana. Tapi kalau tau jalannya sangat menanjak sih, saya pasti mikir dua kali.

Saya menginap di twin standard private room dengan harga kurang dari 150rb rupiah semalam. Kamarnya standar, hanya dilegkapi dengan kipas angin.

Kali ini saya tak memilih tidur di dormitori karena saya sedang mencharge energi saya. Ya, sebagai introvert, terkadang saya butuh sendiri untuk mengembalikan energi. Beberapa minggu sebelumnya saya tiap hari bertemu orang baru di beberapa negara, dan akan begitu sampai sebulan kemudian. Lelah rasanya.

Baca Juga: Transit 19 Jam di Muscat: Al Qaboos dan Hadiah Tiga Buah Buku


Anyway, di luar lokasinya yang di atas bukit, hostel ini sangat menarik. Dia punya jendela besar yang menghadap ke kota. Hostel  dapur ini juga luar biasa. Besar, lengkap, dengan pemandangan indah. Makanya, penghuni hostel termasuk saya, doyan ngumpul di sini.

IMG_20190610_151026-01.jpeg

IMG_20190610_150949-02.jpeg

Diwan juga dilengkapi dengan mesin cuci dan setrika yang bisa dipakai secara gratis. Begitu tau gratis, saya langsung cuci semua pakaian kotor, termasuk pakaian dalam. Ketika akan mengeluarkan cucian, pintu kamar mandi tempat mesin cuci berada tertutup. Ada orang yang memakainya. Saya bolak balik 3 kali dan orang itu masih di dalam. Saya teriak, kalau saya mau ambil cucian saya dan mau berangkat jalan-jalan. 

Ketika saya balik keempat kalinya, rupanya cowo Perancis yang tadi ada di kamar mandi sudah keluar. Dan dia sedang menjemur semua cucian saya. Katanya sebagai permintaan  maaf karena terlalu lama di dalam kamar mandi. Walah, saya  jadi panik dan malu. Untung pakaian dalam saya belum dia jemur 🤭🤭

IMG_20190611_081026-01

Baca Juga: Solo Bacpacking ke Georgia: Wajah-Wajah Kaku yang Baik Hati


Salah satu pekerja hostel yang sering ngobrol dengan saya bernama Paulo. Asal Italia. Dia sebenernya bekerja di hostel ini sebagai freelancer, daftar via situs workaway. FYI, dengan situs ini, traveler bisa mencari pekerjaan di tempat yang ia inginkan, dengan imbalan bisa menginap gratis di tempat tersebut.

Paulo punya tugas memasak dan membersihkan dapur, karena dia dari Italia dan jago memasak pasta. Dia bisa bekerja selama kapan saja dia mau, bisa hanya 2 jam, 3 jam, atau 8 jam. Yang penting tugasnya selesai. Pekerja workaway lainnya di hostel itu (yang saya ga kenal karena ga pernah ngobrol) tugasnya mengecat dan membantu renovasi hostel. Ada juga yang tugasnya membersihkan kamar dan kamar mandi.

Paulo menawarkan pastanya ke saya. Saya bilang, saya juga bisa membuat pasta dalam waktu 3 menit saja.

Dan taraaa…..saya keluarkan indomie goreng jumbo yang saya bawa. Saya memang selalu membawa mie kebanggaan Indonesia ini ke mana-mana. Selain untuk pamer, karena ini adalah mie nomer 1 versi CNNTravel, saya membawanya untuk jaga-jaga kalau saya tak menemukan makanan halal.

Si Paulo mencoba sedikit mie buatan saya, dan dia tak suka! Katanya, “not original taste”. Hmmm….baru kali ini ada yang ga doyan indomie.

Ketika saya coba, ternyata mie buatan saya memang tak enak; mienya lodoh dan bumbunya kurang berasa.

Duuh, gagal saya bawa  nama baik Indomie!

 

 

Solo Bacpacking ke Georgia: Wajah-Wajah Kaku yang Baik Hati

2019_0725_08154100.jpg

Akhirnya, saya sampai juga ke negara Georgia, negara ke-39 yang saya kunjungi.

Sama seperti Azerbaijan yang baru saya dengar setahun lampau, nama Georgia juga asing buat saya. Saya taunya Georgia itu adalah nama negara bagian di Amerika Serikat.

Ternyataa, Georgia itu adalah negara yang berbatasan langsung dengan Turki. Makanya rata-rata pelancong datang dari Turki menuju Georgia lalu lanjut ke Armenia dan Azerbaijan, dan berujung ke Iran.

Baca Juga: Pengalaman Naik Buta Airways ke Tbilisi


Dari bandara Tbilisi Georgia ke tengah kota, ada dua pilihan. Naik bus no 37 seharga 0.5 lari koin (sekitar Rp 2.600) atau naik taksi dengan aplikasi Bolt seharga 20 lari. Sebenernya saya sudah memilih naik taksi saja, karena repot dengan koper. Namun pesanan saya terus dicancel oleh driver, begitu tau saya cuma bisa bahasa Inggris. Akhirnya, saya menyerah dan naik bus.

images (34)

Bus menuju kota bentuknya seperti bus umum. Memang, ini bukan bus khusus bandara seperti bus Damri Soekarno Hatta. Ini bus biasa, yang akan berhenti di setiap halte. Saya sempat gugling peta haltenya namun tak berguna karena semuanya tertulis dalam aksara Rusia. Meneketehe cara bacanya.

Bus ternyata lumayan penuh. Awalnya saya bingung, gimana cara menaikkan koper ke bus yang cukup tinggi ini. Saya mengintip ke dalam, dan melihat tampang orang-orang di sana yang kaku semua, tak ada senyum-senyumnya. Mirip Viktor di pelm Harry Potter. Nyeremin, kan!

Baca Juga: Imigrasi Oh Imigrasi

Untung tiba-tiba ada bapak-bapak  yang membantu saya menaikkan koper ke bus. Walau mukanya tetap datar tanpa senyum. Fiuh…


Selesai? Belum. PRnya kemudian adalah, saya tak tahu cara bayar bus ini. Saya lupa gugling!

Saya tanya bapak-bapak tadi, ternyata dia sudah menghilang entah kemana. Akhirnya saya memberanikan diri bertanya ke wanita di sebelah saya, dan dengan bahasa Rusia (dan tampang datarnya) dia menjelaskan soal cara membayarnya.

Ternyata bayarnya mesti menggunakan kartu atau koin. Masukin koin ke kotak yang ada di tengah-tengah bus, dan secara otomatis akan keluar tiketnya. Masalahnya adalah… uang yang saya miliki tak ada yang berbentuk koin, tak bisa dikembalikan pula.

Di tengah kebingungan itu, datanglah pertolongan. Beberapa orang menawarkan membayar tiket saya dengan kartu mereka. Tanpa perlu mengganti uangnya.

Ya Allah baik banget.


Saya berdiri hingga 10 menit kemudian, saya mendapat tempat duduk. Baru dua menit pantat ini menempel di kursi, ada ibu tua bertongkat yang naik bus. Saya menengok kanan kiri, kok ga ada yang ngasih duduk ya. Sepertinya budaya memberikan tempat duduk ke yang lebih tua dan membutuhkan, bukan budaya di sini. Buktinya, selama 10 menit sebelumnya saya dibiarkan berdiri aja dengan membawa koper saya.

Akhirnya, saya berinisiatif memberi ibu itu duduk. Walaupun saya jadi kembali repot, berdiri sambil  memegang koper dan tas.

Ajaibnya, setelah saya merelakan tempat duduk saya untuk si ibu tua, semua orang jadi baik. Si ibu mau (bersikeras) memangku tas saya yang lumayan berat, bapak-bapak yang duduk di sebelah si ibu menarik koper saya dan memegangnya, mencegah koper lari sana-sini karena supir bus suka mengerem mendadak.


Saya turun di Freedom Square dan dari situ saya mesti berjalan ke penginapan.  Dari halte bus ke penginapan, jaraknya cuma 600m. Dekat memang, kalau jalannya lurus. Masalahnya, jalannya menanjak dengan sudut yang lumayan tajam. Alhasil, baru 200 meter berjalan, saya sudah ngos-ngosan mendorong koper.

Baca Juga: Solo Backpacking ke Georgia: Antara Diwan Hotel, Indomie, dan Pasta Italia

images (36).jpeg

Tiba-tiba ada bapak berbadan besar dan berkepala botak datang dari seberang jalan, memberi isyarat mau membantu mendorong koper saya. Awalnya saya pikir, dia akan membantu sampai jarak beberapa meter saja, ternyata saya diantar sampai  hostel. Dan itu sukarela, tanpa mau dibayar!

Alhamdulillah….

TIP

– Bus no 37 ini ada di depan pintu keluar “Arrival area”.  Lama perjalanan sekitar 40 menit dan bus ada setiap 30 menit sekali.

– Ada aplikasi bolt atau Yandex, semacam Uber. Bisa dipakai juga di beberapa negara pecahan Rusia.

– Untuk simcard, bisa dibeli di bandara. Dari hasil mengintip beberapa konter, Beeline lah yang paling murah. Untuk 2 gb, harganya hanya 5 lari alias sekitar 25rb rupiah.

IMG_20190610_112214

 

Tip Backpacking ke Negara Kaukasus

Negara Kaukasus adalah negara-negara yang berada di jalur Pegunungan Kaukasus, yakni Georgia, Azerbaijan, dan Armenia. Kalau lihat peta dunia, negara ini terletak di antara Laut Tengah dan Laut Caspia, diapit oleh negara Turki, Iran, dan Rusia. 

Apa yang mesti diperhatikan ketika mengunjungi ketiga negara Kaukasus ini?

Kazbegi
Salah satu view dekat Victory Monument, Kazbegi

Negara Kaukasus adalah negara-negara yang berada di jalur Pegunungan Kaukasus, yakni Georgia, Azerbaijan, dan Armenia. Kalau lihat peta dunia, negara ini terletak di antara Laut Tengah dan Laut Caspia, diapit oleh negara Turki, Iran, dan Rusia.

Dulu, ketiga negara ini berada di bawah kekuasaan Republik Uni Soviet. Namun sejak tahun 1990, ketika Uni Soviet runtuh, ketiga negara ini menjadi negara independen yang merdeka.

Saya mengunjungi negara ini di bulan Juni, setelah mengunjungi sepupu saya di Turki. Rute yang saya ambil adalah Istanbul-Baku-Tbilisi, dan kemudian melipir ke Uzbekistan.

Kenapa rutenya begitu? Kenapa ga ke Armenia?

Begini. Tadinya rute saya adalah Istanbul-Georgia via Kars dan Batumi-Tbilisi-Yerevan-Tbilisi-Baku-Istanbul-Jakarta.

Namun saya iseng mengecek tiket dari Istanbul ke Baku yang ternyata harganya hanya sekitar 40 dolar. Saya pun mengubah rute saya: Istanbul-Baku-Tbilisi-Yerevan-Tbilisi-Istanbul.

Tapi ternyata, saya berubah pikiran lagi di akhir-akhir. Saya tak berminat lagi ke Armenia, dan akhirnya melabuhkan minat saya ke Uzbekistan. Galau yaa…

Nah, apa yang mesti diperhatikan ketika mengunjungi ketiga negara Kaukasus ini?

Visa

Untungnya ketiga negara ini memberlakukan e-visa bagi pemegang paspor Indonesia. Dari ketiganya, yang paling gampang dan tak ribet adalah e-visa Azerbaijan.

E-Visa Georgia harus benar-benar memperhatikan foto jika tidak ingin ditolak. Namun bagi pemegang visa Schengen valid, tak perlu visa.

Sementara E-Visa Armenia adalah yang paling sulit karena banyak cerita visanya ditolak.

Baca Juga: Panduan Membuat E-Visa Azerbaijan

Rute

Caucasus_regions_map2
Peta negara Kaukasus

Rute umumnya yang diambil para traveler yang akan ke sini adalah melalui Turki atau Iran. Rutenya biasanya begini: Turki-Georgia-Armenia-Georgia-Azerbaijan-Iran.

Atau sebaliknya.

Mengapa dari Armenia harus kembali lagi ke Georgia padahal berbatasan darat dengan Turki dan Azerbaijan?

Begini. Armenia ini seperti negara kecil yang bermusuhan dengan tetangga-tetangganya. Ia punya sengketa dengan Turki dan juga sampai sekarang masih ada sengketa besar dengan Azerbaijan.

Menurut catatan sejarah, Armenia dan Azerbaijan memperebutkan area Nagorno-Karabakh yang ada di perbatasan kedua negara. Perang untuk memperebutkan daerah itu terjadi bertahun-tahun, dan menimbulkan banyak korban di kedua belah pihak.

Nah, karena inilah dari Azerbaijan tidak bisa langsung menuju Armenia dan sebaliknya. Harus melewati Georgia terlebih dahulu. Dan di imigrasi Azerbaijan, kalau sebelumnya di paspor sudah ada cap Armenia, biasaya akan diinterogasi terlebih dahulu. Akan dilepas sih kalau terbukti tidak mengunjungi Nagorno-Karabakh.

Baca Juga: Tempat Wisata di Baku Azerbaijan yang Cocok Bagi Muslim Traveller

Lewat Darat atau Udara?

Nah, ini juga penting karena menyangkut validasi E-Visa. 

Dari Turki menuju Georgia bisa dilakukan lewat darat, melalui Kars dan Batumi. Begitu juga dari Georgia menuju Armenia, bisa menggunakan bus atau sleeper train. Di kedua tempat ini, menurut pengalaman kawan-kawan saya, e-Visa bisa digunakan tanpa kesulitan yang berarti.

Namun berbeda dengan perbatasan darat Georgia-Azerbaijan. Banyak cerita soal traveler yang ditolak masuk Georgia lewat darat dan juga sebaliknya. Karena menurut imigrasi perbatasan Azerbaijan dan Georgia, e-visa tidak berlaku jika lewat darat. Hanya berlaku jika datang via bandar udara. Padahal di ketentuannya tak ada tulisan begitu lhoo…..

Ada memang kisah traveler yang berhasil setelah ngotot panjang lebar. Kalau saya sih, daripada buang waktu percuma dan ditolak juga dan akhirnya harus balik ke ibukota lagi, lebih baik naik pesawat aja.

Baca Juga: Pengalaman Naik Buta Airways dari Azerbaijan ke Georgia