Pengalaman Naik Buta Airways dari Azerbaijan ke Georgia

Buta Airways

Dari Baku Azerbaijan, saya menuju Tbilisi, Goergia. Awalnya saya akan naik kereta malam alias sleeper train. Mau merasakan naik kereta ala Rusia yang legendaris. Saya sudah pernah mencoba naik sleeper train di India, tapi rasanya pasti akan berbeda jauh. 

Namun banyak cerita soal traveler yang ditolak masuk Georgia lewat darat, karena menurut imigrasi perbatasan Azerbaijan dan Georgia, e-visa tidak berlaku jika lewat darat, hanya berlaku jika datang via bandar udara. Padahal di ketentuannya tak ada tulisan begitu. Ada memang kisah traveler yang berhasil setelah ngotot panjang lebar. Kalau saya sih, daripada buang waktu percuma dan ditolak juga dan akhirnya harus balik ke Baku lagi, saya memutuskan naik pesawat aja.

Saya naik Buta Airways, LCC-nya Azerbaijan Airways. Harganya murah, tak sampai 40 dolar plus beli bagasi 10kg dengan harga 15 dolar. Tak ada jatah kabin, saya hanya boleh bawa satu tas kecil, atau tas kamera, atau tas laptop. Kalau mau bawa lebih dari itu, mesti bayar bagasi kabin yang anehnya lebih mahal daripada beli bagasi.

Peraturannya memang agak beda deh dengan yang lain.

Baca Juga: Di Bandara India, Saya Mesti Buka Payung!


Sewaktu dari Istanbul ke Baku, saya juga menggunakan maskapai ini. Selain bagasi, saya bawa tas daypack saya. Kecil, isinya cuma kamera dan kosmetik.

Tas itu lolos, saya tak diminta bayar. Orang di depan dan belakang saya pun lolos.

Berkaca pada pengalaman itu, saya jadi pede. Saat akan check in di Baku, saya membawa hal yang sama, plus tambahan kabel charger untuk hape dan kamera dan kaos kaki. Di tangan saya yang lainnya ada plastik berisi roti yang akan saya makan selama menunggu. Saya belum sempat sarapan, karena harus berangkat ke bandara pagi-pagi.

Baca Juga: Tempat Wisata di Baku Azerbaijan yang Cocok Bagi Muslim Traveller

Ternyata, tas itu tak lolos. Saya mesti bayar tambahan. Saat saya protes, kenapa orang sebelum saya lolos padahal tasnya besar dan dia tak bayar tas kabin, mereka bilang karena itu tas laptop. Tas laptop dan tas kamera, walaupun besar, diperbolehkan.

“So, if I change this bag with camera bag, i dont have to pay anything?”

Si petugas yang bahasa inggrisnya pas-pas-pasan mengangguk. Akhirnya saya menepi ke pojokan, saya buka tas kamera saya dan saya jejalkan semuanya ke dalam tas kamera. Kabel saya taruh di kantong jaket saya.

Ketika saya kembali ke konter check in, petugasnya berganti. Rupanya sudah jadwalnya ganti petugas.

Ulang lagi dah ngomong dari awal, pikir saya. Untungnya tas kamera saya dinyatakan lolos, saya ga perlu bayar tambahan.

Tapi masalah belum kelar.

You still cant bring two bags” kata si petugas baru sambil nunjuk plastik makanan saya.

But its only breads. I will finish all before flying. Youre gonna see me eating this at that chair.” Saya menunjuk deretan kursi setelah konter x ray dan imigrasi.

Terminal 2 Heydar Airport Baku memang sangat kecil. Lebih kecil dari bandara Halim. Isinya hanya beberapa konter check in, satu mesin xray, dua konter imigrasi, dan beberapa toko. Saking kecilnya, dari konter check in bisa keliatan gate untuk masuk ke pesawat. 

Mereka berikeras. Si plastik kresek dianggap tas tambahan. Akhirnya, saya melipir lagi ke pojok, duduk ngelongsor di lantai sambil roti saya. Ga mau rugi!!!

PS: Di luar peraturan itu, Buta Airways sebenarnya cukup oke. Pesawatnya lumayan dan saya dapat salami sandwich plus air minum selama penerbangan.

images (33)

Tempat Wisata di Baku Azerbaijan yang Cocok Bagi Muslim Traveller

Saya tak pernah sadar dengan negara di tepi Laut Caspia bernama Azerbaijan. Saya baru melek tentang negara ini ketika bertemu rekan traveler di Shiraz, Iran. Saat itu ia menceritakan bahwa ia akan menuju Baku, Azerbaijan.

Saya pun segera gugling soal negara yang termasuk di dalam jalur Pegunungan Kaukasus  ini. Dari hasil gugling, saya menemukan sejarah Azerbaijan yang ternyata cukup panjang. Sejarah panjang itu membuat Azerbaijan memiliki paduan unik antara budaya silk road yang kental dengan Islam  dengan budaya Rusia.

Baca Juga: Panduan Membuat E-Visa Azerbaijan

Ada beberapa daerah dan kota yang menarik buat dikunjungi. Ada Skehi, kota yang dulu sering diinapi para pedagang jalur sutera. Ada juga desa-desa di lembah pegunungan Kaukasus dengan pemandangan yang indah. Namun karena keterbatasan waktu, saya hanya bisa mengunjungi ibukotanya saja: Baku.

Baku adalah kota besar seperti Jakarta. Wisata yang ditawarkannya seputar wisata kota. Dua hari full sudah lebih dari cukup untuk menjelajahi semua tempat wisata di Baku ini.

Heydar Aliyev Centre

DSCF8192-x

Heydar Aliyev Centre ini adalah kompleks seluas 57.000 meter persegi. Arsiteknya adalah Zaha Hadid, arsitek favorit saya yang membangun Dongdaemun Plaza di Seoul Korea. Konon, bentuk gedung ini mengikuti pola tanda tangan Heydar Aliyev.

Di depan gedung Heydar Aliyev ini terdapat tulisan “I Love Baku” dan sebuah lapangan luas. Kalau cuaca sedang sejuk dan tak dingin juga, lapangan ini sering dijadikan tempat piknik warga Baku.

Baku Boulevard

2019_0624_04215600-01

Baku Boulevard ini sudah ada sejak seratus tahun lalu, diawali saat para orang kaya saudagar minyak di Azerbaijan mendirikan villanya di tepi Laut Caspia.

Lama kelamaan boulevard-nya bertambah panjang hingga sekarang membentang sejauh 26km. Di tepian Baku Boulevard ini berderet hotel, restoran mewah, mal, taman hiburan, hingga gedung pertunjukan.

Boulevard ini terbagi menjadi dua, yakni Boulevard lama dan Boulevard baru atau yang sering juga disebut dengan nama Yani Boulevard. Di Boulevard yang baru, bisa naik sepeda yang bisa disewa seharga 2 manat per jam.

Lebih lengkapnya baca: Solo Backpacking ke Azerbaijan: Menikmati Laut Caspia di Baku Boulevard

Baku Old City

DSCF8118.jpg
Pintu masuk Palace of the Shirvanshahs

Old city atau dikenal juga dengan nama Ichari Shahar ini adalah kawasan kota tua di Baku yang konon menjadi dasar terbentuknya kota Baku di zaman dulu kala.

Di sana terdapat banyak cafe dan restoran, serta hotel-hotel yang cukup mahal. Jika ingin merasakan hal yang berbeda dari Baku, saran saya, berlama-lama lah di sini.

Di dalam kawasan Old City ini terdapat Palace of the Shirvanshahs and Maiden Tower. Saya sebenarnya berniat masuk ke Palace tapi entah kenapa hari itu antriannya panjaang sekali hingga akhirnya saya mengurungkan niat saya ke sana.

Akhirnya, saya hanya berputar-putar di kawasan Old City, melihat sudut-sudut kota lama Baku yang telah mendapat titel sebagai warisan cagar dunia versi UNESCO.

Baku Furnicular

DSCF8084.JPG

Baku Furnicular atau dalam bahasa Azeri Bakı funikulyoru adalah furnikular yang menghubungkan area on Neftchilar Avenue and Highland Park di atas bukit.

Di area ini terdapat banyak objek yang bisa dilihat antara lain Martyrs’ Lane (Martyrs’ Alley) yakni memorial lane yang dibangun untuk mengenang para pejuang yang gugur dalam perang dengan Armenia memperebutkan kawasan Nagorno-Karabakh.

Kedua negara ini masih bermusuhan hingga sekarang. Itu sebabnya, pantang membicarakan Armenia di Azerbaijan dan sebaliknya. Dan walaupun berbatasan, orang tak bisa masuk ke Armenia dari Azerbaijan dan sebaliknya. Dan jika berkunjung ke Azerbaijan dan di paspor ada stamp Armenia, dipastikan akan ketemu imigrasi lebih lama dibanding yang lain. 😀

Selain Martyrs’ Alley, dari bukit sini saya dapat melihat Baku Boulevard dan juga melihat Flame Tower dari lebih dekat.

Baca Juga: Azerbaijan: Negara Mayoritas Muslim yang Tak Islami

Solo Backpacking ke Azerbaijan: Menikmati Laut Caspia di Baku Boulevard

Caspian Sea.

Begitu denger nama ini, saya langsung inget film “Narnia: Prince Caspian”. Makanya, begitu sampai Baku, Azerbaijan, saya langsung minta Syahriyar, warga Baku kawan couchsurfing saya untuk mengantar saya meliat Caspian Sea. 

Syahriyar mengajak saya ke dua tempat untuk menikmati Caspian Sea ini.
Yang pertama terletak di pusat kota Baku, di sepanjang Baku Boulevard. Katanya siih, Baku Boulevard ini udah ada sejak seratus tahun lalu, diawali saat para orang kaya saudagar minyak di Azerbaijan mendirikan villanya di tepi Laut Caspia. Lama kelamaan boulevard-nya bertambah panjang hingga sekarang membentang sejauh 26km.
Di tepian Baku Boulevard ini berderet hotel, restoran mewah, mal, taman hiburan, hingga gedung pertunjukan

Caspian Sea.

Begitu denger nama ini, saya langsung inget film “Narnia: Prince Caspian”. Makanya, begitu sampai Baku, Azerbaijan, saya langsung minta Syahriyar, warga Baku kawan couchsurfing saya untuk mengantar saya melihat Caspian Sea.

Kalau mengintip literatur, Caspian Sea ini sebenarnya bukan laut, tapi sebuah danau besar yang dikelilingi daratan. Namun karena ukurannya sangat luas, melebihi luas Jepang, danau ini akhirnya disebut “sea”. Selain Azerbaijan, Caspian Sea ini melingkupi beberapa negara antara lain Iran, Kazahktan, Rusia dan Turkmenistan.

Dua Tempat untuk Menikmati Laut Caspia

Syahriyar mengajak saya ke dua tempat untuk menikmati Caspian Sea ini. Yang pertama terletak di pusat kota Baku, di sepanjang Baku Boulevard. Katanya siih, Baku Boulevard ini udah ada sejak seratus tahun lalu, diawali saat para orang kaya saudagar minyak di Azerbaijan mendirikan villanya di tepi Laut Caspia.

Lama kelamaan boulevard-nya bertambah panjang hingga sekarang membentang sejauh 26km. Di tepian Baku Boulevard ini berderet hotel, restoran mewah, mal, taman hiburan, hingga gedung pertunjukan.

2019_0624_04231700-01
Old Boulevard. Di sebelah kanan itu, yang seperti bunga adalah gedung utama saat F1 berlangsung. Balapannya sendiri diadakan di jalan raya.

Boulevard ini terbagi menjadi dua, yakni Boulevard lama dan Boulevard baru atau yang sering juga disebut dengan nama Yani Boulevard. Saya nggak paham mana batas antara yang lama dan yang baru, tapi menurut Syahriar, bisa dilihat dari betonnya. Yang baru, beton penutup trotoarnya lebih baru. Ya iyalah…

Boulevard lama (Old Boulevard) mirip Ancol versi bersih. Di sini ada trotoar lebar yang enak buat jalan-jalan, kalau nggak panas. Yaa, Baku di bulan Juni ternyata lumayan panas. Bikin pipi merah. Karena itu, waktu yang pas untuk ke Boulevard ya pas sore menjelang magrib. Di saat itu, dari Boulevard saya bisa menikmati sunset atau jalan-jalan cuci mata sambil liat Flame Tower yang menyala dari kejauhan.

2019_0624_04215600-01
Old Boulevard. Di kejauhan itu adalah Flame Tower, ikon Baku.
2019_0624_04222900-01.jpeg
Salah satu objek wisata di Baku Old Boulevard. Saya diajak naik ini, saya menolak dengan belagu dan bilang  “dah naik yang beneran di Venezia.” Padahal, ga ada duit buat bayarnyaa….:((

Nongkrong di Cafe atau Naik Sepeda?

Cara lain menikmati sore di Baku Bouelevard adalah sambil duduk-duduk menyesap teh di cafe mahal yang bertebaran di sana. Tapi bagi yang dananya pas-pasan seperti saya, alternatif terbaik adalah duduk-duduk di undakan sambil makan roti bekal yang saya beli di supermarket. Itu aja udah bikin saya bahagia.

Ke Ancol yang kotor, bawa bekal nasi uduk dan menggelar tikar sendiri aja saya dah senang, apalagi di pinggir Caspian Sea begini. Kan bisa bikin status di IG: “menikmati sore di pinggir Caspian Sea”

Sementara di Boulevard yang baru, selain betonnya lebih baru, pohonnya lebih sedikit. Alhasil, panasnya lebih mencekam.

Nah daripada saya melipir terus nyari bayangan pohon, Syahriar mengajak saya naik sepeda. Sepeda ini bisa disewa di sana dengan harga 2 manat atau setara dengan 19.000 rupiah per jam.

2019_0624_04253600-01.jpeg
New (Yeni) Boulevard

Baca Juga: Tempat Wisata di Baku Azerbaijan yang Cocok Bagi Muslim Traveller


Diajak ke Pantai Naik Angkot

Esoknya, saya diajak ke Bilgah Beach, untuk melihat sisi lain Caspian Sea. Public beach ini lokasinya sekitar 1 jam dari Baku. Jauh. Saya mesti naik angkutan umum (berupa bus) dari terminal yang saya lupa namanya. Ongkosnya sangat murah, hanya 1 manat alias 8.500 rupiah untuk perjalanan selama 1 jam.

Tak ada tiket untuk masuk sini, hanya saja saya mesti bayar 10 manat untuk sewa tempat duduk sepuasnya. Pantainya tak istimewa, jelas lebih istimewa pantai di Indonesia. Makanya, saya ga  terlalu antusias di sini.

Sementara si host CS saya berenang bolak-balik, saya cuma jalan-jalan di pinggiran pantai dan menghabiskan waktu lalu duduk-duduk  di bawah payung, sambil melihat cewek-cewek Azerbaijan berbikini dan cowok-cowok brewokan mondar-mandir.

Ya, walaupun Azerbaijan adalah negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam, nuansa Islam di sini amat tidak terasa.

Oya, walau udara di sana saat itu 30 derajat, dan pasirnya panasnya minta ampun, airnya dingin ternyata. Dan ga asin lho!

DSCF8241.JPG
Bilgah Beach di pinggiran kota Baku

Azerbaijan: Negara Mayoritas Muslim yang Tak Islami

“They think you are from Kazan,” kata Syahriar, teman couchsurfing yang menemani saya selama di Azerbaijan, setelah beberapa warga lokal penasaran dan menyapa Syahriar dalam bahasa Azeri.

Ya, kebanyakan warga Baku yang bertemu saya di Baku Boulevard sore itu mengira saya dari daerah muslim di timur Rusia itu.

Sore itu saya memang diajak Syahriar jalan-jalan di Baku Boulevard, sebuah tempat di tepian Laut Kaspia sambil memandangi Flame Tower di kejauhan. Lumayan banyak orang berlalu-lalang sore itu, termasuk beberapa orang pasangan yang duduk di undakan pendek dari beton. 

Why?” saya bertanya balik, sambil ikutan duduk di undakan. Ge-eR karena disamakan dengan gadis Rusia yang cantiknya luar biasa.

Because your face does not look like Arabic but you are wearing that. Azeri not wearing that,” kata dia lagi sambil menunjuk ke jilbab saya. 

Baru kali ini mereka benar. Biasanya, saat traveling saya sering disangka berasal dari Arab karena memakai jilbab. Padahal hidung saya pesek begini.

2019_0624_04215600-01
Salah satu sudut Baku Boulevard

Baca Juga: Can You Speak Arabic?


Sejarah Azerbaijan: Dari Arab Hingga Uni Soviet

Pembicaraan singkat itu membuat saya penasaran dengan sejarah Islam di Azerbaijan. Ternyata pada abad ke 7-8, kekaisaran Arab sudah menguasai Azerbaijan, meletakkan dasar Islam di negeri pecahan Rusia ini. Baru kemudian pada abad ke-11, Azerbaijan dikuasai kerajaan Selcuk dari Turki.

Penguasaan Turki boleh dibilang paling berpengaruh terhadap budaya dan bahasa Azerbaijani masa kini. Hingga kini, Azeri (begini penduduk Azerbaijan menyebut diri mereka) masih menggunakan bahasa yang berasal dari rumpun bahasa Turkish. 

Turkic Language, begitu sebutan rumpun bahasa ini.  Beberapa kosa kata sama dengan kosa kata Turki, walau banyak juga yang berbeda. Mirip lah seperti Bahasa Indonesia dan Malaysia yang berasal dari rumpun bahasa Melayu. 

Baca Juga: Tempat Wisata di Baku Azerbaijan yang Cocok Bagi Muslim Traveller

Setelah lepas dari penguasaan Turki, Azerbaijan sempat berada di bawah pengaruh Timur Lenk dari Uzbekistan dan juga kerajaan Iran. Barulah di tahun 1840, Uni Soviet menginvasi negara ini dan menjadikan Azerbaijan negara bagiannya hingga keruntuhan Uni Soviet di tahun 1990-an. Sejak itu, Azerbaijan menjadi negara kaya yang merdeka.

Perjalanan Islam yang panjang di sini membuat fondasi Islam di Azerbaijan sebenarnya cukup kuat. Apalagi menurut data dari Aljazeera.com, 93 persen penduduk Azerbaijan memeluk agama Islam.  Tapi itu cuma di atas kertas. Kehidupan islami tak terasa sama sekali di sini. Paling tidak itu yang saya rasakan selama 3 hari berada ibukota Azerbaijan, Baku.

Seperti yang Syahriar katakan, jarang ada penduduk Azerbaijan yang berhijab. Bahkan ia tak tahu istilah hijab. Ia hanya menunjuk ke kepala saya, sambil berkata “your head cover.”


Masjidnya Tutup!

Menurut artikel dari Al Mesbar, salah satu komunitas Islam di Azerbaijan, pengaruh sekuler Soviet masih sangat terasa di sini walau sudah lebih baik dari dulu. Ketika di bawah kekuasaan Uni Soviet, masjid-masjid dihancurkan, hanya ada 13 masjid yang tersisa. Sekarang di Azerbaijan ada 3.500 masjid, yang dibangun pasca Azerbaijan merdeka dari Uni Soviet sekitar tahun 1990-an.

Namun ketika saya minta diantar solat ashar di masjid, Syahriar tampak bingung dan akhirnya mengajak saya ke salah satu masjid bergaya Turki di kawasan yang dekat dengan Flame Tower. Sayangnya masjid berwarna cokelat yang bernama Mosque of The Martyrs yang dibangun oleh pemerintah Turki itu tak dibuka, padahal masih masuk jam salat. Ketika saya tanya, dia malah tak tau jadwal salat kapan saja dan azan itu seperti apa.

I heard that voice sometimes, and I heard it also in Turkey. Its same voice, ” katanya soal azan. Saat saya cerita kalau azan itu sama di seluruh dunia termasuk di Indonesia, dia agak kaget. Wajar saja kalau Syahriar jarang mendengar azan, rumahnya jauh dari masjid dan menurut peraturan tak tertulis di Azerbaijan, azan hanya boleh terdengar dengan radius maksimal 1km. 

DSCF8059.JPG
Masjid yang ada dekat Flame Tower. Ditutup saat saya mau solat di sana.

Ada Bir di Mana-Mana

Do you drink beer?” tanya Syahriar ketika kami makan Borscht, sup tomat khas Ukraina di sebuah warung kecil di dekat 28 May Street. Warung kecil yang mirip dengan warung ayam geprek dekat rumah saya. Di area 28 May ini memang banyak terdapat restoran, mulai dari resto mahal hingga warung sederhana seperti yang kami datangi.

Saya langsung menggeleng, menolak tawarannya. Syahriar, yang tak enak hati dengan saya, akhirnya mengurungkan niatnya minum bir dan menggantinya dengan air putih. Rupanya benar, di menu ada beberapa jenis bir. Mengingatkan saya dengan warung-warung makan di Bali yang sering menjajakan bir. 

Di kota Baku, bir dijual bebas di mana-mana, termasuk di warung-warung makan pinggir jalan. Mereka tau muslim tak boleh minum bir,  namun mereka tampaknya sudah terbiasa dengan minuman itu. Kabarnya, mereka punya pabrik bir yang lumayan terkenal, Xindalan, dan juga pabrik wine besar di daerah pedesaan di utara Azerbaijan.

Halal food bukan sesuatu yang penting bagi mereka, meskipun menurut Syahriar, mereka tak  mengkonsumsi barang haram seperti babi dan sebagainya. Tiga hari di sini, saya bolak balik ke supermarket dan tak menemukan makanan dengan label halal. Namun dari yang saya baca di salah satu situs berita, semua daging yang ada di sini mesti melewati standardisasi halal. Jadi saya tak perlu khawatir makan di sana.

Cara berpakaian mereka juga sangat kebarat-baratan. Kehidupan Rusia memang masih sangat terasa di negara Kaukasus itu. Balet, opera, dan anak-anak yang berseliweran untuk kursus biola jamak ditemukan di mana-mana.

Di hari kedua di sana, saya diajak Syahriar ke sebuah pantai di tepian Laut Kaspia. Warga lokal memenuhi tempat wisata itu. Saya agak terkejut karena semuanya memakai bikini, dan menurut kawan saya, itu hal yang wajar saja di sana.

DSCF8223.JPG

Busana sehari-hari Azeri

DSCF8229.JPG
Sudut lain Baku

Saya pikir, ini karena negara ini terlalu lama dikuasai Uni Soviet sehingga sulit melepaskan diri dari pengaruh sekularisme. Namun ketika saya berkunjung ke Uzbekistan, yang sama-sama pecahan Uni Soviet, saya merasakan atmosfer yang berbeda. Nuansa Islam lebih kental terasa di sana. 

Namun saya hanya ada di sana selama tiga hari, belum bisa melihat kehidupan sebenarnya di sana. Mungkin saja, hanya Syahriar yang terlalu sekuler, tak mengerti agama. Atau mungkin, kebanyakan dari mereka memang tak mau mencampurkan urusan agama dengan kehidupan sehari-hari.

Seperti yang Ali Hasanov (Deputi Presiden Azerbaijan Bidang Politik, Publik, dan Media) katakan kepada detik.com sewaktu wartawan mereka berkunjung ke Azerbaijan tahun 2018 lalu, “Kami muslim. Tapi kalau kami puasa, salat, pergi ibadah, semua untuk kami. Seikhlasnya untuk kami sendiri. Kami tak mau perlihatkan pada orang lain.”

Baca Juga: Solo Backpacking ke Azerbaijan: Menikmati Laut Caspia di Baku Boulevard

Solo Backpakcing ke Azerbaijan: Ditolak Cewek Ukraina di Penginapan

Pesawat Buta Airways yang saya naiki dari  Istanbul mendarat di Heydar Aliyev Airport, bandara utama kota Baku, Azerbaijan. Semua penumpang, kecuali saya, bertepuk tangan.

Rupanya tepuk tangan itu adalah bentuk apresiasi terhadap pilot yang telah berhasil mendaratkan pesawat dengan selamat. Saya beberapa kali mengalami hal ini di Jordan, Mesir, dan Iran. Tapi tepukan tangan di sini paling kencang.

Begitu turun,  saya langsung takjub, ternyata bandaranya besaar dan modern. Tak seperti bayangan saya soal Azerbaijan, negeri yang baru saya dengar setahun yang lalu saat berkunjung ke Iran.

Saya pikir, negeri ini hanyalah negeri pecahan Rusia yang miskin.

IMG_20190607_133441

Imigrasi saya lalui dengan mudah. Tak ada pertanyaan, mereka hanya melihat e-visa saya, lalu langsung menstamp paspor saya di halaman belakang. Yaa, entah kenapa beberapa negara suka memulai stamp dari halaman belakang. Kamboja, UAE, Oman,  salah satunya. Kalau negara Arab, saya mahfum. Karena mereka menulis juga dari kanan. Nah kalau Azerbaijan, bahasanya kan Rusia campur Turki….


Cuma Sebelas Ribu

Keluar dari airport, saya mencari bus menuju kota. Airport Express Bus namanya. Warnanya merah, letaknya tak jauh dari pintu kedatangan. Tujuan akhir Baku Airport Express Bus ini adalah 28 May di pusat  kota, yang tak  jauh  dari hostel saya. Shyahriar, kawan couchsurfing saya, sudah menunggu saya di sana.

Untuk menaiki bus ini, saya mesti membeli Baki Card. Ada dua jenis Baki Card yakni single trip dan multitrip. Single trip, sesuai namanya, cuma dipakai sekali jalan. Sementara multitrip, bisa diisi ulang.

BakiCard ini bisa dipakai untuk membayar berbagai macam transportasi (termasuk subway dan bus) dan juga bisa dipakai untuk membayar di supermarket.

Kawan saya sebenarnya sudah menyuruh saya membeli multitrip card,  agar tak repot beli setiap naik bus. Tapi saya salah pencet, jadi beli single trip. Tak terlalu mahal sih. Single trip dari airport menuju Baku hanya sebesar 1.3 manat alias sekitar 11 ribu rupiah. Murah untuk perjalanan sekitar 40 menit.

IMG_20190607_161808
BakiCard
IMG_20190607_183918
mesin isi ulang BakiCard

Ternyata Kaya

Sepanjang perjalanan menuju kota, saya lagi-lagi dibuat takjub. Baku ternyata sangat kaya. Di sepanjang jalan terlihat bangunan-bangunan megah nan modern. Salah satunya adalah Heydar Aliyev Center, sebuah gedung pertunjukan yang dirancang oleh arsitek favorit saya: Zaha Hadid.

Heydar Aliyev ini adalah presiden ketiga Azerbaijan, namun punya pengaruh yang besar di sana.

Dialah yang “menemukan” sumber kekayaan Azerbaijan berupa minyak dan gas alam, setelah bangsa ini lepas dari tangan Rusia di tahun 1991. Karena itulah, ia dianggap sebagai bapak kemakmuran Azerbaijan.

Kini anaknya, Ilham Aliyev, meneruskan kedigdayaan ayahnya. Ia giat membangun banyak bangunan ikonik lain seperti gedung pertunjukan, terminal bus besar, jembatan, dan sebainya. Ia juga kerap menyelenggarakan berbagai event internasional bergengsi seperti F1 dan Piala Eropa.

1911-2019-094335643383481056672-01.jpeg
Heydar Aliyev Center
IMG_20190607_210335
Salah satu sudut Baku di malam hari

Begitu saya turun di perhentian akhir, kawan saya sudah berdiri di sana. Dia kemudian mengantar saya berjalan kaki ke hostel dan membeli simcard. Yaa, dia melarang saya membeli simcard di bandara karena harganya tiga kali lipat dibanding di kota. Saya mah nurut aja ama akamsi.

Simcard merek Bee Line akhirnya saya dapatkan dengan harga 11 manat. Saya lupa berapa gigabyte yang saya dapatkan, namun cukup banyak untuk tiga hari di Baku, Azerbaijan. 

Baca Juga: Solo Backpacking ke Azerbaijan: Negara Muslim yang Tak Muslim


Dicuekin Temen Sekamar

Saya tinggal di hostel Stay Inn Baku yang letaknya hanya tiga blok dari 28 May. Hostelnya lumayan besar, dengan dapur dan ruang makan yang juga besar.

Saya tinggal di female dorm, bersama dengan 4  orang yang sepertinya berasal dari Ukraina atau negara pecahan Rusia lainnya. Terdengar dari bahasa yang mereka gunakan.

IMG_20190609_095424

Suatu malam, mereka (4 orang cewek di kamar saya dan 3 cowok berbahasa Rusia lainnya) sedang berkumpul di dapur. Mereka sedang masak dan makan bersama. Maksud hati, saya ingin ramah, jadi saya berbasa-basi, “wow, the smell is very good. What are you girls cooking?”

Belum selesai kalimat saya, tiba-tiba salah satu cewek Ukraina itu berucap: “No english. Can’t join”. Enggak pakai nengok pula, tetep sibuk menyantap makanannya. Yang lainnya pun cuek juga, makan aja tanpa mengindahkan kehadiran saya.

Siyal….saya ditolak.

Saya balas aja dengan nada kesal, “Never think to join you. I already had a dinner with my very friendly Azer friend.”

Awas lo besok gw masak indomie goreng. Ga akan gw bagi!!

Tip:

Tukar uang bisa dilakukan di bandara. Saya hanya menukar 100 dolar dan dapat 160 manat. Dan ternyata, selama 3 hari di sana, saya cuma menghabiskan 50 manat!

Baca Juga: Solo Travelling ke Azerbaijan: Menikmati Laut Caspia di Baku Boulevard

Panduan Membuat Visa Azerbaijan

Untuk masuk ke Azerbaijan, penduduk Indonesia hanya diwajibkan membuat E Visa.

Dalam waktu kurang dari sehari, Visa Azerbaijan saya sudah siap saya gunakan.

Untuk masuk ke Azerbaijan, penduduk Indonesia hanya diwajibkan membuat E-Visa. Caranya gampang dan ga makan waktu lama, tinggal ikuti panduan yang ada di website resmi Azerbaijan.

Begini cara membuat E Visa Azerbaijan:

1. Masuk ke situs resmi

Situs resmi untuk membuat E Visa Azerbaijan adalah https://evisa.gov.az/en/. Begini penampakan halaman awalnya. Pilih tombol application yang ada di kiri.

Cara Membuat Visa Azerbaijan

2. Isi data awal

Isi nationality dengan Indonesia, passport dengan ordinary passport, dan number of entries dengan single entry kecuali kalian mau balik lagi ke sini.

Cara Membuat Visa Azerbaijan

3. Isi data lainnya

  • Purpose of visit: isi dengan tourism.
  • Consideration periode: kalau nggak terburu-buru, isi 3 hari aja. Kenyataannya, dalam waktu cuma sehari, e-visa ini udah saya dapatkan. Harga visa yang jadi dalam watu 3 hari sebesar 23 dolar, sementara kalau 3 jam harganya 50 dolar.
  • Starting date of e-visa validity: saya biasa mengisinya dengan tanggal sehari atau dua hari sebelum tanggal kedatangan yang betulan. Tujuannya agar kalau terjadi sesuatu, misalnya penerbangan saya dimajukan, saya masih tetap bisa masuk. Jangan khawatir, visanya berlaku lama kok, 9 bulan dari tanggal awal.
Cara Membuat Visa Azerbaijan

4. Isi data personal

Di sini banyak data yang diminta.

Ada surname (nama belakang/nama keluarga), given name (nama depan). Tanggal lahir, pekerjaan, email, alamat, nomer telepon, dan lain sebagainya.

Yang penting adalah, mereka minta bukti foto atau scan paspor. Foto atau scan paspor ini mesti jelas, ga boleh burem atau kena cahaya. Contohnya bisa diliat di bawah, itu saya ambil contohnya dari situs resmi e-visa Azerbaijan ya, bukan foto saya, apalagi foto si Babang.

Oiya, di bagian bawah ada pertanyaan penting lainnya: Have you ever visited the Nagorno-Karabakh and other regions of the Republic of Azerbaijan occupied by the Republic of Armenia since 1991 without an official permission of the Republic of Azerbaijan?

Ini tentu aja mesti dijawab dengan “no”, kalau mau visa Azerbaijan diapprove. Azerbaijan dan Armenia dari tahun 1991 memperebutkan wilayah ini. Jadi kalau pernah ke situ, dijamin akan ditolak mentah-mentah di Azerbaijan.

visa azer-4a
passport_valid_hint

5.  Email Verification

Kalau sudah submit, selanjutnya akan ada verifikasi yang dikirim ke email yang kalian cantumin tadi di form. Klik link yang ada di email, dan akan muncul halaman pembayaran.

Kalian bisa membayarnya dengan kartu kredit atau paypal. Saya memilih bayar dengan kartu kredit, walaupun saya punya paypal. Soalnya, rate paypal suka nggak masuk akal.

6. Terima Visa

Setelah bayar, akan ada email lagi yang berisi pemberitahuan kalau pembayaran sukses dan tinggal tunggu dikirim visa.

Walaupun saya membayar untuk visa yang jadi dalam waktu 3 hari, nyatanya, esok harinya saya sudah dikirimi email yang berisi pemberitahuan kalau e-visa Azerbaijan saya sudah jadi dan saya bisa mengunduhnya lewat link yang ada di email.

Mudah dan cepat, kan?

Baca Juga: Tempat Wisata di Baku Azerbaijan yang Cocok Bagi Muslim Traveller

Tip Backpacking ke Negara Kaukasus

Negara Kaukasus adalah negara-negara yang berada di jalur Pegunungan Kaukasus, yakni Georgia, Azerbaijan, dan Armenia. Kalau lihat peta dunia, negara ini terletak di antara Laut Tengah dan Laut Caspia, diapit oleh negara Turki, Iran, dan Rusia. 

Apa yang mesti diperhatikan ketika mengunjungi ketiga negara Kaukasus ini?

Kazbegi
Salah satu view dekat Victory Monument, Kazbegi

Negara Kaukasus adalah negara-negara yang berada di jalur Pegunungan Kaukasus, yakni Georgia, Azerbaijan, dan Armenia. Kalau lihat peta dunia, negara ini terletak di antara Laut Tengah dan Laut Caspia, diapit oleh negara Turki, Iran, dan Rusia.

Dulu, ketiga negara ini berada di bawah kekuasaan Republik Uni Soviet. Namun sejak tahun 1990, ketika Uni Soviet runtuh, ketiga negara ini menjadi negara independen yang merdeka.

Saya mengunjungi negara ini di bulan Juni, setelah mengunjungi sepupu saya di Turki. Rute yang saya ambil adalah Istanbul-Baku-Tbilisi, dan kemudian melipir ke Uzbekistan.

Kenapa rutenya begitu? Kenapa ga ke Armenia?

Begini. Tadinya rute saya adalah Istanbul-Georgia via Kars dan Batumi-Tbilisi-Yerevan-Tbilisi-Baku-Istanbul-Jakarta.

Namun saya iseng mengecek tiket dari Istanbul ke Baku yang ternyata harganya hanya sekitar 40 dolar. Saya pun mengubah rute saya: Istanbul-Baku-Tbilisi-Yerevan-Tbilisi-Istanbul.

Tapi ternyata, saya berubah pikiran lagi di akhir-akhir. Saya tak berminat lagi ke Armenia, dan akhirnya melabuhkan minat saya ke Uzbekistan. Galau yaa…

Nah, apa yang mesti diperhatikan ketika mengunjungi ketiga negara Kaukasus ini?

Visa

Untungnya ketiga negara ini memberlakukan e-visa bagi pemegang paspor Indonesia. Dari ketiganya, yang paling gampang dan tak ribet adalah e-visa Azerbaijan.

E-Visa Georgia harus benar-benar memperhatikan foto jika tidak ingin ditolak. Namun bagi pemegang visa Schengen valid, tak perlu visa.

Sementara E-Visa Armenia adalah yang paling sulit karena banyak cerita visanya ditolak.

Baca Juga: Panduan Membuat E-Visa Azerbaijan

Rute

Caucasus_regions_map2
Peta negara Kaukasus

Rute umumnya yang diambil para traveler yang akan ke sini adalah melalui Turki atau Iran. Rutenya biasanya begini: Turki-Georgia-Armenia-Georgia-Azerbaijan-Iran.

Atau sebaliknya.

Mengapa dari Armenia harus kembali lagi ke Georgia padahal berbatasan darat dengan Turki dan Azerbaijan?

Begini. Armenia ini seperti negara kecil yang bermusuhan dengan tetangga-tetangganya. Ia punya sengketa dengan Turki dan juga sampai sekarang masih ada sengketa besar dengan Azerbaijan.

Menurut catatan sejarah, Armenia dan Azerbaijan memperebutkan area Nagorno-Karabakh yang ada di perbatasan kedua negara. Perang untuk memperebutkan daerah itu terjadi bertahun-tahun, dan menimbulkan banyak korban di kedua belah pihak.

Nah, karena inilah dari Azerbaijan tidak bisa langsung menuju Armenia dan sebaliknya. Harus melewati Georgia terlebih dahulu. Dan di imigrasi Azerbaijan, kalau sebelumnya di paspor sudah ada cap Armenia, biasaya akan diinterogasi terlebih dahulu. Akan dilepas sih kalau terbukti tidak mengunjungi Nagorno-Karabakh.

Baca Juga: Tempat Wisata di Baku Azerbaijan yang Cocok Bagi Muslim Traveller

Lewat Darat atau Udara?

Nah, ini juga penting karena menyangkut validasi E-Visa. 

Dari Turki menuju Georgia bisa dilakukan lewat darat, melalui Kars dan Batumi. Begitu juga dari Georgia menuju Armenia, bisa menggunakan bus atau sleeper train. Di kedua tempat ini, menurut pengalaman kawan-kawan saya, e-Visa bisa digunakan tanpa kesulitan yang berarti.

Namun berbeda dengan perbatasan darat Georgia-Azerbaijan. Banyak cerita soal traveler yang ditolak masuk Georgia lewat darat dan juga sebaliknya. Karena menurut imigrasi perbatasan Azerbaijan dan Georgia, e-visa tidak berlaku jika lewat darat. Hanya berlaku jika datang via bandar udara. Padahal di ketentuannya tak ada tulisan begitu lhoo…..

Ada memang kisah traveler yang berhasil setelah ngotot panjang lebar. Kalau saya sih, daripada buang waktu percuma dan ditolak juga dan akhirnya harus balik ke ibukota lagi, lebih baik naik pesawat aja.

Baca Juga: Pengalaman Naik Buta Airways dari Azerbaijan ke Georgia