Menjajal Oppo F11: Foto Oke di Saat Gelap

Kemarin ini, saya diberi kesempatan untuk menjajal seri terbaru Oppo yang baru saja diluncurkan awal bulan April lalu. Oppo F 11 namanya. Seri terbaru Oppo ini punya desain kekinian, dengan water drop screen dan layar LCD 6,53 inch Full HD.  Bentuknya handy, dengan dua pilihan warna yakni Flourite Purple dan Marble Green.

IMG_20190425_163115-01.jpeg

Karena saya doyan moto dibanding main game ataupun oprek-oprek fitur hape, maka yang paling saya lihat dari sebuah handphone adalah kameranya. Secanggih apapun hapenya, sebagus apapun desainnya, kalau kameranya ga bagus ga akan saya lirik. Nah, Oppo F11 ini punya dua kamera yang mumpuni menurut saya. Kamera belakangnya adalah kamera ganda dengan resolusi sebesar 48MP+5MP dan kamera depannya beresolusi 16MP. Dengan pixel sebesar itu, Oppo F 11 ini bisa menghasilkan foto dengan resolusi tinggi. Logikanya kan, makin besar pixel yang dimiliki sebuah kamera, makin besar pula resolusi yang bisa dihasilkan.

Yuk, mari kita lihat hasilnya.

Tajam dan Jernih di Malam Hari

Salah satu keunggulan dari Oppo F11 yang langsung menarik minat saya adalah kemampuannya untuk menangkap gambar yang jernih walaupun dalam kondisi cahaya yang minim sekalipun.

Hal ini disebabkan, Oppo F11 ini punya kamera belakang dengan resolusi 48MP, sensor besar, dan juga bukaan (aperture) f1.79. Dulu pas gegayaan belajar di kelas fotografi, saya dijarin kalau semakin kecil angka aperture-nya, semakin besar cahaya yang bisa masuk ke dalam kamera. Nah, karena Oppo F11 ini punya aperture yang angkanya lumayan kecil, maka saat memoto di malam hari atau di ruangan dengan kondisi minim cahaya, ia bisa memasukkan cahaya yang banyak, sehingga hasil gambarnya nggak gelap.

Untuk melengkapi foto di malam hari, Oppo F11 memiliki scene ultra night mode. Kalau mengintip penjelasan website-nya, scene ini adalah penggabungan dari 7 buah foto dan sistem HDR. Karena menggabungkan beberapa foto ini, waktu untuk mengambil satu buah foto sekitar 4-5 detik. Jadi selama itu, usahakan tangan stabil dan nggak bergerak-gerak ya. Kalau bergerak-gerak, pasti hasilnya agak blur. Lebih bagus lagi kalau bisa pakai tripod kecil biar stabil.

Sebenarnya, dari hasil uji coba saya memoto city scape Jakarta, tanpa ultra night mode pun hasilnya sudah cukup oke, namun dengan mengaktifkan fitur ultra night mode, hasilnya jadi lebih terang dan detail.

IMG20190424182139.jpg IMG20190424201347 Beberapa foto cityscape dengan menggunakan ultra night mode.

Selain ultra night mode, fitur lain yang ada di Oppo F11 ini antara lain dazzle color mode. Warna yang dihasilkan akan lebih vivid, terang dan jernih.


Saya juga mencoba memoto makanan di sebuah restoran yang pencahayaannya temaram. Biasanya, kalau cahayanya minim, saya tambah lampu senter sedikit agar makanannya terang. Namun dengan fitur ultra night mode, foto makanan yang ada cukup jelas.

IMG20190424175239
Tanpa tambahan pencahayaan atau lampu flash, makanan tetap terlihat jelas.

Tak Perlu Susah Setting

Kamera belakang Oppo F11 ini juga dilengkapi dengan AI (artificial intelligence). Jadi kalau saya foto, dia otomatis men-setting kamera sesuai dengan kondisi yang ada.  Ada 23 jenis settingan pemandangan yang ada di AI Oppo F11 ini. Misalnya, ketika saya foto bunga dalam cukup dekat, settingan kameranya langsung berubah menjadi bouquet ataupun macro. Kalau saya foto pemandangan di luar siang hari, otomatis dia berubah menjadi landscape. Enak sih, ga repot.

Oya, ada 4 pilihan aspek ratio yang ada dalam Oppo F11 ini. Kalau mau hasil dengan resolusi maksimal,  terutama untuk makro dan foto malam hari, pilih aspek ratio 4:3 (48 MP).

Oke untuk Foto Makro dan Potrait

Seperti yang sudah saya singgung di atas, Oppo ini punya kamera belakang dengan resolusi sebesar 48MP+5MP.  Nah dengan dual kamera ini, saya coba foto makro alias foto dari jarak dekat. Objeknya bunga di depan rumah yang habis terkena basuhan air hujan. Hasilnya, objek yang dihasilkan cukup tajam, dan kalaupun hasilnya saya zoom, masih ga pecah lho.

Di atas adalah foto dengan menggunakan resolusi 48MP. Sebelah kanannya, adalah hasil crop berkali-kali. Detailnya masih terlihat, kan?

Satu lagi yang diunggulkan oleh OppoF11 adalah fitur potrait yang bisa menghasilkan efek bokeh pada foto potrait, dan tetap bisa jelas walau dalam kondisi minim cahaya. Saya mencoba menggunakannya untuk kamera belakang dan depan. Ternyata, ultra night mode tidak bisa diaktifkan jika menggunakan pilihan potrait. Namun tanpa menggunakan fitur ini pun, hasil fotonya terang, dengan efek blur di bagian belakang.

Ini beberapa hasil foto saya. Kalau dilihat lebih dekat, memang hasil kamera belakang lebih tajam dan jernih karena resolusinya yang lebih tinggi. Namun kamera depan pun sudah cukup baik, terang, dan detail, karena punya resolusi 16MP.

IMG20190424200450.jpg

Tip dari saya, jika menggunakan kamera depan untuk selfie, usahakan agar tidak berdiri membelakangi atau dekat sumber cahaya karena hasilnya akan terlalu terang.

Oiya, kamera depan Oppo F11 ini dilengkapi dengan AI Beauty 2.1 yang bisa mengidentifikasi wajah. Wajah juga bisa tampil lebih oke dengan fitur-fitur untuk mempercantik wajah yang bisa dipilih sesuai kebutuhan. Tapi karena saya lebih suka hasil natural, saya ga pakai fitur ini sama sekali.

Memori Besar, Harga Hemat

Satu lagi yang membuat saya tertarik membawa Oppo ini ketika travelling adalah kapasitas baterai yang cukup besar, yakni sekitar 4.020mAh. Awet dipake seharian jalan-jalan tanpa harus mencari chargeran di sana-sini. Ditambah lagi ada teknologi flash charging yang membuat waktu untuk mengisi daya Oppo F11 ini cukup cepat. Saya mencoba mengisi daya saat kapasitas baterai sisa sekitar 5 persen, dan hanya butuh waktu sekitar 90 menit hingga daya baterai 100 persen penuh.

Keunggulan lainnya dari OppoF11 yang saya suka adalah memori dengan kapasitas besar, yakni 128 GB. Dengan kapasitas segini, saya bisa menginstall banyak aplikasi, game, video, lagu, atau foto-foto yang saya ambil ketika jalan-jalan, tanpa harus membeli memori tambahan. Lumayan kan hemat biaya buat beli memori tambahan.

Dan kabar gembira lainnya, ternyata harganya ga terlalu mahal. Saat ini harga Oppo F11 sekitar 3.999.0000. Pas lah buat di kantong saya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dua Tahun Bersama Asus Zenfone Max

Di pertengahan 2016 lalu, tim Asus memberi saya kesempatan untuk menjajal sebuah ponsel terbaru mereka, Asus Zenfone Max Z010D. Sebenarnya, ada dua pilihan saat itu, Asus Zenfone Max atau Asus Zenfone Selfie. Setelah mempertimbangkan banyak hal, akhirnya saya memilih Asus Zenfone Max saja.

Nah, setelah hampir dua tahun lamanya, ponsel ini masih setia menjadi pendamping saya. Bagaimana pengalaman saya. Sesuaikah dengan klaim mereka?

P_setting_fff_1_90_end_600.png
Sumber: asus

Baterainya Tahan Lama?

Saya nggak ngerti spesifikasi sebuah ponsel karena saya bukan gadget freak. Tapi sewaktu diluncurkan, Asus mengklaim bahwa baterai ponsel ini dapat bertahan hingga 2 hari, tanpa perlu dicharge lagi. Wow wow wow

Itu karena baterai yang digunakan di ponsel ini memiliki kapasitas sebesar 5.000mAH.  Daya tahan inilah yang menyebabkan akhirnya saya memilih ponsel ini dibanding Asus Zenfone Selfie, karena saya memang butuh baterai yang tahan lama saat travelling.

Dua hari ga perlu ngecharge, siapa yang ga mupeng. Ga perlu nyari starbuck buat numpang ngecharge kaan…

Nah, di awal saya menggunakannya, baterainya memang dapat dipakai hingga 2 hari sesuai klaim mereka. Sekarang ini, dua tahun kemudian, daya tahan baterainya berkurang. Baterai milik Asus ini hanya bertahan sehari penuh. Saya perlu menchargenya sehari sekali di malam hari.

Wajar sih, karena saya tipe orang yang sembrono menjaga baterai. Asal banget charge cabut, charge ponsel sampai ketiduran, dan lain sebagainya.

Tapi dari pengalaman saya memakai ponsel lain sebelumnya, dengan kebiasaan yang sama tentunya, baterai ponsel Asus Zenfone Max ini tergolong awet lho. Ponsel lainnya milik saya itu, kalau sudah dua tahun lebih, pasti mesti beli baterai baru.

Jika di jalan dan indikator baterai sudah  berwarna merah pun, saya masih tenang. Tak khawatir. Karena saya masih punya cukup waktu untuk mencari tempat untuk men-charge ponsel saya ini. Masih bisa pesen gojek juga!

Beda dengan teman saya yang pakai ponsel lain. Kalau indikatornya merah, dia langsung panik karena artinya sebentar lagi ponsel akan mati.

04_go_everywhere

Oiya, ponsel ini sebenarnya bisa berfungsi juga sebagai powerbank, yang bisa mengisi daya ponsel lainnya melalui kabel OTG. (Kabel OTG ini disertakan juga di boks). Tapi saya sih jarang pakai fitur ini, sayang ah daya baterai saya diambil orang. Pelit emang…

Ponselnya Tipis Tapi Berat

Sayangnya, karena baterai yang besar ini, bobot ponsel ini jadi cukup berat, hingga mencapai 200 gram. Cukup berat jika dibandingkan dengan Asus Zenfone Selfie atau Asus tipe yang lain. Bobot berat ini menyebabkan tangan saya suka pegal dan gemetar kalau harus selfie terlalu banyak. Tapi karena saya tipe yang tak suka banyak selfie, bobot yang cukup berat ini tak terlalu jadi masalah buat saya.

Baca Juga: Asus Powerbank yang Pas untuk Plesiran

Kamera yang Oke

Walaupun akhirnya saya tak memilih Asus Zenfone Selfie yang punya kamera depan cukup lumayan, namun saya cukup puas dengan kamera pada Asus Zenfone Max ini. Ponsel ini punya kamera depan 5MP dan kamera belakang 13 MP, serta bukaan f/2.0. Oke punya…

Karena kamera yang lumayan ini, saya beberapa kali pergi travelling tanpa bawa kamera mirrorless saya. Cukup bawa ponsel ini aja. Misalnya waktu saya ke Manila sebulan lalu, saya cuma bawa ini dan dompet ke manapun.

Ini beberapa hasil foto saya dengan kamera Zenfone Max (note: foto mentah dan belum diedit).

DSCF7555.JPG
Di malam hari lumayan jelas walaupun agak noise dan blur kalau di-zoom
DSCF1340.JPG
Ini fotonya pake tripod yaa…
P_20161001_084425
Warnanya lumayan kontras

p_20171114_162604-e1543473100911.jpg

 

Sejauh ini saya puas sih pakai Zenfone Max ini, tapi kalau ada handphone Asus yang baterainya tahan lama, kameranya lebih oke dan bobotnya lebih ringan, saya mungkin akan ganti dengan yang itu. Semoga Asus ngeluarin Zenfone Max seri begitu yaa…


SPESIFIKASI ASUS ZENFONE MAX

Body
  • Dimensi : 77.5 x 156 x 10.55 mm / 202 g
  • Warna : Black, White
  • Type :  IPS LCD capacitive touchscreen, 16M colors
  • Size : 5.5 inches 720 x 1280 pixels (~267 ppi pixel density)
  • Type : Corning® Gorilla Glass 4
Memory
  • Card slot : microSD, up to 64 GB (dedicated slot)
  • Internal : 16 GB / 32 GB with 2 GB RAM
Kamera
  • Primary : 13 MP, f/2.0, laser autofocus, dual-LED (dual tone) flash
  • Features :  Geo-tagging, touch focus, face detection, panorama, HDR, Video 1080p@30fps
  • Secondary : 5 MP, f/2.0, Autofocus, Wide View, Pixel Master, HDR
Platform
  • Os : Android OS, v5.0 (Lollipop), planned upgrade to v6.0 (Marshmallow)
  • UI :  ASUS ZenUI 2.0
  • Chipset : Qualcomm MSM8916
  • CPU : Quad-core 1.2 GHz Cortex-A53
  • GPU : Adreno 306
  • Baterai : Non-Removable 5000 mAh Li-Polymer
Fitur Lain
  • SIM : Dual SIM (Micro-SIM, dual stand-by)
  • Internet : 4G LTE Cat4 UL 50 / DL 150 Mbps, HSPA+ 42/5.76 Mbps
  • WLAN : Wi-Fi 802.11 b/g/n, Wi-Fi Direct, hotspot
  • Bluetooth : v4.0, A2DP, EDR
  • GPS : Yes, with A-GPS, GLONASS & BDS
  • Radio : FM radio
  • USB : microUSB v2.0
  • Sensor : Accelerator, E-Compass, Proximity, Ambient Light Sensor, Hall Senso

(Review) Dua Aplikasi Offline Lumia yang Penting Saat Travelling

Gara-gara seorang kawan saya memakai Nokia Lumia ini ketika kami bertandang ke India, saya jadi jatuh cinta pada merek ini. Saya meminjam hp adik saya, nokia lumia 520, untuk saya bawa selama trip di Eropa kemarin ini. Ada dua aplikasi andalan saya di Nokia Lumia 520 ini yakni Nokia Here dan Translator. Nokia Here adalah aplikasi bawaan yang sudah tertanam di semua hp nokia, sementara translator saya download dari store-nya microsoft.

Nokia Here  

nokia

Map buatan nokia ini benar-benar cocok buat traveler yang tak punya akses internet dan hanya mengandalkan jaringan wifi, seperti saya. Aplikasi bawaan ini memungkinkan saya membaca peta, mencari arah secara offline, tanpa perlu jaringan internet. Yang harus saya lakukan adalah mendownload peta wilayah yang saya tuju ketika masih berada di Indonesia. Misalnya, trip saya kali ini melewati Amsterdam, Brussel, Paris, Luzern, dan Milan. Maka saat di Indonesia, saya sudah download peta di tempat-tempat itu. Begitu sampai di tujuan, saya tinggal matikan jaringan internet, atau gunakan flight mode, lalu tinggal jalankan aplikasi ini. Nokia here secara otomatis akan membaca di mana saya berada. Ada titik hijau yang menandakan lokasi saya dan akan bergerak sesuai dengan arah gerak saya.

Nokia here ini bisa juga menavigasi saya menuju tempat yang saya cari. Caranya sama dengan maps lain, tinggal search tempat yang dituju, lalu klik tombol directon, dan secara otomatis dia akan mengarahkan saya ke sana. Sayangnya, tak semua jenis moda transportasil terbaca olehnya. Di Eropa sini, yang terbaca hanyalah jaringan kereta, tram, ataupun metro. Sementara bus, yang beberapa kali sempat jadi pilihan saya, tak bisa terbaca.

Nokia here juga bisa menandai tempat tujuan, bahkan sebelum saya sampai ke negara tersebut. Caranya, tinggal search, setelah ketemu saya tinggal mengklik tombol bintang yang ada di bagian bawah, dan tempat itu pun tertandai dengan logo bintang. Dengan begini, saya tak perlu repot mencari lagi lokasi-lokasi yang saya ingin datangi.

Kenapa bisa secanggih ini? Menurut yang saya baca dari internet, hal ini dimungkinkan karena nokia lumia 520 ini punya 2 jenis gps, yakni A-GPS dan A-Glonass. A GPS adalah GPS buatan Amerika yang punya 31 satelit di dunia, sementara Glonass adalah GPS buatan Rusia yang entah punya berapa satelit. Jika di satu lokasi A-GPS tak terbaca, maka secara otomatis A Glonass akan mengganti kekosongan itu.

Aplikasi ini sebenarnya sudah ada di Playstore dan bisa didownload di Android. Saya sudah melakukannya. Namun ia tak bekerja dengan baik di hp LG Prolite milik saya. Mungkin karena hp saya ini tak punya GPS secanggih lumia, atau mungkin juga karena aplikasi ini memang lebih cocok untuk handphone berbasis microsoft. Entahlah, saya tak mengerti soal itu.

Translator

DSCF8060

Satu lagi aplikasi andalan saya ketika berpergian ke beberapa negara Eropa kemarin adalah Translator. Aplikasi ini bisa menerjemahkan kata-kata dalam bahasa asing ke dalam bahasa lain, sesuai keinginan kita. Lagi-lagi, bisa digunakan secara offline, asal sudah mendownload kamus bahasa yang diinginkan sebelumnya. Karena belum ada bahasa Indonesia, maka saya hanya mendownload bahasa Perancis dan Italia. Bahasa Inggris sudah otomatis ada di aplikasinya.

Cara pakainya gampang. Ada 3 pilihan cara transalasi, melalui suara, tulisan, atau kamera. Jika pilih jenis suara, maka aplikasi ini akan mendengarkan suara yang ditangkap, lalu menerjemahkannya ke bahasa yang diinginkan. Sayangnya, jika orang yang diajak bicara terlalu cepat atau pelafalanya tak jelas, si translator ini akan kesulitan menerjemahkannya.

Jenis lainnya adalah tulisan. Tinggal tulis, lalu si translator akan membaca tulisan tersebut dan menerjemahkannya. Saya tak sempat mencoba jenis ini karena menurut saya repot kalau saya mesti menulis kembali tulisan yang ada di depan saya. Dibaca saja susah, apalagi tulisan itu mesti saya tulis ulang. Tapi ini bisa berguna sekali kalau kita mau bertanya ke orang lain. Tinggal ketik kalimatnya, lterjemahkan, dan unjukkan kepada orang tersebut.

Jenis terakhir, yang beberapa kali saya pakai adalah translate melalui kamera. Kalau ada kata-kata aneh, tingga arahkan kamera hp ke sana, dan fitur ini akan otomatis membaca dan menerjemahkan kata-kata tersebut.

Selain dua aplikasi ini, ada beberapa aplikasi android lain yang kerap saya pakai ketika travelling. Saya share lain kali yaa…

Tulisan ini telah dimuat di Infokomputer.com http://www.infokomputer.com/2015/10/fitur/dua-aplikasi-offline-yang-penting-untuk-traveling/

(Review) Asus ZenPower 10050mAh, Power Bank yang Pas untuk Pelesiran

IMG-20150613-WA0048

Apa yang selalu kamu bawa saat travelling, selain uang, tiket, dan baju? Saya yakin hampir semua menjawab handphone. Yap, saya juga akan menjawab hal yang sama. Gadget yang satu ini memang barang yang harus dan wajid dibawa saat saya berpergian. Pasalnya, di hp saya menaruh banyak hal yang saya perlukan selama travelling. Ada e-ticket, ada itenerary selama perjalanan, ada info-info yang biasanya sudah saya cari sebelum jalan. Dan banyak hal lainnya.

Handphone juga menjadi “penghubung” saya dengan yang lain. Saya punya 6 grup whatsapp yang bukan main aktifnya, yang rasanya tak ingin saya tinggalkan saking senangnya saya melihat candaan di sana. Kalau tak saya baca sehari saja, rasanya saya jadi orang paling ketinggalan berita. Handphone pastinya juga jadi alat narsis saya. Sampai di suatu tujuan, check-in dan posting di path. Lihat tempat bagus, foto, posting di path.

Nah, saking seringnya saya digunakan, baterai handphone saya sering drop. Dalam sehari, saya mesti mencharge-nya. Bahkan terkadang, saya mesti men-charge-nya sampai dua kali. Kebayang kan susahnya? Itulah sebabnya, di samping handphone, saya juga selalu membawa power bank. Tujuannya satu, agar hanphone saya tetap bisa dipakai walaupun tak ada tempat untuk men-charge.

Power bank yang saya punya dayanya cuma 5.000mAh. Hanya bisa saya gunakan untuk sekali saja mencharge hp saya. Sudah lumayan sih, tapi rasanya kurang besar. Untung, saya diberi kesempatan untuk mencoba menggunakan Asus ZenPower yang dayanya dua kali lipat dari daya power bank saya sebelumnya 100050mAh. Saya gunakan ini selama kurang lebih 1 bulan, dan ini hasil yang saya rasakan.

Ukurannya Kecil

Asus mengklaim, Zen Power ini adalah powerbank berukuran kartu kredit. Tadinya saya pikir, ukurannya setipis kartu kredit betulan dan bisa dimasukkan ke dalam dompet saya. Ternyata, hanya dimensi atasnya saja yang besarnya sama dengan kartu kredit saya. Walau begitu, produk ini memang cukup kecil jika dibandingkan dengan powerbank merek lain berdaya 10500mAh, milik teman saya.

20150710_134217
Sebelah kiri powerbank punya teman saya, yang kanan Asus.

Bentuknya yang kecil ini membuat saya bisa memasukkannya ke dompet kantong kesayangan saya, dompet yang saya beli di Turki dan selalu ada di tas saya. Atau, saat di jalan, saya bisa taruh dia di kantong samping kiri tas selempang Kipiling saya.

Tapi sayangnya, kabel data yang diberikan terlalu pendek. Susah kalau saya sedang menggunakan hp saya dan powerbank-nya harus saya letakkan di kantong tas. Jadi, saya mesti menggantinya dengan kabel data milik saya yang lebih panjang.

20150608_113450
Kabel data-nya terlalu kecil bagi saya.

Ringan di Tangan, Ringan di Kantong

IMG-20150708-WA0008
Muat di kantong ajaib yang selalu saya bawa ke mana-mana.

Selain bentuknya kecil, Asus ZenPower 10050mAh ini terasa ringan. Saya pernah meminjam powerbank teman saya tadi. Uhh, beratnya. Bikin malas membawanya. Nah, Asus ZenPower 10050mAh walaupun tak setipis yang saya bayangkan, dia cukup ringan. Di buku petunjuk yang ada di kardus, katanya beratnya hanya 215gram. Ini beratnya sama lho dengan berat 1 batang coklat silverqueen. Bisa banget dibawa ke mana-mana D

Oiya, satu lagi, Harga Asus ZenPower 10050mAh harganya rata-rata. Saya cari-cari di internet, harganya hanya 270 ribu rupiah. Tak jauh beda dengan harga powerbank merek lain dengan daya yang sama.

Tak Panas

IMG-20150613-WA0045
Tak panas meski dipegang. Sayangnya, kabel data yang diberikan pendek. Jadi mesti ganti dengan kabel data milik saya.

IMG-20150708-WA0005

Ini yang juga penting buat saya. Saat handphone saya gunakan, saya suka memegang powerbank di tangan saya, entah di bawah handphone atau di tangan yang lainnya. Kalau ditanya kenapa, saya juga bingung menjawabnya. Enak aja…

Tapi biasanya, tak bertahan lama karena powerbank-nya panas. Nah, Asus ZenPower 10050mAh ini tak mengeluarkan panas sehingga nyaman di tangan saya. Handphone saya pun tak ikutan panas.

Desain Oke

Ini mungkin tak penting bagi orang lain, tapi bagi saya, ini jadi poin tambahan. Desainnya Asus ZenPower 10050mAh ini elegan. Saya memang tipe orang yang simpel, tak suka desain yang aneh-aneh, Nah, Asus ZenPower 10050mAh ini desainnya sangat simpel, warnanya (yang saya punya) pas dengan selera saya: cokelat keemasan. Tapi buat yang tak suka cokelat, Asus ZenPower 10050mAh punya banyak warna lain, ada warna hitam, abu-abu, hijau tosca, dan pink. Tapi kalau diminta milih, selain cokelat, saya maunya warna hitam. Kece…

Asus ZenPower 10050mAh ini memiliki lapisan scratch protection. Saya beberapa kali mencoba meletakkan Asus tanpa perlindungan kantong ajaib saya, berada di antara benda-benda di tas saya seperti uang koin, ID card, pensil. Hasilnya, memang tak ada goresan. Tapi, sayangnya, dia tak tahan kotor. Coretan pensil yang ada tak bisa saya hapus. Bagian sampingnya, yang berwarna putih, lebih rentan lagi terhadap kotor.

Dua Kali Charge

Saya mencoba menggunakan Asus ZenPower 10050mAh untuk handphone saya LG Pro yang punya baterai dengan kapasitas 3000mAh. Saat saya gunakan terus menerus (menerima whatsapp, foto-foto, posting di path, dan browsing), powerbank ini hanya bisa men-charge handphone saya hingga penuh sebanyak 1,5 kali. Namun jika dalam posisi standby (hanya digunakan untuk menerima whatsapp), ia bisa mengisi daya baterai saya hingga full sebanyak dua kali. Karena daya yang keluar cukup besar (2,4A) baterai saya hanya perlu diisi kurang lebih 2 jam (dalam keadaan standby).

Asus ZenPower 10050mAh harus di-charge kurang lebih 8 jam (untuk pertama kali) dan 6 jam untuk selanjutnya. Tapi syaratnya, harus menggunakan charger dengan power di atas 2A. Kalau pakai charger handphone biasa, enggak penuh-penuh!

Oya, power bank ini diklaim bisa mengisi tablet dengan kapasitas baterai 5.000mA. Sayangnya tak bisa saya coba karena tablet yang saya miliki berkapasitas 7.000mA.

Hanya Bisa Satu Handphone

Selain kabel data yang terlalu pendek, kekurangan lainnya, Asus ZenPower 10050mAh hanya punya satu USB socket. Kalau powerbank milik teman saya tadi, seperti halnya kebanyakan power bank lainnya, punya dua USB socket sehingga bisa mengisi daya dua handphone sekaligus. Sebenarnya buat saya, ini tak jadi masalah, karena toh saya hanya punya satu handphone.

Sepertinya power bank ini akan jadi andalan saya ke depan. Kecuali, saya menemukan power bank yang lebih tipis dengan harga yang tak terlalu mahal.

Gimana dengan kamu?