Backpacking ke Hallstatt, The Most Beautiful Village in Austria

Begitu kereta dari Salzburg memasuki wilayah Bad Goisern, mata saya langsung tertumbu pada sebuah danau dengan pergunungan penuh pohon cemara di belakangnya. Di ujung-ujung cemara itu samar-samar terlihat bekas salju sisa musim dingin sebelumnya. Dan di seberang danau itulah terdapat desa yang sangat ingin saya datangi: Hallstatt.

Begitu kereta dari Salzburg memasuki wilayah Bad Goisern, mata saya langsung tertumbu pada sebuah danau dengan pergunungan penuh pohon cemara di belakangnya. Di ujung-ujung cemara itu samar-samar terlihat bekas salju sisa musim dingin sebelumnya. Dan di seberang danau itulah terdapat desa yang sangat ingin saya datangi: Hallstatt.

DSCF4772

Kereta berhenti sebentar di sebuah stasiun kecil, memberikan cukup waktu untuk semua penumpangnya turun. Puluhan turis yang kebanyakan datang bersama keluarga dan pasangannya turun bergegas, menuju ferry yang akan membawa kami menyebrang danau Hallstätter See, menuju Hallstatt.  Saya menutup kancing coat merah musim semi saya. Udara dingin yang sedari kemaren sudah menyergap saya, makin terasa dingin. Udara di Eropa saat itu memang sedang anomali. Walaupun sudah di ujung musim semi, suhu udara kembali turun drastis. Salju pun turun beberapa kali.


Dari atas perahu, sudah terlihat bangunan-bangunan cantik di tepi danau bergaya Baroque, yang merupakan hasil rekontruksi bangunan asli yang pernah terbakar habis di tahun 1750. Konon, bangunan asli di desa yang terletak di wilayah Salzkammergut, Upper Austria ini seluruhnya terbuat dari kayu dan merupakan permukiman milik para penambang garam yang kaya raya. Memang, menurut sejarah, sejak 5.000 tahun sebelum masehi di era Iron Age, Hallstatt merupakan lokasi tambang garam yang cukup besar dan terkenal. Itu sebabnya, desa ini dinamakan Hallstatt, yang dalam Bahasa Celtic berarti “lokasi garam”.

Lokasi tambang garam purbakala ini kemudian dijadikan objek wisata yang dapat dikunjungi selama berada di Hallstatt.  Tur menusuri lokasi penambangan ini dibuka setiap hari mulai pukul 9.30 pagi hingga 16.30. Tur selama empat jam ini dikenai biaya 30 euro untuk dewasa dan 15 euro untuk tiket anak-anak usia 4 hingga 15 tahun. Tiket sudah termasuk fasilitas kereta kabel menuju lokasi pada ketinggian 838 meter. Dalam perjalanannya, kereta kabel akan melewati rel pipa Brine yang didaulat sebagai rel pipa tertua di dunia. Sayangnya ketika saya di sana, pertambangan ini ditutup karena tiba-tiba cuaca di Hallstatt memburuk. Hujan salju yang seharusnya sudah menghilang di bulan April, kembali datang.

Baca juga: Backpacker ke Eropa: Lihat Tulip Gratis di Desa Lisse Belanda

Sebenarnya, kalau bisa mengunjungi Hallstatt salt mine, saya bisa sekalian menjejakkan kaki di panoramic bridge yang letaknya tak terlalu jauh dari salt mine. Dari deck besi yang berada ketinggian 900m di atas permukaan laut ini, katanya tersaji pemandangan desa Hallstatt di tengah-tengah hamparan danau, diapit deretan gunung Alpen. Hiks…

Untunglah, sebelum badai salju mendera, saya sempat menikmati desa yang oleh Tripadvisor dinobatkan sebagai 10 desa tercantik di dunia ini. Untung juga saya memutuskan bermalam di sini, yang walaupun cukup menguras kantong, tak saya sesali.


Market Square, semacam alun-alun kecil yang dikelilingi oleh bangunan-bangunan cantik yang dicat dengan warna-warna lembut, adalah tujuan pertama saya, Dulunya, bangunan tersebut adalah tempat tinggal para penduduk, namun kini semuanya telah disulap menjadi kafé, restoran, penginapan, dan toko-toko souvenir yang cozy dan homy. Biasanya menjelang Natal, Market Square ini akan makin indah dengan pohon cemara besar, hiasan-hiasan Natal yang meriah, serta Christmas bazaar yang menyajikan produk dan makanan khas Hallstatt. Tengah kota Hallstatt ini tak boleh dilalui mobil, sehingga nyaman dijelajahi dengan berjalan kaki.

DSCF4782.JPG
Market Square
DSCF4836-x.jpg
Perkuburan para penambang garam di Catholic Church

Setelah Market Square, saya bergerak naik ke Catholic Church of Hallstatt, sebuah gereja bergaya Roman yang didirikan pada tahun 1811. Gereja ini menjadi terkenal karena di sebelahnya terletak Charnell House, sebuah kapel yang berisi 610 tengkorak yang dilukis dengan nama pemilik, keluarga, kata-kata atau gambar-gambar. Budaya melukis tengkorak ini merupakan budaya yang jamak ditemukan di daerah pegunungan Alpen pada abad 18, dan Hallstatt termasuk salah satu tempat penyimpanan tengkorak terbanyak. Konon, hal ini dilakukan karena tak ada lagi tempat cukup untuk pemakaman sehingga kemudian, makam yang ada dibongkar, tengkorak yang ada dikeringkan dan kemudian dilukis dengan tangan.

Berpisah dengan kawan baru saya dari Amerika, saya membiarkan kaki saya melangkah tanpa arah, menjelajahi setiap sudut Hallstatt, menaiki tangga-tangga yang menghubungkan satu rumah dengan lainnya, dan menyelusup di antara permukiman di tanah berkontur yang hampir seluruhnya sudah berubah menjadi penginapan-penginapan mahal. Lalu berjalan di tepian danau, sekejap melihat keindahan rumah tepi danau dan Church of Christ, sebelum kabut dan badai salju datang dan menutupi desa indah ini.

hallstatt 1.jpg
Jika ingin menikmati setiap jengkal Hallstatt, menginaplah.

Saya kembali ke penginapan, sebuah penginapan indah yang mengingatkan saya pada cerita di novel Poirot kegemaran saya. Kursi-kursi antik khas Eropa, lukisan, karpet tebal, dan sebuah piano menghiasi lorong menuju kamar saya.

DSCF4916.JPG
Badai Salju di Hallstatt

Sayang, badai salju tak kunjung menghilang hingga esok siang membuat saya harus berdiam diri di dalam kamar sambil menyesap teh hangat yang dibuatkan oleh sang pelayan di restoran bawah.

Walaupun singkat, Hallstatt menyisakan ingatan indah tentang keindahan sebuah danau indah di dunia.


How to get there:

  • Dari Salzburg Station naik kereta tujuan Attnang Puchheim,  lalu menyambung ke Hallstatt railway station, dan menyebrang ke Hallstatt dengan ferry.
  • Bisa juga menggunakan bus 150 dari Salzburg Station menuju Bad Ischl. Lalu berganti bus 542 ke Gosau dan kemudian berganti bus 543. Berbeda dengan naik kereta, bus akan berhenti di stasiun bus di sisi kiri Hallstatt (tidak perlu naik ferry lagi)
  • Untuk mendapatkan pemandangan berbeda, saran saya, gunakan dua moda ini. Saya pergi dengan menggunakan kereta, lalu pulang dengan bus.

Tulisan ini telah dimuat di Majalah Home Living Edisi April 2018

Backpackeran ke Eropa: Persiapan

Selain membuat itenerary hampir jadi (beberapa hotel baru saya booking di sana), ini persiapan saya dan Mama ketika backpacker ke Eropa tahun lalu.

1. Heat tech Uniqlo
Suhu udara di Eropa di bulan September akhir berkisar 10-17 derajat, bahkan di Swiss suhunya 8 derajat Celcius. Selain membekali diri dengan coat, saya membawa kaos dan legging heat tech uniqlo. Tak sehangat memakai long jhon, tapi paling tidak dia lebih tipis dan nyaman dipakai.

2. Rendang, abon, ikan teri, dan beras!
Walaupun di Eropa tak sulit mencari makanan halal, untuk jaga-jaga saya kami membawa lauk. Tapi karena mama termasuk orang yang susah makan makanan non nasi, alhasil, selain lauk kami mesti membawa bekal beras dan rice cooker. Yang saya bawa ini pinjaman dari tante saya. Selain bisa untuk menanak nasi, panci ini bisa dipakai buat merebus telor, indomi, sekaligus memasak air hangat. Multifungsi deh…

3. Ransel dan koper
Sebelum berangkat, saya sempat menanyakan kondisi stasiun di tempat yang akan saya datangi, apakah akan mudah membawa koper. Ternyata, rata-rata stasiun di Paris tidak memiliki lift sehingga akhirnya saya memutuskan membawa keril andalan saya: deuter lite SL 35+10. Mama dan Tante, yang akhirnya ikutan, tetap membawa koper. Keputusan yang tepat, karena dengan membawa keril, saya bisa sekaligus membawa koper Mama saya. Bisa sambil lari pula..

Dua minggu perjalanan, saya hanya membawa 3 celana panjang, 2 heat tech legging, 2 heat tech turtle neck, 8 baju atasan, 2 baju tidur, coat, kaos kaki, sarung tangan, dan pakaian dalam. Saya sengaja menyewa apartemen agar bisa mencuci baju sehingga bawaan saya tidak terlalu berat.

London, A Very Lucky Trip

Minggu kemaren, saya baru aja balik dari London. Ya……london oy.

Tapi kali ini, saya pergi bukan dengan biaya sendiri, melainkan dibayarin!! Jadi ceritanya, saya dan Keshie–travelmate saya–main game di Facebook yang diadakan oleh Tune Hotel. Hadiah utamanya (buat pemenang pertama dan kedua) adalah jalan-jalan ke 3 hari 3 malam ke London plus menonton pertandingan liga Inggris. Tentu aja, incaran utama saya adalah jalan-jalannya, bukan nonton bolanya :D.

Singkat cerita, setelah perjuangan tanpa henti, saya nggak berhasil mendapatkan hadiah utama itu. Saya hanya berhasil menduduki posisi ketiga dan dapat hadiah menginap di Bali. Tapi tak saya sangka-sangka, dua minggu sebelum hari H pihak Tune Hotel Indonesia menghubungi saya. Mereka bilang, pemenang pertama mengundurkan diri sehingga sebagai pemenang ketiga, saya yang berhak berangkat ke London. Cihuyy!!

Dalam waktu kurang dari 2 minggu, saya mesti menyiapkan segala keperluan ke sana. Visa, tiket Jkt-KL bukan termasuk bagian yang diurus mereka. Mereka hanya menyiapkan tiket dari KL-London, sehingga saya mesti menyiapkan dana dan upaya sendiri. Mepet!

Apalagi urusan visa Inggris, yang konon merupakan visa yang paling sulit didapat di dataran Eropa.

Buat tau cerita soal apply visa ini, baca link ini ya..

Tip Agar Tak Jetlag (14 Jam di Airasia X)

Perjalanan KL-London memakan waktu lebih dari 13 jam. Gila, lama banget ya.. Ini sebenernnya bukan perjalanan jarak jauh pertama gue. Gue pernah terbang 10 jam dari Singapura menuju Istanbul. Tapi, waktu itu kan naiknya bukan low budget airline macam Airasia ini. Kursinya lebar-lebar, ada Tv yang dilengkapi film2 dan musik terbaru, ada makanan setiap beberapa jam. Lah, ini kan airasia. Kursinya sama aja ama kursi pesawat jarak dekat, dengan jarak antar kursi ga terlalu jauh. (Untung kaki gue ga sepanjang bule2 itu ya..)

Ditambah lagi, ga ada TV dan hiburan satupun. Makanan dan minuman juga mesti bayar, mahal pula. Sebenernya gue udah mempersiapkan diri untuk ini. Gue bawa dua buku tebel, bawa Ipod touch biar bisa maen game. Tapi apa daya, Ipod gue baterenya abis dan gue ga punya chargeran. Jadilah ipod itu hanya memberatkan tas gue saja 😛

Di sana sebenernya disediain penyewaan alat semacam Ipad seharga 35 RM (kalau ga salah inget). Tapi isinya ga terlalu banyak, hanya ada 2 film, lagu2 dan beberapa game. Lumayan juga sih karena dapat dipakai penuh selama 14 jam (dan bisa gantian pula ama temen sebelah :p).

Oiya, untuk perjalanan jauh seperti itu, ada hal-hal yang sebaiknya dilakukan (disarikan dari tulisan di majalahnya airasia). Cekidot guys..
– Minum air putih sebanyak-banyaknya. Walaupun nggak merasa haus, ketinggian dan perbedaan tekanan udara di pesawat bikin kita kekurangan cairan. Jadi sebaiknya selama penerbangan, minumlah air putih atau jus sebanyak-banyaknya, jangan minum kopi, teh apalagi alkohol.
– Sesekali lakukan stereching ringan, untuk mencegah otot kita kaku. Caranya lutut ke arah bangku, tahan beberapa detik.
– Kalau kondisi pesawat stabil, jalan-jalan lah di lorong. Kalau gue sih jalan-jalan sambil menuju kamar mandi. Maksudnya, gue sengaja pilih wc yang di ujung, biar gue jalannya rada jauh.
– Biar ga jetleg, tidur sebanyak-banyaknya saat perjalanan dari barat menuju timur. Dan sebaliknya, usahakan tidur sedikit saat perjalanan dari timur menuju ke barat. Ga tau apa alasannya de, yang jelas ini gue praktekkan sangat2…

Tune Hotel Westminster

double-newwindow-tv

Hadiah gue termasuk menginap 4 malam di Tune Hotel Westminster, London. Letak hotel ini strategis banget, cuma butuh waktu 2 menit ke stasiun Northen Lamb, salah satu stasiun tube dan butuh 10 menit berjalan kaki menuju Big Ben. Bus-bus yang lewat sini juga lumayan banyak, yang gue inget sih ada 143 dan RV 1.

Karena menang hadiah, gue dapetin semua fasilitas yang ada di sana. Fasilitas standarnya kan kamar tidur plus AC. Nah, gue dibukain semua fasiltas tambahan sperti internet (WiFi), toiletris, TV, dan hairdrayer. Sayangnya semua itu ga kepake, kecuali toiletris. Nonton TV ga sempet, apalagi hairdryer-an.

tune1
Foto: architectsnetwork.co.uk

Di bawah tune hotel ada cafe Costa yang buka 24 jam. Sayangnya, sampe gue pulang, gue lom sempet nyobain itu cafe, padahal kata Novy (salah satu pemenang dari Indo), rasa coklat panasnya lumayan enak. Di seberang tune ada supermarket, yang ternyata harganya lebih murah dari semua supermarket yang sempet gue datengin di London. Dan ada restoran halal (namanya gue lupa…tapi ada kata2 “chicken” gitu deh). Gue dan kc baru tahu ada restoran ini…. 2 jam sebelum pulang. Haha…padahal selama ini bingung mo makan di mana. Emang deh, gajah di pelupuk mata selalu tak tampak..

Restoran ini menyajikan fastfood seperti burger ayam, burger daging, frenchfries, kebab, spagetti dsb. Yang jelas, makanannya halal karena yang masak orang Arab (menjamin ga sih)..Ohya, yang pasti pelayannya ramah banget dan GANTENGGG !!! Hehehe..pengen gue bawa pulang buat oleh2..

(Mereka) Nyasar di London

Airasia mendarat bukan di Heathrow, melainkan si Stansed yang jaraknya kira-kira 1,5 jam perjalanan dari kota London. Nah, sebenernya si KC udah mencari tahu mesti naek apa ke Tune Hotel, berdasarkan petunjuk yang diberikan di web. Di situ tertulis kita mesti naek airprot bus nomer A6, turun di Victoria dan lanjut dengan Tube waterloo. Dia juga udah ngeprint peta bus, dan gue jg udah ambil peta kota London di bandara.

Tapi salah satu rekan kita dari negeri jiran ngotot mau turun di Bakerstreet. Bener sih dia, karena Bakerstreet dan Northern Lamb (stasiun yang deket ama tune hotel) itu ada dalam satu jalur. Namun masalahnya, saat itu waktu udah menunjukkan pukul 01.00 dan semua tube udah tutup dari sejam yang lalu. Gue dan KC ngotot turun di victoria aja, dengan pertimbangan, kalaupun tube udah tutup, naik taksi atau bus akan lebih dekat dari situ ketimbang dari Bakerstreet. Namun saat kami sedang memastikan dan menanyakan hal ini ama warga lokal yang duduk di belakang kami, tiba-tiba mereka semua turun. Sebagai bentuk solidaritas, gue dan kc juga ikutan turun. Dan bener aja, tube udah tutup. Untung masih ada night bus nomer 143.

Nah, cerita terus berlanjut. Gue dan kc duduk di bagian depan, yang lainnya di bagian belakang bus. Karena udah baca peta sejak masih di pesawat, gue rada ngeh soal lokasi tepat Tune Hotel. Gue dan kc pun turun di halte bus yang ga jauh dari situ (walaupun sempet kelewatan 1 halte). Tapi, ketika kami menengok ke belakang, yang lainnya ternyata sudah turun duluan. Hahaha…ternyata mereka menuruti ajakan si orang jiran itu, dan turun 3 halte sebelum tujuan. Dan seteleh nyasar ngalor ngidul, mereka memutuskan naik taksi ke tune hotel. Tau berapa lama beda waktu antara kedatangan kami dengan mereka? Hanya 1 jam lebih!!

Angkutan di London

BUs

Banyak yang menanyakan ke saya soal angkutan dan transportasi di London. Memang, London merupakan kota dengan transportasi yang lebih rumit dibandingkan dengan Singapura, ataupun Hongkong.

Transportasi utamanya adalah tube underground, kereta bawah tanah sejenis MRT. Tube ini memiliki 13 line, di antaranya bakerloo, central, district, circle. Ribet emang..tapi kalau udah pernah ngerasain ribetnya naek busway, yang ini jadi terasa lebih gampang…hahaha..

Nah, kalau mau naik tube, yang pertama harus diliat adalah kita mau naik dan berenti di stasiun mana. Kalau udah tau, lihat line-nya (ditandai dengan warna yang berbeda), dan cek apakah stasiun awal dan akhir kita itu ada dalam satu line. Kalau beda, cari stasiun mana kita mesti ganti line.

Misalnya nih, gue naik tube dari Northern Lamb mau menuju Victoria. Nah, northern lamb itu adanya di jalur coklat (bakerloo line) sementara victoria ada di jalur kuning dan hijau (circle dan distict). Nah, untuk mencapai jalur kuning itu, gue mesti tuker kereta di embankment.

Bukan itu aja. Perhatiin juga ada platform mana kereta kita. Caranya, setiap abis bayar karcis, akan ada peta beberapa peta. Cek aja, stasiun kita ada di peta yang mana, yang artinya ke arah situlah kita mesti bergerak. Setelah itu, jangan buru-buru naik kereta karena dalam satu platform bisa ada beberapa kereta yang lewat. Cek ujung dari line kereta yang kita ingin naiki, lalu baca di papan, kereta itu akan tiba kapan. Tujuan akhir kereta itu juga akan terpampang di kereta.

Ribet ya? Nah, kalau mau lebih gampang tapi lebih lama, naik bus aja. Ada peta busnya, dan petunjuknya di tiap halte. Tapi kalau mau lebih gampang lagi, tanya orang aja..hehehe..

Oiya, kalau dalam sehari akan naik banyak tube dan bus, beli aja daypass seharga €6,6. just info aja, sekali jalan harga tube bisa mencapai €3-4. Mending beli daypass kan, bisa naek berkali-kali tanpa ribet.

Peta bus dan tube bisa dicek di sini http://www.tfl.gov.uk/gettingaround/14091.aspx

Fulham Stadium Tour

Salah satu agenda yang dijadwalkan untuk gue dan kawan-kawan adalah kunjungan ke Craven Cottage, markas besar Fulham. Dari hotel, kami mesti naik tube ke arah Wimbeldeon dan dilanjutkan dengan jalan kaki kira-kira 15 menit. Untung Aaron, manager tune hotel, menemani kami. Perjalanan jadi ga berasa jauh.. 😛 (soalnya dia imut banget).

Kunjungan kami diawali dengan tur mengelilingi Fulham. Diawali dengan penjelasan mengenai sejarah Fulham, yang ternyata adalah klub tertua di London. Menurut si guide–yang katanya anak mantan pemain Fulham–klub ini udah berdiri sejak tahun 1907 (kalo gue ga salah denger nih). Awalnya, klub ini adalah klub dari sekolah minggu di Fulham, dan berkembang besar hingga jadi seperti sekarang ini.

Craven Cottage yang gue kunjungi ini ternyata ga terlalu besar..Ya, gedenya ga jauh beda dengan lapangan Lebak Bulus deh. Katanya guide, tadinya craven cottage ga sebagus ini. Karena ingin masuk ke Liga Premier Inggris, maka akhirnya dilakukan renovasi besar-besaran. Lapangan diperbagus, kapasitas kursi ditambah hingga bisa menampung 20.700 orang (hahaha…gue inget bener angka ini ya). Tapi, katanya si guide lagi, si arsitek mempertahankan beberapa hal untuk mengingat bentuk Craven Cottage di masa lalu. Misalnya aja, bangku kayu di tribun barat.

Setelah penjelasan panjang lebar, kami semua diajak meninjau lapangan, melihat ruang ganti pemain, balkon khusus untuk keluarga pemain, ruang tiket dan ruang wawancara. Lo tau kan, abis pertandingan si pelatih biasanya diwawancara dengan latar belakang tempelan-tempelan sponsor gitu kan?  Ternyata, ruangan untuk merekam itu super duper kecil, palingan luasnya hanya 6 m2. (kamera emang bisa nipu).

Setelah puas muter-muter dan moto-moto, gue diajak masuk ke dalam ruangan tempat diadakannya jamuan-jamuan dan acara. Di sanalah gue dkk diajak menikmati makan siang. Hahaha…banyak banget makanannya, tapi gue cuman makan yang vegetarian (hehe…biar aman). Setelah kenyang, baru deh diajak serius, dengerin presentasi dari wasit-wasit di Inggris. Temanya “mengapa wasit harus fit”. Gue berasa lagi di acara press conference dah, apalagi abis itu gue dibagiin goodie bag yang isinya topi, shower gel, dan boneka billy (maskotnya Fulham).

Oiya, gue dan kawan-kawan juga diliput ama stasiun TV Inggris. Hehehe…tapi kayaknya kagak ditayangin di TV, soale bahasa Inggris kita semua kaco balo 😛

Berkeliling London (hari 1)

Pemenang enggak mendapatkan fasiltas tur, jadi di sana gue dan keshie mesti berkeliling sendirian. Enak juga sih, gue lebih bebas memilih tempat-tempat yang pengen gue datengi, bisa naek transportasi umum, dsb.

Sebenarnya, gue dan teman sudah membuat jadwal kasar selama 3 hari berada di London. Jadwal yang lumayan padat, mengingat waktu gue di sana sangat singkat. Tapi ternyata, ada acara dari TuneHotel—yang gue enggak tau sebelumnya—yakni tur ke markas Fulham, ketemu wasit terbaik Inggris, dan makan siang di sana. Acara ini berlangsung dari jam 11-2 siang, lumayan lama juga.Alhasil, jadwal yang udah kami buat mesti diubah total. Akhirnya kami mutusin, go with the wind blow aja deh, rencanain mau ke mana semalem sebelumnya aja.

Biar dapet banyak objek, di hari pertama kami merelakan diri keluar pagi-pagi buta. Di luar masih sepi banget, yang lewat hanya tukang-tukang pembersih jalanan yang heran ngeliat kita yang nekat keluar sepagi itu. Dan suhu di luar di pagi itu ternyata masih 13 derajat. Dingiin…

Karena masih pagi, kami memutuskan untuk mengunjungi objek yang bisa diliat dari luar aja, dan yang letaknya enggak jauh dari hotel (karena mesti kembali lagi ke hotel sebelum jam 11). Dari hotel, gue bergerak menuju Westminster Bridge Road, yang hanya selemparan galah dari hotel. Berlanjut ke Big Ben, menara jam yang termahsyur itu. Tadinya gue pikir, big ben itu sangat-sangat besar. Tapi ternyata, enggak sebesar yang gue pikir (walaupun tetep gede kalo dibandingin jam gadang).

Dari situ, gue berbelok ke arah House of Parliament, gedung yang menyatu dengan Big Ben. Di seberang gedung ini terdapat Westminster Abbey, gereja yang jadi tempat misa pemakaman Diana dan misa pernikahan William-Kate. Gereja bergaya Gothic ini sebenernya bisa dimasuki, tapi berhubung lom buka, gue cuman bisa foto di depannya aja.

Setelah puas berfoto-foto di depan Westminster Abbey, gue bergerak menuju Trafalgar Square. Waktu dulu, gue pernah baca buku yang judulnya Rendevous di Trafalgar Square, yang isinya menceritakan pertemuan dia dan mantan pacarnya di plaza itu. Penulis buku itu menggambarkan Trafalgar Square sebagai tempat yang sering dijadikan tempat nongkrong masyarakat Inggris dan titik pertemuan yang besar dan indah, penuh dengan burung-burung merpati. Cerita si penulis bikin gue membayangkan tempat ini seperti plaza-plaza di Italia (yang pernah gue liat di majalah). Tapi ternyata, Trafalgar Square hanya plaza kecil yang biasa aja. Plaza ini lantainya dilapisi beton, di tengah plaza ada air mancur dan sebuah tugu. Itu aja. Katanya sih, di sini akan rame kalau ada pertujukan atau demonstrasi..

Oiya, di dekat Trafalgar Square ada sebuah museum namanya National Gallery Museum. Sebenernya gue pengen masuk ke sini, tapi berhubung waktunya mepet, gue urungkan niat itu.

Dari Trafalgar Square, gue melangkah tanpa tujuan, mengikuti kaki dan mata aja. Kalo terlihat ada yang bagus, gue belok ke situ. Tapi susahnya, setiap sudut kota London bagus banget. Jadi kadang-kadang gue bingung mesti belok ke sini atau ke situ, karena sama-sama terlihat menarik. Akhirnya, ikutin intuisi aja.

Intuisi ini membawa gue ke sebuah taman besar, St. James Park. London emang kota taman, banyak \banget taman di sini. Di setiap pengkolan, pasti ada taman, baik taman besar ataupun taman kecil. St. James Park ini termasuk taman besar. Di tengahnya ada danau dan pulau kecil yang dinamakan Duck Island. Karena masih pagi, sedikit banget orang yang gue temui di sini, hanya beberapa pekerja kantor yang dateng kepagian, dan sekelompok tentara yang lagi latihan. Gue dan keshie sempet duduk-duduk sebentar di sini, sambil menikmati sandwich Tasco yang udah dibeli sebelumnya. Pengennya sih lama, tapi dinginnya itu loh, ga tahaan.

St. James Park ini bertetangga dengan Clearance House, tempat tinggal William dan Harry, dan istana Buckingham. Jadi gue menyempatkan diri mampir di kedua tempat ini sebelum balik ke hotel dan berkeliling Fulham.

Sebenernya, setiap hari jam 11 di Buckingham Palace ada guard changing ceremony alias upacara pergantian prajurit kerajaan. Tapi lagi-lagi, gue mesti mengejar banyak hal di tempat lain, sehingga dengan sangat terpaksa, gue melewatkan acara itu.

Belanja Sampe Gempor di London

Saat di markasnya Fulham, gue ketemuan Ibu Ita, kontributor Antara untuk Eropa. Si Ibu baik hati ini dengan gagahnya ngajak kita jalan-jalan, dan belanja-belanji. Dimulai dari Harrods, pusat perbelanjaan punyanya Al Fayed. Just remember aja, anaknya AL Feyed ini, si Dodi Al Fayed, mati kebunuh bareng Diana di terowongan di Paris. Nah, buat mengenang mereka, di lantai basement ada monumen Dodi-Diana.

Harrods ini gede banget ya, dan lengkaap banget. Tapi yang menarik minat gue cuman area maenan. Ya…gue pernah liat area ini di tipi pas acara Natal dan gue pengen banget ada di sana. Areanya ga terlalu gede, tapi dipenuhi berbagai boneka, permen, dan mainan. Lucu banget, tapi sayangnya harganya mahil! Akhirnya gue beli celengan bentuk bus tingkat dan kotak pos, yang di dalemnya ada coklat dan permennya. Gue beli ini karena ada promosi buy 2 get 1 more.. Hehe..lumayan, 15 ponds dapet 3. Masih mahal sih, tapi ga ada yang lebih murah 😛

Dari situ, gue diajak Ibu Ita mengunjungi Mark&Spancer. Kalau di sini M&S ini merek elit yang harganya mahal, di sana merek ini harganya paling murah, terutama makanan dan kosmetiknya. Parfum yang di sini harganya bisa 200 rebu, di sana gue beli hanya dengan harga 5 pond aja. Shower gel, body lotion, roll on dijual hanya 1 pond alias 14 rebu!! Gue sebenernya pengen banget beli banyak, tapi mengingat bagasi AA hanya 15 kg, dengan berat hati gue menaruhnya kembali di rak.

Selain kosmetik, di sana juga ada supermarket, yang jual biskuit-biskuit berlabel Mark&Spancer. Murah-murah oy, nggak sampe 1 pond per buahnya. Dengan panduan bu Ita, gue beli biskuit marie (yang ternyata enak banget), coklat, Scottish bread, dan beberapa biskuit lainnya. Hehe…karena biskuit2 ini, berat koper gue bertambah 4 kg!

Gue sempet mengunjungi beberapa pusat belanja di London yang keren abiss…

PORTOBELLO ROAD

Menurut gue, ini tempat belanja yang paling keren di London. Portobello Road adalah nama jalan di Nothing Hill. Di jalan yang panjaaang itu, berderet toko-toko dan stand-stand yang menjual aneka benda lucu. Ada sovenir, baju, tas, roti, kerajinan tangan, barang pajangan rumah, kamera bekas, dan banyak banget barang lucu lainnya. Beda dengan covent garden dan oxford, di sini nggak ada barang bermerek, lebih banyak barang kerajinan dan benda-benda bekas, yang menurut gue, lebih bagus dan oke. Harganya? Ga tau…karena gue emang nggak niat beli apapun di sini, sehingga gue ga nanya-nanya. Takut kaget ama harganya:P

Selain barang yang lucu dan toko yang didesain menarik, di sini banyak banget pertunjukan jalanan. Ada penyanyi solo, orang yang pura-pura jadi patung, orang yang pake baju gladiator, dan macem-macem. Menghibur banget..

Oiya, sebelum masuk ke jalan ini, gue sempet beli sovenir di sebuah toko milik orang India (yang gue ga inget nama tokonya). Di sini, gue beli tempelan kulkas seharga 5 pound/ 4 buah. Lebih murah dari di oxford road yang katanya satu tempelan kulkasnya dihargai 2-3 pound (katanya, gue nggak beli di sono soale).
Saran gue, ke sinilah.Dijamin, ga nyesel…

PS: stand-standnya hanya ada di hari Sabtu, kalau tokonya sih  buka setiap hari.
Getting There: Naik tube turun di Nothing Hill Gate, keluar langsung belok kanan.

COVENT GARDEN
Awalnya gue pikir ini adalah nama sebuah taman, karena ada embel-embel “garden” di belakangnya. ternyata, ini adalah nama pasar di London.

Bangunan utama covent garden beratap setengah lingkaran, mengingatkan gue pada atap stasiun kota. Di bawah bangunan ini berderet toko-toko yang menjual aneka kerajinan. Di tengah-tengah pasar, terdapat semacam foodcourt yang menjual aneka makanan yang tampaknya menggiurkan. Tadinya, gue pengen makan di sini, tapi setelah keliling-keliling, gue nggak menemukan makanan yang halal. So, bye-bye..

Di sekeliling covent garden banyak terdapat toko-toko kosmetik dan baju bermerek. Ada juga pertunjukkan jalanan, mirip-mirip di portobello road gitu. Asyik sebenernya berkeliling di sini, tapi karena waktu mepet-pet, gue cuma sebentar banget di sini.

Di covent garden, gue beli EDT Bodyshop. Gue emang udah pake produk ini dari dulu, makanya pas liat tokonya gue langsung niat beli. Ternyata, harganya murah oy. EDT yang biasa gue beli dengan harga 159 rebu, di sana dengan harga segitu gue bisa dapet 2. Ditambah lagi, ada wangi Vanilla, yang selama ini udah menghilang di Indonesia.

Getting There
: naik tube turun di Covent Garden, begitu keluar dari stasiun langsung keliatan deretan toko. jalan terus kalau ingin menuju bangunan utama.

OXFORD STREET
Ini merupakan pusat perbelanjaan paling terkenal di London. Dan terbesar, dan tersibuk juga… Jalan Oxford ini panjaaang banget, dan di kanan kirinya berjejer toko-toko yang menjual merk-merek dunia, walaupun ada beberapa toko yang menjual souvenir. Walaupun gue ke sini, tapi gue nggak terlalu suka. Bangunan dan suasananya bagus, tapi kurang hangat dan ramah..

PS: di sini ada arsenal store, jadi yang ga sempet ke emirates stadion, bisa beli jersey arsenal di sini. Kata temen gue yang beli, harganya ga beda kok. Di sini ada Primark, departemen store punya orang India yang jual baju-baju yang murah-murah.

Getting there: karena tempat ini panjaaang banget, bisa keluar beberapa stasiun antara lain Bond St., Marble Arch, Oxford Circus, dan Totenham. Kalau mau di tengah-tengah pilih stasiun Oxford Circus aja..